Rihlah Ibnu Bathutah #56 : Konstantinopel, Sarā Barkah dan Sultan Uzbak
Di Pasar Buku Kerajaan Romawi
Setelah aku berpisah dari raja pertapa yang telah
kuceritakan sebelumnya, aku berjalan menyusuri kota dan memasuki pasar bukunya.
Di sana berjajar para penjual kitab, para penyalin, dan pelajar. Suasana pasar
itu tenang namun hidup, penuh dengan lembaran-lembaran ilmu.
Di tengah keramaian itu, Hakim kota melihatku. Ia duduk di
sebuah kubah yang tinggi, tempat ia mengurus berbagai urusan. Ia tidak
memanggilku langsung, melainkan mengutus salah seorang pembantunya untuk
menanyai siapa diriku. Pembantu itu mendatangi orang Romawi yang menyertaiku
dan bertanya tentangku. Kawanku itu menjawab bahwa aku adalah seorang penuntut
ilmu Muslim yang datang dari negeri-negeri jauh.
Ketika kabar itu sampai kepada sang hakim, ia mengutus salah
seorang pembantunya yang lain, yang mereka panggil hakim Najasyi Kafali,
kepadaku. Najasyi Kafali mendatangiku dan berkata lembut, “Hakim memanggilmu.”
Aku pun mengikutinya. Kami naik ke kubah yang telah
kusebutkan. Di sana kulihat seorang syaikh yang tampan rupawan, berjenggot
rapi, mengenakan pakaian hitam seperti pakaian para rahib. Di hadapannya duduk
sekitar sepuluh orang juru tulis yang sibuk menyalin dan menulis.
Saat aku masuk, sang Hakim bangkit menyambutku, demikian
pula para sahabatnya. Ia berkata, “Engkau adalah tamu raja, dan kami wajib
memuliakanmu.” Kata-katanya halus dan sikapnya sangat santun.
Ia lalu bertanya kepadaku tentang Baitul Maqdis, Syam, dan
Mesir. Pembicaraan kami berlangsung lama, sementara orang-orang mulai
berkerumun di sekeliling kami, ingin mendengar kisah-kisah dari negeri-negeri
yang jauh itu.
Sebelum aku berpamitan, ia berkata, “Engkau harus datang ke
rumahku, agar aku dapat menjamumu.” Aku mengucapkan salam perpisahan dan turun
dari kubah itu. Namun setelah hari itu, aku tidak pernah lagi berjumpa
dengannya.
Perpisahan dengan Khātūn dan Kedermawanannya
Aku masih tinggal bersama Khātūn—putri seorang penguasa
besar Romawi—dan rombongan orang-orang Turk yang menyertainya. Setelah beberapa
waktu, menjadi jelas bagi mereka bahwa Khātūn tetap memilih agama ayahnya dan
ingin tinggal bersamanya di negeri itu.
Orang-orang Turk yang mengiringinya sejak awal pun meminta
izin untuk kembali ke negeri mereka. Khātūn mengizinkan mereka pulang. Ia tidak
melepas mereka begitu saja, melainkan memberikan hadiah yang melimpah, lalu
mengirim seorang amir bernama Sārūjah Ash-Shaghīr bersama lima ratus penunggang
kuda untuk mengantarkan mereka hingga ke negeri mereka dengan aman.
Aku pun dipanggil oleh Khātūn. Ia memberiku tiga ratus dinar
dari emas negeri mereka—mereka menyebutnya Barbarah, meskipun
kualitasnya tidak terlalu baik—dua ribu dirham Venesia, selembar pakaian halus
buatan anak-anak perempuan (itulah jenis pakaian terbaik mereka), sepuluh helai
pakaian dari sutera, linen, dan wol, serta dua ekor kuda. Ia berkata bahwa
semua itu adalah pemberian dari ayahnya.
Khātūn juga berpesan kepada amir Sārūjah agar menjagaku
sepanjang perjalanan. Setelah itu aku berpamitan dan berangkat bersama
rombongan. Masa tinggalku bersama mereka seluruhnya adalah satu bulan enam
hari.
Menembus Dingin Menuju Bābā Salthūq
Kami pun melakukan perjalanan bersama amir Sārūjah.
Sepanjang jalan ia selalu memuliakan dan menjagaku. Kami terus bergerak hingga
sampai di ujung wilayah mereka, di mana sebelumnya kami meninggalkan para
sahabat kami dan kereta-kereta kami. Di tempat itu kami kembali menaiki kereta
dan memasuki padang pasir yang luas.
Amir Sārūjah masih terus menyertai kami sampai ke kota yang
disebut Bābā Salthūq. Di kota itu ia tinggal sebagai tamu selama tiga hari.
