Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu 'anhu

kehidupan sederhana Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq di Madinah abad ke-7 M. Tampak Abu Bakar mengenakan pakaian sederhana sedang berjalan di pasar sambil membawa kain dagangan kecil, di tengah suasana pasar Arab kuno yang tenang. Beberapa sahabat seperti Umar bin Khattab tampak berbicara dengannya dengan penuh hormat. Latar berupa bangunan tanah liat dan jalan pasir Madinah.

Bab Pertama: Biografi Beliau

Silsilah Keturunannya

Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki nama asli Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr al-Qurasyi at-Taimi. Garis keturunannya bertemu dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaih wa sallam pada kakek yang bernama Murrah bin Ka'ab.

Ibunya adalah Umul Khair Salma binti Shakhr bin Amir bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim. Dengan demikian, Abu Bakar berasal dari suku Taim baik dari sisi ayah maupun ibu. Ayahnya dikenal dengan julukan (kunyah) Abu Quhafah. Di masa Jahiliyah, Abu Bakar dipanggil dengan sebutan Atiq.

Riwayat dari At-Thabari menyebutkan bahwa anak-anak Abu Quhafah ada tiga orang, yaitu: Atiq, Abu Bakar, dan Mu'taq.

Ciri Fisik dan Karakter

Beliau adalah seorang pria yang bertubuh kurus, berkulit putih, dan ramping. Aisyah radhiyallahu 'anha menggambarkan beliau sebagai pria berkulit putih yang kurus, tipis kedua pelipisnya, dan kain sarungnya sering melorot dari pinggangnya karena tubuhnya yang ramping. Beliau memiliki wajah yang tirus, mata yang cekung, dahi yang menonjol, dan urat-urat tangan yang terlihat jelas. Beliau juga sering mewarnai janggutnya dengan pacar (inai) dan katam.

Mengenai akhlaknya, beliau adalah sosok yang dermawan, pemberani, teguh pendirian, dan memiliki pemikiran yang tepat dalam situasi-situasi sulit. Beliau dikenal lembut, sabar, berkemauan kuat, ahli fikih, serta sangat menguasai ilmu silsilah (nasab) dan sejarah. Abu Bakar sangat bertawakal kepada Allah, sangat wara' (berhati-hati terhadap syubhat), zuhud terhadap dunia, dan sangat dicintai serta mudah bergaul dengan orang lain.

Masuk Islam: Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah laki-laki dewasa pertama yang masuk Islam. Sebelum beliau, Ibunda Khadijah telah lebih dulu beriman. Sementara itu, Ali bin Abi Thalib adalah anak-anak pertama yang masuk Islam, dan Zaid bin Haritsah adalah orang pertama dari kalangan budak/pelayan.

Keislaman Abu Bakar membawa manfaat yang sangat besar bagi Islam karena kedudukan dan kesungguhannya dalam berdakwah. Melalui perantaranya, banyak tokoh besar yang masuk Islam, seperti:

  • Abdurrahman bin Auf
  • Sa'ad bin Abi Waqqas
  • Utsman bin Affan
  • Zubair bin al-Awwam
  • Thalhah bin Ubaidillah

Saat masuk Islam, beliau memiliki kekayaan sebanyak 40.000 dirham yang seluruhnya ia infakkan di jalan Allah. Beliau juga memerdekakan banyak budak lemah yang disiksa karena iman mereka, salah satunya adalah Bilal radhiyallahu 'anhu. Abu Bakar selalu setia mendampingi Rasulullah shallallahu 'alaih wa sallam selama di Makkah, menjadi teman perjalanan di dalam gua saat hijrah, dan terus mendampingi beliau di Madinah. Beliau mengikuti seluruh peperangan bersama Nabi, mulai dari Perang Badar, Uhud, Khandaq, Penaklukan Makkah, Hunain, hingga Tabuk.

