Kisah Qazman, Mutilasi Hamzah, dan Turunnya Ayat Larangan Balas Dendam di Perang Uhud


Qazman: Pejuang Tangguh yang Berakhir di Neraka

Di tengah barisan kaum Muslimin yang berperang di jalan Allah, ada pula mereka yang berperang karena motivasi duniawi. Di antara mereka adalah seorang lelaki asing yang tidak diketahui asal-usulnya. Ia bernama Qazman.

Rasulullah pernah menyebutnya ketika namanya diutarakan di hadapan beliau:

«إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ»
"Sesungguhnya ia termasuk penghuni neraka."

Para sahabat tentu terkejut mendengar ini. Qazman dikenal sebagai pejuang tangguh. Pada Perang Uhud, ia bertempur dengan sangat gagah berani. Sendirian, ia berhasil membunuh delapan atau tujuh orang musyrikin. Keberaniannya luar biasa.

Namun luka-luka berat menghampirinya. Ia tergeletak, lalu dibawa ke perkampungan Bani Zhafar. Para sahabat datang menjenguk dan berkata, "Demi Allah, sungguh engkau telah berjuang dengan gemilang hari ini, wahai Qazman. Berbahagialah!"

Qazman justru menjawab dengan nada sinis, "Dengan apa aku harus berbahagia? Demi Allah, aku berperang hanyalah karena membela kehormatan kaumku. Seandainya bukan karena itu, aku tidak akan berperang!"

Saat lukanya semakin parah dan rasa sakit tak tertahankan, Qazman mengambil anak panah dari tabungnya. Dengan tangannya sendiri, ia menusukkannya ke tubuhnya. Bunuh diri.

Maka terbuktilah sabda Rasulullah . Akhir hidupnya adalah kerugian. Jiwanya melayang menuju neraka, karena ia membunuh dirinya sendiri. Sebuah pengingat bahwa amal lahiriah tidak berarti tanpa niat yang tulus karena Allah.


Keganasan Wanita Quraisy: Mutilasi di Medan Uhud

Saat kekalahan menimpa kaum Muslimin akibat pelanggaran pasukan pemanah, keganasan kaum musyrikin meledak tanpa kendali. Hindun binti Utbah dan para wanita yang menyertainya melesat menuju jasad-jasad para syuhada.

Mereka melampiaskan dendam dan kebencian dengan cara yang sangat biadab. Telinga dan hidung dipotong. Perut dibedah. Hindun sendiri membedah perut Hamzah bin Abdul Muthalib—pemimpin para syuhada—dan mengeluarkan hatinya. Ia mencoba mengunyahnya, namun tak sanggup menelannya. Hati itu akhirnya dimuntahkan kembali.

Betapa keji perbuatan mereka. Mereka lupa bagaimana Rasulullah dan kaum Muslimin memperlakukan jenazah musuh di Perang Badar. Beliau memerintahkan untuk menguburkan mereka, tidak membiarkan bangkai mereka dimakan binatang buas, apalagi sampai memutilasi. Sungguh jauh berbeda dua perlakuan ini.

Hindun membuat gelang, anting-anting, dan kalung dari potongan telinga dan hidung para syuhada. Ia berikan semua perhiasan itu kepada Wahshi—pembunuh Hamzah—sebagai hadiah atas kejahatan kejinya.

Bahkan Abu Sufyan bin Harb, panglima Quraisy, berjalan mendekati jasad Hamzah. Ia menusuk-nusuk mulut Hamzah yang telah syahid dengan ujung tombaknya sambil berkata, "Rasakanlah, wahai pemberontak!"

Al-Hulais bin Zubban, pemimpin Al-Ahabisy yang saat itu bersama pasukan Quraisy, kebetulan lewat dan melihat perbuatan Abu Sufyan. Ia berkata dengan nada mencela, "Wahai Bani Kinanah, beginikah cara pemimpin Quraisy memperlakukan anak pamannya? Ia sudah menjadi mayat tak berdaya!"

Abu Sufyan tersadar. Ia segera berkata, "Celaka engkau, rahasiakanlah ini. Sungguh, ini hanya sebuah ketergelinciran."


