Tasm dan Jadis: Dua Kabilah yang Hilang dari al-Yamāmah

Ilustrasi kisah Tasm dan Jadis di al-Yamamah: kota kuno berbenteng di atas bukit, pasukan Himyar mendekat, dan Zarkā’ al-Yamāmah bermata tajam mengawasi dari tebing saat senja dramatis.

Dalam kisah-kisah kuno Arab, nama Ṭasm dan Jadis selalu muncul berpasangan. Keduanya digolongkan sebagai bagian dari “al-‘Arab al-bā’idah” – suku-suku Arab purba yang dianggap telah lenyap sebelum masa Islam. Sekalipun hari ini tak ada lagi jejak hidup mereka, bayangannya masih hadir dalam cerita, peribahasa, puisi, dan nama-nama tempat yang bertahan sampai masa kemudian.

Siapakah Kabilah Tasm?

Para ahli berita (ahl al-akhbār) memberikan beberapa versi nasab untuk Ṭasm. Di antara yang paling sering disebut:

Ṭasm bin Lāūdz bin Iram, atau
Ṭasm bin Lāūdz bin Sām, atau
Ṭasm bin Kāṯir.

Semua versi ini ingin menegaskan bahwa mereka adalah suku tua yang disambungkan ke garis Sām bin Nūḥ lewat Iram dan Lāūdz.

Menariknya, nama Tasm sama sekali tidak muncul dalam Al-Qur’an. Kita mengenalnya hanya melalui kisah-kisah yang dicatat dalam buku-buku sejarah dan adab pada masa Islam. Sebagian ahli bahasa bahkan menganggap bahwa berita-berita tentang Tasm banyak yang tidak bisa dipercaya. Sampai-sampai muncul ungkapan:

“Ahādīts Tasm” – untuk menyebut cerita yang tidak punya dasar.
Mereka berkata: “Engkau menceritakan kepadaku ahādīts Tasm dan mimpi-mimpinya,” maksudnya, cerita-cerita kosong tanpa rujukan.

Karena itu, sebagian ulama klasik sendiri menempatkan Tasm di wilayah antara sejarah dan legenda.

Negeri Tasm: dari al-Yamāmah ke al-Aḥqāf dan Bahrain

Mayoritas ahli berita menyebut bahwa wilayah utama Tasm adalah al-Yamāmah, sebuah kawasan subur di tengah Jazirah Arab (wilayah Riyadh dan sekitarnya sekarang). Sebagian lain memperluas cakupan, memasukkan al-Aḥqāf (daerah bukit pasir antara ‘Umān dan Ḥaḍramaut) dan al-Baḥrayn sebagai bagian dari persebaran mereka.

Menurut tradisi, Tasm dan Jadis tinggal bersama di al-Yamāmah, pada masa ketika wilayah itu digambarkan sebagai:

“Termasuk negeri paling subur dan paling ramai penduduknya.”

Kekuasaan dikatakan berakhir di tangan seorang raja zalim dari Tasm bernama ‘Amliq (atau ‘Amlūq). Ia sangat menindas kabilah Jadis, merendahkan mereka dan memperlakukan mereka dengan kezaliman yang tidak tertahankan.

Pada akhirnya, Jadis bangkit memberontak. Mereka mempersiapkan komplotan, lalu membunuh ‘Amliq dan orang-orang dekatnya dalam sebuah pesta. Dengan itu, mereka menuntaskan dendam, tetapi sekaligus membuka pintu azab lain: perang balik yang akan melenyapkan mereka sendiri.

Kisahnya melanjut: Tasm yang tersisa meminta bantuan kepada seorang raja besar dari Yaman, salah satu Tubbā‘ (raja Himyar). Namanya dalam riwayat berbeda-beda: sebagian menyebutnya Ḥassān bin Tubbā‘, sebagian mengaitkannya dengan raja- raja terkenal seperti As‘ad Abū Karib. Sang raja menerima permohonan itu, datang dengan pasukan Himyar, dan terjadilah perang besar yang:

  • Memusnahkan hampir seluruh Tasm dan Jadis.
  • Membuat al-Yamāmah kosong dari penghuninya.

Beberapa masa kemudian, wilayah yang subur itu dihuni oleh Banū Ḥanīfah, yang kemudian dikenal sebagai suku utama di al-Yamāmah pada masa Rasulullah.

