Syahidnya Seorang Syaikh dan Taubatnya Seorang Pemabuk: Kisah dari Herat dan Al-Jam

Ilustrasi digital realistik bergaya lukisan Persia yang menggambarkan kota Al-Jam pada abad ke-14, seperti dilihat oleh Ibnu Battutah. Kota kecil di lembah hijau Khurasan dengan kebun murbei, sungai mengalir, dan mata air jernih. Zawiyah Syaikh Syihabuddin berdiri di tengah dengan halaman luas. Penduduk menenun sutera di teras rumah, kafilah unta memasuki gerbang. Latar belakang pegunungan tandus kontras dengan hijaunya lembah. Langit biru cerah, suasana damai dan subur.

Suku Turk di Padang Rumput

Di sekitar Herat, hiduplah suku-suku Turk pengembara. Mereka mendiami padang rumput luas dan dipimpin oleh seorang raja bernama Ghaytumur—yang telah kusebut sebelumnya. Jumlah mereka sekitar lima puluh ribu jiwa. Sebelum kemenangan besarnya atas pasukan Rafidhah, Sultan Husain sangat berhati-hati terhadap mereka. Setiap tahun ia mengirim hadiah dan bersikap lunak, sekadar untuk menjaga perdamaian.

Namun setelah kemenangan itu, posisi Sultan jauh lebih kuat. Ia kini bisa sedikit lebih berani menghadapi mereka.

Suku-suku Turk ini sering datang ke Herat. Kadang mereka minum khamar di kota, bahkan ada yang datang dalam keadaan mabuk. Dan di sinilah peran Syaikh Nizhamuddin Maulana—pemimpin spiritual yang kuceritakan sebelumnya. Setiap kali ia mendapati orang Turk yang mabuk, ia akan menegakkan hukuman had (cambuk) atas mereka, tanpa pandang bulu.

Padahal, orang-orang Turk ini adalah pejuang tangguh. Mereka sering menyerbu perbatasan India, merampas harta, dan menawan penduduk. Kadang mereka menawan wanita Muslimah yang tinggal di wilayah India yang bercampur dengan orang kafir. Begitu para tawanan sampai di Khurasan, Syaikh Nizhamuddin akan membebaskan para wanita Muslimah dari tangan orang Turk.

Uniknya, ciri wanita Muslimah di India adalah tidak berlubang telinganya, sementara wanita kafir memiliki telinga yang berlubang. Sebuah tanda sederhana yang menyelamatkan banyak jiwa.


Seorang Amir Turk dan Wanita yang Diperebutkan

Suatu hari, seorang amir Turk bernama Timur Althi menawan seorang wanita. Ia sangat tergila-gila padanya. Namun wanita itu mengaku Muslimah. Maka Syaikh Nizhamuddin—dengan segala keberaniannya—merebut wanita itu dari tangan sang amir.

Timur Althi marah besar. Ia mengerahkan ribuan pasukannya dan menyerang kawanan kuda milik penduduk Herat yang sedang merumput di padang Marghis (Badghis). Mereka menggiring semua kuda—tidak menyisakan satu pun untuk ditunggangi atau diperah susunya. Kemudian mereka membawa kuda-kuda itu ke sebuah gunung yang sulit dijangkau.

Sultan Husain dan pasukannya tak bisa berbuat banyak. Tanpa kuda, mereka tak bisa mengejar. Sultan mengirim utusan meminta agar ternak itu dikembalikan, dan mengingatkan mereka akan perjanjian yang telah disepakati.

Jawaban orang Turk tegas: "Kami tidak akan mengembalikan apa pun sampai Syaikh Nizhamuddin diserahkan kepada kami."

Sultan berkata, "Tidak mungkin. Itu tidak bisa dilakukan."


Sebuah Pengkhianatan yang Berujung Syahid

Di sinilah seorang tokoh besar muncul: Syaikh Abu Ahmad Al-Jasti, cucu dari Syaikh Ma'ud Al-Jasti. Ia memiliki kedudukan tinggi di Khurasan, dan kata-katanya selalu didengar. Ia berkuda dengan rombongan pengikut dan budaknya, lalu berkata kepada Sultan dan para pembesar:

"Aku akan membawa Syaikh Nizhamuddin bersamaku menemui orang-orang Turk. Mereka pasti akan puas dengan itu. Dan setelah selesai, aku akan mengembalikannya."

Orang-orang cenderung setuju. Syaikh Nizhamuddin melihat bahwa semua sepakat. Maka ia pun pasrah. Ia berkuda bersama Syaikh Abu Ahmad menemui pasukan Turk.

Begitu tiba, Amir Timur Althi berdiri menghadapnya. Dengan mata merah penuh amarah, ia berkata, "Kau merebut wanitaku dariku!"

Lalu tanpa peringatan, ia memukul kepala Syaikh Nizhamuddin dengan dubus-nya (gada kecil). Tengkoraknya pecah. Ia jatuh dan tewas seketika.

Syaikh Abu Ahmad terpukul. Ia segera pergi dari tempat itu dan kembali ke negerinya. Dan orang-orang Turk—entah karena apa—mengembalikan semua kuda dan ternak yang mereka rampas.


Balas Dendam Para Murid

Beberapa waktu kemudian, Amir Timur Althi—pembunuh Syaikh Nizhamuddin—datang ke kota Herat. Di jalan, ia berpapasan dengan sekelompok murid syaikh yang telah gugur itu. Mereka pura-pura menyapanya, mendekat seolah hendak memberi salam. Namun di balik jubah mereka, tersembunyi pedang terhunus.

Sekali tebas, kepala sang amir pun terpisah dari badannya. Para pengawalnya lari tunggang langgang.

