Fathu Makkah (Bagian 3)
Fathu Makkah: Detik-Detik Penaklukan yang Penuh Hikmah
Setelah Abu Sufyan masuk Islam dan diberikan jaminan
keamanan, Rasulullah ﷺ
menyusun strategi cerdas untuk menunjukkan kekuatan pasukan Islam kepada
penduduk Mekah. Tujuannya bukan untuk menakut-nakuti, melainkan agar mereka
sadar bahwa melawan hanya akan membawa kehancuran, sehingga mereka memilih
damai.
Abu Sufyan Menyaksikan Kemegahan Pasukan Islam
Rasulullah ﷺ
memerintahkan Abbas: “يَا عَبَّاسُ احْبِسْهُ بِمَضِيقِ الْوَادِي عِنْدَ خَطْمِ الْجَبَلِ
حَتَّى تَمُرَّ بِهِ جُنُودُ اللَّهِ فَيَرَاهَا”
Artinya: “Wahai Abbas, tahanlah dia (Abu Sufyan) di celah sempit lembah
dekat ujung gunung, hingga pasukan-pasukan Allah melewatinya sehingga ia
melihat mereka.”
Abbas pun membawa Abu Sufyan (ada yang mengatakan bersama
Hakim dan Budail) ke tempat yang diperintahkan. Pasukan demi pasukan lewat
dengan membawa bendera masing-masing.
- Ketika
lewat pasukan Ghifar, Abu Sufyan bertanya: “Wahai Abbas, siapa
ini?” Abbas menjawab: “Ghifar.” Abu Sufyan berkata: “Apa urusanku dengan
Ghifar?”
- Begitu
seterusnya setiap kali pasukan lewat, ia meremehkan. Hingga akhirnya
datang pasukan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia bertanya: “Wahai
Abbas, siapa ini?”
- Abbas
menjawab: “Ini adalah kaum Anshar. Pemimpin mereka Sa’d bin
‘Ubadah, dan dialah pembawa bendera.”
Sa’d bin ‘Ubadah —dengan penuh
semangat—berseru: “Hari ini adalah hari pertempuran dahsyat! Hari ini,
Ka’bah dihalalkan (untuk dihancurkan)!”
Mendengar itu, Abu Sufyan berkata kepada Abbas: “Wahai
Abbas, sungguh indah hari yang penuh dengan penjagaan kehormatan dan
pemeliharaan perjanjian!” (maksudnya ia mengingatkan bahwa pernyataan Sa’d
tidak sesuai dengan semangat perdamaian).
🌿 Kumpulan Hijau: Pasukan
Paling Agung
Kemudian muncullah kumpulan hijau (al-katibah
al-khadhra’). Yaitu pasukan Rasulullah ﷺ sendiri yang dikelilingi oleh kaum
Muhajirin. Yang terlihat dari mereka hanyalah kilatan mata dari balik besi
(pelindung perang). Bendera dibawa oleh Az-Zubair bin al-‘Awwam.
Abu Sufyan bertakjub: “سُبْحَانَ اللَّهِ يَا عَبَّاسُ،
مَنْ هَؤُلَاءِ؟” (Mahasuci Allah, wahai Abbas! Siapa mereka?)
Abbas menjawab: “Ini adalah Rasulullah ﷺ bersama kaum
Muhajirin.”
Abu Sufyan berkata: “Tidak seorang pun—demi Allah—yang mampu
menghadapi mereka. Sungguh, wahai Abu al-Fadhl, kerajaan keponakanmu pada pagi
ini benar-benar agung!”
Abbas menjawab: “Wahai Abu Sufyan, ini adalah kenabian!”
Abu Sufyan mengangguk: “Benar, demikianlah.”
Sikap Bijak Rasulullah terhadap Ucapan Sa’d bin ‘Ubadah
Abbas menyampaikan kepada Rasulullah ﷺ ucapan Sa’d bin
‘Ubadah yang kontroversial itu. Rasulullah ﷺ bersabda:
“كَذَبَ
سَعْدٌ، وَلَكِنْ هَذَا يَوْمٌ يُعَظِّمُ اللَّهُ فِيهِ الْكَعْبَةَ، وَيَوْمٌ
تُكْسَى فِيهِ الْكَعْبَةُ”
Artinya: “Sa’d keliru. Akan tetapi, hari ini adalah hari di mana Allah
mengagungkan Ka’bah, dan hari di mana Ka’bah dipakaikan (kiswah).”
