Rihlah Ibnu Bathutah #54 Konstantinopel: Kisah Menakjubkan dari Jantung Kekaisaran Romawi Timur
Perjalanan Menuju Kota di Tepi Laut
Pada keesokan hari, kami sampai di sebuah kota besar yang terletak di tepi laut. Aku tidak menyebutkan namanya sekarang, tetapi kota itu memiliki sungai-sungai yang mengalir dan pepohonan yang rimbun. Kami singgah di luar kota. Tidak lama kemudian, datanglah saudara laki-laki sang khātūn, yaitu putra mahkota kerajaan. Ia tiba dengan iring-iringan yang sangat megah: sepuluh ribu prajurit berbaju zirah, tertata rapi dan berwibawa.
Di kepalanya terpasang mahkota kerajaan. Di sisi kanannya berdiri sekitar dua puluh putra raja, dan di sisi kirinya jumlah yang sama. Pasukan berkudanya disusun sebagaimana yang dilakukan oleh saudaranya terdahulu, hanya saja kali ini perayaannya lebih besar dan orang-orang yang hadir jauh lebih banyak.
Ia bertemu dengan saudara perempuannya, sang khātūn, yang mengenakan pakaian kebesaran seperti sebelumnya. Keduanya turun dari kendaraan. Sebuah kemah sutra pun dipasang, dan sang khātūn masuk ke dalamnya. Aku tidak mengetahui bagaimana tata cara salam di antara mereka.
Mendekati Konstantinopel
Kami berhenti sekitar sepuluh mil dari Konstantinopel. Pada hari berikutnya, penduduk kota—laki-laki, perempuan, dan anak-anak—keluar dari kota dengan menunggang kendaraan dan berjalan kaki. Mereka mengenakan pakaian terbaik dan paling indah yang pernah kulihat. Sejak pagi hari, genderang dipukul, terompet dan nafīr ditiup, pasukan bergerak, dan keluarlah sang kaisar bersama istrinya, ibu dari khātūn ini, beserta para pembesar negara dan orang-orang kepercayaannya.
Di atas kepala kaisar terdapat paviliun kerajaan yang diusung oleh para ksatria. Beberapa orang berjalan sambil membawa tongkat panjang, di ujungnya terdapat benda menyerupai bola dari kulit untuk mengangkat kain peneduh. Di tengah paviliun itu tampak bentuk menyerupai kubah, diangkat dengan tongkat oleh para ksatria.
Ketika kaisar datang, pasukan bercampur-baur dan debu beterbangan hingga aku tidak sanggup masuk ke tengah mereka. Aku memilih tetap berada bersama rombongan barang-barang khātūn dan para pengikutnya, karena khawatir akan keselamatanku.
Aku diberi tahu bahwa ketika khātūn mendekati kedua orang tuanya, ia turun dari kendaraannya, mencium tanah di hadapan mereka, lalu mencium tapal kuda kedua orang tuanya. Para pembesar pengikutnya pun melakukan hal yang sama.
Memasuki Konstantinopel Agung
Kami memasuki Konstantinopel Agung pada waktu zuhur atau setelahnya. Lonceng-lonceng kota dibunyikan dengan suara yang berbeda-beda hingga menggema ke segala penjuru. Ketika kami tiba di pintu pertama istana raja, kami mendapati seratus penjaga dengan seorang pemimpin yang berdiri di atas panggung kecil. Aku mendengar mereka berkata, “Sarākinū, sarākinū,” yang berarti kaum Muslimin. Mereka melarang kami masuk.
Para pengikut khātūn menjelaskan bahwa kami berasal dari rombongannya, tetapi para penjaga tetap menolak dan mengatakan bahwa kami tidak boleh masuk tanpa izin. Kami pun menunggu di pintu. Sebagian pengikut khātūn pergi menyampaikan hal ini kepadanya, sementara ia berada di hadapan ayahnya. Setelah sang raja diberi tahu, ia memerintahkan agar kami diizinkan masuk.
Kami diberi sebuah rumah yang dekat dengan kediaman khātūn. Dikeluarkan pula perintah tertulis agar tidak seorang pun mengganggu kami ke mana pun kami pergi di kota. Perintah itu diumumkan di pasar-pasar. Selama tiga hari kami tinggal di rumah itu, dan setiap hari kami dikirimi jamuan berupa tepung, roti, bahan makanan pokok, ayam, mentega, buah-buahan, ikan, uang, serta perlengkapan tidur.
Menghadap kaisar Konstantinopel
Pada hari keempat, kami menghadap kaisar. Namanya adalah Takfūr, putra kaisar Jirjis. Ayahnya masih hidup, tetapi telah meninggalkan urusan dunia, memilih hidup zuhud dan beribadah di gereja-gereja, serta menyerahkan kekuasaan kepada putranya.
