Kisah Keberanian Sahabat di Perang Uhud: Thalhah, Nusaibah, dan Para Pejuang Wanita
Keberanian Legendaris dalam Membela Rasul
Di hari yang penuh ujian itu, saat badai kekalahan menerpa
dan musuh mengitari dari segala penjuru, segelintir sahabat pilihan justru
menunjukkan keberanian yang belum pernah tercatat dalam sejarah manusia kecuali
pada diri para pengikut Nabi Muhammad ﷺ. Mereka adalah para pecinta sejati, baik
dari kalangan Muhajirin maupun Anshar, yang menjadikan diri mereka sebagai
perisai hidup bagi Rasulullah.
Thalhah bin Ubaidillah: Tangan yang Lumpuh demi Nabi
Abu Bakar Ash-Shiddiq jika menyebut hari Uhud, ia akan
berkata: "Hari itu seluruhnya milik Thalhah." Demikianlah
riwayat-riwayat sepakat bahwa Thalhah termasuk salah satu yang paling teguh
pada hari itu.
Al-Baihaqi meriwayatkan dari Jabir, bahwa saat Rasulullah ﷺ
mendaki bukit bersama sekelompok Anshar dan Thalhah, pasukan musuh mendekati
mereka. Rasulullah ﷺ
bersabda:
«أَلَا
رَجُلٌ لِهَؤُلَاءِ؟»
"Adakah seorang yang siap menghadapi mereka?"
Thalhah segera menjawab, "Aku, wahai Rasulullah!"
Namun Nabi ﷺ
bersabda, "Tetaplah di tempatmu, wahai Thalhah." Kemudian seorang
Anshar maju dan bertempur hingga gugur. Rasulullah ﷺ kembali bersabda, "Adakah seorang
yang siap menghadapi mereka?" Thalhah kembali menawarkan diri, namun Nabi ﷺ
kembali menyimpannya untuk akhir. Seorang Anshar lainnya maju dan bertempur
hingga gugur. Demikianlah terjadi berulang kali hingga semua pasukan Anshar
yang bersama mereka gugur satu per satu.
Akhirnya, Thalhah maju. Ia bertempur dengan kegigihan yang
sebanding dengan seluruh pejuang sebelumnya. Jari-jarinya terluka. Saat
kesakitan ia mengaduh, "Ah..." Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَوْ
قُلْتَ بِسْمِ اللَّهِ لَرَفَعَتْكَ الْمَلَائِكَةُ وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ
إِلَيْكَ حَتَّى تُلِجَّكَ فِي جَوِّ السَّمَاءِ»
"Seandainya engkau mengucap 'Bismillah', niscaya para malaikat akan
mengangkatmu di hadapan pandangan manusia hingga mereka membawamu ke
langit."
Qais bin Abu Hazim berkata: "Aku melihat tangan Thalhah
yang lumpuh—ia melumpuhkannya saat melindungi Nabi ﷺ pada hari Uhud. Tangan itu akan tetap
menjadi tanda kehormatan baginya hingga hari kiamat."
Sa'ad bin Abi Waqqash: Panah yang Ditebus Ayah Ibu Nabi
Sa'ad bin Abi Waqqash Az-Zuhri adalah pemanah ulung. Pada
hari Uhud, Rasulullah ﷺ
mengosongkan tempat anak panahnya dan bersabda:
«ارْمِ،
فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي»
"Panahlah, ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu."
Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ
tidak pernah mengumpulkan kedua orang tuanya sebagai tebusan untuk seorang pun
kecuali untuk Sa'ad.
Abu Thalhah Al-Anshari: Perisai Hidup di Depan Nabi
Anas bin Malik meriwayatkan:
"Saat hari Uhud, pasukan muslimin tercerai-berai dari
Nabi ﷺ.
Sementara Abu Thalhah berada di hadapan Nabi ﷺ, melindunginya dengan perisai. Abu Thalhah
adalah seorang pemanah yang sangat kuat tarikan busurnya. Pada hari itu ia
mematahkan dua atau tiga busur.
Jika seorang sahabat lewat dengan membawa tabung panah, Nabi
ﷺ
bersabda: 'Hamburkan isinya untuk Abu Thalhah.' Setiap kali Nabi ﷺ
menjengukkan kepala melihat pasukan musuh, Abu Thalhah berkata: 'Demi ayah dan
ibuku, jangan engkau menjenguk, khawatir engkau terkena panah mereka. Leherku
ini menjadi pelindung lehermu.'"
Abu Thalhah selalu berada di barisan terdepan, berkata:
"Aku kuat, wahai Rasulullah. Gunakan aku untuk keperluanmu. Perintahkan
aku sesukamu."
Abu Dujanah: Perisai dari Daging
Abu Dujanah menjadikan tubuhnya sebagai tameng bagi
Rasulullah ﷺ.
