Nasab Arab: Antara Fakta Sejarah, Rekayasa Politik, dan Kesalahpahaman
Perdebatan Para Sarjana tentang Qahthan dan 'Adnan
Tidak semua sarjana menerima begitu saja cerita
tentang dua pohon silsilah besar bangsa Arab: keturunan Qahthan dan keturunan
'Adnan. Sejumlah orientalis terkemuka justru meragukan kebenarannya.
Halévy—salah satu peneliti paling kritis—berpendapat
bahwa klaim tentang suku-suku yang berasal dari Yaman (Qahthan) hanyalah dongeng
belaka yang tak layak dipercaya. Ia bahkan melangkah lebih jauh: seluruh
kisah migrasi suku-suku Yaman ke utara tidak lebih dari mitos!
Para orientalis lain sepakat bahwa para ahli
nasablah yang berperan besar dalam menyusun pohon silsilah raksasa
ini—atau lebih tepatnya, dua pohon: satu untuk keturunan Qahthan,
satu untuk keturunan 'Adnan. Karena itu, mereka tidak merasa yakin dan tidak
mempercayai sebagian besar riwayat nasab ini, termasuk berita tentang migrasi
suku-suku Qahthani ke utara.
Qahthan dan 'Adnan: Bukan Leluhur Sejati, Tapi Simbol
Kesimpulan penting dari semua ini: Qahthan bukanlah
leluhur bagi semua suku yang disebut Qahthani, demikian pula 'Adnan
bukan leluhur bagi semua suku 'Adnani.
Maka, apa sebenarnya Qahthan dan 'Adnan itu?
Penulis dengan tegas menyatakan: Keduanya hanyalah
kiasan dari sekelompok suku yang dalam bahasa Arab disebut "al-half" (persekutuan/alianse).
Para ahli nasab mengambil nama Qahthan dari kitab Taurat—di sana ia
menjadi simbol bagi kelompok suku yang bermukim di Arabia selatan.
Adapun 'Adnan, namanya tidak ditemukan
dalam Taurat. Penulis mengakui: "Kita tidak mengetahui apa pun
tentangnya pada masa sekarang." Namun, ketidaktahuan kita bukan berarti
kita bisa mengingkari keberadaannya. Bisa jadi 'Adnan muncul sebagai simbol
dari suatu aliansi yang terbentuk sesaat sebelum Islam. Bisa juga
kelak ditemukan prasasti-prasasti yang menyebut namanya, seperti yang terjadi
pada nama-nama lain yang semula diragukan para orientalis, lalu terbukti ada
karena muncul dalam tulisan-tulisan Jahiliyah.
Taurat: Mencatat Tiga Kelompok Besar Suku Arab
Penulis tidak percaya bahwa Taurat mengada-ada gagasan
tentang Yaqthan dan keturunannya. Menurutnya, Taurat hanya menceritakan
kembali nasab yang memang sudah ada—nasab yang menyatukan suku-suku
Arab pada zaman itu. Kabar itu sampai ke bangsa Ibrani, lalu para penulis
Taurat mencatatnya dalam kitab-kitab mereka, di samping nasab-nasab bangsa
lain.
Dengan kata lain, Taurat mengambil dari bangsa Arab:
- Nasab keturunan
Ismail (Al-Isma'iliyyun) sebagaimana dikenal saat itu
- Nasab keturunan
Qathurah (istri Ibrahim yang lain)
Maka, Taurat mencatat tiga kelompok atau aliansi
Arab besar yang hidup pada zaman tersebut.
Pelajaran dari Masa Islam: Bagaimana "Nama
Baru" Bisa Menjadi "Nasab"
Sekarang, mari kita lihat contoh dari zaman Islam
sendiri. Contoh ini akan membantu kita memahami bagaimana nasab terbentuk
di kalangan orang Arab Jahiliyah.
Meskipun zaman telah berubah dan jauh dari masa
Jahiliyah, pola pikir kesukuan tetap sama dalam hal nasab dan
pembentukan aliansi.
Lahirnya Istilah "Al-Muhajirin" dan
"Al-Anshar"
Sebelum Islam muncul, terjadi perseteruan sengit
antara Yatsrib (Madinah) dan Makkah. Ketika
Rasulullah ﷺ
hijrah ke Yatsrib, para pengikut yang ikut hijrah dikenal sebagai "Al-Muhajirin" (para
perantau). Hijrah berlangsung terus hingga Fathu Makkah (penaklukan
Makkah).
