Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu 'anhu
Bab Pertama: Biografi Beliau
Silsilah Keturunannya
Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki
nama asli Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka'ab bin Sa'ad bin
Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr al-Qurasyi at-Taimi.
Garis keturunannya bertemu dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaih wa sallam
pada kakek yang bernama Murrah bin Ka'ab.
Ibunya adalah Umul Khair Salma binti Shakhr bin Amir
bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim. Dengan demikian, Abu Bakar berasal dari suku Taim
baik dari sisi ayah maupun ibu. Ayahnya dikenal dengan julukan (kunyah) Abu
Quhafah. Di masa Jahiliyah, Abu Bakar dipanggil dengan sebutan Atiq.
Riwayat dari At-Thabari menyebutkan bahwa anak-anak Abu
Quhafah ada tiga orang, yaitu: Atiq, Abu Bakar, dan Mu'taq.
Ciri Fisik dan Karakter
Beliau adalah seorang pria
yang bertubuh kurus, berkulit putih, dan ramping. Aisyah radhiyallahu 'anha
menggambarkan beliau sebagai pria berkulit putih yang kurus, tipis kedua
pelipisnya, dan kain sarungnya sering melorot dari pinggangnya karena tubuhnya
yang ramping. Beliau memiliki wajah yang tirus, mata yang cekung, dahi yang
menonjol, dan urat-urat tangan yang terlihat jelas. Beliau juga sering mewarnai
janggutnya dengan pacar (inai) dan katam.
Mengenai akhlaknya, beliau adalah sosok yang dermawan,
pemberani, teguh pendirian, dan memiliki pemikiran yang tepat dalam
situasi-situasi sulit. Beliau dikenal lembut, sabar, berkemauan kuat, ahli
fikih, serta sangat menguasai ilmu silsilah (nasab) dan sejarah. Abu Bakar
sangat bertawakal kepada Allah, sangat wara' (berhati-hati terhadap syubhat),
zuhud terhadap dunia, dan sangat dicintai serta mudah bergaul dengan orang
lain.
Masuk Islam: Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah laki-laki
dewasa pertama yang masuk Islam. Sebelum beliau, Ibunda Khadijah telah lebih
dulu beriman. Sementara itu, Ali bin Abi Thalib adalah anak-anak pertama yang
masuk Islam, dan Zaid bin Haritsah adalah orang pertama dari kalangan
budak/pelayan.
Keislaman Abu Bakar membawa manfaat yang sangat besar bagi
Islam karena kedudukan dan kesungguhannya dalam berdakwah. Melalui
perantaranya, banyak tokoh besar yang masuk Islam, seperti:
- Abdurrahman
bin Auf
- Sa'ad
bin Abi Waqqas
- Utsman
bin Affan
- Zubair
bin al-Awwam
- Thalhah
bin Ubaidillah
Saat masuk Islam, beliau memiliki kekayaan sebanyak 40.000
dirham yang seluruhnya ia infakkan di jalan Allah. Beliau juga memerdekakan
banyak budak lemah yang disiksa karena iman mereka, salah satunya adalah Bilal
radhiyallahu 'anhu. Abu Bakar selalu setia mendampingi Rasulullah
shallallahu 'alaih wa sallam selama di Makkah, menjadi teman perjalanan di
dalam gua saat hijrah, dan terus mendampingi beliau di Madinah. Beliau
mengikuti seluruh peperangan bersama Nabi, mulai dari Perang Badar, Uhud,
Khandaq, Penaklukan Makkah, Hunain, hingga Tabuk.
Istri dan Anak-anak:
- Qutailah
binti Abdul Uzza: Dinikahi saat masa Jahiliyah. Melahirkan: Abdullah
dan Asma.
- Ummu
Ruman binti Amir: Dari suku Kinanah. Melahirkan: Abdurrahman
dan Aisyah.
- Asma
binti Umais: Sebelumnya adalah istri Ja'far bin Abi Thalib.
Melahirkan: Muhammad bin Abu Bakar (lahir saat Haji Wada' di Miqat
Dzul Hulaifah).
- Habibah
binti Kharijah: Putri dari Kharijah bin Zaid (kaum Anshar). Abu Bakar
tinggal bersama keluarga ini di daerah As-Sunh hingga Rasulullah wafat dan
beliau diangkat menjadi Khalifah. Dari pernikahan ini lahir: Ummu
Kultsum (lahir setelah Abu Bakar wafat).
