Rihlah Ibnu Baathutah #57 : Dari As-Sarā ke Khawarizmi

"Kota Khawarizmi abad ke-14 di tepi sungai Jaihun, dengan jalan lebar, pasar sangat ramai, Masjid Jami’ berkubah, madrasah dan bangunan bergaya Islam Asia Tengah."

Empat Puluh Hari Menyebrangi Padang Pasir

Ketika aku berada di As-Sarā, aku berniat untuk bepergian menuju Khawarizmi. Niat itu sudah bulat di dalam hatiku. Namun sang syaikh yang mulia, yang sebelumnya memuliakan dan menjagaku, melarangku. Ia berkata dengan lembut namun tegas, “Tinggallah beberapa hari, barulah kemudian engkau bepergian.”

Hatiku gelisah. Jiwaku cenderung ingin segera berangkat. Tak lama kemudian, aku menemukan sebuah kafilah besar yang sedang bersiap-siap pergi. Di antara mereka ada para pedagang yang sudah kukenal. Aku pun sepakat untuk berangkat bersama mereka. Aku mendatangi sang syaikh dan memberitahukan niatku.

Ia kembali berkata, “Engkau harus tinggal.”
Namun aku sudah bertekad untuk pergi. Melihat ketegasan niatku, ia berkata, “Tunggulah budakku yang kabur itu; tinggallah karenanya.”

Ucapan itu tampak biasa, tetapi kemudian terbukti sebagai salah satu karomah yang nyata.

Karomah Budak yang Kembali

Tiga hari setelah itu, salah seorang sahabatku menemukan budak sang syaikh yang kabur itu di kota Al-Hājj Tarkhān. Budak itu dibawa kembali dan diserahkan kepada tuannya.

Barulah setelah urusan itu selesai aku berangkat menuju Khawarizmi. Seakan-akan Allah menahanku agar tidak segera berangkat, sampai amanat sang syaikh dikembalikan kepadanya. Di situ aku melihat jelas bagaimana firasat seorang wali dapat mengikat langkah seorang musafir.

Antara As-Sarā, ibu kota Sultan Uzbak, dan Khawarizmi, membentang sebuah padang pasir luas yang memerlukan perjalanan empat puluh hari lamanya. Di padang pasir ini, kuda tidak bisa digunakan, karena padang rumput sangat sedikit. Kereta-kereta hanya ditarik oleh unta.

Sarajūq, “Sarā Kecil” di Tepi Air Besar

Kami berangkat dari As-Sarā dan melakukan perjalanan selama sepuluh hari. Akhirnya kami sampai di sebuah kota bernama Sarajūq. “Jūq” dalam bahasa mereka berarti kecil, seakan-akan mereka menyebutnya “Sarā kecil”.

Kota ini terletak di tepi sebuah sungai besar yang deras, disebut Ūlūsū. Namanya berarti “air besar”. Di atas sungai itu terbentang sebuah jembatan dari perahu-perahu yang diikat satu sama lain, seperti jembatan di Baghdad.

Di kota Sarajūq inilah perjalanan kami dengan kuda penarik kereta berakhir. Kami menjual kuda-kuda kami di sana. Harga seekor kuda kira-kira empat dinar—namun bukan dinar emas, melainkan dihitung dalam dirham—dan sebagian kuda dijual lebih murah lagi karena lemah dan karena di kota ini kuda sangat banyak dan murah.

Setelah itu kami menyewa unta-unta untuk menarik kereta-kereta kami. Di sinilah dimulai bagian perjalanan yang paling berat menembus padang pasir.

Di Sarajūq terdapat sebuah zawiyah milik seorang lelaki saleh dari bangsa Turk, seorang yang sudah berumur panjang. Namanya Athā, yang artinya “bapak”. Ia menjamu kami di zawiyahnya, mendoakan keselamatan kami, dan memberkahi perjalanan kami. Qadhi kota ini—yang namanya tidak kuketahui—juga memuliakan kami dengan jamuan yang baik.

Empat Puluh Hari di Padang Pasir

Dari Sarajūq, kami berangkat memasuki padang pasir. Perjalanan berikutnya memakan waktu tiga puluh hari. Kami berjalan dengan sungguh-sungguh. Dalam sehari, kami hanya berhenti dua kali: sekali pada waktu Dhuha, dan sekali pada waktu Maghrib.