Tasm: Antara Mitos dan Jejak Tulisan

Sejumlah orientalis menganggap Tasm hanyalah suku legendaris, diciptakan oleh imajinasi para pencerita Arab untuk mengisi kekosongan masa pra-sejarah. Namun sebagian lain lebih berhati-hati. Mereka menyebut bahwa boleh jadi kelak ditemukan bukti-bukti tertulis yang menguatkan eksistensi mereka.

Menariknya, sebuah teks Yunani yang ditemukan di kota Ṣalakhad (Sulkhad) di Syam, bertarikh sekitar 322 M, memuat frasa yang dibaca sebagai “An‘am Tasm”. Jika pembacaan ini benar, maka nama Tasm mungkin telah direkam dalam inskripsi luar Arab, dan kelak bisa membuka kajian baru tentang mereka.

Aswad bin Ribh dan Kedatangan Suku Ṭayyi’

Salah satu kisah yang menempel pada episode kehancuran Tasm adalah kisah al-Aswad bin Ribāḥ, orang yang disebut sebagai pembunuh ‘Amliq.

Diceritakan, setelah ia memimpin pembunuhan raja zalim Tasm, al-Aswad melarikan diri dari al-Yamāmah menuju dua pegunungan suku Ṭayyi’ (Aja’ dan Salmā). Di sana ia tinggal dalam waktu lama. Ketika akhirnya suku Ṭayyi’ datang dan menetap di kawasan itu, pemimpin mereka Sāmah bin Lu’ayy merasa khawatir melihat postur tubuh al-Aswad yang sangat besar dan menakutkan dibanding orang-orang mereka.

Sāmah pun memerintahkan putranya, al-Ghawṯ, untuk membunuh al-Aswad. Al-Ghawṯ mendatanginya, mengajaknya berbicara, menenangkannya, lalu tiba-tiba memanahnya hingga tewas. Sejak itu, Ṭayyi’ menetap di dua pegunungan tersebut sebagai wilayah mereka.

Kisah ini, apakah historis atau tidak, dipakai oleh ahli berita untuk menghubungkan runtuhnya Tasm dengan munculnya Ṭayyi’ di daerah pegunungan utara Najd.

Apakah Tasm Disebut dalam Taurat?

Sejarawan modern Jurjī Zaydān berusaha mencocokkan nama Tasm dengan data Kitab Suci Yahudi. Ia berpendapat bahwa Tasm mungkin identik dengan kelompok yang dalam Taurat disebut “Letushim (لطوشيم)”, salah satu keturunan Dedan bin Yaqshan (Didan bin Yaqsān). Dalam teks yang sama, terdapat pula suku lain bernama “Leummim”, yang oleh Zaydān disamakan dengan “Umīm (أميم)”, salah satu suku purba yang juga dikenal dalam riwayat Arab.

Pendapat ini tidak bersifat pasti, tetapi menunjukkan upaya menghubungkan silsilah Arab lama dengan data biblis, meski hubungan itu masih bersifat dugaan linguistik.

Berhala Tasm dan Peribahasa “Anjing Tasm”

Ahli berita menyebut bahwa Tasm menyembah sebuah berhala bernama “Kaṯrā”. Mereka menduga ini adalah berhala yang sama bernama Kaṯrā yang masih disembah sebagian orang hingga awal Islam, lalu dihancurkan atas perintah Nabi bersama berhala-berhala lainnya. Diriwayatkan bahwa yang menghancurkan patung Kaṯrā adalah seorang sahabat bernama Nahshal bin ar-Rabīs bin ‘Ara‘arah, yang kemudian masuk Islam.

Dari Tasm juga lahir peribahasa tentang “anjing Tasm”. Kisahnya begini:

Ada seorang lelaki dari Tasm memelihara seekor anjing. Ia memberinya susu dan daging terbaik, sehingga anjing itu menjadi sangat gemuk dan kuat. Ia berharap anjing itu akan menjadi penjaga yang setia dan melindunginya. Namun ketika anjing itu lapar, ia justru menyerang tuannya dan memakannya.

Sejak itu, orang Arab berkata:

Sammِن kalbaka ya’kulka” – “Gemukkanlah anjingmu, niscaya ia akan memakanmu.”

Ungkapan ini dipakai untuk orang yang merawat atau membesarkan seseorang, lalu justru dikhianati oleh orang yang dibesarkannya.

Penyair klasik meminjam perumpamaan ini dalam bait-baitnya untuk menggambarkan jenis pengkhianatan yang paling kejam.

