Kisah Syuhada Perang Uhud: Hamzah, Doa Nabi, dan Balasan Abu Sufyan

Ilustrasi senja di Bukit Uhud dengan langit jingga keemasan. Sekelompok sahabat yang terluka dan berduka duduk bersimpuh di lereng bukit, mengelilingi sosok Nabi Muhammad ﷺ yang sedang berdoa dengan tangan terangkat, digambarkan dari belakang tanpa wajah. Beberapa sahabat terlihat memiliki perban dan luka perang. Di kejauhan, para syuhada terbang tenang dengan cahaya lembut. Pedang dan panah berserakan di tanah. Suasana khidmat, penuh haru, dan spiritual.

Setelah Pertempuran: Tantangan dan Kesedihan

Usai pertempuran yang dahsyat itu, Abu Sufyan bin Harb mendaki lereng bukit dan berseru kepada kaum Muslimin dari kejauhan. Dengan suara lantang ia bertanya, "Apakah Muhammad ada di antara kalian?"

Rasulullah berbisik kepada para sahabat, "Jangan jawab."

Abu Sufyan kembali bertanya, "Apakah Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakar) ada di antara kalian? Apakah Ibnu Al-Khattab (Umar) ada di antara kalian?"

Sekali lagi Nabi memerintahkan, "Jangan jawab."

Maka Abu Sufyan berkata dengan sombong, "Mereka semua pasti telah terbunuh. Seandainya mereka hidup, pasti mereka akan menjawab."

Umar bin Khattab tidak dapat menahan diri. Ia berteriak membalas, "Dusta engkau, wahai musuh Allah! Semua yang engkau sebutkan masih hidup! Dan masih tersisa untukmu sesuatu yang akan menyusahkanmu!"

Abu Sufyan menjawab, "Hari ini balasan untuk kekalahan di Badar. Perang itu silih berganti. Satu hari untukmu, satu hari untukku."

Umar membalas, "Tidak sama! Para syuhada kami di surga, sedangkan pasukanmu yang mati di neraka!"

Abu Sufyan kembali berseru dengan nada merendahkan, "Sungguh, kalian akan mendapati mayat-mayat kawanmu yang telah kami cacat. Demi Allah, itu bukan atas perintahku, tapi juga tidak membuatku sedih."

Kemudian ia melantunkan syair menyembah berhala: "أَعْلُ هُبَلُ، أَعْلُ هُبَلُ"Tinggikan Hubal! Tinggikan Hubal!"

Rasulullah bersabda kepada para sahabat, "Jawab dia." Mereka bertanya, "Apa yang harus kami katakan?" Beliau bersabda:

«قُولُوا: اللَّهُ أَعْلَى وَأَجَلُّ»
"Katakanlah: Allah Mahatinggi dan Mahaagung."

Abu Sufyan kembali berseru, "لَنَا الْعُزَّى وَلَا عُزَّى لَكُمْ"Kami punya Al-Uzza, sedangkan kalian tidak punya Al-Uzza!"

Nabi kembali bersabda, "Jawab dia." Para sahabat bertanya, "Apa yang harus kami katakan?" Beliau bersabda:

«قُولُوا: اللَّهُ مَوْلَانَا وَلَا مَوْلَى لَكُمْ»
"Katakanlah: Allah adalah Pelindung kami, dan tidak ada pelindung bagi kalian."

Akhirnya Abu Sufyan berkata, "Tempat pertemuan kita tahun depan di Badar!" Rasulullah bersabda kepada seorang sahabat:

«قُلْ: نَعَمْ، هُوَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ مَوْعِدٌ»
"Katakan: Ya, itulah tempat pertemuan antara kita dan kalian."


Mata-mata Kecil dengan Misi Besar

Rasulullah sangat ingin mengetahui tujuan pasukan Quraisy selanjutnya. Apakah mereka akan kembali menyerang Madinah? Beliau memanggil sepupunya, Ali bin Abi Thalib.

"Keluarlah, ikuti jejak mereka. Perhatikan apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka inginkan. Jika mereka mengistirahatkan kuda dan menunggang unta, maka mereka menuju Mekah. Jika mereka menunggang kuda dan membawa unta, maka mereka menuju Madinah. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, jika mereka menuju Madinah, sungguh akan aku datangi mereka di sana, dan akan aku perangi mereka."

