Rihlah Ibnu Bathutah #55 : Biara dan Raja Rahib di Konstantinopel
Manastar-Manastar di Kota Konstantinopel
Di kota Konstantinopel, yang kini dikenal sebagai Istanbul,
aku mendapati sebuah dunia yang penuh dengan biara dan tempat-tempat ibadah
Nasrani. Mereka menyebut biara itu manastar, sebuah kata yang
bunyinya hampir mirip dengan maristan, hanya saja letak
huruf-hurufnya berbeda. Bagi mereka, manastar kurang lebih seperti zawiyah di
kalangan kaum Muslim, yakni tempat orang mengasingkan diri untuk beribadah dan
berzikir.
Di kota ini, manastar begitu banyak jumlahnya. Salah satunya
adalah manastar yang dibangun oleh Raja Jirjis, ayah Raja Konstantinopel saat
itu. Biara ini terletak di luar kota Istanbul, menghadap ke kawasan Galata, di
tepi pantai. Nanti, aku akan menceritakan pertemuanku dengan raja yang telah
bertapa ini.
Di dekat gereja agung kota itu—gereja terbesar dan paling
dimuliakan—terdapat beberapa manastar lain. Di luar gereja, di sebelah kanan
pintu masuk, ada dua manastar yang berdiri di dalam sebuah kebun yang indah.
Sebuah sungai kecil mengalir membelah kebun itu dan melewati kedua biara
tersebut. Satu manastar diperuntukkan bagi laki-laki, dan satu lagi bagi
perempuan. Di masing-masing manastar ada sebuah gereja, dan di sekelilingnya
berdiri rumah-rumah kecil tempat para ahli ibadah tinggal dan beribadah siang
dan malam.
Masing-masing biara ini memiliki wakaf khusus untuk
mencukupi kebutuhan para penghuninya: pakaian, makanan, dan segala nafkah
mereka. Semua ini dibangun oleh salah seorang raja di antara raja-raja mereka,
sebagai bentuk pengabdian dan ketaatan menurut ajaran mereka.
Di sisi kiri pintu masuk gereja agung, terdapat dua manastar
lain yang bentuk dan fungsinya hampir sama dengan dua yang pertama. Di
sekeliling keduanya juga terdapat rumah-rumah. Namun penghuninya berbeda: salah
satu manastar dihuni oleh para tunanetra, sedangkan yang lain dihuni oleh para
orang tua lanjut usia yang sudah tidak sanggup lagi bekerja dan melayani, yaitu
mereka yang berumur sekitar enam puluh tahun atau lebih. Masing-masing dari
penghuni ini juga mendapat pakaian dan nafkah dari wakaf-wakaf yang memang
disediakan untuk mereka.
Di dalam setiap manastar terdapat sebuah ruangan atau
bangunan kecil khusus untuk raja yang membangunnya. Di tempat itulah sang raja
berkhalwat dan beribadah ketika ia telah meninggalkan urusan dunia.
Kebanyakan raja-raja mereka, ketika usia mencapai enam puluh
atau tujuh puluh tahun, akan membangun sebuah manastar. Setelah itu mereka
mengenakan pakaian dari bulu kasar—mereka menyebutnya al-masuh,
semacam pakaian para rahib—lalu mereka menyerahkan kekuasaan kepada putra
mereka. Setelah itu mereka menyibukkan diri dengan ibadah dan menjauhi urusan
kerajaan hingga wafat.
Mereka sangat serius dan penuh kemegahan dalam membangun
manastar-manastar ini. Dindingnya dari marmer, lantai dan hiasan dalamnya penuh
mozaik berwarna-warni. Di seluruh kota Konstantinopel, biara-biara seperti ini
tersebar sangat banyak, hingga sulit dihitung jumlahnya.
Di Dalam Biara Para Putri Raja
Suatu hari, aku masuk ke salah satu manastar bersama seorang
Rom (Bangsa Rum/Byzantium) yang ditunjuk langsung oleh raja untuk menemaniku
berkeliling. Biara itu juga dilintasi sebuah sungai kecil. Di dalamnya terdapat
sebuah gereja yang cukup besar.
