Lukman al-Hakim dan Kaum ‘Ad: Asal Usul, Hikmah, dan Legenda Arab Kuno
Lukman dalam Bayangan Kaum ‘Ād
Dalam tradisi Arab kuno, nama Lukman menempati
tempat yang unik. Ia muncul dalam Al-Qur’an, dikenal dalam syair jahiliyyah,
dan hidup dalam berbagai kisah dan legenda. Sebagian ahli berita (ahl
al-akhbār) bahkan menghubungkannya dengan kaum ‘Ād, salah satu
bangsa Arab purba yang terkenal karena kekuatan sekaligus kehancuran mereka.
Tulisan ini menelusuri sosok Lukman sebagaimana dipaparkan
dalam literatur Arab klasik: sebagai tokoh berhikmah, sangat panjang umur,
dikaitkan dengan kaum ‘Ād, dan kemudian “dihidupkan” lagi dalam dunia Islam
sebagai simbol hikmah seperti tokoh Aesop dalam tradisi Yunani.
Lukman: Tokoh Panjang Umur yang Bijaksana
Para ahli berita menyebut bahwa di antara kabilah-kabilah
kaum ‘Ād, ada sebuah kabilah yang di dalamnya hidup seorang tokoh bernama Lukman.
Dialah yang kemudian disebut dalam Al-Qur’an dan dikenal luas oleh orang Arab
sebagai sosok yang penuh hikmah.
Al-Qur’an menggambarkannya dengan sangat singkat namun kuat:
﴿وَلَقَدْ
آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِۚ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا
يَشْكُرُ لِنَفْسِهِۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ﴾
(QS. لُقْمَان [31]:
12)
“Dan sungguh, telah Kami anugerahkan hikmah kepada Lukman,
(yaitu): ‘Bersyukurlah kepada Allah.’ Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya
dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri; dan barang siapa kufur
(nikmat), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.”
Karena ayat ini, kaum Muslim kemudian mengenalnya
sebagai “Lukman al-Ḥakīm” – Lukman Sang Bijaksana.
Orang Arab jahiliyyah sudah sejak lama mengenal kisah-kisah
tentang Lukman. Mereka menggambarkannya sebagai:
“Seorang yang bijak, menguasai ilmu tentang tubuh dan
zaman.”
Maksudnya, ia dianggap memahami keadaan manusia dan
perubahan waktu, seolah-olah memiliki pengetahuan luas tentang kehidupan dan
pergiliran nasib.
Ia juga terkenal sebagai simbol umur yang sangat
panjang. Dalam daftar orang-orang yang disebut “al-mu‘ammarūn” (manusia
super panjang umur), sebagian ahli menempatkan Lukman pada barisan terdepan.
Abu Ḥātim as-Sijistānī bahkan menyebutnya sebagai manusia terpanjang
umur kedua setelah al-Khiḍr.
Legenda Tujuh Elang: Mengukur Umur dengan Burung
Salah satu kisah paling masyhur tentang Lukman adalah
legenda tujuh ekor elang. Diceritakan bahwa Lukman memohon kepada
Allah agar diberi umur panjang. Doanya dikabulkan, dan ia pun hidup sepanjang
umur tujuh ekor elang yang berurutan.
Setiap kali satu elang mati, seolah satu “bab” umur Lukman
berakhir, lalu dimulai bab berikutnya dengan elang yang baru. Para perawi
memberi nama elang terakhir itu “Lubad” (لُبَد). Ketika Lubad
mati, Lukman pun wafat.
Penyair besar an-Nābighah adz-Dzubyānī mengisyaratkan
hal ini dalam bait syairnya yang terkenal, ketika menggambarkan kehancuran
sebuah tempat:
“Telah menjadi kosong, dan para penghuninya telah pergi,
ia dibinasakan oleh Yang membinasakan Lubad.”