Ali berangkat. Ia mendapati mereka mengistirahatkan kuda dan menunggang unta menuju Mekah. Kabar ini melegakan. Meski baru saja menderita kekalahan, kaum Muslimin masih memiliki kekuatan dan semangat juang yang tinggi.


Sujud dan Doa di Tengah Luka

Rasulullah kehilangan banyak darah. Beliau begitu lemah hingga shalat Zhuhur bersama para sahabat dalam keadaan duduk. Para sahabat pun shalat di belakang beliau dengan duduk.

Setelah itu, beliau menghadap kepada Allah, satu-satunya Dzat yang menggenggam segala sesuatu. Beliau memanjatkan puji-pujian atas ujian dan cobaan yang menimpa mereka.

Beliau bersabda kepada para sahabat, "Berdiri dan berbarislah kalian di belakangku, hingga aku memuji Tuhanku."

Maka para sahabat berbaris rapi di belakang beliau. Lalu Rasulullah melantunkan doa yang begitu dalam dan menyentuh:

«اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ كُلُّهُ، اللَّهُمَّ لَا قَابِضَ لِمَا بَسَطْتَ، وَلَا بَاسِطَ لِمَا قَبَضْتَ، وَلَا هَادِيَ لِمَنْ أَضْلَلْتَ، وَلَا مُضِلَّ لِمَنْ هَدَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُقَرِّبَ لِمَا بَاعَدْتَ، وَلَا مُبَعِّدَ لِمَا قَرَّبْتَ. اللَّهُمَّ ابْسُطْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِكَ وَرَحْمَتِكَ وَفَضْلِكَ وَرِزْقِكَ. اللَّهُمَّ إِنِّي عَائِذٌ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا أَعْطَيْتَنَا وَشَرِّ مَا مَنَعْتَنَا. اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ. اللَّهُمَّ تَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ، وَأَحْيِنَا مُسْلِمِينَ، وَأَلْحِقْنَا بِالصَّالِحِينَ غَيْرَ خَزَايَا وَلَا مَفْتُونِينَ. اللَّهُمَّ قَاتِلِ الْكَفَرَةَ الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ، وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِكَ، وَاجْعَلْ عَلَيْهِمْ رِجْزَكَ وَعَذَابَكَ. اللَّهُمَّ قَاتِلِ الْكَفَرَةَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَهَ الْحَقِّ»
"Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Ya Allah, tidak ada yang dapat menahan apa yang Engkau bentangkan, dan tidak ada yang dapat membentangkan apa yang Engkau tahan. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang Engkau sesatkan, dan tidak ada yang dapat menyesatkan orang yang Engkau beri petunjuk. Tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau cegah, dan tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau beri. Tidak ada yang dapat mendekatkan apa yang Engkau jauhkan, dan tidak ada yang dapat menjauhkan apa yang Engkau dekatkan. Ya Allah, limpahkanlah kepada kami berkah-Mu, rahmat-Mu, karunia-Mu, dan rezeki-Mu. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang Engkau berikan kepada kami dan keburukan apa yang Engkau cegah dari kami. Ya Allah, jadikanlah iman itu kami cintai dan hiasilah ia di hati kami. Jadikanlah kami benci kepada kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. Ya Allah, wafatkan kami dalam keadaan muslim, hidupkan kami dalam keadaan muslim, dan pertemukan kami dengan orang-orang saleh, tidak dalam keadaan hina dan tidak dalam keadaan terfitnah. Ya Allah, perangilah orang-orang kafir yang mendustakan rasul-rasul-Mu dan menghalangi jalan-Mu. Timpakanlah kepada mereka azab dan siksa-Mu. Ya Allah, perangilah orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab, wahai Tuhan yang benar."
(HR. Imam Ahmad)


Para Syuhada Uhud: Bintang-bintang yang Bersinar

Sekitar tujuh puluh orang pilihan gugur di Uhud. Empat atau enam di antaranya dari kalangan Muhajirin, sisanya dari Anshar. Berikut adalah kisah-kisah mereka:


1. Hamzah bin Abdul Muthalib: Pemimpin Para Syuhada

Hamzah, paman Rasulullah, adalah Singa Allah dan Singa Rasul-Nya. Ia gugur di tangan Wahshi, sebagaimana telah dikisahkan. Wahshi tinggal di Mekah hingga kota itu ditaklukkan. Ia lalu lari ke Thaif. Setelah penduduk Thaif masuk Islam, ia bingung hendak ke mana. Ada yang berkata kepadanya, "Nabi tidak akan membunuh siapa pun yang masuk Islam." Maka Wahshi pergi ke Madinah dan menghadap Rasulullah , bersyahadat di hadapan beliau.

