Dzat as-Salasil: Ekspedisi di Ujung Dingin dan Kemenangan Diplomasi
Ancaman dari Balik Lembah
Pada bulan Jumadil Akhir tahun ke-8 Hijriah, kabar sampai ke
Madinah bahwa sekelompok suku Qudha'ah sedang berkumpul di
balik daerah Wadi al-Qura (lemah-lembah yang berpenduduk).
Mereka berniat menyerang Madinah. Rasulullah ﷺ tidak bisa tinggal diam.
Beliau mengutus Amr bin al-Ash —yang belum
lama masuk Islam—untuk memimpin tiga ratus pasukan dari kalangan terbaik kaum
Muslimin. Pemilihan Amr bukan tanpa alasan. Ibu Amr berasal dari suku Bali (bagian
dari Qudha'ah). Rasulullah ﷺ
berharap hubungan kekerabatan ini bisa meluluhkan hati suku-suku di sana dan
mempermudah dakwah.
Amr pun berangkat dengan penuh semangat. Namun sesampainya
di medan, ia melihat bahwa kekuatan musuh lebih besar dari perkiraan. Ia segera
mengirim utusan ke Madinah meminta bala bantuan.
Bala Bantuan dari Para Pemuka
Rasulullah ﷺ
langsung menyerukan kepada kaum Muhajirin dan para sahabat senior untuk
bergabung. Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin
al-Khaththab —dua sosok terhormat—segera menyatakan kesiapan mereka.
Total dua ratus pasukan tambahan, semuanya dari kalangan pemuka Muhajirin.
Beliau menunjuk Abu Ubaidah bin al-Jarrah sebagai
komandan atas bala bantuan ini, namun dengan wasiat khusus:
“إِذَا
أَنْتَ قَدِمْتَ عَلَى صَاحِبِكَ فَتَطَاوَعَا وَلَا تَخْتَلِفَا”
Artinya: “Jika engkau tiba di tempat sahabatmu (Amr), maka bekerjalah
sama-sama dengan penuh kerelaan, dan janganlah kalian berselisih.”
Ketika Dua Komandan Bertemu: Pelajaran Taat yang Agung
Sesampainya Abu Ubaidah di lokasi, Amr bin al-Ash
menyambutnya dengan pernyataan: “Sesungguhnya engkau datang sebagai bala
bantuan untukku.” Abu Ubaidah menjawab tegas: “Tidak. Aku memiliki kedudukanku
sendiri (sebagai komandan yang ditunjuk Rasulullah), dan engkau memiliki
kedudukanmu.”
Terjadilah perbedaan pendapat tentang siapa yang memimpin.
Amr bersikukuh bahwa bala bantuan adalah untuk memperkuat pasukannya, sehingga
ia tetap sebagai komandan. Abu Ubaidah pun mengingat pesan Rasulullah ﷺ: “Janganlah
kalian berselisih.”
Dan di sinilah keindahan akhlak para sahabat. Abu Ubaidah
—yang dikenal sebagai “orang kepercayaan umat ini”—bersikap lunak. Beliau
berkata kepada Amr: “Wahai Amr, sungguh Rasulullah ﷺ telah berpesan kepadaku agar kami tidak
berselisih. Oleh karena itu, jika engkau tidak menaatiku, maka aku akan
menaatimu.”
Dengan kerendahan hati ini, perselisihan pun sirna. Amr
tetap memimpin, sementara Abu Ubaidah dan pasukannya berada di bawah
komandonya. Inilah bentuk kepatuhan tertinggi: mengalah demi menjaga persatuan,
meskipun secara hierarki ia sejajar atau bahkan lebih senior.
Pertempuran Singkat, Kemenangan Cepat
Pasukan gabungan bergerak menuju wilayah suku Bali dan Udzrah.
Amr memimpin dengan cermat. Setiap kali mereka mendekati suatu perkampungan
yang berisi kumpulan musuh, penduduknya justru melarikan diri. Hingga akhirnya
mereka tiba di pusat kekuatan musuh.
Di sana, mereka bertemu dengan pasukan musuh yang tidak
terlalu besar. Terjadilah pertempuran singkat. Panah berhamburan sejenak, lalu
kaum Muslimin melakukan serangan mendadak. Musuh pun tercerai-berai dan
melarikan diri ke berbagai penjuru. Kaum Muslimin kembali dengan kemenangan,
setelah memperlihatkan kepada mereka keperkasaan Islam dan kekuasaannya.