Orang Arab sangat suka mengandaikan umur panjang
dengan umur elang. Mereka membuat banyak peribahasa tentang lamanya hidup
elang, dan menghubungkannya dengan nama Lubad, juga dengan fisik
kuat burung gagak. Dalam salah satu syair yang memuji panjang umur seorang
tokoh, seorang penyair menggambarkannya sebagai:
“Wahai elang Lukman, berapa lama lagi kita hidup?
Berapa lama engkau akan terus mengenakan pakaian kehidupan, wahai Lubad?”
Dari sini muncul sebutan “Lukman an-Nusūr” –
Lukman Sang Elang, karena dikisahkan bahwa ia hidup sepanjang tujuh generasi
elang.
Tentang angka umurnya, riwayat sangat beragam. Sebagian
perawi menyebut:
Lukman hanya hidup sekitar 150 tahun, dan
makamnya dikaitkan dengan wilayah Ḥaḍramaut atau al-Ḥijr
dekat Makkah.
Angka ini jelas tidak sejalan dengan legenda tujuh elang.
Abu Ḥātim as-Sijistānī mencoba “menghitung” umur itu. Ia
mengatakan: kalau setiap elang hidup sekitar 80 tahun, berarti
tujuh elang menjadikan umur Lukman sekitar 560 tahun. Ini pun sudah
sangat luar biasa dibanding umur manusia biasa.
Ada pula riwayat yang jauh lebih “berani”, menyebut umur
Lukman mencapai sekitar 3.500 tahun. Angka ini sepenuhnya bersifat
legendaris, tetapi menunjukkan bahwa dalam imajinasi orang Arab, Lukman
adalah lambang umur yang hampir tak bertepi.
Lukman dalam Sajak, Nisbah, dan Kebingungan Silsilah
Nama Lukman tidak hanya hadir sebagai sosok
bijak. Dalam sebagian syair yang dinisbatkan kepada an-Nābighah, ia
disebut juga sebagai nama seorang penjual khamr (arak) di kota
Busra (Suriah selatan). Dalam bayangan sang penyair, guci-guci arak diangkut:
“Dari pasar Ra’s
sampai kepada Lukman di pasar Maqām.”
Ini menunjukkan bahwa tidak semua sebutan “Lukman” dalam
syair Arab merujuk kepada Lukman al-Ḥakīm yang dikenal dalam
Al-Qur’an. Terkadang ia hanyalah nama biasa: tukang arak, saudagar, atau tokoh
lokal.
Para ahli nasab klasik berusaha memberi silsilah kepada
Lukman. Di antara pendapat-pendapat yang mereka sebut:
Ada yang mengatakan ia adalah “Lukman bin ‘Ād”,
sehingga langsung dihubungkan dengan kaum ‘Ād, bangsa purba yang disebut dalam
Al-Qur’an.
Ada yang menjadikannya “Lukman bin Nāḥūr bin Tāriḥ”,
yaitu keturunan dari Āzar, ayah Nabi Ibrāhīm – sehingga
menempatkannya dalam jalur Timur Dekat yang lebih luas.
Ada pula yang mengatakan ia adalah anak saudara Nabi
Ayyūb, atau anak sepupu beliau.
Sebagian lain menyebutnya berasal dari Himyar di
Yaman, sehingga dijuluki “Lukman al-Ḥimyarī”.
Riwayat lain menjadikannya seorang qāḍī (hakim) dari
kalangan Banī Isrā’īl. Karena dalam tradisi Islam ia sering
dikaitkan dengan hikmah dan pengadilan, al-Wāqidī pun mengatakan:
“Ia adalah seorang qāḍī di tengah Bani Isrā’īl.”
Namun, jika semua ini digabung dengan keyakinan bahwa kaum
‘Ād termasuk “Arab bā’idah” (Arab yang sudah punah), tampak jelas ada kontradiksi.
Kecuali bila dibayangkan bahwa ada seseorang dari luar kaum ‘Ād yang kemudian
“masuk ke tengah mereka”, sehingga disebut sebagai Lukman yang hidup di
kalangan ‘Ād, padahal asalnya bukan dari nasab mereka.
Satu Lukman atau Banyak Lukman?
