Fathu Makkah (Bagian 3)

barisan pasukan berkuda dan berjalan kaki yang mengenakan pakaian dominan warna hijau tua dan abu-abu kehijauan (melambangkan pasukan hijau), berbaris dengan teratur di padang pasir. Di tengah barisan, seorang tokoh utama dengan jubah putih digambarkan dari sudut belakang menunggang unta putih, dikelilingi oleh para pengawal yang membawa bendera. Kilatan cahaya matahari menyorot perlengkapan besi (pedang tersarung, pelindung) yang mereka kenakan. Wajah para tokoh tidak digambarkan secara detail (dari kejauhan atau samping). Latar belakang adalah bukit pasir keemasan dan langit biru dengan awan tipis.

Fathu Makkah: Detik-Detik Penaklukan yang Penuh Hikmah

Setelah Abu Sufyan masuk Islam dan diberikan jaminan keamanan, Rasulullah menyusun strategi cerdas untuk menunjukkan kekuatan pasukan Islam kepada penduduk Mekah. Tujuannya bukan untuk menakut-nakuti, melainkan agar mereka sadar bahwa melawan hanya akan membawa kehancuran, sehingga mereka memilih damai.


Abu Sufyan Menyaksikan Kemegahan Pasukan Islam

Rasulullah memerintahkan Abbas: يَا عَبَّاسُ احْبِسْهُ بِمَضِيقِ الْوَادِي عِنْدَ خَطْمِ الْجَبَلِ حَتَّى تَمُرَّ بِهِ جُنُودُ اللَّهِ فَيَرَاهَا
Artinya: “Wahai Abbas, tahanlah dia (Abu Sufyan) di celah sempit lembah dekat ujung gunung, hingga pasukan-pasukan Allah melewatinya sehingga ia melihat mereka.”

Abbas pun membawa Abu Sufyan (ada yang mengatakan bersama Hakim dan Budail) ke tempat yang diperintahkan. Pasukan demi pasukan lewat dengan membawa bendera masing-masing.

  • Ketika lewat pasukan Ghifar, Abu Sufyan bertanya: “Wahai Abbas, siapa ini?” Abbas menjawab: “Ghifar.” Abu Sufyan berkata: “Apa urusanku dengan Ghifar?”
  • Begitu seterusnya setiap kali pasukan lewat, ia meremehkan. Hingga akhirnya datang pasukan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia bertanya: “Wahai Abbas, siapa ini?”
  • Abbas menjawab: “Ini adalah kaum Anshar. Pemimpin mereka Sa’d bin ‘Ubadah, dan dialah pembawa bendera.”

Sa’d bin ‘Ubadah —dengan penuh semangat—berseru: “Hari ini adalah hari pertempuran dahsyat! Hari ini, Ka’bah dihalalkan (untuk dihancurkan)!”

Mendengar itu, Abu Sufyan berkata kepada Abbas: “Wahai Abbas, sungguh indah hari yang penuh dengan penjagaan kehormatan dan pemeliharaan perjanjian!” (maksudnya ia mengingatkan bahwa pernyataan Sa’d tidak sesuai dengan semangat perdamaian).


🌿 Kumpulan Hijau: Pasukan Paling Agung

Kemudian muncullah kumpulan hijau (al-katibah al-khadhra’). Yaitu pasukan Rasulullah sendiri yang dikelilingi oleh kaum Muhajirin. Yang terlihat dari mereka hanyalah kilatan mata dari balik besi (pelindung perang). Bendera dibawa oleh Az-Zubair bin al-‘Awwam.

Abu Sufyan bertakjub: سُبْحَانَ اللَّهِ يَا عَبَّاسُ، مَنْ هَؤُلَاءِ؟ (Mahasuci Allah, wahai Abbas! Siapa mereka?)

Abbas menjawab: “Ini adalah Rasulullah bersama kaum Muhajirin.”

Abu Sufyan berkata: “Tidak seorang pun—demi Allah—yang mampu menghadapi mereka. Sungguh, wahai Abu al-Fadhl, kerajaan keponakanmu pada pagi ini benar-benar agung!”

Abbas menjawab: “Wahai Abu Sufyan, ini adalah kenabian!”

Abu Sufyan mengangguk: “Benar, demikianlah.”


