Di Balik Pernikahan Rasulullah: Membantah Fitnah dan Menyingkap Hikmah Agung
Sepanjang sejarah, tidak ada tokoh yang paling gigih difitnah selain para nabi. Nabi Muhammad ﷺ , sebagai penutup para rasul, menjadi sasaran utama kebohongan para musuh Islam. Di antara serangan yang paling tua dan terus diulang-ulang adalah tuduhan keji seputar kehidupan rumah tangga beliau. Para orientalis dan misionaris dengan sengaja memotret Nabi ﷺ seolah-olah seorang lelaki yang tak punya tujuan hidup kecuali mengejar perempuan.
Tuduhan ini bukanlah kritik ilmiah, melainkan busur panah
beracun yang sejak dulu dilontarkan untuk meruntuhkan kemuliaan akhlak beliau.
Mari kita bedah bersama, bagaimana Al-Qur'an dan sejarah yang otentik membantah
tuntas fitnah ini, serta mengungkap hikmah luar biasa di balik setiap
pernikahan suci Rasulullah ﷺ.
1. Ketika Orientalis Berimajinasi: Antara Fakta dan
Dongeng
Para orientalis dan misionaris profesional gemar sekali
mengumbar imajinasi liar mereka saat membicarakan kehidupan rumah tangga Nabi
Muhammad ﷺ
. Mereka melukiskan pemandangan yang tidak pernah terjadi, seolah-olah mereka
hadir di kamar pribadi Baginda.
Dr. Muhammad Husain Haekal -ulama besar Mesir- dengan tegas
mengkritik gaya para orientalis ini. Ia mencontohkan bagaimana sebagian mereka
menggambarkan pertemuan pertama Nabi dengan Zainab binti Jahsy (sepupu beliau)
dengan cara yang sangat sensual. Ada yang berkisah tentang rambut Zainab yang
tergerai, atau tubuhnya yang hampir telanjang. Ada pula yang mengarang cerita
tentang angin yang membuka tabir kamar Zainab saat ia berbaring dengan pakaian
tidurnya, lalu pemandangan itu "menerjang" hati Muhammad yang katanya
sangat tergila-gila pada wanita.
"Gambaran-gambaran hasil rekaan imajinasi seperti
ini," tulis Haekal, "banyak kita temukan dalam tulisan Muir,
Dermenghem, Washington Irving, Lammens, dan para orientalis lainnya." Tak
ketinggalan, seorang pendeta bernama Fender juga menulis buku penuh kebodohan
dan kedustaan tentang Nabi ﷺ
, melukiskan beliau sebagai pria syahwat yang tenggelam dalam kenikmatan
jasmani.
2. Kelemahan Argumentasi Mereka: Sebuah Istana di Atas
Sarang Laba-Laba
Menariknya, meski para musuh Islam sering berbeda pendapat,
mereka sepakat dalam satu hal: menyerang Nabi ﷺ melalui isu poligami. Senjata utama mereka
adalah cerita-cerita palsu (isra'iliyat) yang sengaja disusupkan oleh para
pendahulu mereka, yaitu kaum Yahudi dan Zindik (ateis) dari Persia. Ketika
mereka tidak mampu melawan kekuatan Islam, mereka beralih ke strategi kotor:
berdusta dan memasukkan cerita bohong ke dalam khazanah umat Islam.
Sayangnya, sebagian umat Islam yang awam tertipu dan
meriwayatkan dongeng-dongeng itu dalam kitab mereka. Namun, para ulama kritis
tidak pernah lengah. Mereka selalu memperingatkan kedustaan ini. Jadi, boleh
dikatakan, para orientalis itu membangun istana fitnah mereka di atas fondasi
sarang laba-laba.
Coba kita pikirkan sejenak dengan logika sehat. Zainab binti
Jahsy adalah putri bibi Rasulullah ﷺ . Beliau ﷺ
tumbuh besar menyaksinya sejak masih merangkak, kemudian remaja, hingga dewasa.
Sebagai keluarga dekat, beliau ﷺ pasti tahu betul bagaimana paras dan perawakan Zainab. Apalagi
saat itu, perempuan belum diwajibkan berhijab seperti syariat yang turun
kemudian.
