Di Balik Pernikahan Rasulullah: Membantah Fitnah dan Menyingkap Hikmah Agung

Pemandangan luas di padang pasir dekat Madinah. Sekelompok besar pria dari berbagai kalangan (ada yang berpakaian sederhana, ada yang berpakaian lebih baik) terlihat saling berpelukan dan berjabat tangan dengan penuh suka cita. Beberapa wanita dengan pakaian khas Badui terlihat ikut bergembira. Di kejauhan, tenda-tenda perkemahan terlihat. Suasana haru dan bahagia karena sebuah perdamaian dan persaudaraan baru. Spanduk putih polos berkibar lembut tertiup angin.

Sepanjang sejarah, tidak ada tokoh yang paling gigih difitnah selain para nabi. Nabi Muhammad , sebagai penutup para rasul, menjadi sasaran utama kebohongan para musuh Islam. Di antara serangan yang paling tua dan terus diulang-ulang adalah tuduhan keji seputar kehidupan rumah tangga beliau. Para orientalis dan misionaris dengan sengaja memotret Nabi seolah-olah seorang lelaki yang tak punya tujuan hidup kecuali mengejar perempuan.

Tuduhan ini bukanlah kritik ilmiah, melainkan busur panah beracun yang sejak dulu dilontarkan untuk meruntuhkan kemuliaan akhlak beliau. Mari kita bedah bersama, bagaimana Al-Qur'an dan sejarah yang otentik membantah tuntas fitnah ini, serta mengungkap hikmah luar biasa di balik setiap pernikahan suci Rasulullah .

1. Ketika Orientalis Berimajinasi: Antara Fakta dan Dongeng

Para orientalis dan misionaris profesional gemar sekali mengumbar imajinasi liar mereka saat membicarakan kehidupan rumah tangga Nabi Muhammad . Mereka melukiskan pemandangan yang tidak pernah terjadi, seolah-olah mereka hadir di kamar pribadi Baginda.

Dr. Muhammad Husain Haekal -ulama besar Mesir- dengan tegas mengkritik gaya para orientalis ini. Ia mencontohkan bagaimana sebagian mereka menggambarkan pertemuan pertama Nabi dengan Zainab binti Jahsy (sepupu beliau) dengan cara yang sangat sensual. Ada yang berkisah tentang rambut Zainab yang tergerai, atau tubuhnya yang hampir telanjang. Ada pula yang mengarang cerita tentang angin yang membuka tabir kamar Zainab saat ia berbaring dengan pakaian tidurnya, lalu pemandangan itu "menerjang" hati Muhammad yang katanya sangat tergila-gila pada wanita.

"Gambaran-gambaran hasil rekaan imajinasi seperti ini," tulis Haekal, "banyak kita temukan dalam tulisan Muir, Dermenghem, Washington Irving, Lammens, dan para orientalis lainnya." Tak ketinggalan, seorang pendeta bernama Fender juga menulis buku penuh kebodohan dan kedustaan tentang Nabi , melukiskan beliau sebagai pria syahwat yang tenggelam dalam kenikmatan jasmani.

2. Kelemahan Argumentasi Mereka: Sebuah Istana di Atas Sarang Laba-Laba

Menariknya, meski para musuh Islam sering berbeda pendapat, mereka sepakat dalam satu hal: menyerang Nabi melalui isu poligami. Senjata utama mereka adalah cerita-cerita palsu (isra'iliyat) yang sengaja disusupkan oleh para pendahulu mereka, yaitu kaum Yahudi dan Zindik (ateis) dari Persia. Ketika mereka tidak mampu melawan kekuatan Islam, mereka beralih ke strategi kotor: berdusta dan memasukkan cerita bohong ke dalam khazanah umat Islam.

Sayangnya, sebagian umat Islam yang awam tertipu dan meriwayatkan dongeng-dongeng itu dalam kitab mereka. Namun, para ulama kritis tidak pernah lengah. Mereka selalu memperingatkan kedustaan ini. Jadi, boleh dikatakan, para orientalis itu membangun istana fitnah mereka di atas fondasi sarang laba-laba.

