Kisah Keberanian Sahabat di Perang Uhud: Thalhah, Nusaibah, dan Para Pejuang Wanita

Ilustrasi heroik seorang wanita muslimah bernama Nusaibah binti Ka'ab (Ummu 'Imarah) di medan Perang Uhud. Ia berdiri tegap dengan pedang terhunus dan busur panah, pakaiannya berlumuran darah dengan perban di lengan. Di belakangnya tampak samar sosok yang dilindunginya, sementara beberapa sahabat gugur di sekeliling. Latar belakang Bukit Uhud dengan pasukan musuh mundur di kejauhan, langit senja jingga keemasan menciptakan suasana heroik.

Keberanian Legendaris dalam Membela Rasul

Di hari yang penuh ujian itu, saat badai kekalahan menerpa dan musuh mengitari dari segala penjuru, segelintir sahabat pilihan justru menunjukkan keberanian yang belum pernah tercatat dalam sejarah manusia kecuali pada diri para pengikut Nabi Muhammad . Mereka adalah para pecinta sejati, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar, yang menjadikan diri mereka sebagai perisai hidup bagi Rasulullah.


Thalhah bin Ubaidillah: Tangan yang Lumpuh demi Nabi

Abu Bakar Ash-Shiddiq jika menyebut hari Uhud, ia akan berkata: "Hari itu seluruhnya milik Thalhah." Demikianlah riwayat-riwayat sepakat bahwa Thalhah termasuk salah satu yang paling teguh pada hari itu.

Al-Baihaqi meriwayatkan dari Jabir, bahwa saat Rasulullah mendaki bukit bersama sekelompok Anshar dan Thalhah, pasukan musuh mendekati mereka. Rasulullah bersabda:

«أَلَا رَجُلٌ لِهَؤُلَاءِ؟»
"Adakah seorang yang siap menghadapi mereka?"

Thalhah segera menjawab, "Aku, wahai Rasulullah!" Namun Nabi bersabda, "Tetaplah di tempatmu, wahai Thalhah." Kemudian seorang Anshar maju dan bertempur hingga gugur. Rasulullah kembali bersabda, "Adakah seorang yang siap menghadapi mereka?" Thalhah kembali menawarkan diri, namun Nabi kembali menyimpannya untuk akhir. Seorang Anshar lainnya maju dan bertempur hingga gugur. Demikianlah terjadi berulang kali hingga semua pasukan Anshar yang bersama mereka gugur satu per satu.

Akhirnya, Thalhah maju. Ia bertempur dengan kegigihan yang sebanding dengan seluruh pejuang sebelumnya. Jari-jarinya terluka. Saat kesakitan ia mengaduh, "Ah..." Rasulullah bersabda:

«لَوْ قُلْتَ بِسْمِ اللَّهِ لَرَفَعَتْكَ الْمَلَائِكَةُ وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ حَتَّى تُلِجَّكَ فِي جَوِّ السَّمَاءِ»
"Seandainya engkau mengucap 'Bismillah', niscaya para malaikat akan mengangkatmu di hadapan pandangan manusia hingga mereka membawamu ke langit."

Qais bin Abu Hazim berkata: "Aku melihat tangan Thalhah yang lumpuh—ia melumpuhkannya saat melindungi Nabi pada hari Uhud. Tangan itu akan tetap menjadi tanda kehormatan baginya hingga hari kiamat."


Sa'ad bin Abi Waqqash: Panah yang Ditebus Ayah Ibu Nabi

Sa'ad bin Abi Waqqash Az-Zuhri adalah pemanah ulung. Pada hari Uhud, Rasulullah mengosongkan tempat anak panahnya dan bersabda:

«ارْمِ، فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي»
"Panahlah, ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu."

Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah mengumpulkan kedua orang tuanya sebagai tebusan untuk seorang pun kecuali untuk Sa'ad.


Abu Thalhah Al-Anshari: Perisai Hidup di Depan Nabi

Anas bin Malik meriwayatkan:

"Saat hari Uhud, pasukan muslimin tercerai-berai dari Nabi . Sementara Abu Thalhah berada di hadapan Nabi , melindunginya dengan perisai. Abu Thalhah adalah seorang pemanah yang sangat kuat tarikan busurnya. Pada hari itu ia mematahkan dua atau tiga busur.

Jika seorang sahabat lewat dengan membawa tabung panah, Nabi bersabda: 'Hamburkan isinya untuk Abu Thalhah.' Setiap kali Nabi menjengukkan kepala melihat pasukan musuh, Abu Thalhah berkata: 'Demi ayah dan ibuku, jangan engkau menjenguk, khawatir engkau terkena panah mereka. Leherku ini menjadi pelindung lehermu.'"

Abu Thalhah selalu berada di barisan terdepan, berkata: "Aku kuat, wahai Rasulullah. Gunakan aku untuk keperluanmu. Perintahkan aku sesukamu."