Lantas, jika benar beliau ﷺ tergila-gila pada Zainab, apa yang
menghalanginya untuk menikahinya sejak awal? Beliau ﷺ adalah pemuda Quraisy paling terpandang:
nasab mulia, akhlak agung, rupawan, dan sehat. Banyak lelaki biasa yang berani
meminang, apalagi beliau? Cukup satu isyarat saja, keluarga Zainab pasti akan
segera menghadiahkannya.
Tapi tidak! Beliau ﷺ justru menikahkan Zainab dengan Zaid bin
Haritsah, seorang bekas budak yang telah dimerdekakan dan diangkat sebagai
anak. Bayangkan, seorang pemuka Quraisy rela menikahkan sepupunya yang cantik
dan terhormat dengan seorang mantan budak. Lalu, setelah Zaid menceraikannya,
barulah beliau ﷺ
menikahi Zainab. Jika niatnya hanya nafsu, mengapa tidak dari awal? Apakah
masuk akal beliau rela menunggu hingga "bunga" itu dipetik orang
lain, lalu baru dipetiknya kembali?
Lebih dari itu, seluruh sejarah hidup Rasulullah ﷺ
-sebelum dan sesudah kenabian- adalah teladan kesucian. Beliau ﷺ
tidak pernah dikenal sebagai lelaki hidung belang. Tangannya tidak pernah
menyentuh perempuan yang bukan mahramnya. Ketika membaiat para wanita, beliau ﷺ
cukup dengan ucapan, tanpa jabat tangan, padahal berjabat tangan adalah adat
kebiasaan dalam baiat di masa jahiliyah dan awal Islam.
Bagaimana mungkin seorang yang dicap "gila
perempuan" oleh para orientalis, justru memiliki akhlak yang tidak kita
rela kan untuk lelaki biasa, apalagi untuk seorang nabi? Lalu, bagaimana
mungkin Allah ﷻ
memuji akhlak beliau dengan firmannya:
وَإِنَّكَ
لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti
yang agung." (QS. Al-Qalam: 4)
Andai benar beliau ﷺ tergila-gila pada wanita, tentu masa
mudanya yang penuh gejolak akan ia habiskan dengan berpoligami. Di masa
jahiliyah, poligami tanpa batas adalah hal lumrah. Namun, apa kenyataannya?
Beliau ﷺ
menjalani masa remaja dan dewasa mudanya dengan menikahi satu wanita: Khadijah
binti Khuwailid, yang saat dinikahi usianya sudah 40 tahun, sementara beliau 25
tahun. Beliau ﷺ
hidup monogami bersamanya hingga Khadijah wafat, meskipun saat itu banyak gadis
cantik dan perawan muda di sekitarnya. Siapapun yang mengatakan bahwa laki-laki
tidak tertarik pada perawan, berarti ia menentang fitrah manusia.
3. Poligami: Sunnah Para Nabi Sebelum Muhammad ﷺ
Pernyataan ini perlu ditegaskan kepada para orientalis dan
pengikutnya: Poligami bukanlah tradisi baru yang diciptakan Islam,
apalagi Muhammad. Ini adalah sunnah (kebiasaan) para nabi dan rasul
terdahulu. Bahkan, mengambil tawanan perang sebagai istri (istri) juga bukan
hal asing.
Lihatlah kitab Taurat yang mereka muliakan! Di dalamnya
dengan gamblang diatur tentang bolehnya poligami dan memiliki selir (budak
wanita) tanpa batas.