Nabi bertanya, "Engkau Wahshi?" Ia menjawab, "Ya." Kemudian ia menceritakan peristiwa pembunuhan Hamzah.

Rasulullah bersabda dengan pilu:

«وَيْحَكَ غَيِّبْ وَجْهَكَ عَنِّي فَلَا أَرَيْنَكَ»
"Celaka engkau, sembunyikan wajahmu dariku, jangan sampai aku melihatmu."

Wahshi pun menjauh. Ia sengaja menghindari bertemu Rasulullah agar tidak membangkitkan kesedihan dan kenangan pahit yang terpendam.

Saat perang melawan kaum murtad dan pasukan Muslimin berangkat memerangi Musailamah Al-Kadzdzab, Wahshi ikut serta. Ia membawa tombak yang dulu digunakan untuk membunuh Hamzah, berharap dapat menebus dosanya dengan membunuh Musailamah. Allah mengabulkan harapannya. Tombak itu kembali menancap di tubuh Musailamah, kali ini bersama Abdullah bin Zaid bin 'Ashim.

Maka Wahshi berkata, "Aku telah membunuh sebaik-baik manusia setelah Rasulullah, dan aku telah membunuh sejahat-jahat manusia." Ia wafat di Himsh.

Ketika Hamzah gugur dan jasadnya dimutilasi, saudara perempuannya, Shafiyyah binti Abdul Muthalib, ingin melihat jenazahnya. Rasulullah khawatir ia tak sanggup melihat kondisi mengerikan itu. Beliau berkata kepada putranya, Az-Zubair bin Al-Awwam: "Temui ibumu, suruh ia kembali. Jangan biarkan ia melihat apa yang menimpa saudaranya."

Az-Zubair berkata kepada ibunya, "Rasulullah memerintahkanmu pulang." Shafiyyah bertanya, "Mengapa? Aku telah mendengar bahwa saudaraku dimutilasi. Itu semua karena Allah. Apa yang terjadi membuatku ridha. Akan aku hitung-hitung sebagai tabungan pahala dan aku akan bersabar, insya Allah."

Az-Zubair menyampaikan perkataan ibunya kepada Rasulullah . Beliau bersabda, "Biarkan dia pergi." Shafiyyah pun datang, melihat jenazah saudaranya, mendoakannya, mengucapkan istirja' (Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un), dan memohon ampunan untuknya.


2. Mush'ab bin Umir: Duta Pertama Islam

Mush'ab adalah pembawa bendera Muhajirin pada hari itu. Ia gugur di tangan Ibnu Qumiah saat menghadangnya untuk melindungi Rasulullah . Saat Rasulullah kembali ke Madinah, ia berpapasan dengan Hamnah binti Jahsy—istri Mush'ab. Pertama, ia diberi tahu bahwa saudaranya, Abdullah bin Jahsy, gugur. Hamnah mengucapkan istirja' dan memohon ampunan untuknya. Kemudian diberi tahu pula bahwa pamannya, Hamzah, gugur. Ia kembali mengucapkan istirja' dan memohon ampunan. Namun saat diberi tahu bahwa suaminya, Mush'ab bin Umair, gugur, Hamnah menjerit dan meratap. Rasulullah bersabda:

«إِنَّ زَوْجَ الْمَرْأَةِ مِنْهَا لَبِمَكَانٍ»
"Sungguh, suami seorang wanita memiliki kedudukan istimewa di hatinya."


3. Abdullah bin Jahsy: Al-Mujaddi' fiillah

Abdullah bin Jahsy adalah putra Umaymah binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah. Jasadnya dimutilasi hingga ia dijuluki "Al-Mujaddi' fiillah" (yang dipotong-potong karena Allah). Az-Zubair bin Bakkar meriwayatkan bahwa pedangnya patah pada hari Uhud. Rasulullah memberinya sebatang pelepah kurma, dan tiba-tiba pelepah itu berubah menjadi pedang di tangannya. Ia bertempur dengan pedang itu. Kelak pedang itu dijual dari harta warisan salah seorang keturunannya seharga dua ratus dinar.


