Menelusuri Jejak Para Wali: Dari Makam Al-Ghazali hingga Gerbang India
Menuju Thous: Makam Sang Hujjatul Islam
Dari kota Al-Jam, kami melanjutkan perjalanan menuju Thous,
kota terbesar dan teragung di seluruh Khurasan. Di kota inilah dimakamkan Imam
terkenal, Abu Hamid Al-Ghazali—semoga Allah meridhainya. Aku
berziarah ke makamnya, berdiri sejenak merenungkan jasa-jasa besar seorang
pembaru agama ini. Sungguh, namanya telah memenuhi dunia, namun di sini ia
terbaring dalam kesederhanaan.
Masyhad: Dua Makam Berhadapan
Dari Thous, kami menuju Masyhad ar-Ridha—makam Ali
bin Musa al-Kadhim bin Ja'far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal
Abidin bin Husain asy-Syahid bin Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu
'anhum. Kota ini besar dan megah, penuh dengan buah-buahan, sungai mengalir,
dan kincir-kincir air berputar di mana-mana.
Di kota ini tinggal seorang tokoh bernama At-Thahir
Muhammad Syah—mereka menyebut "Ath-Thahir" seperti orang Mesir,
Syam, dan Irak menyebut "An-Naqib", sementara orang India, Sind, dan
Turkistan menyebut "As-Sayyid al-Ajall". Juga ada Qadhi Syarif Jalaluddin yang
kelak kutemui di India, serta Syarif Ali dan kedua putranya, Amir Hindu dan Dawlat
Syah, yang menemaniku sejak dari Tirmidz hingga ke India. Mereka termasuk
orang-orang utama.
Makam yang dimuliakan itu beratapkan kubah besar di dalam
sebuah zawiyah. Di sampingnya terdapat madrasah dan masjid. Seluruh bangunan
sangat indah, dindingnya dihiasi keramik qasyani (pirus). Di
atas makam terdapat dakkānah (peti) dari kayu berlapis perak,
dengan lampu-lampu gantung perak di atasnya. Ambang pintu kubah terbuat dari
perak, dan pintunya ditutupi tirai sutera bersulam emas. Lantainya dialasi
aneka permadani mewah.
Dan di hadapan makam ini—tepat berseberangan—terdapat
makam Harun ar-Rasyid, Amirul Mukminin. Di atasnya juga ada dakkānah,
tempat mereka meletakkan semacam lilin besar yang dikenal orang Maghribi
sebagai hasak. Anehnya, setiap orang Rafidhah yang datang
berziarah, mereka akan menendang makam Harun ar-Rasyid dengan
kaki mereka, baru kemudian memberi salam kepada Ali ar-Ridha.
Sungguh, kebencian buta telah membutakan mereka dari
menghormati seorang khalifah besar yang pernah memimpin dunia Islam.
Sarakhs dan Zawah: Kota Para Wali
Kami berangkat menuju Sarakhs. Kota ini
dinisbatkan kepada seorang syaikh saleh, Luqman as-Sarakhsi—semoga
Allah meridhainya.
Dari sana kami melanjutkan ke Zawah. Kota ini
adalah tempat tinggal Syaikh saleh Quthb Haidar, yang menjadi
pendiri kelompok Al-Haidariyyah di kalangan para fakir. Mereka
adalah kelompok yang aneh: memasang cincin besi di tangan, leher, dan telinga
mereka. Bahkan, mereka juga memasangnya di kemaluan mereka sehingga mustahil
bagi mereka untuk menikah. Sebuah praktik yang sungguh jauh dari ajaran Islam
yang lurus.
Naisabur: Damaskus Kecil di Timur
Dari Zawah, tibalah kami di Naisabur, salah satu
dari empat kota besar yang menjadi ibu kota Khurasan. Orang-orang menyebutnya
"Damaskus Kecil" karena banyaknya buah-buahan, kebun, air, dan
keindahannya. Empat sungai mengalir di dalam kota. Pasar-pasarnya indah dan
luas.
Masjid kotanya luar biasa, terletak di tengah pasar. Di
dekatnya terdapat empat madrasah dengan air mengalir di dalamnya. Banyak
pelajar di sana, membaca Al-Qur'an dan mempelajari fikih. Madrasah-madrasah ini
termasuk yang terbaik di seluruh Khurasan.
Namun, aku harus jujur: seindah apa pun madrasah di
Khurasan, Irak, Syam, Baghdad, atau Mesir—meskipun mereka mencapai puncak
ketelitian dan keindahan—semuanya masih kalah dibanding madrasah yang
dibangun oleh Maulana Amirul Mukminin Al-Mutawakkil 'alallah Al-Mujahid fi
Sabilillah, 'Alim al-Muluk, wasithatu 'uqd al-Khulafa' al-'Adilin, Abu 'Inan—semoga
Allah menyempurnakan kebahagiaannya dan memenangkan pasukannya. Madrasah itu
terletak di qasabah kota Fes. Tidak ada tandingannya dalam keluasan,
ketinggian, dan ukiran gipsnya. Orang-orang Timur tidak mampu membuat yang
serupa.
