Rihlah Ibnu Bathutah #51 Bertemu Sultan Uzbeg Khan: Kemegahan Golden Horde, Khatun, dan Tata Istana Saray

Ilustrasi sinematik ibu kota Saray pada abad ke-14: perkemahan kerajaan Golden Horde di padang stepa, kereta Khatun, pasukan berkuda, dan Kubah Emas, disaksikan Ibnu Bathutah.


Dalam Bayang-bayang Sultan Agung Uzbeg

Aku, Ibnu Bathutah, mendengar banyak kabar tentang seorang raja besar di negeri padang rumput itu. Namanya Muhammad Uzbeg. Di kalangan mereka, gelar “Khan” berarti sultan. Dan memang, sultan ini bukan penguasa biasa: kerajaannya luas, tenteranya kuat, wibawanya tinggi, dan kedudukannya menjulang di mata bangsa-bangsa.

Orang-orang menceritakan kepadaku bahwa ia termasuk salah satu dari tujuh raja besar yang dianggap sebagai pembesar dunia pada masa itu. Di antara mereka ada tuanku—Amirul Mukminin Sultan Abu ‘Inan Faris al-Marini—lalu Sultan Mesir dan Syam, Sultan Irak, Sultan Uzbeg ini, Sultan Turkistan dan Ma Wara’ an-Nahr, Sultan India, dan Sultan Cina.

Wilayah Sultan Uzbeg amat lebar. Kota-kotanya besar, dan namanya sering disebut oleh para pedagang dan musafir: Kaffa, Krimea, Majar, Azak, Suradak, Khawarizm. Adapun ibu kotanya bernama Saray, tempat pusat pemerintahan dan berkumpulnya para pembesar.

Yang paling menonjol dari dirinya adalah kesungguhannya memerangi musuh-musuh Allah dari penduduk Konstantinopel Agung. Ia tekun mengirim pasukan dan menekan mereka, seakan peperangan itu menjadi salah satu urusan besarnya.

Perjalanan Sang Sultan dan Perkemahan yang Tertib

Jika Sultan Uzbeg bepergian, ia tinggal dalam perkemahan tersendiri, bersama para mamluk dan pembesar negaranya. Yang membuatku kagum, setiap Khatun—istri-istri bangsawan yang mulia itu—memiliki perkemahan sendiri-sendiri, terpisah satu sama lain. Bila Sultan ingin salah satu dari mereka menemaninya, ia mengutus orang untuk memberi kabar, lalu Khatun itu bersiap dengan tata cara yang sudah dikenal di kalangan mereka.

Tata tertib mereka sungguh aneh bagiku, namun indah dan rapi. Dalam duduk, perjalanan, dan segala urusan, semuanya seperti berjalan di atas aturan yang tak tertulis, tetapi ditaati oleh semua orang.

Majelis Jumat di “Kubah Emas”

Di antara kebiasaan Sultan yang paling menakjubkan adalah majelisnya pada hari Jumat. Setelah shalat, ia duduk di sebuah kubah yang mereka sebut Kubah Emas. Kubah itu dihiasi dengan sangat indah, terbuat dari batang-batang kayu yang dilapisi lempengan emas.

Di tengahnya ada dipan kayu yang dilapisi perak berlapis emas. Kaki-kakinya dari perak murni, dan ujung-ujungnya bertatahkan permata. Di situlah Sultan duduk.

Di sebelah kanan Sultan duduk Khatun Taytughli, lalu di sampingnya Khatun Kabak. Di sebelah kiri Sultan duduk Khatun Bayalun, dan di sampingnya Khatun Urduja. Di bawah dipan, di sisi kanan berdiri putranya Tin Bak, dan di sisi kiri berdiri putranya Jan Bak. Di hadapan dipan duduk putrinya It Kujuk.