Ia membungkukkan punggungnya di atas Nabi, sementara anak-anak panah
berhamburan mengenai tubuhnya hingga penuh luka.
Ziyad bin As-Sakan: Gugur di Hadapan Nabi
Ziyad bin As-Sakan—ada yang mengatakan 'Umarah bin Yazid bin
As-Sakan—adalah salah seorang Anshar yang gugur di hadapan Rasulullah ﷺ
saat membela beliau ketika musuh mengepung dan berusaha membunuhnya.
Ali bin Abi Thalib: Pemuda Perkasa
Ali bin Abi Thalib, pemuda segala pemuda, termasuk yang
tetap teguh bersama Rasulullah ﷺ. Ia berjuang habis-habisan pada hari itu, bertempur dengan
keberanian yang luar biasa.
Nusaibah binti Ka'ab: Singa Betina dari Madinah
Ada satu kisah kepahlawanan yang layak diukir dengan tinta
emas. Ia adalah Nusaibah binti Ka'ab Al-Maziniyyah Al-Anshariyyah, atau lebih
dikenal dengan Ummu 'Imarah.
Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Ummu Sa'ad bin Ar-Rabi' masuk
menemui Nusaibah dan bertanya, "Wahai bibiku, ceritakanlah kisahmu!"
Nusaibah bercerita:
"Aku keluar di pagi hari untuk melihat apa yang
dilakukan orang-orang. Aku membawa wadah berisi air. Sampailah aku di dekat
Rasulullah ﷺ,
saat itu kaum Muslimin sedang dalam keadaan unggul. Namun ketika mereka kalah,
aku segera menuju ke sisi Rasulullah ﷺ. Aku langsung bertempur melindunginya dengan pedang dan memanah
hingga tubuhku penuh luka."
Perawi berkata: "Aku melihat di bahunya sebuah luka
menganga yang dalam." Aku bertanya, "Siapa yang melukaimu?"
Nusaibah menjawab, "Ibnu Qumiah—semoga Allah
menghinakannya. Saat orang-orang berpaling dari Rasulullah ﷺ, ia datang berteriak,
'Tunjukkan padaku Muhammad! Jika ia selamat, aku takkan selamat!' Maka aku,
Mush'ab bin Umair, dan beberapa orang yang bertahan bersama Rasulullah ﷺ
menghadangnya. Ia menebasku dengan tebasan ini. Aku juga telah menebasnya
beberapa kali, namun musuh Allah itu mengenakan dua lapis baju besi."
Nusaibah pingsan karena luka-lukanya. Saat tersadar,
pertanyaan pertamanya: "Di mana Rasulullah ﷺ? Apa yang dilakukan kaum musyrikin
padanya?" Mereka menjawab, "Beliau baik-baik saja,
alhamdulillah."
Umar bin Khattab berkata: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ
bersabda pada hari Uhud:
«مَا
الْتَفَتُّ يَوْمَ أُحُدٍ يَمِينًا وَشِمَالًا إِلَّا وَأَرَاهَا تُقَاتِلُ دُونِي»
'Tidaklah aku menoleh ke kanan atau ke kiri pada hari Uhud, melainkan aku
melihatnya (Nusaibah) bertempur di depanku.'"
Sungguh, sejarah dunia jarang menyaksikan keberanian seperti
ini. Nusaibah memiliki catatan gemilang dalam jihad Islam. Ibnu Abdil Barr
dalam biografinya menyebutkan bahwa ia ikut serta dalam Perang Uhud bersama
suaminya, Zaid bin 'Ashim, dan kedua putranya: Habib dan Abdullah. Ia juga ikut
dalam Bai'atur Ridwan dan menunjukkan kepahlawanan luar biasa dalam perang
melawan kaum murtad.
Habib: Syahid di Tangan Musailamah Al-Kadzdzab
Musailamah Al-Kadzdzab—nabi palsu—pernah menangkap putra
Nusaibah, Habib, saat ia dalam perjalanan dari Oman menuju Madinah. Musailamah
bertanya, "Apakah engkau bersaksi bahwa aku utusan Allah?"
Habib menjawab tegas, "Aku tidak mendengar (pengakuan
itu)!"
Musailamah bertanya lagi, "Apakah engkau bersaksi bahwa
Muhammad utusan Allah?"
Habib menjawab, "Ya."
Maka Musailamah memotong satu per satu anggota tubuh Habib.
Setiap kali ia bertanya, Habib menjawab dengan keyakinan yang sama. Hingga
akhirnya tubuhnya terpotong-potong. Ia gugur sebagai syahid, diridhai Tuhannya.
Keimanan sejati menolak kompromi, meskipun dalam situasi yang membolehkan
taqiyah.
Saat kabar kematian putranya sampai, Nusaibah bersumpah
kepada Allah: ia akan mati di hadapan Musailamah.
