Keteguhan Nabi di Perang Uhud: Luka, Doa, dan Perlindungan Allah

Ilustrasi pertempuran di lereng Bukit Uhud. Sekelompok pejuang Muslim dengan pakaian perang abad ke-7, dipimpin seorang figur tegap (Umar bin Khattab), mendaki lereng berbatu sambil bertempur melawan pasukan musuh yang mencoba bertahan di posisi lebih tinggi. Di antara musuh, terlihat seorang komandan berkuda (Khalid bin Walid) mulai terdesak mundur. Debu beterbangan, langit sore keemasan menciptakan nuansa epik. Beberapa pejuang Muslim terlihat memiliki luka dan perban darurat.

Keteguhan Rasul di Tengah Badai

Rasulullah berdiri tegak bagaikan gunung yang kokoh. Di sekeliling beliau, pasukan musyrikin mengitari dari segala penjuru, namun beliau tetap bertahan, mempertahankan diri dengan keberanian yang luar biasa. Di tengah hiruk-pikuk pertempuran, suara beliau terdengar menyeru:

«إِلَيَّ عِبَادَ اللَّهِ، إِلَيَّ عِبَادَ اللَّهِ»
"Kemarilah, wahai hamba-hamba Allah! Kemarilah, wahai hamba-hamba Allah!"

Seruan itu bagaikan magnet yang menarik mereka yang sebelumnya terpencar karena isu kematian beliau. Mereka yang tadinya duduk berputus asa, mereka yang bertempur sendiri-sendiri di antara barisan, berangsur-angsur kembali berkumpul. Hingga terbentuklah sekelompok sahabat setia yang memagari Rasulullah .

Dengan perlindungan para sahabat, beliau bergerak menuju sebuah batu besar di lereng bukit. Orang pertama yang mengenali Rasulullah setelah isu kematian beliau merebak adalah Ka'ab bin Malik. Ia melihat kedua mata beliau yang bersinar dari balik helm perang. Spontan ia berseru, "Wahai kaum Muslimin, bergembiralah! Ini Rasulullah!"

Namun Rasulullah memberi isyarat agar ia diam. Itulah kebijaksanaan agung dari beliau. Isu kematian beliau ternyata membuat musuh mengendurkan serangan. Jika mereka tahu beliau masih hidup, tentu mereka akan kembali dengan ganas mencoba membunuhnya.

Namun tak lama kemudian, kabar itu menyebar juga di kalangan Muslimin. Semangat yang tadinya melemah kembali membara. Barisan yang kucar-kacir mulai tersusun lagi. Rasulullah hendak memanjat batu besar di celah bukit itu, namun tubuh mulia beliau terlalu lemah karena banyaknya darah yang mengalir dari luka-luka. Maka Thalhah bin Ubaidillah duduk di bawah beliau, mengangkatnya hingga beliau bisa berdiri tegak di atas batu.

Melihat keteguhan dan pengorbanan Thalhah, Rasulullah bersabda:

«أَوْجَبَ طَلْحَةُ»
"Thalhah telah mewajibkan (surga) untuk dirinya."

Dari atas bukit, Rasulullah melihat sekelompok musuh, termasuk Khalid bin Walid, berada di puncak bukit. Beliau bersabda, "Tidak sepatutnya mereka berada di atas kita." Maka beliau mengirim Umar bin Khattab bersama beberapa orang Muhajirin untuk menghadang mereka. Mereka bertempur hingga berhasil mengusir musuh turun dari bukit. Ini membuktikan bahwa meskipun terluka dan menderita kekalahan, kaum Muslimin masih memiliki kekuatan dan ketahanan yang luar biasa.


Luka-Luka di Tubuh Mulia

Pertempuran hari itu meninggalkan bekas yang dalam di tubuh Rasulullah . Utbah bin Abi Waqqash melempari beliau hingga gigi seri kanan bawah beliau patah dan bibir bawahnya terluka. Kelak, Sa'ad bin Abi Waqqash—saudara kandung Utbah—berkata, "Aku tidak pernah begitu menginginkan kematian seseorang seperti keinginanku membunuh Utbah." Dan cukuplah doa Rasulullah menjadi balasan baginya:

«اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى مَنْ دَمَّى وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ»
"Sangatlah dahsyat kemurkaan Allah atas orang yang melukai wajah Rasulullah."

Doa itu tidak butuh waktu setahun untuk terkabul. Utbah mati dalam keadaan kafir.

Abdullah bin Syihab juga melukai dahi Rasulullah . Sementara Ibnu Qumiah—semoga Allah menghinakannya—melukai pipi beliau hingga dua lingkaran besi dari helm tertancap di sana. Balasan Allah untuknya sungguh mengerikan. Ketika ia kembali ke Mekah dan pergi ke tempat kambingnya di puncak gunung, seekor kambing jantan menyeruduknya hingga jatuh dari tebing. Tubuhnya tercerai-berai.

