Fathu Makkah (Bagian 1)

seorang laki-laki berpakaian Arab kuno berdiri di halaman sederhana kota Madinah, mengangkat tangan dan membuka mulut seolah sedang melantunkan syair dengan penuh penghayatan. Di depannya, seorang tokoh utama dengan jubah putih digambarkan dari sudut belakang duduk bersila di atas tikar, kepalanya sedikit menunduk mendengarkan dengan saksama. Di sekeliling mereka, beberapa laki-laki lain duduk dengan sikap hormat. Latar belakang adalah dinding tanah liat, pohon kurma, dan langit biru cerah dengan awan tipis. Suasana penuh ketegangan yang khidmat, namun tidak ada kekerasan atau senjata yang terlihat. Cahaya matahari pagi yang keemasan menyinari pemandangan.

Pendahuluan: Perjanjian yang Terjaga Selama Dua Tahun

Setelah Perjanjian Hudaibiyah disepakati, salah satu poin pentingnya adalah: siapa yang ingin bergabung dalam perlindungan Rasulullah , silakan; dan siapa yang ingin bergabung dalam perlindungan Quraisy, silakan. Maka suku Khuza'ah memilih masuk ke dalam perlindungan Rasulullah , sementara suku Bani Bakr memilih berada di pihak Quraisy.

Selama hampir dua tahun, perjanjian berjalan dengan damai. Tidak ada satu pun kaum Muslimin yang melanggar kesepakatan. Namun setelah Perang Mu'tah, keadaan berubah. Quraisy mulai membayangkan bahwa kaum Muslimin telah melemah dan kehilangan wibawa. Bisikan-bisikan jahat pun menyusup ke hati Bani Bakr untuk menyerang Khuza'ah, sekutu Rasulullah .


Pelanggaran di Malam Buta: Penyerangan terhadap Khuza'ah

Suku Bani Bakr dan Khuza'ah sebenarnya memiliki dendam lama yang tertinggal dari masa jahiliah. Maka ketika angin kesempatan bertiup, Bani Bakr bergerak. Mereka menyergap Khuza'ah di sebuah mata air bernama Al-Watir pada malam hari, membunuh beberapa orang mereka. Yang lebih memalukan, Quraisy ikut membantu dengan mengirim pasukan dan senjata di bawah kegelapan malam.

Pertempuran terus berlangsung hingga Khuza'ah terdesak masuk ke tanah haram (Mekah). Mereka berlindung di rumah Budail bin Warqa' dan seorang budak mereka yang bernama Abu Rafi'. Namun Quraisy dan Bani Bakr tidak peduli akan kesucian tanah haram.


Utusan Khuza'ah: Seruan Darurat ke Madinah

Amr bin Salim segera menaiki kudanya, melesat ke Madinah menemui Rasulullah . Dengan nada pilu ia melantunkan syair yang menggugah:

يَا رَبِّ إِنِّي نَاشِدٌ مُحَمَّدًا … حِلْفَ أَبِيهِ وَأَبِينَا الأَتْلَدَا

Artinya: “Wahai Tuhanku, sungguh aku memohon kepada Muhammad demi perjanjian ayahnya dan ayah kami yang telah lama.”

فَانْصُرْ رَسُولَ اللَّهِ نَصْرًا أَعْتَدَا … وَادْعُ عِبَادَ اللَّهِ يَأْتُوا مَدَدَا

Artinya: “Maka tolonglah Rasulullah dengan pertolongan yang siap sedia. Panggillah hamba-hamba Allah, semoga mereka datang membantu.”

إِنَّ قُرَيْشًا أَخْلَفُوكَ الْمَوْعِدَا … وَزَعَمُوا أَنَّ لَسْتَ تَدْعُو أَحَدَا

Artinya: “Sungguh Quraisy telah mengingkari janjinya kepadamu, dan mereka mengira bahwa engkau tidak akan menyeru siapa pun.”

هُمْ بَيَّتُونَا بِالْوَتِيرِ هُجَّدَا … وَقَتَلُونَا رُكَّعًا وَسُجَّدَا

Artinya: “Mereka menyergap kami di Al-Watir di malam buta, dan membunuh kami dalam keadaan rukuk dan sujud (sedang salat).”

Mendengar ini, Rasulullah bersabda dengan tegas:

نُصِرْتَ يَا عَمْرُو بْنَ سَالِمٍ

Artinya: “Engkau mendapat pertolongan, wahai Amr bin Salim.”

Tak lama kemudian, Budail bin Warqa' bersama beberapa orang Khuza'ah juga datang ke Madinah mengonfirmasi kejadian tersebut.