Adapun penduduk Madinah yang menyambut dan menolong
Rasulullah dikenal sebagai "Al-Anshar" (para
penolong). Untuk menghapus permusuhan lama, Rasulullah ﷺ mempersaudarakan kaum
Muhajirin dan Anshar.
Namun sayang, setelah wafatnya Rasulullah, permusuhan
lama kembali muncul antara kedua kelompok. Jejaknya terlihat jelas
dalam syair-syair Hassan bin Tsabit, An-Nu'man bin Basyir, Ath-Thirmah
bin Hakim—mereka adalah para penyair Yatsrib, lisan kota itu.
"Anshar" Menjadi Nama yang Hampir Menjadi Nasab
Perseteruan ini menjadikan lafal "Al-Anshar" seolah-olah
menjadi nama suku (nama kelompok) yang hampir setara dengan
nasab. Seruan mereka pun bercorak Yaman (karena suku Aus dan
Khazraj—cikal bakal Anshar—berasal dari Yaman). Dalam syair-syair mereka, kita
dapati:
- Kebanggaan
terhadap Yaman
- Pengakuan
tegas bahwa mereka adalah orang-orang Yaman asli
- Pengakuan
bahwa mereka adalah kerabat dekat suku Ghassan (juga dari
Yaman)
Mereka menggunakan lafal "Al-Anshar" untuk berlawanan dengan:
- Quraisy
- Ma'ad
- Mudhar
- Nizar
Lalu mereka menjadikan Hassan bin Tsabit—penyari
Anshar, penyair Yaman, penyair penduduk desa—sebagai juru bicara mereka.
Insiden di Istana Mu'awiyah
Pada masa Mu'awiyah dan putranya Yazid, perseteruan antara
Yatsrib dan Makkah ini berlanjut. Dalam cerita-cerita saat itu, jarang
sekali digunakan lafal "Muhajirin" berhadapan dengan
"Anshar". Yang sering dipakai adalah Quraisy, Ma'ad, Mudhar,
Nizar di satu sisi, dan Anshar atau Yaman di
sisi lain.
Suatu hari, Amr bin al-Ash sedang berada di
sisi Mu'awiyah. Masuklah penjaga pintu dan berkata: "Al-Anshar ada
di pintu."
Amr bin al-Ash merasa tersinggung. "Julukan
apa ini yang mereka jadikan sebagai nasab? Kembalikan mereka ke nasab
asli mereka! "
Mu'awiyah menjawab: "Ini akan membuat kami mendapat
kecaman buruk."
"Memangnya kenapa? Hanya mengganti satu kata dengan
kata lain. Tak ada yang bisa membantahnya," jawab Amr dengan tegas.
Mu'awiyah lalu berkata kepada penjaga pintu:
"Keluarlah, lalu serukan: 'Siapa yang di pintu dari keturunan Amr
bin Amir, hendaklah masuk!' "
Penjaga itu keluar dan menyerukan. Masuklah semua yang
termasuk keturunan Amr bin Amir—selain Anshar.
Mu'awiyah berkata lagi: "Keluarlah, serukan: 'Siapa
yang di sini dari Aus dan Khazraj, hendaklah masuk!' "
Penjaga itu keluar dan menyerukan. Maka berdirilah An-Nu'man
bin Basyir—pembawa panji Anshar—dengan marah, lalu melantunkan syair:
"Wahai Sa'd, jangan terus memanggil-manggil!
Sungguh, kami tidak memiliki nasab yang kami banggakan selain ANSHAR.
Nasab yang dipilihkan Allah untuk kaum kami. Dengan nasab itu kami lebih
berat timbangannya (di sisi Allah) daripada orang-orang kafir.
Sungguh, orang-orang yang (terbunuh) di perang Badar dari kalian, di sumur
itu (sumur Badar), mereka adalah bahan bakar neraka!"
Ia pun pergi dalam keadaan marah. Mu'awiyah lalu mengutus
orang untuk memanggilnya kembali, menyenangkan hatinya, dan
memenuhi segala keperluannya serta keperluan Anshar yang bersamanya.