Yang membuatku lebih heran lagi, bila salah seorang dari mereka datang, Sultan berdiri menyambutnya dan menggandeng tangannya sampai naik ke dipan. Khusus Khatun Taytughli—permaisuri yang paling disayang—Sultan bahkan menyambutnya sampai pintu kubah, memberi salam kepadanya, dan menggandeng tangannya. Setelah Khatun itu duduk barulah Sultan duduk. Semuanya dilakukan di hadapan orang banyak, tanpa tabir.

Setelah itu para amir besar datang. Kursi-kursi disiapkan di kanan dan kiri. Setiap pembesar, bila masuk majelis Sultan, datang bersama seorang pelayan yang membawa kursinya sendiri. Di hadapan Sultan berdiri putra-putra raja dari kerabat dekat: sepupu, saudara, dan keluarga. Di pintu kubah, berhadapan dengan mereka, berdiri putra-putra para amir. Di belakangnya barisan tentara memenuhi sisi kanan dan kiri.

Orang-orang masuk memberi salam dengan tertib. Yang terbaik didahulukan, masuk tiga orang tiga orang, memberi salam, lalu pergi dan duduk agak jauh.

Jika majelis telah lewat shalat Ashar, permaisuri meninggalkan tempat lebih dahulu, lalu para Khatun lainnya mengikuti, pulang ke perkemahan masing-masing.

Iring-iringan Para Khatun

Aku melihat sendiri betapa besar iring-iringan mereka ketika pergi dan pulang. Setiap Khatun naik keretanya. Bersama tiap Khatun ada sekitar lima puluh dayang berkuda. Di depan kereta ada sekitar dua puluh wanita tua berkuda yang berjalan di antara para pemuda dan kereta. Di belakang semuanya ada sekitar seratus mamluk dari kalangan anak-anak. Di depan para pemuda ada sekitar seratus mamluk dewasa berkuda, dan sebanyak itu pula berjalan kaki dengan tongkat di tangan, pedang terhunus di pinggang. Mereka mengawal dengan rapat, seolah seluruh rombongan adalah sebuah kerajaan kecil yang bergerak.

Pertemuanku dengan Sultan Uzbeg

Aku singgah di perkemahan yang dekat dengan perkemahan Jan Bak, putra Sultan—dan kelak akan kuceritakan mengapa aku memilih tempat itu.

Keesokan hari setelah kedatanganku, aku masuk menghadap Sultan setelah shalat Ashar. Ia telah mengumpulkan para syaikh, qadhi, fuqaha, para syarif keturunan Nabi, dan kaum fuqara. Makanan dihidangkan banyak, dan kami berbuka di hadapannya.

Sayyid Syarif Naqib asy-Syurafa’ Ibnu ‘Abdil Hamid dan Qadhi Hamzah menyebut-nyebut kebaikanku di hadapan Sultan, dan menyarankan agar aku dimuliakan.

Namun aku segera memahami satu hal: orang-orang Turki ini tidak mengenal kebiasaan menyediakan tempat tinggal bagi pendatang atau memberi nafkah sebagaimana yang biasa kulihat di negeri-negeri lain. Kemuliaan menurut mereka adalah mengirim kambing dan kuda untuk disembelih, juga bejana-bejana berisi qimiz—minuman dari susu kuda yang difermentasi. Begitulah cara mereka menghormati tamu.

Beberapa hari kemudian aku kembali shalat Ashar bersama Sultan. Ketika aku hendak pergi, ia memerintahkanku duduk. Dibawalah makanan dan minuman sesuai kebiasaan minum mereka, lalu daging rebus dari kambing dan kuda.

Pada malam itu, aku menghadiahkan Sultan sepiring halwa. Ia hanya meletakkan jarinya di atasnya, lalu memasukkannya ke mulut, dan tidak menambah lebih dari itu. Aku menangkap dari sikapnya: ia raja besar, tetapi tidak berlebih-lebihan dalam menikmati hidangan.