Abu Sufyan: Misi Diplomasi yang Gagal

Quraisy mulai menyadari kesalahan besar mereka. Mereka mengirim Abu Sufyan ke Madinah untuk memperbarui perjanjian dan memperpanjang masa gencatan senjata. Abu Sufyan berangkat dengan penuh harap.

Sesampainya di Madinah, ia langsung menuju rumah putrinya, Ummu Habibah —istri Rasulullah . Ia hendak duduk di atas hamparan Rasulullah . Namun Ummu Habibah segera melipatnya. Abu Sufyan terkejut: “Wahai putriku, apakah engkau menganggap hamparan ini tidak layak untukku, atau engkau menganggap aku tidak layak untuknya?”

Ummu Habibah menjawab dengan berani: “Ini adalah hamparan Rasulullah , sedangkan engkau adalah orang musyrik yang najis. Aku tidak ingin engkau duduk di atasnya.”

Abu Sufyan tercengang. Ia berkata dengan nada kecewa: “Demi Allah, setelah aku (pergi), engkau benar-benar telah mendapat keburukan.” Ia pun keluar dengan marah.

Kemudian ia menemui Rasulullah langsung untuk meminta pembaruan perjanjian. Namun beliau tidak memberinya jawaban. Abu Sufyan lalu mendatangi Abu Bakar, memintanya menjadi perantara. Abu Bakar menolak. Ia mendatangi Umar bin al-Khaththab. Umar malah berkata tegas:

“Aku akan menjadi perantara kalian kepada Rasulullah ? Demi Allah, seandainya aku tidak menemukan (pasukan) selain semut, pasti aku akan memerangi kalian dengannya.”

Akhirnya Abu Sufyan mendatangi Ali bin Abi Thalib di rumah Fathimah (putri Rasulullah). Di samping Ali, putranya yang masih kecil, Hasan, sedang bermain merangkak. Abu Sufyan berkata: “Wahai Ali, engkau orang yang paling dekat hubungan kerabat denganku. Aku datang membawa hajat, janganlah aku pulang dengan kecewa.”

Ali menjawab: “Celaka engkau, wahai Abu Sufyan! Demi Allah, Rasulullah telah bertekad bulat untuk suatu urusan. Kami tidak berani membicarakan hal itu kepadanya.”

Abu Sufyan lalu berpaling kepada Fathimah: “Maukah engkau menyuruh putramu yang kecil ini untuk memberikan jaminan keamanan di antara manusia? Kelak ia akan menjadi pemimpin Arab sepanjang masa.”

Fathimah menjawab: “Demi Allah, anakku ini belum mampu memberikan jaminan keamanan. Tidak ada seorang pun yang bisa memberikan jaminan di atas (keputusan) Rasulullah .”

Abu Sufyan kembali kepada Ali: “Wahai Abu Hasan, aku melihat keadaan semakin sulit bagiku. Beri aku nasihat.”

Ali berkata: “Demi Allah, aku tidak tahu sesuatu pun yang bisa berguna bagimu. Namun engkau adalah pemimpin Bani Kinanah. Bangkitlah, berikan jaminan keamanan di antara manusia, lalu kembalilah ke negerimu.”

Abu Sufyan bertanya: “Apakah menurutmu itu berguna sedikit pun bagiku?”

Ali menjawab: “Tidak, demi Allah. Namun aku tidak menemukan jalan lain bagimu.”

Abu Sufyan pun berdiri dan berkata lantang: “Sungguh aku telah memberikan jaminan keamanan di antara manusia.” Ia pun pulang ke Mekah. Ketika ditanya oleh Quraisy apakah Muhammad menyetujui jaminannya, ia menjawab tidak. Maka mereka berkata: “Celaka engkau! Laki-laki itu hanya mempermainkanmu. Omonganmu sama sekali tidak berguna bagi kami.”


Persiapan Kilat: Mengepung Mekah Tanpa Pertumpahan Darah

Rasulullah segera memerintahkan persiapan besar-besaran. Beliau merahasiakan tujuan sebenarnya, hanya memberitahukan kepada segelintir sahabat terdekat seperti Abu Bakar. Tujuannya jelas: mengejutkan Quraisy di pusat kekuasaan mereka sehingga mereka tidak sempat mempersenjatai diri. Ini dilakukan semata-mata demi menjaga darah agar tidak tertumpah di tanah haram.

