Fathu Makkah (Bagian 1)
Pendahuluan: Perjanjian yang Terjaga Selama Dua Tahun
Setelah Perjanjian Hudaibiyah disepakati, salah satu poin
pentingnya adalah: siapa yang ingin bergabung dalam perlindungan
Rasulullah ﷺ,
silakan; dan siapa yang ingin bergabung dalam perlindungan Quraisy, silakan.
Maka suku Khuza'ah memilih masuk ke dalam perlindungan
Rasulullah ﷺ,
sementara suku Bani Bakr memilih berada di pihak Quraisy.
Selama hampir dua tahun, perjanjian berjalan dengan damai.
Tidak ada satu pun kaum Muslimin yang melanggar kesepakatan. Namun setelah
Perang Mu'tah, keadaan berubah. Quraisy mulai membayangkan bahwa kaum Muslimin
telah melemah dan kehilangan wibawa. Bisikan-bisikan jahat pun menyusup ke hati
Bani Bakr untuk menyerang Khuza'ah, sekutu Rasulullah ﷺ.
Pelanggaran di Malam Buta: Penyerangan terhadap Khuza'ah
Suku Bani Bakr dan Khuza'ah sebenarnya memiliki dendam lama
yang tertinggal dari masa jahiliah. Maka ketika angin kesempatan bertiup, Bani
Bakr bergerak. Mereka menyergap Khuza'ah di sebuah mata air bernama Al-Watir pada
malam hari, membunuh beberapa orang mereka. Yang lebih memalukan, Quraisy
ikut membantu dengan mengirim pasukan dan senjata di bawah kegelapan malam.
Pertempuran terus berlangsung hingga Khuza'ah terdesak masuk
ke tanah haram (Mekah). Mereka berlindung di rumah Budail bin Warqa' dan
seorang budak mereka yang bernama Abu Rafi'. Namun Quraisy dan Bani
Bakr tidak peduli akan kesucian tanah haram.
Utusan Khuza'ah: Seruan Darurat ke Madinah
Amr bin Salim segera menaiki kudanya, melesat ke
Madinah menemui Rasulullah ﷺ.
Dengan nada pilu ia melantunkan syair yang menggugah:
يَا
رَبِّ إِنِّي نَاشِدٌ مُحَمَّدًا … حِلْفَ أَبِيهِ وَأَبِينَا الأَتْلَدَا
Artinya: “Wahai Tuhanku, sungguh aku memohon kepada
Muhammad demi perjanjian ayahnya dan ayah kami yang telah lama.”
فَانْصُرْ
رَسُولَ اللَّهِ نَصْرًا أَعْتَدَا … وَادْعُ عِبَادَ اللَّهِ يَأْتُوا مَدَدَا
Artinya: “Maka tolonglah Rasulullah dengan pertolongan
yang siap sedia. Panggillah hamba-hamba Allah, semoga mereka datang membantu.”
إِنَّ
قُرَيْشًا أَخْلَفُوكَ الْمَوْعِدَا … وَزَعَمُوا أَنَّ لَسْتَ تَدْعُو أَحَدَا
Artinya: “Sungguh Quraisy telah mengingkari janjinya
kepadamu, dan mereka mengira bahwa engkau tidak akan menyeru siapa pun.”
هُمْ
بَيَّتُونَا بِالْوَتِيرِ هُجَّدَا … وَقَتَلُونَا رُكَّعًا وَسُجَّدَا
Artinya: “Mereka menyergap kami di Al-Watir di malam
buta, dan membunuh kami dalam keadaan rukuk dan sujud (sedang salat).”
Mendengar ini, Rasulullah ﷺ bersabda dengan tegas:
“نُصِرْتَ
يَا عَمْرُو بْنَ سَالِمٍ”
Artinya: “Engkau mendapat pertolongan, wahai Amr bin
Salim.”
Tak lama kemudian, Budail bin Warqa' bersama
beberapa orang Khuza'ah juga datang ke Madinah mengonfirmasi kejadian tersebut.
Abu Sufyan: Misi Diplomasi yang Gagal
Quraisy mulai menyadari kesalahan besar mereka. Mereka
mengirim Abu Sufyan ke Madinah untuk memperbarui perjanjian
dan memperpanjang masa gencatan senjata. Abu Sufyan berangkat dengan penuh
harap.
Sesampainya di Madinah, ia langsung menuju rumah
putrinya, Ummu Habibah —istri Rasulullah ﷺ. Ia hendak duduk di
atas hamparan Rasulullah ﷺ.
