Pelajaran dari Perang Badar
Di lembah sunyi bernama Badar, pasir menghampar dan angin gurun berhembus pelan. Di sanalah, pada hari yang agung itu, dua pasukan bertemu: satu kecil dan tampak lemah, satu lagi besar dan angkuh dengan jumlah dan perlengkapannya. Namun Allah menjadikan hari itu bukan sekadar pertempuran, melainkan sebuah “sekolah besar” tempat mukmin belajar tentang iman, takwa, keberanian, dan rahmat Allah.
Allah menggambarkan peristiwa itu dalam Al-Qur’an:
﴿قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَىٰ كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ ۚ وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ﴾
“Sungguh, telah ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur): segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir, yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang mukmin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan pertolongan-Nya siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.”
(QS. Āli ‘Imrān: 13)
Dari lembah Badar inilah mengalir banyak pelajaran, yang membuat hati yang beriman dan akal yang jernih semakin yakin kepada Rabbnya.
________________________________________
Pelajaran Pertama: Kekuatan Rohani dan Iman
Segala sesuatu di Badar bermula dari satu sumber kekuatan: iman.
Iman kepada Allah yang Mahakuat, yang di tangan-Nya kemenangan dan kekalahan, hidup dan mati. Mereka yakin, mati di jalan-Nya bukan akhir, melainkan pintu menuju kehidupan abadi yang jauh lebih baik.
Mereka beriman kepada Rasulullah ﷺ, bahwa beliau tidak berbicara dari hawa nafsu, bahwa mencintai beliau bagian dari iman, dan bahwa mengorbankan jiwa demi beliau adalah kemuliaan, bukan kerugian. Mereka juga beriman kepada Hari Akhir: di sana setiap amal dibalas; surga disediakan bagi orang bertakwa dan berjihad, neraka bagi yang kafir dan enggan menolong para rasul.
Mereka percaya bahwa risalah Muhammad ﷺ adalah syariat terakhir yang abadi, untuk seluruh manusia, yang membawa semua kebaikan dan petunjuk. Mereka sadar bahwa umat ini adalah umat terbaik, umat pertengahan, yang seharusnya menjadi saksi bagi manusia dengan aqidah, ilmu, amal, dan akhlaknya.
Iman yang dalam dan bercabang banyak inilah rahasia kemenangan di Badar. Bukan pedang yang paling tajam, bukan kuda yang paling cepat, tetapi keyakinan yang mengakar di hati.
Ketika kabar datang bahwa kafilah dagang Quraisy lolos, sementara pasukan besar Quraisy sendiri datang lengkap bersenjata, Nabi ﷺ mengumpulkan para sahabat. Beliau tidak memaksakan pendapat, tetapi membuka ruang hati mereka untuk memilih.
Dengan suara yang tenang, beliau bersabda:
أَشِيرُوا عَلَيَّ أَيُّهَا النَّاسُ
“Berilah aku pendapat, wahai manusia.”
Para sahabat besar seperti Abu Bakar dan Umar menjawab dengan kata-kata yang menunjukkan kesiapan total. Lalu Al-Miqdad bangkit dengan ucapan yang menggambarkan iman sejati: mereka tidak akan berkata seperti Bani Israil kepada Musa, “Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah”, tetapi mereka akan berperang bersama Rasul sampai akhir.
Kemudian Sa’ad bin Mu’adz, pemimpin Anshar, berdiri mewakili penduduk Madinah. Kata-katanya menunjukkan bahwa hati mereka telah menyerahkan jiwa raga untuk Islam, di dalam dan di luar Madinah. Dengan jawaban itulah, Badar menjadi saksi kejujuran iman Anshar.
Di tengah ketegangan menjelang pertempuran, Rasulullah ﷺ menyemangati para sahabat dengan janji surga. Beliau berseru:
قُومُوا إِلَىٰ جَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ
“Berdirilah menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”
Seorang pemuda bernama ‘Umair bin Al-Humam radhiyallāhu ‘anhu mendengar seruan itu. Di tangannya ada beberapa butir kurma yang sedang ia makan. Ia bertanya, seakan ingin memastikan:
“Wahai Rasulullah, surga yang luasnya seluas langit dan bumi itu untuk siapa?”