Istri dan Anak-anak:

  1. Qutailah binti Abdul Uzza: Dinikahi saat masa Jahiliyah. Melahirkan: Abdullah dan Asma.
  2. Ummu Ruman binti Amir: Dari suku Kinanah. Melahirkan: Abdurrahman dan Aisyah.
  3. Asma binti Umais: Sebelumnya adalah istri Ja'far bin Abi Thalib. Melahirkan: Muhammad bin Abu Bakar (lahir saat Haji Wada' di Miqat Dzul Hulaifah).
  4. Habibah binti Kharijah: Putri dari Kharijah bin Zaid (kaum Anshar). Abu Bakar tinggal bersama keluarga ini di daerah As-Sunh hingga Rasulullah wafat dan beliau diangkat menjadi Khalifah. Dari pernikahan ini lahir: Ummu Kultsum (lahir setelah Abu Bakar wafat).

Sebagian Keutamaan dan Keistimewaannya

Keutamaan Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu sangatlah banyak. Kitab-kitab Sunnah, biografi, dan sejarah telah meriwayatkan sangat banyak darinya. Namun, di sini saya akan membatasi pada apa yang disebutkan oleh Imam Al-Hafizh Abu Abdullah Al-Bukhari dalam Shahih-nya mengenai keistimewaan Ash-Shiddiq dalam Kitab Keutamaan para Sahabat.

Sahabat Rasulullah di Gua dan dalam Hijrah

Allah Ta'ala berfirman:

﴿إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ﴾ [التوبة : ٤٠]

"Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: 'Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.' Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. At-Taubah: 40).

Aisyah, Abu Said, dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum berkata bahwa Abu Bakar menyertai Nabi di dalam gua.

Diriwayatkan dari Al-Bara' bin 'Azib, ia berkata: Abu Bakar radhiyallahu 'anhu membeli sebuah pelana dari 'Azib seharga tiga belas dirham. Lalu Abu Bakar berkata kepada 'Azib, "Perintahkanlah Al-Bara' untuk membawakan pelanaku." 'Azib menjawab, "Tidak, sampai engkau menceritakan kepada kami apa yang engkau dan Rasulullah lakukan ketika kalian keluar dari Makkah sementara kaum musyrik mencari kalian."

Abu Bakar bercerita: "Kami berangkat dari Makkah dan berjalan sepanjang malam dan hari hingga tiba waktu zuhur. Aku mencari tempat berteduh dan menemukan sebuah batu besar. Aku meratakan tempat di bawah bayangannya, lalu menghamparkan alas untuk Nabi dan berkata, 'Beristirahatlah wahai Nabi Allah.' Beliau pun beristirahat."

"Lalu aku pergi memantau sekitar, tiba-tiba aku melihat seorang penggembala kambing. Aku bertanya, 'Milik siapa engkau wahai anak muda?' Ia menyebutkan seorang pria Quraisy yang aku kenal. Aku bertanya lagi, 'Apakah ada susu pada kambingmu?' Ia menjawab, 'Ya.' Aku bertanya, 'Maukah engkau memerahnya untuk kami?' Ia menjawab, 'Ya.' Ia lalu memerah wadah berisi susu. Aku membawanya kepada Nabi yang baru saja bangun, lalu aku berkata, 'Minumlah wahai Rasulullah.' Beliau minum hingga aku merasa puas. Kemudian aku berkata, 'Sudah saatnya berangkat wahai Rasulullah.' Beliau menjawab, 'Ya.' Maka kami pun berangkat sementara kaum musyrik terus mencari kami. Tidak ada yang berhasil menyusul kami kecuali Suraqah bin Malik bin Ju'shum yang mengendarai kudanya. Aku berkata, 'Para pengejar telah menyusul kita wahai Rasulullah!' Beliau bersabda:

«لا تحزن إن الله معنا»

"Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.".

Dari Anas, dari Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku berkata kepada Nabi saat kami berada di gua, "Seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, niscaya mereka akan melihat kita." Beliau bersabda:

«ما ظنك يا أبابكر باثنين الله ثالثهما !!»

"Apa pendapatmu wahai Abu Bakar mengenai dua orang di mana Allah adalah yang ketiganya!".

Abu Bakar adalah Sahabat yang Paling Berilmu

Dari Abu Said Al-Khudri, ia berkata: Rasulullah berpidato di hadapan manusia dan bersabda:

«إن الله خير عبدا بين الدنيا وبين ما عنده، فاختار ذلك العبد ما عند الله»

"Sesungguhnya Allah memberi pilihan kepada seorang hamba antara dunia atau apa yang ada di sisi-Nya, maka hamba itu memilih apa yang ada di sisi Allah.".