Sikap Bijak Rasulullah terhadap Ucapan Sa’d bin ‘Ubadah

Abbas menyampaikan kepada Rasulullah ucapan Sa’d bin ‘Ubadah yang kontroversial itu. Rasulullah bersabda:

كَذَبَ سَعْدٌ، وَلَكِنْ هَذَا يَوْمٌ يُعَظِّمُ اللَّهُ فِيهِ الْكَعْبَةَ، وَيَوْمٌ تُكْسَى فِيهِ الْكَعْبَةُ
Artinya: “Sa’d keliru. Akan tetapi, hari ini adalah hari di mana Allah mengagungkan Ka’bah, dan hari di mana Ka’bah dipakaikan (kiswah).”

Rasulullah kemudian memerintahkan agar bendera diambil dari Sa’d dan diberikan kepada Qais bin Sa’d (putranya sendiri). Ada yang mengatakan diberikan kepada Ali, atau Az-Zubair. Pendapat yang kuat adalah yang pertama—kepada putranya.

Kebijaksanaan ini luar biasa: Sa’d tidak terlalu kecewa karena bendera tetap berada di keluarganya (putranya), sekaligus beliau menegur Sa’d karena ucapannya yang kurang tepat di hadapan Abu Sufyan yang baru masuk Islam. Tindakan ini menjaga perasaan semua pihak.


Abu Sufyan Kembali ke Mekah: Menyerukan Jaminan Keamanan

Abu Sufyan segera kembali ke Mekah dengan cepat. Setibanya di sana, ia berseru sekeras-kerasnya:

يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، هَذَا مُحَمَّدٌ قَدْ جَاءَكُمْ فِيمَا لَا قِبَلَ لَكُمْ بِهِ!! فَمَنْ دَخَلَ دَارَ أَبِي سُفْيَانَ فَهُوَ آمِنٌ
Artinya: “Wahai sekalian Quraisy, ini Muhammad telah datang kepada kalian dengan sesuatu yang tidak mampu kalian hadapi! Barang siapa masuk ke dalam rumah Abu Sufyan, ia aman.”

Mereka bertanya: “Apa gunanya rumahmu?” Abu Sufyan melanjutkan: وَمَنْ أَغْلَقَ عَلَيْهِ بَابَهُ فَهُوَ آمِنٌ، وَمَنْ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَهُوَ آمِنٌ (Barang siapa menutup pintu rumahnya, ia aman. Barang siapa masuk masjid, ia aman).

Maka penduduk Mekah pun berpencar—ada yang ke rumah masing-masing, ada yang ke Masjidil Haram. Kecuali segelintir orang yang masih terbakar semangat fanatisme dan bertekad untuk bertempur.


Memasuki Mekah: Strategi Empat Penjuru

Pasukan Islam tiba di Dzu Thawa. Di sinilah Rasulullah —sebagai pemimpin yang cerdas dan berpengalaman—membagi pasukan menjadi beberapa kelompok. Beliau berpesan agar mereka menahan tangan dan tidak memerangi kecuali siapa yang memerangi mereka.

Beliau memerintahkan:

  1. Khalid bin al-Walid masuk dari bagian bawah Mekah (dari Kada).
  2. Az-Zubair bin al-‘Awwam bersama pasukannya masuk dari sisi utara.
  3. Qais bin Sa’d bin ‘Ubadah al-Anshari masuk dari sisi barat.
  4. Rasulullah sendiri masuk dari bagian atas Mekah (dari Kada' —dengan fathah), ditemani Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah dan pasukannya.

Beliau menunggangi untanya, merendahkan kepalanya hingga rambut janggutnya menyentuh pelana—sebagai wujud kerendahan hati kepada Allah dan rasa syukur, karena Allah telah memuliakannya dengan kemenangan yang agung ini. Di belakangnya, ia membonceng Usamah bin Zaid.

Ketika tiba di Al-Hajun, beliau memerintahkan agar benderanya ditancapkan di sana dan sebuah kemah didirikan untuknya. Beliau beristirahat bersama dua istrinya, Maimunah dan Ummu Salamah.

Usamah bin Zaid bertanya: “Di mana engkau akan turun besok, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab dengan penuh makna:

وَهَلْ تَرَكَ لَنَا عَقِيلٌ مِنْ رُبَاعٍ أَوْ دُورٍ؟
Artinya: “Apakah ‘Aqil meninggalkan untuk kami (sedikit pun) rumah atau tempat tinggal?” (HR. Bukhari)

Maksudnya, setelah Bani Hasyim diasingkan dan rumah-rumah mereka dirampas oleh Quraisy (termasuk ‘Aqil bin Abi Thalib yang menjual rumah-rumah tersebut), kini tidak ada lagi milik mereka di Mekah. Dalam riwayat lain: مَنْزِلُنَا غَدًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِخَيْفِ بَنِي كِنَانَةَ حَيْثُ تَقَاسَمُوا عَلَى الْكُفْرِ
Artinya: “Tempat kami besok, insya Allah, di Khif Bani Kinanah, tempat mereka bersumpah atas kekafiran (untuk memboikot Bani Hasyim).”