Tasm dalam Puisi al-Ḥārith bin Ḥillizah

Dalam salah satu mu‘allaqah (qasidah panjang) penyair besar al-Ḥārith bin Ḥillizah, nama Tasm dijadikan tamsil:

“Apakah atas kami mengalir (kesalahan) Iyyād,
sebagaimana dikatakan dahulu kepada Tasm: ‘saudara kalian itulah yang angkuh’?”

Ahli bahasa seperti al-Aṣma‘ī menjelaskan: Tasm dan Jadis adalah dua suku bersaudara. Jadis pernah membangkang terhadap pajak atau kewajiban kepada raja, lalu justru Tasm yang dimintai pertanggungjawaban dan dihukum. Dari sini lahirlah peribahasa tentang orang yang dipikul dosanya karena kesalahan orang lain.


Siapa Jadis?

Setelah membahas Tasm, para ahli berita segera membicarakan Jadis (جديس) yang selalu disebut sebagai pasangan mereka.

Sebagian riwayat menyebut Jadis sebagai:

“Sebuah kabilah dari kaum ‘Ād, saudara Tasm.”

Sebagian lain menegaskan bahwa mereka adalah “kabilah Arab yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan ‘Ād pertama.”

Dalam kitab-kitab nasab, Jadis dinisbatkan pada beberapa versi, di antaranya:

  • Jadis bin Lāūdz bin Iram bin Sām bin Nūḥ,
  • Atau Jadis saudara Tsamūd bin Ghāṯir bin Iram bin Sām bin Nūḥ,

dan variasi nasab lain yang intinya tetap menghubungkan mereka ke garis Iram–Sām–Nūḥ.

Dalam tradisi tersebut, Jadis digambarkan sebagai:

  • Hidup berdampingan dengan Tasm di al-Yamāmah,
  • Mengikuti atau berada di bawah kekuasaan Tasm,
  • Sampai akhirnya mereka bangkit melawan ‘Amliq (‘Amlūq), raja Tasm yang zalim.

Pemberontakan itu berhasil: Jadis berhasil membunuh ‘Amliq dan banyak tokoh Tasm. Namun kemenangan itu ternyata menjadi awal kehancuran mereka sendiri, karena memancing datangnya pasukan Himyar di bawah pimpinan Ḥassān bin Tubbā‘.

Ḥassān bin Tubbā‘ dan Pembantaian Jadis

Ahli berita menceritakan bahwa setelah Jadis membunuh ‘Amliq, ada seorang lelaki Tasm bernama Ribāḥ bin Murrah yang berhasil melarikan diri. Ia menempuh perjalanan jauh hingga mencapai istana raja Yaman, Ḥassān bin Tubbā‘, lalu mengadukan nasib kaumnya dan meminta pertolongan.

Ḥassān pun berangkat bersama pasukan Himyar. Ia menyerang negeri Jadis dan:

  • Membinasakan hampir seluruh mereka,
  • Menghancurkan negeri, istana, dan benteng-benteng mereka,
  • Menjadikan al-Yamāmah sepi dari mereka.

Sebagian peneliti Barat, seperti Caussin de Perceval, mencoba menempatkan peristiwa penyerbuan Himyar atas Jadis ini sekitar tahun 250 M secara perkiraan.

Dengan demikian, dalam kerangka legenda Arab, Tasm dan Jadis digambarkan sebagai:

Bangsa-bangsa tua yang pernah memakmurkan al-Yamāmah,
Lalu saling menghancurkan melalui pengkhianatan dan perang,
Sebelum akhirnya wilayah itu diwarisi oleh suku-suku lain seperti Banū Ḥanīfah.

Zarkā’ al-Yamāmah: Mata yang Melihat Jauh

Salah satu tokoh paling terkenal yang terkait kisah kehancuran Jadis adalah seorang perempuan yang dikenal sebagai Zarkā’ al-Yamāmah – perempuan bermata biru (atau bermata tajam) dari al-Yamāmah.

Diceritakan bahwa ia memiliki penglihatan yang luar biasa tajam: ia bisa melihat musuh dari jarak sangat jauh, bahkan disebut tiga hari perjalanan. Ketika pasukan Ḥassān bin Tubbā‘ bergerak menuju negeri Jadis, mereka mencoba menyamarkan gerakan dengan bersembunyi di balik pepohonan, masing-masing prajurit membawa dahan di bahunya.

Namun Zarkā’ al-Yamāmah, kala memandang dari kejauhan, berkata kepada kaumnya:

“Aku melihat pepohonan bergerak ke arah kalian.”

