Pelajaran Berharga di Balik Kekalahan Uhud

Ilustrasi senja di kaki Bukit Uhud dengan langit jingga keemasan. Sekelompok sahabat yang terluka dan berperban duduk bersimpuh dan berdiri dengan kepala tertunduk merenung, mengenang pertempuran. Dari celah awan, cahaya ilahi turun membawa ilusi lembut huruf Arab bercahaya yang melayang—mewakili turunnya ayat-ayat Al-Quran sebagai pelajaran dan penghibur. Di latar belakang, puncak bukit tempat pasukan pemanah dulu berada tampak kosong dan sunyi. Tanah sekitar masih menyisakan pedang tertancap, panah berserakan, dan perisai rusak. Suasana kontemplatif, haru, dan spiritual.

Perang Uhud tidak hanya meninggalkan luka dan duka, tetapi juga hikmah mendalam yang menjadi guru bagi kaum Muslimin untuk selamanya. Kekalahan yang pahit itu mengajarkan mereka bahwa kemenangan sejati bukan sekadar menguasai medan perang atau mengumpulkan harta rampasan, melainkan ketaatan mutlak kepada Rasulullah dan keikhlasan dalam berjuang di jalan Allah.


Sebab Utama Kekalahan

Ada dua faktor utama yang menyebabkan kekalahan kaum Muslimin pada Perang Uhud, setelah sebelumnya mereka berada di ambang kemenangan.

Pertama, pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian besar pasukan pemanah terhadap perintah Rasulullah . Beliau telah berpesan dengan tegas agar mereka tetap bertahan di posisi di Bukit Uhud, baik dalam keadaan menang maupun kalah. Namun ketika mereka melihat pasukan Quraisy tercerai-berai dan harta rampasan bertebaran, mereka tergoda untuk turun meninggalkan posisi strategis itu.

Kedua, sebagian pasukan lebih mengutamakan harta rampasan daripada melanjutkan pertempuran dan menghabisi musuh. Mereka sibuk mengumpulkan ganimah dan melupakan tugas utama mereka untuk memastikan kekalahan total pasukan musyrikin.

Allah SWT mengabadikan peristiwa ini dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ حَتَّىٰ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ ۚ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۖ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

"Dan sungguh, Allah telah memenuhi janji-Nya kepadamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu serta mendurhakai (perintah Rasul) setelah diperlihatkan-Nya kepadamu apa yang kamu sukai (kemenangan). Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk mengujimu. Dan sungguh, Allah telah memaafkan kamu. Allah memiliki karunia yang melimpah kepada orang-orang mukmin."
(QS. Ali 'Imran: 152)

Penjelasan makna ayat:

  • تَحُسُّونَهُمْ : kamu membunuh mereka
  • مَا تُحِبُّونَ : kemenangan yang kamu sukai
  • لِيَبْتَلِيَكُمْ : untuk menguji kamu, agar tampak siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang tidak

Hikmah dan Pelajaran Berharga

Perang Uhud menjadi pelajaran pahit namun sangat berharga bagi kaum Muslimin. Mereka belajar bahwa ketaatan mutlak kepada Rasulullah adalah kunci kemenangan. Pelanggaran sekecil apa pun terhadap perintah beliau dapat berakibat fatal, mengubah kemenangan menjadi kekalahan.

Mereka juga belajar bahwa harta rampasan perang hanyalah kesenangan duniawi yang fana. Seorang mujahid sejati tidak boleh menjadikan ganimah sebagai tujuan utama perjuangannya. Yang abadi dan lebih baik adalah pahala akhirat yang dijanjikan Allah bagi mereka yang berjuang dengan ikhlas.

Peristiwa ini menjadi ujian yang memisahkan antara mukmin yang tulus dengan mereka yang lemah iman atau munafik. Allah ingin menguji kualitas keimanan hamba-hamba-Nya, agar tampak siapa yang benar-benar berjuang karena-Nya.

Satu lagi pelajaran penting: para rasul dan pengikut mereka bisa saja mengalami kekalahan dalam beberapa pertempuran karena kesalahan atau faktor lainnya. Namun pada akhirnya, kemenangan pasti akan berpihak kepada mereka. Itulah sunnatullah yang tidak akan berubah.

