Perang Uhud: Kegagalan Pasukan Pemanah, Syahidnya Hamzah, dan Awal Kekalahan Muslimin
Pertarungan Satu Lawan Satu
Pertempuran Uhud dimulai dengan tradisi yang sudah mengakar
di Jazirah Arab: duel satu lawan satu. Talhah bin Abu Thalhah al-Abdari,
pembawa bendera musyrikin, maju ke depan barisan. Ia menantang siapa pun dari
barisan Muslimin untuk melawannya. Para sahabat terdiam sejenak. Maka majulah
Az-Zubair bin Al-Awwam.
Dengan sekali loncatan, Az-Zubair sudah berada di atas unta
bersama Talhah. Ia membanting lawannya ke tanah, lalu menghunus pedang. Talhah
bin Abu Thalhah tewas di tempat.
Melihat keberanian itu, Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ
لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوَارِيًّا، وَحَوَارِيِّي الزُّبَيْرُ»
"Sesungguhnya setiap nabi memiliki hawari (pembela setia), dan
hawari-ku adalah Az-Zubair."
Nabi ﷺ
kemudian menambahkan:
«لَوْ
لَمْ يَبْرُزْ إِلَيْهِ أَحَدٌ لَبَرَزْتُ أَنَا إِلَيْهِ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ
إِحْجَامِ النَّاسِ عَنْهُ»
"Seandainya tidak ada seorang pun yang maju kepadanya, sungguh aku
sendiri yang akan maju. Karena kulihat betapa gentarnya orang-orang
menghadapinya."
Inilah bukti betapa agung keberanian Rasulullah ﷺ.
Tak tertandingi oleh siapa pun.
Dua Pendekar dari Barisan Berbeda
Dari celah barisan musuh, muncullah Sibâ' bin Abdul Uzza. Ia
berteriak lantang, "Adakah yang berani bertarung?" Maka majulah
Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi.
"Wahai Sibâ' bin Ummu Anmâr! Apakah engkau berani
menantang Allah dan Rasul-Nya?!" Hardik Hamzah. Sekejap kemudian, Sibâ'
bin Abdul Uzza tumbang. Seperti hari kemarin yang telah berlalu, tak ada
bekasnya.
Di sudut lain, Abu Sa'ad bin Abu Thalhah—pembawa panji
Quraisy lainnya—mendengar Ali bin Abi Thalib bergumam, "Akulah Abul
Qashim." Abu Sa'ad menantangnya, "Hai Abul Qashim, kaukah yang akan
melawanku?" Ali menjawab singkat, "Ya."
Keduanya bertemu di antara dua barisan. Dua tebasan saling
berbalas. Tebasan Ali menghujam tubuh Abu Sa'ad hingga roboh. Namun Ali tak
segera menghabisi nyawanya. Para sahabat bertanya, "Wahai Ali, mengapa tak
kau tebas lehernya?"
Ali menjawab dengan kalimat yang membuat hati siapa pun
tergetar: "Dia menghadapkanku dengan auratnya. Maka rasa kasih karena
ikatan kerabat menyentuh hatiku. Lagi pula aku yakin, Allah telah
mematikannya."
Pertempuran Berkecamuk
Gemuruh pertempuran pecah. Pedang-pedang beradu nyanyi.
Ratap dan takbir berbaur. Pasukan berkuda Quraisy bertubi-tubi menyerbu barisan
Muslimin. Tiga kali mereka melancarkan serangan, tiga kali pula anak-anak panah
dari pasukan pemanah di bukit menghujan, memaksa mereka berbalik mundur.
Di tengah lautan prajurit itu, tampak seorang lelaki dengan
ikat kepala merah menyala. Abu Dujanah—pemegang pedang Rasulullah—melaju bagai
badai. Ia bersenandung:
"Akulah yang telah berjanji pada kekasihku,
Saat kita di lereng bukit dekat pohon kurma,
Bahwa aku takkan pernah lari dari medan juang,
Aku tebas dengan pedang Allah dan Rasul-Nya."
Tak seorang musuh pun luput dari sambaran pedangnya. Hingga
ia melihat seseorang yang begitu gencar menyerang kaum Muslimin. Abu Dujanah
menghunus pedang dan menghambur ke arahnya. Begitu dekat, ia siap menebas. Lalu
sosok itu berteriak dan berlari tunggang-langgang. Ternyata seorang wanita.
Ia adalah Hindun binti Utbah.
Abu Dujanah mengurungkan niatnya. "Aku muliakan pedang
Rasulullah ﷺ
ini, tidak kugunakan untuk menebas wanita."
