Kisah Syuhada Perang Uhud: Hamzah, Doa Nabi, dan Balasan Abu Sufyan
Setelah Pertempuran: Tantangan dan Kesedihan
Usai pertempuran yang dahsyat itu, Abu Sufyan bin Harb
mendaki lereng bukit dan berseru kepada kaum Muslimin dari kejauhan. Dengan
suara lantang ia bertanya, "Apakah Muhammad ada di antara kalian?"
Rasulullah ﷺ
berbisik kepada para sahabat, "Jangan jawab."
Abu Sufyan kembali bertanya, "Apakah Ibnu Abi Quhafah
(Abu Bakar) ada di antara kalian? Apakah Ibnu Al-Khattab (Umar) ada di antara
kalian?"
Sekali lagi Nabi ﷺ memerintahkan, "Jangan jawab."
Maka Abu Sufyan berkata dengan sombong, "Mereka semua
pasti telah terbunuh. Seandainya mereka hidup, pasti mereka akan
menjawab."
Umar bin Khattab tidak dapat menahan diri. Ia berteriak
membalas, "Dusta engkau, wahai musuh Allah! Semua yang engkau sebutkan
masih hidup! Dan masih tersisa untukmu sesuatu yang akan menyusahkanmu!"
Abu Sufyan menjawab, "Hari ini balasan untuk kekalahan
di Badar. Perang itu silih berganti. Satu hari untukmu, satu hari
untukku."
Umar membalas, "Tidak sama! Para syuhada kami di surga,
sedangkan pasukanmu yang mati di neraka!"
Abu Sufyan kembali berseru dengan nada merendahkan,
"Sungguh, kalian akan mendapati mayat-mayat kawanmu yang telah kami cacat.
Demi Allah, itu bukan atas perintahku, tapi juga tidak membuatku sedih."
Kemudian ia melantunkan syair menyembah berhala: "أَعْلُ هُبَلُ،
أَعْلُ هُبَلُ" "Tinggikan Hubal! Tinggikan Hubal!"
Rasulullah ﷺ
bersabda kepada para sahabat, "Jawab dia." Mereka bertanya, "Apa
yang harus kami katakan?" Beliau bersabda:
«قُولُوا:
اللَّهُ أَعْلَى وَأَجَلُّ»
"Katakanlah: Allah Mahatinggi dan Mahaagung."
Abu Sufyan kembali berseru, "لَنَا الْعُزَّى وَلَا عُزَّى لَكُمْ" "Kami
punya Al-Uzza, sedangkan kalian tidak punya Al-Uzza!"
Nabi ﷺ
kembali bersabda, "Jawab dia." Para sahabat bertanya, "Apa yang
harus kami katakan?" Beliau bersabda:
«قُولُوا:
اللَّهُ مَوْلَانَا وَلَا مَوْلَى لَكُمْ»
"Katakanlah: Allah adalah Pelindung kami, dan tidak ada pelindung bagi
kalian."
Akhirnya Abu Sufyan berkata, "Tempat pertemuan kita
tahun depan di Badar!" Rasulullah ﷺ bersabda kepada seorang sahabat:
«قُلْ:
نَعَمْ، هُوَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ مَوْعِدٌ»
"Katakan: Ya, itulah tempat pertemuan antara kita dan kalian."
Mata-mata Kecil dengan Misi Besar
Rasulullah ﷺ
sangat ingin mengetahui tujuan pasukan Quraisy selanjutnya. Apakah mereka akan
kembali menyerang Madinah? Beliau memanggil sepupunya, Ali bin Abi Thalib.
"Keluarlah, ikuti jejak mereka. Perhatikan apa yang
mereka lakukan dan apa yang mereka inginkan. Jika mereka mengistirahatkan kuda
dan menunggang unta, maka mereka menuju Mekah. Jika mereka menunggang kuda dan
membawa unta, maka mereka menuju Madinah. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya,
jika mereka menuju Madinah, sungguh akan aku datangi mereka di sana, dan akan
aku perangi mereka."
Ali berangkat. Ia mendapati mereka mengistirahatkan kuda dan
menunggang unta menuju Mekah. Kabar ini melegakan. Meski baru saja menderita
kekalahan, kaum Muslimin masih memiliki kekuatan dan semangat juang yang
tinggi.