Abu Bakar pun menangis. Kami heran mengapa beliau menangis hanya karena Rasulullah menceritakan seorang hamba yang diberi pilihan. Ternyata Rasulullah -lah hamba yang diberi pilihan tersebut, dan Abu Bakar adalah orang yang paling berilmu di antara kami.

Rasulullah bersabda:

«إن من أمن الناس علي في صحبته وماله أبوبكر، لو كنت متخذا خليلا غير ربي لا تخذت أبا بكر، ولكن أخوة الإسلام ومودته»

"Sesungguhnya orang yang paling berjasa bagiku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil kekasih (khalil) selain Tuhanku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihku, namun yang ada adalah persaudaraan Islam dan kecintaannya.".

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, saat Rasulullah wafat, Abu Bakar sedang berada di As-Sunh. Umar berdiri dan berkata, "Demi Allah, Rasulullah tidak wafat!". Lalu datanglah Abu Bakar, ia membuka kain yang menutupi Rasulullah , mencium beliau, dan berkata, "Demi ayah dan ibuku, engkau tetap harum saat hidup maupun mati. Demi Allah, Allah tidak akan merasakan kematian dua kali kepadamu selamanya.".

Abu Bakar kemudian keluar dan berkata, "Wahai orang yang bersumpah, tenanglah!" Ketika Abu Bakar berbicara, Umar pun duduk. Abu Bakar memuji Allah dan berkata, "Ketahuilah, barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Barangsiapa yang menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati." Beliau membacakan ayat:

﴿إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيْتُونَ﴾ [الزمر : ٣٠]

"Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati dan mereka pun akan mati.".

﴿وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِيْن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِى اللهُ الشَّاكِرِينَ﴾ [آل عمران : ١٤٤]

"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.".

Maka orang-orang pun menangis tersedu-sedu. Kemudian kaum Anshar berkumpul di Saqifah Bani Sa'idah, mereka berkata, "Dari kami ada pemimpin (amir) dan dari kalian ada pemimpin.". Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah pergi menemui mereka. Abu Bakar berbicara dengan sangat fasih dan berkata, "Kami adalah para pemimpin (amaraa') dan kalian adalah para pembantu/menteri (wuzaraa').".

Abu Bakar berkata, "Kami adalah bangsa Arab yang paling tengah tempat tinggalnya dan paling mulia nasabnya, maka baiatlah Umar atau Abu Ubaidah.". Namun Umar berkata, "Bahkan kami membaiatmu, engkau adalah tuan kami, orang terbaik di antara kami, dan orang yang paling dicintai Rasulullah ." Umar memegang tangan beliau dan membaiatnya, kemudian diikuti oleh orang banyak.


Abu Bakar adalah Sahabat yang Paling Utama

Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Kami biasa memilih orang terbaik di zaman Nabi , maka kami memilih Abu Bakar, kemudian Umar, lalu Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhum.".

Dari Muhammad bin al-Hanafiyah, ia berkata: Aku bertanya kepada ayahku (Ali bin Abi Thalib), "Siapakah manusia terbaik setelah Rasulullah ?" Ia menjawab, "Abu Bakar." Aku bertanya lagi, "Lalu siapa?" Ia menjawab, "Umar.".


Kedudukannya di Sisi Rasulullah

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, Nabi bersabda:

«لو كنت متخذا خليلا لا تخذت أبابكر، ولكن أخي وصاحبي»

"Seandainya aku boleh mengambil seorang kekasih (khalil), niscaya aku akan mengambil Abu Bakar, namun ia adalah saudaraku dan sahabatku.".

Nabi bersabda:

«سدوا الأبواب إلا باب أبي بكر»

"Tutuplah semua pintu (yang menuju masjid) kecuali pintu Abu Bakar.".

Nabi bersabda kepada seorang wanita yang khawatir tidak menemui beliau lagi (karena wafat):

«إن لم تجديني فأتى أبابكر»

"Jika engkau tidak menemukanku, maka datanglah kepada Abu Bakar.".

