Mengarungi Sungai Indus: Catatan Perjalanan Ibnu Battuta ke Negeri India


Menyusuri Bengawan Lima Air

Pada awal bulan Muharram tahun 734 Hijriah, tibalah kami di Lembah Sind yang terkenal dengan sebutan "Banj Ab" — sebuah ungkapan yang bermakna "lima air". Sungai ini merupakan salah satu lembah terbesar di dunia. Airnya meluap di musim panas, dan penduduk setempat bercocok tanam memanfaatkan luapan tersebut, persis seperti yang dilakukan penduduk Mesir dengan luapan Sungai Nil.

Lembah ini adalah wilayah pertama Kekuasaan Sultan Agung Muhammad Syah, Raja India dan Sind. Ketika kami tiba di sungai ini, para petugas intelijen yang bertugas segera datang menemui kami. Mereka mencatat kedatangan kami dan mengirimkan laporannya kepada Quthb al-Mulk, Gubernur Kota Multan.

Sistem Birokrasi dan Pos di Negeri India

Pada masa itu, penguasa tertinggi di wilayah Sind adalah seorang budak (mamluk) Sultan bernama Sartiz. Nama "Sartiz" memiliki arti unik: "Sar" berarti kepala, sedangkan "Tiz" berarti tajam. Jadi namanya bermakna "kepala yang tajam". Saat kami tiba, ia sedang berada di kota Siyustan, berjarak sepuluh hari perjalanan dari Multan. Adapun antara negeri Sind dengan ibu kota kerajaan di Kota Delhi, berjarak perjalanan lima puluh hari.

Namun yang mengagumkan, jika para petugas intelijen mengirimkan laporan kepada Sultan dari negeri Sind, surat itu akan sampai hanya dalam waktu lima hari. Semua ini berkat sistem pos (barid) yang luar biasa.

Sistem pos di India terbagi menjadi dua jenis. Pertama, pos kuda yang mereka sebut "al-ulaq". Ini adalah kuda-kuda milik Sultan yang ditempatkan di setiap jarak empat mil. Kedua, pos pejalan kaki yang jauh lebih menarik. Dalam jarak satu mil, terdapat tiga pos yang mereka sebut "al-dawah". Satu dawah setara dengan sepertiga mil. Adapun ukuran mil di negeri mereka dinamakan "al-kuruh".

Pengaturannya demikian: di setiap sepertiga mil terdapat sebuah desa makmur. Di luar desa itu didirikan tiga kubah (bangunan kecil) tempat duduk para petugas pos yang selalu siap siaga. Pinggang mereka diikat kuat, dan masing-masing membawa cambuk sepanjang dua hasta yang ujungnya diberi lonceng-lonceng tembaga.

Begitu seorang petugas pos keluar dari kota, ia memegang surat di satu tangan dan cambuk bergemerincing di tangan lain. Ia pun berlari sekencang-kencangnya. Ketika para petugas di kubah-kubah mendengar gemerincing lonceng, mereka segera bersiap. Begitu surat sampai, petugas berikutnya langsung mengambil dan meneruskan lari dengan sekuat tenaga sambil menggoyangkan cambuk, hingga tiba di pos berikutnya. Demikian seterusnya hingga surat sampai ke tujuan.

Sistem pos pejalan kaki ini ternyata lebih cepat daripada pos kuda. Bahkan melalui pos ini, mereka bisa mengirimkan buah-buahan segar dari Khurasan yang diletakkan di atas nampan-nampan, lalu para pelari cepat membawanya hingga sampai ke hadapan Sultan. Demikian pula mereka mengangkut para penjahat kelas kakap: orang itu diletakkan di atas dipan, diangkat di atas kepala, dan para pelari membawanya dengan cepat. Bahkan air minum untuk Sultan jika ia berada di Daulatabad, diambil dari Sungai Gangga—tempat umat Hindu melakukan ritual—yang berjarak empat puluh hari perjalanan.