Abu Dujanah: Perisai dari Daging

Abu Dujanah menjadikan tubuhnya sebagai tameng bagi Rasulullah . Ia membungkukkan punggungnya di atas Nabi, sementara anak-anak panah berhamburan mengenai tubuhnya hingga penuh luka.


Ziyad bin As-Sakan: Gugur di Hadapan Nabi

Ziyad bin As-Sakan—ada yang mengatakan 'Umarah bin Yazid bin As-Sakan—adalah salah seorang Anshar yang gugur di hadapan Rasulullah saat membela beliau ketika musuh mengepung dan berusaha membunuhnya.


Ali bin Abi Thalib: Pemuda Perkasa

Ali bin Abi Thalib, pemuda segala pemuda, termasuk yang tetap teguh bersama Rasulullah . Ia berjuang habis-habisan pada hari itu, bertempur dengan keberanian yang luar biasa.


Nusaibah binti Ka'ab: Singa Betina dari Madinah

Ada satu kisah kepahlawanan yang layak diukir dengan tinta emas. Ia adalah Nusaibah binti Ka'ab Al-Maziniyyah Al-Anshariyyah, atau lebih dikenal dengan Ummu 'Imarah.

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Ummu Sa'ad bin Ar-Rabi' masuk menemui Nusaibah dan bertanya, "Wahai bibiku, ceritakanlah kisahmu!"

Nusaibah bercerita:

"Aku keluar di pagi hari untuk melihat apa yang dilakukan orang-orang. Aku membawa wadah berisi air. Sampailah aku di dekat Rasulullah , saat itu kaum Muslimin sedang dalam keadaan unggul. Namun ketika mereka kalah, aku segera menuju ke sisi Rasulullah . Aku langsung bertempur melindunginya dengan pedang dan memanah hingga tubuhku penuh luka."

Perawi berkata: "Aku melihat di bahunya sebuah luka menganga yang dalam." Aku bertanya, "Siapa yang melukaimu?"

Nusaibah menjawab, "Ibnu Qumiah—semoga Allah menghinakannya. Saat orang-orang berpaling dari Rasulullah , ia datang berteriak, 'Tunjukkan padaku Muhammad! Jika ia selamat, aku takkan selamat!' Maka aku, Mush'ab bin Umair, dan beberapa orang yang bertahan bersama Rasulullah menghadangnya. Ia menebasku dengan tebasan ini. Aku juga telah menebasnya beberapa kali, namun musuh Allah itu mengenakan dua lapis baju besi."

Nusaibah pingsan karena luka-lukanya. Saat tersadar, pertanyaan pertamanya: "Di mana Rasulullah ? Apa yang dilakukan kaum musyrikin padanya?" Mereka menjawab, "Beliau baik-baik saja, alhamdulillah."

Umar bin Khattab berkata: "Aku mendengar Rasulullah bersabda pada hari Uhud:

«مَا الْتَفَتُّ يَوْمَ أُحُدٍ يَمِينًا وَشِمَالًا إِلَّا وَأَرَاهَا تُقَاتِلُ دُونِي»
'Tidaklah aku menoleh ke kanan atau ke kiri pada hari Uhud, melainkan aku melihatnya (Nusaibah) bertempur di depanku.'"

Sungguh, sejarah dunia jarang menyaksikan keberanian seperti ini. Nusaibah memiliki catatan gemilang dalam jihad Islam. Ibnu Abdil Barr dalam biografinya menyebutkan bahwa ia ikut serta dalam Perang Uhud bersama suaminya, Zaid bin 'Ashim, dan kedua putranya: Habib dan Abdullah. Ia juga ikut dalam Bai'atur Ridwan dan menunjukkan kepahlawanan luar biasa dalam perang melawan kaum murtad.


Habib: Syahid di Tangan Musailamah Al-Kadzdzab

Musailamah Al-Kadzdzab—nabi palsu—pernah menangkap putra Nusaibah, Habib, saat ia dalam perjalanan dari Oman menuju Madinah. Musailamah bertanya, "Apakah engkau bersaksi bahwa aku utusan Allah?"

Habib menjawab tegas, "Aku tidak mendengar (pengakuan itu)!"

Musailamah bertanya lagi, "Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah?"

Habib menjawab, "Ya."

Maka Musailamah memotong satu per satu anggota tubuh Habib. Setiap kali ia bertanya, Habib menjawab dengan keyakinan yang sama. Hingga akhirnya tubuhnya terpotong-potong. Ia gugur sebagai syahid, diridhai Tuhannya. Keimanan sejati menolak kompromi, meskipun dalam situasi yang membolehkan taqiyah.

Saat kabar kematian putranya sampai, Nusaibah bersumpah kepada Allah: ia akan mati di hadapan Musailamah.