Abu Bakar pernah berselisih dengan Umar lalu menyesal dan meminta maaf, namun Umar awalnya menolak. Nabi bersabda kepada Abu Bakar:

«يغفر الله لك يا أبا بكر»

"Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakar" (tiga kali)..

Nabi kemudian bersabda di hadapan orang-orang: "Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian, lalu kalian berkata: 'Engkau berdusta,' sedangkan Abu Bakar berkata: 'Ia benar.' Ia juga membantuku dengan jiwa dan hartanya. Maka apakah kalian mau membiarkan (tidak mengganggu) sahabatku untukku?" Beliau mengucapkannya dua kali, dan setelah itu Abu Bakar tidak pernah disakiti lagi.


Keislamannya yang Awal dan Kesetiaannya Mendampingi Rasulullah

Ammar bin Yasir berkata: "Aku melihat Rasulullah (di awal dakwah) dan tidak ada yang menyertai beliau kecuali lima orang budak, dua orang wanita, dan Abu Bakar.".

Manusia yang Paling Dicintai Rasulullah

Amr bin al-Ash bertanya kepada Nabi , "Siapakah manusia yang paling engkau cintai?" Beliau menjawab, "Aisyah." Aku bertanya lagi, "Dari kalangan laki-laki?" Beliau menjawab, "Ayahnya (Abu Bakar)." Aku bertanya lagi, "Lalu siapa?" Beliau menjawab, "Umar bin Khattab," lalu beliau menyebutkan beberapa orang lainnya.

Kekuatan Iman dan Pembenaran Abu Bakar

Nabi menceritakan kisah serigala yang berbicara dan sapi yang berbicara. Orang-orang terheran-heran, lalu Nabi bersabda:

«فإني أو من بذلك وأبو بكر وعمر بن الخطاب»

"Sesungguhnya aku mengimani hal itu, begitu pula Abu Bakar dan Umar bin Khattab.".


Tekad dan Semangat Ash-Shiddiq yang Tinggi

Nabi bersabda bahwa orang yang beramal akan dipanggil dari pintu-pintu surga (Pintu Shalat, Jihad, Sedekah, dan Ar-Rayyan). Abu Bakar bertanya, "Apakah ada orang yang dipanggil dari semua pintu itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab:

«نعم وأرجو أن تكون منهم يا أبا بكر»

"Ya, dan aku berharap engkau termasuk salah satu dari mereka wahai Abu Bakar.".


Keberkahan Ash-Shiddiq dan Keluarganya

Aisyah bercerita tentang kalungnya yang hilang dalam perjalanan, sehingga Rasulullah dan rombongan tertahan di tempat yang tidak ada air. Hal ini sempat membuat Abu Bakar marah kepada Aisyah. Namun kemudian Allah menurunkan ayat tentang tayamum sebagai keringanan. Usaid bin Al-Hudhair berkata, "Ini bukanlah keberkahan pertama dari kalian wahai keluarga Abu Bakar.".


Kabar Gembira Menjadi Penghuni Surga

Abu Musa Al-Asy'ari menjaga pintu sebuah kebun tempat Nabi berada. Ketika Abu Bakar datang meminta izin masuk, Nabi bersabda:

«ائذن له وبشره بالجنة»

"Izinkanlah ia masuk dan sampaikan kabar gembira kepadanya bahwa ia masuk surga.".

Ketika Nabi menaiki Gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman, gunung itu bergetar. Nabi bersabda:

«اثبت أحد، فإن عليك نبي وصديق وشهيدان»

"Diamlah wahai Uhud, karena di atasmu ada seorang Nabi, seorang Shiddiq (Abu Bakar), dan dua orang syahid (Umar dan Utsman).".


Pembelaannya Terhadap Rasulullah

Abdullah bin Amr menceritakan ketika Uqbah bin Abi Mu'aith menjerat leher Nabi dengan pakaiannya saat beliau shalat. Abu Bakar datang mendorongnya dan berkata:

﴿أَتَقْتُلُونَ رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّيَ اللَّهُ وَقَدْ جَاءَكُم بِالْبَيِّنَاتِ﴾ [غافر: ٢٨]

"Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia mengucapkan: 'Tuhanku ialah Allah', padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu?".