Perang ini disebut Dzat as-Salasil. Ada beberapa
penjelasan tentang penamaan ini: ada yang mengatakan karena nama sebuah mata
air di tanah Juzam; ada yang mengatakan karena pasukan musuh mengikatkan diri
satu sama lain (silsilah/rantai) agar tidak lari; ada pula yang mengatakan
karena dinginnya malam yang terasa seperti rantai membeku.
Pelajaran Fikih dari Malam yang Dingin
Dalam perjalanan pulang, Amr bin al-Ash mengalami mimpi
basah (junub). Malam itu sangat dingin —dingin yang menusuk tulang. Jika ia
mandi wajib dengan air dingin, ia khawatir akan jatuh sakit atau bahkan binasa.
Maka ia pun bertayamum dan tetap mengimami salat Subuh para sahabatnya.
Setibanya di Madinah, Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat tentang
perjalanan mereka. Ketika mendengar bahwa Amr memimpin salat dalam keadaan
junub dan bertayamum, beliau bertanya:
“يَا
عَمْرُو، صَلَّيْتَ بِأَصْحَابِكَ وَأَنْتَ جُنُبٌ؟”
Artinya: “Wahai Amr, engkau salat mengimami sahabatmu
dalam keadaan junub?”
Amr menjawab dengan tenang:
“Wahai Rasulullah, aku bermimpi basah pada malam yang
sangat dingin dalam Perang Dzat as-Salasil. Aku khawatir jika mandi dengan air
dingin, aku akan binasa. Maka aku bertayamum, lalu aku salat Subuh bersama para
sahabatku. Dan aku mendengar firman Allah:”
وَلَا
تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
Artinya: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri.
Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.”*(QS. An-Nisa’: 29)*
Mendengar jawaban yang dilandasi dalil ini, Rasulullah ﷺ
pun tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa. Diamnya beliau
adalah tanda persetujuan (taqrīr). Dan persetujuan Rasulullah ﷺ adalah salah satu
bentuk sunnah yang sah.
Dari sini, para ulama mengambil pelajaran bahwa tayamum
dibolehkan karena sakit atau karena dingin yang mengkhawatirkan jiwa,
sebagaimana yang dipraktikkan oleh Amr bin al-Ash.
Dampak Ekspedisi: Kemenangan Tanpa Pertumpahan Darah
Besar
Keberhasilan ekspedisi ini tidak hanya diukur dari
pertempuran kecil yang dimenangkan, tetapi lebih dari itu: ia
mengembalikan wibawa Islam di perbatasan Syam. Suku-suku yang semula ragu
atau bermusuhan mulai melunak.
Beberapa hasil penting dari ekspedisi Dzat as-Salasil:
- Kembalinya
ikatan perjanjian antara suku-suku di wilayah utara dengan kaum
Muslimin.
- Masuknya
banyak orang dari suku Abs, Murrah, Dzubyan ke
dalam Islam.
- Suku
Fazarah bersama pemimpinnya Uyainah bin Hishn —yang
sebelumnya keras kepala—memasuki perjanjian damai dengan Muslimin.
- Bani
Sulaim di bawah pimpinan Al-Abbas bin Mirdas dan Bani
Asyja’ juga ikut bergabung dalam aliansi.
Dengan demikian, hampir seluruh suku di sekitar Madinah yang
belum memihak Islam kini menjadi sekutu atau bahkan masuk Islam. Kaum Muslimin
menjadi kekuatan politik yang dominan di seluruh wilayah utara Jazirah Arab.
Hikmah di Balik Kisah
Dari ekspedisi yang singkat namun sarat makna ini, kita
dapat memetik pelajaran:
- Kecerdasan
Diplomasi – Rasulullah ﷺ memilih Amr bin
al-Ash karena memiliki ikatan keluarga dengan suku Bali. Ini menunjukkan
pentingnya memahami latar belakang sosial dan budaya dalam dakwah.
- Ketaatan
yang Didahulukan – Abu Ubaidah bin al-Jarrah, seorang sahabat
senior, rela mengalah dan taat kepada Amr yang baru masuk Islam, demi
mematuhi pesan Rasulullah ﷺ.
- Prioritas
Keselamatan Jiwa – Amr bin al-Ash tidak memaksakan diri mandi air
dingin yang membahayakan. Ia menggunakan keringanan (rukhshah) tayamum.
Dan Rasulullah ﷺ
membenarkannya.
- Kemenangan
Hakiki adalah Hidayah – Kemenangan terbesar dari ekspedisi ini
bukanlah membunuh musuh, tetapi menarik mereka ke dalam perjanjian damai
dan Islam.
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar
Posting Komentar