Peristiwa di Tahun Kedua Hijriah : Pernikahan Ali dan Fathimah, Wafatnya Ruqayyah dan Utsman bin Mazh'un, serta para syuhada Badar
Pada tahun kedua Hijriah, Madinah menyaksikan peristiwa-peristiwa besar yang penuh haru: ada kebahagiaan, ada juga kesedihan yang mendalam. Di tahun inilah rumah tangga mulia antara Ali bin Abi Thalib dan Fathimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimulai. Di tahun yang sama pula, beberapa sahabat utama wafat dan syahid, meninggalkan jejak yang kuat dalam sejarah Islam.
________________________________________
Pernikahan Ali dan Fathimah
Abul Hasan, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, adalah sosok yang sangat dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia dibesarkan di rumah beliau, hidup dalam kesederhanaan, iman, dan kecintaan yang tulus. Di tahun kedua Hijriah, setelah Perang Badar, datanglah saat yang sangat agung dalam hidupnya: pernikahannya dengan putri Rasulullah, Fathimah radhiyallahu ‘anha.
Menurut sebagian ulama sirah, seperti Al-Bukhari, pernikahan itu berlangsung tidak lama setelah Perang Badar. Sementara Al-Waqidi berpendapat bahwa Ali mulai serumah dengan Fathimah pada bulan Dzulhijjah tahun yang sama. Di balik pernikahan itu, ada kisah lamaran yang sangat menyentuh, diriwayatkan dari Ali sendiri.
Ali hidup dalam keadaan sangat sederhana. Ia tidak memiliki harta yang berarti. Di tengah kesederhanaan itu, seorang budak perempuan yang telah dimerdekakan—seorang wanita yang dekat dengan rumah Rasulullah—datang kepadanya dengan membawa kabar yang menggetarkan hati.
Dengan penuh keakraban ia berkata kepada Ali, kira-kira seperti ini, “Tahukah engkau, Fathimah telah dilamar?” Ali terkejut, “Tidak, aku tidak tahu.” Wanita itu melanjutkan, “Dia telah dilamar. Apa yang menghalangimu untuk mendatangi Rasulullah agar beliau menikahkanmu dengan Fathimah?”
Pertanyaan itu membuat hati Ali bergetar. Selama ini, mungkin ia menyimpan keinginan itu jauh di dalam hati, tetapi rasa malu, segan, dan terutama keadaan ekonominya membuatnya diam. Ia menjawab pelan, “Apakah aku memiliki sesuatu untuk menikah dengannya?” Baginya, pernikahan adalah amanah besar, sementara ia hampir tidak punya apa-apa.
Namun wanita itu tak menyerah. Ia penuh keyakinan terhadap kasih sayang Rasulullah kepada Ali. Ia berkata, dengan yakin, “Jika engkau mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau akan menikahkanmu.”
Ali bercerita bahwa demi Allah, wanita itu terus membujuknya. Kata-kata dan dorongannya membuat Ali akhirnya menguatkan hati. Ia melangkah menuju rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Meskipun ia adalah sepupu beliau, murid beliau, dan orang yang sangat dekat dengan beliau, hari itu ia datang sebagai seorang pelamar, dan itu membuat jantungnya berdebar hebat.
Ketika ia duduk di hadapan Rasulullah, lidahnya kelu. Rasa segan dan hormat yang begitu besar membuatnya tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Rasulullah, dengan kelembutan seorang ayah dan seorang nabi, memecah keheningan itu dengan bertanya lembut, “Apa yang membawamu kemari? Apakah kamu punya keperluan?”
Ali tetap diam. Beliau mengulangi lagi pertanyaan itu, lalu dengan senyum penuh pengertian beliau bersabda kira-kira, “Barangkali engkau datang untuk melamar Fathimah?”
Ketika itu, Ali tidak mampu mengelak lagi. Dengan penuh rasa malu, ia menjawab, “Ya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bertanya, “Apakah kamu memiliki sesuatu untuk dijadikan mahar baginya?” Pertanyaan itu adalah cermin tanggung jawab: pernikahan bukan sekadar cinta, tetapi juga amanah, meski dengan kemampuan yang sederhana.
Ali menjawab jujur, “Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah.”
