Jurhum dan Kaum ‘Amaliq: Jejak Bangsa-Bangsa Arab Purba
Dalam literatur sejarah Arab kuno, ada beberapa kabilah yang hanya dikenal lewat riwayat para ahli nasab dan penulis berita (akhbāriyyūn). Mereka disebut sebagai al-‘Arab al-bā’idah – bangsa Arab yang telah punah, yang hidup jauh sebelum Islam dan bahkan sebelum masa para nabi terkenal di kawasan itu.
Dua nama yang sering muncul dalam pembahasan ini adalah
kabilah Jurhum dan al-‘Amāliqa (kaum ‘Amaliq / Amalek).
Tulisan ini merangkum keterangan para ulama klasik tentang keduanya dan
mengaitkannya dengan sumber Yahudi (Taurat/Perjanjian Lama).
Dua Jurhum: Jurhum Pertama dan Jurhum Kedua
Para ahli nasab dan ahli sejarah membedakan antara dua
kelompok yang sama-sama disebut Jurhum.
Mereka menyebut kelompok pertama sebagai “Jurhum
al-Ūlā” (Jurhum pertama). Menurut riwayat, Jurhum pertama ini berbeda dari
Jurhum yang berasal dari keturunan Qahtan. Jurhum pertama digolongkan ke
dalam Arab yang telah punah (العرب البائدة). Disebutkan
bahwa mereka hidup sezaman dengan kaum ‘Ād, Ṯamūd,
dan al-‘Amāliqa (Amalek).
Dari berita-berita yang dikumpulkan para akhbāriyyūn, tampak
bahwa:
- Jurhum
pertama bermukim di Makkah.
- Mereka
menisbatkan nasab (garis keturunan) mereka kepada tokoh bernama ‘Ābir
(Eber).
- Akhirnya
mereka binasa; riwayat menyebut bahwa mereka dibinasakan oleh
orang-orang Qahtan (al-Qaḥṭāniyyūn).
Kemudian para sejarawan menyebut “Jurhum
ats-Tsāniyah” (Jurhum kedua), yaitu Jurhum yang berasal dari rumpun Qahtan.
Sebagian ahli berita menisbatkan mereka kepada Jurhum bin Qaḥṭān bin
Hūd, dan merekalah yang terkenal sebagai besan Nabi Ismail
‘alaihis-salām, yaitu kabilah yang menikah dengan keturunan beliau dan
hidup di sekitar Makkah.
Menariknya, nama “Jurhum” juga tercatat
dalam karya seorang penulis Yunani kuno, yaitu Stephanus dari Bizantium
(إصطيفان
البيزنطي). Hal ini menunjukkan bahwa nama kabilah ini dikenal bukan
hanya di kalangan penulis Arab, tetapi juga dalam tradisi geografi klasik
Yunani.
Kaum al-‘Amāliqa (Amalek) dalam Riwayat Arab
Setelah menyebut Jurhum, para penulis berita Arab juga
memasukkan kaum al-‘Amāliqa (العمالقة، العماليق) ke dalam kelompok
bangsa Arab purba yang telah punah.
Asal-usul dan Penyebaran
Dalam riwayat-riwayat Arab, kaum ‘Amaliq dinisbatkan kepada:
‘Amliq bin Lāwidz (atau Lūdz) bin Sām bin Nūḥ
Artinya, mereka dianggap sebagai keturunan Nabi Nuh melalui
anaknya, Sam. Namun, penulis menegaskan bahwa:
- Kitab
Taurat tidak menjelaskan asal-usul dan nasab Amalek secara rinci.
- Taurat
juga tidak menyebut secara jelas “anak-anak Lud/Lāwidz” sebagaimana
dipaparkan oleh ahli berita Arab.
Disebutkan bahwa ‘Amliq, leluhur kaum ‘Amaliq,
adalah saudara Ṭasm. Keduanya digambarkan sebagai nenek moyang
bangsa-bangsa besar yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah. Tentang kaum
‘Amaliq sendiri, riwayat Arab menyebut bahwa mereka:
- Terdiri
dari banyak kelompok dan bangsa (umam katsīrah) yang berpencar ke
berbagai negeri.
- Sebagian
tinggal di ‘Umān, Hijaz, Syam
(Levant/Syria), dan Mesir.
- Penduduk ‘Umān dan Bahrain pada
masa itu dikenal dengan sebutan “Jāsim”, dan menurut ahli
berita, Jāsim adalah keturunan ‘Amliq.
