Rihlah Ibnu Bathutah #62 Di Balik Takhkta Sultan: Sebuah Pelajaran tentang Keteguhan, Kudeta, dan Penyesalan
Seorang Syaikh yang Istiqamah
Di tengah hiruk-pikuk perkemahan Sultan, aku bertemu dengan
seorang lelaki yang membuatku merenung. Ia adalah seorang syaikh—salah satu
hamba Allah yang saleh—namun pakaiannya sangat memprihatinkan. Setiap hari
kulihat ia mengenakan qabā (jubah) dari katun yang telah
usang, robek di sana-sini, hanya berlapis kapas tipis. Di kepalanya,
sebuah qalansuwah (topi) dari kain kempa yang nilainya tak
lebih dari satu qirath, tanpa sorban.
Suatu hari, aku tak tahan lagi. "Wahai Tuanku,"
kataku, "jubah yang Tuan kenakan ini sungguh tidak layak. Izinkanlah aku
memberi Tuan pakaian yang lebih baik."
Ia menatapku dengan mata teduh. "Wahai anakku,"
jawabnya lembut, "jubah ini bukan milikku. Ia milik putriku." Aku
terkejut. Ia melanjutkan, "Aku telah berjanji kepada Allah sejak lima
puluh tahun lalu untuk tidak menerima pemberian siapa pun. Seandainya aku mau
menerima, tentu darimu lah pertama-tama akan aku terima."
Hatiku tersentak. Lima puluh tahun berpegang pada janji,
dalam kondisi seperti itu. Ia tidak butuh dunia. Dunia lah yang butuh orang
sepertinya.
Pemberian Sultan dan Perpisahan yang Dingin
Lima puluh empat hari sudah aku tinggal di perkemahan Sultan
Alauddin Tharmasyirin. Saat aku berpamitan, Sultan memanggilku. Ia memberikan
tujuh ratus dinar—dalam mata uang dirham—dan sebuah mantel bulu samur (sable)
yang nilainya mencapai seratus dinar. Aku memang sempat memintanya untuk
melawan dingin yang menggigit.
Ketika aku menyebut mantel itu, Sultan dengan rendah hati
menarik lengan bajuku dan membalik-baliknya dengan tangannya sendiri. Ia
tersenyum, lalu memberiku dua ekor kuda dan dua ekor unta.
Hari keberangkatan tiba. Udara begitu dingin hingga tulang
terasa membeku. Aku mencari Sultan untuk berpamitan, dan mendapatinya dalam
perjalanan menuju tempat berburu. Aku berdiri di hadapannya, ingin mengucapkan
selamat tinggal. Namun, lidahku kelu. Dinginnya begitu menyiksa, hingga tak
satu kata pun mampu kuucapkan.
Sultan memahami. Ia tertawa kecil, lalu mengulurkan
tangannya. Aku menciumnya, dan berbalik pergi. Tak perlu kata-kata. Dalam diam,
aku membawa serta kebaikannya.
Kabar dari Jauh: Kudeta di Negeri Seberang
Dua tahun telah berlalu sejak aku tiba di India. Suatu hari,
kabar buruk datang dari negeri seberang. Para pembesar kerajaan dan kerabat
Sultan—mereka yang tinggal di perbatasan Cina, tempat sebagian besar pasukan
bermarkas—telah berkumpul. Mereka mengangkat sepupu Sultan, seorang
bernama Buzun Ughli, sebagai raja baru.
Buzun Ughli adalah seorang Muslim, namun buruk akhlaknya dan
rusak agamanya. Mengapa mereka memberontak terhadap Tharmasyirin? Alasannya,
Sultan telah melanggar hukum-hukum yang ditetapkan oleh kakeknya, Jenghis
Khan—laknat Allah atasnya—yang telah menghancurkan negeri-negeri Islam.