Lama berhenti itu hanya cukup untuk memasak dan meminum makanan yang mereka sebut duqī. Duqī dimasak dari satu jenis tepung. Mereka menambahkan daging kering—yang disebut al-khalī’—lalu menuangkan susu di atasnya. Itulah makanan pokok kami selama melewati padang pasir.

Setiap orang tidur dan makan di dalam keretanya sendiri, karena kafilah tidak boleh banyak berhenti. Di dalam keretaku ada tiga orang pelayan perempuan yang menemaniku dan mengurus keperluanku.

Kebiasaan para musafir di padang pasir ini adalah berjalan cepat. Mereka tidak boleh lambat, karena tumbuhan sangat sedikit. Banyak unta yang melintasi padang pasir ini binasa di tengah jalan. Unta yang selamat pun tidak bisa dimanfaatkan lagi, kecuali setelah setahun kemudian, setelah diberi makan hingga gemuk kembali.

Air di padang pasir hanya didapat dari tempat-tempat air yang sudah dikenal dan berjarak dua atau tiga hari perjalanan satu sama lain. Air itu berasal dari hujan yang tertampung dan dari sumur-sumur yang digali. Setiap kali mendekati tempat air, orang-orang bergegas mengisi geriba dan bejana mereka, karena mereka tahu betapa jauhnya jarak ke sumber air berikutnya.

Demikianlah, hari demi hari kami lewati di bawah langit padang pasir yang luas, di antara unta yang letih dan angin yang kering, hingga akhirnya tampaklah di hadapan kami sebuah kota agung: Khawarizmi.

Khawarizmi, Gelombang Manusia di Tanah Turk

Khawarizmi adalah kota bangsa Turk yang terbesar, teragung, terindah, dan termegah yang pernah kulihat. Kota itu memiliki pasar-pasar yang elok, jalan-jalan yang lapang, bangunan-bangunan yang banyak, dan keindahan yang menonjol.

Kepadatan penduduknya luar biasa. Orang-orang bergerak di dalam kota seperti gelombang laut yang tak henti bergulung. Pada suatu hari aku berkuda memasuki pasar. Ketika sampai di bagian tengah, di sebuah tempat yang mereka sebut Asy-Syahūr, aku mendapati keramaian yang begitu padat hingga aku tidak mampu terus maju.

Aku mencoba berbalik dan kembali, tetapi tidak bisa, karena banyaknya orang yang lalu-lalang. Aku pun kebingungan di tengah arus manusia. Setelah berusaha keras, barulah aku dapat keluar dari kerumunan itu. Sebagian orang berkata kepadaku, “Keramaian pasar ini agak berkurang pada hari Jumat.”

Baru ketika kudengar itu, aku memahami betapa hidup dan sibuknya kota ini di hari-hari biasa.

Masjid, Madrasah, dan Rumah Sakit di Bawah Naungan Uzbak

Aku pergi mengunjungi Masjid Jami’ dan madrasah di kota Khawarizmi. Kota ini berada di bawah kekuasaan Sultan Uzbak. Di sana ada seorang amir besar bernama Quthlūdumur. Dialah yang membangun madrasah yang kulihat itu dan beberapa bangunan lain yang terkait dengan ilmu.

Adapun Masjid Jami’ Khawarizmi, dibangun oleh istrinya, seorang khatun yang salehah bernama Tūrābak. Dari tangan merekalah kota ini dihiasi dengan tempat-tempat ilmu dan ibadah.

Di Khawarizmi juga ada sebuah rumah sakit (māristān). Di sana bertugas seorang tabib dari Syam yang dikenal dengan nama Ash-Shahyūnī, dinisbatkan kepada daerah Shahyūn (Gunung Zion) di negeri Syam. Dengan adanya rumah sakit itu, para musafir dan penduduk setempat dapat berobat dan dirawat dengan baik.

Akhlak Penduduk Khawarizmi

Di semua negeri yang pernah kudatangi di dunia, aku belum pernah melihat penduduk yang lebih baik akhlaknya daripada penduduk Khawarizmi. Mereka sangat dermawan, jiwa mereka lembut dan penuh kasih sayang, terutama kepada orang asing dan para musafir seperti aku.

