Musnahnya Arab Bā’idah
Di hamparan panjang Jazirah Arab, jauh sebelum datangnya Islam, pernah hidup suku-suku tua yang kini hanya tersisa namanya di dalam cerita dan buku-buku sejarah. Mereka dikenal sebagai Arab Bā’idah – kelompok-kelompok Arab yang telah punah, yang jejaknya hilang ditelan zaman.
Bencana yang Mengusir Manusia dari Tanahnya
Kehancuran suku-suku ini, menurut para ahli sejarah, bukan
terutama karena peperangan, tetapi banyak disebabkan oleh bencana alam.
Bayangkan bertahun-tahun hujan tak kunjung turun. Tanah
retak, rerumputan mati, hewan ternak satu per satu tumbang. Ketika hewan mati
dan manusia kelaparan, tidak ada pilihan lain selain meninggalkan tanah
leluhur, betapapun beratnya, dan mencari tempat baru yang masih punya air dan
tanaman.
Dalam pengembaraan itu, kadang mereka menemukan suatu
wilayah yang subur, dengan sungai atau mata air, dan penduduk yang sudah lebih
dulu menetap di sana. Di titik inilah terjadi berbagai kemungkinan.
Kadang para pendatang datang dengan jumlah besar dan
kekuatan yang besar pula, sehingga penduduk setempat terpaksa mengizinkan
mereka tinggal karena takut pada kekuatan mereka. Di lain waktu, pertemuan itu
berlangsung lebih damai: penduduk lama merelakan mereka tinggal di sekitar
wilayah mereka—bumi masih luas, dan kehadiran pendatang bisa membawa manfaat
bersama, baik dalam perdagangan, pertanian, maupun pertahanan.
Identitas yang Melebur dan Nama yang Hilang
Sering kali perpindahan itu tidak berlangsung rapi. Ada
kelompok yang pecah, keluarga-keluarga yang tercerai-berai, lalu masing-masing
bagian melebur ke dalam kabilah-kabilah lain yang sudah ada.
Seiring berjalannya waktu, orang-orang pendatang ini mulai:
- memakai
nama-nama kabilah baru tempat mereka tinggal,
- terikat
dalam solidaritas kesukuan yang baru,
- dan
menisbatkan diri dalam nasab kepada kelompok yang mengadopsi mereka.
Akhirnya, nama suku asal mereka hilang,
tenggelam dalam nama-nama kabilah baru yang lebih kuat dan lebih terkenal. Yang
tersisa dari suku lama itu hanyalah cerita samar dan kenangan yang mengambang,
sebagaimana terjadi pada banyak kabilah Arab yang kini dianggap telah punah.
Bukan Hanya Kekeringan: Letusan, Badai, dan Getaran Bumi
Bencana yang menimpa Arab Bā’idah bukan hanya kekeringan.
Ada kalanya wilayah bebatuan vulkanik (dalam
istilah Arab disebut ḥarrāt) bergolak: tanah memuntahkan api,
bebatuan hitam memanas, dan manusia terpaksa lari menyelamatkan diri.
Di waktu lain, badai pasir yang ganas berhembus
berhari-hari, menutup mata dan mulut, menimbun tenda, hewan, dan kadang-kadang
permukiman. Di daerah-daerah yang tanahnya tidak stabil, getaran bumi—gempa—menambah
penderitaan, meruntuhkan apa yang sudah susah payah dibangun manusia.
Semua ini menimbulkan luka besar pada kehidupan suku-suku
Arab kuno: rumah berubah puing, kebun menjadi gersang, dan akhirnya, kabilah
menjadi nama yang hilang.
Jejak dalam Al-Qur’an dan Riwayat Sejarah
Para penulis klasik mencatat bahwa bencana-bencana
seperti ini disebutkan jejaknya dalam:
- Al-Qur’an,
ketika berbicara tentang kehancuran kabilah-kabilah terdahulu, dan
- riwayat-riwayat
sejarah, yang menceritakan tentang suku-suku yang binasa—baik yang
namanya disebut dalam Al-Qur’an maupun yang tidak disebut secara langsung,
tetapi dikenal melalui tradisi para ahli sejarah.
Dalam teks yang sedang kita bahas ini, tidak ada ayat
Al-Qur’an atau hadits Nabi yang dikutip secara langsung, hanya disebut secara
umum bahwa Al-Qur’an dan khabar-khabar sejarah memuat kisah tentang bencana dan
kehancuran suku-suku tersebut.
Kitab-kitab tentang Arab Bā’idah yang Penuh Unsur Legenda
Sebagian ahl al-akhbār (ahli sejarah dan
pengumpul berita kuno) pada masa awal Islam menaruh minat khusus pada
kisah-kisah suku Arab yang telah punah ini. Mereka menulis kitab-kitab yang
mencoba merangkum apa yang masih tersisa dari ingatan kolektif masyarakat.
Di antara nama-nama yang disebut adalah:
- ‘Ubaydah
bin Syariyah al-Jurhumī
- Ibn
al-Kalbī, yang dikabarkan memiliki karya berjudul Kitāb ‘Ād
al-Ūlā wa al-Ākhirah dan Kitāb Tafarruq ‘Ād
- Abu
al-Bakhtarī
- Wahb
bin Wahb bin Katsīr, yang dikatakan menyusun Kitāb Ṭasm wa
Jadīs
Namun, dari kutipan-kutipan yang masih bisa kita temukan
dalam buku-buku yang bertahan sampai hari ini, tampak bahwa banyak dari
karya itu memiliki corak yang sangat legendaris dan mitologis.
Cerita-cerita di dalamnya kerap bercampur antara sejarah, dongeng, dan
imajinasi kolektif masyarakat pada zamannya.
Karena itu, ketika kita membaca kisah-kisah tentang Arab
Bā’idah, kita bukan hanya berhadapan dengan data sejarah kering, tetapi juga
dengan dunia cerita yang penuh simbol, pelajaran, dan mitos.
Sumber:
Al Mufashal Fii Tarikh al Arab Qabla al Islam

Komentar
Posting Komentar