Jenghis Khan, sebagaimana kudengar, pernah menyusun sebuah
kitab hukum yang mereka sebut Al-Yasaq. Menurut keyakinan mereka,
siapa pun yang melanggar aturan dalam kitab ini wajib dipecat. Di antara
isinya: mereka harus mengadakan pertemuan tahunan yang disebut Ath-Thawi—Hari
Jamuan. Pada hari itu, seluruh keturunan Jenghis, para amir, para khatun, dan
pembesar militer berkumpul dari seluruh penjuru negeri. Jika raja mereka telah
mengubah sedikit pun aturan, para pembesar akan berdiri dan berkata,
"Engkau telah mengubah ini dan itu, karenanya engkau harus turun
takhta." Lalu mereka akan menurunkannya dan mengangkat pengganti dari
keturunan Jenghis yang lain.
Sultan Tharmasyirin telah membatalkan hari raya ini. Ia juga
selama empat tahun berturut-turut hanya berada di wilayah dekat Khurasan, tidak
pernah mengunjungi wilayah timur yang berbatasan dengan Cina—padahal kebiasaan
raja adalah mendatangi wilayah itu setiap tahun. Wilayah timur itulah asal mula
kekuasaan mereka, dengan ibu kota di Al-Maliq.
Maka para pembesar pun murka. Mereka membaiat Buzun Ughli.
Pelarian dan Penangkapan
Buzun bergerak dengan pasukan besar. Tharmasyirin, yang
merasa tidak aman di tengah para amirnya sendiri, hanya ditemani lima belas
pasukan berkuda. Ia berniat lari ke Ghazna, salah satu wilayah
kekuasaannya, yang diperintah oleh seorang amir besar kepercayaannya, Barnithah.
Amir ini sangat mencintai Islam, dan telah membangun sekitar empat puluh
zawiyah di wilayahnya, lengkap dengan makanan untuk para musafir. Tubuhnya amat
besar—aku belum pernah melihat manusia sebesar itu di mana pun.
Namun, saat menyeberangi Sungai Jaihun menuju Balkh, seorang
Turk dari pasukan Yinqi—keponakan Tharmasyirin (anak dari
saudaranya Kebek yang pernah dibunuh Tharmasyirin)—melihatnya. Yinqi berkata,
"Ia tidak akan kabur kecuali ada masalah." Maka ia segera mengejar
dan menangkap Tharmasyirin, lalu memenjarakannya.
Buzun tiba di Samarkand dan Bukhara, dan rakyat membaiatnya.
Yinqi menyerahkan Tharmasyirin. Konon, ia dibunuh di Nasaf, di luar
Samarkand, dan dimakamkan di sana. Makamnya dirawat oleh Syaikh
Syamsuddin Kurdan Buraidā. Nama "Kurdan" berarti leher,
dan "Buraidā" berarti terpotong—ia dijuluki demikian karena ada bekas
luka di lehernya. Aku pernah bertemu orang ini di India, dan akan kuceritakan
kelak.
Namun ada juga yang mengatakan Tharmasyirin tidak terbunuh.
Dan kisahnya menjadi semakin aneh.
Orang yang Mengaku Sultan
Setelah Buzun berkuasa, putra Tharmasyirin—bernama Basyāī
Ughli—beserta saudara perempuannya dan suaminya Firuz melarikan
diri ke India. Raja India (Sultan Muhammad bin Tughluq) menyambut mereka dengan
hormat, karena sebelumnya Tharmasyirin dan raja India bersahabat dan saling
berkirim surat.
Namun kemudian, seorang lelaki datang dari wilayah Sind,
mengaku sebagai Tharmasyirin. Orang-orang ragu. Kabar ini sampai ke Imad
al-Mulk Sartiz, seorang gubernur Sind yang juga panglima tertinggi pasukan
India. Ia mengutus beberapa orang Turk yang mengenal Tharmasyirin untuk
memeriksanya. Mereka kembali dan melaporkan, "Itu benar-benar
Tharmasyirin."