Sujud dan Doa di Tengah Luka
Rasulullah ﷺ
kehilangan banyak darah. Beliau begitu lemah hingga shalat Zhuhur bersama para
sahabat dalam keadaan duduk. Para sahabat pun shalat di belakang beliau dengan
duduk.
Setelah itu, beliau menghadap kepada Allah, satu-satunya
Dzat yang menggenggam segala sesuatu. Beliau memanjatkan puji-pujian atas ujian
dan cobaan yang menimpa mereka.
Beliau bersabda kepada para sahabat, "Berdiri dan
berbarislah kalian di belakangku, hingga aku memuji Tuhanku."
Maka para sahabat berbaris rapi di belakang beliau. Lalu
Rasulullah ﷺ
melantunkan doa yang begitu dalam dan menyentuh:
«اللَّهُمَّ
لَكَ الْحَمْدُ كُلُّهُ، اللَّهُمَّ لَا قَابِضَ لِمَا بَسَطْتَ، وَلَا بَاسِطَ
لِمَا قَبَضْتَ، وَلَا هَادِيَ لِمَنْ أَضْلَلْتَ، وَلَا مُضِلَّ لِمَنْ هَدَيْتَ،
وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُقَرِّبَ
لِمَا بَاعَدْتَ، وَلَا مُبَعِّدَ لِمَا قَرَّبْتَ. اللَّهُمَّ ابْسُطْ عَلَيْنَا
مِنْ بَرَكَاتِكَ وَرَحْمَتِكَ وَفَضْلِكَ وَرِزْقِكَ. اللَّهُمَّ إِنِّي عَائِذٌ
بِكَ مِنْ شَرِّ مَا أَعْطَيْتَنَا وَشَرِّ مَا مَنَعْتَنَا. اللَّهُمَّ حَبِّبْ
إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ
وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ. اللَّهُمَّ
تَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ، وَأَحْيِنَا مُسْلِمِينَ، وَأَلْحِقْنَا بِالصَّالِحِينَ
غَيْرَ خَزَايَا وَلَا مَفْتُونِينَ. اللَّهُمَّ قَاتِلِ الْكَفَرَةَ الَّذِينَ
يُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ، وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِكَ، وَاجْعَلْ عَلَيْهِمْ
رِجْزَكَ وَعَذَابَكَ. اللَّهُمَّ قَاتِلِ الْكَفَرَةَ الَّذِينَ أُوتُوا
الْكِتَابَ إِلَهَ الْحَقِّ»
"Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Ya Allah, tidak ada yang dapat menahan
apa yang Engkau bentangkan, dan tidak ada yang dapat membentangkan apa yang
Engkau tahan. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang Engkau
sesatkan, dan tidak ada yang dapat menyesatkan orang yang Engkau beri petunjuk.
Tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau cegah, dan tidak ada yang dapat
mencegah apa yang Engkau beri. Tidak ada yang dapat mendekatkan apa yang Engkau
jauhkan, dan tidak ada yang dapat menjauhkan apa yang Engkau dekatkan. Ya
Allah, limpahkanlah kepada kami berkah-Mu, rahmat-Mu, karunia-Mu, dan
rezeki-Mu. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang Engkau
berikan kepada kami dan keburukan apa yang Engkau cegah dari kami. Ya Allah,
jadikanlah iman itu kami cintai dan hiasilah ia di hati kami. Jadikanlah kami
benci kepada kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Jadikanlah kami termasuk
orang-orang yang mendapat petunjuk. Ya Allah, wafatkan kami dalam keadaan
muslim, hidupkan kami dalam keadaan muslim, dan pertemukan kami dengan
orang-orang saleh, tidak dalam keadaan hina dan tidak dalam keadaan terfitnah.
Ya Allah, perangilah orang-orang kafir yang mendustakan rasul-rasul-Mu dan
menghalangi jalan-Mu. Timpakanlah kepada mereka azab dan siksa-Mu. Ya Allah,
perangilah orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab, wahai Tuhan yang
benar."
(HR. Imam Ahmad)
Para Syuhada Uhud: Bintang-bintang yang Bersinar
Sekitar tujuh puluh orang pilihan gugur di Uhud. Empat atau
enam di antaranya dari kalangan Muhajirin, sisanya dari Anshar. Berikut adalah
kisah-kisah mereka:
1. Hamzah bin Abdul Muthalib: Pemimpin Para Syuhada
Hamzah, paman Rasulullah, adalah Singa Allah dan Singa
Rasul-Nya. Ia gugur di tangan Wahshi, sebagaimana telah dikisahkan. Wahshi
tinggal di Mekah hingga kota itu ditaklukkan. Ia lalu lari ke Thaif. Setelah
penduduk Thaif masuk Islam, ia bingung hendak ke mana. Ada yang berkata
kepadanya, "Nabi tidak akan membunuh siapa pun yang masuk Islam."
