Kisah Persiapan Menghadapi Perang Uhud

Ilustrasi suasana malam di Madinah dengan pencahayaan obor. Seorang kurir dari Bani Ghifar, dengan pakaian perjalanan berdebu, menyerahkan gulungan surat kepada seorang sahabat di depan bangunan batu sederhana, menggambarkan momen penyampaian kabar rahasia menjelang Perang Uhud.

Kabar dari Mekah, Tiba di Madinah

Berita tentang rencana besar pasukan Quraisy mulai bergerak. Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi yang masih tinggal di Mekah, mengetahui persiapan matang musuh. Mereka telah menghasut berbagai kabilah, mengumpulkan pasukan besar, dan bertekad menyerang Madinah. Dengan cemas, Abbas menulis surat rahasia untuk keponakannya, Nabi Muhammad , yang berisi semua detail rencana Quraisy. Surat itu dipercayakan kepada seorang pria dari Bani Ghifar, yang berhasil menyampaikannya ke tangan Nabi di Madinah.

Ubay bin Ka’blah yang membacakan surat itu untuk Nabi. Mendengar isinya, Nabi meminta Ubay dan beberapa sahabat terpercaya lainnya untuk merahasiakan kabar ini. Kekhawatiran mulai menyelimuti. Untuk memastikan kebenaran informasi, Nabi mengutus dua bersaudara, Anas dan Mu’nis putra Fadhalah, untuk menyelidiki pergerakan Quraisy. Kedua utusan itu kembali dengan laporan yang mengonfirmasi: Pasukan Quraisy sudah mendekati Madinah! Kuda dan unta mereka telah merumput di ladang sekitar Yatsrib (Madinah).

Tak berhenti di situ, Nabi mengirim lagi Al-Hubab bin Al-Mundzir sebagai mata-mata. Semua laporan sama: Pasukan besar Quraisy sudah di ambang pintu Madinah. Rahasia telah terbongkar. Berita tentang kedatangan mereka dan pemukiman pasukan di dekat Bukit Uhud berdatangan bertubi-tubi. Kaum Muslimin pun siaga penuh. Mereka mengambil tindakan pengamanan untuk melindungi Nabi dan diri mereka sendiri. Bahkan, para pemuka Madinah semalaman berjaga di Masjid Nabawi dengan mengenakan baju zirah, sementara penjaga ditempatkan di setiap pintu masuk kota.

Musyawarah Penuh Dilema: Bertahan atau Keluar?
Situasi genting mengharuskan musyawarah. Nabi mengumpulkan para pemuka Muhajirin dan Anshar. Abdullah bin Ubay bin Salul, pemimpin kaum munafikin, juga hadir. Pertemuan itu berlangsung pada hari Jumat. Sebelumnya, Nabi telah bermimpi. Di pagi hari, beliau menceritakannya kepada para sahabat:

"إِنِّي قَدْ رَأَيْتُ وَاللهِ خَيْرًا، رَأَيْتُ بَقَرًا تَذْبَحُ، وَرَأَيْتُ فِي ذِبَابِ سَيْفِي ثَلْمًا، وَرَأَيْتُ أَنِي أَدْخَلْتُ يَدِي فِي دِرْعٍ حَصِينَةٍ، فَأَوَّلْتُهَا المَدِينَةَ."

"Sungguh, demi Allah, aku telah melihat mimpi yang baik. Aku melihat sapi-sapi disembelih, melihat ujung pedangku ada celanya, dan melihat tanganku dimasukkan ke dalam baju zirah yang kuat. Aku tafsirkan baju zirah itu adalah Madinah."

Nabi kemudian melanjutkan ta'bir (penafsiran) mimpi beliau:

"فَأَمَّا البَقَرُ فَأُنَاسٌ مِنْ أَصْحَابِي يَقْتُلُونَ، وَأَمَّا الثَّلْمُ … فَهُوَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يَقْتُلُ"

"Adapun sapi-sapi itu adalah orang-orang dari sahabatku yang akan terbunuh. Adapun celah di pedang… itu adalah seorang dari keluargaku yang akan terbunuh."

Berdasarkan mimpi ini, pendapat awal Nabi dan para sesepuh Muhajirin-Anshar, termasuk Abdullah bin Ubay, adalah bertahan di dalam Madinah. Mereka berargumen kota itu adalah benteng terkuat. Abdullah bin Ubay berkata, "Wahai Rasulullah, tetaplah di Madinah jangan keluar menemui mereka. Demi Allah, tidak sekali pun kami keluar menghadapi musuh kecuali kami menderita kerugian. Dan tidak sekali pun mereka memasuki kota ini kecuali kami yang menang. Lagi pula, engkau ada bersama kami. Jika mereka mengepung, mereka akan berada dalam posisi sulit. Jika mereka berani masuk, para lelaki akan menghadang mereka, sementara wanita dan anak-anak akan melempari batu dari atap rumah. Dan jika mereka mundur, mereka akan pulang dengan penuh kekecewaan."

