Perang Uhud: Kegagalan Pasukan Pemanah, Syahidnya Hamzah, dan Awal Kekalahan Muslimin

 

Ilustrasi medan Perang Uhud dengan latar Bukit Uhud di senja hari. Seorang pria berkulit gelap bersembunyi di balik batu besar, siap melempar tombak pendek khas Habsyah. Di kejauhan, sosok tegap Hamzah bin Abdul Muthalib terlihat sedang bertempur dengan pedang terhunus. Debu beterbangan, suasana pertempuran sengit di latar belakang.

Pertarungan Satu Lawan Satu

Pertempuran Uhud dimulai dengan tradisi yang sudah mengakar di Jazirah Arab: duel satu lawan satu. Talhah bin Abu Thalhah al-Abdari, pembawa bendera musyrikin, maju ke depan barisan. Ia menantang siapa pun dari barisan Muslimin untuk melawannya. Para sahabat terdiam sejenak. Maka majulah Az-Zubair bin Al-Awwam.

Dengan sekali loncatan, Az-Zubair sudah berada di atas unta bersama Talhah. Ia membanting lawannya ke tanah, lalu menghunus pedang. Talhah bin Abu Thalhah tewas di tempat.

Melihat keberanian itu, Rasulullah bersabda:

«إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوَارِيًّا، وَحَوَارِيِّي الزُّبَيْرُ»
"Sesungguhnya setiap nabi memiliki hawari (pembela setia), dan hawari-ku adalah Az-Zubair."

Nabi kemudian menambahkan:

«لَوْ لَمْ يَبْرُزْ إِلَيْهِ أَحَدٌ لَبَرَزْتُ أَنَا إِلَيْهِ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ إِحْجَامِ النَّاسِ عَنْهُ»
"Seandainya tidak ada seorang pun yang maju kepadanya, sungguh aku sendiri yang akan maju. Karena kulihat betapa gentarnya orang-orang menghadapinya."

Inilah bukti betapa agung keberanian Rasulullah . Tak tertandingi oleh siapa pun.


Dua Pendekar dari Barisan Berbeda

Dari celah barisan musuh, muncullah Sibâ' bin Abdul Uzza. Ia berteriak lantang, "Adakah yang berani bertarung?" Maka majulah Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi.

"Wahai Sibâ' bin Ummu Anmâr! Apakah engkau berani menantang Allah dan Rasul-Nya?!" Hardik Hamzah. Sekejap kemudian, Sibâ' bin Abdul Uzza tumbang. Seperti hari kemarin yang telah berlalu, tak ada bekasnya.

Di sudut lain, Abu Sa'ad bin Abu Thalhah—pembawa panji Quraisy lainnya—mendengar Ali bin Abi Thalib bergumam, "Akulah Abul Qashim." Abu Sa'ad menantangnya, "Hai Abul Qashim, kaukah yang akan melawanku?" Ali menjawab singkat, "Ya."

Keduanya bertemu di antara dua barisan. Dua tebasan saling berbalas. Tebasan Ali menghujam tubuh Abu Sa'ad hingga roboh. Namun Ali tak segera menghabisi nyawanya. Para sahabat bertanya, "Wahai Ali, mengapa tak kau tebas lehernya?"

Ali menjawab dengan kalimat yang membuat hati siapa pun tergetar: "Dia menghadapkanku dengan auratnya. Maka rasa kasih karena ikatan kerabat menyentuh hatiku. Lagi pula aku yakin, Allah telah mematikannya."


Pertempuran Berkecamuk

Gemuruh pertempuran pecah. Pedang-pedang beradu nyanyi. Ratap dan takbir berbaur. Pasukan berkuda Quraisy bertubi-tubi menyerbu barisan Muslimin. Tiga kali mereka melancarkan serangan, tiga kali pula anak-anak panah dari pasukan pemanah di bukit menghujan, memaksa mereka berbalik mundur.

Di tengah lautan prajurit itu, tampak seorang lelaki dengan ikat kepala merah menyala. Abu Dujanah—pemegang pedang Rasulullah—melaju bagai badai. Ia bersenandung:

"Akulah yang telah berjanji pada kekasihku,
Saat kita di lereng bukit dekat pohon kurma,
Bahwa aku takkan pernah lari dari medan juang,
Aku tebas dengan pedang Allah dan Rasul-Nya."

Tak seorang musuh pun luput dari sambaran pedangnya. Hingga ia melihat seseorang yang begitu gencar menyerang kaum Muslimin. Abu Dujanah menghunus pedang dan menghambur ke arahnya. Begitu dekat, ia siap menebas. Lalu sosok itu berteriak dan berlari tunggang-langgang. Ternyata seorang wanita.

Ia adalah Hindun binti Utbah.