Maka Wahshi pergi ke Madinah dan menghadap Rasulullah ﷺ, bersyahadat di hadapan beliau.
Nabi ﷺ
bertanya, "Engkau Wahshi?" Ia menjawab, "Ya." Kemudian ia
menceritakan peristiwa pembunuhan Hamzah.
Rasulullah ﷺ
bersabda dengan pilu:
«وَيْحَكَ
غَيِّبْ وَجْهَكَ عَنِّي فَلَا أَرَيْنَكَ»
"Celaka engkau, sembunyikan wajahmu dariku, jangan sampai aku
melihatmu."
Wahshi pun menjauh. Ia sengaja menghindari bertemu
Rasulullah ﷺ
agar tidak membangkitkan kesedihan dan kenangan pahit yang terpendam.
Saat perang melawan kaum murtad dan pasukan Muslimin
berangkat memerangi Musailamah Al-Kadzdzab, Wahshi ikut serta. Ia membawa
tombak yang dulu digunakan untuk membunuh Hamzah, berharap dapat menebus
dosanya dengan membunuh Musailamah. Allah mengabulkan harapannya. Tombak itu
kembali menancap di tubuh Musailamah, kali ini bersama Abdullah bin Zaid bin
'Ashim.
Maka Wahshi berkata, "Aku telah membunuh sebaik-baik
manusia setelah Rasulullah, dan aku telah membunuh sejahat-jahat manusia."
Ia wafat di Himsh.
Ketika Hamzah gugur dan jasadnya dimutilasi, saudara
perempuannya, Shafiyyah binti Abdul Muthalib, ingin melihat jenazahnya.
Rasulullah ﷺ
khawatir ia tak sanggup melihat kondisi mengerikan itu. Beliau berkata kepada
putranya, Az-Zubair bin Al-Awwam: "Temui ibumu, suruh ia kembali. Jangan
biarkan ia melihat apa yang menimpa saudaranya."
Az-Zubair berkata kepada ibunya, "Rasulullah
memerintahkanmu pulang." Shafiyyah bertanya, "Mengapa? Aku telah
mendengar bahwa saudaraku dimutilasi. Itu semua karena Allah. Apa yang terjadi
membuatku ridha. Akan aku hitung-hitung sebagai tabungan pahala dan aku akan
bersabar, insya Allah."
Az-Zubair menyampaikan perkataan ibunya kepada Rasulullah ﷺ.
Beliau bersabda, "Biarkan dia pergi." Shafiyyah pun datang, melihat
jenazah saudaranya, mendoakannya, mengucapkan istirja' (Inna lillahi wa inna
ilaihi raji'un), dan memohon ampunan untuknya.
2. Mush'ab bin Umir: Duta Pertama Islam
Mush'ab adalah pembawa bendera Muhajirin pada hari itu. Ia
gugur di tangan Ibnu Qumiah saat menghadangnya untuk melindungi Rasulullah ﷺ.
Saat Rasulullah ﷺ
kembali ke Madinah, ia berpapasan dengan Hamnah binti Jahsy—istri Mush'ab.
Pertama, ia diberi tahu bahwa saudaranya, Abdullah bin Jahsy, gugur. Hamnah
mengucapkan istirja' dan memohon ampunan untuknya. Kemudian diberi tahu pula
bahwa pamannya, Hamzah, gugur. Ia kembali mengucapkan istirja' dan memohon
ampunan. Namun saat diberi tahu bahwa suaminya, Mush'ab bin Umair, gugur,
Hamnah menjerit dan meratap. Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ
زَوْجَ الْمَرْأَةِ مِنْهَا لَبِمَكَانٍ»
"Sungguh, suami seorang wanita memiliki kedudukan istimewa di
hatinya."