Setelah itu, ia kembali ke negerinya, sementara kami meneruskan perjalanan.
Saat itu udara begitu dingin hingga sulit kugambarkan. Aku
terpaksa mengenakan tiga mantel bulu tebal, dua celana panjang—salah satunya
berlapis—di kakiku kaus kaki dari wol, dan di atasnya lagi kaus kaki berlapis
kain linen Burgundy yang dibuat dari kulit kuda dan dilapisi kulit serigala.
Jika aku hendak berwudhu, aku memanaskan air di dekat api.
Namun setiap tetes air yang jatuh langsung membeku saat itu juga. Bila aku
membasuh wajah hingga membasahi janggutku, air itu membeku, dan ketika aku
menggerakkan janggutku, jatuhlah butiran-butiran seperti salju. Air yang keluar
dari hidungku membeku di kumis.
Pakaian yang begitu banyak membuatku hampir tidak mampu
menunggang kuda. Rekan-rekanku harus membantuku, mereka mengangkatku dan
mendudukkanku di atas pelana, seperti orang yang mengangkat anak kecil.
Sungai Atil yang Membeku
Akhirnya, kami sampai di kota Al-Hājj Tarkhān, tempat aku
dahulu berpisah dengan Sultan Uzbak. Namun ketika kami tiba, Sultan sudah tidak
ada di sana. Kami diberi tahu bahwa ia telah berangkat dan menetap di ibu kota
kerajaannya.
Kami pun melanjutkan perjalanan selama tiga hari menyusuri
sungai Atil dan perairan di sekitarnya. Semuanya membeku. Kami berjalan di atas
permukaannya seakan-akan di atas tanah padat.
Jika kami membutuhkan air, kami memotong bongkahan-bongkahan
es, lalu memasukkannya ke dalam kuali hingga mencair menjadi air. Dengan air
itulah kami minum dan memasak. Demikianlah keadaan kami hingga akhirnya
tampaklah di hadapan kami kota yang mulia: As-Sarā.
Tiba di Sarā Barkah, Ibu Kota Sultan Uzbak
Kota itu disebut As-Sarā, ditulis dengan huruf sin, ra’ berharakat
fathah, lalu alif. Ia juga dikenal dengan nama Sarā Barkah. Di sanalah letak
ibu kota Sultan Uzbak.
Setibanya kami di sana, kami segera menghadap Sultan. Ia
menyambut kami dan menanyakan tentang perjalanan kami, tentang raja Romawi yang
baru saja kami tinggalkan, dan tentang kotanya. Kami menceritakan kepadanya apa
yang kami lihat dan alami di sana.
Sultan Uzbak memerintahkan agar kami diberi nafkah dan
dijamu dengan baik. Perintah itu segera dilaksanakan. Kami pun tinggal di kota
itu dan menyaksikan keindahan serta kebesarannya.
Luas dan Ramainya Kota As-Sarā
Kota As-Sarā adalah salah satu kota terindah yang pernah
kulihat. Letaknya di tanah datar yang luas, dan kota itu sangat ramai dengan
penduduk. Pasar-pasarnya tertata baik, jalan-jalannya lebar, dan kehidupan
tampak bergairah di setiap sudutnya.
Suatu hari, aku dan beberapa pembesar kota berkuda dengan
tujuan mengelilingi kota untuk mengetahui seberapa luasnya. Tempat tinggalku
berada di salah satu ujung kota. Kami berangkat dari sana pada waktu pagi. Kami
terus berkuda hingga akhirnya sampai di ujung kota yang lain, dan saat itu
matahari telah tergelincir—waktu Zuhur pun masuk. Di sana kami berhenti untuk
shalat Zuhur dan makan. Setelah itu kami kembali lagi ke tempat tinggal kami,
dan baru sampai ketika waktu Maghrib tiba.
Pada hari lain, kami mencoba menelusuri lebar kota. Kami
pergi dan kembali dalam waktu setengah hari saja. Namun sepanjang jalan, yang
kami lewati hanyalah deretan rumah-rumah dan pemukiman yang rapat, tanpa ada
reruntuhan atau kebun kosong di antara bangunan-bangunan itu. Begitu padat dan
hidupnya kota tersebut.
Di As-Sarā ada tiga belas masjid untuk shalat Jumat. Salah
satunya khusus untuk penganut mazhab Syafi’i. Adapun masjid-masjid lain selain
masjid Jumat, jumlahnya tidak terhitung banyaknya.
Berbagai Kaum di Ibu Kota Sultan
Di kota itu berkumpul berbagai macam bangsa. Di antaranya
orang Mongol (Al-Mughul), yaitu penduduk asli negeri itu sekaligus kaum para
sultannya. Sebagian dari mereka telah memeluk Islam.
