Dari Samarkand ke Herat: Menelusuri Jejak Para Wali dan Reruntuhan Kejayaan

Ilustrasi digital bergaya lukisan Persia yang menggambarkan kota Balkh yang sunyi dan megah setelah kehancuran. Masjid dan madrasah dengan ukiran biru lapis lazuli berdiri kokoh di tengah reruntuhan. Langit senja jingga keemasan menciptakan atmosfer melankolis. Di luar kota, tampak makam Ukasyah bin Mihshan dengan pohon kenari besar. Pemandangan ini dilihat oleh Ibnu Battutah dalam perjalanannya.

Kabar Duka dari Multan

Saat aku masih berada di Samarkand, sebuah kabar sedih datang dari jauh. Shadr al-Jahan, qadhi Samarkand yang pernah menyambutku dengan hangat, telah berpulang ke rahmatullah di kota Multan, ibu kota wilayah Sind.

Ia meninggal dalam perjalanan menuju istana Raja India. Belum sempat menghadap, ajal lebih dulu menjemput.

Namun begitulah Raja India—Sultan Muhammad bin Tughluq—memperlakukan orang-orang terhormat. Ketika kabar kematian qadhi itu sampai kepadanya, ia memerintahkan agar putra-putra almarhum diberi ribuan dinar (jumlah persisnya tak kuingat). Dan lebih dari itu, ia memerintahkan agar para sahabat yang menemani qadhi itu diberikan apa yang seharusnya mereka terima seandainya ia masih hidup dan tiba di istana.

Sungguh, ini adalah kebiasaan Raja India yang menakjubkan. Di setiap kota di negerinya, ia menempatkan seorang ṣāḥib al-khabar—kepala intelijen—yang bertugas mencatat segala peristiwa penting dan melaporkannya langsung ke istana. Setiap kali seorang pendatang baru tiba di suatu kota, para petugas ini akan mencatat dari negeri mana ia berasal, nama lengkapnya, ciri-ciri fisiknya, pakaiannya, siapa saja yang menyertainya, berapa kuda dan pelayannya, bahkan cara duduknya, makanannya, dan semua perilakunya. Jika ia memiliki kelebihan atau kekurangan, semua dicatat.

Maka, ketika seorang pendatang akhirnya tiba di hadapan raja, sang raja telah mengetahui segala hal tentang dirinya. Dan penghormatan yang diberikan pun sesuai dengan kadar yang pantas. Sebuah sistem yang sangat teratur, mencerminkan kecerdasan dan kewaspadaan seorang penguasa besar.


Meninggalkan Samarkand: Menuju Nasaf

Dengan berat hati aku meninggalkan Samarkand yang indah. Perjalanan dilanjutkan.

Kota pertama yang kusinggahi adalah Nasaf. Kota kecil ini terkenal karena melahirkan seorang ulama besar: Abu Hafs Umar an-Nasafi, pengarang kitab Al-Manẓūmah yang terkenal, berisi perbedaan pendapat di antara empat mazhab. Semoga Allah meridhai mereka semua.


Tirmidz: Kota dengan Mandi Susu yang Unik

Dari Nasaf, kami tiba di Tirmidz, kota besar yang indah dan makmur. Pasar-pasarnya ramai, sungai-sungai mengalir di tengah kota, kebun-kebun menghijau di mana-mana. Anggurnya lezat, dan buah safarjal (quince) nya luar biasa nikmat. Daging dan susu berlimpah ruah dengan harga murah.

Namun yang paling unik dari kota ini adalah kebiasaan penduduknya: mereka mencuci rambut di pemandian umum (hammam) menggunakan susu, bukan tanah liat (ṭifl) seperti di negeri lain. Setiap pemilik pemandian menyediakan bejana-bejana besar berisi susu. Saat seseorang masuk pemandian, ia mengambil susu dalam wadah kecil, lalu membasuhnya ke rambut. Susu ini melembabkan dan mengilatkan rambut.

Aku teringat kebiasaan orang India yang menggunakan minyak wijen (syīraj) untuk rambut mereka, lalu membilasnya dengan tanah liat. Hasilnya, rambut dan janggut mereka panjang, lembut, dan berkilau. Namun cara orang Tirmidz ini benar-benar berbeda dan unik.

Kota Tirmidz yang lama dulu berdiri di tepi Sungai Jaihun. Namun setelah dihancurkan oleh Jenghis Khan yang terkutuk, kota baru ini dibangun dua mil dari sungai.