Hari itu pula sang khātūn mengutus seorang pemuda India bernama Sunbul untuk menjemputku. Ia memegang tanganku dan membawaku masuk ke istana. Kami melewati empat pintu, masing-masing dijaga oleh prajurit bersenjata dan seorang pemimpin yang duduk di atas panggung beralas permadani.
Di pintu kelima, aku diperiksa agar tidak membawa senjata. Itu adalah kebiasaan mereka: setiap orang yang menghadap raja, baik pendatang maupun penduduk setempat, harus diperiksa. Setelah itu, aku dibawa memasuki sebuah aula besar yang dindingnya dihiasi mosaik bergambar makhluk hidup. Di tengahnya mengalir air, dikelilingi pepohonan, sementara orang-orang berdiri diam di kanan dan kiri tanpa berbicara.
Seorang penerjemah Yahudi mendekat kepadaku dan berkata dalam bahasa Arab, “Jangan takut, begitulah adat mereka.” Ia mengajarkanku cara memberi salam.
Aku kemudian dibawa ke hadapan kaisar. Ia duduk di atas singgasana, sementara istrinya berada di hadapannya. Di bawah singgasana berdiri khātūn dan saudara-saudaranya. Para pengawal bersenjata berdiri di kanan dan kiri.
kaisar memintaku duduk sejenak agar ketakutanku hilang. Setelah itu aku mendekat dan memberi salam. Ia bertanya kepadaku tentang Baitul Maqdis, Batu Suci, Gereja Qiyāmah, Betlehem, Hebron, Damaskus, Mesir, Irak, dan negeri-negeri Romawi. Aku menjawab semua pertanyaannya, dan ucapanku membuatnya kagum.
Ia berkata kepada anak-anaknya agar memuliakanku dan menjaminku keamanan. Aku diberi pakaian kehormatan, seekor kuda, dan payung kerajaan sebagai tanda perlindungan.
Berkeliling Kota Istānbūl
Aku meminta izin untuk berkeliling kota agar dapat menyaksikan keajaiban dan keindahannya, lalu menceritakannya di negeriku. Permintaanku dikabulkan. Aku diarak keliling pasar-pasar dengan iringan terompet, nafīr, dan genderang, sebagaimana kebiasaan mereka terhadap orang-orang yang mendapat kehormatan raja.
Kota Konstantinopel sangat besar, terbagi menjadi dua bagian oleh sebuah sungai besar yang mengalami pasang dan surut. Dahulu terdapat jembatan di atasnya, tetapi kini orang menyeberang dengan perahu. Salah satu bagian kota disebut Istānbūl. Di sanalah kaisar dan rakyatnya tinggal. Jalan-jalannya luas, pasar-pasarnya tertata, dan setiap profesi memiliki tempat tersendiri. Menariknya, sebagian besar pedagang dan pengrajin di sana adalah perempuan.
Kota itu terletak di lereng gunung yang menjorok ke laut. Di puncaknya terdapat benteng kecil dan istana kaisar. Tembok besar mengelilinginya, membuatnya sulit ditembus dari arah laut.
Galāṭah dan Gereja Agung Aya Sofiya
Bagian kota yang lain disebut Galāṭah, terletak di seberang sungai. Wilayah ini dihuni oleh orang-orang Nasrani Eropa: Genova, Venesia, Romawi, dan Prancis. Mereka adalah para pedagang, dan pelabuhannya sangat ramai dengan kapal-kapal besar dan kecil.
Di antara bangunan terpenting di kota ini adalah gereja agung yang mereka sebut Aya Sofiya. Aku hanya melihat bagian luarnya. Gereja itu sangat besar, dikelilingi tembok, memiliki banyak pintu, dan halaman luas yang dilapisi marmer. Di sekitarnya terdapat saluran air, pepohonan, pasar, dan tempat para hakim serta pendeta berkumpul.
Di pintu gereja, tidak seorang pun boleh masuk kecuali setelah bersujud kepada salib terbesar menurut keyakinan mereka, yang mereka anggap sebagai sisa kayu penyaliban Nabi Isa عليه السلام. Mereka menyebutkan bahwa di gereja ini terdapat ribuan rahib dan pendeta, termasuk perempuan-perempuan yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk ibadah.
Setiap pagi, raja dan rakyat datang berziarah ke gereja ini. Paus datang setahun sekali, dan ketika itu raja menyambutnya dengan penuh penghormatan, bahkan berjalan kaki di hadapannya hingga Paus meninggalkan kota.
Sumber Kisah
Kisah ini disarikan dan disusun ulang dari:
Ibnu Baṭūṭah, Riḥlah Ibni Baṭūṭah

Komentar
Posting Komentar