Di gereja itu, kulihat sekitar lima ratus gadis perawan.
Mereka mengenakan pakaian dari bulu kasar, semacam jubah para rahib. Kepala
mereka dicukur gundul, dan di atasnya mereka mengenakan semacam topi dari kain
kempa. Meskipun berpakaian sederhana dan kepala mereka dicukur, kecantikan
mereka sangat menonjol, dan di wajah-wajah mereka tampak jelas bekas-bekas
kesungguhan ibadah: ketenangan, kekhusyukan, dan kesederhanaan.
Di tengah ruangan, di atas sebuah mimbar, duduk seorang anak
lelaki. Ia membacakan Injil dengan suara yang begitu merdu hingga aku merasa
belum pernah mendengar suara seindah itu seumur hidupku. Di sekelilingnya, di
atas mimbar-mimbar kecil lain, duduk delapan anak lelaki lainnya. Mereka juga
akan bergantian membaca, dan bersama mereka hadir pula seorang pastor yang
membimbing.
Setelah anak pertama selesai membaca, seorang anak lain
berdiri dan mulai melanjutkan bacaan Injil. Temanku dari bangsa Rom yang
menemaniku berbisik kepadaku, menjelaskan bahwa para gadis itu adalah
putri-putri raja. Mereka, menurut keyakinan mereka, telah mengabdikan diri
untuk melayani gereja itu dan beribadah seumur hidup. Demikian pula anak-anak
lelaki pembaca Injil itu; mereka juga telah mengabdikan diri.
Ia juga memberitahuku bahwa para gadis dan anak lelaki itu
memiliki sebuah gereja lain di luar gereja ini, yang juga mereka gunakan untuk
ibadah dan pembacaan kitab suci.
Biara Para Putri Menteri dan Tokoh Kota
Aku juga masuk ke sebuah gereja lain yang berada di dalam
sebuah kebun. Di sana pun aku mendapati pemandangan yang hampir sama: sekitar
lima ratus gadis perawan atau bahkan lebih. Seorang anak lelaki berdiri di atas
mimbar, membacakan kitab suci dengan suara lantang, dan di sekelilingnya ada
sekelompok anak lelaki lain di atas mimbar-mimbar kecil, sebagaimana yang
kulihat sebelumnya.
Temanku dari bangsa Rom menjelaskan, “Gadis-gadis ini adalah
putri-putri para menteri dan para amir (bangsawan dan pejabat tinggi). Mereka
beribadah dan mengabdikan diri di gereja ini.”
Selain itu, aku juga masuk ke berbagai gereja lain. Ada
gereja-gereja yang di dalamnya terdapat para gadis perawan dari kalangan
keluarga terpandang penduduk kota. Ada gereja-gereja lain yang dihuni oleh para
wanita tua dan para janda yang sudah tidak menikah lagi, yang menghabiskan sisa
hidup mereka dalam ibadah. Ada juga gereja-gereja yang dipenuhi para rahib
laki-laki; di satu gereja kadang terdapat seratus rahib atau lebih, kadang
kurang, semuanya sibuk dengan ibadah dan pelayanan menurut ajaran mereka.
Kebanyakan penduduk kota Konstantinopel adalah rahib, ahli
ibadah, dan pastor. Gereja-gereja mereka sangat banyak, sampai-sampai sulit
untuk dihitung jumlahnya.
Kebiasaan Penduduk: Payung di Kepala dan Sorban Besar
Ada satu hal lain yang menarik perhatianku tentang
masyarakat kota ini. Para penduduknya, baik dari kalangan tentara maupun orang
biasa, tua ataupun muda, memiliki kebiasaan mengenakan sesuatu di kepala
mereka, seperti payung besar. Mereka memakainya baik di musim dingin maupun di
musim panas, seolah menjadi bagian tetap dari pakaian mereka.
Para perempuan di kota itu juga memiliki penutup kepala yang
khas. Mereka mengenakan sorban besar di kepala, yang membedakan mereka dari
kaum laki-laki dan menambah keunikan penampilan mereka.
Raja Jirjis yang Menjadi Rahib
Di antara semua kisah yang kualami di Konstantinopel, salah
satu yang paling berkesan adalah pertemuanku dengan Raja Jirjis, ayah raja yang
saat itu berkuasa.