Dari berbagai riwayat, tampak bahwa para ahli berita tidak
berbicara tentang satu sosok saja. Ada indikasi kuat bahwa mereka
membedakan beberapa tokoh bernama Lukman.
Sebagian riwayat menyebut adanya seorang Lukman pada zaman
Nabi Dāwūd, yang dikenal dengan nama “Lukman al-Ḥakīm”.
Sebagian menisbatkannya sebagai “Lukman bin ‘Unqād”. Sejarawan
al-Mas‘ūdī menambahkan detail menarik: ia menyebut bahwa Lukman ini adalah
seorang Nubia (dari kawasan Afrika timur, kemungkinan besar
Sudan sekarang), seorang budak milik al-Qayn bin Jāsir.
Dikatakan bahwa ia lahir sepuluh tahun setelah Nabi Dāwūd
naik takhta, kemudian Allah menganugerahinya hikmah dan kesalehan. Lukman ini
dikisahkan tetap hidup sampai masa Nabi Yūnus bin Matta, ketika
Yūnus diutus kepada penduduk Ninawa di wilayah Mosul. Dengan cara ini, ia
sekali lagi digambarkan sebagai manusia yang hidup sangat panjang, melintasi
beberapa generasi nabi.
Al-Jāḥiẓ, sastrawan besar abad ketiga Hijriah, menegaskan
perbedaan ini. Ia mengatakan kurang lebih:
“Orang Arab mengagungkan kedudukan Lukman bin ‘Ād,
baik yang besar maupun yang kecil, dan mengagungkan Luqaym bin Lukman dalam
hal kemuliaan, ilmu, hikmah, kefasihan dan kesabaran. Dua orang ini berbeda
dengan Lukman al-Ḥakīm yang disebut dalam Al-Qur’an, menurut
pendapat para mufassir.”
Dengan kata lain, dalam persandingan riwayat klasik, kita
bisa melihat paling tidak:
Lukman yang dihubungkan dengan kaum ‘Ād (Lukman
bin ‘Ād).
Lukman al-Ḥakīm yang disebut dalam Al-Qur’an dan dihubungkan
dengan zaman Nabi Dāwūd.
Namun dalam ingatan sebagian orang, tokoh-tokoh ini
kerap bercampur sehingga kisah mereka saling bertumpuk.
Cerita Keluarga: Saudara yang Licik dan Putri yang
Terbunuh
Kitab-kitab sastra dan kisah tradisional tidak hanya memuji
hikmah Lukman, tetapi juga menempelkan padanya sejumlah cerita keluarga
yang sarat simbol dan peringatan.
Salah satu kisah yang diriwayatkan oleh al-Jāḥiẓ menyebut
bahwa Lukman memiliki seorang saudari yang bodoh, yang selalu
melahirkan anak-anak yang bodoh pula. Karena menginginkan anak yang cerdas, ia
mendatangi istri Lukman dan memohon:
“Biarkan aku tidur di ranjangmu. Jika Lukman datang, biarkan
ia menggauliku agar aku dapat mengandung anak yang cerdas seperti dia.”
Istri Lukman menurutinya. Lukman pun mendatangi ranjang itu,
tanpa mengetahui tipu daya tersebut, dan akhirnya saudari itu mengandung dan
melahirkan seorang anak bernama Luqaym. Dari sini, para perawi
menjadikan Luqaym sebagai anak sekaligus keponakan
Lukman.
Riwayat lain yang juga dibawa al-Jāḥiẓ menyebut bahwa Lukman
memiliki seorang putri bernama Ṣuḥrā, saudari Luqaym. Lukman
dikisahkan pernah menikahi banyak perempuan, dan semua isterinya berkhianat
kepadanya. Suatu kali, ia membunuh istri terakhirnya lalu turun dari gunung.
Orang pertama yang menyambutnya adalah putrinya Ṣuḥrā. Karena begitu sakit hati
terhadap pengkhianatan para perempuan, ia melompat dan membunuh
putrinya sendiri, sambil berkata:
“Engkau juga seorang perempuan!”