3. Abdullah bin Jahsy: Al-Mujaddi' fiillah
Abdullah bin Jahsy adalah putra Umaymah binti Abdul
Muthalib, bibi Rasulullah. Jasadnya dimutilasi hingga ia dijuluki
"Al-Mujaddi' fiillah" (yang dipotong-potong karena Allah). Az-Zubair
bin Bakkar meriwayatkan bahwa pedangnya patah pada hari Uhud. Rasulullah ﷺ
memberinya sebatang pelepah kurma, dan tiba-tiba pelepah itu berubah menjadi
pedang di tangannya. Ia bertempur dengan pedang itu. Kelak pedang itu dijual
dari harta warisan salah seorang keturunannya seharga dua ratus dinar.
4. Anas bin An-Nadhr: Paman Anas bin Malik
Kisahnya telah kita dengar. Ia yang mencium aroma surga di
lereng Uhud dan berjuang hingga gugur. Delapan puluh lebih luka menghiasi
tubuhnya.
5. Sa'ad bin Ar-Rabi': Pesan Terakhir untuk Kaumnya
Saat Rasulullah ﷺ tidak melihat Sa'ad di antara para syuhada yang tergeletak,
beliau bertanya, "Siapa yang bersedia mencari Sa'ad bin Ar-Rabi' untukku?
Apakah ia masih hidup atau termasuk yang gugur?"
Seorang sahabat pergi mencari. Ia menemukan Sa'ad terbaring
di antara para syuhada, masih lemah dengan nyawa tersisa. Saat disampaikan
pesan Rasulullah ﷺ,
Sa'ad berkata, "Aku termasuk yang gugur. Sampaikan salamku kepada
Rasulullah dan katakan: Sa'ad bin Ar-Rabi' berkata, 'Semoga Allah membalasmu
dengan kebaikan yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun dari
umatnya.' Sampaikan pula salamku kepada kaummu. Katakan kepada mereka: Sa'ad
bin Ar-Rabi' berkata, 'Tidak ada alasan bagi kalian di sisi Allah jika
Rasulullah ﷺ
terluka, sementara mata kalian masih berkedip.'"
Tak lama kemudian ia menghembuskan napas terakhir. Sahabat
itu kembali dan menyampaikan beritanya kepada Nabi.
6. Abdullah bin Amr bin Haram: Ayah Jabar yang Berbicara
dengan Allah
Jabir bin Abdullah—sahabat yang terkenal itu—kehilangan
ayahnya di Uhud. Dalam Shahihain disebutkan bahwa Jabir terus menangis dan
membuka kain penutup wajah ayahnya. Bibinya juga ikut menangis. Rasulullah ﷺ
bersabda:
«تَبْكِيهِ
أَوْ لَا تَبْكِيهِ، لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تُظِلُّهُ حَتَّى رَفَعْتُمُوهُ»
"Kalian menangisinya atau tidak, para malaikat terus menaunginya hingga
kalian mengangkatnya."
Al-Baihaqi meriwayatkan dari Jabir, ia berkata: Rasulullah ﷺ
memandangku dan bertanya, "Mengapa aku lihat engkau bersedih?" Aku
menjawab, "Ayahku gugur, meninggalkan utang dan anak-anak." Beliau
bersabda:
«أَلَا
أُخْبِرُكَ؟ مَا كَلَّمَ اللَّهُ أَحَدًا إِلَّا مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ، وَإِنَّهُ
كَلَّمَ أَبَاكَ كِفَاحًا. وَقَالَ لَهُ: يَا عَبْدِي سَلْنِي أُعْطِكَ. قَالَ:
أَسْأَلُكَ أَنْ تَرُدَّنِي إِلَى الدُّنْيَا فَأُقْتَلَ فِيكَ ثَانِيَةً. فَقَالَ
الْحَقُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: إِنَّهُ سَبَقَ مِنِّي الْقَوْلُ أَنَّهُمْ
إِلَيْهَا لَا يَرْجِعُونَ. قَالَ: رَبِّ فَأَبْلِغْ مَنْ وَرَائِي»
"Maukah aku kabarkan kepadamu? Allah tidak pernah berbicara dengan
seseorang kecuali dari balik hijab. Namun Allah berbicara langsung dengan
ayahmu. Allah berfirman, 'Wahai hamba-Ku, mintalah kepada-Ku, niscaya Aku
beri.' Ia berkata, 'Aku memohon agar Engkau kembalikan aku ke dunia, sehingga
aku dapat terbunuh lagi di jalan-Mu.' Allah berfirman, 'Sungguh, telah
terdahulu ketetapan dari-Ku bahwa mereka tidak akan kembali ke dunia.' Maka ia
berkata, 'Ya Tuhanku, sampaikanlah (kabar ini) kepada mereka yang di belakangku.'"