Kereta “Rumah” dan Keindahan yang Mengagumkan

Aku juga menyaksikan bagaimana para Khatun bepergian dengan kereta-kereta yang seperti rumah kecil. Di dalamnya ada ruangan berkubah, kadang dari perak yang disepuh emas, kadang dari kayu bertatahkan permata. Kuda-kuda penarik kereta diselimuti kain sutra bersulam emas.

Di dalam kereta, Khatun duduk dengan tertib. Di sebelah kanannya duduk seorang wanita tua yang mereka sebut Ulu Khatun, semacam menteri perempuan. Di sebelah kirinya ada wanita tua lain yang disebut Kujuk Khatun, semacam penjaga dan penghalang bagi siapa pun yang hendak mendekat.

Di hadapannya ada enam dayang kecil yang mereka sebut banat, cantik dan rapi. Di belakangnya ada dua lagi tempat ia bersandar. Di kepala Khatun ada mahkota kecil bertatahkan permata dengan bulu merak di puncaknya. Para wanita tua itu memakai kerudung sutra berhias emas dan permata, sementara para dayang kecil memakai hiasan kepala yang juga bertatahkan dan diberi bulu merak.

Di depan kereta berjalan pemuda-pemuda Romawi dan India berpakaian sutra bersulam emas, memegang tongkat emas atau perak. Di belakang kereta sang Khatun ada sekitar seratus kereta lain yang membawa dayang-dayang. Setelah itu menyusul lagi ratusan kereta yang ditarik unta dan sapi, mengangkut peti, harta, perabot, makanan, dan seluruh kebutuhan.

Ada satu aturan yang menarik: tidak ada pemuda yang masuk di antara para dayang kecuali yang memiliki istri di kalangan mereka. Maka setiap pelayan kereta biasanya menikahi salah satu dayang, agar ia boleh berada di sekitar rombongan itu.

Khatun Taytughli, Permaisuri yang Paling Disayang

Khatun tertua adalah permaisuri, ibu dari dua putra Sultan: Jan Bak dan Tin Bak. Ia bukan ibu dari putri Sultan, It Kujuk; ibunya adalah permaisuri sebelum dirinya. Nama permaisuri ini Taytughli, dan dialah yang paling disayangi Sultan. Sultan sering bermalam di sisinya, dan orang-orang pun memuliakannya karena Sultan memuliakannya.

Namun ada sisi lain yang diceritakan orang-orang kepadaku: ia dikenal paling pelit dibanding yang lain.

Ada pula kabar aneh yang disampaikan beberapa orang yang kupercaya—tentang suatu keistimewaan pada dirinya yang menjadi sebab cinta Sultan begitu kuat. Bahkan ada yang mengaitkannya dengan kisah lama tentang Nabi Sulaiman ‘alaihissalam dan seorang wanita yang disebut-sebut menjadi sebab hilangnya kerajaan, lalu saat kerajaan kembali, wanita itu ditempatkan di padang tandus, sampai akhirnya disebut berada di padang Qifjaq. Mereka menghubungkan permaisuri ini dengan keturunan wanita itu, dan menyebut ciri fisik yang ganjil.

Aku sendiri tidak pernah melihat di padang Qifjaq, atau di negeri lain, seorang pun yang mengabarkan pernah melihat hal semacam itu, kecuali cerita tentang Khatun ini. Hanya sebagian penduduk Cina pernah berkata kepadaku bahwa di negeri mereka ada jenis perempuan dengan ciri seperti itu. Namun aku tidak mengetahui kebenarannya, dan aku pun tidak memastikan apa pun selain menyampaikan apa yang kudengar.

Keesokan hari setelah aku bertemu Sultan, aku masuk menemui Khatun Taytughli. Ia duduk di tengah sepuluh wanita tua, seakan mereka pelayannya. Di hadapannya ada sekitar lima puluh dayang kecil, sedang membersihkan biji buah di nampan-nampan emas dan perak. Di depan Khatun sendiri ada nampan emas, dan ia turut membersihkannya.

Kami memberi salam. Salah seorang sahabatku adalah qari’ yang membaca Al-Qur’an dengan cara orang Mesir, suaranya merdu. Ia membaca, dan suasana pun tenang.