Beliau menjawab bahwa surga itu untuk orang yang maju berperang dengan hati ikhlas, mengharap pahala Allah.
‘Umair menatap kurma di tangannya dan berkata pada dirinya sendiri bahwa jika ia masih sempat menghabiskan kurma-kurma itu, berarti hidupnya masih terlalu lama. Ia pun melempar kurma-kurma itu dan langsung terjun ke medan perang hingga gugur sebagai syahid.
Inilah gambaran iman yang membuat dunia terasa kecil.
Iman itu juga tampak ketika Abu Bakar meminta izin untuk berduel dengan putranya sendiri, Abdurrahman, yang saat itu masih bersama kaum musyrikin. Umar memenggal pamannya sendiri, Al-‘Āsh bin Hisyām, di medan perang. Abu ‘Ubaidah membunuh ayahnya yang memerangi Islam. Mush’ab bin ‘Umair menghadapi saudaranya. Abu Hudzaifah melihat ayahnya, ‘Utbah, mati dalam kekafiran, lalu tetap tegar di atas iman.
Di hadapan iman, segala ikatan darah menjadi kecil dibandingkan ikatan aqidah. Di sinilah letak rahasia kekuatan umat: ketika Allah, Rasul, dan Akhirat lebih dicintai daripada keluarga, harta, dan diri sendiri.
________________________________________
Pelajaran Kedua: Kemenangan Hanya dari Allah
Di Badar, jumlah kaum Muslimin hanya sekitar tiga ratus lebih sedikit, dengan perlengkapan apa adanya. Lawan mereka hampir seribu orang, dengan senjata lengkap dan persiapan matang. Namun Allah ingin mengajarkan bahwa kemenangan bukanlah milik angka dan peralatan semata.
Allah berfirman:
﴿وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ﴾
“Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia.”
(QS. Al-Muddatstsir: 31)
Para sahabat tidak duduk berpangku tangan. Mereka mempersiapkan semua kemampuan yang mereka miliki: pedang, tombak, anak panah. Mereka belajar taktik perang, menggali parit di perang lain, membuat alat-alat sederhana sesuai zaman mereka. Mereka bergerak, berlatih, dan berperang dengan seluruh sebab yang bisa mereka raih.
Namun, di balik semua usaha itu, hati mereka tetap terikat kuat kepada Allah. Mereka tidak takjub kepada jumlah, tidak bersandar pada strategi semata. Mereka berdoa, bertawakal, dan memperbaiki keadaan diri.
Di malam Badar, Rasulullah ﷺ berdiri lama berdoa, mengangkat kedua tangan, memohon kepada Rabbnya dengan penuh kesungguhan: jika kelompok kecil ini binasa, tidak ada lagi yang menyembah-Mu di muka bumi ini. Doa itu mengguncang langit, lalu turunlah pertolongan Allah dengan segala bentuknya, termasuk dengan turunnya para malaikat yang mengokohkan hati kaum mukminin.
Allah menegaskan:
﴿وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ﴾
“Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
(QS. Āli ‘Imrān: 126)
Dan juga:
﴿وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ﴾
“Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
(QS. Al-Anfāl: 10)
Pelajaran ini berlaku untuk setiap zaman. Umat Islam wajib mempersiapkan kekuatan lahiriah: ilmu, teknologi, persenjataan, strategi. Namun di atas semua itu, mereka harus menjaga takwa dan ketaatan. Kalau dalam urusan dosa dan maksiat umat Islam sama buruknya dengan musuhnya, sementara mereka kalah dalam jumlah dan teknologi, bagaimana mungkin mereka berharap pada pertolongan khusus dari Allah?