Abu 'Amir al-Fasiq—si fasik—telah menggali lubang-lubang perangkap dan menutupinya dengan ranting. Ia berharap kaum Muslimin terperosok ke dalamnya. Rasulullah sendiri jatuh ke salah satu lubang itu. Namun dengan sigap, Ali bin Abi Thalib meraih tangan beliau, sementara Thalhah mengangkat dari belakang hingga beliau bisa berdiri kembali.

Lalu muncullah Ubay bin Khalaf. Ia datang dengan mengenakan baju besi tertutup, berteriak, "Mana Muhammad? Demi Allah, jika ia selamat, aku tidak akan selamat!" Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, izinkan salah seorang dari kami menyerangnya." Namun Rasulullah bersabda, "Biarkan dia."

Ketika Ubay semakin dekat, Rasulullah mengambil tombak dari tangan Al-Harits bin Ash-Shammah. Perawi berkata: "Saat Rasulullah mengambil tombak itu, beliau mengguncangkan badannya dengan sekali guncangan hingga kami semua berhamburan bagaikan bulu-bulu yang beterbangan dari punggung unta yang berguncang."

Kemudian beliau menghadang Ubay dan menusuk lehernya dengan sekali tusukan. Ubay terjungkal dari kudanya, merintih seperti sapi yang disembelih. Ia mati di Saraf—sebuah tempat dekat Tan'im—saat pasukan musyrikin dalam perjalanan pulang ke Mekah. Cukuplah baginya sabda Rasulullah :

«اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى رَجُلٍ قَتَلَهُ رَسُولُ اللَّهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ»
"Sangatlah dahsyat kemurkaan Allah atas seorang laki-laki yang dibunuh oleh Rasulullah di jalan Allah."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dengan penuh kehati-hatian mencoba mengeluarkan dua lingkaran besi yang tertancap di wajah Rasulullah . Ia tidak tega menggunakan tangannya karena khawatir akan menyakiti beliau. Maka ia menggigit salah satu lingkaran itu dengan giginya dan menariknya keluar. Sebuah gigi serinya ikut tercabut. Ia melakukan hal yang sama pada lingkaran kedua, dan gigi seri lainnya pun ikut lepas. Sejak hari itu, Abu Ubaidah dikenal sebagai orang yang paling indah ompongnya.

Sementara itu, Malik bin Sinan—ayah Abu Sa'id Al-Khudri—menghisap darah yang mengalir dari wajah Rasulullah , lalu menelannya. Melihat itu, Rasulullah bersabda:

«مَنْ مَسَّ دَمِي دَمُهُ لَمْ تُصِبْهُ النَّارُ»
"Barangsiapa yang darahnya bercampur dengan darahku, maka neraka tidak akan menyentuhnya."


Ali dan Fatimah: Perawat di Medan Perang

Di tengah kekacauan yang mereda, Ali bin Abi Thalib dan istrinya, Fatimah Az-Zahra—puteri Rasulullah —merawat luka-luka beliau. Ali menuangkan air dari perisai, sementara Fatimah membasuh darah yang mengalir. Namun ketika Fatimah melihat air justru membuat darah semakin deras mengucur, ia mengambil sepotong tikar, membakarnya, lalu menempelkan abunya pada luka. Darah pun berhenti mengalir.

Di saat-saat pilu itu, dengan darah masih mengalir di wajahnya, Rasulullah bersabda:

«كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ شَجُّوا وَجْهَ نَبِيِّهِمْ، وَكَسَرُوا رَبَاعِيَتَهُ، وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ؟»
"Bagaimana mungkin suatu kaum akan beruntung, mereka melukai wajah nabi mereka, mematahkan giginya, padahal ia menyeru mereka kepada Allah?"

Maka Allah menurunkan firman-Nya:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ
"Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu, atau Allah menerima tobat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim."
(QS. Ali 'Imran: 128)

Maka Nabi pun bersabar dan menerima ketetapan Allah.

Sungguh, keteguhan Nabi pada hari itu adalah sebuah kepahlawanan yang luar biasa. Sebuah keteguhan yang hanya mungkin dimiliki oleh seorang nabi yang menerima wahyu. Seandainya beliau tidak bertahan, para pahlawan tidak akan pernah berkumpul kembali mengelilingi sang pahlawan sejati. Dan kekalahan itu pasti akan menjadi kekalahan yang menghancurkan dan meluluhlantakkan.


Sumber Kisah:
As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhau'il Quran was Sunnah

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peristiwa-Peristiwa di Tahun ke-3 Hijriah

Rihlah Ibnu Baathutah #57 : Dari As-Sarā ke Khawarizmi

Rihlah Ibnu Bathutah #56 : Konstantinopel, Sarā Barkah dan Sultan Uzbak