Rihlah Ibnu Bathutah #61 : Sultan Alauddin Tharmasyirin, Keadilan, Kerendahan Hati, dan Sebuah Pelajaran Hidup
Penguasa Negeri Seberang
Dari perkemahan itu, aku mulai mendengar nama agung yang
disebut dengan penuh hormat oleh setiap musafir dan pedagang: Sultan
Alauddin Tharmasyirin, penguasa seluruh negeri di seberang Sungai Jaihun.
Namanya asing di telingaku saat pertama kali terdengar.
Namun kini aku tahu: ia adalah raja besar, disegani oleh empat penguasa terkuat
di dunia—Raja Cina, Raja India, Raja Irak, dan Sultan Uzbak. Mereka
semua segan kepadanya. Bukan karena pasukannya yang tak terbilang jumlahnya,
bukan pula karena luas kerajaannya yang membentang. Mereka segan karena
keadilannya. Karena caranya memerintah bukan dengan pedang, melainkan dengan
hati.
Tharmasyirin naik takhta setelah kakaknya, Jakatay.
Dan Jakatay naik setelah kakak mereka, Kebek. Dua raja sebelumnya
adalah kafir. Namun anehnya, rakyat justru mengenang Kebek sebagai pemimpin
yang adil. Ia melindungi kaum Muslimin, menghormati ulama, dan tak pernah
menzalimi siapa pun.
Dan aku pun mendengar satu kisih tentang Kebek yang
membuatku tersenyum...
Sebuah Nama dalam Al-Qur'an
Suatu hari, Kebek bertanya kepada Badruddin
Al-Maydani, seorang faqih dan penceramah ternama.
"Kau katakan Allah telah menyebutkan segala sesuatu di
dalam Kitab Suci-Nya?" tanya Kebek.
"Benar," jawab sang faqih.
"Lalu di manakah namaku di dalamnya?"
Sang faqih tersenyum. Lalu ia membaca ayat suci:
"Fī ayyi ṣūratin mā syā'a rakkabak."
—"Dalam bentuk apa pun yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu."
(QS. Al-Infithar: 8)
Lalu ia berkata, "Namamu ada di sini, tuanku. Kebek. Rakkabak —
menyusunmu. Itulah namamu."
Kebek tercenung. Kemudian ia berkata, "Yakhshi!" —dalam
bahasa Turk berarti "baik" atau "bagus".
Sejak hari itu, ia semakin memuliakan kaum Muslimin.
Hukum yang Keluar dari Perut
Satu kisah lain tentang Kebek membuat bulu kudukku berdiri.
Seorang perempuan miskin, ibu dari banyak anak, datang
menghadapnya. Ia menangis. Setiap hari ia memerah susu dari ternaknya, lalu
menjualnya untuk memberi makan anak-anaknya. Namun seorang amir—pejabat tinggi
kerajaan—datang, merebut susu itu, dan meminumnya paksa.
Kebek mendengar dengan tenang. Lalu ia berkata:
"Aku akan membelah perutnya. Jika susu itu masih ada di
dalamnya, biarlah ia binasa. Jika tidak, engkaulah yang akan Kubelah
berikutnya."
Perempuan itu gemetar. Ia berkata, "Aku maafkan,
Tuanku. Aku tak menuntut apa-apa."
Namun Kebek tetap pada putusannya. Amir itu dibawa ke
hadapannya. Perutnya dibelah. Dan susu itu masih ada di dalamnya.
Aku tidak tahu apakah kisah ini benar atau sekadar cerita
yang diwariskan. Namun ketika orang-orang menceritakannya di hadapan
Tharmasyirin, ia tidak membantah. Ia hanya diam. Dan matanya berkaca-kaca.
Pagi di Masjid Perkemahan
Kembali ke hari-hariku di perkemahan Sultan. Mereka
menyebutnya al-urdu—kota tenda yang berpindah-pindah.
Seperti biasa, aku pergi ke masjid untuk shalat Subuh.