Rasulullah ﷺ
kemudian memerintahkan agar bendera diambil dari Sa’d dan diberikan
kepada Qais bin Sa’d (putranya sendiri). Ada yang mengatakan
diberikan kepada Ali, atau Az-Zubair. Pendapat yang kuat adalah yang
pertama—kepada putranya.
Kebijaksanaan ini luar biasa: Sa’d tidak terlalu kecewa
karena bendera tetap berada di keluarganya (putranya), sekaligus beliau menegur
Sa’d karena ucapannya yang kurang tepat di hadapan Abu Sufyan yang baru masuk
Islam. Tindakan ini menjaga perasaan semua pihak.
Abu Sufyan Kembali ke Mekah: Menyerukan Jaminan Keamanan
Abu Sufyan segera kembali ke Mekah dengan cepat. Setibanya
di sana, ia berseru sekeras-kerasnya:
“يَا
مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، هَذَا مُحَمَّدٌ قَدْ جَاءَكُمْ فِيمَا لَا قِبَلَ لَكُمْ
بِهِ!! فَمَنْ دَخَلَ دَارَ أَبِي سُفْيَانَ فَهُوَ آمِنٌ”
Artinya: “Wahai sekalian Quraisy, ini Muhammad telah datang kepada kalian
dengan sesuatu yang tidak mampu kalian hadapi! Barang siapa masuk ke dalam
rumah Abu Sufyan, ia aman.”
Mereka bertanya: “Apa gunanya rumahmu?” Abu Sufyan
melanjutkan: “وَمَنْ
أَغْلَقَ عَلَيْهِ بَابَهُ فَهُوَ آمِنٌ، وَمَنْ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَهُوَ آمِنٌ” (Barang
siapa menutup pintu rumahnya, ia aman. Barang siapa masuk masjid, ia aman).
Maka penduduk Mekah pun berpencar—ada yang ke rumah
masing-masing, ada yang ke Masjidil Haram. Kecuali segelintir orang yang masih
terbakar semangat fanatisme dan bertekad untuk bertempur.
Memasuki Mekah: Strategi Empat Penjuru
Pasukan Islam tiba di Dzu Thawa. Di sinilah
Rasulullah ﷺ—sebagai
pemimpin yang cerdas dan berpengalaman—membagi pasukan menjadi beberapa
kelompok. Beliau berpesan agar mereka menahan tangan dan tidak
memerangi kecuali siapa yang memerangi mereka.
Beliau memerintahkan:
- Khalid
bin al-Walid masuk dari bagian bawah Mekah (dari Kada).
- Az-Zubair
bin al-‘Awwam bersama pasukannya masuk dari sisi utara.
- Qais
bin Sa’d bin ‘Ubadah al-Anshari masuk dari sisi barat.
- Rasulullah
ﷺ
sendiri masuk dari bagian atas Mekah (dari Kada' —dengan
fathah), ditemani Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah dan
pasukannya.
Beliau menunggangi untanya, merendahkan kepalanya hingga
rambut janggutnya menyentuh pelana—sebagai wujud kerendahan hati kepada Allah
dan rasa syukur, karena Allah telah memuliakannya dengan kemenangan yang agung
ini. Di belakangnya, ia membonceng Usamah bin Zaid.
Ketika tiba di Al-Hajun, beliau memerintahkan
agar benderanya ditancapkan di sana dan sebuah kemah didirikan untuknya. Beliau
beristirahat bersama dua istrinya, Maimunah dan Ummu
Salamah.
Usamah bin Zaid bertanya: “Di mana engkau akan
turun besok, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab dengan penuh makna:
“وَهَلْ
تَرَكَ لَنَا عَقِيلٌ مِنْ رُبَاعٍ أَوْ دُورٍ؟”
Artinya: “Apakah ‘Aqil meninggalkan untuk kami (sedikit pun) rumah atau
tempat tinggal?” (HR. Bukhari)
Maksudnya, setelah Bani Hasyim diasingkan dan rumah-rumah
mereka dirampas oleh Quraisy (termasuk ‘Aqil bin Abi Thalib yang menjual
rumah-rumah tersebut), kini tidak ada lagi milik mereka di Mekah. Dalam riwayat
lain: “مَنْزِلُنَا
غَدًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِخَيْفِ بَنِي كِنَانَةَ حَيْثُ تَقَاسَمُوا عَلَى
الْكُفْرِ”
Artinya: “Tempat kami besok, insya Allah, di Khif Bani Kinanah, tempat
mereka bersumpah atas kekafiran (untuk memboikot Bani Hasyim).”