Kaumnya menertawakannya, menganggap itu hal mustahil. Hingga akhirnya pasukan Himyar benar-benar tiba dan membinasakan mereka, persis seperti yang ia lihat dari jauh.

Dalam versi lain, perempuan tajam penglihatan itu disebut dengan nama “al-Yamāmah” sendiri. Menurut riwayat, ia adalah orang pertama yang memakai celak dari batu Antimon (al-Itsmid). Dari seringnya menggunakan itsmid, urat-urat hitam terbentuk di matanya, dan ini diyakini sebagai sebab tajamnya penglihatan.

Diceritakan bahwa ketika Ḥassān menguasai negeri itu, ia memerintahkan untuk mencungkil kedua mata al-Yamāmah untuk mengetahui rahasia ketajaman matanya. Ketika bola matanya dibelah, ditemukan di dalamnya lapisan itsmid yang sudah menyatu, sehingga dianggap sebagai penjelasan legenda bagi kekuatan penglihatannya.

Konon, setelah peristiwa itu, Ḥassān memerintahkan agar nama wilayah “Jaww” – yang sebelumnya merupakan negeri Tasm dan Jadis – diganti dengan nama “al-Yamāmah”, mengambil nama perempuan itu. Sejak saat itu, wilayah tersebut dikenal sebagai al-Yamāmah, nama yang bertahan hingga masa Islam.

Puisi-puisi yang dinisbatkan kepada al-A‘shā dan an-Namir bin Tawlab juga menyebut nama al-Yamāmah dan Ḥassān, yang menunjukkan bahwa kisah Zarkā’ al-Yamāmah sudah populer sebelum dan pada masa mereka.

Jejak Jadis dalam Peta Klasik

Sebagian orientalis berpendapat bahwa nama dalam Geografi Ptolemaios, yaitu “jolisitae” atau “jodisitae”, sebenarnya mengacu pada kaum Jadis. Mereka menempatkannya sekitar tahun 120 M, menunjukkan bahwa nama Jadis pernah dikenal di dunia geografi klasik.

Jika benar, ini memberi bobot lebih bagi anggapan bahwa Jadis bukan sekadar suku fiktif, melainkan memiliki eksistensi historis tertentu di kawasan Arabia tengah–timur.


Kota-kota dan Benteng Tasm–Jadis di al-Yamāmah

Para ahli berita menisbatkan sejumlah kota, desa, dan benteng di wilayah al-Yamāmah dan sekitarnya kepada Tasm dan Jadis. Sebagian tempat itu masih dikenal di masa Islam, sehingga para sejarawan dan ahli geografi dapat menggambarkan kondisinya.

Jika atribusi ini benar, maka ia menunjukkan bahwa Tasm dan Jadis:

  • Hidup sebagai bangsa yang menetap (ḥaḍariyyūn),
  • Memiliki kota bertembok, istana, dan sistem pertanian,
  • Bukan sekadar suku badui penggembala.

Beberapa tempat penting yang dikaitkan dengan mereka antara lain:

al-Mushaqqar
Sebuah benteng di antara Najrān dan al-Baḥrayn, di atas bukit tinggi. Berhadapan dengan benteng lain bernama Sadūs. Disebut sebagai salah satu tempat Tasm. Dalam tradisi kemudian, benteng ini pernah dihuni oleh ‘Abd al-Qays, suku besar penghuni Bahrain. Seperti biasa, ketika para perawi tidak tahu siapa pendirinya, mereka menisbatkannya kepada Nabi Sulaiman.

Ma‘niq
Salah satu istana di al-Yamāmah, terletak di sebuah bukit kecil yang menonjol. Dihubungkan dengan kemegahan masa Tasm dan Jadis.

asy-Syumus
Disebut sebagai salah satu bangunan yang dinisbatkan kepada Jadis.

Ḥajar (Hajar)
Kota utama di al-Yamāmah, yang menurut riwayat milik Tasm dan Jadis pada masa lampau. Ia digambarkan sebagai kota yang:

  • Penuh istana tinggi dan bangunan megah,
  • Dikelilingi kebun dan ladang,
  • Kemudian ditinggalkan, terbenam di tengah gundukan pasir yang menutupi bekas tanah subur.

Nama Hajar tetap bertahan dalam sumber-sumber Islam sebagai kota penting di wilayah Banū Ḥanīfah.

al-Qaryah (Qaryat Banī Sadūs)
Sebuah desa yang di dalamnya terdapat sebuah istana batu besar yang diklaim terbuat dari satu batu. Tradisi menisbatkan pembangunannya kepada jin di masa Sulaiman. Ini tipikal cara cerita rakyat menjelaskan bangunan megalitik yang tidak diketahui asal-usulnya.