Karena peristiwa ini, orang Arab menjadikan ungkapan “Lukman
membunuh putrinya Ṣuḥrā” sebagai salah satu peribahasa tentang
kemarahan yang melampaui batas. Penyair Khuffāf bin Naddabah disebut
pernah mengisyaratkan hal ini dalam syairnya.
“Hayy Lukman”, Kekayaan Lukman, dan Zarka’ al-Yamāmah
Nama Lukman juga melekat pada suku atau kelompok yang
disebut “Ḥayy Lukman” (kelompok/klan Lukman). Dalam syair Abu
aṭ-Ṭaḥḥān al-Qaynī, ia menyebut bahwa sebuah kelompok yang tercerai-berai itu
bagaikan sisa-sisa Ḥayy Lukman, seolah menggambarkan kelompok yang
pernah besar lalu berserak.
Sejumlah penyair lain – seperti Labīd bin Rabī‘ah, al-Farazdaq,
dan putri Wathīmah bin ‘Uṯmān – juga menyebut Lukman dalam bait-bait mereka,
menempatkannya sebagai contoh kebijaksanaan atau kejayaan masa lampau.
Dalam perkembangan Islam, banyak peribahasa yang
kemudian dinisbatkan kepada Lukman, meski sebenarnya tidak dikenal pada
masa jahiliyyah. Sebagian ahli berita bahkan mengaitkannya dengan kecintaan
kepada pembangunan kota, sehingga dikatakan Lukman suka membangun kota dan
gedung.
Ada pula peribahasa yang menjadikannya simbol rakus
dalam makan, sehingga muncul ungkapan: “Lebih banyak makan dari Lukman” (آكل من لقمان),
padahal di sisi lain ia justru dikenal karena hikmahnya.
Tentang kekayaan, nama Lukman juga dipakai.
Sebagian riwayat menyebut bahwa jika para hartawan mencapai puncak kejayaan,
dikatakan:
“Mereka adalah Aysār Lukman (orang-orang
kaya Lukman).”
Dihubungkan dengan Lukman bin ‘Ād, ini
melukiskan gambaran tentang sekelompok orang yang memiliki harta melimpah.
Penyair Ṭarafah bin al-‘Abd mengisyaratkan dalam syairnya
bahwa kaumnya adalah seperti Aysār Lukman ketika musim dingin
membuat daging hewan sembelihan menjadi mahal; maksudnya, tetap mampu berkorban
dan berderma ketika orang lain kekurangan.
Sebuah legenda menarik menyebut bahwa Zarqā’
al-Yamāmah – perempuan yang sangat terkenal karena tajamnya
penglihatan (konon dapat melihat dari jarak perjalanan tiga hari) – adalah
salah satu putri Lukman bin ‘Ād. Ia disebut sebagai ratu
wilayah al-Yamāmah, dan namanya kemudian diabadikan menjadi nama
daerah itu sendiri. Sebagian menafsirkan bahwa an-Nābighah adz-Dzubyānī mengisyaratkan
kepadanya dalam salah satu syairnya yang populer.
“Majalah Lukman” dan Aesop dalam Versi Arab
Para perawi Islam kemudian mengembangkan gambaran baru
tentang Lukman al-Ḥakīm sebagai tokoh hikmah yang meninggalkan kumpulan
kata-kata mutiara dan cerita teladan.
Seorang ahli kisah bernama Wahb bin Munabbih mengaku
pernah membaca dari “hikmah Lukman” sebanyak sepuluh ribu bab.
Riwayat lain menyatakan bahwa orang Arab jahiliyyah memiliki sebuah “Majallat
Lukman” – semacam kumpulan tulisan – yang berisi hikmah, pengetahuan,
dan peribahasa. Disebutkan bahwa sejumlah orang telah membacanya dan
menyimpannya, di antaranya Suwayd bin aṣ-Ṣāmit, seorang tokoh Arab
yang hidup hingga masa Nabi. Diperkirakan Suwayd pernah menceritakan sebagian
isi majalah itu kepada Rasulullah ketika ia datang menghadap.