Kami singgah di zawiyah milik Syaikh 'Azīzān, seorang syaikh agung, dermawan, kaya raya, memiliki banyak kebun dan properti. Ia memberi makan setiap orang yang datang dan pergi dari hartanya sendiri. Sebelum tiba di Tirmidz, aku telah bertemu dengan penguasanya, Ala al-Mulk Khudawandah Zadeh, yang memberiku surat rekomendasi untuk disambut di kotanya. Maka selama kami di Tirmidz, setiap hari jamuan diantar ke tempat kami.

Di sini aku juga bertemu dengan qadhi Tirmidz, Qiwamuddin. Ia tengah bersiap menghadap Sultan Tharmasyirin untuk meminta izin bepergian ke India. Kelak aku akan bertemu lagi dengannya, juga dua saudaranya—Dhiyauddin dan Burhanuddin—di Multan. Kami semua akan bepergian bersama ke India. Dua saudaranya yang lain, Imaduddin dan Saifuddin, akan kutemui di istana Raja India. Juga kedua putranya yang datang menghadap raja setelah ayah mereka wafat, lalu dinikahkan dengan putri-putri Wazir Khwajah Jahan. Semua itu akan kuceritakan kelak, insya Allah.


Menyeberangi Jaihun: Memasuki Khurasan

Kami menyeberangi Sungai Jaihun, meninggalkan negeri seberang sungai (Mā Warā'an-Nahr) dan memasuki Khurasan. Perjalanan dari Tirmidz menyeberangi sungai memakan waktu sehari setengah, melintasi padang pasir dan bukit pasir tanpa pemukiman, hingga akhirnya kami tiba di Balkh.


Balkh: Kota yang Mati namun Berdiri Megah

Balkh adalah kota yang sangat besar dan dulu sangat megah. Namun kini, ia khāwiyatun 'alā 'urūsyihā—runtuh dan tak berpenghuni. Orang yang melihatnya dari kejauhan akan mengira kota ini masih hidup, karena bangunannya kokoh dan indah. Masjid-masjid dan madrasah-madrasahnya masih berdiri dengan utuh, lukisan-lukisan dindingnya masih berwarna biru lapis lazuli yang cerah.

Orang-orang menyebut bahwa lāzuward (batu lapis lazuli) berasal dari Khurasan. Sebenarnya, batu ini didatangkan dari pegunungan Badakhshan, yang juga menghasilkan permata yāqūt badakhsyi—orang awam menyebutnya balakhs. Kelak akan kuceritakan lebih lanjut tentang negeri itu, insya Allah.

Balkh dihancurkan oleh Jenghis Khan yang terkutuk. Ia merobohkan sepertiga masjid kotanya, karena mendengar kabar bahwa ada harta karun tersembunyi di bawah salah satu tiangnya. Masjid Balkh adalah salah satu masjid terindah dan terluas di dunia. Hanya masjid Rabath al-Fath di Maghribi yang menyerupainya dalam hal besarnya tiang-tiang. Namun dari segi keindahan lainnya, masjid Balkh lebih unggul.


Kisah di Balik Pembangunan Masjid Balkh

Seorang ahli sejarah bercerita kepadaku tentang asal-usul masjid ini. Konon, masjid ini dibangun oleh seorang wanita yang suaminya, Dawud bin Ali, adalah seorang amir Bani Abbasiyah di Balkh.

Suatu ketika, Khalifah (dari Bani Abbasiyah) murka kepada penduduk Balkh karena suatu peristiwa. Ia mengirim utusan untuk mengenakan denda yang sangat berat kepada mereka. Saat utusan itu tiba, seluruh penduduk—termasuk para wanita dan anak-anak—datang kepada wanita tersebut (istri Amir Dawud), mengadukan penderitaan mereka.

Wanita itu lalu mengambil pakaian kebesarannya yang bertatahkan permata, yang nilainya jauh melebihi jumlah denda yang diminta. Ia berikan pakaian itu kepada utusan Khalifah, seraya berkata, "Bawakan ini kepada Khalifah. Aku memberikannya sebagai sedekah atas nama penduduk Balkh, karena mereka lemah dan tak mampu membayar."

Utusan itu kembali ke hadapan Khalifah, meletakkan pakaian itu, dan menceritakan seluruh kisahnya. Khalifah tersipu malu. "Apakah seorang wanita lebih dermawan daripada kita?" serunya. Ia pun memerintahkan agar denda itu dibatalkan, dan utusan itu kembali ke Balkh untuk mengembalikan pakaian tersebut kepada wanita itu. Lebih dari itu, Khalifah membebaskan penduduk Balkh dari pajak selama setahun penuh.