Coba kita pikirkan sejenak dengan logika sehat. Zainab binti Jahsy adalah putri bibi Rasulullah . Beliau tumbuh besar menyaksinya sejak masih merangkak, kemudian remaja, hingga dewasa. Sebagai keluarga dekat, beliau pasti tahu betul bagaimana paras dan perawakan Zainab. Apalagi saat itu, perempuan belum diwajibkan berhijab seperti syariat yang turun kemudian.

Lantas, jika benar beliau tergila-gila pada Zainab, apa yang menghalanginya untuk menikahinya sejak awal? Beliau adalah pemuda Quraisy paling terpandang: nasab mulia, akhlak agung, rupawan, dan sehat. Banyak lelaki biasa yang berani meminang, apalagi beliau? Cukup satu isyarat saja, keluarga Zainab pasti akan segera menghadiahkannya.

Tapi tidak! Beliau justru menikahkan Zainab dengan Zaid bin Haritsah, seorang bekas budak yang telah dimerdekakan dan diangkat sebagai anak. Bayangkan, seorang pemuka Quraisy rela menikahkan sepupunya yang cantik dan terhormat dengan seorang mantan budak. Lalu, setelah Zaid menceraikannya, barulah beliau menikahi Zainab. Jika niatnya hanya nafsu, mengapa tidak dari awal? Apakah masuk akal beliau rela menunggu hingga "bunga" itu dipetik orang lain, lalu baru dipetiknya kembali?

Lebih dari itu, seluruh sejarah hidup Rasulullah -sebelum dan sesudah kenabian- adalah teladan kesucian. Beliau tidak pernah dikenal sebagai lelaki hidung belang. Tangannya tidak pernah menyentuh perempuan yang bukan mahramnya. Ketika membaiat para wanita, beliau cukup dengan ucapan, tanpa jabat tangan, padahal berjabat tangan adalah adat kebiasaan dalam baiat di masa jahiliyah dan awal Islam.

Bagaimana mungkin seorang yang dicap "gila perempuan" oleh para orientalis, justru memiliki akhlak yang tidak kita rela kan untuk lelaki biasa, apalagi untuk seorang nabi? Lalu, bagaimana mungkin Allah memuji akhlak beliau dengan firmannya:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam: 4)

Andai benar beliau tergila-gila pada wanita, tentu masa mudanya yang penuh gejolak akan ia habiskan dengan berpoligami. Di masa jahiliyah, poligami tanpa batas adalah hal lumrah. Namun, apa kenyataannya? Beliau menjalani masa remaja dan dewasa mudanya dengan menikahi satu wanita: Khadijah binti Khuwailid, yang saat dinikahi usianya sudah 40 tahun, sementara beliau 25 tahun. Beliau hidup monogami bersamanya hingga Khadijah wafat, meskipun saat itu banyak gadis cantik dan perawan muda di sekitarnya. Siapapun yang mengatakan bahwa laki-laki tidak tertarik pada perawan, berarti ia menentang fitrah manusia.

3. Poligami: Sunnah Para Nabi Sebelum Muhammad

Pernyataan ini perlu ditegaskan kepada para orientalis dan pengikutnya: Poligami bukanlah tradisi baru yang diciptakan Islam, apalagi Muhammad. Ini adalah sunnah (kebiasaan) para nabi dan rasul terdahulu. Bahkan, mengambil tawanan perang sebagai istri (istri) juga bukan hal asing.

Lihatlah kitab Taurat yang mereka muliakan! Di dalamnya dengan gamblang diatur tentang bolehnya poligami dan memiliki selir (budak wanita) tanpa batas.