Di antara kaum ‘Amaliq juga terdapat penduduk Madinah
(Yatsrib). Riwayat menyebut beberapa kabilah di sana sebagai bagian dari
‘Amaliq, antara lain:
- Banu
Haf
- Sa‘d
bin Huzān
- Banu
Maṭar
- Banu
al-Azraq
Demikian pula, beberapa penduduk Najd disebut
dari kalangan ‘Amaliq, seperti:
- Badīl
- Rāḥil
- Ghifār
Nama Ghifār sendiri kemudian dikenal dalam
sejarah Islam sebagai salah satu kabilah Arab, yang kelak ada di antara mereka
yang masuk Islam pada masa Nabi Muhammad. Selain itu, penduduk **Taymā’
(Taimā/Taymā’) ** juga dikaitkan dengan kaum ‘Amaliq.
Raja al-Arqam dan Hubungannya dengan Nabi Musa
Riwayat Arab menyebut bahwa kaum ‘Amaliq memiliki seorang
raja bernama al-Arqam, yang termasuk dari kalangan mereka.
Menurut al-Hamdānī, al-Arqam ini hidup sezaman dengan Nabi
Musa ‘alaihis-salām.
Diceritakan bahwa Musa mengirim pasukan
untuk memerangi al-Arqam dan kaumnya. Pasukan itu menimpakan kekalahan berat
kepada pengikut al-Arqam di kawasan Taymā’ dan pada sisa-sisa
kaum ‘Amaliq di wilayah Hijaz.
Riwayat lain menyebut bahwa sebagian kaum ‘Amaliq sempat
menetap di wilayah Ṣan‘ā’ (Yaman sekarang) sebelum kota itu
dikenal dengan nama tersebut. Sebagian dari mereka kemudian turun menuju Yatsrib
(Madinah), mengusir kabilah bernama ‘Abīl (عبيل) dari sana,
lalu menempati rumah-rumah dan wilayah mereka.
Kabilah ‘Abīl yang terusir itu berpindah ke
suatu tempat yang kemudian dikenal dengan nama al-Juḥfah (الجُحْفَة).
Diceritakan bahwa sebuah banjir besar datang dan menyapu habis mereka, sehingga
wilayah itu dinamai “al-Juḥfah” – dari kata yang bermakna “menghanyutkan dan
menyapu”.
Sebagian ahli berita Arab juga menuturkan bahwa Nabi Musa
pernah mengirim pasukan khusus untuk memerangi kaum ‘Amaliq yang tinggal di
Yatsrib. Namun, penulis menegaskan bahwa tidak ditemukan keterangan
tentang perang ini dalam Taurat, sehingga bagian riwayat ini tampaknya
murni tradisi lisan atau penambahan dari pihak penutur Arab.
Bahasa dan Identitas Kaum ‘Amaliq
Dalam pandangan para ahli berita Arab, kaum ‘Amaliq yang
dibicarakan ini adalah:
- Arab
tulen (عرب
صرحاء)
- Termasuk bangsa
Arab tertua dari sisi zaman
- Berbahasa
dengan dialek Muḍarī, yang oleh mereka disebut sebagai bahasa
seluruh kaum Arab yang telah punah (al-‘Arab al-bā’idah).
Bahkan sebagian riwayat berlebih-lebihan sampai menyatakan
bahwa:
‘Amliq – leluhur kaum ‘Amaliq – adalah orang pertama yang
berbicara dalam bahasa Arab, setelah mereka berpindah (bermigrasi)
dari Babilon.
Karena itu, dalam beberapa riwayat, kaum ‘Amaliq dan
kabilah Jurhum disebut sebagai:
“العرب العاربة” (al-‘Arab
al-‘āribah) – “Arab yang asli/murni.”
Pengaruh Sumber-Sumber Yahudi dalam Riwayat tentang
‘Amaliq
Penulis modern yang meneliti riwayat-riwayat klasik Arab
tentang kaum ‘Amaliq menilai bahwa banyak detail cerita tersebut diambil
atau sangat dipengaruhi oleh tradisi Yahudi, khususnya teks-teks Taurat.
Dalam Taurat (Perjanjian Lama), Amalek memang
disebutkan dengan jelas. Mereka digambarkan sebagai bangsa pertama yang
memerangi Bani Israil setelah bangsa itu keluar dari Mesir menuju
Palestina.
Bangsa Amalek (Amalek) ini:
- Berulang
kali memerangi orang-orang Israel.
- Menimpakan
kekalahan dan kerugian besar kepada mereka.