Jika Allah membiarkan manusia bersandar pada diri mereka sendiri, maka kemenangan akan jatuh kepada pihak yang lebih kuat secara materi. Tetapi jika Allah menolong, maka sedikit akan mengalahkan banyak, lemah akan menundukkan kuat.
________________________________________
Pelajaran Ketiga: Musyawarah dalam Kepemimpinan
Di Badar, kita melihat Rasulullah ﷺ bukan sebagai penguasa yang memaksakan kehendak, tetapi sebagai pemimpin penuh kasih yang menghidupkan musyawarah. Beliau sudah mendapat wahyu, namun tetap mengajak para sahabat berbicara dan bertukar pendapat.
Ketika pasukan Muslim mendekati Badar, Nabi ﷺ awalnya memilih suatu tempat untuk berhenti. Lalu Al-Hubab bin Al-Mundzir mendekat dengan penuh adab dan bertanya, apakah pilihan itu berdasarkan wahyu atau sekadar pendapat dan taktik perang. Ketika Nabi menjawab bahwa itu pendapat manusiawi, Al-Hubab mengusulkan tempat lain yang lebih menguntungkan secara strategi: dekat dengan sumber air sehingga pasukan Muslim menguasai sumur dan musuh kesulitan mendapat air. Nabi menerima usulan itu tanpa gengsi.
Sa’ad bin Mu’adz juga mengusulkan agar dibangun sebuah ‘arisy, semacam tempat tinggi atau tenda yang menjadi pos komando bagi Rasulullah ﷺ, agar beliau terlindungi dan dapat memimpin dengan lebih aman. Usulan itu juga diterima.
Sebelum pertempuran, Nabi ﷺ bermusyawarah tentang apakah mereka akan menghadapi pasukan Quraisy yang besar atau kembali, karena niat awal hanyalah menghadang kafilah dagang. Setelah mendengar pendapat penuh iman dari Muhajirin dan Anshar, beliau memutuskan untuk tetap maju.
Ketika perang usai dan tawanan Quraisy tertangkap, Nabi ﷺ kembali bermusyawarah: apakah para tawanan dibunuh atau ditebus dengan harta? Di sinilah terlihat perbedaan pendapat antara Abu Bakar dan Umar. Semua ini menunjukkan betapa kuatnya prinsip musyawarah dalam Islam.
Allah mengabadikan budi pekerti Nabi ﷺ ini dalam firman-Nya:
﴿فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ﴾
“Maka berkat rahmat dari Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”
(QS. Āli ‘Imrān: 159)
Badar mengajarkan bahwa pemimpin yang besar bukan yang memerintah dengan tangan besi, tetapi yang merangkul, memaafkan, dan mengajak umatnya berpikir bersama.
________________________________________
Pelajaran Keempat: Kemanusiaan dan Kasih Sayang Rasulullah ﷺ
Di antara pemandangan paling menyentuh di Badar adalah kelembutan hati Rasulullah ﷺ, bahkan di tengah perang.
Beliau memerintahkan agar para syuhada dikuburkan dengan layak. Kepada para sahabat, beliau menekankan agar berbuat baik kepada tawanan: memberi makan, memperlakukan dengan sopan, tidak menyiksa. Sejarah mencatat, beberapa sahabat memberikan makanan terbaik yang mereka miliki kepada tawanan, sementara mereka sendiri makan yang lebih sederhana.
Ketika Umar mengusulkan agar dua gigi taring Suhail bin ‘Amr dicabut supaya ia tidak mampu lagi berpidato melawan Nabi, Rasulullah ﷺ menolak. Beliau enggan melakukan mutilasi dan kezaliman, meskipun terhadap musuh yang baru saja memerangi beliau.
Dalam sebuah kisah lain, ketika seorang wanita meratap karena saudaranya, An-Nadhr bin Al-Harits, telah dibunuh dalam keadaan kafir, ratapannya menyentuh hati Nabi ﷺ. Beliau mengucapkan makna bahwa seandainya ucapan dan permintaan itu sampai kepada beliau sebelum hukuman dilaksanakan, mungkin beliau akan memaafkannya. Namun keputusan sudah terjadi di medan perang.
