Dzat as-Salasil: Ekspedisi di Ujung Dingin dan Kemenangan Diplomasi

rombongan pasukan yang kembali ke Madinah setelah ekspedisi. Latar belakang adalah kota Madinah kuno dengan tembok tanah liat dan pepohonan kurma di kejauhan. Di depan gerbang kota, tampak barisan laki-laki dengan pakaian Arab kuno berjalan dengan tertib, wajah mereka menunjukkan kegembiraan yang tenang. Beberapa dari mereka membawa bendera kecil yang berkibar. Di sisi jalan, sekelompok anak kecil berlari menyambut dengan tangan terbuka, sementara para wanita berdiri di depan rumah-rumah dengan senyuman.

Ancaman dari Balik Lembah

Pada bulan Jumadil Akhir tahun ke-8 Hijriah, kabar sampai ke Madinah bahwa sekelompok suku Qudha'ah sedang berkumpul di balik daerah Wadi al-Qura (lemah-lembah yang berpenduduk). Mereka berniat menyerang Madinah. Rasulullah tidak bisa tinggal diam.

Beliau mengutus Amr bin al-Ash —yang belum lama masuk Islam—untuk memimpin tiga ratus pasukan dari kalangan terbaik kaum Muslimin. Pemilihan Amr bukan tanpa alasan. Ibu Amr berasal dari suku Bali (bagian dari Qudha'ah). Rasulullah berharap hubungan kekerabatan ini bisa meluluhkan hati suku-suku di sana dan mempermudah dakwah.

Amr pun berangkat dengan penuh semangat. Namun sesampainya di medan, ia melihat bahwa kekuatan musuh lebih besar dari perkiraan. Ia segera mengirim utusan ke Madinah meminta bala bantuan.


Bala Bantuan dari Para Pemuka

Rasulullah langsung menyerukan kepada kaum Muhajirin dan para sahabat senior untuk bergabung. Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab —dua sosok terhormat—segera menyatakan kesiapan mereka. Total dua ratus pasukan tambahan, semuanya dari kalangan pemuka Muhajirin.

Beliau menunjuk Abu Ubaidah bin al-Jarrah sebagai komandan atas bala bantuan ini, namun dengan wasiat khusus:

إِذَا أَنْتَ قَدِمْتَ عَلَى صَاحِبِكَ فَتَطَاوَعَا وَلَا تَخْتَلِفَا
Artinya: “Jika engkau tiba di tempat sahabatmu (Amr), maka bekerjalah sama-sama dengan penuh kerelaan, dan janganlah kalian berselisih.”


Ketika Dua Komandan Bertemu: Pelajaran Taat yang Agung

Sesampainya Abu Ubaidah di lokasi, Amr bin al-Ash menyambutnya dengan pernyataan: “Sesungguhnya engkau datang sebagai bala bantuan untukku.” Abu Ubaidah menjawab tegas: “Tidak. Aku memiliki kedudukanku sendiri (sebagai komandan yang ditunjuk Rasulullah), dan engkau memiliki kedudukanmu.”

Terjadilah perbedaan pendapat tentang siapa yang memimpin. Amr bersikukuh bahwa bala bantuan adalah untuk memperkuat pasukannya, sehingga ia tetap sebagai komandan. Abu Ubaidah pun mengingat pesan Rasulullah “Janganlah kalian berselisih.”

Dan di sinilah keindahan akhlak para sahabat. Abu Ubaidah —yang dikenal sebagai “orang kepercayaan umat ini”—bersikap lunak. Beliau berkata kepada Amr: “Wahai Amr, sungguh Rasulullah telah berpesan kepadaku agar kami tidak berselisih. Oleh karena itu, jika engkau tidak menaatiku, maka aku akan menaatimu.”

Dengan kerendahan hati ini, perselisihan pun sirna. Amr tetap memimpin, sementara Abu Ubaidah dan pasukannya berada di bawah komandonya. Inilah bentuk kepatuhan tertinggi: mengalah demi menjaga persatuan, meskipun secara hierarki ia sejajar atau bahkan lebih senior.


Pertempuran Singkat, Kemenangan Cepat

Pasukan gabungan bergerak menuju wilayah suku Bali dan Udzrah. Amr memimpin dengan cermat. Setiap kali mereka mendekati suatu perkampungan yang berisi kumpulan musuh, penduduknya justru melarikan diri. Hingga akhirnya mereka tiba di pusat kekuatan musuh.

Di sana, mereka bertemu dengan pasukan musuh yang tidak terlalu besar. Terjadilah pertempuran singkat. Panah berhamburan sejenak, lalu kaum Muslimin melakukan serangan mendadak. Musuh pun tercerai-berai dan melarikan diri ke berbagai penjuru. Kaum Muslimin kembali dengan kemenangan, setelah memperlihatkan kepada mereka keperkasaan Islam dan kekuasaannya.