Dalam Kitab Ulangan pasal 21 ayat 10-14 disebutkan: "Apabila engkau keluar berperang melawan musuhmu, dan TUHAN, Allahmu, menyerahkan mereka ke dalam tanganmu, sehingga engkau menjadikan mereka tawanan, dan engkau melihat di antara tawanan itu seorang perempuan yang elok, dan engkau suka kepadanya, sehingga engkau mengambilnya menjadi isterimu, maka engkau harus membawa dia ke dalam rumahmu. Perempuan itu harus mencukur rambutnya, memotong kukunya, menanggalkan pakaiannya yang dipakai ketika ditawan, dan tinggal di rumahmu untuk meratapi ibu bapaknya sebulan lamanya. Sesudah itu, engkau boleh menghampiri dia dan menjadi suaminya, sehingga ia menjadi isterimu. Dan jika engkau tidak suka lagi kepadanya, maka engkau harus membiarkan dia pergi sesuka hatinya; sama sekali tidak boleh menjual dia dengan bayaran uang; tidak boleh memperlakukan dia sebagai budak, sebab engkau telah mempermalukan dia."

Kitab yang sama juga mencatat bahwa Ibrahim (bapak para nabi) berpoligami. Gideon, yang dianggap nabi oleh Yahudi, memiliki banyak istri. Daud disebut memiliki tujuh istri yang disebutkan namanya, lalu ditambah lagi istri-istri lain dan selir-selir tanpa batasan. Tentang Sulaiman, Taurat menyebut dengan jelas: "Ia mempunyai tujuh ratus orang isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus orang gundik." (1 Raja-Raja 11:3)

Jika poligami dan memiliki selir diperbolehkan dalam kitab suci mereka untuk nabi-nabi mereka, mengapa tiba-tiba hal itu menjadi aib dan celaan ketika dilakukan oleh Nabi penutup, Muhammad ? Inilah standar ganda yang tak masuk akal!

Sebenarnya, serangan model ini sudah dilakukan oleh nenek moyang mereka, kaum Yahudi, di masa Rasulullah sendiri. Mereka mencela beliau dengan mengatakan, "Kami tidak melihat pemuda ini memiliki ambisi selain wanita dan perkawinan. Seandainya ia benar-benar nabi, tentu urusan kenabian akan menyibukkannya dari wanita."

Maka Allah segera membantah mereka dengan firman-Nya:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً ۚ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَن يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ

"Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad) dan Kami berikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. Tidak ada hak bagi seorang rasul mendatangkan sesuatu bukti (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Untuk setiap masa ada Kitab (tertentu)." (QS. Ar-Ra'd: 38)

Bantahan ini bagaikan batu besar yang membungkam mulut-mulut kotor mereka. Allah mengingatkan bahwa memiliki istri dan anak adalah sunnatullah bagi para rasul. Mereka tetaplah manusia biasa yang menjalani fitrah kehidupan, bukan malaikat yang tidak punya syahwat.

Sebagai catatan penting, meskipun Taurat dan Al-Qur'an sama-sama membolehkan beristri dari kalangan tawanan perang, namun adabnya sangat berbeda. Taurat memerintahkan tawanan wanita untuk mencukur rambut, memotong kuku, dan meratap sebulan penuh sebagai tanda penghinaan dan penundukan. Sementara Islam mengajarkan adab yang mulia: memuliakan, mengasihi, dan memperlakukan mereka dengan baik, seperti yang akan kita lihat dalam kisah Juwairiyah, Shafiyah, dan Maria al-Qibthiyah.

4. Hikmah Agung di Balik Pernikahan-Peranikahan Suci

Andai para pencela itu mau membuang hawa nafsu dan fanatisme buta, lalu mengkaji hikmah di balik setiap pernikahan Rasulullah , niscaya mereka akan bertakbir kagum. Betapa mulianya hati dan betapa agungnya tujuan beliau. Tidak ada satu pun pernikahan beliau yang bermotifkan nafsu semata. Semua memiliki hikmah yang dalam, yang secara garis besar dapat dibagi menjadi hikmah umum dan hikmah khusus.