Semua ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak haus darah. Beliau datang membawa rahmat, bukan kebencian. Bahkan terhadap yang memusuhinya, beliau mencari alasan untuk memaafkan selama masih ada harapan kebaikan.
________________________________________
Pelajaran Kelima: Kecerdasan Politik dan Kepemimpinan Nabi ﷺ
Di balik kelembutan dan kasih sayang, ada kecerdasan politik yang sangat tinggi. Akal yang diasuh wahyu, hati yang disinari iman, menjadikan beliau pemimpin yang tidak tertandingi.
Saat kabar datang bahwa Quraisy keluar dengan kekuatan penuh, Nabi ﷺ tidak langsung memerintahkan perang. Beliau justru menjadikannya sebagai ujian untuk menampakkan kadar iman para sahabat: apakah mereka siap membela Islam di luar Madinah sebagaimana di dalamnya. Musyawarah pun diadakan, dan jawaban mereka menunjukkan keteguhan yang luar biasa, sangat berbeda dengan Bani Israil terhadap Nabi Musa.
Ketika duel satu lawan satu dimulai, tiga pendekar Quraisy menantang maju. Nabi ﷺ memilih tiga orang yang paling dekat dengan beliau: dua dari Bani Hasyim dan satu dari Bani Al-Muththalib. Kedua kabilah ini memiliki kedudukan yang sama di masa jahiliah dan Islam. Dengan itu, beliau seakan mengumumkan kepada semua orang bahwa keluarga terdekat beliau berada di barisan paling depan pengorbanan, bukan bersembunyi di belakang.
Kecerdasan itu juga terlihat dalam sikapnya ketika menghadapi perbedaan pendapat yang tajam mengenai tawanan perang. Abu Bakar berpendapat agar mereka ditebus dengan harta dan diberi kesempatan masuk Islam; Umar berpendapat bahwa mereka harus dibunuh, karena mereka adalah pemimpin kekafiran yang baru saja memerangi kaum Muslimin.
Nabi ﷺ masuk ke tempat beliau, memikirkan kedua pendapat itu dalam dan lama. Secara tabiat, hati beliau condong kepada kelembutan yang ditawarkan Abu Bakar. Namun beliau juga sangat menghormati ketegasan dan kejernihan pandangan Umar, yang sering kali sesuai dengan wahyu.
Ketika keluar, beliau terlebih dahulu memuji keduanya. Abu Bakar beliau sejajarkan dengan Nabi Ibrahim dan ‘Isa ‘alaihimas-salām yang penuh kasih kepada umat mereka. Umar beliau sejajarkan dengan Nabi Nuh dan Musa ‘alaihimas-salām, yang sangat tegas ketika umat mereka melampaui batas tanpa harapan lagi. Setelah itu barulah beliau memutuskan untuk mengambil pendapat Abu Bakar.
Dengan cara ini, beliau tidak hanya memilih keputusan, tetapi juga menjaga hati para sahabat. Umar mungkin tidak melihat pendapatnya diambil, tetapi dihibur dengan pujian yang tak tertandingi: disamakan dengan dua nabi besar dari Ulul ‘Azmi.
Kebijaksanaan beliau juga tampak dalam pembagian ghanimah. Orang yang tidak hadir di Badar karena tugas umum untuk kepentingan Islam tetap diberi bagian. Para syuhada Badar mendapat hak yang diserahkan kepada keluarganya. Sejak empat belas abad yang lalu, Islam telah mengajarkan untuk memuliakan syuhada dan menanggung keluarga mereka.
________________________________________
Pelajaran Keenam: Keadilan Nabi dalam Urusan Tebusan
Setelah perang usai, para tawanan Quraisy ditahan di Madinah. Nabi ﷺ memutuskan, bagi yang mampu menebus diri, mereka boleh membayar tebusan. Yang tidak mampu, ada yang dibebaskan dengan syarat mengajarkan baca-tulis kepada anak-anak Muslim, dan berbagai bentuk kebijaksanaan lain.