Sartiz lalu menyiapkan kemah-kemah (sarājah) di luar
kota, memperlakukannya layaknya raja. Ia sendiri keluar menyambut, turun dari
kudanya, memberi hormat, dan mengantarnya ke kemah. Tak seorang pun ragu lagi.
Sartiz mengirim kabar ke raja India.
Raja India mengirim para amir untuk menjemputnya dengan
jamuan. Di istana, ada seorang tabib istana yang dulu pernah merawat
Tharmasyirin. Tabib itu berkata kepada raja, "Aku akan pergi menemuinya
dan memastikan kebenarannya. Dulu aku mengobati bisul di bawah lututnya, dan
bekasnya pasti masih ada."
Tabib itu ikut dalam rombongan penyambutan. Ia mendekat, dan
dengan cermat mengamati kaki lelaki itu. Ketika ia menyentuh dan mengangkat
celana untuk melihat bekas luka, lelaki itu memarahinya, "Kau ingin
melihat bekas luka yang dulu kau obati? Ini dia!" Ia memperlihatkan bekas
itu. Tabib pun yakin.
Pengakuan yang Berakhir dengan Pengasingan
Tabib kembali dan melapor. Namun, para pejabat
tinggi—Wazir Khwajah Jahan Ahmad bin Iyas dan panglima
tertinggi Quthlugh Khan (guru raja semasa kecil)—masuk
menghadap raja dan berkata, "Ya Khudawand, Sultan Tharmasyirin telah
datang dan terbukti kebenarannya. Di sini ada sekitar empat puluh ribu orang
dari sukunya, juga putra dan menantunya. Jika mereka bersatu, apa yang akan
terjadi?"
Kata-kata itu meresap dalam hati raja. Ia segera
memerintahkan agar lelaki itu dihadapkan. Ketika ia masuk, raja menyambutnya
dengan perlakuan biasa, tanpa hormat, dan berkata kasar, "Hei, Mādar
Kānī—sebuah makian keji—" beraninya kau berdusta mengaku sebagai
Tharmasyirin? Tharmasyirin sudah mati. Pelayan makamnya ada di sini. Demi
Allah, kalau bukan karena aib, akan kubunuh kau! Tapi... beri dia lima ribu
dinar, dan bawa ia ke rumah Basyāī Ughli dan saudarinya, anak-anak
Tharmasyirin. Katakan pada mereka, 'Orang dusta ini mengaku sebagai ayah
kalian.'"
Lelaki itu dibawa ke rumah mereka. Mereka mengenalinya, dan
ia bermalam di sana, dijaga ketat. Keesokan harinya, ia diusir. Mereka takut
celaka karenanya, dan menyangkalnya.
Lelaki itu lalu diusir dari India dan Sind. Ia berjalan
melalui Kij dan Mekran. Penduduk setempat
memuliakannya, menjamunya, dan memberi hadiah. Ia terus berjalan hingga tiba
di Shiraz. Sultan Shiraz, Abu Ishaq, menyambutnya
dengan hormat dan memberikan segala keperluannya.
Penyesalan di Shiraz
Saat aku tiba di Shiraz dalam perjalanan pulang dari India,
kudengar lelaki itu masih tinggal di sana. Aku ingin sekali menemuinya, namun
ia berada di sebuah rumah yang tak bisa dimasuki siapa pun tanpa izin Sultan
Abu Ishaq. Aku khawatir akan timbul masalah jika memaksakan diri. Maka aku
urungkan niatku.
Kini, setelah bertahun-tahun, aku masih menyesal. Seandainya
aku nekat menemuinya... mungkin aku bisa mendengar sendiri kisahnya dari
mulutnya. Siapa tahu ia benar-benar Tharmasyirin? Atau mungkin ia hanya seorang
pengembara yang terperangkap takdir? Yang jelas, di balik takhta dan kekuasaan,
ada begitu banyak rahasia yang tak pernah terungkap.
Sumber Kisah:
*Rihlah Ibnu Battutah

Komentar
Posting Komentar