Rasulullah lalu mengingatkan sesuatu yang ia ketahui Ali miliki, “Di mana baju besi huthumiyah-mu itu?” Baju besi itu adalah satu-satunya barang berharga yang dimiliki Ali. Dalam riwayat disebutkan, demi Dzat yang jiwa Ali berada di tangan-Nya, nilai baju besi itu tidak lebih dari empat dirham.
Ali menjawab, “Aku masih memilikinya.”
Maka dengan penuh kasih sayang dan kemuliaan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerima itu sebagai mahar. Beliau pun menikahkan Ali dengan Fathimah, menjadikan baju besi itu sebagai mahar yang penuh berkah. Ali kemudian mengirimkan baju besi tersebut sebagai mahar resmi bagi Fathimah.
Begitulah, pernikahan putri seorang nabi, pemimpin para makhluk, tidak disertai mahar yang berlebihan, tidak pula dengan pesta mewah. Yang ada hanyalah iman, cinta karena Allah, dan keberkahan.
________________________________________
Rumah Tangga yang Sangat Sederhana
Pernikahan ini adalah pernikahan yang penuh berkah. Dari rumah yang sangat sederhana inilah lahir para pemuka Ahlul Bait: Hasan, Husain, Muhsin, Ummu Kultsum, dan Zainab ‘alaihimus salam. Muhsin wafat ketika masih kecil. Hasan tumbuh hingga dewasa lalu wafat karena sakit, sementara Husain syahid secara tragis di Karbala.
Namun jika seseorang melihat perlengkapan rumah tangga mereka, mungkin ia akan terkejut dengan tingkat kesederhanaannya. Para ulama sirah menyebutkan bahwa barang-barang di rumah Fathimah Az-Zahra sangat sedikit. Dalam As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhau’il Qur’an was Sunnah jilid 2 disebutkan bahwa perabot mereka hanyalah:
Sebuat selimut, sebuah kantong air, dan sebuah bantal kulit (disebut adam: kulit) yang diisi dengan rumput idzkhir, sejenis tanaman harum.
Itulah rumah tangga putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak ada tumpukan perabot, tidak ada kemewahan. Namun dari rumah itulah lahir generasi yang menjadi teladan sepanjang masa.
Keadaan di masa awal Islam jauh dari sikap berlebihan. Mahar-mahar tidak dipersulit. Perlengkapan rumah tangga tidak dijadikan beban. Yang ditekankan adalah kemudahan, kesederhanaan, serta kerja sama untuk membangun kehidupan rumah tangga yang mulia.
Seandainya berlebih-lebihan dalam mahar dan perlengkapan rumah tangga itu merupakan kemuliaan, niscaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, putri-putri beliau, keluarga beliau, dan para sahabat yang mulia lebih berhak mendapatkannya. Namun justru mereka memilih jalan yang mudah dan sederhana.
________________________________________
Duka di Tahun Kedua: Wafatnya Ruqayyah
Di tengah kebahagiaan kemenangan Perang Badar, datang kabar duka yang menusuk hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada tahun yang sama, putri beliau yang lain, Ruqayyah binti Rasulullah radhiyallahu ‘anha, wafat di Madinah.
Peristiwa wafatnya Ruqayyah bertepatan dengan tibanya para pembawa kabar gembira kemenangan kaum Muslimin di Perang Badar. Seolah-olah hari itu Madinah menyaksikan dua suasana yang bertolak belakang: di satu sisi, sorak kegembiraan atas pertolongan Allah di medan perang; di sisi lain, tangis kehilangan seorang putri Nabi yang mulia.
Bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemenangan di medan perang tidak menghapus rasa duka seorang ayah. Beliau tetap manusia yang berhati lembut, merasakan pahitnya berpisah dengan anak yang dicintainya.
________________________________________
Para Syuhada Perang Badar
Pada tahun kedua Hijriah itu, Perang Badar menjadi tonggak besar dalam sejarah Islam. Dalam perang besar pertama antara kaum Muslimin dan kaum musyrikin Quraisy itu, empat belas orang sahabat gugur sebagai syuhada dari kalangan Muhajirin dan Anshar.