Yang menarik, beliau sama sekali tidak memihak kepada kerabatnya. Pamannya sendiri, Al-‘Abbas, termasuk yang ditawan. Tebusannya justru dibuat lebih berat, karena posisinya yang terpandang dan hartanya yang banyak. Ketika sebagian paman dari kalangan Anshar mencoba meringankan beban ‘Abbas, Nabi ﷺ tidak menerimanya, demi menegakkan keadilan yang sama bagi semua.
Menantu beliau, Abu Al-‘Āsh bin Ar-Rabī’, juga tertawan. Istrinya, Zainab binti Rasulullah ﷺ, mengirim kalung yang dahulu milik ibunya, Khadijah radhiyallāhu ‘anhā, sebagai tebusan. Melihat kalung itu, kenangan indah bersama Khadijah kembali memenuhi hati Nabi ﷺ. Beliau sangat terharu.
Nabi ﷺ tidak memutuskan sendiri untuk membebaskan Abu Al-‘Āsh, tetapi menyerahkan urusannya kepada para sahabat. Ketika mereka melihat bahwa tebusan itu adalah kalung warisan Khadijah, mereka rela melepaskan Abu Al-‘Āsh dan mengembalikan kalung itu kepada Zainab. Demikian halus perasaan mereka, demikian mulia jiwa mereka.
Terhadap sebagian tawanan lain yang tidak memiliki hubungan keluarga dengan beliau, Nabi ﷺ juga memberikan keringanan dan maaf berdasarkan pertimbangan-pertimbangan kemaslahatan. Semua itu berada di bawah naungan keadilan yang lurus, bukan karena kedekatan atau kepentingan pribadi.
________________________________________
Pelajaran Ketujuh: Ijtihad Nabi ﷺ dan Penghargaan Islam terhadap Upaya Berpikir
Peristiwa tawanan Badar juga menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ bisa melakukan ijtihad – berusaha menetapkan hukum dalam perkara yang belum diturunkan wahyu secara rinci. Beliau memutuskan untuk menerima tebusan atas tawanan, setelah musyawarah dengan para sahabat.
Kemudian turunlah ayat Al-Qur’an yang menegur keputusan itu, karena dalam konteks kekuatan umat yang masih lemah, seharusnya penekanan utama adalah melumpuhkan kekuatan musuh, bukan mengambil tebusan:
﴿مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ﴾
“Tidak patut bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia melumpuhkan musuhnya di bumi...”
(QS. Al-Anfāl: 67)
Para ulama memahami dari sini bahwa Nabi ﷺ, dalam urusan yang belum ditetapkan wahyu secara tegas, boleh berijtihad. Jika ijtihad beliau dibiarkan tanpa teguran, berarti sesuai dengan kebenaran dan mendapatkan persetujuan wahyu. Jika ijtihad beliau kurang tepat, wahyu turun meluruskan.
Dalam kedua keadaan, beliau tetap mulia dan diberi pahala. Prinsip ini selaras dengan hadits Nabi ﷺ yang masyhur:
إِذَا حَكَمَ ٱلْحَاكِمُ فَٱجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَٱجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ
“Apabila seorang hakim memutuskan perkara lalu berijtihad kemudian tepat, maka ia mendapat dua pahala. Dan apabila ia memutuskan perkara lalu berijtihad kemudian keliru, maka ia mendapat satu pahala.”
(HR. Al-Bukhārī dan Muslim)
Dengan ini, Islam mengajarkan bahwa berfikir, berijtihad, dan berusaha mencari kebenaran adalah perbuatan mulia. Kesalahan yang jujur dan sungguh-sungguh tetap dihargai, selama didasari ilmu dan ketakwaan.
________________________________________
Pelajaran Kedelapan: Mukjizat Indrawi di Medan Badar
Badar juga menjadi tempat turunnya beberapa mukjizat yang terlihat oleh mata, sebagai penguat iman dan bukti kerasulan.