Abu Dujanah mengurungkan niatnya. "Aku muliakan pedang Rasulullah ini, tidak kugunakan untuk menebas wanita."

Ali, Az-Zubair, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Thalhah al-Anshari, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan puluhan pahlawan lainnya bertempur dengan gagah berani. Namun satu sosok paling menonjol hari itu: Hamzah bin Abdul Muthalib, Singa Allah. Tak seorang musuh pun mampu mendekat. Setiap kali pedangnya terayun, kepala musuh pun terpisah dari tubuhnya.


Wahshi dan Peristiwa Pilu

Di balik semak-semak, sepasang mata mengintai. Ia adalah Wahshi—budak Jubair bin Muth'im. Tuannya telah menjanjikan kemerdekaan jika ia berhasil membunuh Hamzah. Dendam atas kematian paman Jubair di Perang Badar membara.

Wahshi berkisah:

"Aku adalah seorang ahli lempar tombak ala Habsyah. Hampir tak pernah meleset. Saat kedua pasukan bertemu, aku keluar mencari Hamzah. Aku awasi gerak-geriknya. Ia seperti unta abu-abu perkasa yang merobohkan siapa pun dengan pedangnya. Tak ada yang bisa bertahan.

Demi Allah, aku mengincarnya. Aku bersembunyi di balik pohon dan batu, menunggu ia mendekat. Ketika jarak cukup dekat, kuhunus tombakku. Kukibaskan hingga yakin, lalu kulemparkan. Tombak itu menancap tepat di perut bagian bawahnya, menembus hingga keluar di antara kedua kakinya.

Ia berusaha bangkit menujuku, namun tubuhnya sudah tak mampu. Aku biarkan ia terbaring bersama tombakku hingga mati. Kemudian kucabut tombak itu dan kembali ke barisan. Tak ada tujuan lain selain membunuhnya. Hanya itu. Aku ingin merdeka."


Kemenangan yang Sirna

Namun di balik kabar duka itu, kekuatan iman benar-benar bekerja. Tujuh ratus prajurit Muslimin berhasil menghimpit tiga ribu pasukan Quraisy. Pembawa panji Bani Abdu Dar berguguran satu per satu—tujuh atau sembilan orang tewas. Panji Quraisy tergeletak di debu. Tak ada yang berani mengangkatnya.

Hingga 'Amrah binti Alqamah Al-Haritsiyah, seorang wanita dari barisan Quraisy, menerjang maju. Ia mengambil panji yang roboh, menegakkannya tinggi-tinggi, dan mengumpulkan kembali pasukan yang berhamburan.

Allah telah menurunkan pertolongan-Nya. Janji-Nya terbukti benar. Kaum Muslimin menghujani musuh dengan sabetan pedang, memukul mundur mereka hingga ke luar perkemahan. Wanita-wanita Quraisy menjerit, berhamburan naik ke bukit menyelamatkan diri.

Az-Zubair bin Al-Awwam berkata:

"Demi Allah, kulihat sendiri gelang kaki Hindun binti Utbah dan wanita-wanita Quraisy lainnya. Rok mereka tersingsing karena lari terbirit-birit. Tak ada yang mampu menahan mereka."

Kekalahan Quraisy sudah di depan mata. Tak terbantahkan.

Lalu... datanglah ujian.

Kaum Muslimin yang berhasil memukul mundur musuh mulai mengalihkan perhatian pada harta rampasan perang. Begitu melimpah. Mereka sibuk mengumpulkan dan melupakan perintah untuk terus mengejar dan menghancurkan musuh.

Dari atas bukit, pasukan pemanah melihat rekan-rekan mereka di bawah sibuk dengan ganimah. Sebagian besar dari mereka tergoda. "Mari kita turun! Musuh sudah kalah! Kita akan dapat bagian!" teriak beberapa orang.

Abdullah bin Jubair, komandan pasukan pemanah, berteriak mengingatkan: "Rasulullah telah memerintahkan kita tetap di sini, apa pun yang terjadi!"

Namun empat puluh dari lima puluh pemanah itu turun juga. Hanya segelintir yang bertahan di posisi.

Pertahanan bukit pun terbuka.

Khalid bin Walid—panglima kavaleri Quraisy yang sejak tadi menanti celah—tak menyia-nyiakan kesempatan. Dari balik bukit, ia memutar pasukan berkudanya dan menerjang barisan Muslimin dari belakang.

Pintu kekalahan pun terbuka lebar.


Sumber Kisah:
As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhau'il Quran was Sunnah

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peristiwa-Peristiwa di Tahun ke-3 Hijriah

Rihlah Ibnu Bathutah #56 : Konstantinopel, Sarā Barkah dan Sultan Uzbak

Rihlah Ibnu Baathutah #57 : Dari As-Sarā ke Khawarizmi