Pemakaman Syuhada Uhud: Keutamaan, Mukjizat Kesembuhan Mata Qatadah, dan Ziarah Para Sahabat
Mengantar Para Syuhada ke Peristirahatan Terakhir
Usai pertempuran yang menyisakan duka, Rasulullah ﷺ
memberikan perintah tegas mengenai para syuhada yang gugur di medan Uhud:
mereka harus dikuburkan di tempat mereka gugur. Tidak boleh dipindahkan.
Beberapa keluarga telah membawa pulang jenazah orang-orang
tercinta mereka ke Madinah, berharap dapat menguburkannya di pemakaman
keluarga. Namun utusan Rasulullah ﷺ segera menyusul dan menyerukan:
"أَنْ
رُدُّوا الْقَتْلَى إِلَى مَضَاجِعِهِمْ"
"Kembalikan para syuhada ke tempat tidur mereka
(tempat mereka gugur)."
Maka dengan berat hati, mereka mengembalikan jenazah-jenazah
itu ke lereng Uhud.
Rasulullah ﷺ
sendiri yang mengatur penguburan mereka. Dua atau tiga orang syuhada dikuburkan
dalam satu liang lahat. Bahkan terkadang dalam satu kain kafan mereka
disatukan. Beliau bertanya kepada para sahabat:
«أَيُّهُمْ
أَكْثَرُ أَخْذًا لِلْقُرْآنِ؟»
"Siapa di antara mereka yang paling banyak hafal
Al-Qur'an?"
Jika ditunjukkan seseorang, beliau mendahulukannya dalam
liang lahat. Kemudian beliau bersabda:
«أَنَا
شَهِيدٌ عَلَى هَؤُلَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
"Aku menjadi saksi atas mereka pada hari
kiamat."
Para syuhada dikuburkan dengan pakaian mereka yang
berlumuran darah, tanpa dimandikan dan tanpa dishalatkan. Ini adalah keringanan
yang diberikan mengingat kondisi mereka yang penuh luka dan kelelahan, sehingga
akan sangat berat jika harus menggali kubur tersendiri untuk setiap jenazah.
Hamzah, sang singa Allah, dikuburkan bersama keponakannya,
Abdullah bin Jahsy, dalam satu kubur. Amr bin Al-Jamuh dikubur bersama sahabat
dan besannya, Abdullah bin Haram. Mush'ab bin Umir dan Sa'ad bin Ar-Rabi' juga
disatukan dalam satu kubur. Demikianlah seterusnya.
Keputusan untuk tidak memandikan dan tidak menyalatkan para
syuhada ini didasarkan pada riwayat-riwayat shahih dalam Shahihain dan
kitab-kitab hadits lainnya. Tujuannya agar darah dan luka mereka menjadi saksi
di hari kiamat, membuktikan kemuliaan dan kedudukan mereka di sisi Allah.
Dalam Shahihain dan kitab-kitab lainnya, Rasulullah ﷺ
bersabda:
«وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا يُكْلَمُ أَحَدٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ - وَاللَّهُ أَعْلَمُ
بِمَنْ يُكْلَمُ فِي سَبِيلِهِ - إِلَّا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَهَيْئَتِهِ
يَوْمَ كُلِمَ، اللَّوْنُ لَوْنُ الدَّمِ، وَالرِّيحُ رِيحُ الْمِسْكِ»
"Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, tidak seorang
pun yang terluka di jalan Allah—dan Allah lebih tahu siapa yang terluka di
jalan-Nya—melainkan ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan seperti saat
ia terluka: warnanya warna darah, namun aromanya aroma minyak kesturi."
Karena itu, jumhur ulama berpendapat bahwa para syuhada yang
gugur dalam jihad melawan kaum kafir tidak dishalatkan dan tidak dimandikan.
Namun, ada riwayat dari Ibnu Ishaq dan lainnya yang
menyebutkan bahwa Nabi ﷺ
menyalatkan mereka, bahkan menyalatkan Hamzah tujuh puluh kali sesuai jumlah
para syuhada. Al-Hafizh Ibnu Katsir menyatakan bahwa riwayat ini lemah. Yang
shahih adalah apa yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, bahwa
beberapa tahun kemudian Nabi ﷺ
menyalatkan mereka seolah-olah berpamitan kepada yang hidup dan yang mati.
Setelah itu beliau naik mimbar dan bersabda:
«إِنِّي
بَيْنَ أَيْدِيكُمْ فَرَطٌ، وَأَنَا عَلَيْكُمْ شَهِيدٌ، وَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ
الْحَوْضُ، وَإِنِّي لَأَنْظُرُ إِلَيْهِ مِنْ مَقَامِي هَذَا، وَإِنِّي لَسْتُ
أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُشْرِكُوا، وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا أَنْ
تَتَنَافَسُوهَا»
"Aku akan mendahului kalian ke telaga, dan aku akan
menjadi saksi atas kalian. Sungguh, janji pertemuan kita di telaga. Dan
sungguh, aku dapat melihatnya dari tempatku ini. Aku tidak khawatir kalian akan
syirik, tetapi aku khawatir kalian akan berlomba-lomba dalam urusan
dunia."
Perawi berkata: "Itulah pandangan terakhirku kepada
Rasulullah ﷺ."
Sebagian ulama menggunakan riwayat ini sebagai dasar untuk menyalatkan syuhada,
namun jumhur ulama mengartikan shalat di sini sebagai doa, atau menganggapnya
sebagai kekhususan Nabi ﷺ.
Kemuliaan Para Syuhada Uhud
Begitu agung kedudukan para syuhada Uhud di sisi Allah,
hingga Rasulullah ﷺ
sendiri rutin mengunjungi kuburan mereka. Beliau berdiri di hadapan mereka dan
mengucapkan salam:
سَلَامٌ
عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
"Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepadamu atas
kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu."
Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin
Affan meneruskan kebiasaan mulia ini sepeninggal beliau. Al-Waqidi meriwayatkan
bahwa Sayyidah Fatimah, Sa'ad, Abu Sa'id Al-Khudri, Abu Hurairah, Abdullah bin
Umar, dan Ummu Salamah—semoga Allah meridhai mereka semua—juga biasa menziarahi
para syuhada Uhud.
Cukuplah menjadi kemuliaan bagi mereka bahwa Allah
menurunkan ayat:
وَلَا
تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ
عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
"Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa
orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka hidup di sisi
Tuhannya mendapat rezeki."
(QS. Ali 'Imran: 169)
Telah kita bahas sebelumnya tentang keutamaan syahid dalam
Islam dan makna kehidupan mereka di sisi Allah. Semoga kita selalu
mengingatnya.
Para syuhada tetap terbaring di tempat mereka hingga zaman
Muawiyah bin Abi Sufyan. Ketika itu, Muawiyah mengalirkan air dari Bukit Uhud.
Aliran air itu tiba-tiba membelah bumi hingga mencapai jasad-jasad mereka. Maka
mereka dipindahkan dari tempat asalnya. Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Jabir, ia
berkata: "Kami mengeluarkan mereka, dan mereka seolah-olah baru saja
dikuburkan kemarin." Itulah kemuliaan dari Allah untuk para syuhada.
Sebagaimana jasad para nabi diharamkan bagi bumi untuk
memakannya, demikian pula para syuhada mendapat kehormatan. Imam Malik
meriwayatkan dalam Al-Muwaththa':
"Bahwa Amr bin Al-Jamuh dan Abdullah bin Haram
Al-Anshari—keduanya adalah syuhada Uhud yang dikubur dalam satu kubur—pada
suatu ketika aliran banjir mengenai kuburan mereka. Mereka berdua dikubur di
tempat yang terkena aliran air. Maka kuburan mereka digali untuk dipindahkan.
Saat digali, didapati jasad mereka belum berubah, seolah-olah baru saja
meninggal kemarin. Salah seorang dari mereka terluka dan saat dikubur tangannya
diletakkan di atas lukanya. Ketika tangan itu diangkat dari lukanya, lalu dilepaskan
kembali, tangan itu kembali ke posisi semula. Peristiwa itu terjadi empat puluh
enam tahun setelah Perang Uhud."
Mereka yang Terluka Namun Tetap Teguh
Banyak sahabat yang mengalami luka-luka berat, terutama
mereka yang berada di garis terdepan melindungi Rasulullah ﷺ. Di antaranya:
Abu Dujanah, Abu Thalhah, Thalhah bin Ubaidillah—yang
tangannya lumpuh seumur hidup karena melindungi Nabi. Abu Salamah bin Abdul
Asad, dan Abdurrahman bin Auf yang mendapat dua puluh luka atau lebih, hingga
giginya patah dan bibirnya sumbing.
Nusaibah binti Ka'ab, sang pejuang wanita, juga mendapat
luka menganga di bahunya pada hari itu.
Mukjizat yang Menyembuhkan
Qatadah bin An-Nu'man mengalami luka parah pada matanya
hingga bola matanya keluar dan jatuh di pipinya. Rasulullah ﷺ mengusapnya dengan
tangan mulia beliau, dan serta-merta mata itu kembali pulih, bahkan menjadi
lebih indah dan tajam daripada sebelumnya.
Ibnu Ishaq, Ad-Daruquthni, dan Al-Baihaqi meriwayatkan kisah
ini dalam kitab Ad-Dala'il, dan mereka menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi
pada Perang Uhud. Sebagian riwayat menyebutkan di Perang Badar, namun pendapat
pertama yang lebih shahih.
Bertahun-tahun kemudian, cucu Qatadah, 'Ashim bin Umar bin
Qatadah, menghadap Umar bin Abdul Aziz—saat itu menjabat gubernur Madinah. Umar
bin Abdul Aziz bertanya, "Siapa engkau?"
'Ashim menjawab dengan spontan dalam syair:
أَنَا
ابْنُ الَّذِي سَالَتْ عَلَى الْخَدِّ عَيْنُهُ ... فَرُدَّتْ بِكَفِّ
الْمُصْطَفَى أَحْسَنَ الرَّدِّ
فَعَادَتْ
كَمَا كَانَتْ لِأَوَّلِ أَمْرِهَا ... فَيَا حُسْنَهَا عَيْنًا، وَيَا حُسْنَ مَا
خَدِّ
"Aku putra orang yang matanya mengalir di pipi,
Lalu dipulihkan oleh teladan terpilih dengan sebaik-baik pemulihan.
Maka kembalilah ia seperti sedia kala,
Wahai indahnya mata itu, wahai indahnya pipi yang ditempatinga."
Umar bin Abdul Aziz—khulafaur rasyidin kelima—menjawabnya
dengan syair:
تِلْكَ
الْمَكَارِمُ لَا قَعْبَانِ مِنْ لَبَنٍ ... شِيبَا بِمَاءٍ فَعَادَا بَعْدُ
أَبْوَالَا
"Itulah kemuliaan sejati, bukan seperti dua mangkuk
susu
Yang dicampur air hingga berubah menjadi air seni."
Lalu Umar bin Abdul Aziz menyambung silaturahmi dan memberi
hadiah yang indah kepada 'Ashim. Sungguh, itulah kebanggaan yang abadi,
kebanggaan yang benar-benar layak dikenang.
Sumber Kisah:
As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhau'il Quran was Sunnah

Komentar
Posting Komentar