Perang Uhud: Pelanggaran Perintah Pasukan Pemanah, Isu Kematian Nabi, dan Keteguhan Anas bin Nadhr
Pelanggaran Perintah Rasul
Di puncak bukit Uhud, lima puluh pasukan pemanah berjaga.
Rasulullah ﷺ
telah berpesan tegas:
«انْضَحُوا
بِالنَّبْلِ عَنَّا لَا نُؤْتَيَنَّ مِنْ قِبَلِكُمْ، وَالْزَمُوا مَكَانَكُمْ،
إِنْ كَانَتِ النَّوْبَةُ لَنَا أَوْ عَلَيْنَا، وَإِنْ رَأَيْتُمُونَا
تَخَطَّفُنَا الطَّيْرُ فَلَا تَبْرَحُوا مَكَانَكُمْ»
"Lindungi kami dengan anak panah kalian, jangan sampai musuh mendatangi
kami dari arah kalian. Tetaplah di tempat kalian, baik saat kami menang maupun
kalah. Dan jika kalian melihat kami seperti diterkam burung (kalah telak),
jangan sekali-kali kalian tinggalkan posisi ini."
Namun ketika Quraisy mundur dan kaum Muslimin sibuk
mengumpulkan harta rampasan, sebagian besar pasukan pemanah tergoda.
"Tidak ada gunanya kita diam di sini! Musuh sudah lari!" seru mereka.
Abdullah bin Jubair, komandan mereka, berteriak
mengingatkan: "Apakah kalian lupa pesan Rasulullah ﷺ? Aku tidak akan
meninggalkan tempatku!"
Hanya sepuluh orang yang bertahan bersamanya. Empat puluh
lainnya turun menuju lembah, menghambur ke tumpukan ganimah.
Bencana dari Belakang
Khalid bin Walid tidak menyia-nyiakan celah. Dari balik
bukit, pasukan berkuda Quraisy melesat. Mereka menghujani posisi pemanah yang
tersisa. Abdullah bin Jubair dan sembilan rekannya gugur satu per satu. Bukit
itu kosong. Lalu Khalid memutar pasukannya dan menerjang barisan belakang
Muslimin dengan kecepatan penuh.
Quraisy yang tadi tercerai-berai mendengar seruan:
"Kembali! Kembali!" Mereka berbalik arah, mengalir seperti banjir
bandang menuju perkemahan Muslimin.
Kini kaum Muslimin terjepit di antara dua sisi. Serangan
dari depan dan belakang. Kejayaan yang baru saja di tangan, sirna dalam
sekejap. Angin kemenangan berubah arah menjadi badai kekalahan. Harta rampasan
berhamburan dari genggaman. Pedang-pedang kembali dihunus, tapi barisan telah
porak-poranda.
Mereka yang tadi bertempur dengan wahyu iman, kini bertempur
untuk menyelamatkan nyawa. Mereka yang tadi rapi dalam barisan, kini
tercerai-berai tanpa komando. Mereka yang tadi dipimpin Nabi, kini tak ada
suara yang membimbing.
Dalam kekacauan itu, pedang sesama Muslimin sempat saling
beradu tanpa sengaja. Al-Yaman, ayah Hudzaifah, tewas di tangan sahabatnya
sendiri yang tidak mengenalinya. Ketahuilah, ia adalah Husail bin Jabir,
bergelar Al-Yamani.
Ketika Hudzaifah diberi tahu, ia hanya berkata: "Semoga
Allah mengampuni kalian." Rasulullah ﷺ hendak memberinya diat (tebusan darah),
namun Hudzaifah menolak. Ia justru menyedekahkannya untuk kaum Muslimin.
Kebaikan itu terus mengalir dalam dirinya hingga ia berjumpa dengan Allah.
Isu yang Meruntuhkan Mental
Di tengah hiruk-pikuk pertempuran, Ibnu Qumiah melesat
menerobos barisan. Ia menebas Mush'ab bin Umair—pembawa bendera Muhajirin—yang
mengenakan pakaian serupa Rasulullah. Mush'ab gugur. Ibnu Qumiah berteriak
sekencang suaranya:
"أَلَا
إِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ قُتِلَ!"
"Ingatlah! Muhammad telah terbunuh!"
Teriakan itu membelah langit Uhud.
Umat yang tadinya goyah, kini ambruk. Akal sehat terbang,
hati tersayat pilu. Sebagian sahabat lari tunggang-langgang, tak sadar ke mana
kaki melangkah. Ada yang baru tersadar setelah tembok Madinah di depan mata,
lalu kembali dengan rasa malu.
Tentang mereka, Allah menurunkan firman-Nya:
إِنَّ
الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا
اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا وَلَقَدْ عَفَا اللَّهُ
عَنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ
"Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kamu pada hari
bertemu dua pasukan itu, hanyalah setan yang menjadikan mereka tergelincir
karena sebagian dosa yang telah mereka perbuat. Dan sungguh, Allah telah
memaafkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun."
(QS. Ali 'Imran: 155)
Ada pula yang lari mendaki bukit, melemparkan senjata karena
tak sanggup menahan duka. Namun tak lama kemudian, mereka sadar. Mereka kembali
kepada Rasul dan kembali bertempur. Jiwa-jiwa seperti inilah yang kelak menjadi
pilar kebangkitan.
