Menelusuri Jejak Para Wali: Dari Makam Al-Ghazali hingga Gerbang India

Ilustrasi digital realistik bergaya miniatur Persia yang menggambarkan kota Naisabur (Nishapur) pada abad ke-14, "Damaskus Kecil" di Khurasan. Empat sungai mengalir membelah kota dengan kebun buah-buahan lebat. Masjid Jami' berkubah biru pirus berdiri di tengah pasar ramai, dikelilingi empat madrasah besar. Pedagang menjajakan kain sutera mewah di pasar beratap kayu. Di tepi kota, zawiyah Syaikh Quthbuddin dengan halaman rindang. Langit biru cerah, cahaya sore keemasan. Seorang musafir (Ibnu Battutah) memandang dari bukit.

Menuju Thous: Makam Sang Hujjatul Islam

Dari kota Al-Jam, kami melanjutkan perjalanan menuju Thous, kota terbesar dan teragung di seluruh Khurasan. Di kota inilah dimakamkan Imam terkenal, Abu Hamid Al-Ghazali—semoga Allah meridhainya. Aku berziarah ke makamnya, berdiri sejenak merenungkan jasa-jasa besar seorang pembaru agama ini. Sungguh, namanya telah memenuhi dunia, namun di sini ia terbaring dalam kesederhanaan.


Masyhad: Dua Makam Berhadapan

Dari Thous, kami menuju Masyhad ar-Ridha—makam Ali bin Musa al-Kadhim bin Ja'far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain asy-Syahid bin Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhum. Kota ini besar dan megah, penuh dengan buah-buahan, sungai mengalir, dan kincir-kincir air berputar di mana-mana.

Di kota ini tinggal seorang tokoh bernama At-Thahir Muhammad Syah—mereka menyebut "Ath-Thahir" seperti orang Mesir, Syam, dan Irak menyebut "An-Naqib", sementara orang India, Sind, dan Turkistan menyebut "As-Sayyid al-Ajall". Juga ada Qadhi Syarif Jalaluddin yang kelak kutemui di India, serta Syarif Ali dan kedua putranya, Amir Hindu dan Dawlat Syah, yang menemaniku sejak dari Tirmidz hingga ke India. Mereka termasuk orang-orang utama.

Makam yang dimuliakan itu beratapkan kubah besar di dalam sebuah zawiyah. Di sampingnya terdapat madrasah dan masjid. Seluruh bangunan sangat indah, dindingnya dihiasi keramik qasyani (pirus). Di atas makam terdapat dakkānah (peti) dari kayu berlapis perak, dengan lampu-lampu gantung perak di atasnya. Ambang pintu kubah terbuat dari perak, dan pintunya ditutupi tirai sutera bersulam emas. Lantainya dialasi aneka permadani mewah.

Dan di hadapan makam ini—tepat berseberangan—terdapat makam Harun ar-Rasyid, Amirul Mukminin. Di atasnya juga ada dakkānah, tempat mereka meletakkan semacam lilin besar yang dikenal orang Maghribi sebagai hasak. Anehnya, setiap orang Rafidhah yang datang berziarah, mereka akan menendang makam Harun ar-Rasyid dengan kaki mereka, baru kemudian memberi salam kepada Ali ar-Ridha.

Sungguh, kebencian buta telah membutakan mereka dari menghormati seorang khalifah besar yang pernah memimpin dunia Islam.


Sarakhs dan Zawah: Kota Para Wali

Kami berangkat menuju Sarakhs. Kota ini dinisbatkan kepada seorang syaikh saleh, Luqman as-Sarakhsi—semoga Allah meridhainya.

Dari sana kami melanjutkan ke Zawah. Kota ini adalah tempat tinggal Syaikh saleh Quthb Haidar, yang menjadi pendiri kelompok Al-Haidariyyah di kalangan para fakir. Mereka adalah kelompok yang aneh: memasang cincin besi di tangan, leher, dan telinga mereka. Bahkan, mereka juga memasangnya di kemaluan mereka sehingga mustahil bagi mereka untuk menikah. Sebuah praktik yang sungguh jauh dari ajaran Islam yang lurus.


Naisabur: Damaskus Kecil di Timur

Dari Zawah, tibalah kami di Naisabur, salah satu dari empat kota besar yang menjadi ibu kota Khurasan. Orang-orang menyebutnya "Damaskus Kecil" karena banyaknya buah-buahan, kebun, air, dan keindahannya. Empat sungai mengalir di dalam kota. Pasar-pasarnya indah dan luas.

Masjid kotanya luar biasa, terletak di tengah pasar. Di dekatnya terdapat empat madrasah dengan air mengalir di dalamnya. Banyak pelajar di sana, membaca Al-Qur'an dan mempelajari fikih. Madrasah-madrasah ini termasuk yang terbaik di seluruh Khurasan.

Namun, aku harus jujur: seindah apa pun madrasah di Khurasan, Irak, Syam, Baghdad, atau Mesir—meskipun mereka mencapai puncak ketelitian dan keindahan—semuanya masih kalah dibanding madrasah yang dibangun oleh Maulana Amirul Mukminin Al-Mutawakkil 'alallah Al-Mujahid fi Sabilillah, 'Alim al-Muluk, wasithatu 'uqd al-Khulafa' al-'Adilin, Abu 'Inan—semoga Allah menyempurnakan kebahagiaannya dan memenangkan pasukannya. Madrasah itu terletak di qasabah kota Fes. Tidak ada tandingannya dalam keluasan, ketinggian, dan ukiran gipsnya. Orang-orang Timur tidak mampu membuat yang serupa.