Kesedihan Rasul di Hadapan Jasad Paman Tercinta

Rasulullah berjalan di medan Uhud, mencari dan menghitung para syuhada. Namun satu sosok yang paling beliau cari adalah pamannya, Hamzah bin Abdul Muthalib.

Betapa hancur hati beliau saat menemukan jasad Hamzah dalam keadaan termutilasi. Perutnya telah dibedah, hatinya dikeluarkan, hidung dan telinganya dipotong.

Rasulullah berdiri di hadapan jasad pamannya. Dari bibir mulia beliau terucap kata-kata yang sarat kesedihan:

«لَنْ أُصَابَ بِمِثْلِكَ أَبَدًا، وَمَا وَقَفْتُ قَطُّ مَوْقِفًا أَغَيْظَ عَلَيَّ مِنْ هَذَا»
"Aku takkan pernah tertimpa musibah sepertimu selamanya. Tidak pernah aku berada dalam situasi yang lebih membuatku marah daripada saat ini."

Kemudian beliau bersabda:

«وَلَئِنْ أَظْهَرَنِي اللَّهُ عَلَى قُرَيْشٍ فِي مَوْطِنٍ مِنَ الْمَوَاطِنِ لَأُمَثِّلَنَّ بِثَلَاثِينَ رَجُلًا مِنْهُمْ مَكَانَكَ»
"Sungguh, jika Allah memenangkanku atas Quraish di suatu tempat, niscaya akan aku membalas tiga puluh orang mereka sebagai balasan atasmu."

Mendengar ucapan Rasulullah yang penuh kesedihan itu, para sahabat ikut tersulut emosi. Mereka berkata, "Demi Allah, jika suatu hari Allah memenangkan kita atas mereka, kita akan melakukan pembalasan yang belum pernah dilakukan siapa pun dari Arab!"


Wahyu Turun: Keadilan dalam Pembalasan

Namun tidak lama setelah itu, wahyu turun membawa petunjuk dari Allah. Firman-Nya mengajarkan keadilan dalam pembalasan, dan menganjurkan kesabaran serta memaafkan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ ۖ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ. وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ. إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ
"Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang setimpal dengan apa yang telah ditimpakan kepadamu. Akan tetapi, jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Dan bersabarlah (wahai Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah. Janganlah engkau bersedih terhadap mereka dan janganlah engkau bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan."
(QS. An-Nahl: 126-128)

Maka Rasulullah pun memaafkan. Beliau bersabar, membayar kafarat atas sumpahnya, dan melarang praktik mutilasi.

Samurah bin Jundub meriwayatkan:

«مَا قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَقَامٍ قَطُّ فَفَارَقَهُ، حَتَّى يَأْمُرَنَا بِالصَّدَقَةِ وَيَنْهَانَا عَنِ الْمُثْلَةِ»
"Tidaklah Rasulullah berdiri di suatu tempat lalu meninggalkannya, melainkan beliau memerintahkan kami untuk bersedekah dan melarang kami dari mutilasi."

Janganlah keliru jika ayat-ayat ini berada dalam Surat An-Nahl yang termasuk surat Makkiyah. Sebagian ulama berpendapat bahwa surat ini Makkiyah, kecuali ayat-ayat di bagian akhir ini yang turun di Madinah. Pendapat lain mengatakan seluruh surat ini Makkiyah, namun ayat-ayat ini turun berulang sesuai dengan peristiwa dan kebutuhan, sebagai pengingat akan adab Islam yang luhur ini.

Adab yang diajarkan Islam ini sungguh tinggi. Keadilan harus ditegakkan saat meraih kemenangan. Jangan sampai hawa nafsu mengendalikan, atau berlebihan dalam balas dendam. Inilah nilai-nilai Islam yang bahkan peradaban abad kedua puluh pun belum mampu mencapainya.


Sumber Kisah:
As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhau'il Quran was Sunnah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rihlah Ibnu Battutah #59 : Dari Khawarizmi ke Bukhara

Rihlah Ibnu Bathutah #60 : Dari Reruntuhan Bukhara hingga Kelahiran Putri di Padang Stepa

Kisah Keberanian Sahabat di Perang Uhud: Thalhah, Nusaibah, dan Para Pejuang Wanita