Sebagian Keutamaan dan Keistimewaannya
Keutamaan Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu sangatlah
banyak. Kitab-kitab Sunnah, biografi, dan sejarah telah meriwayatkan sangat
banyak darinya. Namun, di sini saya akan membatasi pada apa yang disebutkan
oleh Imam Al-Hafizh Abu Abdullah Al-Bukhari dalam Shahih-nya mengenai
keistimewaan Ash-Shiddiq dalam Kitab Keutamaan para Sahabat.
Sahabat Rasulullah di Gua dan dalam Hijrah
Allah Ta'ala berfirman:
﴿إِلَّا
تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ
اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ
اللَّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ
لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ
اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ﴾ [التوبة : ٤٠]
"Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka
sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengeluarkannya
(dari Makkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada
dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: 'Janganlah kamu berduka cita,
sesungguhnya Allah beserta kita.' Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya
kepadanya dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan
Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah
itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS.
At-Taubah: 40).
Aisyah, Abu Said, dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum
berkata bahwa Abu Bakar menyertai Nabi ﷺ di dalam gua.
Diriwayatkan dari Al-Bara' bin 'Azib, ia berkata: Abu Bakar radhiyallahu
'anhu membeli sebuah pelana dari 'Azib seharga tiga belas dirham. Lalu Abu
Bakar berkata kepada 'Azib, "Perintahkanlah Al-Bara' untuk membawakan
pelanaku." 'Azib menjawab, "Tidak, sampai engkau menceritakan kepada
kami apa yang engkau dan Rasulullah ﷺ lakukan ketika kalian keluar dari Makkah sementara kaum musyrik
mencari kalian."
Abu Bakar bercerita: "Kami berangkat dari Makkah dan
berjalan sepanjang malam dan hari hingga tiba waktu zuhur. Aku mencari tempat
berteduh dan menemukan sebuah batu besar. Aku meratakan tempat di bawah
bayangannya, lalu menghamparkan alas untuk Nabi ﷺ dan berkata, 'Beristirahatlah wahai Nabi
Allah.' Beliau pun beristirahat."
"Lalu aku pergi memantau sekitar, tiba-tiba aku melihat
seorang penggembala kambing. Aku bertanya, 'Milik siapa engkau wahai anak
muda?' Ia menyebutkan seorang pria Quraisy yang aku kenal. Aku bertanya lagi,
'Apakah ada susu pada kambingmu?' Ia menjawab, 'Ya.' Aku bertanya, 'Maukah
engkau memerahnya untuk kami?' Ia menjawab, 'Ya.' Ia lalu memerah wadah berisi
susu. Aku membawanya kepada Nabi ﷺ yang baru saja bangun, lalu aku berkata, 'Minumlah wahai
Rasulullah.' Beliau minum hingga aku merasa puas. Kemudian aku berkata, 'Sudah
saatnya berangkat wahai Rasulullah.' Beliau menjawab, 'Ya.' Maka kami pun
berangkat sementara kaum musyrik terus mencari kami. Tidak ada yang berhasil
menyusul kami kecuali Suraqah bin Malik bin Ju'shum yang mengendarai kudanya.
Aku berkata, 'Para pengejar telah menyusul kita wahai Rasulullah!' Beliau
bersabda:
«لا
تحزن إن الله معنا»
"Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah
bersama kita.".
Dari Anas, dari Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, ia
berkata: Aku berkata kepada Nabi ﷺ saat kami berada di gua, "Seandainya salah seorang dari
mereka melihat ke bawah kakinya, niscaya mereka akan melihat kita." Beliau
bersabda:
«ما ظنك
يا أبابكر باثنين الله ثالثهما !!»
"Apa pendapatmu wahai Abu Bakar mengenai dua orang
di mana Allah adalah yang ketiganya!".
Abu Bakar adalah Sahabat yang Paling Berilmu
Dari Abu Said Al-Khudri, ia berkata: Rasulullah ﷺ
berpidato di hadapan manusia dan bersabda:
«إن
الله خير عبدا بين الدنيا وبين ما عنده، فاختار ذلك العبد ما عند الله»
"Sesungguhnya Allah memberi pilihan kepada seorang
hamba antara dunia atau apa yang ada di sisi-Nya, maka hamba itu memilih apa
yang ada di sisi Allah.".