Beliau memilih tempat itu untuk mengingatkan para sahabat
akan penderitaan masa lalu, sekaligus sebagai bentuk rasa syukur atas
kemenangan yang diberikan Allah.
Perlawanan Kecil di Bawah Mekah
Pasukan masuk ke Mekah tanpa perlawanan berarti—kecuali
pasukan Khalid bin al-Walid. Di daerah bawah Mekah, berkumpul orang-orang
Quraisy yang paling keras memusuhi Rasulullah ﷺ, termasuk yang membantu Bani Bakr
melanggar Perjanjian Hudaibiyah. Mereka tidak rela menyerah tanpa pertumpahan
darah dan tidak mengindahkan jaminan keamanan yang diberikan.
Mereka mempersenjatai diri. Di antara mereka adalah Shafwan
bin Umayyah, Suhail bin ‘Amr, ‘Ikrimah bin Abu Jahl,
dan Hamas bin Qais.
Ketika pasukan Khalid memasuki wilayah itu, mereka
menghujani pasukan Muslim dengan panah. Namun Khalid dengan cepat berhasil
membubarkan mereka. Dari pasukan Muslim, hanya dua orang yang
gugur karena tersesat jalan. Sementara dari pihak Quraisy, tiga belas
orang (ada yang mengatakan dua puluh empat orang) tewas. Shafwan,
‘Ikrimah, dan Suhail segera melarikan diri.
Kisah Hamas bin Qais dan Istrinya
Hamas bin Qais termasuk salah satu yang
mempersiapkan senjata sebelum pasukan Islam datang. Istrinya bertanya: “Mengapa
engkau mempersiapkan apa yang aku lihat ini?”
Hamas menjawab: “Untuk menghadapi Muhammad dan para
sahabatnya.”
Istrinya berkata: “Demi Allah, aku tidak melihat sesuatu pun
yang mampu melawan Muhammad dan para sahabatnya!”
Hamas tetap bersikeras: “Demi Allah, aku berharap dapat
menghadiahkan sebagian dari mereka untukmu (sebagai tawanan).”
Namun ketika pertempuran terjadi dan pasukannya kalah, Hamas
datang terengah-engah sambil berkata: “Tutuplah pintu rumahku!”
Istrinya bertanya: “Lalu mana ucapanmu dulu?” Hamas menjawab
dengan syair:
“Sekiranya engkau menyaksikan hari di Al-Khandamah…
Ketika Shafwan melarikan diri, dan ‘Ikrimah pun lari…
Dan Abu Yazid berdiri seperti orang bingung…
Mereka disambut oleh pedang-pedang kaum Muslimin…
Yang memotong setiap lengan dan tengkorak…
Maka tidak akan kau ucapkan sepatah kata pun untuk mencela…”
Perintah untuk Menghentikan Pembunuhan
Ketika seseorang berkata kepada Rasulullah ﷺ: “Ini Khalid bin
al-Walid sedang membunuh (musuh),” beliau segera bersabda:
“قُمْ
يَا فُلَانُ فَأْتِ خَالِدًا فَقُلْ لَهُ يَرْفَعُ يَدَيْهِ مِنَ الْقَتْلِ”
Artinya: “Berdirilah, wahai Fulan, temui Khalid dan katakan kepadanya:
‘Angkatlah tanganmu dari (terus) membunuh.’”
Ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ sangat menjaga darah, bahkan di saat
kemenangan sekalipun. Beliau tidak ingin pertumpahan darah berlarut-larut.
Kemenangan Agung di Pagi Dua Puluh Ramadhan
Penaklukan Mekah yang mulia ini terjadi pada pagi
hari tanggal 20 Ramadhan tahun ke-8 Hijriah. Tidak heran jika kaum Muslimin
merayakan hari itu sebagai peringatan abadi: peringatan Fath al-Mubîn
(kemenangan yang nyata).
Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah
Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar
Posting Komentar