Rihlah Ibnu Bathutah #63 Di Antara Dua Takhta: Kisah Khalil, Penguasa yang Terjebak Ambisi


Kembali ke Cerita Buzun

Sebelum melanjutkan kisah perjalananku, izinkan aku menuntaskan cerita tentang Buzun—sepupu Sultan Tharmasyirin yang merebut takhta dengan cara khianat.

Setelah Buzun berkuasa, ia menunjukkan wajah aslinya. Ia mempersempit ruang gerak kaum Muslimin, bertindak zalim terhadap rakyat, dan bahkan memberi izin kepada kaum Nasrani dan Yahudi untuk membangun kembali gereja-gereja dan sinagoge mereka. Rakyat Muslim menjerit, namun tak ada yang berani bersuara. Mereka hanya bisa menunggu saat pembalasan tiba.

Dan saat itu pun tiba.


Khalil: Pewarna Takhta yang Terlupakan

Di tengah kekacauan itu, muncul seorang putra Sultan, bernama Khalil—yang sebelumnya tersingkir dan tak berdaya. Ia mendengar kabar tentang kekejaman Buzun dan segera bertindak. Khalil pergi menemui Sultan Husain bin Ghiyatsuddin al-Ghuri, penguasa Herat yang perkasa. Ia meminta bantuan pasukan dan harta, dengan janji akan berbagi kekuasaan jika berhasil merebut kembali takhta.

Sultan Husain setuju. Ia mengirimkan pasukan besar bersama Khalil. Jarak antara Herat dan Tirmidz hanya sembilan hari perjalanan, dan kabar kedatangan Khalil segera tersebar.


Para Pembesar Berbondong-bondong

Ketika para amir dan pembesar negeri mendengar bahwa Khalil datang, mereka berbondong-bondong menyambutnya. Mereka lelah dengan kezaliman Buzun dan siap berperang di bawah panji Khalil.

Orang pertama yang datang adalah Ala al-Mulk Khudawandah Zadeh, penguasa Tirmidz. Ia seorang amir besar, keturunan Sayyid dari keluarga Husain. Ia datang bersama empat ribu pasukan Muslim. Khalil sangat gembira, mengangkatnya sebagai wazir, dan mempercayakan seluruh urusan kepadanya. Khudawandah Zadeh ternyata seorang pemberani dan ahli strategi.

Para amir dari berbagai penjuru terus berdatangan. Tak lama, Khalil memiliki pasukan yang besar dan siap tempur.


Pertempuran dan Akhir Seorang Pengkhianat

Pasukan Khalil bertemu dengan pasukan Buzun di medan laga. Saat pertempuran berkecamuk, sebagian besar pasukan Buzun membelot dan bergabung dengan Khalil. Buzun sendiri berhasil ditangkap hidup-hidup.

Hukuman bagi seorang keturunan raja, menurut adat mereka, adalah dicekik. Dan Buzun pun dihukum mati dengan cara itu—dicekik menggunakan tali busur panah.

Khalil kini menjadi penguasa tunggal.


Pembersihan dan Perluasan Wilayah

Setelah menang, Khalil menggelar parade pasukan di Samarkand. Delapan puluh ribu prajurit berbaris dengan baju besi lengkap, kuda-kuda mereka pun berdiam. Khalil memulangkan pasukan bantuan dari Herat, lalu bergerak menuju wilayah timur, ke Al-Maliq, pusat kekuasaan asli bangsa Mongol.

Orang-orang Tartar di sana sempat melawan, namun dengan kegigihan dan strategi jitu—terutama berkat keberanian Wazir Khudawandah Zadeh yang memimpin dua puluh ribu pasukan dalam sebuah serangan dahsyat—mereka berhasil dipukul mundur. Ribuan Tartar tewas.

Khalil tinggal tiga hari di Al-Maliq, lalu membersihkan sisa-sisa perlawanan. Ia kemudian melintasi perbatasan hingga ke wilayah Khatha dan Cina. Kota Qaraqorum dan Basybaligh berhasil ditaklukkan. Penguasa Khatha sempat mengirim pasukan, namun akhirnya perdamaian tercapai.

Nama Khalil semakin harum. Raja-raja di sekitarnya segan. Ia pun kembali ke Samarkand dan Bukhara, meninggalkan Wazir Khudawandah Zadeh sebagai penguasa di Al-Maliq.


Sebuah Fitnah yang Menghancurkan

Namun, kebahagiaan tak bertahan lama. Orang-orang Turk yang iri mulai menyebarkan fitnah. Mereka berbisik kepada Khalil bahwa wazirnya, Khudawandah Zadeh, berambisi merebut takhta. "Ia keturunan Nabi," bisik mereka, "lebih mulia dan lebih pemberani. Pantaskah ia hanya menjadi wazir?"

Khalil termakan hasutan. Ia mengganti wazirnya dengan pejabat lain di Al-Maliq, dan memerintahkan Khudawandah Zadeh datang menemuinya hanya dengan sedikit pengawal. Begitu tiba, tanpa pemeriksaan, tanpa bukti, Khalil langsung membunuhnya.