Beliau memilih tempat itu untuk mengingatkan para sahabat akan penderitaan masa lalu, sekaligus sebagai bentuk rasa syukur atas kemenangan yang diberikan Allah.


Perlawanan Kecil di Bawah Mekah

Pasukan masuk ke Mekah tanpa perlawanan berarti—kecuali pasukan Khalid bin al-Walid. Di daerah bawah Mekah, berkumpul orang-orang Quraisy yang paling keras memusuhi Rasulullah , termasuk yang membantu Bani Bakr melanggar Perjanjian Hudaibiyah. Mereka tidak rela menyerah tanpa pertumpahan darah dan tidak mengindahkan jaminan keamanan yang diberikan.

Mereka mempersenjatai diri. Di antara mereka adalah Shafwan bin UmayyahSuhail bin ‘Amr‘Ikrimah bin Abu Jahl, dan Hamas bin Qais.

Ketika pasukan Khalid memasuki wilayah itu, mereka menghujani pasukan Muslim dengan panah. Namun Khalid dengan cepat berhasil membubarkan mereka. Dari pasukan Muslim, hanya dua orang yang gugur karena tersesat jalan. Sementara dari pihak Quraisy, tiga belas orang (ada yang mengatakan dua puluh empat orang) tewas. Shafwan, ‘Ikrimah, dan Suhail segera melarikan diri.


Kisah Hamas bin Qais dan Istrinya

Hamas bin Qais termasuk salah satu yang mempersiapkan senjata sebelum pasukan Islam datang. Istrinya bertanya: “Mengapa engkau mempersiapkan apa yang aku lihat ini?”

Hamas menjawab: “Untuk menghadapi Muhammad dan para sahabatnya.”

Istrinya berkata: “Demi Allah, aku tidak melihat sesuatu pun yang mampu melawan Muhammad dan para sahabatnya!”

Hamas tetap bersikeras: “Demi Allah, aku berharap dapat menghadiahkan sebagian dari mereka untukmu (sebagai tawanan).”

Namun ketika pertempuran terjadi dan pasukannya kalah, Hamas datang terengah-engah sambil berkata: “Tutuplah pintu rumahku!”

Istrinya bertanya: “Lalu mana ucapanmu dulu?” Hamas menjawab dengan syair:

“Sekiranya engkau menyaksikan hari di Al-Khandamah…
Ketika Shafwan melarikan diri, dan ‘Ikrimah pun lari…
Dan Abu Yazid berdiri seperti orang bingung…
Mereka disambut oleh pedang-pedang kaum Muslimin…
Yang memotong setiap lengan dan tengkorak…
Maka tidak akan kau ucapkan sepatah kata pun untuk mencela…”


Perintah untuk Menghentikan Pembunuhan

Ketika seseorang berkata kepada Rasulullah : “Ini Khalid bin al-Walid sedang membunuh (musuh),” beliau segera bersabda:

قُمْ يَا فُلَانُ فَأْتِ خَالِدًا فَقُلْ لَهُ يَرْفَعُ يَدَيْهِ مِنَ الْقَتْلِ
Artinya: “Berdirilah, wahai Fulan, temui Khalid dan katakan kepadanya: ‘Angkatlah tanganmu dari (terus) membunuh.’”

Ini menunjukkan bahwa Rasulullah sangat menjaga darah, bahkan di saat kemenangan sekalipun. Beliau tidak ingin pertumpahan darah berlarut-larut.


Kemenangan Agung di Pagi Dua Puluh Ramadhan

Penaklukan Mekah yang mulia ini terjadi pada pagi hari tanggal 20 Ramadhan tahun ke-8 Hijriah. Tidak heran jika kaum Muslimin merayakan hari itu sebagai peringatan abadi: peringatan Fath al-Mubîn (kemenangan yang nyata).


Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahun Ke-8 Hijriah: Tiga Bintang Quraisy Menyinari Islam

Mu'tah: Ketika 3.000 Melawan 200.000

Umrah Perjanjian: Ketika Kerinduan Bertemu Keagungan