Namun Ummu Habibah segera melipatnya. Abu Sufyan terkejut: “Wahai putriku,
apakah engkau menganggap hamparan ini tidak layak untukku, atau engkau
menganggap aku tidak layak untuknya?”
Ummu Habibah menjawab dengan berani: “Ini adalah hamparan
Rasulullah ﷺ,
sedangkan engkau adalah orang musyrik yang najis. Aku tidak ingin engkau duduk
di atasnya.”
Abu Sufyan tercengang. Ia berkata dengan nada kecewa: “Demi
Allah, setelah aku (pergi), engkau benar-benar telah mendapat keburukan.” Ia
pun keluar dengan marah.
Kemudian ia menemui Rasulullah ﷺ langsung untuk meminta pembaruan
perjanjian. Namun beliau tidak memberinya jawaban. Abu Sufyan lalu
mendatangi Abu Bakar, memintanya menjadi perantara. Abu Bakar
menolak. Ia mendatangi Umar bin al-Khaththab. Umar malah berkata
tegas:
“Aku akan menjadi perantara kalian kepada Rasulullah ﷺ?
Demi Allah, seandainya aku tidak menemukan (pasukan) selain semut, pasti aku
akan memerangi kalian dengannya.”
Akhirnya Abu Sufyan mendatangi Ali bin Abi Thalib di
rumah Fathimah (putri Rasulullah). Di samping Ali, putranya
yang masih kecil, Hasan, sedang bermain merangkak. Abu Sufyan
berkata: “Wahai Ali, engkau orang yang paling dekat hubungan kerabat denganku.
Aku datang membawa hajat, janganlah aku pulang dengan kecewa.”
Ali menjawab: “Celaka engkau, wahai Abu Sufyan! Demi Allah,
Rasulullah ﷺ
telah bertekad bulat untuk suatu urusan. Kami tidak berani membicarakan hal itu
kepadanya.”
Abu Sufyan lalu berpaling kepada Fathimah: “Maukah engkau
menyuruh putramu yang kecil ini untuk memberikan jaminan keamanan di antara
manusia? Kelak ia akan menjadi pemimpin Arab sepanjang masa.”
Fathimah menjawab: “Demi Allah, anakku ini belum mampu
memberikan jaminan keamanan. Tidak ada seorang pun yang bisa memberikan jaminan
di atas (keputusan) Rasulullah ﷺ.”
Abu Sufyan kembali kepada Ali: “Wahai Abu Hasan, aku melihat
keadaan semakin sulit bagiku. Beri aku nasihat.”
Ali berkata: “Demi Allah, aku tidak tahu sesuatu pun yang
bisa berguna bagimu. Namun engkau adalah pemimpin Bani Kinanah. Bangkitlah,
berikan jaminan keamanan di antara manusia, lalu kembalilah ke negerimu.”
Abu Sufyan bertanya: “Apakah menurutmu itu berguna sedikit
pun bagiku?”
Ali menjawab: “Tidak, demi Allah. Namun aku tidak menemukan
jalan lain bagimu.”
Abu Sufyan pun berdiri dan berkata lantang: “Sungguh aku
telah memberikan jaminan keamanan di antara manusia.” Ia pun pulang ke Mekah.
Ketika ditanya oleh Quraisy apakah Muhammad menyetujui jaminannya, ia menjawab
tidak. Maka mereka berkata: “Celaka engkau! Laki-laki itu hanya
mempermainkanmu. Omonganmu sama sekali tidak berguna bagi kami.”
Persiapan Kilat: Mengepung Mekah Tanpa Pertumpahan Darah
Rasulullah ﷺ
segera memerintahkan persiapan besar-besaran. Beliau merahasiakan tujuan
sebenarnya, hanya memberitahukan kepada segelintir sahabat terdekat
seperti Abu Bakar. Tujuannya jelas: mengejutkan Quraisy di pusat
kekuasaan mereka sehingga mereka tidak sempat mempersenjatai diri. Ini
dilakukan semata-mata demi menjaga darah agar tidak tertumpah di tanah haram.
Ketika pasukan telah siap, barulah Rasulullah ﷺ
mengumumkan tujuan mereka. Beliau berdoa:
“اللَّهُمَّ
خُذِ الْعُيُونَ وَالْأَخْبَارَ عَنْ قُرَيْشٍ حَتَّى نَبْغَتَهَا فِي بِلَادِهَا”
Artinya: “Ya Allah, tahanlah mata-mata dan berita-berita
dari Quraisy sehingga kami dapat mengejutkan mereka di negeri mereka.”