Sejak saat itu, kerajaan mulai goyah. Keberkahan pergi, dan musuh mulai bermunculan.


Karma Seorang Pengkhianat

Khalil yang kini besar kepala mulai melupakan budi baik Sultan Husain dari Herat. Ia mengirim surat, meminta agar nama Khalil disebut dalam khutbah di seluruh wilayah Herat, serta uang logam dicap dengan namanya. Sultan Husain marah besar. Jawabannya pedas dan menghina.

Khalil geram. Ia mengerahkan pasukan untuk menyerang Herat. Namun kali ini, para prajurit Islam menolak. Mereka melihat Khalil sebagai pihak yang zalim. Berita ini sampai ke Sultan Husain. Ia segera mengirim pasukan di bawah pimpinan sepupunya, Malik Warna.

Kedua pasukan bertemu. Khalil kalah telak. Ia ditawan dan dihadapkan kepada Sultan Husain. Namun Sultan Husain bermurah hati. Ia tidak membunuhnya. Sebaliknya, ia memberikan seorang budak perempuan, rumah, dan nafkah yang layak.

Saat aku meninggalkan India pada akhir tahun 747 Hijriah, Khalil masih hidup dalam tahanan yang nyaman itu.


Kembali ke Perjalananku: Menuju Samarkand yang Permai

Setelah berpamitan dengan Sultan Tharmasyirin, aku melanjutkan perjalanan menuju Samarkand. Kota ini luar biasa indah, termasuk kota terbesar dan tercantik yang pernah kulihat. Ia terletak di tepi sebuah sungai yang disebut Wadi al-Qashsharin. Di sepanjang sungai itu, kincir-kincir air (nawa'ir) berderak memompa air untuk mengairi kebun-kebun yang membentang.

Setiap selesai shalat Ashar, penduduk kota berbondong-bondong ke tepi sungai untuk bersantai. Mereka duduk di bangku-bangku batu yang disediakan, sementara pedagang kaki lima menjajakan buah-buahan dan aneka makanan. Dulu, di tepi sungai ini berdiri istana-istana megah dan bangunan-bangunan yang mencerminkan kejayaan masa lalu. Namun kini, sebagian besar telah runtuh. Kota Samarkand sendiri sudah tidak memiliki tembok atau gerbang, dan banyak bagian dalamnya justru menjadi kebun.

Namun, penduduk Samarkand tetap ramah dan dermawan, terutama kepada orang asing. Mereka jauh lebih baik daripada penduduk Bukhara.


Ziarah ke Makam Pangeran Quraisy

Di luar kota Samarkand, terdapat makam Qutham bin Abbas bin Abdul Muthallib, sepupu Nabi Muhammad . Ia gugur sebagai syuhada saat penaklukan Samarkand dahulu kala. Penduduk Samarkand setiap malam Senin dan Jumat berziarah ke sana. Bahkan orang-orang Tartar—meski dulu kafir—juga datang, membawa kurban sapi, kambing, uang, dan emas. Semua itu digunakan untuk memelihara makam dan memberi makan para peziarah.

Makamnya dikelilingi kubah megah yang bertumpu pada empat pilar. Di setiap pilar ada dua tiang marmer berwarna hijau, hitam, putih, dan merah. Dinding kubah dilapisi marmer berukir dengan hiasan emas, atapnya dari timah. Peti matinya dari kayu eboni bertatahkan, sudut-sudutnya dilapisi perak. Tiga lampu gantung perak tergantung di atasnya. Lantainya beralas wol dan kapas.

Di luar kubah, sebuah sungai besar mengalir melewati zawiyah yang didirikan di sana. Pepohonan, anggur, dan melati tumbuh di tepinya. Di zawiyah itu, para musafir bisa tinggal dan makan. Sungguh menakjubkan, bahkan di masa kekafiran mereka, orang-orang Tartar tidak pernah merusak tempat suci ini. Mereka justru menganggapnya keramat, karena sering melihat keajaiban di sana.

Saat aku singgah, pengelola makam ini adalah seorang keturunan bangsawan: Ghiyatsuddin Muhammad bin Abdul Qadir bin Abdul Aziz bin Yusuf al-Khalifah al-Mustanshir billah al-Abbasi. Ia ditunjuk oleh Sultan Tharmasyirin. Kini ia berada di India bersama Sultan, dan akan kuceritakan kelak.


Bertemu dengan Qadhi Samarkand

Di Samarkand aku juga bertemu dengan qadhi kota, yang mereka juluki Shadr al-Jahan. Ia seorang terpelajar dan dermawan. Belakangan, setelah aku pergi ke India, ia menyusul, namun takdir berkata lain. Ia meninggal di kota Multan, ibu kota wilayah Sind. Semoga Allah merahmatinya.


Sumber Kisah:
*Rihlah Ibnu Battutah

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rihlah Ibnu Baathutah #57 : Dari As-Sarā ke Khawarizmi

Rihlah Ibnu Bathutah #56 : Konstantinopel, Sarā Barkah dan Sultan Uzbak

Rihlah Ibnu Battutah #59 : Dari Khawarizmi ke Bukhara