Hikmah Umum yang Menggetarkan

Pertama: Menjaga dan Menyebarkan Ilmu Agama, Khususnya Urusan Rumah Tangga

Nabi Muhammad adalah nabi terakhir, dan risalahnya berlaku hingga akhir zaman. Beliau sangat bersemangat agar ajaran Islam, baik akidah, syariat, akhlak, maupun adab, sampai ke seluruh umat manusia, laki-laki dan perempuan, tua dan muda.

Para sahabat lelaki memang luar biasa dalam meriwayatkan hadits. Namun, ada satu dimensi kehidupan Nabi yang tidak mungkin mereka saksikan dan riwayatkan: kehidupan pribadi beliau di dalam rumah bersama istri-istrinya. Siapa yang akan menyampaikan kepada umat bagaimana adab suami-istri, cara bermesraan, tata cara mandi junub, hukum berciuman saat puasa, bagaimana bergaul dengan istri saat haid, dan puluhan bahkan ratusan masalah rumah tangga lainnya?

Di sinilah peran agung Ummahatul Mukminin, para istri Nabi. Mereka adalah lentera hidayah dan wasilah (perantara) penyampai ilmu, baik di masa hidup Nabi maupun setelah wafatnya.

Siapa pun yang membaca kitab-kitab hadits dan sunnah akan tercengang. Betapa banyak para istri Nabi, terutama Aisyah radhiyallahu 'anha, yang meriwayatkan, menjelaskan, dan bahkan berfatwa tentang masalah-masalah yang sangat pribadi. Masalah hubungan intim, adab tidur bersama, junub, mandi, dan lain-lain. Ini semua adalah ilmu yang wajib diketahui setiap muslim agar ibadahnya sah dan kehidupannya berkah. Tanpa para istri Nabi, dari mana kita bisa mengetahuinya?

Wanita, dengan fitrah dan rasa malunya, lebih nyaman bertanya kepada sesama wanita. Namun, tidak hanya wanita biasa yang bertanya kepada Aisyah. Para sahabat senior sekalipun kerap merujuk kepadanya. Masruq berkata, "Aku melihat para syekh (sahabat) senior bertanya kepada Aisyah tentang ilmu faraid (waris)." Abu Burdah meriwayatkan dari ayahnya, "Tidaklah kami (para sahabat) menghadapi suatu masalah yang sulit lalu kami tanyakan kepada Aisyah, melainkan kami temukan padanya ilmu tentang hal itu." Urwah bin Zubair berkata, "Aku tidak melihat orang yang lebih pandai dalam ilmu fikih, kedokteran, dan syair selain Aisyah."

Para istri Nabi lainnya juga memiliki ilmu dan fikih, meski tak setinggi Aisyah yang telah dimuliakan Allah di atas langit yang tujuh. Ada di antara mereka yang hidup hampir setengah abad setelah wafatnya Nabi , terus menyebarkan ilmu. Aisyah wafat tahun 58 H, Ummu Salamah wafat tahun 62 H. Jadi, jelaslah bahwa keberadaan banyak istri Rasul adalah keniscayaan (keharusan) agama, bukan sekadar hasrat pribadi.

Kedua: Membuktikan Kenabian dan Keagungan Akhlaknya

Renungkanlah! Seorang laki-laki memiliki sembilan orang istri dalam satu waktu. Mereka berbeda usia, tabiat, dan karakter. Tugasnya bukan hanya mengurus mereka, tapi juga memimpin umat, mengajarkan agama, mengatur strategi perang, dan menyebarkan Islam ke seluruh Jazirah Arab. Tugas yang sangat berat, bahkan mustahil bagi manusia biasa.

Namun, Rasulullah menjalankan semua itu dengan sempurna. Beliau tidak pernah terlena. Ini adalah bukti bahwa beliau benar-benar utusan Allah. Manusia biasa, dengan satu atau dua istri saja, seringkali dibuat pusing tujuh keliling. Bagaimana mungkin dengan sembilan istri, beliau justru mampu memimpin umat hingga Islam tersebar luas?