Namun, suara lain bersemangat berkumandang. Banyak pejuang, terutama pemuda yang belum ikut Perang Badar atau yang merasakan manisnya kemenangan di Badar, berseru: "Wahai Rasulullah, bawalah kami keluar menghadapi musuh! Jangan sampai mereka mengira kita pengecut!" Di antara mereka adalah paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib, yang bersumpah: "Demi Dzat yang menurunkan Al-Qur'an kepadamu, kami pasti akan memerangi mereka!"

Keputusan Akhir dan Keberangkatan Pasukan
Setelah shalat Jumat dan memberikan wejangan tentang keteguhan dan kesabaran, Nabi masuk ke rumah dan mengenakan baju perangnya (al-li’amah). Ketika para pemuda yang mendesak perang melihat itu, mereka menyesal. "Kami memaksamu (wahai Rasulullah), padahal itu bukan hak kami. Jika engkau mau, tinggallah (di Madinah)."

Namun, Nabi bersabda:

"مَا يَنْبَغِي لِنَبِيٍّ إِذَا لَبِسَ لَأْمَتَهُ أَنْ يَضَعَهَا حَتَّى يُقَاتِلَ أَوْ يَحْكُمَ اللهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَعْدَائِهِ"

"Tidak pantas bagi seorang nabi, apabila telah mengenakan baju perangnya, untuk melepaskannya hingga dia berperang atau hingga Allah memberi keputusan antara dia dan musuh-musuhnya."

Keputusan telah bulat. Muadzin mengumandangkan panggilan keberangkatan. Nabi pun berangkat dengan sekitar seribu pasukan. Beliau mengangkat Abdullah bin Ummi Maktum sebagai pemimpin sementara di Madinah. Bendera pun dibagikan: bendera Muhajirin kepada Mush’ab bin ‘Umair, bendera suku Khazraj kepada Al-Hubab bin Al-Mundzir, dan bendera suku Aus kepada Usaid bin Hudhair.

Di tengah perjalanan, Nabi melihat sekelompok pasukan besar. Ternyata mereka adalah sekutu Abdullah bin Ubay dari kalangan Yahudi. Nabi bersabda: "Kami tidak butuh mereka. Sesungguhnya kami tidak meminta bantuan orang kafir untuk memerangi musyrik." Keputusan bijaksana ini melindungi pasukan dari kemungkinan pengkhianatan.

Saat tiba di suatu tempat bernama Asy-Syauth, terjadilah ujian besar. Abdullah bin Ubay bin Salul menarik diri dengan membawa tiga ratus pengikutnya. Ia berkata sinis, "Dia (Muhammad) menuruti mereka (para pemuda) dan mendurhakai aku. Untuk apa kita bunuh diri di sini, wahai manusia?" Maka, pulanglah orang-orang munafik dan ragu yang mengikutinya.

Abdullah bin ‘Amr bin Haram, ayah dari Jabir, mengejar dan menyeru, "Wahai kaumku! Aku ingatkan kalian kepada Allah, janganlah kalian meninggalkan kaum dan nabi kalian saat musuh sudah di depan mata!" Namun, mereka menjawab dengan dalih, "Seandainya kami tahu akan terjadi peperangan, niscaya kami tidak akan meninggalkan kalian. Tapi kami tidak yakin akan ada pertempuran." Mendengar penolakan itu, Abdullah berdoa, "Semoga Allah menjauhkan kalian, wahai musuh-musuh Allah! Allah akan mencukupi Nabi-Nya dari (khiyanat) kalian."

Tentang orang-orang munafik yang mundur inilah, Allah menurunkan firman-Nya:

وَمَا أَصَابَكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ فَبِإِذْنِ اللَّهِ وَلِيَعْلَمَ الْمُؤْمِنِينَ. وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ نَافَقُوا وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوِ ادْفَعُوا قَالُوا لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَاتَّبَعْنَاكُمْ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ يَقُولُونَ بِأَفْوَاهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ

"Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman. Dan agar Allah mengetahui orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan, 'Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu).' Mereka berkata, 'Sekiranya kami mengerti ada peperangan, tentulah kami mengikuti kamu.' Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan." (QS. Ali 'Imran: 166-167)

Kepulangan kelompok munafik itu sempat menggoyahkan dua suku, Bani Salamah dan Bani Haritsah, yang nyaris ikut mundur. Namun, Allah menguatkan dan melindungi hati mereka. Tentang golongan yang hampir goyah ini, Allah berfirman:

إِذْ هَمَّتْ طَائِفَتَانِ مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلَا وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

"(Ingatlah) ketika dua golongan dari kamu ingin (berpaling) merasa takut, padahal Allah menjadi pelindung bagi kedua golongan itu. Dan karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal." (QS. Ali 'Imran: 122)

Dengan sisa pasukan yang kokoh hati itu, Rasulullah dan kaum Muslimin melanjutkan perjalanan menuju Uhud, menghadapi takdir yang telah ditetapkan.



Sumber Kisah:

As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhau'i Al-Qur'an was Sunnah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rihlah Ibnu Bathutah #56 : Konstantinopel, Sarā Barkah dan Sultan Uzbak

Peristiwa-Peristiwa di Tahun ke-3 Hijriah

Rihlah Ibnu Baathutah #57 : Dari As-Sarā ke Khawarizmi