Utusan kembali ke Balkh, menemui wanita itu, dan menyampaikan kabar gembira serta mengembalikan pakaiannya.

Namun wanita itu bertanya, "Apakah pandangan Khalifah telah jatuh pada pakaian ini?"

"Ya," jawab utusan.

Maka wanita itu berkata, "Aku tidak akan pernah lagi mengenakan pakaian yang telah dilihat oleh lelaki yang bukan mahramku."

Ia menjual pakaian itu, dan dari hasil penjualannya dibangunlah masjid ini, sebuah zawiyah, dan sebuah ribāth (pondokan) di seberangnya yang dibangun dari batu kapur putih (kadzān)—dan ribāth itu masih berdiri hingga kini. Sepertiga dari nilai pakaian itu tersisa. Konon, wanita itu memerintahkan agar sisa uang itu dikubur di bawah salah satu tiang masjid, agar mudah diambil jika suatu saat diperlukan.

Jenghis Khan mendengar kisah ini. Ia memerintahkan agar tiang-tiang masjid dirobohkan untuk mencari harta itu. Sekitar sepertiga tiang pun runtuh, namun tak ditemukan apa-apa. Maka ia mengurungkan niatnya dan membiarkan sisanya.


Ziarah ke Makam Para Sahabat dan Wali

Di luar kota Balkh terdapat makam yang diyakini sebagai makam Ukasyah bin Mihshan al-Asadi, sahabat Rasulullah yang termasuk dalam golongan orang yang masuk surga tanpa hisab. Di atas makamnya berdiri sebuah zawiyah yang dimuliakan. Di sanalah kami singgah.

Di dekatnya ada sebuah kolam air yang menakjubkan, dengan sebatang pohon kenari besar yang rindang. Para musafir biasa berteduh di bawahnya saat musim panas. Syaikh zawiyah ini bernama Al-Hajj Khurd, seorang pemuda saleh dan utama. Ia ikut berkuda bersama kami dan menunjukkan tempat-tempat ziarah di kota ini.

Kami mengunjungi makam Nabi Hizqil (Yehezkiel) 'alaihis salam, yang ditandai dengan kubah yang indah. Juga puluhan makam para wali lainnya yang tak sempat kucatat satu per satu.

Kami singgah pula di rumah Ibrahim bin Adham—semoga Allah meridhainya. Rumah itu sangat besar, dibangun dari batu putih serupa kadzān. Sayangnya, pintunya tertutup rapat dan tanaman di zawiyah telah merambat menutupinya, sehingga kami tak bisa masuk. Rumah itu terletak tak jauh dari Masjid Jami' Balkh.


Melintasi Pegunungan Qohistan

Dari Balkh, perjalanan dilanjutkan melalui pegunungan Qohistan (Qūh-i sitān). Kami berjalan selama tujuh hari di kawasan ini. Di sini terdapat banyak desa makmur, dialiri sungai-sungai jernih, dan dipenuhi pepohonan yang rindang—paling banyak adalah pohon tin. Di setiap desa hampir selalu ada zawiyah, tempat tinggal para zahid yang mengasingkan diri hanya untuk beribadah kepada Allah.


Herat: Permata Khurasan yang Masih Hidup

Akhirnya kami tiba di Herat, kota terbesar di Khurasan yang masih makmur. Di seluruh Khurasan, ada empat kota besar: dua masih hidup—Herat dan Naisabur—dan dua telah hancur—Balkh dan Merv (Merv).

Herat adalah kota yang sangat besar, dengan bangunan yang padat dan indah. Penduduknya saleh, menjaga kesucian diri, taat beragama, dan berpegang teguh pada mazhab Imam Abu Hanifah—semoga Allah meridhainya. Kota ini bersih dari kemaksiatan dan kerusakan.


Peta Perjalanan dari Samarkand ke Herat

Sumber Kisah:
*Rihlah Ibnu Battutah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rihlah Ibnu Battutah #59 : Dari Khawarizmi ke Bukhara

Rihlah Ibnu Bathutah #60 : Dari Reruntuhan Bukhara hingga Kelahiran Putri di Padang Stepa

Kisah Keberanian Sahabat di Perang Uhud: Thalhah, Nusaibah, dan Para Pejuang Wanita