Maka Allah menurunkan ayat:
وَلَا
تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ
عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
"Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di
jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka hidup di sisi Tuhannya mendapat
rezeki."
(QS. Ali 'Imran: 169)
Ayah Jabir telah menitipkan tujuh putrinya kepadanya. Ia
berkata, "Aku tak akan mengutamakan diriku atasmu untuk keluar bersama
Rasulullah." Maka Allah mencatatnya sebagai syahid.
7. Amr bin Al-Jamuh: Pincang yang Merindukan Surga
Amr bin Al-Jamuh adalah seorang yang pincang, sangat
pincang. Ia memiliki empat putra perkasa seperti singa yang selalu ikut serta
dalam peperangan bersama Rasulullah ﷺ. Pada Perang Uhud, mereka berusaha mencegahnya ikut serta.
"Allah telah memberimu udzur," kata mereka.
Amr datang menemui Nabi ﷺ dan berkata, "Anak-anakku ingin
mencegahku keluar bersamamu. Demi Allah, aku sangat berharap dapat menginjak
surga dengan kakiku yang pincang ini!"
Rasulullah ﷺ
bersabda:
«أَمَّا
أَنْتَ فَقَدْ عَذَرَكَ اللَّهُ فَلَا جِهَادَ عَلَيْكَ»
"Adapun engkau, Allah telah memberimu udzur, maka tidak ada kewajiban
jihad bagimu."
Kepada anak-anaknya, beliau bersabda:
«مَا
عَلَيْكُمْ أَنْ لَا تَمْنَعُوهُ لَعَلَّ اللَّهَ يَرْزُقُهُ الشَّهَادَةَ»
"Tidak mengapa jika kalian tidak mencegahnya, semoga Allah memberinya
syahid."
Amr pun ikut serta dan Allah mengabulkan harapannya.
8. Hanzhalah bin Abi Amir: Pemuda yang Dimandikan
Malaikat
Hanzhalah bin Abi Amir adalah pemuda yang baru saja menikah.
Ayahnya, Abu 'Amir, adalah seorang yang sangat memusuhi Rasulullah ﷺ—ia
bahkan dijuluki "al-fasiq" (si fasik). Namun Hanzhalah justru
termasuk Muslim terbaik.
Pada hari Uhud, ia bertemu dengan Abu Sufyan bin Harb. Saat
Hanzhalah hendak mengalahkannya, Syaddad bin Al-Aswad—yang dijuluki Ibn
Syu'ub—menerjang dan membunuhnya.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
«إِنَّ
صَاحِبَكُمْ تَغْسِلُهُ الْمَلَائِكَةُ، فَاسْأَلُوا أَهْلَهُ مَا شَأْنُهُ؟»
"Sesungguhnya sahabat kalian ini dimandikan oleh malaikat. Tanyakan
kepada istrinya, ada apa dengannya?"
Para sahabat bertanya kepada istrinya, Jamilah binti
Abdullah bin Ubay bin Salul. Ia berkata, "Ia keluar dalam keadaan junub
ketika mendengar seruan jihad."
Rasulullah ﷺ
bersabda:
«لِذَلِكَ
غَسَّلَتْهُ الْمَلَائِكَةُ»
"Karena itulah para malaikat memandikannya."
Setelah Hanzhalah gugur, ayahnya yang fasik itu datang dan
menendang jasadnya dengan kaki seraya berkata, "Bukankah aku telah
melarangmu dari tempat terbunuhmu ini? Demi Allah, engkau adalah orang yang
menyambung silaturahmi dan berbakti kepada orang tua." Entah apa jadinya
jika ia tidak berbakti kepada ayahnya itu? Namun cukup bagi Hanzhalah kemuliaan
ini: namanya harum semerbak mewangi sepanjang masa.
9. Abdullah bin Jubair: Komandan Pemanah yang Setia
Abdullah bin Jubair adalah komandan pasukan pemanah yang
ditempatkan di bukit. Ia terus mengingatkan anak buahnya akan pesan Rasulullah ﷺ.
Ia sendiri dan segelintir yang setia tetap bertahan hingga gugur sebagai
syuhada.
Korban di Pihak Musyrikin
Jumlah korban tewas di pihak musyrikin pada Perang Uhud
adalah dua puluh orang.
Sumber Kisah:
As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhau'il Quran was Sunnah

Komentar
Posting Komentar