Menembus Bahaya Afghan dan Bertemu Manusia Berusia 350 Tahun
Perjalanan Menuju Negeri Para Sufi dan Pegunungan Menakjubkan
Perjalanan kami lanjutkan menuju sebuah tempat bernama
Anbar. Dulu, di sinilah pernah berdiri sebuah kota besar, namun kini hanya
tinggal nama dan puing-puing kenangan. Kami singgah di sebuah desa besar yang
di sana terdapat zawiyah (tempat pertapaan) milik seorang
mulia, bernama Muhammad Al-Mahrawi. Beliau menyambut kami dengan sangat hormat
dan memuliakan kami sebagai tamu.
Ada satu hal dari Syekh Muhammad Al-Mahrawi yang membuatku
takjub. Setiap kali kami selesai makan dan membasuh tangan, beliau akan meminum
air bekas cucian tangan kami itu. Bukan karena kehausan, melainkan karena
keyakinannya yang tulus akan keberkahan dari orang-orang shaleh. Begitu
agungnya akhlak dan kerendahan hati beliau. Beliau pun ikut bepergian bersama
kami hingga tiba di lereng Pegunungan Hindu Kush yang terkenal itu.
Mata Air Aneh di Puncak Gunung
Di pegunungan Hindu Kush, kami menemukan sebuah mata air
panas yang unik. Karena penasaran, kami membasuh wajah dengan airnya. Alangkah
terkejutnya kami, kulit wajah kami mengelupas dan terasa perih! Sungguh
pengalaman yang aneh dan meninggalkan kesan tersendiri.
Kemudian, kami turun dan singgah di sebuah tempat bernama
Punj Hir. Penduduk setempat menjelaskan artinya, "Punj" berarti lima,
dan "Hir" berarti gunung. Jadi, Punj Hir adalah Negeri Lima Gunung.
Di masa lampau, di sinilah berdiri sebuah kota yang indah dan makmur, terletak
di tepi sungai besar yang airnya biru jernih bagaikan lautan. Sungai ini
berasal dari lelehan salju di Pegunungan Badakhshan. Konon, di pegunungan
itulah batu yakut yang dikenal orang sebagai Balakhsh ditemukan.
Sayang, kejayaan kota ini tak berlangsung lama. Raja Tartar,
Tengiz, telah menghancurkan kota ini dan tak pernah terbangun kembali hingga
kini. Di kota yang sunyi ini terdapat makam Syekh Sa'id Al-Maliki, seorang wali
yang sangat dimuliakan oleh penduduk sekitar.
Bertemu Manusia Berusia Tiga Ratus Lima Puluh Tahun
Perjalanan berlanjut ke Gunung Basyay. Di puncaknya yang
sejuk, berdiri sebuah zawiyah yang dihuni oleh seorang syekh
saleh bernama Ata Auliya. Nama itu unik, "Ata" dalam bahasa Turki
berarti "bapak", dan "Auliya" dalam bahasa Arab berarti
"para wali". Jadi, artinya adalah "Bapak Para Wali". Ia
juga dikenal dengan nama Sishad Shaleh, yang dalam bahasa Persia berarti
"Tiga Ratus Tahun" (Sishad) dan "Shaleh" (saleh/baik).
Mereka meyakini usianya sudah mencapai tiga ratus lima puluh tahun!
Masyarakat dari berbagai penjuru negeri, bahkan para sultan
dan ratu, datang berziarah kepadanya karena keyakinan yang mendalam akan
kewaliannya. Saat kami mengunjunginya, ia menyambutku dengan hangat dan
memelukku. Aku merasakan tubuhnya begitu lembut, tak pernah kurasakan
kelembutan kulit seperti itu. Orang yang melihatnya pasti mengira usianya baru
lima puluh tahun.
Ia bercerita bahwa setiap seratus tahun sekali, rambut dan
giginya tumbuh kembali. Ia juga mengaku bertemu dengan "bapak" mereka
yang dimakamkan di Multan, negeri Sind. Aku sempat bertanya kepadanya tentang
suatu riwayat hadis, namun ia lebih banyak berkisah tentang hal-hal lain.
Jujur, hatiku sedikit ragu akan kebenaran usianya. Namun, Allah lah yang Maha
Mengetahui segala sesuatu.
Sambutan Hangat Para Penguasa
Dari gunung itu, kami melanjutkan perjalanan ke Barwan. Di
sana, aku berkesempatan bertemu dengan seorang Amir bernama Buruntiyah.
Tubuhnya sangat kekar, sebagaimana telah diceritakan orang sebelumnya. Ia
memperlakukanku dengan sangat baik dan bahkan menulis surat kepada bawahannya
di Kota Ghazni agar mereka juga memuliakanku. Di sekelilingnya selalu ada para
syekh dan fakir dari kalangan ahli zawiyah.