Matahari belum muncul, udara menusuk tulang, namun masjid tetap penuh.
Usai shalat, seseorang berbisik, "Sultan ada di
sini."
Aku menoleh. Di barisan depan, seorang lelaki berpakaian
sederhana sedang merapikan sorbannya. Ia tidak duduk di mimbar, tidak
dikelilingi pengawal. Ia hanya duduk di lantai, seperti jamaah lainnya.
Itukah Sultan Alauddin Tharmasyirin?
Syaikh Hasan dan Faqih Husamuddin
Al-Yaghi—guruku yang saleh itu—menghampiriku dan membawaku ke hadapannya.
"Tuanku," kata Husamuddin, "orang ini adalah
Ibnu Battutah, musafir dari Maghribi. Ia telah sampai di sini beberapa hari
lalu."
Sultan menatapku. Wajahnya tenang, janggutnya rapi, sorot
matanya lembut. Lalu ia berkata dalam bahasa Turk:
"Khush misin? Yakhshi misin? Qutlugh misin?"
Husamuddin menerjemahkan: "Engkau baik-baik
saja? Engkau sehat? Semoga kedatanganmu membawa berkah."
Aku menjawab dengan hormat. Ia tersenyum. Pagi itu ia
mengenakan qaba' Qudsyi berwarna hijau, dengan syasyiyah (penutup
kepala) yang senada. Sederhana. Tidak seperti raja yang kutemui sebelumnya.
Raja yang Berjalan Kaki
Usai shalat, Sultan berjalan kaki menuju majelisnya. Di
sepanjang jalan, rakyat berkerumun—lelaki, perempuan, tua, muda, bahkan
anak-anak—mereka semua mengadu. Ada yang kehilangan ternak, ada yang tanahnya
direbut, ada yang hanya ingin menyalami tangannya.
Dan Sultan berhenti untuk setiap orang. Tidak ada yang
dilewati. Tidak ada yang diabaikan.
Aku berjalan di belakangnya, dan untuk pertama kalinya aku
bertanya: siapakah sebenarnya seorang raja?
Di Dalam Tenda Sutera
Beberapa waktu kemudian, Sultan memanggilku ke kharkah-nya—tenda
besar tempat ia menerima tamu kehormatan.
Di luar tenda, para prajurit duduk berbaris rapi,
masing-masing meletakkan senjatanya di hadapan. Mereka adalah pasukan nawbah yang
bergantian berjaga dari pagi hingga larut malam. Tenda-tenda kecil dari kain
kapas didirikan sebagai tempat berteduh. Semua teratur, semuanya pada
tempatnya.
Aku masuk ditemani empat pejabat tinggi: wakil
Sultan, wazir, hajib, dan ṣāḥib al-‘alāmah. Mereka menyebut al-‘alāmah dengan
istilah Turk: Ṭamghā. Dan orang yang menyandangnya disebut Āl
Ṭamghā — "yang merah", karena stempelnya berwarna merah.
Di dalam tenda, dindingnya dilapisi sutera bersulam emas.
Sultan duduk di atas kursi menyerupai mimbar, berlapiskan sutera emas. Di atas
kepalanya, tergantung sebuah mahkota bertatahkan permata dan yaqut, berjarak
sekitar satu hasta dari ubun-ubunnya. Para amir besar duduk di kursi di kanan
dan kirinya. Para putra mahkota berdiri dengan kipas di tangan.
Aku memberi salam. Sultan menjawab dengan ramah, lalu
bertanya panjang lebar—tentang Makkah, Madinah, Baitul Maqdis, tentang Kota
Al-Khalil (Hebron), tentang Damaskus, Mesir, dan Sultan An-Nashir, tentang dua
negeri Irak dan rajanya, serta tentang negeri-negeri 'Ajam.
Ṣāḥib al-‘alāmah menjadi penerjemahku. Ia
memindahkan kata-kataku dari bahasa Arab ke bahasa Turk, dan kata-kata Sultan
kembali kepadaku.