Dalam Kitab Ulangan pasal 21 ayat 10-14
disebutkan: "Apabila engkau keluar berperang melawan musuhmu, dan
TUHAN, Allahmu, menyerahkan mereka ke dalam tanganmu, sehingga engkau
menjadikan mereka tawanan, dan engkau melihat di antara tawanan itu seorang
perempuan yang elok, dan engkau suka kepadanya, sehingga engkau mengambilnya
menjadi isterimu, maka engkau harus membawa dia ke dalam rumahmu. Perempuan itu
harus mencukur rambutnya, memotong kukunya, menanggalkan pakaiannya yang
dipakai ketika ditawan, dan tinggal di rumahmu untuk meratapi ibu bapaknya
sebulan lamanya. Sesudah itu, engkau boleh menghampiri dia dan menjadi
suaminya, sehingga ia menjadi isterimu. Dan jika engkau tidak suka lagi
kepadanya, maka engkau harus membiarkan dia pergi sesuka hatinya; sama sekali
tidak boleh menjual dia dengan bayaran uang; tidak boleh memperlakukan dia
sebagai budak, sebab engkau telah mempermalukan dia."
Kitab yang sama juga mencatat bahwa Ibrahim (bapak para
nabi) berpoligami. Gideon, yang dianggap nabi oleh Yahudi, memiliki banyak
istri. Daud disebut memiliki tujuh istri yang disebutkan namanya, lalu ditambah
lagi istri-istri lain dan selir-selir tanpa batasan. Tentang Sulaiman, Taurat
menyebut dengan jelas: "Ia mempunyai tujuh ratus orang isteri dari
kaum bangsawan dan tiga ratus orang gundik." (1 Raja-Raja 11:3)
Jika poligami dan memiliki selir diperbolehkan dalam kitab
suci mereka untuk nabi-nabi mereka, mengapa tiba-tiba hal itu menjadi aib dan
celaan ketika dilakukan oleh Nabi penutup, Muhammad ﷺ ? Inilah standar ganda yang tak masuk
akal!
Sebenarnya, serangan model ini sudah dilakukan oleh nenek
moyang mereka, kaum Yahudi, di masa Rasulullah ﷺ sendiri. Mereka mencela beliau dengan
mengatakan, "Kami tidak melihat pemuda ini memiliki ambisi selain wanita
dan perkawinan. Seandainya ia benar-benar nabi, tentu urusan kenabian akan
menyibukkannya dari wanita."
Maka Allah ﷻ
segera membantah mereka dengan firman-Nya:
وَلَقَدْ
أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً ۚ
وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَن يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ لِكُلِّ
أَجَلٍ كِتَابٌ
"Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa rasul
sebelum engkau (Muhammad) dan Kami berikan kepada mereka istri-istri dan
keturunan. Tidak ada hak bagi seorang rasul mendatangkan sesuatu bukti
(mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Untuk setiap masa ada Kitab
(tertentu)." (QS. Ar-Ra'd: 38)
Bantahan ini bagaikan batu besar yang membungkam mulut-mulut
kotor mereka. Allah mengingatkan bahwa memiliki istri dan anak adalah
sunnatullah bagi para rasul. Mereka tetaplah manusia biasa yang menjalani
fitrah kehidupan, bukan malaikat yang tidak punya syahwat.
Sebagai catatan penting, meskipun Taurat dan Al-Qur'an
sama-sama membolehkan beristri dari kalangan tawanan perang, namun adabnya
sangat berbeda. Taurat memerintahkan tawanan wanita untuk mencukur rambut,
memotong kuku, dan meratap sebulan penuh sebagai tanda penghinaan dan
penundukan. Sementara Islam mengajarkan adab yang mulia: memuliakan, mengasihi,
dan memperlakukan mereka dengan baik, seperti yang akan kita lihat dalam kisah
Juwairiyah, Shafiyah, dan Maria al-Qibthiyah.
4. Hikmah Agung di Balik Pernikahan-Peranikahan Suci
Andai para pencela itu mau membuang hawa nafsu dan fanatisme
buta, lalu mengkaji hikmah di balik setiap pernikahan Rasulullah ﷺ
, niscaya mereka akan bertakbir kagum. Betapa mulianya hati dan betapa agungnya
tujuan beliau. Tidak ada satu pun pernikahan beliau yang bermotifkan nafsu
semata. Semua memiliki hikmah yang dalam, yang secara garis besar dapat dibagi
menjadi hikmah umum dan hikmah khusus.
