rihlah Ibnu Bathutah #47 : Boli, Borlu, dan Kastamonu
Menuju Kota Boli dan Lembah yang Menipu
Angin dingin musim salju menyambut kami ketika kafilah kecil kami mendekati sebuah kota yang disebut orang Boli. Lidah-lidah di negeri Rūm melafalkannya dengan bunyi “Bo-li”, lembut dan singkat, sependek jarak yang tampak di depan mata ketika kami memandang sebuah lembah kecil di hadapan kota itu.
Dari kejauhan, lembah itu tampak sepele. Airnya terlihat tenang dan dangkal. Namun, begitu sebagian sahabatku turun dan mencoba menyeberang, barulah mereka menyadari betapa deras arusnya dan betapa berbahayanya tempat itu. Satu per satu mereka berjuang melewati arus, dan dengan susah payah akhirnya seluruh rombongan berhasil menyeberang.
Tinggallah seorang pelayan perempuan kecil bersama kami di tepi lembah, seorang gadis yang lemah lembut, yang keberadaannya membuat semua orang cemas. Mereka khawatir ia tak akan sanggup menantang derasnya air. Kuda-kuda sahabatku sudah dipaksa sedemikian rupa, dan mereka menoleh kepadaku, karena kudaku lebih kuat dan lebih baik daripada kuda-kuda mereka.
“Aku akan membawanya,” kataku.
Aku memboncengkannya di belakangku, menenangkan hatinya dengan kata-kata yang lembut, lalu menuntun kudaku memasuki arus. Air yang tampak jinak dari kejauhan, ternyata menggila di tengah lembah. Ketika aku sampai di bagian terdalam, kakiku tak lagi menyentuh dasar, dan arus menghantam kuat ke tubuh dan tungganganku.
Tiba-tiba kudaku terpeleset dan jatuh. Dalam sekejap, aku dan si pelayan kecil terlempar ke dalam air yang mengguncang dan membuat dada sesak. Air yang membeku oleh musim dingin terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulit.
Aku berusaha tenang, menahan napas, meraba dasar, dan dengan pertolongan Allah aku berhasil bangkit dan menyelamatkan diriku ke tepian. Sahabat-sahabatku bergegas menolong, mereka berlari menyusuri tepi lembah, melompat ke air, menarik tubuh kecil pelayan itu dari derasnya arus.
Ketika mereka mengangkatnya, wajahnya pucat dan nafasnya tersisa hanya sedikit. Namun, masih ada hidup dalam dirinya. Mereka membaringkannya, menghangatkan tubuhnya, dan perlahan ia kembali sadar. Sementara itu, aku berdiri terengah-engah di tepi lembah, air menetes dari pakaianku, hatiku penuh rasa syukur karena diselamatkan dari bahaya yang tak terduga.
Sesudah semua tenang, kami pun melanjutkan perjalanan memasuki kota Boli.
Kehangatan Zawiyah Para Akhī
Kami menuju sebuah zawiyah milik salah seorang pemuda kelompok Akhī. Di negeri Rūm, para Akhī adalah orang-orang yang menjunjung tinggi persaudaraan, keberanian, dan kedermawanan. Zawiyah-zawiyah mereka bagaikan rumah singgah bagi para musafir, tempat di mana orang asing diperlakukan seperti keluarga.
Di musim dingin, mereka memiliki kebiasaan yang menakjubkan: api selalu dinyalakan di zawiyah-zawiyah mereka sepanjang hari. Di setiap sudut ruangan, mereka membuat tungku dan cerobong agar asapnya naik ke atas tanpa memenuhi zawiyah. Mereka menyebut tungku pemanas itu al-bukhārī, dan satu buahnya disebut bukhārī.
Ketika aku kemudian menceritakan hal ini kepada sahabatku yang kelak menuliskan perjalananku, Ibnu Juzay, ia tersenyum dan berkata ia teringat sebuah syair indah karya Shafiyyuddin ‘Abdul ‘Azīz bin Sarāyā al-Hillī tentang al-bukhārī. Lalu ia melantunkannya:
“Sesungguhnya tungku pemanas, sejak kalian meninggalkanku,
kini menaburkan abu di atas bara tanahnya yang dingin.
Seandainya kalian ingin ia menjadi seperti Abu Lahab,
maka keledai-keledai jin kalian akan datang membawa kayu bakar.”
Syair itu seakan menghidupkan suasana zawiyah yang hangat dalam dinginnya udara.
