Kemenangan Ahlus Sunnah di Herat: Kisah Sultan Hussein dan Kehancuran Pasukan Rafidhah

pertempuran dahsyat di padang Busyinj antara pasukan Sultan Husain dari Herat (120.000 prajurit Ahlus Sunnah) melawan pasukan Rafidhah pimpinan Mas'ud (150.000 pasukan berkuda). Sultan Mas'ud melarikan diri, Khalifah Hasan bertahan hingga gugur. Sultan Husain berdiri di bukit kecil menyaksikan pertempuran.

Seorang Sultan Pemberani dari Herat

Saat aku tiba di Herat, aku mendengar banyak cerita tentang penguasanya, Sultan Husain bin Ghiyatsuddin al-Ghuri. Ia adalah sultan agung yang terkenal dengan keberaniannya yang luar biasa. Dua peristiwa ajaib dalam hidupnya membuat siapa pun yang mendengar takjub.

Pertama, saat pasukannya bertemu dengan pasukan Sultan Khalil—yang pernah kubagi kisahnya sebelumnya—yang telah berkhianat dan menyerangnya. Akhir dari pertempuran itu adalah Khalil sendiri menjadi tawanan di tangannya.

Kedua, saat ia langsung berhadapan dengan Mas'ud, pemimpin kaum Rafidhah (Syiah ekstrem). Hasilnya? Pasukan Mas'ud hancur berantakan, ia sendiri melarikan diri, dan kerajaannya lenyap.

Sultan Husain naik takhta setelah kakaknya yang dikenal dengan julukan Al-Hafizh, dan setelah ayahnya, Sultan Ghiyatsuddin.


Tujuh Perampok yang Menjadi Penguasa

Sebelum sampai pada pertempuran besar itu, aku perlu bercerita tentang asal-usul kekacauan yang melanda Khurasan.

Di Khurasan hiduplah dua orang pemuda bernama Mas'ud dan Muhammad. Mereka memiliki lima orang sahabat. Ketujuh orang ini adalah perampok ulung—di Irak mereka disebut syaththār (penjahat jalanan), di Khurasan mereka dikenal dengan sebutan Sarbadārān, dan di Irak juga kadang dijuluki ṣuqūr (elang-elang).

Mereka sepakat untuk berbuat kerusakan: merampok, menyamun, dan merampas harta orang. Kabar perbuatan mereka menyebar luas. Mereka bersembunyi di sebuah gunung yang sulit dijangkau dekat kota Baihaq (yang juga disebut Sīzar). Siang hari mereka mengintai, malam dan senja mereka turun menyerang desa-desa, merampok kafilah, dan mengambil harta.

Lambat laun, orang-orang jahat dan perusak sejenis mereka berdatangan. Jumlah mereka bertambah, kekuatan mereka menguat. Penduduk pun ketakutan.

Mereka kemudian menyerang kota Baihaq dan menguasainya. Satu per satu kota lain jatuh ke tangan mereka. Harta melimpah, pasukan dibentuk, kuda-kuda dikendarai. Mas'ud mengangkat dirinya sebagai Sultan.

Para budak mulai melarikan diri dari tuan mereka dan bergabung dengan Mas'ud. Setiap budak yang datang diberi kuda dan harta. Jika terlihat keberaniannya, ia diangkat menjadi pemimpin kelompok. Pasukannya membesar, kekuasaannya meluas.


Api Fitnah yang Membesar

Seluruh pengikut Mas'ud menganut mazhab Rafidhah (Syiah). Ambisi mereka semakin menjadi: mereka ingin membasmi Ahlus Sunnah di seluruh Khurasan dan menjadikannya negeri satu mazhab Rafidhah.

Di Masyhad Thūs, ada seorang tokoh Rafidhah yang mereka anggap saleh bernama Hasan. Ia mendukung gerakan mereka, dan mereka mengangkatnya sebagai Khalifah. Hasan memerintahkan mereka untuk menegakkan keadilan—dan sungguh menakjubkan, di perkemahan mereka, keadilan benar-benar ditegakkan. Uang logam dirham dan dinar yang jatuh di tanah tidak akan dipungut siapa pun, kecuali pemiliknya datang dan mengambilnya kembali.

Mereka berhasil menguasai Naisabur. Penguasa Mongol, Thughaytimur, mengirim pasukan besar, namun berhasil mereka kalahkan. Ia mengirim lagi pasukan di bawah pimpinan wakilnya, Arghun Syah, namun mereka kalah dan Arghun Syah sendiri tertawan—meski akhirnya dibebaskan tanpa syarat.

Thughaytimur murka. Ia sendiri memimpin lima puluh ribu pasukan Tartar menyerang mereka. Lagi-lagi, mereka menang. Negeri-negeri pun jatuh: SarakhsAz-Zawā, dan Thūs—salah satu kota terbesar di Khurasan—berhasil mereka kuasai. Khalifah mereka, Hasan, berkedudukan di Masyhad Ali bin Musa ar-Ridha.