Pada masa-masa setelah itu, para ulama dan penulis mengumpulkan
segala yang dinisbatkan kepada Lukman: nasihat, peribahasa, dan kisah-kisah
pendek, sering kali dalam bentuk fabel – cerita dengan tokoh
binatang, yang membawa pesan moral. Kumpulan ini mirip dengan apa yang
dinisbatkan kepada Aesop (Aisop) di dunia Yunani, yang juga
dikenal dengan dongeng-dongeng binatang penuh ibrah.
Seiring berjalannya waktu, sebagian orang berlebihan dalam
menggambarkan hikmah Lukman. Ia digambarkan mampu mengetahui hal-hal yang
sebenarnya berada di luar jangkauan manusia biasa. Demikian pula kekayaannya,
sampai-sampai muncul istilah “Aysār Lukman” sebagai gambaran puncak
kejayaan finansial.
Lukman bin ‘Ād, Bendungan Ma’rib, dan ‘Ād Kedua
Sejumlah ahli berita memiliki satu narasi besar yang
menghubungkan Lukman bin ‘Ād dengan sejarah bendungan
Ma’rib di Yaman dan terbentuknya ‘Ād kedua.
Menurut mereka, setelah kaum ‘Ād pertama dibinasakan, hanya
Nabi Hūd, para pengikutnya yang beriman, dan sekelompok kecil orang yang sedang
berada di luar negeri ‘Ād yang selamat. Di antara rombongan yang
selamat itu ada delegasi yang pergi ke Makkah untuk memohon
hujan ketika kaumnya dilanda kekeringan. Dalam rombongan inilah nama Lukman disebut
sebagai salah satu tokoh utama dari kaum ‘Ād.
Diceritakan bahwa setelah kehancuran ‘Ād pertama,
orang-orang yang selamat inilah yang kemudian membentuk ‘Ād kedua.
Lukman digambarkan sebagai sosok yang mengambil posisi berseberangan dengan
raja ‘Ād pertama yang disebut al-Khullajān, raja yang membangkang
dakwah Nabi Hūd dan akhirnya binasa bersama kaumnya.
Karena takut akan kekeringan dan wabah kelaparan,
orang-orang ‘Ād yang tersisa dikisahkan berhijrah ke tanah Sabā’
(Saba’). Di sanalah, menurut sebagian riwayat, Lukman membangun Bendungan
al-‘Arim dekat kota Ma’rib yang terkenal dalam
sejarah Yaman. ‘Ād kedua dikatakan terus hidup sampai suku-suku Qaḥṭān
mengalahkan mereka, lalu mereka pun perlahan punah dari sejarah.
Walaupun hubungan antara Lukman dan bendungan Ma’rib ini
sulit dibuktikan secara historis, ia tetap menarik sebagai bagian dari “rekonstruksi”
ingatan kolektif Arab tentang asal-usul peradaban Yaman dan sistem
irigasinya.
Delegasi ke Makkah dan Angin yang Membinasakan ‘Ād
Salah satu kisah paling hidup yang diriwayatkan tentang kaum
‘Ād adalah perjalanan delegasi mereka ke Makkah untuk memohon
hujan ketika negeri mereka dilanda kekeringan panjang.
Diceritakan bahwa ketika hujan tertahan sekian lama, kaum
‘Ād mengirim rombongan sekitar tujuh puluh orang menuju
Makkah. Di masa itu, menurut riwayat, Makkah dihuni oleh kaum ‘Amāliqah,
dan pemimpin mereka adalah seorang bernama Mu‘āwiyah bin Bakr.
Mu‘āwiyah menyambut tamu-tamunya dengan sangat baik. Ia
menjamu mereka, menyediakan makanan dan minuman. Rombongan itu tinggal di
rumahnya selama satu bulan. Mereka minum khamr dan dihibur oleh dua
penyanyi perempuan milik Mu‘āwiyah yang terkenal dengan julukan “al-Jarādatān” (Dua
Belalang). Di tengah kenyamanan itu, para utusan lupa tujuan utama kedatangan
mereka: meminta hujan.