Ali, Az-Zubair, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Thalhah
al-Anshari, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan puluhan pahlawan lainnya bertempur
dengan gagah berani. Namun satu sosok paling menonjol hari itu: Hamzah bin
Abdul Muthalib, Singa Allah. Tak seorang musuh pun mampu mendekat. Setiap kali
pedangnya terayun, kepala musuh pun terpisah dari tubuhnya.
Wahshi dan Peristiwa Pilu
Di balik semak-semak, sepasang mata mengintai. Ia adalah
Wahshi—budak Jubair bin Muth'im. Tuannya telah menjanjikan kemerdekaan jika ia
berhasil membunuh Hamzah. Dendam atas kematian paman Jubair di Perang Badar
membara.
Wahshi berkisah:
"Aku adalah seorang ahli lempar tombak ala Habsyah.
Hampir tak pernah meleset. Saat kedua pasukan bertemu, aku keluar mencari
Hamzah. Aku awasi gerak-geriknya. Ia seperti unta abu-abu perkasa yang
merobohkan siapa pun dengan pedangnya. Tak ada yang bisa bertahan.
Demi Allah, aku mengincarnya. Aku bersembunyi di balik pohon
dan batu, menunggu ia mendekat. Ketika jarak cukup dekat, kuhunus tombakku.
Kukibaskan hingga yakin, lalu kulemparkan. Tombak itu menancap tepat di perut
bagian bawahnya, menembus hingga keluar di antara kedua kakinya.
Ia berusaha bangkit menujuku, namun tubuhnya sudah tak
mampu. Aku biarkan ia terbaring bersama tombakku hingga mati. Kemudian kucabut
tombak itu dan kembali ke barisan. Tak ada tujuan lain selain membunuhnya.
Hanya itu. Aku ingin merdeka."
Kemenangan yang Sirna
Namun di balik kabar duka itu, kekuatan iman benar-benar
bekerja. Tujuh ratus prajurit Muslimin berhasil menghimpit tiga ribu pasukan
Quraisy. Pembawa panji Bani Abdu Dar berguguran satu per satu—tujuh atau
sembilan orang tewas. Panji Quraisy tergeletak di debu. Tak ada yang berani
mengangkatnya.
Hingga 'Amrah binti Alqamah Al-Haritsiyah, seorang wanita
dari barisan Quraisy, menerjang maju. Ia mengambil panji yang roboh,
menegakkannya tinggi-tinggi, dan mengumpulkan kembali pasukan yang berhamburan.
Allah telah menurunkan pertolongan-Nya. Janji-Nya terbukti
benar. Kaum Muslimin menghujani musuh dengan sabetan pedang, memukul mundur
mereka hingga ke luar perkemahan. Wanita-wanita Quraisy menjerit, berhamburan
naik ke bukit menyelamatkan diri.
Az-Zubair bin Al-Awwam berkata:
"Demi Allah, kulihat sendiri gelang kaki Hindun binti
Utbah dan wanita-wanita Quraisy lainnya. Rok mereka tersingsing karena lari
terbirit-birit. Tak ada yang mampu menahan mereka."
Kekalahan Quraisy sudah di depan mata. Tak terbantahkan.
Lalu... datanglah ujian.
Kaum Muslimin yang berhasil memukul mundur musuh mulai
mengalihkan perhatian pada harta rampasan perang. Begitu melimpah. Mereka sibuk
mengumpulkan dan melupakan perintah untuk terus mengejar dan menghancurkan
musuh.
Dari atas bukit, pasukan pemanah melihat rekan-rekan mereka
di bawah sibuk dengan ganimah. Sebagian besar dari mereka tergoda. "Mari
kita turun! Musuh sudah kalah! Kita akan dapat bagian!" teriak beberapa
orang.
Abdullah bin Jubair, komandan pasukan pemanah, berteriak
mengingatkan: "Rasulullah ﷺ telah memerintahkan kita tetap di sini, apa pun yang
terjadi!"
Namun empat puluh dari lima puluh pemanah itu turun juga.
Hanya segelintir yang bertahan di posisi.
Pertahanan bukit pun terbuka.
Khalid bin Walid—panglima kavaleri Quraisy yang sejak tadi
menanti celah—tak menyia-nyiakan kesempatan. Dari balik bukit, ia memutar
pasukan berkudanya dan menerjang barisan Muslimin dari belakang.
Pintu kekalahan pun terbuka lebar.
Sumber Kisah:
As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhau'il Quran was Sunnah

Komentar
Posting Komentar