Kami berbicara lama. Dan aku merasa seperti berbicara dengan
seorang sahabat, bukan seorang raja.
Seorang Sultan yang Tak Pernah Meninggalkan Jamaah
Selama hari-hari itu, aku selalu shalat berjamaah bersama
Sultan.
Bahkan di tengah dingin yang mematikan, ia tak pernah
meninggalkan shalat Subuh dan Isya. Setelah Subuh, ia duduk berdzikir dalam
bahasa Turk hingga matahari terbit. Setiap orang di masjid—baik tua maupun
muda—datang menyalami tangannya. Mereka memegang erat telapak tangannya, seolah
tak ingin melepas.
Hal yang sama terjadi setelah Ashar.
Dan satu hal yang membuatku takjub: jika seseorang
membawakan hadiah—setangkai anggur kering, atau beberapa butir kurma (yang
sangat langka dan dimuliakan di negeri ini)—Sultan akan mengambilnya dengan
tangannya sendiri, lalu membagikannya kepada setiap orang yang hadir di masjid.
Satu per satu. Tak ada yang terlewat.
Sebuah Keberanian yang Disebut Iman
Suatu hari, waktu Ashar tiba dan Sultan belum datang.
Seorang pelayan membawa sajadah, meletakkannya di tempat biasa Sultan berdiri,
lalu berkata kepada Imam Husamuddin Al-Yaghi:
"Maulana, Tuanku memohon agar engkau menanti sejenak.
Ia sedang berwudhu."
Imam Husamuddin berdiri. Wajahnya merah. Ia berkata lantang:
"Namāz... barā-yi khudā ast, yā barā-yi
Tharmasyirīn?"
—"Shalat... untuk Allah, atau untuk Tharmasyirin?"
Lalu tanpa menunggu lebih lama, ia memerintahkan muadzin
untuk mengumandangkan iqamat.
Saat Sultan tiba, dua rakaat pertama telah selesai. Ia
segera mengambil posisi di shaf yang tersisa, menyempurnakan shalatnya, lalu
berdiri menghadap Imam Husamuddin.
Saya mengira ia akan marah. Mungkin setidaknya kecewa.
Namun Sultan tersenyum. Ia menjabat tangan Imam Husamuddin
erat-erat, lalu duduk di hadapan mihrab. Imam Husamuddin duduk di sampingnya.
Dan aku duduk di samping sang Imam.
Sultan menoleh kepadaku. Dengan suara pelan, ia berkata:
"Jika engkau kembali ke negerimu... ceritakanlah. Bahwa
seorang darwis dari negeri 'Ajam berkata seperti itu kepada Sultan Turk. Dan
Sultan mendengarkannya."
Sang Penentang Sultan yang Dicintai Sultan
Aku mulai memahami siapa Imam Husamuddin Al-Yaghi. Ia bukan
sekadar imam. Ia adalah penjaga nurani kerajaan.
Setiap Jumat, ia berdiri di atas mimbar. Ia menasihati
Sultan di hadapan ribuan rakyat. Ia memperingatkannya dari kezaliman,
melarangnya dari kemungkaran, bahkan mengeraskan suara di depan wajahnya.
Dan Sultan? Sultan tidak marah. Sultan tidak membela diri.
Sultan menangis.
Aku melihatnya sendiri. Air mata itu jatuh tanpa suara.
Sultan mendengarkan setiap kata Imam Husamuddin seperti seorang murid
mendengarkan gurunya.
Namun yang lebih mencengangkan: Imam Husamuddin tidak pernah
menerima pemberian Sultan. Tidak pernah memakan makanannya, tidak pernah
mengenakan pakaiannya. Ia datang hanya untuk menyampaikan kebenaran, bukan
untuk mendapatkan imbalan.
Aku bertanya dalam hati: siapakah sebenarnya yang lebih
besar di hadapan Allah? Penguasa yang menangisi nasihat, atau faqih yang
menolak dunia?
Sumber Kisah:
Rihlah Ibnu Battutah

Komentar
Posting Komentar