Di Naisabur, dibuat pula kain sutera mewah seperti an-nakh dan al-kamkha yang diekspor ke India. Di kota ini terdapat zawiyah Syaikh Quthbuddin an-Naisaburi, seorang imam, ulama besar, quthb, ahli ibadah, dan penceramah ternama. Aku singgah di tempatnya, dan ia menjamuku dengan sangat baik. Aku menyaksikan sendiri banyak karamah dan bukti-bukti luar biasa darinya.


Sebuah Karamah di Naisabur

Di Naisabur, aku membeli seorang budak Turk. Suatu hari Syaikh Quthbuddin melihat budak itu bersamaku. Ia berkata, "Budak ini tidak cocok untukmu. Juallah."

Aku patuh. Keesokan harinya, kujual budak itu kepada seorang pedagang. Setelah berpamitan dengan syaikh, aku melanjutkan perjalanan.

Saat tiba di kota Bistham, seorang sahabatku menulis surat dari Naisabur. Ia mengabarkan bahwa budak Turk yang kujual itu telah membunuh salah seorang anak orang Turk. Akibatnya, ia dihukum mati.

Sebuah karamah yang jelas dari syaikh itu. Semoga Allah meridhainya.


Bistham: Kota Para Wali

Dari Naisabur, aku menuju Bistham, kota yang dinisbatkan kepada Syaikh 'Arif terkenal, Abu Yazid al-Busthami—semoga Allah meridhainya. Di sinilah makamnya berada, dalam satu kubah bersama salah seorang keturunan Ja'far ash-Shadiq. Juga terdapat makam Syaikh Abul Hasan al-Kharqani, seorang wali agung.

Aku singgah di zawiyah Syaikh Abu Yazid al-Busthami.


Menuju Gerbang India: Qunduz dan Bughlan

Perjalanan berlanjut melalui jalur Hind Khayr menuju Qunduz dan Bughlan. Ini adalah kawasan perkampungan yang dihuni banyak syaikh dan orang saleh. Kebun dan sungai mengalir di mana-mana.

Kami singgah di Qunduz, di tepi sungai, di sebuah zawiyah milik seorang syaikh dari kalangan fakir Mesir bernama Syir Sayah—artinya "Singa Hitam". Ia menjamu kami, dan di sana ia memiliki kebun yang sangat luas.


Empat Puluh Hari di Padang Rumput

Kami berkemah di luar perkampungan ini selama sekitar empat puluh hari, untuk memberi kesempatan unta dan kuda merumput. Padang di sini sangat subur, rumput melimpah, dan keamanan terjamin berkat ketegasan hukum Amir Barnithah.

Sebagaimana kusebutkan sebelumnya, hukum orang Turk sangat keras: jika seseorang mencuri kuda, ia harus mengembalikan sembilan kali lipat. Jika tak mampu, anaknya diambil sebagai ganti. Jika tak punya anak, ia sendiri disembelih seperti kambing.

Karena hukum ini, penduduk membiarkan hewan mereka begitu saja tanpa penjaga, cukup dengan memberi tanda pada paha masing-masing. Kami pun melakukan hal yang sama.


Misteri Kuda yang Kembali

Sepuluh hari setelah kami berkemah, kami memeriksa kuda-kuda dan mendapati tiga ekor hilang. Setengah bulan kemudian, orang-orang Turk datang membawa kuda-kuda itu ke perkemahan kami. Mereka takut pada hukum.

Setiap malam, kami biasa mengikat dua kuda di depan tenda untuk berjaga-jaga. Suatu malam, kedua kuda itu hilang. Dua puluh dua malam kemudian, saat kami sudah dalam perjalanan, mereka datang membawa kedua kuda itu dan mengembalikannya kepada kami. Sungguh, kejujuran yang lahir dari ketakutan akan hukum yang tegas.


Menanti Musim di Celah Hindu Kush

Salah satu alasan kami lama tinggal di sini adalah ketakutan akan salju. Di tengah jalan terdapat sebuah gunung bernama Hindukush, yang berarti "Pembunuh Orang Hindu". Dinamakan demikian karena banyak budak dan pelayan yang didatangkan dari India mati di sini akibat dingin yang sangat kejam dan salju tebal. Perjalanan menyeberanginya memakan waktu sehari penuh.

Kami menunggu hingga cuaca hangat, lalu berangkat melintasi gunung itu pada akhir malam. Kami berjalan sepanjang hari hingga matahari terbenam. Kami meletakkan kain kempa di hadapan unta-unta, agar mereka bisa berpijak dan tidak tenggelam dalam salju.

Akhirnya, kami selamat.

Di balik gunung itu, terbentang negeri baru—India—yang penuh misteri menanti.


Peta Lokasi

Sumber Kisah:
*Rihlah Ibnu Battutah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nabi Hūd, Kaum ‘Ād, dan Jejaknya dalam Sejarah Arab Pra Islam

Kisah Keberanian Sahabat di Perang Uhud: Thalhah, Nusaibah, dan Para Pejuang Wanita

Rihlah Ibnu Bathutah #61 : Sultan Alauddin Tharmasyirin, Keadilan, Kerendahan Hati, dan Sebuah Pelajaran Hidup