Kemudian tibalah kami di Desa Al-Jarkh, sebuah desa besar
dengan kebun-kebun yang subur dan buah-buahan segar. Saat itu musim panas, dan
kami bertemu dengan banyak fakir serta penuntut ilmu di sana. Kami shalat Jumat
di desa ini, dan Amimya, Muhammad Al-Jarkhi, menjamu kami dengan baik. Kelak,
aku akan bertemu lagi dengannya di India.
Kota Legendaris Ghazni yang Dingin
Selanjutnya, kami menuju ke Ghazni. Kota ini sangat terkenal
sebagai pusat kekuasaan Sultan Mahmud bin Sabaktikin, seorang pejuang gagah
berani yang dijuluki Yamīnud Daulah. Ia terkenal karena sering menaklukkan
negeri-negeri di India. Makamnya berada di kota ini, dan di atasnya dibangun
sebuah zawiyah.
Sayang, sebagian besar Ghazni kini telah hancur. Hanya
sedikit bangunan yang tersisa. Udara di sini sangat dingin. Penduduk setempat
biasa meninggalkan kota ini saat musim dingin tiba dan berpindah ke Kota
Qandahar yang lebih hangat dan subur. Sayang, aku tidak sempat mengunjungi
Qandahar karena jaraknya tiga hari perjalanan dari Ghazni. Kami sendiri singgah
di sebuah desa di luar Ghazni, dekat sungai di bawah benteng. Amir di sana,
Marzdaq Agha, menyambut kami dengan baik.
Kabul yang Sepi dan Ancaman Suku Afghan
Perjalanan dilanjutkan ke Kabul. Dahulu kala, Kabul adalah
kota yang sangat besar. Kini, hanya tersisa sebuah desa yang dihuni oleh
orang-orang asing yang disebut Afghan. Mereka tinggal di pegunungan dan jurang,
terkenal gigih dan banyak dari mereka yang menjadi penyamun. Gunung besar
mereka bernama Koh Sulaiman. Konon, Nabi Sulaiman AS pernah naik ke gunung itu,
memandang ke arah India yang tampak gelap, lalu beliau kembali tanpa
memasukinya. Gunung itu pun dinamai menurut namanya. Di Kabul, kami singgah di zawiyah Syekh
Ismail Al-Afghani, murid dari salah seorang wali, Syekh Abbas.
Khawatir akan para penyamun Afghan, perjalanan kami penuh
siaga. Saat melewati Karmasy, sebuah benteng di antara dua gunung yang menjadi
markas mereka, kami harus berhadapan dengan gerombolan Afghan. Rombongan kami
cukup besar dengan sekitar empat ribu kuda, namun untungnya cukup sigap. Kami
melawan mereka di lereng gunung, memanah mereka hingga akhirnya mereka lari
tunggang langgang.
Saat itu, untaku ada yang tertinggal dari kafilah utama.
Bersama beberapa teman, termasuk beberapa orang Afghan, aku terpaksa membuang
sebagian bekal dan meninggalkan beban unta yang kelelahan di jalan. Keesokan
harinya, kuda-kuda kami kembali dan membawa beban-beban itu. Kami baru bisa
bergabung dengan kafilah utama setelah Isya, dan bermalam di tempat
peristirahatan bernama Sasnghar. Inilah perbatasan terakhir wilayah makmur
sebelum memasuki negeri Turkistan.
Menembus Padang Pasir Maut Menuju Sungai Indus
Dari Sasnghar, kami memasuki padang pasir besar. Luasnya
setara dengan perjalanan lima belas hari. Padang pasir ini hanya bisa dilewati
pada satu musim saja, yaitu setelah musim hujan di negeri Sind dan India,
sekitar awal bulan Juli. Sebab, di sini bertiup angin samum yang
mematikan, angin panas yang dapat membusukkan jasad. Jika ada yang mati di
sini, anggota tubuhnya akan cepat hancur. Angin serupa juga kualami saat
melintasi padang pasir antara Hurmuz dan Syiraz.
Kafilah besar di depan kami, yang dipimpin oleh Qadi
Tirmidz, Khawandzadah, mengalami musibah. Banyak orang dan kuda mereka mati.
Syukur Alhamdulillah, rombongan kami selamat hingga tiba di Bang Ab, tepian
Sungai Indus. "Bang Ab" berarti "Lima Air", merujuk pada
lima anak sungai yang bergabung menjadi satu sungai besar. Sungai inilah yang
mengairi seluruh negeri di sekitarnya.
Kami tiba di tepi sungai agung ini pada penghujung bulan
Dzulhijjah. Malam itu, hilal bulan Muharram tahun 734 Hijriah (sekitar tahun
1333 Masehi) tampak di ufuk, menandai awal tahun yang baru.
Dari sinilah, para utusan mulai menulis kabar kedatangan
kami dan mengirimkannya ke negeri India. Mereka memberitahukan keadaan kami
kepada sang Maharaja di sana. Demikianlah akhir dari catatan perjalanan ini,
segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Sumber Kisah:
Rihlah Ibnu Battutah

Komentar
Posting Komentar