Amal-Amal Beliau radhiyallahu 'anhu

Ash-Shiddiq adalah laki-laki pertama yang masuk Islam dan selalu mendampingi Rasulullah sepanjang hidupnya di Makkah dan Madinah. Beliau adalah sahabat karib, penasihat, dan menteri beliau. Melalui beliau, tokoh-tokoh besar masuk Islam seperti Utsman, Zubair, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqas, dan Thalhah.

Beliau selalu berdiri di samping Rasulullah dalam setiap keadaan, membelanya dengan nyawa, dan memerdekakan budak-budak yang disiksa seperti Bilal, Amir bin Fuhairah, Ummu Ubais, Zinnirah, An-Nahdiyah dan putrinya, serta budak wanita Bani Mu'ammil. Beliau mengikuti seluruh peperangan besar: Badar, Uhud, Khandaq, Hudaibiyah, Fathu Makkah, Hunain, Tabuk, dan lainnya.

Setelah menjabat sebagai Khalifah, beliau memikul tanggung jawab penuh negara Islam. Di antara amal terbesarnya:

  1. Memerintahkan pengurusan jenazah Rasulullah dan pemakamannya.
  2. Melaksanakan pengiriman pasukan Usamah bin Zaid.
  3. Menyatukan pendapat para sahabat untuk menghadapi kaum murtad dan mengirim pasukan untuk memerangi mereka.
  4. Mengumpulkan Al-Qur'anul Karim.

Ibnu Katsir berkata: Pada tahun 12 H, Abu Bakar Ash-Shiddiq memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan Al-Qur'an dari pelepah kurma, kepingan batu, dan dari hafalan para sahabat. Hal ini dilakukan setelah banyaknya para penghafal Al-Qur'an yang gugur dalam perang Yamamah, sebagaimana disebutkan dalam hadits Shahih Bukhari.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Syihab, dari Ubaid bin Al-Sabbaq, bahwa Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu berkata: Abu Bakar Ash-Shiddiq memanggilku setelah pertempuran penduduk Yamamah. Saat itu Umar bin Khattab ada di sampingnya. Abu Bakar berkata: "Umar datang kepadaku dan berkata: 'Sesungguhnya pembantaian telah hebat menimpa para penghafal Al-Qur'an pada hari Yamamah. Aku khawatir pembantaian serupa akan menimpa para penghafal di tempat-tempat lain sehingga banyak bagian Al-Qur'an yang akan hilang. Menurutku, engkau harus memerintahkan pengumpulan Al-Qur'an.'".

Zaid berkata: Aku bertanya kepada Umar, "Bagaimana kita melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah ?". Umar menjawab, "Demi Allah, ini adalah kebaikan.". Umar terus-menerus membujukku sampai Allah melapangkan dadaku untuk hal tersebut dan aku setuju dengan pendapat Umar.

Zaid melanjutkan: Abu Bakar berkata, "Engkau adalah seorang pemuda yang cerdas, kami tidak meragukanmu, dan engkau dulu menulis wahyu untuk Rasulullah . Maka carilah Al-Qur'an dan kumpulkanlah.". Zaid berkata, "Demi Allah, seandainya mereka menugaskanku untuk memindahkan sebuah gunung, itu tidak akan lebih berat bagiku daripada perintah mengumpulkan Al-Qur'an ini.".

Aku bertanya, "Bagaimana kalian melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah ?". Abu Bakar menjawab, "Demi Allah, ini adalah kebaikan." Abu Bakar terus membujukku sampai Allah melapangkan dadaku sebagaimana Dia telah melapangkan dada Abu Bakar dan Umar.

Maka aku pun mulai mencari Al-Qur'an dan mengumpulkannya dari pelepah kurma, kepingan batu putih, dan hafalan para lelaki, hingga aku menemukan akhir surat At-Taubah pada Abu Khuzaimah Al-Anshari yang tidak aku temukan pada orang lain:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ...

"Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu..." (sampai akhir surat Bara'ah/At-Taubah).

Lembaran-lembaran Al-Qur'an tersebut disimpan oleh Abu Bakar hingga beliau wafat, kemudian disimpan oleh Umar selama hidupnya, lalu disimpan oleh Hafsah binti Umar radhiyallahu 'anha.