Lalu Khatun memerintahkan agar qimiz dibawa. Minuman itu disajikan dalam gelas-gelas kayu kecil yang ringan. Ia mengambil gelas itu dengan tangannya sendiri dan memberikannya kepadaku—dan itulah puncak penghormatan menurut adat mereka.

Aku belum pernah meminum qimiz sebelumnya. Aku tidak sanggup menolaknya, maka aku mencicipinya. Bagiku tidak ada kebaikan rasanya, lalu aku menyerahkannya kepada salah seorang sahabatku. Khatun bertanya tentang perjalanan kami, dan kami menjawab sebisanya. Setelah itu kami pamit, sebab tujuan kami menemuinya adalah menghormati kedudukannya di sisi Sultan.

Kabak Khatun, Putri Amir Naghthay

Khatun kedua bernama Kabak. Orang mengatakan arti namanya dalam bahasa Turki berkaitan dengan dedak. Ia putri Amir Naghthay, yang saat itu masih hidup namun menderita penyakit niqris (encok/asam urat).

Aku menemuinya sehari setelah menghadap permaisuri. Saat itu ia duduk membaca mushaf Al-Qur’an. Di hadapannya ada sekitar sepuluh wanita tua dan sekitar dua puluh dayang yang menyulam pakaian. Ia membalas salam dengan baik.

Qari’ kami kembali membaca, dan ia menyukainya. Lalu qimiz dibawakan, dan seperti permaisuri, ia memberikan gelas itu kepadaku dengan tangannya sendiri. Setelah itu kami pamit.

Bayalun, Putri Raja Konstantinopel

Khatun ketiga bernama Bayalun. Ia putri raja Konstantinopel Agung, yang mereka sebut Sultan Takfur.

Aku masuk menemuinya dan mendapati ia duduk di atas dipan bertatahkan permata, kakinya dari perak. Di hadapannya ada sekitar seratus dayang: Romawi, Turki, dan Nubia, sebagian berdiri, sebagian duduk. Di dekat kepalanya ada pemuda-pemuda, sementara di hadapannya berdiri para pengawal laki-laki dari kalangan Romawi.

Ia bertanya tentang keadaan kami, tentang kedatangan kami, dan tentang jauhnya negeri kami. Tiba-tiba ia menangis, mengusap wajahnya dengan saputangan di hadapannya, seolah rasa haru dan kasihan bercampur dalam hatinya ketika mendengar kisah perjalanan kami.

Ia memerintahkan makanan dihidangkan, lalu kami makan di hadapannya sementara ia memandang kami. Saat kami hendak pamit, ia berkata agar kami tidak memutus hubungan, agar kami sering datang, dan meminta apa yang kami butuhkan.

Akhlaknya sungguh mulia. Ia bahkan mengutus orang mengejar kami, membawa makanan, roti banyak, mentega, kambing, dirham, pakaian bagus, tiga kuda pilihan, dan sepuluh kuda biasa. Dan kelak, bersama Khatun inilah aku melakukan perjalanan ke Konstantinopel Agung—sebagaimana akan kuceritakan pada bagian lain dari perjalananku.

Urduja, yang Paling Lembut Hati

Khatun keempat bernama Urduja. Dalam bahasa mereka, namanya berkaitan dengan “perkemahan”, karena ia dilahirkan di perkemahan. Ia putri Amir besar ‘Isa Bak, Amir al-Ulus, yang maknanya seperti “panglima para amir”. Aku mendapati Amir itu masih hidup, dan ia menikah dengan putri Sultan, It Kujuk.

Khatun Urduja adalah yang paling utama, paling lembut budi, dan paling penyayang. Dialah yang pernah mengutus seseorang kepadaku ketika ia melihat rumahku di atas bukit saat rombongan perkemahan melintas, sebagaimana telah kuceritakan sebelumnya.