Ada juga kaum As (Al-Ās), dan mereka pun Muslim. Selain
mereka, ada orang Qifjaq, kaum Circassian, orang Rus, serta orang Romawi—yang
semuanya memeluk agama Nasrani.
Setiap kelompok tinggal di lingkungan tersendiri. Mereka
memiliki pasar-pasar mereka sendiri yang terpisah satu sama lain. Para pedagang
dan orang asing dari Irak, Mesir, Syam, dan negeri-negeri lain pun memiliki
lingkungan khusus. Di sekeliling lingkungan mereka dibangun tembok untuk
melindungi harta dagangan mereka dari gangguan dan bahaya.
Istana Sultan di kota itu disebut Althūn Thāsh. Althūn artinya
emas, dan Thāsh artinya batu. Seakan-akan nama itu
menggambarkan istana yang kokoh laksana batu namun berkilau laksana emas.
Qadhi ibu kota ini adalah seorang alim bernama Badruddin
Al-A’raj. Menurutku ia termasuk salah satu qadhi terbaik yang pernah kutemui,
karena keilmuan dan keadilannya.
Ulama dan Zawiyah di As-Sarā
Di antara pengajar mazhab Syafi’i di kota ini, ada seorang
faqih, imam, dan orang saleh yang terkenal: Shadruddin Sulaiman Al-Lakzi. Ia
adalah salah seorang yang utama di zamannya, dikenal karena ibadah dan ilmunya.
Dari kalangan mazhab Maliki, ada Syamsuddin Al-Mishri.
Namun, tentang ketakwaannya, banyak orang yang meragukannya. Demikianlah
keadaan manusia; ada yang lurus, ada yang dipertanyakan.
Di kota itu juga terdapat sebuah zawiyah milik seorang saleh
bernama Haji Nizhamuddin. Dialah yang menjamu dan memuliakan kami ketika kami
singgah. Zawiyahnya menjadi tempat berlindung bagi para musafir dan orang-orang
yang mencari ilmu.
Ada pula zawiyah seorang faqih, imam, dan alim besar:
Nu’manuddin Al-Khawarizmi. Aku menemuinya di sana dan bergaul dengannya
beberapa waktu. Ia termasuk salah satu syaikh terbaik yang pernah
kutemui—berakhlak mulia, ilmunya bermanfaat, sangat rendah hati, namun sangat
keras terhadap para pencinta dunia dan orang-orang yang sombong dengan
kedudukan mereka.
Wibawa Sejati Seorang Syaikh
Setiap hari Jumat, Sultan Uzbak sendiri datang mengunjungi
Syaikh Nu’manuddin di zawiyahnya. Namun, meskipun Sultan adalah penguasa
terbesar di negeri itu, sang syaikh tidak pernah menyambutnya berdiri atau
menghormatnya secara khusus. Ia tetap duduk sebagaimana adanya.
Sultan duduk di hadapannya, berbicara dengan kata-kata
terlembut, menunjukkan kerendahan hati dan penghormatan yang besar. Akan tetapi
sikap sang syaikh terhadap Sultan sangat berbeda daripada sikapnya terhadap
orang-orang fakir dan para pendatang. Kepada Sultan, ia bersikap tegas, bahkan
tampak keras.
Sebaliknya, jika berhadapan dengan orang-orang fakir,
miskin, dan para musafir, sang syaikh merendahkan dirinya. Ia berbicara kepada
mereka dengan tutur kata yang lembut, memuliakan, dan menenangkan mereka. Di
situlah tampak wibawa sejati orang yang mengenal Allah: ia tidak silau oleh
kedudukan duniawi, dan memuliakan mereka yang tidak dipandang manusia.
Ia juga memuliakanku—semoga Allah membalasnya dengan
kebaikan. Ia mengirimkan seorang pelayan Turk untuk membantuku dalam
keperluanku sehari-hari selama aku tinggal di sana. Dari keberkahan sang
syaikh, aku merasakan kemudahan, keamanan, dan ketenangan dalam perantauanku di
kota yang jauh ini.
Demikianlah sebagian kisah perjalananku melalui negeri
Romawi, padang-padang musim dingin yang membeku, hingga sampai ke ibu kota
Sultan Uzbak, As-Sarā Barkah, dan pertemuanku dengan para penguasa serta para
ulama yang Allah karuniakan kepadaku untuk kujumpai.
Peta Interaktif Perjalanan Ibnu Bathutah #56
Sumber kisah:
Ibnu Battutah, Rihlah Ibnu Battutah

Komentar
Posting Komentar