Dua penyanyi itulah yang akhirnya menyadarkan mereka.
Dengan nyanyian yang bernada sindiran, mereka mengingatkan para utusan bahwa
kaum mereka sedang kehausan, sementara mereka tenggelam dalam kenikmatan.
Barulah setelah itu para utusan tersentak, lalu memohon
hujan kepada Allah. Tak lama, Allah mengirim kepada kaum ‘Ād bukan awan
yang membawa rahmat, tetapi angin yang sangat dahsyat yang
menghancurkan negeri mereka.
Al-Qur’an menggambarkan peristiwa ini dengan beberapa cara.
Di satu tempat, Allah berfirman:
﴿فَلَمَّا
رَأَوْهُ عَارِضًا مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَٰذَا عَارِضٌ
مُّمْطِرُنَاۚ بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُم بِهِۚ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ
تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍۢ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَىٰٓ إِلَّا
مَسَٰكِنُهُمْۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِى الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ﴾
(QS. الأحقاف [46]:
24–25)
“Maka ketika mereka melihatnya (awan itu) sebagai awan yang
menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata: ‘Inilah awan yang akan
menurunkan hujan kepada kita.’ Tidak! Bahkan itulah azab yang kalian minta
disegerakan kedatangannya: angin yang membawa azab yang pedih. Yang
menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, sehingga jadilah mereka
pada pagi hari tidak terlihat lagi kecuali tempat-tempat tinggal mereka saja.
Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.”
Dalam ayat lain, Allah menyebut:
﴿سَخَّرَهَا
عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍۢ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى ٱلْقَوْمَ
فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ﴾
(QS. الحاقة [69]: 7)
“(Allah) menundukkannya (angin itu) atas mereka selama tujuh
malam dan delapan hari terus-menerus, maka engkau akan melihat kaum itu
bergelimpangan di dalamnya seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang
telah kosong (lapuk).”
Dan di tempat lain:
﴿تَنزِعُ
ٱلنَّاسَ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ مُّنقَعِرٍ﴾
(QS. القمر [54]: 20)
“(Angin itu) mencabut manusia seakan-akan mereka adalah
tunggul-tunggul pohon kurma yang tercabut dari akar-akarnya.”
Dalam narasi ahli berita, angin yang sangat keras
dan dingin itu berhembus tujuh malam delapan hari tanpa henti,
mencabut tubuh manusia seperti mencabut pohon kurma, dan melemparkannya hingga
berjatuhan. Hanya rumah-rumah kosong yang tersisa, sementara
pemiliknya hilang.
Mereka juga sepakat bahwa kaum ‘Ād sebelumnya telah
melakukan kemusyrikan, menyembah tiga berhala yang disebut Ṣadā’,
Ṣamūd, dan al-Hubā’. Namun sampai sekarang, nama-nama berhala ini belum
ditemukan dalam prasasti yang berhasil dibaca.
Menariknya, para ahli berita menekankan bahwa sebab
kehancuran ‘Ād bisa dijelaskan sebagai peristiwa alam:
kekeringan panjang, lalu badai angin maha dahsyat. Sebagian riwayat menyebut
bahwa Nabi Muhammad pernah mengisyaratkan bahwa kehancuran kaum ‘Ād dan Ṯamūd
berkaitan dengan sambaran petir atau halilintar, yang pada
hakikatnya juga termasuk fenomena alam.
Sumber Kisah: Antara Tradisi Jahiliyyah dan Penjelasan
Islam
Cerita-cerita tentang Lukman dan kaum ‘Ād sampai
kepada kita dari dua jalur besar:
Sebagian adalah warisan lisan orang Arab
jahiliyyah – kisah-kisah rakyat, peribahasa, dan syair yang telah lama beredar
sebelum datangnya Islam.