Pada kesempatan lain, Mu'awiyah berkata kepada
An-Nu'man: "Sungguh, suatu kaum yang awal mereka adalah Ghassan
dan akhir mereka adalah Anshar, benar-benar kaum yang mulia!"
Penduduk Yatsrib menghubungkan nasab mereka dengan Ghassan,
lalu nasab Ghassan dan nasab mereka ke Al-Azd, lalu Al-Azd ke Yaman.
Mengapa Istilah "Muhajirin" dan
"Anshar" Tidak Bertahan sebagai Nasab?
Jika istilah "Anshar" ini terus dipakai dan masa
pencatatan (kodifikasi) terjadi jauh setelahnya, niscaya ia akan menjadi nama
bapak sebuah suku—persis seperti nama-nama lain yang berasal dari
istilah-istilah Jahiliyah yang kemudian dibukukan sebagai nasab.
Namun, di zaman Kekhalifahan Umayyah, istilah "Al-Yamaniyyah" (pihak
Yaman) muncul berhadapan dengan "An-Nizariyyah" (pihak
Nizar, yang mencakup semua suku 'Adnani). Istilah ini akhirnya mengalahkan
dan menggantikan istilah "Anshar".
Perseteruan antara kedua kubu ini sangat sengit.
Masing-masing memiliki ahli nasab sendiri, para pembela dan
penyerang. Perseteruan ini berpengaruh besar dalam penyusunan
silsilah-silsilah Arab.
Teori Lain: Qahthan vs 'Adnan adalah Cermin Konflik Kota
vs Padang Pasir
Sebagian peneliti mengembalikan akar pembagian
Qahthani-'Adnani kepada konflik alami antara masyarakat Kota (hadharah)
dan masyarakat Padang Pasir (badawah).
Mari kita simak argumen mereka:
- Penduduk
Yatsrib (yang mereka sebut "Yaman") adalah pemilik
peradaban dan kerajaan. Mereka adalah ahlul madar (penduduk
kota/pertanian).
- Penduduk
Makkah dan sekutunya sebagian besar adalah badui atau
semi badui—ahlul wabar (penghuni tenda bulu domba).
Dari sinilah terjadi perbedaan watak, persaingan, dan
konflik. Lama-kelamaan, konflik ini berubah menjadi dua nasab besar:
Qahthan (mewakili pihak kota/peradaban) dan 'Adnan (mewakili pihak badui/padang
pasir).
Dari mana buktinya? Lihatlah fakta berikut:
Mayoritas suku yang oleh para ahli nasab disebut Qahthani adalah
suku-suku yang menetap (hadharah), sedangkan mayoritas
suku 'Adnani adalah suku-suku badui atau semi badui.
Karena penduduk kota secara intelektual lebih maju, mereka
biasanya memegang kekuasaan atas suku-suku badui. Misalnya:
- Bani Mundzir di
Hirah (Qahthani) memerintah suku-suku 'Adnani
- Bani Ghassan (Qahthani)
memerintah suku-suku 'Adnani
- Bani Kindah (Qahthani)
memerintah suku-suku 'Adnani
Sebaliknya, tidak ada suku 'Adnani yang
memerintah suku Qahthani sebelum Islam.
Namun... Teori Ini Juga Perlu Diuji!
Penulis mengingatkan bahwa untuk menilai sejauh mana
kebenaran teori ini, kita perlu membuat tabel lengkap nama-nama
suku Jahiliyah—yang Qahthani dan yang 'Adnani—lalu meneliti kondisi
sosial mereka dan tempat tinggal mereka di berbagai
zaman. Karena faktanya, di kalangan Qahthani pun ada suku-suku
badui, dan di kalangan 'Adnani pun ada suku-suku yang menetap, pemilik desa.
Tanpa penelitian mendalam seperti itu, teori ini belum
bisa sepenuhnya diterima.
Hassan bin Tsabit: Bapak Narasi Konflik Qahthan vs
'Adnan?
Untuk memahami perseteruan Qahthani-'Adnani (atau
perseteruan Yatsrib-Makkah), kita memerlukan sumber-sumber dari
masa Jahiliyah dan masa Islam. Sumber Jahiliyah (prasasti) sama sekali
belum ada yang berbicara tentang konflik ini.