Allah berfirman:

كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي ۚ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

"Allah telah menetapkan: 'Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.' Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa."
(QS. Al-Mujadalah: 21)

Dan dalam ayat lain, Allah menegaskan:

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ. وَلِيُمَحِّصَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ

"Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka mereka (pasukan musyrikin) pun pada Perang Badar mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kekalahan) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran). Dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim. Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang kafir."
(QS. Ali 'Imran: 140-141)

Penjelasan makna ayat:

  • قَرْحٌ : luka-luka (yang diderita di Uhud)
  • نُدَاوِلُهَا : Kami pergilirkan, hari kemenangan untukmu dan hari kekalahan untukmu
  • وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ : agar tampak bagi hamba-Nya siapa yang benar-benar beriman
  • وَلِيُمَحِّصَ : agar membersihkan (dosa-dosa) orang-orang beriman melalui ujian

Ayat-Ayat Al-Quran tentang Perang Uhud

Allah SWT menurunkan sekitar empat puluh ayat dalam Surat Ali 'Imran yang berkaitan dengan Perang Uhud dan pelajarannya. Berikut adalah beberapa ayat penting beserta penjelasannya:


1. Hukum Sejarah dan Jaminan Kemenangan bagi Mukmin

قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ. هَٰذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ. وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

"Sungguh, telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah). Karena itu, berjalanlah kamu ke bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). Inilah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Janganlah kamu lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman."
(QS. Ali 'Imran: 137-139)

Penjelasan:

  • وَلَا تَهِنُوا : jangan lemah untuk berjihad karena musibah yang menimpamu
  • وَلَا تَحْزَنُوا : jangan bersedih atas apa yang menimpamu berupa korban jiwa dan luka
  • وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ : kamulah yang lebih tinggi derajatnya, karena kalian berjuang di jalan Allah dan syuhada kalian di surga

2. Jalan Menuju Surga: Antara Cita dan Kenyataan

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ. وَلَقَدْ كُنْتُمْ تَمَنَّوْنَ الْمَوْتَ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَلْقَوْهُ فَقَدْ رَأَيْتُمُوهُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata orang-orang yang sabar? Padahal sungguh kamu telah menginginkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya. Maka sungguh kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya."
(QS. Ali 'Imran: 142-143)

Penjelasan:

  • يَعْلَمِ اللَّهُ : ilmu Allah yang berkaitan dengan kenyataan dan pembuktian di dunia
  • تَمَنَّوْنَ الْمَوْتَ : dulu kalian bercita-cita meraih syahid seperti para syuhada Badar
  • فَقَدْ رَأَيْتُمُوهُ : kini kalian menyaksikan sendiri medan syahid itu di Uhud

3. Muhammad hanyalah Seorang Rasul

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ. وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلًا ۗ وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الْآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا ۚ وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ

"Muhammad itu hanyalah seorang rasul. Sebelumnya pun telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan kepadanya. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."
(QS. Ali 'Imran: 144-145)

Penjelasan:

  • Ayat ini turun ketika tersiar kabar bahwa Nabi Muhammad gugur, yang menyebabkan sebagian sahabat lemah semangat
  • كِتَابًا مُؤَجَّلًا : ajal setiap makhluk telah ditentukan Allah, tidak bisa dimajukan atau diundur
  • ثَوَابَ الدُّنْيَا : pahala dunia seperti kemenangan dan harta rampasan
  • ثَوَابَ الْآخِرَةِ : pahala akhirat berupa surga dan ridha Allah

4. Teladan dari Para Pengikut Nabi Terdahulu

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ. وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

"Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikutnya yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) tunduk (kepada musuh). Allah mencintai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: 'Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami. Teguhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.' Maka Allah memberi mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."
(QS. Ali 'Imran: 146-148)

Penjelasan:

