Keteguhan Nabi di Perang Uhud: Luka, Doa, dan Perlindungan Allah
Keteguhan Rasul di Tengah Badai
Rasulullah ﷺ
berdiri tegak bagaikan gunung yang kokoh. Di sekeliling beliau, pasukan
musyrikin mengitari dari segala penjuru, namun beliau tetap bertahan,
mempertahankan diri dengan keberanian yang luar biasa. Di tengah hiruk-pikuk
pertempuran, suara beliau terdengar menyeru:
«إِلَيَّ
عِبَادَ اللَّهِ، إِلَيَّ عِبَادَ اللَّهِ»
"Kemarilah, wahai hamba-hamba Allah! Kemarilah, wahai hamba-hamba
Allah!"
Seruan itu bagaikan magnet yang menarik mereka yang
sebelumnya terpencar karena isu kematian beliau. Mereka yang tadinya duduk
berputus asa, mereka yang bertempur sendiri-sendiri di antara barisan,
berangsur-angsur kembali berkumpul. Hingga terbentuklah sekelompok sahabat
setia yang memagari Rasulullah ﷺ.
Dengan perlindungan para sahabat, beliau bergerak menuju
sebuah batu besar di lereng bukit. Orang pertama yang mengenali Rasulullah ﷺ
setelah isu kematian beliau merebak adalah Ka'ab bin Malik. Ia melihat kedua
mata beliau yang bersinar dari balik helm perang. Spontan ia berseru,
"Wahai kaum Muslimin, bergembiralah! Ini Rasulullah!"
Namun Rasulullah ﷺ memberi isyarat agar ia diam. Itulah kebijaksanaan agung dari
beliau. Isu kematian beliau ternyata membuat musuh mengendurkan serangan. Jika
mereka tahu beliau masih hidup, tentu mereka akan kembali dengan ganas mencoba
membunuhnya.
Namun tak lama kemudian, kabar itu menyebar juga di kalangan
Muslimin. Semangat yang tadinya melemah kembali membara. Barisan yang
kucar-kacir mulai tersusun lagi. Rasulullah ﷺ hendak memanjat batu besar di celah bukit
itu, namun tubuh mulia beliau terlalu lemah karena banyaknya darah yang
mengalir dari luka-luka. Maka Thalhah bin Ubaidillah duduk di bawah beliau,
mengangkatnya hingga beliau bisa berdiri tegak di atas batu.
Melihat keteguhan dan pengorbanan Thalhah, Rasulullah ﷺ
bersabda:
«أَوْجَبَ
طَلْحَةُ»
"Thalhah telah mewajibkan (surga) untuk dirinya."
Dari atas bukit, Rasulullah ﷺ melihat sekelompok musuh, termasuk Khalid
bin Walid, berada di puncak bukit. Beliau bersabda, "Tidak sepatutnya
mereka berada di atas kita." Maka beliau mengirim Umar bin Khattab bersama
beberapa orang Muhajirin untuk menghadang mereka. Mereka bertempur hingga
berhasil mengusir musuh turun dari bukit. Ini membuktikan bahwa meskipun
terluka dan menderita kekalahan, kaum Muslimin masih memiliki kekuatan dan
ketahanan yang luar biasa.
Luka-Luka di Tubuh Mulia
Pertempuran hari itu meninggalkan bekas yang dalam di tubuh
Rasulullah ﷺ.
Utbah bin Abi Waqqash melempari beliau hingga gigi seri kanan bawah beliau
patah dan bibir bawahnya terluka. Kelak, Sa'ad bin Abi Waqqash—saudara kandung
Utbah—berkata, "Aku tidak pernah begitu menginginkan kematian seseorang
seperti keinginanku membunuh Utbah." Dan cukuplah doa Rasulullah ﷺ
menjadi balasan baginya:
«اشْتَدَّ
غَضَبُ اللَّهِ عَلَى مَنْ دَمَّى وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ»
"Sangatlah dahsyat kemurkaan Allah atas orang yang melukai wajah
Rasulullah."
Doa itu tidak butuh waktu setahun untuk terkabul. Utbah mati
dalam keadaan kafir.
Abdullah bin Syihab juga melukai dahi Rasulullah ﷺ.
Sementara Ibnu Qumiah—semoga Allah menghinakannya—melukai pipi beliau hingga
dua lingkaran besi dari helm tertancap di sana. Balasan Allah untuknya sungguh
mengerikan. Ketika ia kembali ke Mekah dan pergi ke tempat kambingnya di puncak
gunung, seekor kambing jantan menyeruduknya hingga jatuh dari tebing. Tubuhnya
tercerai-berai.