Perang Yamamah: Menepati Janji

Saat Perang Yamamah tiba, Nusaibah menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq meminta izin untuk ikut serta. Abu Bakar berkata, "Orang seperti engkau tak boleh dihalangi. Kami mengenalmu dan mengenal keberanianmu. Pergilah dengan nama Allah."

Nusaibah berangkat bersama putranya, Abdullah. Pada hari itu ia mendapat dua belas luka dan kehilangan satu tangannya. Namun ia tak gentar. Ia sangat berhasrat membunuh Musailamah. Hatinya tak tenang hingga putranya, Abdullah bin Zaid—pahlawan yang bersama Wahshi berhasil membunuh Musailamah—menemuinya dengan pedang masih meneteskan darah Musailamah.

"Apa kau membunuhnya?" tanya Nusaibah penuh harap.

"Iya," jawab Abdullah.

Maka Nusaibah sujud syukur kepada Allah. Ia pulang dengan kehilangan satu tangan dan seorang putra. Namun hatinya puas. Allah telah mengabulkan sumpahnya. Apa pun yang hilang di jalan Allah, akan diganti dengan kebahagiaan yang tak terhingga.


Wanita Bani Dinar: Rasulullah Lebih Berharga dari Segalanya

Setelah pertempuran usai, Rasulullah melewati seorang wanita dari Bani Dinar. Suami, saudara laki-laki, dan ayahnya gugur di Uhud. Saat kabar kematian mereka disampaikan, ia justru bertanya, "Apa yang dilakukan Rasulullah?"

Mereka menjawab, "Beliau baik-baik saja, alhamdulillah, sebagaimana yang engkau harapkan."

Wanita itu berkata, "Tunjukkan ia padaku, hingga aku melihatnya dengan mataku sendiri."

Saat ditunjukkan dan ia melihat Rasulullah dalam keadaan selamat, ia berkata, "Segala musibah setelah melihatmu terasa kecil."


Para Wanita Pembawa Air dan Obat

Para wanita muslimah pada Perang Uhud juga mencatatkan jasa mereka. Mereka memberi minum yang kehausan dan merawat yang terluka.

Anas bin Malik berkata: "Aku melihat Aisyah binti Abu Bakar—istri Rasulullah —dan Ummu Sulaim—ibuku—keduanya menyingsingkan pakaian hingga kulihat gelang-gelang kaki mereka. Mereka membawa kantung-kantung air di punggung, menuangkannya ke mulut para prajurit yang kehausan, lalu kembali mengisi dan menuangkannya lagi."

Ummu Sulaim juga termasuk wanita yang luar biasa. Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Umar bin Khattab pernah membagi-bagikan selendang kepada para wanita Madinah. Tersisa satu selendang bagus. Seseorang berkata, "Wahai Amirul Mukminin, berikan ini kepada putri Rasulullah yang ada di sisimu—maksud mereka Ummu Kultsum binti Ali."

Namun Umar menjawab, "Ummu Sulait lebih berhak mendapatkannya. Ia biasa membawakan kami kantung-kantung air pada Perang Uhud."

Para wanita melakukan tugas-tugas mulia ini dengan penuh wibawa, menjaga kesucian diri, tidak bermewah-mewah, dan tidak bercampur-baur dengan yang bukan mahram secara mencurigakan. Islam tidak melarang wanita berpartisipasi dalam peperangan dengan cara-cara yang sesuai dengan kodrat mereka. Bahkan, jika diperlukan, mereka boleh memegang senjata, sebagaimana dilakukan Nusaibah dan lainnya.

Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Anas, bahwa Ummu Sulaim pernah membawa belati pada Perang Hunain. Nabi bertanya tentang hal itu, dan ia menjawab, "Aku membawanya. Jika ada musyrik yang mendekatiku, akan kurobek perutnya." Demikianlah seharusnya wanita-wanita muslimah.

Muslim juga meriwayatkan dari Anas: "Nabi biasa membawa serta Ummu Sulaim dan beberapa wanita Anshar dalam peperangan. Mereka memberi minum dan merawat yang terluka."

Ummu 'Athiyyah Al-Anshariyyah berkata: "Aku ikut berperang bersama Rasulullah dalam tujuh peperangan. Aku menjaga perbekalan mereka, memasak makanan, merawat yang terluka, dan mengurus yang sakit."

Islam membolehkan wanita berpartisipasi dalam jihad, dengan syarat mereka tetap menjaga agama, kesucian diri, dan tidak terjerumus dalam hal-hal yang dilarang. Jika tidak, kerusakan yang ditimbulkan lebih besar daripada kebaikan yang dihasilkan.


Sumber Kisah:
As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhau'il Quran was Sunnah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rihlah Ibnu Baathutah #57 : Dari As-Sarā ke Khawarizmi

Rihlah Ibnu Bathutah #56 : Konstantinopel, Sarā Barkah dan Sultan Uzbak

Rihlah Ibnu Battutah #59 : Dari Khawarizmi ke Bukhara