Hikmah Umum yang Menggetarkan
Pertama: Menjaga dan Menyebarkan Ilmu Agama, Khususnya
Urusan Rumah Tangga
Nabi Muhammad ﷺ adalah nabi terakhir, dan risalahnya berlaku hingga akhir
zaman. Beliau ﷺ
sangat bersemangat agar ajaran Islam, baik akidah, syariat, akhlak, maupun
adab, sampai ke seluruh umat manusia, laki-laki dan perempuan, tua dan muda.
Para sahabat lelaki memang luar biasa dalam meriwayatkan
hadits. Namun, ada satu dimensi kehidupan Nabi yang tidak mungkin mereka
saksikan dan riwayatkan: kehidupan pribadi beliau di dalam rumah bersama
istri-istrinya. Siapa yang akan menyampaikan kepada umat bagaimana adab
suami-istri, cara bermesraan, tata cara mandi junub, hukum berciuman saat
puasa, bagaimana bergaul dengan istri saat haid, dan puluhan bahkan ratusan
masalah rumah tangga lainnya?
Di sinilah peran agung Ummahatul Mukminin, para istri Nabi.
Mereka adalah lentera hidayah dan wasilah (perantara) penyampai ilmu, baik di
masa hidup Nabi ﷺ
maupun setelah wafatnya.
Siapa pun yang membaca kitab-kitab hadits dan sunnah akan
tercengang. Betapa banyak para istri Nabi, terutama Aisyah radhiyallahu 'anha,
yang meriwayatkan, menjelaskan, dan bahkan berfatwa tentang masalah-masalah
yang sangat pribadi. Masalah hubungan intim, adab tidur bersama, junub, mandi,
dan lain-lain. Ini semua adalah ilmu yang wajib diketahui setiap muslim agar
ibadahnya sah dan kehidupannya berkah. Tanpa para istri Nabi, dari mana kita
bisa mengetahuinya?
Wanita, dengan fitrah dan rasa malunya, lebih nyaman
bertanya kepada sesama wanita. Namun, tidak hanya wanita biasa yang bertanya
kepada Aisyah. Para sahabat senior sekalipun kerap merujuk kepadanya. Masruq
berkata, "Aku melihat para syekh (sahabat) senior bertanya kepada Aisyah
tentang ilmu faraid (waris)." Abu Burdah meriwayatkan dari ayahnya,
"Tidaklah kami (para sahabat) menghadapi suatu masalah yang sulit lalu
kami tanyakan kepada Aisyah, melainkan kami temukan padanya ilmu tentang hal
itu." Urwah bin Zubair berkata, "Aku tidak melihat orang yang lebih
pandai dalam ilmu fikih, kedokteran, dan syair selain Aisyah."
Para istri Nabi lainnya juga memiliki ilmu dan fikih, meski
tak setinggi Aisyah yang telah dimuliakan Allah di atas langit yang tujuh. Ada
di antara mereka yang hidup hampir setengah abad setelah wafatnya Nabi ﷺ
, terus menyebarkan ilmu. Aisyah wafat tahun 58 H, Ummu Salamah wafat tahun 62
H. Jadi, jelaslah bahwa keberadaan banyak istri Rasul adalah keniscayaan
(keharusan) agama, bukan sekadar hasrat pribadi.
Kedua: Membuktikan Kenabian dan Keagungan Akhlaknya
Renungkanlah! Seorang laki-laki memiliki sembilan orang
istri dalam satu waktu. Mereka berbeda usia, tabiat, dan karakter. Tugasnya
bukan hanya mengurus mereka, tapi juga memimpin umat, mengajarkan agama,
mengatur strategi perang, dan menyebarkan Islam ke seluruh Jazirah Arab. Tugas
yang sangat berat, bahkan mustahil bagi manusia biasa.
Namun, Rasulullah ﷺ menjalankan semua itu dengan sempurna. Beliau tidak pernah
terlena. Ini adalah bukti bahwa beliau benar-benar utusan Allah. Manusia biasa,
dengan satu atau dua istri saja, seringkali dibuat pusing tujuh keliling.
Bagaimana mungkin dengan sembilan istri, beliau justru mampu memimpin umat
hingga Islam tersebar luas?