Mereka kemudian menguasai kota Al-Jām, dan berkemah di luar kota itu, bersiap menyerang Herat yang berjarak enam hari perjalanan.


Keputusan Berani Sultan Herat

Ketika kabar ini sampai ke telinga Sultan Husain, ia segera mengumpulkan para amir, pasukan, dan tokoh-tokoh kota. Ia bermusyawarah: "Haruskah kita diam di kota menunggu mereka datang, ataukah kita keluar menjemput dan menyerang lebih dulu?"

Semua sepakat: keluar dan serang mereka.

Pasukan Sultan Husain terdiri dari satu suku yang disebut Al-Ghūriyyah. Konon mereka berasal dari Ghūr di Syam (Suriah), dan dari sanalah nama mereka berasal. Mereka semua bersiap dari berbagai penjuru. Mereka tinggal di desa-desa dan di padang Marghīs (Badghis)—padang rumput seluas empat hari perjalanan yang selalu hijau, tempat ternak dan kuda mereka merumput. Pohon paling banyak di sana adalah pistachio, yang kemudian diekspor ke Irak.

Penduduk kota Samanan juga membantu mereka.

Mereka bergerak menuju pasukan Rafidhah. Pasukan Sultan Husain berjumlah seratus dua puluh ribu prajurit, baik pejalan kaki maupun berkuda, dipimpin langsung oleh Sultan.

Sementara pasukan Rafidhah berkumpul dalam jumlah seratus lima puluh ribu pasukan berkuda, dipimpin oleh Sultan Mas'ud dan Khalifah Hasan.


Pertempuran di Padang Busyinj

Kedua pasukan bertemu di padang Busyinj.

Keduanya sama-sama bertahan dengan gigih. Namun akhirnya, kekalahan berpihak pada pasukan Rafidhah. Sultan Mas'ud melarikan diri. Khalifah Hasan bertahan dengan dua puluh ribu pasukannya—hingga ia gugur, begitu pula sebagian besar pasukannya. Sekitar empat ribu orang berhasil ditawan.

Seseorang yang hadir dalam pertempuran itu bercerita kepadaku: "Pertempuran dimulai waktu Dhuha. Saat matahari tergelincir (waktu Zuhur), pasukan Rafidhah sudah hancur berkeping-keping."

Sultan Husain turun dari kudanya setelah waktu Zuhur, shalat, lalu hidangan makanan dihidangkan. Ia dan para pembesar makan, sementara di sekitar mereka, para prajurit lainnya memenggal leher para tawanan.

Sebuah pemandangan yang mengerikan, namun begitulah cara mereka memastikan fitnah ini benar-benar padam.

Sultan kembali ke ibu kotanya setelah kemenangan besar ini. Allah telah memenangkan Ahlus Sunnah melalui tangannya, dan memadamkan api fitnah.

Peristiwa ini terjadi pada tahun 748 Hijriah, setelah aku meninggalkan India.


Sebuah Gerakan Amar Makruf yang Berani

Di Herat, aku juga mendengar tentang seorang zahid besar bernama Nizhamuddin Maulana. Ia sangat dicintai penduduk Herat. Setiap kata-katanya didengar, setiap nasihatnya diikuti. Ia sering memperingatkan mereka dan mengingatkan mereka kepada Allah.

Bersama dengannya, penduduk Herat—termasuk khatib kota yang dikenal dengan julukan Malik Warna (sepupu Sultan Husain, juga suami dari ibu tiri Sultan)—berkomitmen untuk mengubah setiap kemungkaran. Mereka bersumpah akan melakukannya bersama-sama. Sultan sendiri merasa takut kepada Malik Warna, karena ia sangat berani dan istrinya (ibu tiri Sultan) adalah wanita tercantik dengan akhlak terbaik—namun itu cerita lain.

Setiap kali mereka mengetahui adanya kemungkaran, bahkan jika itu terjadi di istana Sultan, mereka akan mendatanginya dan mengubahnya.

Suatu hari, mereka mendengar bahwa di dalam istana Sultan Husain terjadi sebuah kemungkaran. Enam ribu orang berkumpul di depan pintu istana, siap masuk dan mengubahnya. Sultan ketakutan. Ia segera memanggil para faqih dan tokoh kota.

Ternyata, Sultan telah meminum khamar (minuman keras).

Maka, di dalam istananya sendiri, mereka menegakkan hukuman had atas dirinya. Sultan dicambuk. Setelah itu, mereka pun pergi.

Sebuah negeri yang luar biasa. Di mana rakyatnya berani menegakkan kebenaran, bahkan di hadapan penguasa mereka sendiri.


Sumber Kisah:
Rihlah Ibnu Battutah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rihlah Ibnu Battutah #59 : Dari Khawarizmi ke Bukhara

Rihlah Ibnu Bathutah #60 : Dari Reruntuhan Bukhara hingga Kelahiran Putri di Padang Stepa

Nabi Hūd, Kaum ‘Ād, dan Jejaknya dalam Sejarah Arab Pra Islam