Ketika kami masuk ke dalam zawiyah pemuda Akhī itu, kami dapati api menyala terang. Badanku menggigil dan pakaian yang basah oleh air lembah menempel dingin di kulit. Aku segera melepas pakaianku dan mengenakan yang lain, lalu duduk dekat api, merentangkan tangan dan kakiku sambil memejamkan mata, membiarkan hangatnya bara mengusir sisa rasa dingin dan takut dari kejadian di lembah.
Tak lama kemudian, tuan rumah kami, sang Akhī, datang membawa makanan, buah-buahan, dan berbagai hidangan lain. Senyumannya tulus dan sikapnya lembut. Ia tak bertanya panjang lebar, tak pula menunggu kami meminta. Ia memberi sebelum diminta, memuliakan sebelum dikenali.
Di antara banyak kaum yang kusaksikan dalam perjalananku, kelompok Akhī termasuk yang paling mulia jiwanya. Mereka begitu gemar berkorban, begitu besar belas kasihnya kepada orang asing, sangat ramah kepada pendatang, dan sangat mencintai serta memperlakukan mereka dengan baik. Kehadiran seorang musafir di tengah mereka tidak lain bagaikan kedatangan seorang anak kepada keluarga tercinta yang sudah lama menunggu.
Malam itu kami bermalam di zawiyah tersebut dengan penuh ketenangan. Di luar, angin musim dingin menderu, namun di dalam hati kami ada kehangatan persaudaraan yang tak bisa digantikan oleh api mana pun. Pagi harinya, setelah berterima kasih dan berpamitan, kami berangkat meninggalkan Boli.
Karadi Boli: Kota Dingin dan Pertemuan dengan Syah Bey
Perjalanan berikutnya membawa kami ke sebuah kota yang lebih besar, yang disebut Karadi Boli. Kota itu berada di sebuah dataran yang indah, dengan jalan-jalan yang luas dan pasar-pasar yang lapang. Di antara negeri-negeri yang pernah kudatangi, Karadi Boli adalah salah satu yang paling dingin. Dingin di sana seolah meresap bukan hanya ke kulit, tetapi juga ke tulang.
Kota itu terbagi menjadi beberapa permukiman yang terpisah. Setiap permukiman dihuni oleh satu kelompok, tanpa bercampur dengan kelompok lain. Seakan-akan kota itu adalah beberapa desa besar yang disatukan, tetapi tiap-tiapnya tetap mempertahankan batas dan kebiasaannya sendiri.
Penguasa kota ini bernama Syah Bey. Di antara para sultan di negeri ini, ia termasuk golongan pertengahan; bukan yang paling besar kekuasaannya, tetapi juga bukan yang paling kecil. Wajahnya tampan, budi pekertinya baik, akhlaknya indah. Ia lembut dalam ucapan, sopan dalam sikap. Hanya saja, pemberiannya tidak banyak. Ia bukan termasuk raja yang terkenal dengan kelapangan tangan dalam hal hadiah dan sedekah.
Kami singgah di sana dan menunaikan shalat Jumat di salah satu masjid kota. Di kota ini aku berkenalan dengan seorang faqih dan khatib bernama Syamsuddin ad-Dimasyqi al-Hanbali. Ia berasal dari Dimasyq (Damaskus), namun telah lama menetap di Karadi Boli. Ia telah memiliki anak-anak di sana dan menjadi khatib sekaligus faqih bagi sultan. Ucapannya didengar, nasihatnya diperhatikan.
Suatu hari, ia mendatangiku di zawiyah tempat kami menginap. Dengan nada hormat ia berkata, “Sultan akan datang mengunjungi Anda.”
Aku terkejut sekaligus bersyukur. Seorang penguasa datang ke zawiyah untuk menemui seorang musafir asing bukanlah peristiwa yang biasa. Aku mempersiapkan diri semampuku untuk menyambut kedatangannya.
Tak lama kemudian, Syah Bey datang. Aku berdiri, memberi salam, dan ia pun duduk di tempat yang disediakan. Ia menanyakan tentang keadaanku, dari mana aku datang, dan negeri-negeri yang telah kulalui. Ia meminta aku menceritakan tentang para sultan yang pernah kutemui di berbagai negeri Islam.
Aku pun menceritakan perjalanan panjangku: tentang Maghrib, Mesir, Syam, Hijaz, Irak, dan negeri-negeri lainnya. Ia mendengar dengan penuh perhatian, sesekali bertanya, namun tak berpanjang-panjang. Setelah beberapa lama, ia pamit dan pergi.