  • رِبِّيُّونَ : kelompok besar pengikut setia para nabi
  • فَمَا وَهَنُوا : mereka tidak lemah karena musibah
  • وَمَا ضَعُفُوا : tidak lemah semangat untuk mengejar musuh
  • وَمَا اسْتَكَانُوا : tidak tunduk kepada musuh
  • ثَوَابَ الدُّنْيَا : kemenangan di dunia
  • حُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ : surga dan kenikmatannya

5. Teguran atas Perilaku Lari dan Pelarian

إِذْ تُصْعِدُونَ وَلَا تَلْوُونَ عَلَىٰ أَحَدٍ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ فِي أُخْرَاكُمْ فَأَثَابَكُمْ غَمًّا بِغَمٍّ لِكَيْلَا تَحْزَنُوا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا مَا أَصَابَكُمْ ۗ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

"(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada siapa pun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu. Karena itu Allah menimpakan kepadamu kesedihan atas kesedihan, agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan terhadap apa yang menimpamu. Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan."
(QS. Ali 'Imran: 153)

Penjelasan:

  • تُصْعِدُونَ : kalian berlari cepat di muka bumi (ketika melarikan diri)
  • وَلَا تَلْوُونَ عَلَىٰ أَحَدٍ : tidak menoleh dan tidak peduli kepada siapa pun
  • فِي أُخْرَاكُمْ : di belakang kalian, Rasul memanggil: "Kemarilah wahai hamba Allah!"
  • فَأَثَابَكُمْ غَمًّا بِغَمٍّ : Allah membalas kalian dengan kesedihan di atas kesedihan (karena kalian menyusahkan Rasul)

6. Kemunafikan dan Prasangka Buruk

ثُمَّ أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُعَاسًا يَغْشَىٰ طَائِفَةً مِنْكُمْ ۖ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ ۖ يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ مِنْ شَيْءٍ ۗ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ ۗ يُخْفُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ مَا لَا يُبْدُونَ لَكَ ۖ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَاهُنَا ۗ قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَىٰ مَضَاجِعِهِمْ ۖ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

"Kemudian setelah kamu ditimpa kesedihan, Dia menurunkan rasa aman kepadamu berupa kantuk yang meliputi segolongan dari kamu. Sedangkan segolongan lain justru merasa cemas terhadap dirinya sendiri; mereka berprasangka kepada Allah dengan prasangka yang tidak benar seperti prasangka jahiliah. Mereka berkata, 'Apakah ada sesuatu yang bisa kita perbuat dalam urusan ini?' Katakanlah, 'Sungguh, urusan itu seluruhnya di tangan Allah.' Mereka menyembunyikan dalam hatinya apa yang tidak mereka perlihatkan kepadamu. Mereka berkata, 'Seandainya ada sesuatu yang bisa kita perbuat dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh di sini.' Katakanlah, 'Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditetapkan akan mati terbunuh itu akan kelir ke tempat mereka terbunuh.' Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati."
(QS. Ali 'Imran: 154)

Penjelasan:

  • أَمَنَةً نُعَاسًا : rasa aman berupa kantuk (rahmat Allah setelah kesedihan)
  • طَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ : kelompok munafik yang hanya mementingkan diri sendiri
  • يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ : mereka berprasangka buruk bahwa Allah tidak akan menolong Rasul-Nya
  • لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ : andai kita punya wewenang, pasti kita tidak akan terbunuh di sini
  • لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ : orang yang telah ditetapkan mati akan tetap keluar ke tempat terbunuhnya

7. Larangan Menyerupai Orang Kafir dalam Berprasangka

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ كَفَرُوا وَقَالُوا لِإِخْوَانِهِمْ إِذَا ضَرَبُوا فِي الْأَرْضِ أَوْ كَانُوا غُزًّى لَوْ كَانُوا عِنْدَنَا مَا مَاتُوا وَمَا قُتِلُوا لِيَجْعَلَ اللَّهُ ذَٰلِكَ حَسْرَةً فِي قُلُوبِهِمْ ۗ وَاللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu seperti orang-orang kafir yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di bumi atau berperang, 'Sekiranya mereka tetap bersama kita, tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh.' (Dengan ucapan) itu Allah menjadikan (hal itu sebagai) penyesalan di hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
(QS. Ali 'Imran: 156)