Mereka memiliki kebiasaan yang indah dalam urusan shalat, yang tidak pernah kulihat di negeri lain. Para muadzin di masjid-masjid berkeliling ke rumah-rumah yang berada di sekitar masjid untuk memberitahukan waktu shalat. Mereka tidak hanya berseru dari menara, tapi juga mengetuk pintu manusia.

Barang siapa yang tidak hadir shalat berjamaah di masjid, imam akan memukulnya di hadapan jamaah. Di setiap masjid jami’ tergantung sebuah cambuk khusus untuk tujuan ini. Selain itu, orang yang tidak hadir berjamaah juga didenda lima dinar. Uang denda itu tidak masuk ke kantong pribadi imam, tetapi dibelanjakan untuk kepentingan masjid atau diberikan kepada orang-orang fakir dan miskin.

Mereka menyebutkan bahwa kebiasaan ini sudah berlangsung sejak zaman dahulu. Dengan aturan ini, masjid-masjid di Khawarizmi tidak pernah sepi dari jamaah.

Sungai Jaihun dan Zawiyah di Luar Kota

Di luar kota Khawarizmi mengalir sungai Jaihun (Amu Darya), salah satu dari empat sungai surga menurut sebagian ulama. Pada musim dingin, sungai itu membeku, seperti membekunya sungai Atil (Volga) yang pernah kulihat. Orang-orang berjalan di atas sungai yang beku itu seolah-olah berjalan di daratan. Masa pembekuannya berlangsung sekitar lima bulan.

Terkadang, ketika sungai mulai mencair, ada orang yang masih mencoba melintasinya. Mereka tergelincir dan binasa. Demikianlah, sungai itu bisa menjadi jalan keselamatan sekaligus tempat kebinasaan, tergantung ketepatan waktu orang yang menyeberang.

Pada musim panas, sungai Jaihun menjadi jalur pelayaran. Orang-orang bepergian dengan perahu menuruni arus menuju Tirmidz. Dari sana mereka membawa gandum dan jelai. Perjalanan menuruni arus ini memakan waktu sepuluh hari.

Di luar Khawarizmi juga terdapat zawiyah yang dibangun di atas makam Syaikh Najmuddin Al-Bakri, salah seorang ulama besar yang saleh. Di zawiyah itu selalu tersedia makanan bagi para pendatang dan orang-orang yang akan berangkat bepergian. Syaikh dan pengelolanya adalah Saifuddin bin ‘Adhbah, seorang tokoh besar Khawarizmi.

Ada pula zawiyah lain yang syaikhnya adalah seorang saleh, mujawir yang tinggal dekat masjid, bernama Jalaluddin As-Samarqandi. Ia termasuk ulama besar yang saleh. Ia menjamu kami ketika kami mendatanginya, dan kami merasakan keberkahan dan kelembutan akhlaknya.

Tak jauh dari sana, di luar kota, terdapat makam seorang imam besar: Abul Qasim Mahmud bin ‘Umar Az-Zamakhsyari. Di atas makamnya didirikan sebuah kubah. Desa Zamakhsyar sendiri terletak sekitar empat mil dari Khawarizmi.

Masuk ke Kota di Akhir Malam

Ketika pertama kali tiba di sekitar Khawarizmi, aku tidak langsung masuk ke dalam kota. Aku singgah lebih dahulu di luar tembok kota. Sebagian sahabatku pergi menemui Qadhi Shadr Abu Hafsh ‘Umar Al-Bakri, qadhi besar kota ini.

Qadhi itu mengutus wakilnya yang bernama Nurul Islam untuk menemuiku. Nurul Islam datang, memberi salam, menyampaikan sapaan dan perhatian qadhi, lalu kembali melaporkan tentang kedatanganku.

Tidak lama kemudian, sang qadhi sendiri datang bersama sekelompok sahabatnya. Ia masih muda usianya, namun besar perbuatannya. Ia memberi salam kepadaku dengan penuh hormat.

