Jurhum dan Kaum ‘Amaliq: Jejak Bangsa-Bangsa Arab Purba

Ilustrasi bergaya lukisan sejarah yang menggambarkan pemandangan gurun Hijaz dan Sinai pada zaman Arab purba. Tampak hamparan padang pasir luas dengan bukit-bukit batu kecoklatan di bawah langit senja berwarna keemasan dan jingga. Di bagian tengah terlihat lembah dengan permukiman kuno berupa bangunan batu sederhana dan tenda-tenda suku yang tersebar. Kafilah unta dan kuda tampak melintasi gurun. Di latar depan, beberapa sosok pria Arab kuno dengan jubah panjang, sorban, serta membawa pedang dan perisai perunggu berdiri menghadap cakrawala. Di kejauhan, dua kelompok pasukan kuno saling berhadapan di tengah gurun, menggambarkan konflik historis antara bangsa-bangsa purba. Suasana epik dan mistis dengan pencahayaan dramatis, nuansa warna hangat kecoklatan dan keemasan, menggambarkan era kabilah Jurhum dan kaum 'Amaliq sebagai bagian dari bangsa Arab yang telah punah sebelum kedatangan Islam.

Dalam literatur sejarah Arab kuno, ada beberapa kabilah yang hanya dikenal lewat riwayat para ahli nasab dan penulis berita (akhbāriyyūn). Mereka disebut sebagai al-‘Arab al-bā’idah – bangsa Arab yang telah punah, yang hidup jauh sebelum Islam dan bahkan sebelum masa para nabi terkenal di kawasan itu.

Dua nama yang sering muncul dalam pembahasan ini adalah kabilah Jurhum dan al-‘Amāliqa (kaum ‘Amaliq / Amalek). Tulisan ini merangkum keterangan para ulama klasik tentang keduanya dan mengaitkannya dengan sumber Yahudi (Taurat/Perjanjian Lama).


Dua Jurhum: Jurhum Pertama dan Jurhum Kedua

Para ahli nasab dan ahli sejarah membedakan antara dua kelompok yang sama-sama disebut Jurhum.

Mereka menyebut kelompok pertama sebagai “Jurhum al-Ūlā” (Jurhum pertama). Menurut riwayat, Jurhum pertama ini berbeda dari Jurhum yang berasal dari keturunan Qahtan. Jurhum pertama digolongkan ke dalam Arab yang telah punah (العرب البائدة). Disebutkan bahwa mereka hidup sezaman dengan kaum ‘ĀdṮamūd, dan al-‘Amāliqa (Amalek).

Dari berita-berita yang dikumpulkan para akhbāriyyūn, tampak bahwa:

  • Jurhum pertama bermukim di Makkah.
  • Mereka menisbatkan nasab (garis keturunan) mereka kepada tokoh bernama ‘Ābir (Eber).
  • Akhirnya mereka binasa; riwayat menyebut bahwa mereka dibinasakan oleh orang-orang Qahtan (al-Qaḥṭāniyyūn).

Kemudian para sejarawan menyebut “Jurhum ats-Tsāniyah” (Jurhum kedua), yaitu Jurhum yang berasal dari rumpun Qahtan. Sebagian ahli berita menisbatkan mereka kepada Jurhum bin Qaḥṭān bin Hūd, dan merekalah yang terkenal sebagai besan Nabi Ismail ‘alaihis-salām, yaitu kabilah yang menikah dengan keturunan beliau dan hidup di sekitar Makkah.

Menariknya, nama “Jurhum” juga tercatat dalam karya seorang penulis Yunani kuno, yaitu Stephanus dari Bizantium (إصطيفان البيزنطي). Hal ini menunjukkan bahwa nama kabilah ini dikenal bukan hanya di kalangan penulis Arab, tetapi juga dalam tradisi geografi klasik Yunani.


Kaum al-‘Amāliqa (Amalek) dalam Riwayat Arab

Setelah menyebut Jurhum, para penulis berita Arab juga memasukkan kaum al-‘Amāliqa (العمالقة، العماليق) ke dalam kelompok bangsa Arab purba yang telah punah.

Asal-usul dan Penyebaran

Dalam riwayat-riwayat Arab, kaum ‘Amaliq dinisbatkan kepada:

‘Amliq bin Lāwidz (atau Lūdz) bin Sām bin Nūḥ

Artinya, mereka dianggap sebagai keturunan Nabi Nuh melalui anaknya, Sam. Namun, penulis menegaskan bahwa:

  • Kitab Taurat tidak menjelaskan asal-usul dan nasab Amalek secara rinci.
  • Taurat juga tidak menyebut secara jelas “anak-anak Lud/Lāwidz” sebagaimana dipaparkan oleh ahli berita Arab.