Laporan yang Detail

Para petugas intelijen yang melaporkan kedatangan seseorang ke negeri ini menulis laporan dengan sangat terperinci. Mereka menggambarkan bahwa telah datang seseorang dengan ciri-ciri begini, pakaian begini. Mereka menulis jumlah pengikut, budak, pelayan, dan hewan tunggangannya. Mereka juga mencatat bagaimana tingkah lakunya, gerak-geriknya, diamnya, dan seluruh kegiatannya. Tidak ada satu hal pun yang terlewatkan.

Setelah itu, orang yang baru tiba akan menetap di Kota Multan—pusat pemerintahan negeri Sind—hingga keluar perintah Sultan mengenai kedatangannya serta jatah sambutan yang akan diterimanya. Menariknya, seseorang dihormati di sini bukan karena garis keturunan atau nasabnya, melainkan semata-mata karena perilaku, tindakan, dan ambisinya.

Kemuliaan bagi Para Pendatang

Sudah menjadi kebiasaan Sultan India, Abu al-Mujahid Muhammad Syah, untuk memuliakan orang-orang asing (ghuraba). Beliau sangat mencintai mereka, mengistimewakan mereka dengan jabatan-jabatan dan kedudukan tinggi. Sebagian besar orang-orang istimewa, para hijab (penjaga pintu), menteri, hakim, bahkan kerabat ipar beliau adalah orang-orang asing. Sultan bahkan memerintahkan agar para pendatang di negerinya disebut dengan sebutan "al-a'izzah" (orang-orang mulia). Nama itulah yang kemudian melekat pada mereka.

Namun ada satu tradisi yang tak terpisahkan bagi setiap pendatang yang menghadap Sultan: mereka harus membawa hadiah yang dipersembahkan sebagai wasilah (perantara) sebelum menghadap. Sultan niscaya akan membalas hadiah itu berlipat ganda. Kelak akan disebutkan berbagai hadiah yang dipersembahkan para pendatang kepada Sultan.

Peluang Bisnis di Balik Tradisi

Karena kebiasaan ini sudah diketahui umum, para pedagang di negeri Sind dan India dengan senang hati memberikan pinjaman ribuan dinar kepada setiap orang yang hendak menghadap Sultan. Mereka membekalinya dengan segala keperluan untuk dipersembahkan sebagai hadiah atau untuk keperluan pribadinya: kuda tunggangan, unta, berbagai barang dagangan. Mereka bahkan melayani para pendatang ini dengan harta dan tenaga, berdiri di hadapan mereka layaknya pembantu.

Setelah sang pendatang menghadap Sultan dan menerima anugerah yang melimpah, ia pun melunasi utang-utangnya dan memenuhi hak-hak mereka. Maka laris manislah dagangan para pedagang itu, berlipat ganda keuntungan mereka. Dan jadilah tradisi ini berkelanjutan.

Pengalaman Pribadi

Ketika tiba di negeri Sind, saya pun menempuh jalan yang sama. Saya membeli dari para pedagang beberapa ekor kuda, unta, budak, dan lain sebagainya. Saya pernah membeli dari seorang pedagang Irak asal Tikrit yang bernama Muhammad al-Duri di kota Ghaznah, sebanyak tiga puluh ekor kuda dan seekor unta yang membawa muatan anak panah—karena itulah yang biasa dihadiahkan kepada Sultan.

Pedagang tersebut pergi ke Khurasan lalu kembali ke India. Di sana ia menagihku seratus (dinar) dan mendapatkan keuntungan besar karena perantaraanku. Ia pun menjelma menjadi salah satu pedagang besar. Namun takdir berkata lain: aku bertemu lagi dengannya di kota Aleppo bertahun-tahun kemudian, saat aku telah dirampok orang-orang kafir hingga tak punya apa-apa. Dan dari orang itu, aku tak mendapat kebaikan apa pun.


Sumber:
Rihlah Ibnu Battuthah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menelusuri Jejak Para Wali: Dari Makam Al-Ghazali hingga Gerbang India

Jurhum dan Kaum ‘Amaliq: Jejak Bangsa-Bangsa Arab Purba

Dari Samarkand ke Herat: Menelusuri Jejak Para Wali dan Reruntuhan Kejayaan