Qadhi Abu Hafsh memiliki dua orang wakil. Yang pertama adalah Nurul Islam, yang telah datang menemuiku. Yang kedua adalah Nuruddin Al-Kirmani, seorang faqih besar yang sangat kuat dan keras dalam menerapkan hukum karena Allah Ta’ala.

Ketika kami sedang duduk berbincang, qadhi berkata, “Kota ini sangat ramai. Masuk pada siang hari tidak memungkinkan.” Ia lalu memberi saran, “Nurul Islam akan mendatangimu lagi, dan kalian akan masuk bersamanya pada akhir malam.”

Kami pun mengikutinya. Pada akhir malam, ketika keramaian mulai reda, kami masuk ke kota Khawarizmi bersama Nurul Islam. Kami dibawa ke sebuah madrasah baru yang belum dihuni siapa pun, dan kami ditempatkan di sana.

Majelis Indah Sang Qadhi

Setelah shalat Subuh, Qadhi Abu Hafsh datang kembali kepada kami bersama sekelompok tokoh kota. Di antara mereka ada Maulana Hammamuddin, Maulana Zainuddin Al-Maqdisi, Maulana Radhiuddin Yahya, Maulana Fadhlullah Ar-Rushawi, Maulana Jalaluddin Al-‘Imadi, dan Maulana Syamsuddin As-Sanjarī, imam amir kota ini. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kemuliaan dan keutamaan ilmu.

Mazhab yang dominan di antara mereka adalah mazhab Mu’tazilah. Akan tetapi, mereka tidak menampakkannya secara terbuka, karena Sultan Uzbak dan amir kota ini, Quthlūdumur, adalah dari kalangan Ahlus Sunnah.

Pada hari-hari tinggalku di sana, aku shalat Jumat bersama Qadhi Abu Hafsh ‘Umar di masjidnya. Setelah selesai shalat, aku pergi bersamanya menuju rumahnya yang tidak jauh dari masjid.

Kami masuk ke majelisnya. Majelis itu adalah salah satu yang terindah yang pernah kulihat. Lantainya dialasi hamparan yang mewah, dinding-dindingnya dilapisi kain-kain indah. Di sekeliling ruangan terdapat banyak ceruk. Di setiap ceruk diletakkan bejana-bejana perak yang dilapisi emas, dan bejana-bejana lain buatan Irak.

Begitulah kebiasaan penduduk negeri ini; mereka menata rumah-rumah mereka dengan hiasan yang indah. Setelah itu, dihidangkan makanan yang banyak untuk kami. Dari jamuan dan hiasan rumahnya, tampak jelas bahwa Qadhi Abu Hafsh adalah seorang yang hidup mewah, memiliki banyak harta dan kebun.

Ia adalah paman dari amir Quthlūdumur. Ia juga menikah dengan saudara perempuan istri sang amir, seorang wanita yang bernama Jījā Āghā. Karena itu, posisinya di tengah masyarakat dan di sisi penguasa sangatlah tinggi.

Para Da’i dan Khatib Besar Khawarizmi

Di kota ini terdapat sekelompok da’i dan pemberi nasihat yang aktif mengajak manusia kepada kebaikan. Yang paling besar di antara mereka adalah Maulana Zainuddin Al-Maqdisi.

Adapun khatib kota ini adalah Maulana Husamuddin Al-Misyathī. Ia adalah seorang khatib yang sangat fasih. Menurut pengalamanku berkeliling negeri-negeri Islam dan non-Islam, ia termasuk salah satu dari empat khatib terbaik yang pernah kudengar di seluruh dunia.

Suara yang menyentuh, kata-kata yang tertata, dan kekuatan nasihatnya, semua itu meninggalkan bekas yang dalam di hati para pendengarnya, termasuk diriku.

Demikianlah perjalananku dari As-Sarā menuju Khawarizmi: tertahan oleh firasat seorang syaikh, menyeberangi padang pasir empat puluh hari lamanya, memasuki kota dagang yang padat bagaikan gelombang, dan berjumpa dengan para ulama, qadhi, dan orang-orang saleh yang menghiasi kota itu dengan ilmu dan akhlak mereka.


Peta Perjalanan Ibnu Bathutah #57

Sumber kisah:
Ibnu Battutah, Rihlah Ibnu Battutah

Komentar