Penjelasan:

  • لِإِخْوَانِهِمْ : kepada saudara-saudara mereka (dalam kekafiran atau nasab)
  • ضَرَبُوا فِي الْأَرْضِ : bepergian di muka bumi (untuk berniaga dll.)
  • غُزًّى : orang-orang yang berperang
  • لَوْ كَانُوا عِنْدَنَا : seandainya mereka bersama kita (tidak pergi berperang)
  • لِيَجْعَلَ اللَّهُ ذَٰلِكَ حَسْرَةً : Allah jadikan ucapan itu penyesalan di hati mereka

8. Kemuliaan Mati Syahid

وَلَئِنْ قُتِلْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ. وَلَئِنْ مُتُّمْ أَوْ قُتِلْتُمْ لَإِلَى اللَّهِ تُحْشَرُونَ

"Dan sungguh, sekiranya kamu gugur di jalan Allah atau mati, pastilah ampunan dari Allah dan rahmat itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan (harta dunia). Dan sungguh, jika kamu mati atau gugur, pastilah kepada Allah kamu dikumpulkan."
(QS. Ali 'Imran: 157-158)

Penjelasan:

  • Kematian di jalan Allah—baik karena terbunuh atau wajar—mendatangkan ampunan dan rahmat
  • Itu lebih baik daripada seluruh harta dunia yang dikumpulkan manusia
  • Semua akan kembali kepada Allah untuk menerima balasan

9. Kekalahan Akibat Kesalahan Sendiri

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat (kepada musuh-musuhmu pada Perang Badar), kamu berkata, 'Dari mana datangnya (kekalahan) ini?' Katakanlah, 'Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.' Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu."
(QS. Ali 'Imran: 165)

Penjelasan:

  • مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا : musibah Uhud (70 syuhada) sedangkan di Badar mereka menewaskan 70 musuh dan menawan 70
  • قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ : akibat pelanggaran kalian terhadap perintah Rasul

10. Kedudukan Mulia Para Syuhada

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ. فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ. يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ

"Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka hidup di sisi Tuhannya mendapat rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya. Dan mereka bersukacita terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Mereka bergembira dengan nikmat dan karunia dari Allah. Dan sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman."
(QS. Ali 'Imran: 169-171)

Penjelasan:

  • أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ : mereka hidup di sisi Allah dalam alam barzakh dengan kehidupan khusus yang tidak kita ketahui hakikatnya
  • فَرِحِينَ : mereka bergembira dengan kemuliaan yang Allah berikan
  • يَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ : mereka bergembira dengan kabar bahwa saudara-saudara mereka yang masih hidup akan menyusul meraih kemuliaan yang sama
  • الْخَوْفُ : rasa takut terhadap masa depan
  • الْحَزَنُ : kesedihan terhadap masa lalu

Rasulullah meriwayatkan dari Allah tentang kenikmatan yang disediakan bagi para syuhada:

«أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَىٰ قَلْبِ بَشَرٍ، بَلْهَ مَا اطَّلَعْتُمْ عَلَيْهِ»

"Aku sediakan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang belum pernah mata melihat, belum pernah telinga mendengar, dan belum pernah terlintas di hati manusia. Belum lagi apa yang telah Aku perlihatkan kepadamu (di dunia)."

Kemudian Rasulullah membaca firman Allah:

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan."
(QS. As-Sajdah: 17)

Semoga Allah Yang Mahamulia menganugerahkan kepada kita kenikmatan abadi itu, dengan kemurahan dan karunia-Nya. Amin.


Sumber Kisah:
As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhau'il Quran was Sunnah

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nabi Hūd, Kaum ‘Ād, dan Jejaknya dalam Sejarah Arab Pra Islam

Kisah Keberanian Sahabat di Perang Uhud: Thalhah, Nusaibah, dan Para Pejuang Wanita

Rihlah Ibnu Bathutah #61 : Sultan Alauddin Tharmasyirin, Keadilan, Kerendahan Hati, dan Sebuah Pelajaran Hidup