Abu Bakar pun menangis. Kami heran mengapa beliau menangis
hanya karena Rasulullah menceritakan seorang hamba yang diberi pilihan. Ternyata
Rasulullah ﷺ-lah
hamba yang diberi pilihan tersebut, dan Abu Bakar adalah orang yang paling
berilmu di antara kami.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
«إن من
أمن الناس علي في صحبته وماله أبوبكر، لو كنت متخذا خليلا غير ربي لا تخذت أبا
بكر، ولكن أخوة الإسلام ومودته»
"Sesungguhnya orang yang paling berjasa bagiku dalam
persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil
kekasih (khalil) selain Tuhanku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai
kekasihku, namun yang ada adalah persaudaraan Islam dan kecintaannya.".
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, saat Rasulullah ﷺ
wafat, Abu Bakar sedang berada di As-Sunh. Umar berdiri dan berkata, "Demi
Allah, Rasulullah ﷺ
tidak wafat!". Lalu datanglah Abu Bakar, ia membuka kain yang menutupi
Rasulullah ﷺ,
mencium beliau, dan berkata, "Demi ayah dan ibuku, engkau tetap harum saat
hidup maupun mati. Demi Allah, Allah tidak akan merasakan kematian dua kali
kepadamu selamanya.".
Abu Bakar kemudian keluar dan berkata, "Wahai orang
yang bersumpah, tenanglah!" Ketika Abu Bakar berbicara, Umar pun duduk.
Abu Bakar memuji Allah dan berkata, "Ketahuilah, barangsiapa yang
menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Barangsiapa yang menyembah
Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati." Beliau
membacakan ayat:
﴿إِنَّكَ
مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيْتُونَ﴾ [الزمر : ٣٠]
"Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati dan mereka
pun akan mati.".
﴿وَمَا
مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِيْن مَّاتَ
أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ
فَلَن يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِى اللهُ الشَّاكِرِينَ﴾ [آل عمران : ١٤٤]
"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul,
sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat
atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke
belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun,
dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.".
Maka orang-orang pun menangis tersedu-sedu. Kemudian kaum
Anshar berkumpul di Saqifah Bani Sa'idah, mereka berkata, "Dari kami ada
pemimpin (amir) dan dari kalian ada pemimpin.". Abu Bakar, Umar, dan Abu
Ubaidah pergi menemui mereka. Abu Bakar berbicara dengan sangat fasih dan
berkata, "Kami adalah para pemimpin (amaraa') dan kalian adalah para
pembantu/menteri (wuzaraa').".
Abu Bakar berkata, "Kami adalah bangsa Arab yang paling
tengah tempat tinggalnya dan paling mulia nasabnya, maka baiatlah Umar atau Abu
Ubaidah.". Namun Umar berkata, "Bahkan kami membaiatmu, engkau adalah
tuan kami, orang terbaik di antara kami, dan orang yang paling dicintai
Rasulullah ﷺ."
Umar memegang tangan beliau dan membaiatnya, kemudian diikuti oleh orang banyak.
Abu Bakar adalah Sahabat yang Paling Utama
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:
"Kami biasa memilih orang terbaik di zaman Nabi ﷺ, maka kami memilih Abu Bakar, kemudian
Umar, lalu Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhum.".
Dari Muhammad bin al-Hanafiyah, ia berkata: Aku bertanya
kepada ayahku (Ali bin Abi Thalib), "Siapakah manusia terbaik setelah
Rasulullah ﷺ?"
Ia menjawab, "Abu Bakar." Aku bertanya lagi, "Lalu siapa?" Ia
menjawab, "Umar.".
Kedudukannya di Sisi Rasulullah ﷺ
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, Nabi ﷺ
bersabda:
«لو كنت
متخذا خليلا لا تخذت أبابكر، ولكن أخي وصاحبي»
"Seandainya aku boleh mengambil seorang kekasih
(khalil), niscaya aku akan mengambil Abu Bakar, namun ia adalah saudaraku dan
sahabatku.".
Nabi ﷺ
bersabda:
«سدوا
الأبواب إلا باب أبي بكر»
"Tutuplah semua pintu (yang menuju masjid) kecuali
pintu Abu Bakar.".
Nabi ﷺ
bersabda kepada seorang wanita yang khawatir tidak menemui beliau lagi (karena
wafat):
«إن لم
تجديني فأتى أبابكر»
"Jika engkau tidak menemukanku, maka datanglah
kepada Abu Bakar.".