Disebutkan bahwa ‘Amliq, leluhur kaum ‘Amaliq, adalah saudara Ṭasm. Keduanya digambarkan sebagai nenek moyang bangsa-bangsa besar yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah. Tentang kaum ‘Amaliq sendiri, riwayat Arab menyebut bahwa mereka:

  • Terdiri dari banyak kelompok dan bangsa (umam katsīrah) yang berpencar ke berbagai negeri.
  • Sebagian tinggal di ‘UmānHijazSyam (Levant/Syria), dan Mesir.
  • Penduduk ‘Umān dan Bahrain pada masa itu dikenal dengan sebutan “Jāsim”, dan menurut ahli berita, Jāsim adalah keturunan ‘Amliq.

Di antara kaum ‘Amaliq juga terdapat penduduk Madinah (Yatsrib). Riwayat menyebut beberapa kabilah di sana sebagai bagian dari ‘Amaliq, antara lain:

  • Banu Haf
  • Sa‘d bin Huzān
  • Banu Maṭar
  • Banu al-Azraq

Demikian pula, beberapa penduduk Najd disebut dari kalangan ‘Amaliq, seperti:

  • Badīl
  • Rāḥil
  • Ghifār

Nama Ghifār sendiri kemudian dikenal dalam sejarah Islam sebagai salah satu kabilah Arab, yang kelak ada di antara mereka yang masuk Islam pada masa Nabi Muhammad. Selain itu, penduduk **Taymā’ (Taimā/Taymā’) ** juga dikaitkan dengan kaum ‘Amaliq.

Raja al-Arqam dan Hubungannya dengan Nabi Musa

Riwayat Arab menyebut bahwa kaum ‘Amaliq memiliki seorang raja bernama al-Arqam, yang termasuk dari kalangan mereka. Menurut al-Hamdānī, al-Arqam ini hidup sezaman dengan Nabi Musa ‘alaihis-salām.

Diceritakan bahwa Musa mengirim pasukan untuk memerangi al-Arqam dan kaumnya. Pasukan itu menimpakan kekalahan berat kepada pengikut al-Arqam di kawasan Taymā’ dan pada sisa-sisa kaum ‘Amaliq di wilayah Hijaz.

Riwayat lain menyebut bahwa sebagian kaum ‘Amaliq sempat menetap di wilayah Ṣan‘ā’ (Yaman sekarang) sebelum kota itu dikenal dengan nama tersebut. Sebagian dari mereka kemudian turun menuju Yatsrib (Madinah), mengusir kabilah bernama ‘Abīl (عبيل) dari sana, lalu menempati rumah-rumah dan wilayah mereka.

Kabilah ‘Abīl yang terusir itu berpindah ke suatu tempat yang kemudian dikenal dengan nama al-Juḥfah (الجُحْفَة). Diceritakan bahwa sebuah banjir besar datang dan menyapu habis mereka, sehingga wilayah itu dinamai “al-Juḥfah” – dari kata yang bermakna “menghanyutkan dan menyapu”.

Sebagian ahli berita Arab juga menuturkan bahwa Nabi Musa pernah mengirim pasukan khusus untuk memerangi kaum ‘Amaliq yang tinggal di Yatsrib. Namun, penulis menegaskan bahwa tidak ditemukan keterangan tentang perang ini dalam Taurat, sehingga bagian riwayat ini tampaknya murni tradisi lisan atau penambahan dari pihak penutur Arab.


Bahasa dan Identitas Kaum ‘Amaliq

Dalam pandangan para ahli berita Arab, kaum ‘Amaliq yang dibicarakan ini adalah:

  • Arab tulen (عرب صرحاء)
  • Termasuk bangsa Arab tertua dari sisi zaman
  • Berbahasa dengan dialek Muḍarī, yang oleh mereka disebut sebagai bahasa seluruh kaum Arab yang telah punah (al-‘Arab al-bā’idah).

Bahkan sebagian riwayat berlebih-lebihan sampai menyatakan bahwa:

‘Amliq – leluhur kaum ‘Amaliq – adalah orang pertama yang berbicara dalam bahasa Arab, setelah mereka berpindah (bermigrasi) dari Babilon.

Karena itu, dalam beberapa riwayat, kaum ‘Amaliq dan kabilah Jurhum disebut sebagai:

العرب العاربة” (al-‘Arab al-‘āribah) – “Arab yang asli/murni.”


Pengaruh Sumber-Sumber Yahudi dalam Riwayat tentang ‘Amaliq

Penulis modern yang meneliti riwayat-riwayat klasik Arab tentang kaum ‘Amaliq menilai bahwa banyak detail cerita tersebut diambil atau sangat dipengaruhi oleh tradisi Yahudi, khususnya teks-teks Taurat.

Dalam Taurat (Perjanjian Lama)Amalek memang disebutkan dengan jelas. Mereka digambarkan sebagai bangsa pertama yang memerangi Bani Israil setelah bangsa itu keluar dari Mesir menuju Palestina.