Ja‘dah
Sebuah benteng dengan istana tua yang disebut “ʿĀdī” – artinya, dinisbatkan ke zaman ‘Ād. Ia juga dihubungkan dengan Tasm dan Jadis. Sejarawan al-Hamdānī pada abad ke-4 H masih dapat melihat dan menggambarkan benteng ini dalam kitabnya Ṣifat Jazīrat al-‘Arab.

Menurut al-Hamdānī, benteng itu:

  • Mengelilingi desa,
  • Dibangun dengan batu bata (labin) yang kokoh,
  • Di dalamnya terdapat rumah-rumah untuk pengawal dan staf penguasa,
  • Dikelilingi pohon atsl (sejenis tamarisk) dan pohon kurma,
  • Di luar tembok terdapat lagi rumah-rumah penduduk dan pasar,
  • Mengelilingi seluruh desa terdapat parit (khandq),
  • Di pasar terdapat sekitar 260 sumur dengan air tawar yang jernih.

Gambaran ini memperlihatkan tingkat peradaban yang cukup tinggi: benteng, sistem irigasi, pasar, struktur kota yang terencana.

Khaḍrā’ Ḥajar
Wilayah permukiman yang disebut sebagai pusat Tasm dan Jadis. Di sana terdapat banyak bekas bangunan, benteng, dan struktur tinggi yang disebut “batl” (jamaknya: butūl), digambarkan sebagai:

“Bangunan persegi seperti menara, menjulang tinggi ke langit, terbuat dari tanah (bata).”

Dalam riwayat, tinggi sisa butūl yang masih tampak pada zaman al-Hamdānī dikatakan mencapai 200 hasta ke langit – angka yang tampaknya dilebih-lebihkan, tetapi menunjukkan betapa mengagumkannya bangunan tersebut di mata orang yang melihatnya.

al-Khadrama, al-Haddār, dan Raymān
Tiga tempat lain di wilayah al-Yamāmah yang dinisbatkan kepada Jadis, dikatakan penuh dengan bekas-bekas tua dan reruntuhan bangunan. Al-Hamdānī menyebutnya secara ringkas sebagai desa-desa lama dengan banyak peninggalan kuno.

Semua ini, walaupun belum secara pasti dikonfirmasi oleh arkeologi modern, memberikan kerangka naratif bahwa:

  • Tasm dan Jadis bukan sekadar nama yang hidup di legenda,
  • Tetapi dikaitkan dengan kota-kota, benteng, dan sistem agraris yang nyata di wilayah al-Yamāmah dan sekitarnya,
  • Yang kemudian ditinggalkan dan diwarisi oleh suku-suku lain.

Penutup

Kisah Tasm dan Jadis adalah bagian dari lapisan terdalam dalam ingatan kolektif Arab tentang bangsa-bangsa yang hilang. Sebagian besar detail kisah mereka tidak dapat dipastikan kebenarannya secara historis, namun:

  • Jejak nama mereka mungkin tercermin dalam teks-teks Yunani dan peta Ptolemaios.
  • Kisah-kehidupan dan kehancuran mereka menjadi latar budaya bagi lahirnya peribahasa, puisi, dan penamaan tempat.
  • Cerita-cerita seperti pemberontakan terhadap raja zalim, mata tajam Zarkā’ al-Yamāmah, dan kota-kota bertembok yang kemudian tertimbun pasir, semuanya menggambarkan pesan moral: bahwa kezalimaan dan pengkhianatan akhirnya membawa kehancuran.

Sampai hari ini, banyak detail tentang Tasm dan Jadis masih menunggu bukti arkeologis dan kajian epigrafi yang lebih lanjut. Namun sebagai bagian dari khazanah sastra dan sejarah Arab, kisah mereka tetap hidup sebagai cermin masa lalu dan bahan renungan tentang rapuhnya kejayaan manusia.


Peta Lokasi

Sumber

Juwād ‘Alī, المفصل في تاريخ العرب قبل الإسلام 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rihlah Ibnu Battutah #59 : Dari Khawarizmi ke Bukhara

Rihlah Ibnu Bathutah #60 : Dari Reruntuhan Bukhara hingga Kelahiran Putri di Padang Stepa

Kisah Keberanian Sahabat di Perang Uhud: Thalhah, Nusaibah, dan Para Pejuang Wanita