Abu Bakar pernah berselisih dengan Umar lalu menyesal dan
meminta maaf, namun Umar awalnya menolak. Nabi ﷺ bersabda kepada Abu Bakar:
«يغفر
الله لك يا أبا بكر»
"Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakar"
(tiga kali)..
Nabi ﷺ
kemudian bersabda di hadapan orang-orang: "Sesungguhnya Allah mengutusku
kepada kalian, lalu kalian berkata: 'Engkau berdusta,' sedangkan Abu Bakar
berkata: 'Ia benar.' Ia juga membantuku dengan jiwa dan hartanya. Maka apakah
kalian mau membiarkan (tidak mengganggu) sahabatku untukku?" Beliau
mengucapkannya dua kali, dan setelah itu Abu Bakar tidak pernah disakiti lagi.
Keislamannya yang Awal dan Kesetiaannya Mendampingi Rasulullah
Ammar bin Yasir berkata: "Aku melihat Rasulullah ﷺ
(di awal dakwah) dan tidak ada yang menyertai beliau kecuali lima orang budak,
dua orang wanita, dan Abu Bakar.".
Manusia yang Paling Dicintai Rasulullah ﷺ
Amr bin al-Ash bertanya kepada Nabi ﷺ, "Siapakah
manusia yang paling engkau cintai?" Beliau menjawab, "Aisyah."
Aku bertanya lagi, "Dari kalangan laki-laki?" Beliau menjawab,
"Ayahnya (Abu Bakar)." Aku bertanya lagi, "Lalu siapa?" Beliau
menjawab, "Umar bin Khattab," lalu beliau menyebutkan beberapa orang
lainnya.
Kekuatan Iman dan Pembenaran Abu Bakar
Nabi ﷺ
menceritakan kisah serigala yang berbicara dan sapi yang berbicara. Orang-orang
terheran-heran, lalu Nabi ﷺ
bersabda:
«فإني
أو من بذلك وأبو بكر وعمر بن الخطاب»
"Sesungguhnya aku mengimani hal itu, begitu pula Abu
Bakar dan Umar bin Khattab.".
Tekad dan Semangat Ash-Shiddiq yang Tinggi
Nabi ﷺ
bersabda bahwa orang yang beramal akan dipanggil dari pintu-pintu surga (Pintu
Shalat, Jihad, Sedekah, dan Ar-Rayyan). Abu Bakar bertanya, "Apakah ada
orang yang dipanggil dari semua pintu itu wahai Rasulullah?" Beliau
menjawab:
«نعم
وأرجو أن تكون منهم يا أبا بكر»
"Ya, dan aku berharap engkau termasuk salah satu
dari mereka wahai Abu Bakar.".
Keberkahan Ash-Shiddiq dan Keluarganya
Aisyah bercerita tentang kalungnya yang hilang dalam
perjalanan, sehingga Rasulullah ﷺ dan rombongan tertahan di tempat yang tidak ada air. Hal ini
sempat membuat Abu Bakar marah kepada Aisyah. Namun kemudian Allah menurunkan
ayat tentang tayamum sebagai keringanan. Usaid bin Al-Hudhair berkata,
"Ini bukanlah keberkahan pertama dari kalian wahai keluarga Abu
Bakar.".
Kabar Gembira Menjadi Penghuni Surga
Abu Musa Al-Asy'ari menjaga pintu sebuah kebun tempat Nabi ﷺ
berada. Ketika Abu Bakar datang meminta izin masuk, Nabi ﷺ bersabda:
«ائذن
له وبشره بالجنة»
"Izinkanlah ia masuk dan sampaikan kabar gembira
kepadanya bahwa ia masuk surga.".
Ketika Nabi ﷺ menaiki Gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman, gunung
itu bergetar. Nabi ﷺ
bersabda:
«اثبت
أحد، فإن عليك نبي وصديق وشهيدان»
"Diamlah wahai Uhud, karena di atasmu ada seorang
Nabi, seorang Shiddiq (Abu Bakar), dan dua orang syahid (Umar dan
Utsman).".
Pembelaannya Terhadap Rasulullah ﷺ
Abdullah bin Amr menceritakan ketika Uqbah bin Abi Mu'aith
menjerat leher Nabi ﷺ
dengan pakaiannya saat beliau shalat. Abu Bakar datang mendorongnya dan
berkata:
﴿أَتَقْتُلُونَ
رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّيَ اللَّهُ وَقَدْ جَاءَكُم بِالْبَيِّنَاتِ﴾ [غافر: ٢٨]
"Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena
dia mengucapkan: 'Tuhanku ialah Allah', padahal dia telah datang kepadamu
dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu?".