Disebutkan bahwa pedang ‘Ukasyah bin Mihshan Al-Asadi patah ketika sedang berperang. Dalam keadaan genting, ia mendatangi Rasulullah ﷺ untuk meminta senjata. Nabi ﷺ memberikan sepotong kayu bakar dan bersabda, dengan makna, agar ia berperang dengan itu.
Ketika ‘Ukasyah menggenggam dan mengayunkan kayu itu, tiba-tiba kayu itu berubah menjadi pedang yang panjang, kuat, dan tajam. Pedang itu dinamakan “Al-‘Aun”. Dengan pedang itulah ia terus berjihad bersama Rasulullah ﷺ hingga akhirnya gugur sebagai syahid dalam peperangan di masa perang riddah (pemurtadan) melawan Thulaihah Al-Asadi.
Dalam riwayat, keberanian ‘Ukasyah dipuji oleh Nabi ﷺ dengan makna bahwa di tengah-tengah mereka ada sebaik-baik penunggang kuda di kalangan Arab, yaitu ‘Ukasyah bin Mihshan. Ketika Dhirar bin Al-Azwar – yang juga pemberani – berkata bahwa ‘Ukasyah berasal dari kaumnya, Nabi ﷺ menjelaskan bahwa ia termasuk golongan beliau karena perjanjian persekutuan. Sebuah penghormatan yang sangat tinggi bagi seorang sahabat.
Al-Wāqidī juga meriwayatkan bahwa pedang Salamah bin Huraisy patah pada hari Badar, sehingga ia tidak memiliki senjata. Rasulullah ﷺ lalu memberikan tongkat dari pelepah kurma dan memerintahkannya untuk memukul dengan tongkat itu. Seketika tongkat itu berubah menjadi pedang yang bagus. Pedang itu tetap bersamanya hingga ia akhirnya gugur syahid dalam pertempuran di “Jisr Abi ‘Ubaid” di Irak, sebuah pertempuran berat di atas jembatan Sungai Eufrat melawan pasukan Persia.
Di antara mukjizat lain adalah ketika Al-‘Abbas, paman Nabi ﷺ, mengeluh tentang kemiskinan dan beratnya tebusan. Nabi ﷺ mengingatkannya tentang harta yang pernah ia titipkan dan pesankan kepada istrinya, Ummul Fadhl, dengan kalimat-kalimat yang tidak diketahui siapa pun kecuali Al-‘Abbas dan istrinya sendiri. Dengan itu jelaslah bahwa Nabi ﷺ diberi tahu oleh Allah tentang perkara gaib yang tidak mungkin beliau ketahui kecuali melalui wahyu.
Demikian pula ketika ‘Umair bin Wahb datang ke Madinah seolah ingin menebus anaknya yang tertawan, padahal ia telah bersekongkol dengan Shafwan bin Umayyah di Makkah untuk membunuh Rasulullah ﷺ. Nabi ﷺ mengabarkan rencana rahasianya yang tidak diketahui siapa pun di Madinah. Mendengar itu, ‘Umair langsung tersentak, menyadari bahwa ini bukan kedustaan, melainkan wahyu dari langit. Ia pun masuk Islam dengan iman yang jujur.
Ada yang bertanya: jika Al-Qur’an sudah menjadi mukjizat terbesar, apakah masih diperlukan mukjizat-mukjizat indrawi seperti itu? Jawabannya, ya, karena banyak hati yang lembut membutuhkan penguat iman yang tampak oleh mata. Melihat sepotong kayu berubah menjadi pedang di tangan mereka, merasakan langsung pertolongan yang melampaui kebiasaan, semua itu menancapkan keyakinan yang tak tergoyahkan.
Mereka pun berperang dengan hati yang mantap; pedang di tangan mereka bukan sekadar besi, tetapi tanda pertolongan Rabbul ‘Alamin.
________________________________________
Sumber Kisah
السيرة النبوية في ضوء القرآن والسنة

Komentar
Posting Komentar