Raja Jirjis ini telah meninggalkan takhta dan memilih hidup
sebagai seorang rahib. Ia membangun sebuah manastar di luar kota, tepat di tepi
pantai, seperti yang telah kusebutkan sebelumnya. Di situlah ia mengasingkan
diri untuk beribadah.
Suatu hari, ketika aku sedang berjalan bersama orang Rom
yang ditugaskan menemaniku, tiba-tiba kami melihat seorang lelaki tua berjalan
kaki. Pakaiannya sederhana, terbuat dari bulu kasar seperti pakaian para rahib.
Di kepalanya ada topi dari kain kempa. Janggutnya putih dan panjang, wajahnya
tampan dan bercahaya, diwarnai bekas-bekas ibadah yang panjang.
Di depan dan belakangnya berjalan sekelompok rahib. Di
tangannya ia memegang sebuah tongkat. Di lehernya tergantung tasbih yang
senantiasa ia genggam.
Begitu temanku dari bangsa Rom melihatnya, ia segera turun
dari tunggangannya dan berkata kepadaku, “Turunlah, ini adalah ayah raja.”
Ia lalu mendekat dan memberi salam kepada lelaki itu dengan
penuh hormat. Setelah itu, sang raja-rahib bertanya tentang diriku. Ia kemudian
berhenti berjalan dan menyuruh seseorang memanggilku. Aku pun maju mendekat.
Ia memegang tanganku, lalu berkata kepada temanku orang Rom,
yang menguasai bahasa Arab, “Katakan kepada sarakanaw ini—maksudnya,
orang Muslim ini—bahwa aku sedang berjabat tangan dengan tangan yang pernah
memasuki Baitul Maqdis (Yerusalem), dan dengan kaki yang pernah melangkah di
dalam Masjid Shakhrah, di gereja agung yang mereka sebut Qumamah (Gereja Makam
Kudus), serta di Betlehem.”
Sambil mengucapkan itu, ia meletakkan tangannya di atas
kakiku dan mengusap wajahnya dengan tangan yang menyentuh kakiku itu. Aku
sangat heran melihat betapa besar penghormatan dan keyakinan mereka terhadap
siapa saja yang pernah mengunjungi tempat-tempat suci itu, meskipun orang
tersebut tidak seagama dengan mereka.
Di Ambang Gereja Agung
Setelah itu, raja-rahib itu tetap memegang tanganku dan kami
berjalan bersama. Ia banyak bertanya kepadaku tentang Baitul Maqdis dan tentang
kaum Nasrani yang tinggal di sana. Ia memperpanjang pertanyaannya, ingin tahu
tentang keadaan mereka dengan sangat rinci.
Kami pun terus berjalan sampai akhirnya tiba di kawasan suci
gereja agung yang telah kuceritakan sebelumnya. Ketika hampir sampai di pintu
besar gereja, sekelompok pastor dan rahib keluar untuk menyambutnya. Dari cara
mereka menyambut dan memuliakannya, sangat jelas bahwa ia adalah tokoh besar
dan sangat dihormati di kalangan para rahib.
Saat melihat mereka datang, ia melepaskan tanganku. Aku pun
berkata kepadanya, “Aku ingin masuk bersamamu ke dalam gereja.”
Ia lalu berkata kepada juru bahasanya, “Katakan kepadanya:
siapa pun yang masuk ke dalam gereja ini wajib sujud kepada salib besar. Itu
adalah ketentuan yang telah ditetapkan oleh orang-orang terdahulu, dan tidak
mungkin ditentang.”
Mendengar itu, aku menyadari bahwa aku, sebagai seorang
Muslim, tidak mungkin melakukannya. Maka aku memutuskan untuk tidak masuk. Aku
pun berpisah dengannya di depan pintu gereja. Ia melanjutkan langkahnya masuk
ke dalam, sedangkan aku tetap di luar.
Setelah pertemuan hari itu, aku tidak pernah melihatnya
lagi.
Sumber kisah:
Rihlah Ibn Battuta

Komentar
Posting Komentar