Amal-Amal Beliau radhiyallahu 'anhu
Ash-Shiddiq adalah laki-laki pertama yang masuk Islam dan
selalu mendampingi Rasulullah ﷺ
sepanjang hidupnya di Makkah dan Madinah. Beliau adalah sahabat karib,
penasihat, dan menteri beliau. Melalui beliau, tokoh-tokoh besar masuk Islam
seperti Utsman, Zubair, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqas, dan Thalhah.
Beliau selalu berdiri di samping Rasulullah dalam setiap
keadaan, membelanya dengan nyawa, dan memerdekakan budak-budak yang disiksa
seperti Bilal, Amir bin Fuhairah, Ummu Ubais, Zinnirah, An-Nahdiyah dan
putrinya, serta budak wanita Bani Mu'ammil. Beliau mengikuti seluruh peperangan
besar: Badar, Uhud, Khandaq, Hudaibiyah, Fathu Makkah, Hunain, Tabuk, dan
lainnya.
Setelah menjabat sebagai Khalifah, beliau memikul tanggung
jawab penuh negara Islam. Di antara amal terbesarnya:
- Memerintahkan
pengurusan jenazah Rasulullah ﷺ dan pemakamannya.
- Melaksanakan
pengiriman pasukan Usamah bin Zaid.
- Menyatukan
pendapat para sahabat untuk menghadapi kaum murtad dan mengirim pasukan
untuk memerangi mereka.
- Mengumpulkan
Al-Qur'anul Karim.
Ibnu Katsir berkata: Pada tahun 12 H, Abu Bakar Ash-Shiddiq
memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan Al-Qur'an dari pelepah kurma,
kepingan batu, dan dari hafalan para sahabat. Hal ini dilakukan setelah
banyaknya para penghafal Al-Qur'an yang gugur dalam perang Yamamah, sebagaimana
disebutkan dalam hadits Shahih Bukhari.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Syihab, dari Ubaid bin
Al-Sabbaq, bahwa Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu berkata: Abu Bakar
Ash-Shiddiq memanggilku setelah pertempuran penduduk Yamamah. Saat itu Umar bin
Khattab ada di sampingnya. Abu Bakar berkata: "Umar datang kepadaku dan
berkata: 'Sesungguhnya pembantaian telah hebat menimpa para penghafal Al-Qur'an
pada hari Yamamah. Aku khawatir pembantaian serupa akan menimpa para penghafal
di tempat-tempat lain sehingga banyak bagian Al-Qur'an yang akan hilang.
Menurutku, engkau harus memerintahkan pengumpulan Al-Qur'an.'".
Zaid berkata: Aku bertanya kepada Umar, "Bagaimana kita
melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah ﷺ?". Umar
menjawab, "Demi Allah, ini adalah kebaikan.". Umar terus-menerus
membujukku sampai Allah melapangkan dadaku untuk hal tersebut dan aku setuju
dengan pendapat Umar.
Zaid melanjutkan: Abu Bakar berkata, "Engkau adalah
seorang pemuda yang cerdas, kami tidak meragukanmu, dan engkau dulu menulis
wahyu untuk Rasulullah ﷺ.
Maka carilah Al-Qur'an dan kumpulkanlah.". Zaid berkata, "Demi Allah,
seandainya mereka menugaskanku untuk memindahkan sebuah gunung, itu tidak akan
lebih berat bagiku daripada perintah mengumpulkan Al-Qur'an ini.".
Aku bertanya, "Bagaimana kalian melakukan sesuatu yang
tidak dilakukan oleh Rasulullah ﷺ?". Abu Bakar menjawab, "Demi Allah, ini adalah
kebaikan." Abu Bakar terus membujukku sampai Allah melapangkan dadaku
sebagaimana Dia telah melapangkan dada Abu Bakar dan Umar.
Maka aku pun mulai mencari Al-Qur'an dan mengumpulkannya
dari pelepah kurma, kepingan batu putih, dan hafalan para lelaki, hingga aku
menemukan akhir surat At-Taubah pada Abu Khuzaimah Al-Anshari yang tidak aku
temukan pada orang lain:
لَقَدْ
جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ...
"Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari
kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu..." (sampai akhir surat
Bara'ah/At-Taubah).
Lembaran-lembaran Al-Qur'an tersebut disimpan oleh Abu Bakar
hingga beliau wafat, kemudian disimpan oleh Umar selama hidupnya, lalu disimpan
oleh Hafsah binti Umar radhiyallahu 'anha.
Zaid bin Tsabit juga berkata: Aku sempat kehilangan satu
ayat dari surat Al-Ahzab saat kami menyalin mushaf, padahal aku sering
mendengar Rasulullah ﷺ
membacanya. Kami pun mencarinya dan menemukannya pada Khuzaimah bin Tsabit
Al-Anshari:
مِنَ
الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ
"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang
menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah." (Al-Ahzab: 23) .
Lalu kami pun menyisipkannya ke dalam suratnya di dalam
mushaf.
Mengirim Pasukan untuk Menyebarkan Agama Allah:
Abu Bakar mengirim pasukan kepada bangsa Persia dan Syam
yang berada di dekat mereka, melaksanakan firman Allah Ta'ala:
يَأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُم مِّنَ الْكُفَّارِ
وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتقِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Perangilah orang-orang
kafir yang di sekitar kamu, dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu,
dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa." (At-Taubah:
123) .
Para Hakim, Penulis, dan Petugas Zakatnya
Ketika Abu Bakar terpilih menjadi Khalifah, beliau yang
biasanya bekerja sebagai pedagang tetap pergi ke pasar. Umar bin Khattab dan
Abu Ubaidah bertemu dengannya dan berkata, "Urusan kepemimpinan ini tidak
sejalan dengan kesibukanmu di pasar, padahal engkau telah memikul tanggung
jawab besar." Abu Bakar bertanya, "Lalu dari mana aku akan memberi
makan keluargaku?".
Keduanya berkata, "Mari ikut kami, kami akan menetapkan
tunjangan untukmu." Mereka pun menetapkan untuknya setiap hari setengah
ekor domba dan pakaian untuk kepala serta perutnya. Umar berkata, "Aku
yang mengurus urusan peradilan." Abu Ubaidah berkata, "Aku yang
mengurus urusan keuangan (Fa'i).". Umar bercerita bahwa selama sebulan
tidak ada dua orang pun yang datang kepadanya untuk berselisih.
Penulis (sekretaris) bagi Abu Bakar adalah Zaid bin Tsabit
dan Utsman bin Affan, serta siapa pun yang hadir saat itu.
Gubernur-gubernurnya antara lain: Attab bin Asid di Mekkah,
Utsman bin Abi Al-Ash di Thaif, Al-Muhajir bin Abi Umayyah di Shana'a, Ziyad
bin Labid di Hadramaut, Ya'la bin Umayyah di Khawlan, Abu Musa Al-Asy'ari di
Zabid dan Ruma', Muadz bin Jabal di Al-Janad, Al-Ala' bin Al-Hadhrami di
Bahrain. Beliau juga mengutus Jarir bin Abdillah Al-Bajali ke Najran, Abdullah
bin Tsaur ke wilayah Jurasy, dan Iyadh bin Ghanam Al-Fihri ke Daumatul Jandal. Di
Syam, ada Abu Ubaidah, Syurahbil bin Hasanah, Yazid bin Abi Sufyan, dan Amr bin
Ash yang masing-masing memimpin pasukan, dengan Khalid bin Walid sebagai
panglima tertinggi mereka.
Beliau tidak membuat Baitul Mal yang terpisah, melainkan
hanya sebuah ruangan di rumahnya di Al-Sunh. Ketika para sahabat bertanya,
"Mengapa engkau tidak mengangkat penjaga?" Beliau menjawab,
"Tidak perlu khawatir, ruangan itu sudah terkunci.". Saat beliau
pindah ke rumah di dekat Masjid Nabawi, Baitul Mal ikut dipindahkan. Ketika
beliau wafat, Umar membawa orang-orang terpercaya untuk membukanya, namun
mereka tidak menemukan apa pun di dalamnya.
Wafat dan Usianya
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: Wafatnya Ash-Shiddiq
radhiyallahu 'anhu terjadi pada hari Senin sore, atau ada yang mengatakan
setelah Maghrib malam Selasa. Beliau dimakamkan pada malam itu juga, bertepatan
dengan delapan hari yang tersisa dari bulan Jumadil Akhir tahun 13 H, setelah
jatuh sakit selama lima belas hari. Selama sakit, Umar bin Khattab
menggantikannya mengimami shalat di masjid. Di tengah sakitnya itu pula, beliau
menunjuk Umar bin Khattab sebagai penggantinya, dan yang menulis surat wasiat
tersebut adalah Utsman bin Affan.