4. Anas bin An-Nadhr: Paman Anas bin Malik

Kisahnya telah kita dengar. Ia yang mencium aroma surga di lereng Uhud dan berjuang hingga gugur. Delapan puluh lebih luka menghiasi tubuhnya.


5. Sa'ad bin Ar-Rabi': Pesan Terakhir untuk Kaumnya

Saat Rasulullah tidak melihat Sa'ad di antara para syuhada yang tergeletak, beliau bertanya, "Siapa yang bersedia mencari Sa'ad bin Ar-Rabi' untukku? Apakah ia masih hidup atau termasuk yang gugur?"

Seorang sahabat pergi mencari. Ia menemukan Sa'ad terbaring di antara para syuhada, masih lemah dengan nyawa tersisa. Saat disampaikan pesan Rasulullah , Sa'ad berkata, "Aku termasuk yang gugur. Sampaikan salamku kepada Rasulullah dan katakan: Sa'ad bin Ar-Rabi' berkata, 'Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun dari umatnya.' Sampaikan pula salamku kepada kaummu. Katakan kepada mereka: Sa'ad bin Ar-Rabi' berkata, 'Tidak ada alasan bagi kalian di sisi Allah jika Rasulullah terluka, sementara mata kalian masih berkedip.'"

Tak lama kemudian ia menghembuskan napas terakhir. Sahabat itu kembali dan menyampaikan beritanya kepada Nabi.


6. Abdullah bin Amr bin Haram: Ayah Jabar yang Berbicara dengan Allah

Jabir bin Abdullah—sahabat yang terkenal itu—kehilangan ayahnya di Uhud. Dalam Shahihain disebutkan bahwa Jabir terus menangis dan membuka kain penutup wajah ayahnya. Bibinya juga ikut menangis. Rasulullah bersabda:

«تَبْكِيهِ أَوْ لَا تَبْكِيهِ، لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تُظِلُّهُ حَتَّى رَفَعْتُمُوهُ»
"Kalian menangisinya atau tidak, para malaikat terus menaunginya hingga kalian mengangkatnya."

Al-Baihaqi meriwayatkan dari Jabir, ia berkata: Rasulullah memandangku dan bertanya, "Mengapa aku lihat engkau bersedih?" Aku menjawab, "Ayahku gugur, meninggalkan utang dan anak-anak." Beliau bersabda:

«أَلَا أُخْبِرُكَ؟ مَا كَلَّمَ اللَّهُ أَحَدًا إِلَّا مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ، وَإِنَّهُ كَلَّمَ أَبَاكَ كِفَاحًا. وَقَالَ لَهُ: يَا عَبْدِي سَلْنِي أُعْطِكَ. قَالَ: أَسْأَلُكَ أَنْ تَرُدَّنِي إِلَى الدُّنْيَا فَأُقْتَلَ فِيكَ ثَانِيَةً. فَقَالَ الْحَقُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: إِنَّهُ سَبَقَ مِنِّي الْقَوْلُ أَنَّهُمْ إِلَيْهَا لَا يَرْجِعُونَ. قَالَ: رَبِّ فَأَبْلِغْ مَنْ وَرَائِي»
"Maukah aku kabarkan kepadamu? Allah tidak pernah berbicara dengan seseorang kecuali dari balik hijab. Namun Allah berbicara langsung dengan ayahmu. Allah berfirman, 'Wahai hamba-Ku, mintalah kepada-Ku, niscaya Aku beri.' Ia berkata, 'Aku memohon agar Engkau kembalikan aku ke dunia, sehingga aku dapat terbunuh lagi di jalan-Mu.' Allah berfirman, 'Sungguh, telah terdahulu ketetapan dari-Ku bahwa mereka tidak akan kembali ke dunia.' Maka ia berkata, 'Ya Tuhanku, sampaikanlah (kabar ini) kepada mereka yang di belakangku.'"

Maka Allah menurunkan ayat:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
"Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka hidup di sisi Tuhannya mendapat rezeki."
(QS. Ali 'Imran: 169)

Ayah Jabir telah menitipkan tujuh putrinya kepadanya. Ia berkata, "Aku tak akan mengutamakan diriku atasmu untuk keluar bersama Rasulullah." Maka Allah mencatatnya sebagai syahid.


