Persiapan Perang Uhud: Strategi Pasukan Pemanah, Pedang Abu Dujanah, dan Semangat Pemuda Islam
Inspeksi Pasukan dan Semangat Pemuda
Di tengah perjalanan menuju Uhud, Rasulullah ﷺ
menghentikan barisan. Beliau menginspeksi pasukan satu per satu. Saat itulah
tampak beberapa wajah muda yang masih belia, bersembunyi di antara para
prajurit dewasa. Mereka adalah anak-anak yang belum cukup umur, namun hati
mereka berkobar-kobar ingin turut serta berjihad. Cinta syahid telah merasuk ke
dalam jiwa mereka.
Maka dengan penuh kasih sayang, Nabi ﷺ memulangkan mereka.
Di antaranya adalah Abdullah bin Umar, Al-Barra' bin Azib, Usamah bin Zaid,
Zaid bin Tsabit, dan 'Urabah bin Aus. Namun hati mereka tetap di medan perang.
Kelak, di Perang Khandaq, Nabi mengizinkan mereka bergabung.
Kisah Samurah bin Jundub dan Rafi' bin Khadij menarik untuk
dicermat. Keduanya sama-sama berusia lima belas tahun dan ditolak Nabi. Lalu
seseorang berkata, "Wahai Rasulullah, Rafi' adalah seorang pemanah
ulung." Maka beliau pun mengizinkannya. Mendengar itu, dikatakan pula,
"Samurah mampu mengalahkan Rafi' dalam gulat." Maka Nabi pun
mengizinkan Samurah.
Betapa agung pendidikan Islam ketika itu. Para pemuda tidak
kalah dari orang dewasa dalam kecintaan pada jihad dan pengorbanan. Merekalah
salah satu pilar kemenangan Islam. Semoga generasi muda kita meneladani
semangat mereka.
Pasukan Tiba di Celah Bukit Uhud
Rasulullah ﷺ
dan tujuh ratus pasukan yang tersisa terus melanjutkan perjalanan hingga tiba
di celah Bukit Uhud. Beliau memilih posisi strategis dengan membelakangi
gunung, menjadikannya sebagai benteng alami. Kemudian beliau memerintahkan:
«لَا
يُقَاتِلَنَّ أَحَدٌ حَتَّى آمُرَهُ بِالْقِتَالِ»
"Jangan sekali-kali seseorang berperang hingga aku perintahkan."
Hari Sabtu pagi, lima belas Syawal, tiba. Rasulullah ﷺ
mulai mengatur formasi perang. Beliau menyusun barisan, menempatkan setiap
kelompok pada posisinya masing-masing. Kepada pasukan pemanah, beliau
mengangkat Abdullah bin Jubair sebagai komandan. Ia adalah seorang yang mudah
dikenali dengan pakaian putihnya. Bersamanya, lima puluh pemanah andalan.
Wasiat Nabi kepada mereka sangat tegas:
«انْضَحُوا
بِالنَّبْلِ عَنَّا لَا نُؤْتَيَنَّ مِنْ قِبَلِكُمْ، وَالْزَمُوا مَكَانَكُمْ،
إِنْ كَانَتِ النَّوْبَةُ لَنَا أَوْ عَلَيْنَا، وَإِنْ رَأَيْتُمُونَا
تَخَطَّفُنَا الطَّيْرُ فَلَا تَبْرَحُوا مَكَانَكُمْ»
"Lindungi kami dengan anak panah kalian, jangan sampai musuh mendatangi
kami dari arah kalian. Tetaplah di tempat kalian, baik saat kami menang maupun
kalah. Dan jika kalian melihat kami seperti diterkam burung (kalah telak),
jangan sekali-kali kalian tinggalkan posisi ini."
Perintah ini begitu krusial hingga Allahabadikan dalam
firman-Nya:
وَإِذْ
غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِينَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِ وَاللَّهُ
سَمِيعٌ عَلِيمٌ
"Dan (ingatlah) ketika engkau berangkat pada pagi hari dari rumah
(keluarga)mu, untuk menempatkan orang-orang mukmin pada posisi-posisi mereka
untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."
(QS. Ali 'Imran: 121)
Sang Nabi Mengobarkan Semangat
Rasulullah ﷺ
berjalan di antara barisan. Setiap kata yang keluar dari lisannya adalah api
yang membakar semangat. Beliau mengobarkan keberanian, meniupkan ruh iman ke
dalam dada para sahabat. Lalu beliau melakukan sesuatu yang belum pernah
dilakukan sebelumnya.
Beliau menghunus pedang dan berseru:
«مَنْ
يَأْخُذُ هَذَا السَّيْفَ بِحَقِّهِ؟»
"Siapa yang mengambil pedang ini dengan haknya?"