Perang Yamamah: Menepati Janji
Saat Perang Yamamah tiba, Nusaibah menemui Abu Bakar
Ash-Shiddiq meminta izin untuk ikut serta. Abu Bakar berkata, "Orang
seperti engkau tak boleh dihalangi. Kami mengenalmu dan mengenal keberanianmu.
Pergilah dengan nama Allah."
Nusaibah berangkat bersama putranya, Abdullah. Pada hari itu
ia mendapat dua belas luka dan kehilangan satu tangannya. Namun ia tak gentar.
Ia sangat berhasrat membunuh Musailamah. Hatinya tak tenang hingga putranya,
Abdullah bin Zaid—pahlawan yang bersama Wahshi berhasil membunuh
Musailamah—menemuinya dengan pedang masih meneteskan darah Musailamah.
"Apa kau membunuhnya?" tanya Nusaibah penuh harap.
"Iya," jawab Abdullah.
Maka Nusaibah sujud syukur kepada Allah. Ia pulang dengan
kehilangan satu tangan dan seorang putra. Namun hatinya puas. Allah telah
mengabulkan sumpahnya. Apa pun yang hilang di jalan Allah, akan diganti dengan
kebahagiaan yang tak terhingga.
Wanita Bani Dinar: Rasulullah Lebih Berharga dari
Segalanya
Setelah pertempuran usai, Rasulullah ﷺ melewati seorang
wanita dari Bani Dinar. Suami, saudara laki-laki, dan ayahnya gugur di Uhud.
Saat kabar kematian mereka disampaikan, ia justru bertanya, "Apa yang
dilakukan Rasulullah?"
Mereka menjawab, "Beliau baik-baik saja, alhamdulillah,
sebagaimana yang engkau harapkan."
Wanita itu berkata, "Tunjukkan ia padaku, hingga aku
melihatnya dengan mataku sendiri."
Saat ditunjukkan dan ia melihat Rasulullah ﷺ dalam keadaan
selamat, ia berkata, "Segala musibah setelah melihatmu terasa kecil."
Para Wanita Pembawa Air dan Obat
Para wanita muslimah pada Perang Uhud juga mencatatkan jasa
mereka. Mereka memberi minum yang kehausan dan merawat yang terluka.
Anas bin Malik berkata: "Aku melihat Aisyah binti Abu
Bakar—istri Rasulullah ﷺ—dan
Ummu Sulaim—ibuku—keduanya menyingsingkan pakaian hingga kulihat gelang-gelang
kaki mereka. Mereka membawa kantung-kantung air di punggung, menuangkannya ke
mulut para prajurit yang kehausan, lalu kembali mengisi dan menuangkannya
lagi."
Ummu Sulaim juga termasuk wanita yang luar biasa. Dalam
Shahih Bukhari disebutkan bahwa Umar bin Khattab pernah membagi-bagikan
selendang kepada para wanita Madinah. Tersisa satu selendang bagus. Seseorang
berkata, "Wahai Amirul Mukminin, berikan ini kepada putri Rasulullah yang
ada di sisimu—maksud mereka Ummu Kultsum binti Ali."
Namun Umar menjawab, "Ummu Sulait lebih berhak
mendapatkannya. Ia biasa membawakan kami kantung-kantung air pada Perang
Uhud."
Para wanita melakukan tugas-tugas mulia ini dengan penuh
wibawa, menjaga kesucian diri, tidak bermewah-mewah, dan tidak bercampur-baur
dengan yang bukan mahram secara mencurigakan. Islam tidak melarang wanita
berpartisipasi dalam peperangan dengan cara-cara yang sesuai dengan kodrat
mereka. Bahkan, jika diperlukan, mereka boleh memegang senjata, sebagaimana
dilakukan Nusaibah dan lainnya.
Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Anas, bahwa Ummu
Sulaim pernah membawa belati pada Perang Hunain. Nabi ﷺ bertanya tentang hal itu, dan ia menjawab,
"Aku membawanya. Jika ada musyrik yang mendekatiku, akan kurobek
perutnya." Demikianlah seharusnya wanita-wanita muslimah.
Muslim juga meriwayatkan dari Anas: "Nabi ﷺ
biasa membawa serta Ummu Sulaim dan beberapa wanita Anshar dalam peperangan.
Mereka memberi minum dan merawat yang terluka."
Ummu 'Athiyyah Al-Anshariyyah berkata: "Aku ikut
berperang bersama Rasulullah ﷺ
dalam tujuh peperangan. Aku menjaga perbekalan mereka, memasak makanan, merawat
yang terluka, dan mengurus yang sakit."
Islam membolehkan wanita berpartisipasi dalam jihad, dengan
syarat mereka tetap menjaga agama, kesucian diri, dan tidak terjerumus dalam
hal-hal yang dilarang. Jika tidak, kerusakan yang ditimbulkan lebih besar
daripada kebaikan yang dihasilkan.
Sumber Kisah:
As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhau'il Quran was Sunnah

Komentar
Posting Komentar