7. Amr bin Al-Jamuh: Pincang yang Merindukan Surga

Amr bin Al-Jamuh adalah seorang yang pincang, sangat pincang. Ia memiliki empat putra perkasa seperti singa yang selalu ikut serta dalam peperangan bersama Rasulullah . Pada Perang Uhud, mereka berusaha mencegahnya ikut serta. "Allah telah memberimu udzur," kata mereka.

Amr datang menemui Nabi dan berkata, "Anak-anakku ingin mencegahku keluar bersamamu. Demi Allah, aku sangat berharap dapat menginjak surga dengan kakiku yang pincang ini!"

Rasulullah bersabda:

«أَمَّا أَنْتَ فَقَدْ عَذَرَكَ اللَّهُ فَلَا جِهَادَ عَلَيْكَ»
"Adapun engkau, Allah telah memberimu udzur, maka tidak ada kewajiban jihad bagimu."

Kepada anak-anaknya, beliau bersabda:

«مَا عَلَيْكُمْ أَنْ لَا تَمْنَعُوهُ لَعَلَّ اللَّهَ يَرْزُقُهُ الشَّهَادَةَ»
"Tidak mengapa jika kalian tidak mencegahnya, semoga Allah memberinya syahid."

Amr pun ikut serta dan Allah mengabulkan harapannya.


8. Hanzhalah bin Abi Amir: Pemuda yang Dimandikan Malaikat

Hanzhalah bin Abi Amir adalah pemuda yang baru saja menikah. Ayahnya, Abu 'Amir, adalah seorang yang sangat memusuhi Rasulullah —ia bahkan dijuluki "al-fasiq" (si fasik). Namun Hanzhalah justru termasuk Muslim terbaik.

Pada hari Uhud, ia bertemu dengan Abu Sufyan bin Harb. Saat Hanzhalah hendak mengalahkannya, Syaddad bin Al-Aswad—yang dijuluki Ibn Syu'ub—menerjang dan membunuhnya.

Rasulullah bersabda:

«إِنَّ صَاحِبَكُمْ تَغْسِلُهُ الْمَلَائِكَةُ، فَاسْأَلُوا أَهْلَهُ مَا شَأْنُهُ؟»
"Sesungguhnya sahabat kalian ini dimandikan oleh malaikat. Tanyakan kepada istrinya, ada apa dengannya?"

Para sahabat bertanya kepada istrinya, Jamilah binti Abdullah bin Ubay bin Salul. Ia berkata, "Ia keluar dalam keadaan junub ketika mendengar seruan jihad."

Rasulullah bersabda:

«لِذَلِكَ غَسَّلَتْهُ الْمَلَائِكَةُ»
"Karena itulah para malaikat memandikannya."

Setelah Hanzhalah gugur, ayahnya yang fasik itu datang dan menendang jasadnya dengan kaki seraya berkata, "Bukankah aku telah melarangmu dari tempat terbunuhmu ini? Demi Allah, engkau adalah orang yang menyambung silaturahmi dan berbakti kepada orang tua." Entah apa jadinya jika ia tidak berbakti kepada ayahnya itu? Namun cukup bagi Hanzhalah kemuliaan ini: namanya harum semerbak mewangi sepanjang masa.


9. Abdullah bin Jubair: Komandan Pemanah yang Setia

Abdullah bin Jubair adalah komandan pasukan pemanah yang ditempatkan di bukit. Ia terus mengingatkan anak buahnya akan pesan Rasulullah . Ia sendiri dan segelintir yang setia tetap bertahan hingga gugur sebagai syuhada.


Korban di Pihak Musyrikin

Jumlah korban tewas di pihak musyrikin pada Perang Uhud adalah dua puluh orang.


Sumber Kisah:
As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhau'il Quran was Sunnah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rihlah Ibnu Battutah #59 : Dari Khawarizmi ke Bukhara

Rihlah Ibnu Bathutah #60 : Dari Reruntuhan Bukhara hingga Kelahiran Putri di Padang Stepa

Nabi Hūd, Kaum ‘Ād, dan Jejaknya dalam Sejarah Arab Pra Islam