Perang ini disebut Dzat as-Salasil. Ada beberapa penjelasan tentang penamaan ini: ada yang mengatakan karena nama sebuah mata air di tanah Juzam; ada yang mengatakan karena pasukan musuh mengikatkan diri satu sama lain (silsilah/rantai) agar tidak lari; ada pula yang mengatakan karena dinginnya malam yang terasa seperti rantai membeku.


Pelajaran Fikih dari Malam yang Dingin

Dalam perjalanan pulang, Amr bin al-Ash mengalami mimpi basah (junub). Malam itu sangat dingin —dingin yang menusuk tulang. Jika ia mandi wajib dengan air dingin, ia khawatir akan jatuh sakit atau bahkan binasa. Maka ia pun bertayamum dan tetap mengimami salat Subuh para sahabatnya.

Setibanya di Madinah, Rasulullah bertanya kepada para sahabat tentang perjalanan mereka. Ketika mendengar bahwa Amr memimpin salat dalam keadaan junub dan bertayamum, beliau bertanya:

يَا عَمْرُو، صَلَّيْتَ بِأَصْحَابِكَ وَأَنْتَ جُنُبٌ؟

Artinya: “Wahai Amr, engkau salat mengimami sahabatmu dalam keadaan junub?”

Amr menjawab dengan tenang:

“Wahai Rasulullah, aku bermimpi basah pada malam yang sangat dingin dalam Perang Dzat as-Salasil. Aku khawatir jika mandi dengan air dingin, aku akan binasa. Maka aku bertayamum, lalu aku salat Subuh bersama para sahabatku. Dan aku mendengar firman Allah:”

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Artinya: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.”*(QS. An-Nisa’: 29)*

Mendengar jawaban yang dilandasi dalil ini, Rasulullah pun tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa. Diamnya beliau adalah tanda persetujuan (taqrīr). Dan persetujuan Rasulullah adalah salah satu bentuk sunnah yang sah.

Dari sini, para ulama mengambil pelajaran bahwa tayamum dibolehkan karena sakit atau karena dingin yang mengkhawatirkan jiwa, sebagaimana yang dipraktikkan oleh Amr bin al-Ash.


Dampak Ekspedisi: Kemenangan Tanpa Pertumpahan Darah Besar

Keberhasilan ekspedisi ini tidak hanya diukur dari pertempuran kecil yang dimenangkan, tetapi lebih dari itu: ia mengembalikan wibawa Islam di perbatasan Syam. Suku-suku yang semula ragu atau bermusuhan mulai melunak.

Beberapa hasil penting dari ekspedisi Dzat as-Salasil:

  1. Kembalinya ikatan perjanjian antara suku-suku di wilayah utara dengan kaum Muslimin.
  2. Masuknya banyak orang dari suku Abs, Murrah, Dzubyan ke dalam Islam.
  3. Suku Fazarah bersama pemimpinnya Uyainah bin Hishn —yang sebelumnya keras kepala—memasuki perjanjian damai dengan Muslimin.
  4. Bani Sulaim di bawah pimpinan Al-Abbas bin Mirdas dan Bani Asyja’ juga ikut bergabung dalam aliansi.

Dengan demikian, hampir seluruh suku di sekitar Madinah yang belum memihak Islam kini menjadi sekutu atau bahkan masuk Islam. Kaum Muslimin menjadi kekuatan politik yang dominan di seluruh wilayah utara Jazirah Arab.


Hikmah di Balik Kisah

Dari ekspedisi yang singkat namun sarat makna ini, kita dapat memetik pelajaran:

  1. Kecerdasan Diplomasi – Rasulullah memilih Amr bin al-Ash karena memiliki ikatan keluarga dengan suku Bali. Ini menunjukkan pentingnya memahami latar belakang sosial dan budaya dalam dakwah.
  2. Ketaatan yang Didahulukan – Abu Ubaidah bin al-Jarrah, seorang sahabat senior, rela mengalah dan taat kepada Amr yang baru masuk Islam, demi mematuhi pesan Rasulullah .
  3. Prioritas Keselamatan Jiwa – Amr bin al-Ash tidak memaksakan diri mandi air dingin yang membahayakan. Ia menggunakan keringanan (rukhshah) tayamum. Dan Rasulullah membenarkannya.
  4. Kemenangan Hakiki adalah Hidayah – Kemenangan terbesar dari ekspedisi ini bukanlah membunuh musuh, tetapi menarik mereka ke dalam perjanjian damai dan Islam.

Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ghazwah Banu Qurayza: Pengkhianatan dan Keadilan

Mu'tah: Ketika 3.000 Melawan 200.000

Umrah Perjanjian: Ketika Kerinduan Bertemu Keagungan