Ketika aku menemuinya, aku menyaksikan kemuliaan jiwa yang sulit dicari tandingannya. Ia menghidangkan makanan, dan kami makan di hadapannya. Ia juga meminta qimiz dibawakan, lalu sahabat-sahabatku meminumnya. Ia bertanya tentang keadaan kami, dan kami menjawab. Aku pun sempat masuk menemui saudara perempuannya, istri Amir ‘Ali bin Azraq.

It Kujuk, Putri Sultan yang Dermawan

Sultan Uzbeg memiliki putri bernama It Kujuk. Arti namanya “anjing kecil”, karena dalam bahasa mereka it berarti anjing dan kujuk berarti kecil. Aku memahami bahwa orang Turki kadang memberi nama berdasarkan pertanda dan harapan, sebagaimana orang Arab memberi nama dengan fa’l.

Aku menghadap kepada Khatun ini di perkemahannya yang terpisah, kira-kira enam mil dari perkemahan ayahnya. Ia memerintahkan agar para fuqaha, qadhi, Sayyid Syarif Ibnu ‘Abdil Hamid, para penuntut ilmu, para syaikh, dan ahli fiqih dihadirkan.

Hadir pula suaminya, Amir ‘Isa—yang putrinya menjadi istri Sultan. Amir ‘Isa menderita niqris, sehingga tidak mampu menggerakkan kedua kakinya dan tidak bisa menunggang kuda. Ia hanya bisa naik kereta. Bila ingin masuk menghadap Sultan, para pelayan menurunkannya dan menggotongnya ke majelis.

Dalam keadaan yang mirip aku juga melihat Amir Naghthay, ayah Kabak Khatun. Penyakit ini memang banyak terjadi pada orang Turki, dan tidaklah mengherankan, sebab ia juga dikenal sebagai penyakit para raja.

Di antara semua Khatun yang kutemui, putri Sultan ini termasuk yang paling tampak kemuliaannya dalam pemberian dan kebaikan. Ia banyak berbuat baik dan melimpahkan hadiah. Aku hanya bisa berdoa agar Allah membalasnya dengan kebaikan.

Tin Bak dan Jan Bak, Dua Putra Sultan

Sultan memiliki dua putra kandung dari permaisuri Taytughli: Tin Bak dan Jan Bak. Masing-masing punya perkemahan sendiri.

Tin Bak, putra yang lebih tua, adalah salah satu makhluk Allah yang paling tampan wajahnya. Ayahnya telah mewasiatkan kerajaan kepadanya, dan ia memiliki wibawa di sisi Sultan. Namun Allah tidak menghendaki kerajaan itu lama di tangannya. Saat ayahnya wafat, ia memerintah sebentar saja, lalu dibunuh karena urusan-urusan buruk yang dilakukannya.

Setelah itu, saudaranya Jan Bak menggantikannya, dan ia lebih baik serta lebih utama darinya.

Sayyid Syarif Ibnu ‘Abdil Hamid adalah orang yang mengasuh Jan Bak. Qadhi Hamzah, Imam Badruddin al-Qawwami, Imam al-Maqri’ Husamuddin al-Bukhari, dan selain mereka, ketika aku datang, menasihatiku agar aku singgah di perkemahan Jan Bak, karena keutamaannya. Maka aku pun melakukannya, dan dari sanalah aku mulai memahami arah masa depan kerajaan ini.

Catatan tentang Ayat dan Hadits

Dalam penggalan kisah yang menjadi dasar narasi ini, tidak ada kutipan ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi yang disebutkan secara langsung. Karena itu, aku tidak menampilkan teks Arab berharakat dan terjemahnya pada bagian ini.

Sumber Kisah

Tuhfat an-Nuzzar fi Ghara’ib al-Amsar wa ‘Aja’ib al-Asfar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rihlah Ibnu Bathutah #49 di Kaffa & Krimea: Kisah Muslim di Negeri Nasrani

Perang Badar Kubra Bagian 2

rihlah Ibnu Bathutah #47 : Boli, Borlu, dan Kastamonu