Abu 'Amir al-Fasiq—si fasik—telah menggali lubang-lubang
perangkap dan menutupinya dengan ranting. Ia berharap kaum Muslimin terperosok
ke dalamnya. Rasulullah ﷺ
sendiri jatuh ke salah satu lubang itu. Namun dengan sigap, Ali bin Abi Thalib
meraih tangan beliau, sementara Thalhah mengangkat dari belakang hingga beliau
bisa berdiri kembali.
Lalu muncullah Ubay bin Khalaf. Ia datang dengan mengenakan
baju besi tertutup, berteriak, "Mana Muhammad? Demi Allah, jika ia
selamat, aku tidak akan selamat!" Para sahabat berkata, "Wahai
Rasulullah, izinkan salah seorang dari kami menyerangnya." Namun
Rasulullah ﷺ
bersabda, "Biarkan dia."
Ketika Ubay semakin dekat, Rasulullah ﷺ mengambil tombak dari
tangan Al-Harits bin Ash-Shammah. Perawi berkata: "Saat Rasulullah ﷺ
mengambil tombak itu, beliau mengguncangkan badannya dengan sekali guncangan
hingga kami semua berhamburan bagaikan bulu-bulu yang beterbangan dari punggung
unta yang berguncang."
Kemudian beliau menghadang Ubay dan menusuk lehernya dengan
sekali tusukan. Ubay terjungkal dari kudanya, merintih seperti sapi yang
disembelih. Ia mati di Saraf—sebuah tempat dekat Tan'im—saat pasukan musyrikin
dalam perjalanan pulang ke Mekah. Cukuplah baginya sabda Rasulullah ﷺ:
«اشْتَدَّ
غَضَبُ اللَّهِ عَلَى رَجُلٍ قَتَلَهُ رَسُولُ اللَّهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ»
"Sangatlah dahsyat kemurkaan Allah atas seorang laki-laki yang dibunuh
oleh Rasulullah di jalan Allah."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dengan penuh kehati-hatian mencoba
mengeluarkan dua lingkaran besi yang tertancap di wajah Rasulullah ﷺ.
Ia tidak tega menggunakan tangannya karena khawatir akan menyakiti beliau. Maka
ia menggigit salah satu lingkaran itu dengan giginya dan menariknya keluar.
Sebuah gigi serinya ikut tercabut. Ia melakukan hal yang sama pada lingkaran
kedua, dan gigi seri lainnya pun ikut lepas. Sejak hari itu, Abu Ubaidah
dikenal sebagai orang yang paling indah ompongnya.
Sementara itu, Malik bin Sinan—ayah Abu Sa'id
Al-Khudri—menghisap darah yang mengalir dari wajah Rasulullah ﷺ, lalu menelannya.
Melihat itu, Rasulullah ﷺ
bersabda:
«مَنْ
مَسَّ دَمِي دَمُهُ لَمْ تُصِبْهُ النَّارُ»
"Barangsiapa yang darahnya bercampur dengan darahku, maka neraka tidak
akan menyentuhnya."
Ali dan Fatimah: Perawat di Medan Perang
Di tengah kekacauan yang mereda, Ali bin Abi Thalib dan
istrinya, Fatimah Az-Zahra—puteri Rasulullah ﷺ—merawat luka-luka beliau. Ali menuangkan
air dari perisai, sementara Fatimah membasuh darah yang mengalir. Namun ketika
Fatimah melihat air justru membuat darah semakin deras mengucur, ia mengambil
sepotong tikar, membakarnya, lalu menempelkan abunya pada luka. Darah pun
berhenti mengalir.
Di saat-saat pilu itu, dengan darah masih mengalir di
wajahnya, Rasulullah ﷺ
bersabda:
«كَيْفَ
يُفْلِحُ قَوْمٌ شَجُّوا وَجْهَ نَبِيِّهِمْ، وَكَسَرُوا رَبَاعِيَتَهُ، وَهُوَ
يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ؟»
"Bagaimana mungkin suatu kaum akan beruntung, mereka melukai wajah nabi
mereka, mematahkan giginya, padahal ia menyeru mereka kepada Allah?"
Maka Allah menurunkan firman-Nya:
لَيْسَ
لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ
فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ
"Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu, atau
Allah menerima tobat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka
itu orang-orang yang zalim."
(QS. Ali 'Imran: 128)
Maka Nabi ﷺ
pun bersabar dan menerima ketetapan Allah.
Sungguh, keteguhan Nabi ﷺ pada hari itu adalah sebuah kepahlawanan
yang luar biasa. Sebuah keteguhan yang hanya mungkin dimiliki oleh seorang nabi
yang menerima wahyu. Seandainya beliau tidak bertahan, para pahlawan tidak akan
pernah berkumpul kembali mengelilingi sang pahlawan sejati. Dan kekalahan itu
pasti akan menjadi kekalahan yang menghancurkan dan meluluhlantakkan.
Sumber Kisah:
As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhau'il Quran was Sunnah

Komentar
Posting Komentar