Bangsa Amalek (Amalek) ini:

  • Berulang kali memerangi orang-orang Israel.
  • Menimpakan kekalahan dan kerugian besar kepada mereka.
  • Menjadi sumber ketakutan dan kebencian yang mendalam di hati orang-orang Israel.

Kebencian ini tampak sangat jelas dalam ucapan Nabi Samuel (صموئيل) kepada Saul (شاءول), raja pertama Bani Israil, ketika menyampaikan perintah Tuhan terhadap kaum Amalek. Ucapannya – sebagaimana termaktub dalam Kitab 1 Samuel, pasal 15 – kurang lebih berarti:

“Akulah yang diutus TUHAN untuk mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel. Maka sekarang, dengarkanlah suara firman TUHAN.

Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku akan membalas apa yang dilakukan Amalek kepada Israel, bagaimana ia menghadangnya di jalan ketika Israel keluar dari Mesir.

Maka sekarang pergilah, kalahkanlah Amalek, tumpaslah segala yang dipunyainya; jangan sayang padanya. Bunuhlah laki-laki dan perempuan, anak-anak dan bayi, lembu dan domba, unta dan keledai.”

Riwayat Arab yang menisbatkan kesumat dan peperangan panjang antara Bani Israil dan kaum ‘Amaliq selaras dengan nada keras teks Taurat ini.

Penulis kemudian menyimpulkan bahwa:

  • Kebencian mendalam orang-orang Israel kepada kaum Amalek membuat mereka berusaha mengeluarkan Amalek dari daftar bangsa-bangsa Semit dalam tradisi mereka.
  • Amalek ditempatkan seakan-akan di luar rumpun mereka sendiri, meski secara geografi dan waktu, mereka sangat dekat.

Apakah Kaum ‘Amaliq Termasuk Arab?

Menurut riwayat Arab, wilayah tempat tinggal kaum ‘Amaliq membentang:

  • Dari perbatasan Mesir
  • Melewati pegunungan Sinai
  • Hingga mencapai Palestina

Dalam teks-teks Ibrani, kaum Amalek tidak secara eksplisit digolongkan sebagai “bangsa Arab”. Namun, penulis menegaskan bahwa:

  • Tidak disebutnya mereka sebagai “Arab” dalam sumber Ibrani tidak berarti mereka bukan Arab.
  • Dalam kebiasaan orang Ibrani kuno, kata “Arab” lebih khusus dipakai untuk menyebut orang-orang badui (a‘rāb), terutama pengembara padang pasir di wilayah Syam (Suriah dan sekitarnya).
  • Sementara kaum ‘Amaliq yang mereka hadapi merupakan bangsa lama yang sudah menetap di wilayah-wilayah strategis antara Mesir dan Palestina.

Di sisi lain, bagi orang Ibrani, kaum Amalek adalah bangsa yang lebih tua dibandingkan kabilah-kabilah yang belakangan dikenal sebagai keturunan Qahtan dan Ismail. Dalam pandangan mereka, Amalek adalah musuh pertama, lawan awal dalam sejarah pembentukan identitas Bani Israil.

Riwayat Arab kemudian membaca kembali sosok kaum ‘Amaliq ini sebagai bagian dari “Arab awal”, menempatkan mereka di dalam kategori al-‘Arab al-bā’idah dan bahkan menyebut bahasa mereka sebagai akar dari bahasa Arab yang dikenal di kemudian hari.


Penutup

Dari rangkaian riwayat di atas, tampak bahwa:

  • Jurhum pertama dan kaum ‘Amaliq digambarkan sebagai bagian dari lapisan paling awal dalam sejarah bangsa Arab.
  • Keduanya kemudian punah dan hanya meninggalkan jejak dalam tradisi lisan, nasab, dan teks-teks sejarah.
  • Penulis modern seperti Jawād ‘Alī berusaha memilah antara unsur riwayat yang bersumber dari tradisi Arab murni dengan unsur yang kuat dipengaruhi oleh sumber Yahudi (Taurat dan tradisi rabani).

Meskipun banyak detailnya sulit diverifikasi dengan standar sejarah modern, kisah-kisah ini memberi gambaran bagaimana orang Arab dan sejarawan Muslim awal memahami masa lampau mereka, hubungan mereka dengan Bani Israil, dan bagaimana konsep “Arab asli”“Arab yang punah”, dan “bangsa Semit” dibentuk dalam ingatan kolektif mereka.


Sumber

المفصل في تاريخ العرب قبل الإسلام

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rihlah Ibnu Bathutah #60 : Dari Reruntuhan Bukhara hingga Kelahiran Putri di Padang Stepa

Nabi Hūd, Kaum ‘Ād, dan Jejaknya dalam Sejarah Arab Pra Islam

Kisah Keberanian Sahabat di Perang Uhud: Thalhah, Nusaibah, dan Para Pejuang Wanita