Masa kekhalifahan Ash-Shiddiq adalah dua tahun tiga bulan. Usianya
saat wafat adalah 63 tahun, sama dengan usia Rasulullah ﷺ saat wafat. Allah
mengumpulkan mereka berdua di tempat pemakaman, sebagaimana Dia telah
mengumpulkan mereka berdua saat hidup.
Beliau berwasiat untuk menyedekahkan seperlima hartanya.
Ketika sakitnya semakin parah, ada yang bertanya, "Perlukah kami
panggilkan dokter?" Beliau menjawab, "Dokter (Allah) telah melihatku
dan berkata: 'Aku melakukan apa yang Aku kehendaki.'".
Dikatakan sebab sakit dan wafatnya adalah karena beliau dan
Al-Harits (seorang dokter terkenal) memakan Khazirah (sejenis makanan
daging) yang dihadiahkan kepada Abu Bakar. Al-Harits berkata, "Angkat
tanganmu wahai Khalifah Rasulullah, demi Allah di dalamnya terdapat racun yang
baru bereaksi setelah setahun." Keduanya terus merasa sakit hingga wafat
setahun kemudian. Ada pula pendapat yang mengatakan beliau mandi di hari yang
sangat dingin sehingga terkena demam yang menyebabkan kematiannya.
Dalam sakitnya, beliau sempat melantunkan bait syair:
لا
تزال تنعي حبيبا حتى تكونه ... وقد يرجو الفتى الرجا يموت دونه
"Engkau akan terus mengabarkan kematian orang tercinta
hingga engkau sendiri menjadi yang dikabarkan, dan seorang pemuda bisa saja
mengharapkan sesuatu namun ia mati sebelum mencapainya.".
Saat menghadapi sakaratul maut, putrinya Aisyah berkata
sambil membacakan syair:
لعمرك
ما يغني الثراء عن الفتى ... إذا حشرجت يوما وضاق بها الصدر
"Demi umurmu, kekayaan tidak akan berguna bagi pemuda,
jika suatu hari nafas sudah di kerongkongan dan dada terasa sesak."
Maka Abu Bakar memandangnya seperti orang marah dan berkata,
"Bukan begitu wahai Ummul Mukminin, melainkan:
وَجَاءَتْ
سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ
"Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya.
Itulah yang dahulu hendak kamu hindari." (QS. Qaf: 19) .
Beliau berpesan kepada Aisyah: "Sesungguhnya tidak ada
harta Abu Bakar yang tersisa kecuali seekor unta perah, dan seorang budak
pengasah pedang yang biasa melayani kami. Jika aku mati, serahkanlah itu kepada
Umar.". Ketika Aisyah menyerahkannya, Umar berkata, "Semoga Allah
merahmati Abu Bakar, sungguh ia telah sangat memberatkan orang-orang
setelahnya.".
Salman Al-Farisi menjenguknya dan berkata, "Wahai
Khalifah Rasulullah, berilah aku wasiat." Beliau menjawab: "Wahai
Salman, akan terjadi banyak penaklukan, maka jangan sampai harta rampasan yang
kau dapatkan hanya menjadi beban di perutmu atau di punggungmu. Ketahuilah,
siapa yang mendirikan shalat lima waktu maka ia berada dalam jaminan Allah,
maka jangan sekali-kali engkau membunuh orang yang berada dalam jaminan Allah,
karena Allah akan menuntut jaminan-Nya dan mencampakkanmu ke dalam
neraka.".
Abu Bakar dikafani dengan dua helai kain. Beliau berkata,
"Orang yang hidup lebih butuh pakaian baru daripada orang mati,
sesungguhnya kafir itu hanya untuk menutupi sisa-sisa tubuh.".
Beliau dimakamkan bersama Rasulullah ﷺ di dalam kamar
Aisyah, dan Umar bin Khattab yang memimpin shalat jenazahnya. Nabi ﷺ
pernah menunjuknya untuk memimpin haji pada tahun 9 H, yang merupakan haji
pertama dalam Islam.
Sumber Kisah:
Tartib Wa Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar
Posting Komentar