Lebih dari itu, beliau mampu bersikap adil dan meraih keridhaan mereka semua. Para istrinya bahkan berlomba-lomba mencari ridha beliau. Ini semua karena keluasan akal, kelapangan dada, akhlak mulia, dan kebijaksanaan sempurna beliau . Tentu saja, mereka juga bukan wanita sembarangan. Mereka adalah wanita-wanita pilihan umat ini dalam hal agama, akhlak, ilmu, dan amal. Allah telah mempersiapkan mereka melalui firman-Nya:

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا. وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا. وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا

"Wahai istri-istri Nabi! Kamu tidak seperti perempuan-perempuan yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu merendahkan suara dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias (berdandan) seperti orang-orang jahiliah dahulu, dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlulbait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sungguh, Allah Maha Halus, Maha Mengetahui." (QS. Al-Ahzab: 32-34)

Subhanallah, meski para perawi sangat tekun menelusuri kehidupan Nabi dan keluarganya, mereka hanya menemukan dua atau tiga kejadian kecil yang mengganggu keharmonisan rumah tangga ideal ini. Itu pun karena faktor manusiawi biasa, dan segera diselesaikan dengan indah. Ini membuktikan bahwa kehidupan rumah tangga beliau benar-benar surga teladan.

Ketiga: Kesaksian atas Kesucian Pribadi Nabi

Wanita pada umumnya, terutama para madu (isteri-isteri dari suami yang sama), sulit menyimpan rahasia. Jika ada sesuatu yang ganjil dari perilaku suami di dalam rumah, pasti akan cepat tersebar. Namun, tidak pernah sekalipun para istri Nabi membuka aib atau rahasia pribadi beliau yang tercela. Ini membuktikan bahwa apa yang tampak di luar (publik) sama persis dengan apa yang ada di dalam (pribadi). Beliau senantiasa dalam bimbingan wahyu dan akhlak mulia, di mana pun berada. Inilah salah satu bukti bahwa beliau benar-benar nabi. Banyak pemimpin dan tokoh reformis yang berbeda antara penampilan luar dan batinnya. Mereka bisa munafik dan menipu. Tapi tidak dengan Nabi .

Hikmah Khusus: Setiap Pernikahan Memiliki Misi Mulia

Selain hikmah umum di atas, setiap istri Rasulullah memiliki latar belakang pernikahan dengan hikmah yang khusus dan agung.