Zaid bin Tsabit juga berkata: Aku sempat kehilangan satu ayat dari surat Al-Ahzab saat kami menyalin mushaf, padahal aku sering mendengar Rasulullah membacanya. Kami pun mencarinya dan menemukannya pada Khuzaimah bin Tsabit Al-Anshari:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ

"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah." (Al-Ahzab: 23) .

Lalu kami pun menyisipkannya ke dalam suratnya di dalam mushaf.

Mengirim Pasukan untuk Menyebarkan Agama Allah:

Abu Bakar mengirim pasukan kepada bangsa Persia dan Syam yang berada di dekat mereka, melaksanakan firman Allah Ta'ala:

يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُم مِّنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتقِينَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu, dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu, dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa." (At-Taubah: 123) .


Para Hakim, Penulis, dan Petugas Zakatnya

Ketika Abu Bakar terpilih menjadi Khalifah, beliau yang biasanya bekerja sebagai pedagang tetap pergi ke pasar. Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bertemu dengannya dan berkata, "Urusan kepemimpinan ini tidak sejalan dengan kesibukanmu di pasar, padahal engkau telah memikul tanggung jawab besar." Abu Bakar bertanya, "Lalu dari mana aku akan memberi makan keluargaku?".

Keduanya berkata, "Mari ikut kami, kami akan menetapkan tunjangan untukmu." Mereka pun menetapkan untuknya setiap hari setengah ekor domba dan pakaian untuk kepala serta perutnya. Umar berkata, "Aku yang mengurus urusan peradilan." Abu Ubaidah berkata, "Aku yang mengurus urusan keuangan (Fa'i).". Umar bercerita bahwa selama sebulan tidak ada dua orang pun yang datang kepadanya untuk berselisih.

Penulis (sekretaris) bagi Abu Bakar adalah Zaid bin Tsabit dan Utsman bin Affan, serta siapa pun yang hadir saat itu.

Gubernur-gubernurnya antara lain: Attab bin Asid di Mekkah, Utsman bin Abi Al-Ash di Thaif, Al-Muhajir bin Abi Umayyah di Shana'a, Ziyad bin Labid di Hadramaut, Ya'la bin Umayyah di Khawlan, Abu Musa Al-Asy'ari di Zabid dan Ruma', Muadz bin Jabal di Al-Janad, Al-Ala' bin Al-Hadhrami di Bahrain. Beliau juga mengutus Jarir bin Abdillah Al-Bajali ke Najran, Abdullah bin Tsaur ke wilayah Jurasy, dan Iyadh bin Ghanam Al-Fihri ke Daumatul Jandal. Di Syam, ada Abu Ubaidah, Syurahbil bin Hasanah, Yazid bin Abi Sufyan, dan Amr bin Ash yang masing-masing memimpin pasukan, dengan Khalid bin Walid sebagai panglima tertinggi mereka.

Beliau tidak membuat Baitul Mal yang terpisah, melainkan hanya sebuah ruangan di rumahnya di Al-Sunh. Ketika para sahabat bertanya, "Mengapa engkau tidak mengangkat penjaga?" Beliau menjawab, "Tidak perlu khawatir, ruangan itu sudah terkunci.". Saat beliau pindah ke rumah di dekat Masjid Nabawi, Baitul Mal ikut dipindahkan. Ketika beliau wafat, Umar membawa orang-orang terpercaya untuk membukanya, namun mereka tidak menemukan apa pun di dalamnya.


Wafat dan Usianya

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: Wafatnya Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu terjadi pada hari Senin sore, atau ada yang mengatakan setelah Maghrib malam Selasa. Beliau dimakamkan pada malam itu juga, bertepatan dengan delapan hari yang tersisa dari bulan Jumadil Akhir tahun 13 H, setelah jatuh sakit selama lima belas hari. Selama sakit, Umar bin Khattab menggantikannya mengimami shalat di masjid. Di tengah sakitnya itu pula, beliau menunjuk Umar bin Khattab sebagai penggantinya, dan yang menulis surat wasiat tersebut adalah Utsman bin Affan.