Tak lama setelah ia beranjak, seorang utusan datang membawakan hadiah darinya: seekor hewan tunggangan yang telah diberi pelana, dan beberapa pakaian. Meski pemberiannya tidak berlimpah, namun tetap merupakan nikmat dan kehormatan yang besar bagi seorang musafir seperti aku.
Setelah beberapa waktu, kami melanjutkan perjalanan menuju sebuah kota lain: Borlu.
Borlu: Jamuan di Atas Benteng
Borlu adalah sebuah kota kecil yang terletak di atas sebuah bukit. Di kaki bukit terdapat sebuah penginapan bagi para musafir. Di puncak bukit menjulang sebuah benteng tinggi yang kokoh, memandang jauh ke lembah-lembah di sekitarnya.
Kami singgah di sebuah madrasah di kota ini. Dalam rombongan kami ada seorang haji yang sudah mengenal mudaris dan para thalib di madrasah itu. Ia bermazhab Hanafi dan memiliki hubungan yang baik dengan mereka. Ia menghadiri pelajaran bersama para pelajar, sementara aku menyiapkan diri untuk memenuhi undangan penguasa kota.
Amir negeri ini adalah Ali Bey bin Sultan Sulaiman Bad Syah, raja Kastamonu, yang kelak akan kuceritakan kemudian. Ia mendengar kabar tentang kedatanganku dan mengundang kami naik ke benteng.
Kami mendaki bukit menuju benteng itu. Dari atas, pemandangan luas terbentang: lembah, ladang, dan atap-atap rumah yang mengecil di bawah kami. Sesampainya di hadapan amir, aku memberi salam. Ia menyambut dan memuliakanku, memintaku duduk di sampingnya, suatu bentuk penghormatan yang besar.
Qadhi negeri itu juga hadir, bersama katibnya yang bernama Haj ‘Ala’uddin Muhammad, salah seorang penulis terkemuka di sana. Setelah perkenalan singkat, makanan dihidangkan. Kami makan bersama dalam suasana hangat, meski udara di luar tetap dingin menggigit.
Selesai makan, para qari‘ masuk dan mulai membaca dengan suara yang menggetarkan hati, dengan lantunan dan lagu-lagu yang mengagumkan. Suara mereka naik turun bagaikan gelombang, sesekali lembut, sesekali menggelegar, mengikat hati kami dalam keheningan yang khusyuk.
Setelah majelis itu usai, kami memohon izin untuk berpamitan. Keesokan harinya, kami bersiap menuju tujuan berikutnya: Kastamonu.
Kastamonu: Kota Indah dengan Harga yang Murah
Kastamonu adalah kota terbesar dan terindah di antara kota-kota yang kulalui di kawasan ini. Banyak kebaikan yang kudapati di sana, dan yang paling menakjubkanku adalah murahnya harga-harga kebutuhan hidup.
Kami singgah di sebuah zawiyah milik seorang syaikh yang dikenal dengan sebutan al-Athrūsy, yang berarti “yang kurang pendengarannya”. Ia hampir tuli, namun Allah mengganti kekurangan pendengarannya dengan keajaiban yang lain.
Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri sebuah hal yang menakjubkan. Seorang thalib datang kepadanya, lalu “menulis” di udara dengan jarinya, atau di atas tanah, tanpa tinta dan tanpa pena. Ia hanya menggerakkan jarinya seakan menulis huruf-huruf yang tak kasatmata.
Syaikh al-Athrūsy memperhatikan gerakan itu, lalu memahami maksud muridnya dan menjawabnya. Dengan cara yang sama, si thalib menceritakan berbagai kisah kepadanya. Syaikh itu mengangguk, mendengar dengan matanya, bukan telinganya, dan menjawab dengan tepat.
Aku tinggal di Kastamonu sekitar empat puluh hari. Di kota ini, aku benar-benar merasakan kelapangan rezeki bagi penduduknya. Kami bisa membeli sepotong besar daging domba yang gemuk hanya dengan dua dirham. Roti seharga dua dirham cukup untuk mengenyangkan sepuluh orang dalam sehari. Manisan madu seharga dua dirham cukup untuk kami semua, dan masih tersisa.
Kami membeli kenari dengan harga satu dirham, dan buah lain yang mirip kesturi dengan harga yang sama; kami makan bersama-sama dan tetap ada sisa. Kami juga membeli seikat kayu bakar seharga satu dirham, padahal saat itu musim dingin begitu keras, dan api adalah kebutuhan yang tak kalah penting daripada makanan.
Dalam semua perjalananku ke berbagai negeri, aku belum pernah melihat sebuah kota dengan harga kebutuhan hidup semurah Kastamonu.