Para sahabat terdiam. Mereka menahan diri. Beliau mengulangi
seruan itu. Beberapa orang maju, namun beliau menahan mereka. Hingga Abu
Dujanah Simak bin Kharasyah berdiri dan bertanya:
"Wahai Rasulullah, apa haknya?"
«أَنْ
تَضْرِبَ بِهِ الْعَدُوَّ حَتَّى يَنْحَنِيَ»
"Engkau memukul musuh dengannya hingga pedang ini bengkok."
Abu Dujanah berkata, "Aku mengambilnya dengan
haknya." Maka Nabi ﷺ
memberikan pedang itu kepadanya.
Abu Dujanah adalah seorang pemberani. Di medan perang, ia
memiliki kebiasaan memakai ikat kepala merah. Jika ikat itu terpasang, orang
tahu ia akan bertempur habis-habisan. Kini, ia keluarkan ikat merahnya,
kenakan, lalu berjalan pongah di antara dua barisan. Melihat itu, Rasulullah ﷺ
bersabda:
«إِنَّهَا
لَمِشْيَةٌ يُبْغِضُهَا اللهُ إِلَّا فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ»
"Sungguh, cara berjalan ini dibenci Allah kecuali di tempat seperti
ini."
Kebanggaan dan Provokasi Pasukan Quraisy
Di seberang lapangan, pasukan Quraisy telah siap. Dua ratus
pasukan berkuda mereka tempatkan di sayap kanan dan kiri. Komando sayap kanan
dipercayakan kepada Khalid bin Walid—yang kelak menjadi panglima besar Islam.
Sayap kiri dipimpin Ikrimah bin Abu Jahal, sementara pasukan infanteri di bawah
pimpinan Shafwan bin Umayyah. Pembawa bendera perang adalah Thalhah bin Utsman
dari Bani Abdu Dar.
Abu Sufyan, panglima tertinggi Quraisy, berusaha membakar
semangat pembawa bendera. Ia berkata kepada Bani Abdu Dar:
"Wahai Bani Abdu Dar, kalian telah memegang bendera kami pada Perang
Badar, dan kalian tahu akibatnya. Kekalahan suatu pasukan sering kali berawal
dari bendera yang roboh. Karena itu, lindungi bendera kami, atau serahkan saja
kepada kami!"
Mereka hampir menyerang Abu Sufyan karena ucapan itu.
"Masa kami menyerahkan bendera kepadamu?! Besok, saat kedua pasukan
bertemu, engkau akan lihat apa yang kami perbuat!" Itulah yang diharapkan
Abu Sufyan.
Hindun, istri Abu Sufyan, bersama rombongan wanita Quraisy,
berjalan di antara barisan. Rebana ditabuh, syair-syair perang dilantunkan.
Mereka menghasut, menyemangati, menghina kejantanan siapa pun yang mundur.
Suara mereka nyaring menusuk barisan:
وَيْهَا
بَنِي عَبْدِ الدَّارْ ... وَيْهَا حُمَاةَ الْأَدْبَارْ
ضَرْبًا
بِكُلِّ بَتَّارْ
"Majulah wahai Bani Abdu Dar! Majulah wahai pelindung barisan belakang!
Tebaskan setiap pedang tajam!"
Lalu mereka bersenandung:
نَحْنُ
بَنَاتُ طَارِقْ ... نَمْشِي عَلَى النَّمَارِقْ
مَشْيَ
الْقَطَا النَّوَازِقْ ... وَالْمِسْكُ فِي الْمَفَارِقْ
وَالدُّرُّ فِي
الْمَخَانِقْ
إِنْ
تُقْبِلُوا نُعَانِقْ ... وَنَفْرِشُ النَّمَارِقْ
أَوْ
تُدْبِرُوا نُفَارِقْ ... فِرَاقَ غَيْرِ وَامِقْ
"Kami putri-putri bintang malam, berjalan di atas permadani indah, bak
burung-burung kecil. Harum semerbak di ubun-ubun, mutiara menghias leher. Jika
kalian maju, kami peluk mesra, kami hamparkan permadani. Jika kalian lari, kami
tinggalkan, seperti kekasih yang ditinggal pergi."
Provokasi Gagal dari Musuh dalam Selimut
Saat kedua pasukan telah berhadapan, muncullah Abu 'Amir
al-Fasiq—seorang munafik yang telah lama menyimpan dendam. Ia berusaha
menghasut kaum Aus, sukunya sendiri. "Wahai kaum Aus, aku Abu 'Amir!"
Mereka menjawab sengit: "Semoga Allah tidak
menyenangkan matamu, wahai fasik!"
Mendengar jawaban itu, Abu 'Amir geram. "Sungguh,
kaumku setelah ditinggalkanku telah ditimpa keburukan." Lalu ia menyerang
mereka dengan gigitan keras dan melempari dengan batu.
Sumber Kisah:
As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhau'il Quran was Sunnah

Komentar
Posting Komentar