Lebih dari itu, beliau ﷺ mampu bersikap adil dan meraih keridhaan
mereka semua. Para istrinya bahkan berlomba-lomba mencari ridha beliau. Ini
semua karena keluasan akal, kelapangan dada, akhlak mulia, dan kebijaksanaan
sempurna beliau ﷺ
. Tentu saja, mereka juga bukan wanita sembarangan. Mereka adalah wanita-wanita
pilihan umat ini dalam hal agama, akhlak, ilmu, dan amal. Allah telah
mempersiapkan mereka melalui firman-Nya:
يَا
نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا
تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا
مَعْرُوفًا. وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ
الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ
أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا. وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي
بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا
خَبِيرًا
"Wahai istri-istri Nabi! Kamu tidak seperti
perempuan-perempuan yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu
merendahkan suara dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada
penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. Dan hendaklah kamu
tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias (berdandan) seperti orang-orang
jahiliah dahulu, dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah
dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari
kamu, wahai ahlulbait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Dan ingatlah
apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu).
Sungguh, Allah Maha Halus, Maha Mengetahui." (QS. Al-Ahzab: 32-34)
Subhanallah, meski para perawi sangat tekun menelusuri
kehidupan Nabi dan keluarganya, mereka hanya menemukan dua atau tiga kejadian
kecil yang mengganggu keharmonisan rumah tangga ideal ini. Itu pun karena
faktor manusiawi biasa, dan segera diselesaikan dengan indah. Ini membuktikan
bahwa kehidupan rumah tangga beliau benar-benar surga teladan.
Ketiga: Kesaksian atas Kesucian Pribadi Nabi
Wanita pada umumnya, terutama para madu (isteri-isteri dari
suami yang sama), sulit menyimpan rahasia. Jika ada sesuatu yang ganjil dari
perilaku suami di dalam rumah, pasti akan cepat tersebar. Namun, tidak pernah
sekalipun para istri Nabi membuka aib atau rahasia pribadi beliau yang tercela.
Ini membuktikan bahwa apa yang tampak di luar (publik) sama persis dengan apa
yang ada di dalam (pribadi). Beliau ﷺ senantiasa dalam bimbingan wahyu dan akhlak mulia, di mana pun
berada. Inilah salah satu bukti bahwa beliau benar-benar nabi. Banyak pemimpin
dan tokoh reformis yang berbeda antara penampilan luar dan batinnya. Mereka
bisa munafik dan menipu. Tapi tidak dengan Nabi ﷺ .
Hikmah Khusus: Setiap Pernikahan Memiliki Misi Mulia
Selain hikmah umum di atas, setiap istri Rasulullah ﷺ
memiliki latar belakang pernikahan dengan hikmah yang khusus dan agung.
- Khadijah
binti Khuwailid: Ini adalah pernikahan fitrah, pernikahan pertama
yang dilandasi cinta dan kemitraan sejati.
- Saudah
binti Zam'ah: Sebuah bentuk penghormatan. Saudah adalah janda
yang ditinggal suami setelah hijrah ke Habasyah. Ia tidak cantik dan
memiliki banyak anak. Rasulullah ﷺ menikahinya
setelah Khadijah wafat, sebagai bentuk perlindungan dan penghargaan atas
keimanannya.
- Aisyah
binti Abu Bakar & Hafshah binti Umar: Kedua pernikahan ini
memperkuat tali persaudaraan dan kasih sayang antara Nabi ﷺ
dengan dua sahabat terdekatnya, Abu Bakar dan Umar. Ini adalah ikatan yang
sangat kuat, melebihi ikatan politik biasa.
- Zainab
binti Khuzaimah (Ummul Masakin): Ia dijuluki "Ibu
Orang-Orang Miskin" karena kedermawanannya. Rasulullah ﷺ
menikahinya sebagai penghormatan atas akhlak mulia ini dan sebagai
penghiburan atas wafatnya suaminya yang syahid.