Maka, sumber Islam menjadi andalan. Dan Hassan bin
Tsabit—atau lebih tepatnya syair yang dinisbahkan kepadanya—adalah rujukan
utama pertama. Hassan adalah pejuang garis depan yang
membawa panji Yatsrib dalam konflik melawan Makkah.
Bahkan kaum Qahthani meriwayatkan syairnya dan
menjadikannya kebanggaan atas kaum 'Adnani. Syair-syair Hassan
memuat sebagian besar klaim-klaim kebanggaan Qahthan atas 'Adnan,
dan kebanggaan penduduk Yatsrib atas penduduk Makkah.
Bahkan, penulis berani mengatakan: Hassan adalah
salah satu pembangun narasi perseteruan Qahthani-'Adnani, karena ia
adalah partisipan tertua yang beritanya sampai kepada kita.
Sebagian besar klaim yang diulang-ulang oleh pihak Qahthani terkonsentrasi
dalam syair-syair Hassan.
Fakta Penting: Hassan Hanya Menyebut "Qahthan"
Sekali, Tidak Pernah Menyebut "'Adnan"!
Penulis meneliti Diwan Hassan bin Tsabit (kumpulan
syairnya yang sampai kepada kita). Hasilnya sungguh mengejutkan:
- Nama
'Adnan tidak disebut sama sekali dalam seluruh diwan.
- Nama
Qahthan hanya disebut SEKALI. Dalam satu bait:
"Maka jika Ma'ad seluruhnya ditanya tentangnya, dan
Qahthan, atau sisa-sisa keturunan Jurhum..."
- Nama
Ma'ad disebut tujuh kali (dalam diwan edisi Har
syafeld).
Artinya, Hassan tidak pernah berbicara tentang "Qahthan
vs 'Adnan" seperti yang kita bayangkan! Ia lebih sering berbicara
tentang Ma'ad (yang belakangan dianggap sebagai 'Adnani) dan
kebanggaan Anshar atas Quraisy.
Syair-Syair Palsu yang Dinisbahkan kepada Hassan
Di dalam kitab Al-Iklil karya Al-Hamdani,
terdapat beberapa bait syair yang dinisbahkan kepada Hassan, namun gaya
bahasanya sangat berbeda dari syair-syair Hassan yang asli. Ciri-ciri
keanehannya:
- Mengandung
lafal "al-marhum" (yang dirahmati)—ini adalah istilah
yang muncul belakangan, tidak dikenal di zaman Hassan.
- Kebanggaan
berlebihan kepada para nabi (Hud, Idris, Shalih, Yunus, Syu'aib,
Ilyas, Dzul Kifl)—cara seperti ini tidak dikenal di zaman
Hassan.
- Sebutan
berantai panjang (Sabâ', Yasyjub, Ya'rub, Qahthan, Hud) yang
tidak ditemukan dalam Diwan asli Hassan.
Penulis menyimpulkan bahwa syair-syair ini pasti
palsu—dibuat oleh sekelompok fanatik Yaman di masa
belakangan, kemudian dinisbahkan kepada Hassan agar terkesan lebih tua dan
lebih kuat.
Satu bait palsu yang terkenal dan sangat tidak masuk
akal berbunyi:
"Kalian belajar dari ucapan Syaikh Ya'rub, bapak
kami, lalu kalian menjadi 'Arab yang pandai berbicara...
Dahulu tidak ada pada kalian selain ucapan yang 'ajam (tidak jelas), dan
kalian seperti binatang ternak di padang pasir."
Makna bait ini: Ya'rub (kakek Qahthan) adalah orang
pertama yang membuat bahasa Arab—sehingga orang 'Adnani belajar bahasa Arab
dari keturunan Ya'rub! Sebelumnya mereka berbicara dengan lidah 'ajam (asing,
tidak jelas) dan seperti binatang!
Ini jelas rekayasa politik untuk
merendahkan 'Adnani dan mengagung-agungkan Qahthani.
Pengakuan Ulama: Banyak Syair Palsu Ditempelkan pada
Hassan
Para ulama tidak lalai. Al-Ashma'i berkata: "Dinamakan
kepadanya (Hassan) hal-hal yang tidak sahih darinya."
Al-Jumahi bahkan menjelaskan motif
pemalsuan: "Telah dipaksakan kepadanya apa yang tidak pernah
dipaksakan kepada siapa pun. Ketika Quraisy saling mencaci dan berseteru,
mereka membuat banyak syair atas nama Hassan—yang tidak pantas baginya."