- Menjadi
sumber ketakutan dan kebencian yang mendalam di hati orang-orang Israel.
Kebencian ini tampak sangat jelas dalam ucapan Nabi Samuel
(صموئيل) kepada Saul
(شاءول),
raja pertama Bani Israil, ketika menyampaikan perintah Tuhan terhadap kaum
Amalek. Ucapannya – sebagaimana termaktub dalam Kitab 1 Samuel, pasal
15 – kurang lebih berarti:
“Akulah yang diutus TUHAN untuk mengurapi engkau menjadi
raja atas umat-Nya Israel. Maka sekarang, dengarkanlah suara firman TUHAN.
Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku akan membalas
apa yang dilakukan Amalek kepada Israel, bagaimana ia menghadangnya di jalan
ketika Israel keluar dari Mesir.
Maka sekarang pergilah, kalahkanlah Amalek, tumpaslah
segala yang dipunyainya; jangan sayang padanya. Bunuhlah laki-laki dan
perempuan, anak-anak dan bayi, lembu dan domba, unta dan keledai.”
Riwayat Arab yang menisbatkan kesumat dan peperangan panjang
antara Bani Israil dan kaum ‘Amaliq selaras dengan nada keras teks Taurat ini.
Penulis kemudian menyimpulkan bahwa:
- Kebencian
mendalam orang-orang Israel kepada kaum Amalek membuat mereka
berusaha mengeluarkan Amalek dari daftar bangsa-bangsa Semit dalam
tradisi mereka.
- Amalek
ditempatkan seakan-akan di luar rumpun mereka sendiri, meski secara
geografi dan waktu, mereka sangat dekat.
Apakah Kaum ‘Amaliq Termasuk Arab?
Menurut riwayat Arab, wilayah tempat tinggal kaum
‘Amaliq membentang:
- Dari perbatasan
Mesir
- Melewati pegunungan
Sinai
- Hingga
mencapai Palestina
Dalam teks-teks Ibrani, kaum Amalek tidak secara eksplisit
digolongkan sebagai “bangsa Arab”. Namun, penulis menegaskan bahwa:
- Tidak
disebutnya mereka sebagai “Arab” dalam sumber Ibrani tidak berarti mereka
bukan Arab.
- Dalam
kebiasaan orang Ibrani kuno, kata “Arab” lebih khusus
dipakai untuk menyebut orang-orang badui (a‘rāb),
terutama pengembara padang pasir di wilayah Syam (Suriah dan
sekitarnya).
- Sementara
kaum ‘Amaliq yang mereka hadapi merupakan bangsa lama yang sudah menetap
di wilayah-wilayah strategis antara Mesir dan Palestina.
Di sisi lain, bagi orang Ibrani, kaum Amalek adalah
bangsa yang lebih tua dibandingkan kabilah-kabilah yang belakangan dikenal
sebagai keturunan Qahtan dan Ismail. Dalam pandangan mereka, Amalek adalah
musuh pertama, lawan awal dalam sejarah pembentukan identitas Bani Israil.
Riwayat Arab kemudian membaca kembali sosok kaum ‘Amaliq ini
sebagai bagian dari “Arab awal”, menempatkan mereka di dalam
kategori al-‘Arab al-bā’idah dan bahkan menyebut bahasa mereka
sebagai akar dari bahasa Arab yang dikenal di kemudian hari.
Penutup
Dari rangkaian riwayat di atas, tampak bahwa:
- Jurhum
pertama dan kaum ‘Amaliq digambarkan sebagai
bagian dari lapisan paling awal dalam sejarah bangsa Arab.
- Keduanya
kemudian punah dan hanya meninggalkan jejak dalam tradisi lisan, nasab,
dan teks-teks sejarah.
- Penulis
modern seperti Jawād ‘Alī berusaha memilah antara unsur
riwayat yang bersumber dari tradisi Arab murni dengan unsur yang kuat
dipengaruhi oleh sumber Yahudi (Taurat dan tradisi rabani).
Meskipun banyak detailnya sulit diverifikasi dengan standar
sejarah modern, kisah-kisah ini memberi gambaran bagaimana orang Arab dan
sejarawan Muslim awal memahami masa lampau mereka, hubungan mereka dengan Bani
Israil, dan bagaimana konsep “Arab asli”, “Arab yang punah”,
dan “bangsa Semit” dibentuk dalam ingatan kolektif mereka.
Sumber
المفصل
في تاريخ العرب قبل الإسلام

Komentar
Posting Komentar