Di Naisabur, dibuat pula kain sutera mewah seperti an-nakh dan al-kamkha yang
diekspor ke India. Di kota ini terdapat zawiyah Syaikh Quthbuddin
an-Naisaburi, seorang imam, ulama besar, quthb, ahli ibadah,
dan penceramah ternama. Aku singgah di tempatnya, dan ia menjamuku dengan
sangat baik. Aku menyaksikan sendiri banyak karamah dan
bukti-bukti luar biasa darinya.
Sebuah Karamah di Naisabur
Di Naisabur, aku membeli seorang budak Turk. Suatu hari
Syaikh Quthbuddin melihat budak itu bersamaku. Ia berkata, "Budak ini
tidak cocok untukmu. Juallah."
Aku patuh. Keesokan harinya, kujual budak itu kepada seorang
pedagang. Setelah berpamitan dengan syaikh, aku melanjutkan perjalanan.
Saat tiba di kota Bistham, seorang sahabatku
menulis surat dari Naisabur. Ia mengabarkan bahwa budak Turk yang kujual itu
telah membunuh salah seorang anak orang Turk. Akibatnya, ia dihukum
mati.
Sebuah karamah yang jelas dari syaikh itu.
Semoga Allah meridhainya.
Bistham: Kota Para Wali
Dari Naisabur, aku menuju Bistham, kota yang
dinisbatkan kepada Syaikh 'Arif terkenal, Abu Yazid al-Busthami—semoga
Allah meridhainya. Di sinilah makamnya berada, dalam satu kubah bersama salah
seorang keturunan Ja'far ash-Shadiq. Juga terdapat makam Syaikh Abul
Hasan al-Kharqani, seorang wali agung.
Aku singgah di zawiyah Syaikh Abu Yazid al-Busthami.
Menuju Gerbang India: Qunduz dan Bughlan
Perjalanan berlanjut melalui jalur Hind Khayr menuju Qunduz dan Bughlan.
Ini adalah kawasan perkampungan yang dihuni banyak syaikh dan orang saleh.
Kebun dan sungai mengalir di mana-mana.
Kami singgah di Qunduz, di tepi sungai, di sebuah zawiyah
milik seorang syaikh dari kalangan fakir Mesir bernama Syir Sayah—artinya
"Singa Hitam". Ia menjamu kami, dan di sana ia memiliki kebun yang
sangat luas.
Empat Puluh Hari di Padang Rumput
Kami berkemah di luar perkampungan ini selama sekitar empat
puluh hari, untuk memberi kesempatan unta dan kuda merumput. Padang di sini
sangat subur, rumput melimpah, dan keamanan terjamin berkat ketegasan
hukum Amir Barnithah.
Sebagaimana kusebutkan sebelumnya, hukum orang Turk sangat
keras: jika seseorang mencuri kuda, ia harus mengembalikan sembilan
kali lipat. Jika tak mampu, anaknya diambil sebagai ganti. Jika tak punya
anak, ia sendiri disembelih seperti kambing.
Karena hukum ini, penduduk membiarkan hewan mereka begitu
saja tanpa penjaga, cukup dengan memberi tanda pada paha masing-masing. Kami
pun melakukan hal yang sama.
Misteri Kuda yang Kembali
Sepuluh hari setelah kami berkemah, kami memeriksa kuda-kuda
dan mendapati tiga ekor hilang. Setengah bulan kemudian,
orang-orang Turk datang membawa kuda-kuda itu ke perkemahan kami. Mereka takut
pada hukum.
Setiap malam, kami biasa mengikat dua kuda di depan tenda
untuk berjaga-jaga. Suatu malam, kedua kuda itu hilang. Dua puluh dua malam
kemudian, saat kami sudah dalam perjalanan, mereka datang membawa kedua kuda
itu dan mengembalikannya kepada kami. Sungguh, kejujuran yang lahir dari
ketakutan akan hukum yang tegas.
Menanti Musim di Celah Hindu Kush
Salah satu alasan kami lama tinggal di sini adalah ketakutan
akan salju. Di tengah jalan terdapat sebuah gunung bernama Hindukush,
yang berarti "Pembunuh Orang Hindu". Dinamakan demikian
karena banyak budak dan pelayan yang didatangkan dari India mati di sini akibat
dingin yang sangat kejam dan salju tebal. Perjalanan menyeberanginya memakan
waktu sehari penuh.
Kami menunggu hingga cuaca hangat, lalu berangkat melintasi
gunung itu pada akhir malam. Kami berjalan sepanjang hari hingga matahari
terbenam. Kami meletakkan kain kempa di hadapan unta-unta, agar mereka bisa
berpijak dan tidak tenggelam dalam salju.
Akhirnya, kami selamat.
Di balik gunung itu, terbentang negeri baru—India—yang
penuh misteri menanti.
Sumber Kisah:
*Rihlah Ibnu Battutah

Komentar
Posting Komentar