Sebagian lagi adalah pengembangan pada masa Islam,
sebagai penjelasan dan pengisian detail terhadap kisah singkat yang disebut
dalam Al-Qur’an.
Nama-nama seperti al-Ḥārith bin Ḥassān al-Bakrī dan al-Ḥārith
bin Yazīd al-Bakrī disebut dalam riwayat sebagai orang-orang yang
pernah menceritakan kisah kaum ‘Ād di hadapan Rasulullah, sebagaimana
dikisahkan oleh ath-Ṭabarī. Tokoh-tokoh seperti Ka‘b al-Aḥbār dan Wahb
bin Munabbih, yang berasal dari kalangan Yahudi kemudian memeluk Islam,
juga memiliki peran besar dalam memindahkan kisah-kisah Bani Israil dan
legenda-legenda Timur Dekat ke dalam wacana Muslim, termasuk terkait
dengan kaum ‘Ād dan Lukman.
Sebagian besar riwayat yang panjang lebar tentang detail
kehancuran ‘Ād dan penemuan kota Iram dzāt al-‘Imād diduga
kuat berkembang pada masa Mu‘āwiyah bin Abī Sufyān. Khalifah ini
dikenal gemar mendengar kisah-kisah zaman kuno, dan di istananya
berkumpul para pencerita seperti ‘Ubayd bin Syariyah al-Jurhumī dan Ka‘b
al-Aḥbār.
Salah satu kisah yang populer menceritakan tentang seorang
lelaki yang pada masa Mu‘āwiyah kehilangan unta-untanya di “Tih Abyan”,
sebuah lembah antara Ḥaḍramaut dan Abyan. Ketika mencarinya, ia mengaku telah
menemukan lokasi “Iram dzāt al-‘Imād”, lalu menggambarkan
bangunan-bangunan yang sangat menakjubkan di sana.
Dalam riwayat lain, sebagaimana dinukil ath-Ṭabarī, Wahb
bin Munabbih bercerita bahwa ia mendengar dari seseorang bernama ‘Abdullāh
bin Qilābah. Orang ini mengaku unta-untanya lari di padang pasir sekitar
‘Adan (Aden), lalu ketika mengejarnya, ia melihat sebuah kota yang menakjubkan,
yang menurutnya adalah “Iram dzāt al-‘Imād”. Wahb kemudian
menguraikannya dengan gaya yang sangat kaya fantasi, penuh unsur keajaiban di
luar nalar.
Kisah-kisah seperti ini, meskipun sulit dibuktikan, menjadi
bagian dari lapisan legendaris yang menyelimuti nama Lukman,
kaum ‘Ād, dan kota Iram dalam imajinasi Islam klasik.
Penutup
Sosok Lukman dalam literatur Arab dan Islam
klasik berada di titik pertemuan antara sejarah, legenda, dan ajaran
moral. Di satu sisi, Al-Qur’an menampilkan Lukman secara jernih
sebagai seorang hamba yang diberi hikmah dan diajak untuk bersyukur.
Di sisi lain, tradisi Arab menambahkan lapisan-lapisan kisah: tentang umur yang
sepanjang tujuh elang, tentang kedekatannya dengan kaum ‘Ād, tentang bendungan
Ma’rib, kekayaan yang melimpah, dan keturunan-keturunannya.
Sebagian dari kisah itu hanyalah cerita rakyat yang
sarat simbol, sebagian lain adalah upaya para ulama awal untuk
menyambungkan antara ayat-ayat Al-Qur’an, ingatan kolektif orang Arab, dan
bahan-bahan sejarah dari tradisi lain.
Namun pada akhirnya, apa yang paling kuat tersisa dari
nama Lukman adalah pesan yang diringkas oleh Al-Qur’an
sendiri: bahwa hikmah sejati berawal dari syukur, dan bahwa ilmu
dan panjang umur sekalipun tak berarti jika tidak diiringi ketaatan kepada
Allah dan kesadaran akan kefanaan dunia.
Sumber
Juwād ‘Alī, المفصل في تاريخ العرب قبل الإسلام

Komentar
Posting Komentar