Ketika pasukan telah siap, barulah Rasulullah mengumumkan tujuan mereka. Beliau berdoa:

اللَّهُمَّ خُذِ الْعُيُونَ وَالْأَخْبَارَ عَنْ قُرَيْشٍ حَتَّى نَبْغَتَهَا فِي بِلَادِهَا

Artinya: “Ya Allah, tahanlah mata-mata dan berita-berita dari Quraisy sehingga kami dapat mengejutkan mereka di negeri mereka.”


Surat Hâtib bin Abi Balta'ah: Kesalahan Seorang Sahabat

Namun di tengah kesiapan itu, terjadi insiden yang mendebarkan. Hâtib bin Abi Balta'ah —seorang sahabat yang ikut dalam Perang Badar—menulis surat rahasia kepada Quraisy memberitahukan rencana gerakan Rasulullah . Ia memberikan surat itu kepada seorang wanita budak bernama Sarah untuk disampaikan. Sang wanita menyembunyikan surat itu di sanggul rambutnya.

Allah segera memberitahukan hal ini kepada Rasulullah melalui wahyu. Beliau mengutus Ali bin Abi ThalibAz-Zubair, dan Al-Miqdad dengan perintah:

انْطَلِقُوا حَتَّى تَأْتُوا (رَوْضَةَ خَاخٍ) فَإِنَّ بِهَا ظَعِينَةً مَعَهَا كِتَابٌ، فَخُذُوهُ مِنْهَا

Artinya: “Pergilah hingga kalian sampai ke (Rawdhah Khakh). Di sana ada seorang wanita (yang mengendarai unta) bersama surat. Ambillah surat itu darinya.”

Ketiga sahabat itu segera berangkat, kuda-kuda mereka berpacu kencang. Mereka berhasil menghentikan wanita itu. Ia mengaku tidak membawa surat, tetapi setelah ditegur dan diancam akan dibuka pakaiannya (jika tidak mengeluarkan surat), ia ketakutan dan mengeluarkan surat dari sanggul rambutnya.

Surat itu dibawa kepada Rasulullah . Isinya:

“Wahai sekalian Quraisy, sesungguhnya Rasulullah datang kepada kalian dengan pasukan bagaikan malam (yang gelap) dan bergerak bagaikan banjir. Demi Allah, sekiranya ia datang sendirian pun, pasti Allah akan menolongnya dan menggenapi janji-Nya. Maka perhatikanlah diri kalian sendiri. Wassalam.”

Rasulullah memanggil Hâtib dan bertanya: “Apa ini, wahai Hâtib?”

Hâtib menjawab dengan jujur: “Wahai Rasulullah, janganlah engkau tergesa-gesa menghukumku. Aku adalah seorang yang berafiliasi (menjadi sekutu) kepada Quraisy, bukan dari keturunan asli mereka. Sementara para Muhajirin lainnya memiliki kerabat di Mekah yang melindungi keluarga dan harta mereka. Aku tidak memiliki kerabat di sana. Maka aku ingin berbuat baik kepada mereka, agar mereka melindungi keluargaku. Aku tidak melakukannya karena murtad atau ridha dengan kekafiran setelah Islam.”

Mendengar penjelasan yang jujur itu, Rasulullah bersabda kepada para sahabat yang hadir:

أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكُمْ

Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya ia (Hâtib) telah jujur kepada kalian.”

Namun Umar bin al-Khaththab tidak bisa menahan amarahnya: “Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal leher orang munafik ini!”

Rasulullah menjawab dengan bijaksana:

إِنَّهُ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا، وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللَّهَ اطَّلَعَ عَلَى مَنْ شَهِدَ بَدْرًا فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ

Artinya: “Sungguh ia telah ikut Perang Badr. Tahukah engkau, boleh jadi Allah telah melihat orang-orang yang ikut Perang Badr lalu berfirman: ‘Beramallah sesukamu, sungguh Aku telah mengampuni kalian.’”

Mendengar itu, Umar pun menangis dan berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”


Pelajaran dari Langit: Awal Surat Al-Mumtahanah

Allah menurunkan ayat-ayat pertama Surat Al-Mumtahanah sebagai teguran ilahi sekaligus pelajaran bagi seluruh umat Islam. Firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ ۙ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي ۚ تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka rasa kasih sayang, padahal mereka telah mengingkari kebenaran yang datang kepadamu. Mereka mengusir Rasul dan (juga mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu menyampaikan rasa kasih sayang kepada mereka secara rahasia, padahal Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Barang siapa di antara kamu yang melakukannya, maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus.”
*(QS. Al-Mumtahanah: 1)*


Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ghazwah Banu Qurayza: Pengkhianatan dan Keadilan

Mu'tah: Ketika 3.000 Melawan 200.000

Umrah Perjanjian: Ketika Kerinduan Bertemu Keagungan