Bersama Para Ulama Kastamonu
Di kota ini aku bertemu dengan banyak ulama. Di antaranya adalah Syaikh Imam, seorang alim, mufti, dan mudaris bernama Tajuddin as-Sulthāniyūki. Ia termasuk ulama besar; ia pernah menuntut ilmu di dua Irak—Irak Arab dan Irak ‘Ajam (Persia)—juga di Tabriz. Ia kemudian menetap di Kastamonu untuk beberapa waktu.
Ia pun pernah belajar di Damaskus dan tinggal lama di dua Tanah Suci, Makkah dan Madinah. Wajahnya membawa wibawa ilmu, dan ucapannya penuh ketenangan seorang yang telah kenyang pengalaman.
Aku juga bertemu dengan seorang alim dan mudaris lain bernama Shadruddin Sulaiman al-Fanīki, penduduk Fanika dari negeri Rūm. Ia menjamuku di madrasahnya yang terletak di pasar kuda. Dari jendelanya, suara derap kuda bercampur suara para penjual, namun di dalam madrasah suasananya tenang, diisi oleh suara kitab dan pelajar-pelajar yang tekun.
Dada Amir Ali: Sang Mu‘ammar yang Penuh Doa
Di dekat pasar kuda itu pula, aku bertemu dengan seorang syaikh yang telah sangat lanjut usia, dikenal sebagai seorang yang shalih, bernama Dada Amir Ali. Zawiyahnya sederhana, tetapi dipenuhi aura ketenangan seorang yang telah lama menghadap Allah dalam ibadah dan zikir.
Ketika aku masuk, aku mendapati beliau terbaring terlentang. Tubuhnya lemah, matanya tertutup. Sebagian pelayannya dengan lembut mendudukkannya, sementara yang lain mengangkat kelopak matanya agar dapat melihatku.
Ia membuka kedua matanya. Cahaya lemah namun jernih tampak di sana. Lalu, dengan bahasa Arab yang fasih—yang tak kusangka akan keluar dari lisannya yang begitu renta—ia berkata kepadaku, “Kedatanganmu adalah sebaik-baik kedatangan.”
Aku duduk di dekatnya, penuh hormat. Di hadapanku ada seorang lelaki yang telah hidup melampaui usia kebanyakan manusia, menyimpan dalam dirinya cerita berlapis-lapis zaman.
“Ampun, wahai syaikh,” kataku pelan, “berapa usia Anda sekarang?”
Ia menjawab, “Aku adalah salah seorang sahabat Khalifah al-Mustanshir Billah. Beliau wafat ketika aku berusia tiga puluh tahun.”
Saat aku menemuinya, ia berkata bahwa usianya kini seratus enam puluh tiga tahun. Angka yang mencengangkan bagi akal kebanyakan orang. Aku mendengar ucapannya dengan takjub, memikirkan panjangnya umur yang telah ia habiskan menyaksikan pergantian generasi, jatuh bangunnya negeri, dan berubahnya para penguasa.
Aku memohon kepadanya agar mendoakanku. Dengan suara pelan namun jelas, ia mengangkat kedua tangannya dan memanjatkan doa. Aku mengaminkan doa itu dalam hati, berharap keberkahan panjang umur dalam ketaatan dan ilmu, bukan sekadar hitungan tahun.
Setelah itu, aku pamit dan meninggalkannya, membawa serta doanya dalam perjalananku yang masih panjang.
Penutup: Jejak di Negeri Rūm
Demikianlah sebagian kisah perjalananku di negeri Rūm: dari lembah berarus deras di depan kota Boli, kehangatan zawiyah para Akhī, dinginnya Karadi Boli dan pertemuan dengan Syah Bey, jamuan di benteng Borlu, hingga keajaiban dan kemurahan Kastamonu, serta perjumpaanku dengan para ulama dan seorang mu‘ammar yang menutup hidupnya dengan ibadah dan doa.
Setiap kota meninggalkan jejaknya sendiri dalam ingatanku; namun di antara semua itu, yang paling melekat adalah wajah-wajah manusia: para pemuda Akhī yang dermawan, para ulama yang tawadhu‘, dan seorang syaikh lanjut usia yang dengan mata renta dan lidah fasih berkata kepadaku, “Kedatanganmu adalah sebaik-baik kedatangan.”
________________________________________
Peta Perjalanan Ibnu Bathutah #47
Sumber kisah:
Ibnu Bathuthah, Rihlah Ibnu Battuthah

Komentar
Posting Komentar