- Ummu
Salamah: Seorang janda dengan beberapa anak, yang ditinggal mati
suaminya (Abu Salamah) setelah Perang Uhud. Rasulullah ﷺ menikahinya
untuk menghibur hatinya yang hancur, menggantikan peran suami yang telah
berjuang di jalan Allah, dan mengakui pengorbanan keluarganya yang telah
dua kali hijrah. Meski Ummu Salamah dikenal cantik di masa muda, saat
dinikahi usianya tak lagi muda dan telah melalui banyak duka. Kecantikan
sejatinya telah luntur bersama kesedihan.
- Juwairiyah
binti Al-Harits: Putri pemuka Bani Al-Musthaliq ini awalnya
adalah tawanan perang. Pernikahan ini memiliki hikmah sosial-politik yang
sangat luar biasa. Para sahabat yang melihat Rasulullah menikahi
Juwairiyah, serta merta memerdekakan semua tawanan Bani Al-Musthaliq
karena mereka adalah "besan" Rasulullah. Akibatnya, seluruh kaum
Juwairiyah masuk Islam. Juwairiyah menjadi wanita yang paling besar
berkahnya bagi kaumnya.
- Ummu
Habibah (Ramlah) binti Abu Sufyan: Putri dari Abu Sufyan (musuh
utama Islam saat itu) ini ditinggal mati suaminya yang murtad dan masuk
Nasrani di Habasyah. Ia terdampar sendirian di negeri asing, namun tetap
teguh pada Islam. Rasulullah ﷺ , yang saat itu
berada di Madinah, langsung melamar dan menikahinya melalui utusan.
Bayangkan, seorang laki-laki melamar wanita yang tidak pernah dilihatnya,
di negeri yang sangat jauh, hanya karena ingin melindungi keimanan dan
kehormatan seorang muslimah. Apakah ini perbuatan orang yang dikuasai
nafsu birahi?
- Shafiyah
binti Huyay bin Akhtab: Ia adalah putri pemimpin Yahudi Bani
Nadhir yang menjadi tawanan perang Khaibar. Rasulullah ﷺ memilihnya untuk
dirinya sendiri, bukan karena kecantikannya semata, tetapi untuk menjaga
martabatnya sebagai putri pemuka kaum. Beliau memerdekakannya dan
menikahinya. Beliau selalu membela Shafiyah ketika istri-istri lain
menyinggung asal-usulnya (karena ayahnya adalah musuh Islam). Sungguh ini
adalah puncak keagungan akhlak dan kemanusiaan terhadap seorang wanita
yang kaumnya telah banyak menyakiti beliau.
- Maimunah
binti Al-Harits Al-Hilaliyah: Pernikahan ini mempererat hubungan
Nabi ﷺ
dengan Bani Hilal, salah satu kabilah Arab yang paling terpandang.
Pernikahan ini juga merupakan bentuk penghormatan kepada pamannya, Abbas,
yang menjadi wali pernikahannya. Maimunah adalah saudara ipar Abbas.
5. Kesimpulan: Antara Kebencian dan Kebenaran
Sungguh mengherankan para orientalis fanatik dan misionaris
profesional itu. Ketika mereka menemukan riwayat-riwayat palsu yang sesuai
dengan dendam dan kebencian mereka, mereka segera menyambutnya dengan gegap
gempita. Mereka pura-pura lupa pada lingkungan dan adat istiadat masyarakat
saat itu. Mereka mengabaikan sama sekali kaidah kritik sanad dan matan hadits.
Sebaliknya, mereka dengan gegabah menghukum riwayat-riwayat yang sangat shahih
sebagai palsu, hanya karena tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka. Tidak ada
yang mendorong mereka selain fanatisme buta, kebencian turun-temurun, dan
kedustaan yang keji.
Wahai pembaca yang budiman, semoga setelah membaca uraian
ini, engkau semakin yakin bahwa pribadi Rasulullah ﷺ , termasuk dalam kehidupan rumah
tangganya, adalah suci dan jauh dari segala tuduhan keji yang mereka lontarkan.
Tidak ada yang hakiki selain kebenaran, dan tidak ada yang hakiki selain
kesesatan. Lalu mengapa mereka masih saja berpaling?
Sumber Kisah:
Sirah Nabawiyah fi Dhauil Quran was Sunnah
Komentar
Posting Komentar