Masa kekhalifahan Ash-Shiddiq adalah dua tahun tiga bulan. Usianya saat wafat adalah 63 tahun, sama dengan usia Rasulullah saat wafat. Allah mengumpulkan mereka berdua di tempat pemakaman, sebagaimana Dia telah mengumpulkan mereka berdua saat hidup.

Beliau berwasiat untuk menyedekahkan seperlima hartanya. Ketika sakitnya semakin parah, ada yang bertanya, "Perlukah kami panggilkan dokter?" Beliau menjawab, "Dokter (Allah) telah melihatku dan berkata: 'Aku melakukan apa yang Aku kehendaki.'".

Dikatakan sebab sakit dan wafatnya adalah karena beliau dan Al-Harits (seorang dokter terkenal) memakan Khazirah (sejenis makanan daging) yang dihadiahkan kepada Abu Bakar. Al-Harits berkata, "Angkat tanganmu wahai Khalifah Rasulullah, demi Allah di dalamnya terdapat racun yang baru bereaksi setelah setahun." Keduanya terus merasa sakit hingga wafat setahun kemudian. Ada pula pendapat yang mengatakan beliau mandi di hari yang sangat dingin sehingga terkena demam yang menyebabkan kematiannya.

Dalam sakitnya, beliau sempat melantunkan bait syair:

لا تزال تنعي حبيبا حتى تكونه ... وقد يرجو الفتى الرجا يموت دونه

"Engkau akan terus mengabarkan kematian orang tercinta hingga engkau sendiri menjadi yang dikabarkan, dan seorang pemuda bisa saja mengharapkan sesuatu namun ia mati sebelum mencapainya.".

Saat menghadapi sakaratul maut, putrinya Aisyah berkata sambil membacakan syair:

لعمرك ما يغني الثراء عن الفتى ... إذا حشرجت يوما وضاق بها الصدر

"Demi umurmu, kekayaan tidak akan berguna bagi pemuda, jika suatu hari nafas sudah di kerongkongan dan dada terasa sesak."

Maka Abu Bakar memandangnya seperti orang marah dan berkata, "Bukan begitu wahai Ummul Mukminin, melainkan:

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ

"Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari." (QS. Qaf: 19) .

Beliau berpesan kepada Aisyah: "Sesungguhnya tidak ada harta Abu Bakar yang tersisa kecuali seekor unta perah, dan seorang budak pengasah pedang yang biasa melayani kami. Jika aku mati, serahkanlah itu kepada Umar.". Ketika Aisyah menyerahkannya, Umar berkata, "Semoga Allah merahmati Abu Bakar, sungguh ia telah sangat memberatkan orang-orang setelahnya.".

Salman Al-Farisi menjenguknya dan berkata, "Wahai Khalifah Rasulullah, berilah aku wasiat." Beliau menjawab: "Wahai Salman, akan terjadi banyak penaklukan, maka jangan sampai harta rampasan yang kau dapatkan hanya menjadi beban di perutmu atau di punggungmu. Ketahuilah, siapa yang mendirikan shalat lima waktu maka ia berada dalam jaminan Allah, maka jangan sekali-kali engkau membunuh orang yang berada dalam jaminan Allah, karena Allah akan menuntut jaminan-Nya dan mencampakkanmu ke dalam neraka.".

Abu Bakar dikafani dengan dua helai kain. Beliau berkata, "Orang yang hidup lebih butuh pakaian baru daripada orang mati, sesungguhnya kafir itu hanya untuk menutupi sisa-sisa tubuh.".

Beliau dimakamkan bersama Rasulullah di dalam kamar Aisyah, dan Umar bin Khattab yang memimpin shalat jenazahnya. Nabi pernah menunjuknya untuk memimpin haji pada tahun 9 H, yang merupakan haji pertama dalam Islam.


Sumber Kisah:

Tartib Wa Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasulullah ﷺ: Secercah Matahari Kedermawanan dan Lautan Zuhud

Rasulullah ﷺ: Hamba yang Bersyukur, Pemimpin yang Rendah Hati, dan Rahmat bagi Seluruh Alam

Rasulullah ﷺ: Pahlawan Sejati, Penepati Janji, dan Pribadi Pemaaf