Keadilan, meski lambat, akhirnya tiba.


Pengasingan dan Kematian Malik Warna

Setelah peristiwa itu, Sultan Husain mengirim sepupunya, Malik Warna—yang dulu menjadi rekan Syaikh Nizhamuddin dalam gerakan amar makruf—sebagai utusan ke Sijistan (Sistan). Namun saat tiba di sana, ia justru diperintahkan untuk tinggal dan tidak kembali ke Herat.

Malik Warna pun pergi ke India. Aku bertemu dengannya saat meninggalkan India, di kota Siyustan (Siwistan) di wilayah Sind. Ia seorang yang mulia, mencintai kepemimpinan, gemar berburu, suka berlaga, menyukai kuda, budak, sahabat, dan pakaian mebak kerajaan. Namun sifat-sifat seperti itu sulit bertahan di India.

Raja India memberinya sebuah wilayah kecil. Namun di sana ia terbunuh oleh seseorang dari Herat yang menetap di India, akibat perselisihan soal seorang budak perempuan. Ada yang bilang, Raja India sengaja menyuruh orang itu membunuhnya atas hasutan Sultan Husain.

Sepeninggal Malik Warna, Sultan Husain menjalin hubungan baik dengan Raja India. Mereka saling bertukar hadiah, dan Raja India menghadiahkan kota Bakar di wilayah Sind kepada Sultan Husain, yang hasil pajaknya mencapai lima puluh ribu dinar emas setiap tahun.


Menuju Kota Al-Jam

Dari Herat, kami melanjutkan perjalanan ke kota Al-Jam. Kota ini indah, tak terlalu besar, namun penuh kebun, pohon rindang, mata air melimpah, dan sungai-sungai mengalir. Pohon yang paling banyak adalah murbei—karena itu sutera di sini sangat melimpah.

Kota ini dinisbatkan kepada seorang wali besar, zahid, dan abid: Syaikh Syihabuddin Ahmad Al-Jami. Kelak akan kuceritakan kisahnya. Cucunya, Syaikh Ahmad yang dikenal dengan sebutan Zadeh, dibunuh oleh Raja India. Kini kota ini diwarisi oleh anak-anak keturunannya, dengan surat keputusan resmi dari Sultan, dan mereka hidup dalam kemakmuran.


Jamuan untuk Seorang Sultan

Seseorang yang kupercaya bercerita kepadaku bahwa suatu ketika Sultan Abu Sa'id, penguasa Irak, datang ke Khurasan dan singgah di kota ini. Ia turun di zawiyah Syaikh Ahmad, dan sang syaikh menjamunya dengan luar biasa.

Untuk setiap tenda di perkemahan Sultan, ia menyembelih seekor kambing. Setiap empat orang, mendapat seekor kambing. Setiap hewan—kuda, bagal, keledai—mendapat makanan untuk satu malam. Tidak ada satu makhluk hidup pun di perkemahan itu yang luput dari jamuan.

Sungguh, kedermawanan yang tak terperi.


Kisah Taubat Syaikh Syihabuddin

Syaikh Syihabuddin Al-Jami, yang namanya diabadikan pada kota ini, konon dulunya adalah seorang yang gemar bersenang-senang. Ia banyak minum khamar, dan memiliki sekitar enam puluh orang teman minum (nadim). Mereka punya kebiasaan: setiap hari mereka berkumpul di rumah salah seorang di antara mereka. Giliran itu berputar, sehingga setiap orang mendapat giliran sekali dalam dua bulan. Mereka bertahan dalam kebiasaan ini cukup lama.

Suatu hari, tibalah giliran di rumah Syaikh Syihabuddin. Namun saat itu, Allah membuka hatinya. Ia bertekad untuk bertobat dan memperbaiki diri. Namun ia berpikir, "Jika kukatakan pada teman-temanku bahwa aku telah bertobat sebelum mereka datang, mereka akan mengira aku tak sanggup menanggung biaya jamuan."

Maka ia tetap menyiapkan segala sesuatu seperti biasa: makanan, minuman, dan khamar dalam kantung-kantung kulit (ziqāq). Para sahabatnya pun datang.

Saat mereka hendak mulai minum, seseorang membuka kantung pertama. Ia menuang, mencium, lalu mencicipi. "Ini... manis?" katanya heran. Kantung kedua dibuka—manis. Ketiga—manis juga. Mereka bingung.

Akhirnya mereka bertanya pada Syaikh. Dengan hati-hati, ia keluar dan berkata jujur, "Demi Allah, ini adalah khamar yang biasa kalian minum. Namun Allah telah mengubah rasanya. Aku telah bertobat kepada-Nya, dan aku ingin kalian juga bertobat."

Seketika itu juga, seluruh enam puluh orang itu bertobat. Mereka bersama-sama membangun zawiyah itu, dan mengasingkan diri untuk beribadah kepada Allah. Sejak saat itu, banyak karamah dan mukasyafah (keajaiban dan penyingkapan hal gaib) yang muncul dari Syaikh Syihabuddin.

Subhanallah... dari pemabuk menjadi wali besar. Dari tempat maksiat menjadi tempat ibadah. Sungguh, Allah Maha Membolak-balikkan hati.


Peta Lokasi 

Sumber Kisah:
Rihlah Ibnu Battutah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rihlah Ibnu Bathutah #60 : Dari Reruntuhan Bukhara hingga Kelahiran Putri di Padang Stepa

Nabi Hūd, Kaum ‘Ād, dan Jejaknya dalam Sejarah Arab Pra Islam

Kisah Keberanian Sahabat di Perang Uhud: Thalhah, Nusaibah, dan Para Pejuang Wanita