Anas bin Nadhr: Mencium Surga di Depan Uhud
Anas bin Nadhr, paman Anas bin Malik, melintasi sekelompok
sahabat yang duduk terpaku. Senjata telah mereka letakkan. Wajah mereka pucat
pasi.
"Mengapa kalian duduk?" tanya Anas.
"Muhammad telah terbunuh," jawab mereka lirih.
Maka berkatalah Anas dengan suara yang bergetar namun penuh
keyakinan:
"Wahai kaumku, jika Muhammad telah terbunuh, maka Rabb
Muhammad tidaklah terbunuh! Apa yang akan kalian perbuat dengan hidup setelah
kepergian Rasulullah? Berjuanglah di atas jalan di mana ia berjuang. Matilah di
atas jalan di mana ia mati."
Kemudian ia mengangkat telapak tangan:
«اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعْتَذِرُ إِلَيْكَ مِمَّا قَالَ هَؤُلَاءِ، وَأَبْرَأُ إِلَيْكَ مِمَّا
جَاءَ بِهِ هَؤُلَاءِ»
"Ya Allah, aku memohon maaf kepada-Mu dari apa yang mereka
katakan—yakni kaum Muslimin—dan aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang
dibawa oleh mereka ini—yakni kaum musyrikin."
Anas melangkah menemui Sa'ad bin Mu'adz. "Wahai Sa'ad,
sungguh aku mencium aroma surga di lereng Uhud ini!"
Lalu ia menghambur ke pusaran pertempuran. Ia tebas, ia
tikam, ia panah. Tubuhnya dihujani delapan puluh lebih luka: tebasan pedang,
tusukan tombak, dan luka anak panah. Hingga jasadnya tak lagi dikenali. Saudara
perempuannya hanya mengenalinya dari ujung jari-jemarinya.
Tentang Anas bin Nadhr dan para pecinta sejati ini, Allah
menurunkan ayat:
مِنَ
الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ
قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
"Di antara orang-orang mukmin itu ada laki-laki yang menepati apa yang
telah mereka janjikan kepada Allah. Maka di antara mereka ada yang telah
menunaikan janjinya (gugur), dan di antara mereka ada yang menanti-nanti.
Mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya)."
(QS. Al-Ahzab: 23)
Mereka yang Tetap Teguh di Sekitar Nabi
Di tengah badai yang menghancurkan barisan, segumpal awan
kecil tetap bertahan. Mereka adalah segelintir sahabat yang mengelilingi
Rasulullah ﷺ,
memagari dengan jiwa raga mereka.
Ibnu Sa'ad mencatat jumlah mereka empat belas orang.
Al-Waqidi dalam Al-Maghazi menyebutkan dari kalangan Muhajirin: Abu Bakar, Ali,
Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, Thalhah, Az-Zubair, dan Abu
Ubaidah. Dari kalangan Anshar: Abu Dujanah, Al-Hubab bin Al-Mundzir, 'Ashim bin
Tsabit, Al-Harits bin Ash-Shimmah, Sahl bin Hunaif, Sa'ad bin Mu'adz, dan Usaid
bin Hudhair.
Al-Baghawi dalam tafsirnya juga menyebutkan Abu Bakar dan
Umar termasuk yang tetap bertahan. Catatan ini penting untuk meluruskan apa
yang ditulis oleh Dr. Haikal dalam bukunya "Hayatu Muhammad" yang
menyatakan bahwa Abu Bakar dan Umar termasuk yang menyingkir ke lereng bukit
dan berputus asa.
Sungguh, mustahil persangkaan itu melekat pada Ash-Shiddiq.
Ia yang setia menemani dalam Gua Tsur, ia yang berkurban jiwa raga di malam
hijrah. Demikian pula Umar. Keimanan mereka terlalu kokoh untuk goyah oleh
teriakan musuh.
Kemungkinan, riwayat yang sampai kepada Dr. Haikal berasal
dari kisah Anas bin Nadhr yang disebutkan Ibnu Ishaq. Dalam riwayat itu, Anas
menemukan Umar dan Thalhah bersama kelompok yang berputus asa. Namun riwayat
ini mardud (tertolak). Seluruh riwayat dalam Shahihain dan
kitab-kitab lain sepakat bahwa Thalhah termasuk yang tetap bertahan—bahkan ia
terluka parah hari itu. Maka riwayat Ibnu Ishaq menjadi lemah dan tidak layak
dijadikan pegangan.
Dalam riwayat lain disebutkan pula Al-Miqdad, Sa'ad bin
Ubadah, dan Muhammad bin Maslamah termasuk yang bertahan.
Pendapat saya—wallahu a'lam—Rasulullah ﷺ terus-menerus
memanggil sahabat-sahabatnya. Setiap yang mendengar seruan beliau, bergegas
kembali. Maka lambat laun jumlah yang berkumpul di sekitar Nabi ﷺ
bertambah banyak. Perbedaan riwayat tentang jumlah dan nama terjadi karena
perbedaan waktu dan situasi saat pencatatan dilakukan.
Sumber Kisah:
As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhau'il Quran was Sunnah

Komentar
Posting Komentar