Motifnya: Hassan sangat fanatik membela
Yatsrib dan bangga terhadap mereka di atas Quraisy. Maka, musuh-musuhnya atau
bahkan pendukungnya yang berlebihan membuat syair-syair palsu untuk:
- Menjatuhkan
martabat Hassan (atau Quraisy membuat syair buruk lalu dinisbahkan ke
Hassan untuk mempermalukannya)
- Atau,
para fanatik Yaman membuat syair-syair fulgar dan dinisbahkan ke Hassan
untuk mengokohkan klaim-klaim kebanggaan Qahthan
Kesimpulan Penting dari Penelitian Ini
Setelah semua analisis di atas, penulis sampai pada
kesimpulan berikut:
- Pembagian
Qahthani-'Adnani bukanlah fakta sejarah yang terbukti secara
antropologis, melainkan lebih merupakan simbol politik dan aliansi yang
berkembang—terutama di masa Umayyah—menjadi dua identitas besar.
- Hassan
bin Tsabit sebagai sumber tertua tidak pernah menyebut 'Adnan,
dan hanya sekali menyebut Qahthan. Ia lebih menonjolkan nama
Ma'ad, Mudhar, Nizar di satu sisi, dan Anshar atau Yaman di
sisi lain.
- Sebagian
besar syair yang dijadikan dasar klaim Qahthan atas 'Adnan dan
sebaliknya adalah palsu—dibuat pada masa belakangan—sesuai
dengan pengakuan ulama kredibel seperti Al-Ashma'i dan Al-Jumahi.
- Konflik
yang sebenarnya bukanlah konflik dua "ras" atau dua
"nasab agung", tetapi konflik antara:
- Penduduk
kota vs penduduk padang pasir (hadharah vs badawah)
- Kekuasaan
politik dan ekonomi antara Makkah dan Yatsrib
- Persaingan
antar-suku yang kebetulan kemudian "dipoles" menjadi
narasi dua leluhur agung
- Islam
sendiri berusaha keras memerangi 'ashabiyah (fanatisme kesukuan).
Rasulullah ﷺ
mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar serta melarang "h al -
jim" (perjanjian aliansi Jahiliyah). Beliau bersabda:
"لَا حِلْفَ فِي الْإِسْلَامِ"
"Tidak ada (sistem) aliansi (Jahiliyah) dalam
Islam."
Beliau juga menjadikan "at-ta'arruf ba'da
al-hijrah" (kembali ke kehidupan badui setelah hijrah) sebagai
salah satu dosa besar. Namun demikian, menghapuskan total
fanatisme kesukuan ternyata mustahil. Suku-suku tetap bertahan dengan
nama-nama mereka: Hamdan, Rabi'ah, Thayyi', Mudhar, Quraisy, Qays, Al-Azd,
Tamim...
Penutup: Refleksi bagi Kita Hari Ini
Kisah panjang tentang perdebatan nasab Arab ini mengajarkan
kita satu hal penting: Identitas adalah sesuatu yang fluid (mengalir),
bisa berubah, dan sering kali dibentuk oleh kebutuhan politik dan sosial
zamannya—bukan sesuatu yang "turun dari langit" atau "melekat
secara genetis" sejak ribuan tahun lalu.
Bagi kita yang hidup di abad ke-21, wacana "nasab"
mungkin sudah tidak relevan secara politis. Namun, pelajaran moralnya
tetap abadi: Jangan mudah menerima klaim kebanggaan "asal-usul"
tanpa kritik. Jangan biarkan fanatisme kelompok buta menghalangi keadilan dan
persaudaraan kemanusiaan.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ dalam khutbah haji wada' yang terkenal:
"يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ
وَاحِدٌ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ، وَلَا لِأَعْجَمِيٍّ
عَلَى عَرَبِيٍّ، إِلَّا بِالتَّقْوَى"
"Wahai manusia! Sungguh, Tuhan kalian satu, dan
sungguh, bapak kalian satu (Adam). Ingatlah, tidak ada kelebihan orang Arab
atas orang non-Arab, dan tidak ada kelebihan orang non-Arab atas orang Arab,
kecuali dengan ketakwaan."
Wallahu a'lam.
Sumber Kisah
Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl
al-Islam"

Komentar
Posting Komentar