Rihlah Ibnu Bathutah #53 : Perjalanan Menuju Konstantinopel
Awal Keberangkatan Bersama Khatun
Aku memulai perjalanan ini pada tanggal sepuluh Syawal. Saat
itu aku turut serta dalam rombongan besar yang mengiringi seorang perempuan
agung, Khatun Bīlūn, bangsawan tinggi yang sangat dimuliakan. Sultan sendiri
keluar mengantarnya sejauh satu tahap perjalanan, kemudian kembali bersama
permaisurinya dan putra mahkota. Para khatun lainnya masih ikut mengiringi
hingga etape kedua, lalu mereka pun kembali.
Rombongan Besar dan Kemegahan Perjalanan
Rombongan ini sungguh besar dan mengagumkan. Amir Bīdra
berangkat bersama lima ribu pasukan berkuda. Pasukan khusus milik khatun
berjumlah sekitar lima ratus penunggang kuda, terdiri dari mamluk, orang-orang
Romawi, dan bangsa Turki. Bersamanya turut pula sekitar dua ratus dayang,
kebanyakan dari kalangan Romawi.
Ia membawa sekitar empat ratus kereta, hampir dua ribu ekor
kuda, ratusan sapi dan unta. Sepuluh pemuda Romawi dan sepuluh pemuda India
ikut serta, dipimpin oleh Sunbul al-Hindī dan Mikha’īl yang dijuluki Lu’lu’,
seorang pemberani besar. Namun karena perjalanan ini bersifat kunjungan
kehormatan, khatun meninggalkan barang-barang beratnya di perkemahan sultan.
Kota Ukak dan Negeri Bangsa Rus
Kami kemudian menuju kota Ukak, sebuah kota sedang dengan
bangunan indah dan udara yang sangat dingin. Dari kota ini dapat ditempuh
pegunungan bangsa Rus, kaum Nasrani berambut pirang dan bermata biru, terkenal
keras perangainya dan memiliki tambang perak. Dari negeri mereka didatangkan
batangan perak yang menjadi alat tukar di wilayah-wilayah ini.
Kota Sardaq dan Jejak Konflik Lama
Setelah sepuluh hari perjalanan, kami sampai di Sardaq, kota
besar di Padang Kipchak yang terletak di tepi laut. Pelabuhannya megah, kebun
dan airnya melimpah. Kota ini dihuni oleh orang Turki dan Romawi yang hidup di
bawah perlindungan.
Namun kejayaan kota ini telah pudar. Fitnah dan peperangan
antara Turki dan Romawi menyebabkan sebagian besar kota hancur. Banyak orang
Romawi terbunuh atau diusir, dan hanya sedikit yang tersisa hingga kini.
Penghormatan Para Penguasa dan Jamuan Perjalanan
Di setiap wilayah, khatun selalu disambut dengan jamuan
besar berupa hewan ternak, susu, dan minuman khas setempat. Perjalanan
dilakukan pagi dan sore hari. Setiap penguasa daerah mengiringinya hingga batas
wilayahnya sebagai bentuk penghormatan, bukan karena rasa takut, sebab
negeri-negeri ini aman.
Baba Salṭūq dan Padang Pasir Tanpa Air
Kami tiba di kota Baba Salṭūq, wilayah terakhir bangsa
Turki. Dari sini hingga negeri Romawi terbentang padang pasir sepanjang delapan
belas hari perjalanan, delapan hari di antaranya tanpa air. Kami membawa
persediaan air dalam bejana-bejana besar.
Aku mempersiapkan diri untuk perjalanan berat ini. Khatun
dengan murah hati memberiku banyak kuda hingga terkumpul sekitar lima puluh
ekor. Ia bahkan memerintahkan agar aku diberi lima belas kuda pilihan tambahan
dan meyakinkanku agar tidak khawatir.
Menembus Padang Pasir dan Keselamatan Perjalanan
Kami memasuki padang pasir pada pertengahan Dzulqa‘dah.
Sejak berpisah dengan sultan hingga mencapai padang pasir, perjalanan kami
memakan waktu dua puluh sembilan hari. Kami menempuh padang pasir itu selama
delapan belas hari dan, dengan rahmat Allah, tidak menemui bahaya apa pun.
Memasuki Wilayah Romawi dan Perubahan Suasana
Kami tiba di benteng Mahtūlī, wilayah pertama kekuasaan
Romawi. Kami disambut oleh Kefālī Naqūlah dengan pasukan besar dan jamuan
melimpah. Namun medan berat memaksa kami meninggalkan kereta dan melanjutkan
perjalanan dengan kuda dan bagal.
Di sinilah suasana mulai berubah. Masjid ditinggalkan, azan
terhenti, dan khatun disuguhi minuman keras serta daging babi. Hampir tidak ada
yang salat kecuali sebagian kecil orang Turki yang tetap salat bersamaku.
Hatiku terasa berat karena telah memasuki negeri orang-orang kafir, meski
khatun tetap memerintahkan agar aku dihormati.
Reruntuhan Benteng Islam dan Teluk-Teluk Besar
Kami melewati reruntuhan benteng Maslamah bin ‘Abdul Malik,
saksi bisu kejayaan Islam di masa lalu. Kami menyeberangi beberapa teluk besar,
menunggu air surut, berjalan di pasir dan batu, hingga akhirnya tiba di kota
al-Fanīkah.
Kota al-Fanīkah yang Indah
Al-Fanīkah adalah kota kecil namun indah dan kokoh.
Sungai-sungai mengalir di dalamnya, kebun-kebun mengelilinginya, dan
buah-buahan dapat disimpan dari satu tahun ke tahun berikutnya. Kami menetap di
sana selama tiga hari.
Penyambutan Megah oleh Saudara Khatun
Di kota ini datang saudara kandung khatun, Kefālī Qarās,
bersama lima ribu pasukan berkuda bersenjata lengkap. Penyambutan terhadap
khatun berlangsung dengan kemegahan luar biasa. Pasukan berbaris rapi dengan
panji-panji, genderang, dan terompet.
Khatun tampil dalam balutan sutra dan perhiasan bertatahkan
permata. Kudanya dihiasi emas dan sutra. Karena lebih muda, saudaranya turun
dari kuda, mencium sanggurdi khatun, dan ia membalas dengan mencium kepalanya.
Para amir dan putra raja pun melakukan hal yang sama.
Akhir Perjalanan dan Lanjutan Menuju Konstantinopel
Setelah pertemuan agung itu, khatun pun melanjutkan
perjalanannya bersama saudaranya menuju Konstantinopel, sementara aku
menyaksikan sendiri bagaimana kekuasaan, kemegahan, dan perbedaan agama berpadu
dalam satu perjalanan panjang yang penuh pelajaran.
Riḥlah Ibnu Baṭūṭah

Komentar
Posting Komentar