Surat Hâtib bin Abi Balta'ah: Kesalahan Seorang Sahabat
Namun di tengah kesiapan itu, terjadi insiden yang
mendebarkan. Hâtib bin Abi Balta'ah —seorang sahabat yang ikut
dalam Perang Badar—menulis surat rahasia kepada Quraisy memberitahukan rencana
gerakan Rasulullah ﷺ.
Ia memberikan surat itu kepada seorang wanita budak bernama Sarah untuk
disampaikan. Sang wanita menyembunyikan surat itu di sanggul rambutnya.
Allah segera memberitahukan hal ini kepada Rasulullah ﷺ
melalui wahyu. Beliau mengutus Ali bin Abi Thalib, Az-Zubair,
dan Al-Miqdad dengan perintah:
“انْطَلِقُوا
حَتَّى تَأْتُوا (رَوْضَةَ خَاخٍ) فَإِنَّ بِهَا ظَعِينَةً مَعَهَا كِتَابٌ،
فَخُذُوهُ مِنْهَا”
Artinya: “Pergilah hingga kalian sampai ke (Rawdhah
Khakh). Di sana ada seorang wanita (yang mengendarai unta) bersama surat.
Ambillah surat itu darinya.”
Ketiga sahabat itu segera berangkat, kuda-kuda mereka
berpacu kencang. Mereka berhasil menghentikan wanita itu. Ia mengaku tidak
membawa surat, tetapi setelah ditegur dan diancam akan dibuka pakaiannya (jika
tidak mengeluarkan surat), ia ketakutan dan mengeluarkan surat dari sanggul
rambutnya.
Surat itu dibawa kepada Rasulullah ﷺ. Isinya:
“Wahai sekalian Quraisy, sesungguhnya Rasulullah datang
kepada kalian dengan pasukan bagaikan malam (yang gelap) dan bergerak bagaikan
banjir. Demi Allah, sekiranya ia datang sendirian pun, pasti Allah akan
menolongnya dan menggenapi janji-Nya. Maka perhatikanlah diri kalian sendiri.
Wassalam.”
Rasulullah ﷺ
memanggil Hâtib dan bertanya: “Apa ini, wahai Hâtib?”
Hâtib menjawab dengan jujur: “Wahai Rasulullah, janganlah
engkau tergesa-gesa menghukumku. Aku adalah seorang yang berafiliasi (menjadi
sekutu) kepada Quraisy, bukan dari keturunan asli mereka. Sementara para
Muhajirin lainnya memiliki kerabat di Mekah yang melindungi keluarga dan harta
mereka. Aku tidak memiliki kerabat di sana. Maka aku ingin berbuat baik kepada
mereka, agar mereka melindungi keluargaku. Aku tidak melakukannya karena murtad
atau ridha dengan kekafiran setelah Islam.”
Mendengar penjelasan yang jujur itu, Rasulullah ﷺ
bersabda kepada para sahabat yang hadir:
“أَمَا
إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكُمْ”
Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya ia (Hâtib) telah jujur
kepada kalian.”
Namun Umar bin al-Khaththab tidak bisa menahan amarahnya:
“Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal leher orang munafik ini!”
Rasulullah ﷺ
menjawab dengan bijaksana:
“إِنَّهُ
قَدْ شَهِدَ بَدْرًا، وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللَّهَ اطَّلَعَ عَلَى مَنْ شَهِدَ
بَدْرًا فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ”
Artinya: “Sungguh ia telah ikut Perang Badr. Tahukah
engkau, boleh jadi Allah telah melihat orang-orang yang ikut Perang Badr lalu
berfirman: ‘Beramallah sesukamu, sungguh Aku telah mengampuni kalian.’”
Mendengar itu, Umar pun menangis dan berkata: “Allah dan
Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Pelajaran dari Langit: Awal Surat Al-Mumtahanah
Allah menurunkan ayat-ayat pertama Surat Al-Mumtahanah sebagai
teguran ilahi sekaligus pelajaran bagi seluruh umat Islam. Firman-Nya:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ
تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ
الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ ۙ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ
رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ
مَرْضَاتِي ۚ تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا
أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ
سَوَاءَ السَّبِيلِ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu
menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia yang kamu sampaikan
kepada mereka rasa kasih sayang, padahal mereka telah mengingkari kebenaran
yang datang kepadamu. Mereka mengusir Rasul dan (juga mengusir) kamu karena
kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad
di jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu
menyampaikan rasa kasih sayang kepada mereka secara rahasia, padahal Aku lebih
mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Barang siapa
di antara kamu yang melakukannya, maka sungguh dia telah tersesat dari jalan
yang lurus.”
*(QS. Al-Mumtahanah: 1)*
Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah
Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar
Posting Komentar