Dari kaum Muhajirin, di antara mereka adalah ‘Ubaidah bin Al-Harits bin Al-Muththalib dan ‘Umair bin Abi Waqqash, saudara Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhuma. Dari kalangan Anshar, di antaranya adalah dua bersaudara Mu’awwidz dan ‘Auf, putra-putra ‘Afra’, juga ‘Umair bin Al-Hammam, serta Sa’ad bin Khaitsamah radhiyallahu ‘anhum.
Mereka meninggalkan keluarga, harta, dan kampung halaman demi menegakkan kalimat Allah. Darah mereka yang tertumpah di Badar menjadi saksi bahwa kemenangan Islam tidak datang dengan mudah, tetapi dibayar dengan pengorbanan jiwa orang-orang terbaik.
________________________________________
Wafatnya Seorang Pemuka: ‘Utsman bin Mazh’un
Setelah Perang Badar, pada tahun kedua Hijriah ini juga wafat seorang sahabat mulia: ‘Utsman bin Mazh’un radhiyallahu ‘anhu.
Beliau termasuk as-Sabiqun al-Awwalun, orang-orang pertama yang masuk Islam. Ia juga termasuk orang yang melakukan dua kali hijrah: ke Habasyah dan ke Madinah. Ia saudara sepersusuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seorang yang zuhud, kuat imannya, dan sangat dicintai oleh Nabi.
Ketika ‘Utsman bin Mazh’un wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang menjenguk dan menghadiri jenazahnya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa beliau menciumnya ketika sudah wafat, dan menangis hingga air mata beliau mengalir di wajahnya.
Tangisan itu bukanlah kelemahan, tetapi rahmat. Itulah ungkapan cinta seorang Nabi kepada sahabatnya yang shalih.
________________________________________
Di Sisi Kubur ‘Utsman bin Mazh’un
Jenazah ‘Utsman bin Mazh’un kemudian diantarkan ke pemakaman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ikut mengantar dan hadir dalam proses penguburannya. Setelah jenazah dikuburkan, Nabi memerintahkan seorang lelaki untuk membawa sebuah batu besar.
Lelaki itu mencoba mengangkatnya, tetapi ternyata tidak kuat menanggung beratnya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang bangkit, mengangkat batu itu, dan meletakkannya di sisi kepala kubur ‘Utsman bin Mazh’un.
Dari perbuatan Nabi ini, para ulama mengambil kesimpulan bahwa menandai kuburan dengan batu atau semacamnya diperbolehkan, selama tidak berlebihan.
Beberapa waktu kemudian, ketika Ibrahim, putra Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, wafat saat masih kecil, Rasulullah mengenang kembali sahabatnya ini. Beliau mendoakan Ibrahim agar bergabung bersama orang shalih terdahulu, dan di antara yang beliau sebut adalah ‘Utsman bin Mazh’un. Dengan itu, beliau menegaskan kedudukan tinggi sahabatnya di sisi Allah.
________________________________________
Meluruskan Kekeliruan dalam Penanggalan
Sebagian penulis sirah ada yang keliru dengan menyebutkan bahwa ‘Utsman bin Mazh’un wafat pada tahun pertama Hijriah. Di antara yang menulis demikian adalah Asy-Syaikh Al-Khidhri rahimahullah dalam kitabnya Nurul Yaqin. Namun pendapat yang benar—sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab sirah yang kuat—adalah bahwa beliau wafat setelah Perang Badar, pada tahun kedua Hijriah, sebagaimana telah dipaparkan di atas.
________________________________________
Penutup
Tahun kedua Hijriah adalah tahun yang penuh warna: di satu sisi, cahaya kebahagiaan memancar dari rumah Ali dan Fathimah yang sederhana tetapi penuh berkah. Di sisi lain, air mata duka mengalir karena wafatnya Ruqayyah binti Rasulullah dan sahabat-sahabat mulia yang syahid di Perang Badar, juga karena kepergian ‘Utsman bin Mazh’un yang sangat dicintai Nabi.
Namun dari semua peristiwa itu, kita melihat satu benang merah yang sama: keikhlasan, kesederhanaan, pengorbanan, dan cinta karena Allah. Itulah yang membuat tahun kedua Hijriah menjadi salah satu fase terindah sekaligus terberat dalam perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.
________________________________________
Sumber :
As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhau’il Qur’an was Sunnah

Komentar
Posting Komentar