  • Khadijah binti Khuwailid: Ini adalah pernikahan fitrah, pernikahan pertama yang dilandasi cinta dan kemitraan sejati.
  • Saudah binti Zam'ah: Sebuah bentuk penghormatan. Saudah adalah janda yang ditinggal suami setelah hijrah ke Habasyah. Ia tidak cantik dan memiliki banyak anak. Rasulullah menikahinya setelah Khadijah wafat, sebagai bentuk perlindungan dan penghargaan atas keimanannya.
  • Aisyah binti Abu Bakar & Hafshah binti Umar: Kedua pernikahan ini memperkuat tali persaudaraan dan kasih sayang antara Nabi dengan dua sahabat terdekatnya, Abu Bakar dan Umar. Ini adalah ikatan yang sangat kuat, melebihi ikatan politik biasa.
  • Zainab binti Khuzaimah (Ummul Masakin): Ia dijuluki "Ibu Orang-Orang Miskin" karena kedermawanannya. Rasulullah menikahinya sebagai penghormatan atas akhlak mulia ini dan sebagai penghiburan atas wafatnya suaminya yang syahid.
  • Ummu Salamah: Seorang janda dengan beberapa anak, yang ditinggal mati suaminya (Abu Salamah) setelah Perang Uhud. Rasulullah menikahinya untuk menghibur hatinya yang hancur, menggantikan peran suami yang telah berjuang di jalan Allah, dan mengakui pengorbanan keluarganya yang telah dua kali hijrah. Meski Ummu Salamah dikenal cantik di masa muda, saat dinikahi usianya tak lagi muda dan telah melalui banyak duka. Kecantikan sejatinya telah luntur bersama kesedihan.
  • Juwairiyah binti Al-Harits: Putri pemuka Bani Al-Musthaliq ini awalnya adalah tawanan perang. Pernikahan ini memiliki hikmah sosial-politik yang sangat luar biasa. Para sahabat yang melihat Rasulullah menikahi Juwairiyah, serta merta memerdekakan semua tawanan Bani Al-Musthaliq karena mereka adalah "besan" Rasulullah. Akibatnya, seluruh kaum Juwairiyah masuk Islam. Juwairiyah menjadi wanita yang paling besar berkahnya bagi kaumnya.
  • Ummu Habibah (Ramlah) binti Abu Sufyan: Putri dari Abu Sufyan (musuh utama Islam saat itu) ini ditinggal mati suaminya yang murtad dan masuk Nasrani di Habasyah. Ia terdampar sendirian di negeri asing, namun tetap teguh pada Islam. Rasulullah , yang saat itu berada di Madinah, langsung melamar dan menikahinya melalui utusan. Bayangkan, seorang laki-laki melamar wanita yang tidak pernah dilihatnya, di negeri yang sangat jauh, hanya karena ingin melindungi keimanan dan kehormatan seorang muslimah. Apakah ini perbuatan orang yang dikuasai nafsu birahi?
  • Shafiyah binti Huyay bin Akhtab: Ia adalah putri pemimpin Yahudi Bani Nadhir yang menjadi tawanan perang Khaibar. Rasulullah memilihnya untuk dirinya sendiri, bukan karena kecantikannya semata, tetapi untuk menjaga martabatnya sebagai putri pemuka kaum. Beliau memerdekakannya dan menikahinya. Beliau selalu membela Shafiyah ketika istri-istri lain menyinggung asal-usulnya (karena ayahnya adalah musuh Islam). Sungguh ini adalah puncak keagungan akhlak dan kemanusiaan terhadap seorang wanita yang kaumnya telah banyak menyakiti beliau.
  • Maimunah binti Al-Harits Al-Hilaliyah: Pernikahan ini mempererat hubungan Nabi dengan Bani Hilal, salah satu kabilah Arab yang paling terpandang. Pernikahan ini juga merupakan bentuk penghormatan kepada pamannya, Abbas, yang menjadi wali pernikahannya. Maimunah adalah saudara ipar Abbas.

5. Kesimpulan: Antara Kebencian dan Kebenaran

Sungguh mengherankan para orientalis fanatik dan misionaris profesional itu. Ketika mereka menemukan riwayat-riwayat palsu yang sesuai dengan dendam dan kebencian mereka, mereka segera menyambutnya dengan gegap gempita. Mereka pura-pura lupa pada lingkungan dan adat istiadat masyarakat saat itu. Mereka mengabaikan sama sekali kaidah kritik sanad dan matan hadits. Sebaliknya, mereka dengan gegabah menghukum riwayat-riwayat yang sangat shahih sebagai palsu, hanya karena tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka. Tidak ada yang mendorong mereka selain fanatisme buta, kebencian turun-temurun, dan kedustaan yang keji.

Wahai pembaca yang budiman, semoga setelah membaca uraian ini, engkau semakin yakin bahwa pribadi Rasulullah , termasuk dalam kehidupan rumah tangganya, adalah suci dan jauh dari segala tuduhan keji yang mereka lontarkan. Tidak ada yang hakiki selain kebenaran, dan tidak ada yang hakiki selain kesesatan. Lalu mengapa mereka masih saja berpaling?

Sumber Kisah:

Sirah Nabawiyah fi Dhauil Quran was Sunnah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wahyu di Tengah Kepungan: Tafsir Ayat-Ayat Perang Ahzab

Detik-Detik Genting di Balik Parit: Ketika Iman Diuji dan Keberanian Berbicara