Kemenangan Ahlus Sunnah di Herat: Kisah Sultan Hussein dan Kehancuran Pasukan Rafidhah
Seorang Sultan Pemberani dari Herat
Saat aku tiba di Herat, aku mendengar banyak cerita tentang
penguasanya, Sultan Husain bin Ghiyatsuddin al-Ghuri. Ia adalah
sultan agung yang terkenal dengan keberaniannya yang luar biasa. Dua peristiwa
ajaib dalam hidupnya membuat siapa pun yang mendengar takjub.
Pertama, saat pasukannya bertemu dengan pasukan Sultan
Khalil—yang pernah kubagi kisahnya sebelumnya—yang telah berkhianat dan
menyerangnya. Akhir dari pertempuran itu adalah Khalil sendiri menjadi tawanan
di tangannya.
Kedua, saat ia langsung berhadapan dengan Mas'ud,
pemimpin kaum Rafidhah (Syiah ekstrem). Hasilnya? Pasukan Mas'ud hancur
berantakan, ia sendiri melarikan diri, dan kerajaannya lenyap.
Sultan Husain naik takhta setelah kakaknya yang dikenal
dengan julukan Al-Hafizh, dan setelah ayahnya, Sultan Ghiyatsuddin.
Tujuh Perampok yang Menjadi Penguasa
Sebelum sampai pada pertempuran besar itu, aku perlu
bercerita tentang asal-usul kekacauan yang melanda Khurasan.
Di Khurasan hiduplah dua orang pemuda bernama Mas'ud dan Muhammad.
Mereka memiliki lima orang sahabat. Ketujuh orang ini adalah perampok ulung—di
Irak mereka disebut syaththār (penjahat jalanan), di Khurasan
mereka dikenal dengan sebutan Sarbadārān, dan di Irak juga kadang
dijuluki ṣuqūr (elang-elang).
Mereka sepakat untuk berbuat kerusakan: merampok, menyamun,
dan merampas harta orang. Kabar perbuatan mereka menyebar luas. Mereka
bersembunyi di sebuah gunung yang sulit dijangkau dekat kota Baihaq (yang
juga disebut Sīzar). Siang hari mereka mengintai, malam dan senja
mereka turun menyerang desa-desa, merampok kafilah, dan mengambil harta.
Lambat laun, orang-orang jahat dan perusak sejenis mereka
berdatangan. Jumlah mereka bertambah, kekuatan mereka menguat. Penduduk pun
ketakutan.
Mereka kemudian menyerang kota Baihaq dan menguasainya. Satu
per satu kota lain jatuh ke tangan mereka. Harta melimpah, pasukan dibentuk,
kuda-kuda dikendarai. Mas'ud mengangkat dirinya sebagai Sultan.
Para budak mulai melarikan diri dari tuan mereka dan
bergabung dengan Mas'ud. Setiap budak yang datang diberi kuda dan harta. Jika
terlihat keberaniannya, ia diangkat menjadi pemimpin kelompok. Pasukannya
membesar, kekuasaannya meluas.
Api Fitnah yang Membesar
Seluruh pengikut Mas'ud menganut mazhab Rafidhah (Syiah).
Ambisi mereka semakin menjadi: mereka ingin membasmi Ahlus Sunnah di seluruh
Khurasan dan menjadikannya negeri satu mazhab Rafidhah.
Di Masyhad Thūs, ada seorang tokoh Rafidhah yang
mereka anggap saleh bernama Hasan. Ia mendukung gerakan mereka, dan
mereka mengangkatnya sebagai Khalifah. Hasan memerintahkan mereka
untuk menegakkan keadilan—dan sungguh menakjubkan, di perkemahan mereka,
keadilan benar-benar ditegakkan. Uang logam dirham dan dinar yang jatuh di
tanah tidak akan dipungut siapa pun, kecuali pemiliknya datang dan mengambilnya
kembali.
Mereka berhasil menguasai Naisabur. Penguasa
Mongol, Thughaytimur, mengirim pasukan besar, namun berhasil mereka
kalahkan. Ia mengirim lagi pasukan di bawah pimpinan wakilnya, Arghun
Syah, namun mereka kalah dan Arghun Syah sendiri tertawan—meski akhirnya
dibebaskan tanpa syarat.
Thughaytimur murka. Ia sendiri memimpin lima puluh ribu
pasukan Tartar menyerang mereka. Lagi-lagi, mereka menang. Negeri-negeri pun
jatuh: Sarakhs, Az-Zawā, dan Thūs—salah
satu kota terbesar di Khurasan—berhasil mereka kuasai. Khalifah mereka, Hasan,
berkedudukan di Masyhad Ali bin Musa ar-Ridha.
Mereka kemudian menguasai kota Al-Jām, dan
berkemah di luar kota itu, bersiap menyerang Herat yang
berjarak enam hari perjalanan.
Keputusan Berani Sultan Herat
Ketika kabar ini sampai ke telinga Sultan Husain, ia segera
mengumpulkan para amir, pasukan, dan tokoh-tokoh kota. Ia bermusyawarah:
"Haruskah kita diam di kota menunggu mereka datang, ataukah kita keluar
menjemput dan menyerang lebih dulu?"
Semua sepakat: keluar dan serang mereka.
Pasukan Sultan Husain terdiri dari satu suku yang
disebut Al-Ghūriyyah. Konon mereka berasal dari Ghūr di
Syam (Suriah), dan dari sanalah nama mereka berasal. Mereka semua bersiap dari
berbagai penjuru. Mereka tinggal di desa-desa dan di padang Marghīs
(Badghis)—padang rumput seluas empat hari perjalanan yang selalu hijau,
tempat ternak dan kuda mereka merumput. Pohon paling banyak di sana
adalah pistachio, yang kemudian diekspor ke Irak.
Penduduk kota Samanan juga membantu mereka.
Mereka bergerak menuju pasukan Rafidhah. Pasukan Sultan
Husain berjumlah seratus dua puluh ribu prajurit, baik pejalan
kaki maupun berkuda, dipimpin langsung oleh Sultan.
Sementara pasukan Rafidhah berkumpul dalam jumlah seratus
lima puluh ribu pasukan berkuda, dipimpin oleh Sultan Mas'ud dan Khalifah
Hasan.
Pertempuran di Padang Busyinj
Kedua pasukan bertemu di padang Busyinj.
Keduanya sama-sama bertahan dengan gigih. Namun akhirnya,
kekalahan berpihak pada pasukan Rafidhah. Sultan Mas'ud melarikan diri.
Khalifah Hasan bertahan dengan dua puluh ribu pasukannya—hingga ia gugur,
begitu pula sebagian besar pasukannya. Sekitar empat ribu orang berhasil
ditawan.
Seseorang yang hadir dalam pertempuran itu bercerita
kepadaku: "Pertempuran dimulai waktu Dhuha. Saat matahari tergelincir
(waktu Zuhur), pasukan Rafidhah sudah hancur berkeping-keping."
Sultan Husain turun dari kudanya setelah waktu Zuhur,
shalat, lalu hidangan makanan dihidangkan. Ia dan para pembesar makan,
sementara di sekitar mereka, para prajurit lainnya memenggal leher para
tawanan.
Sebuah pemandangan yang mengerikan, namun begitulah cara
mereka memastikan fitnah ini benar-benar padam.
Sultan kembali ke ibu kotanya setelah kemenangan besar ini.
Allah telah memenangkan Ahlus Sunnah melalui tangannya, dan memadamkan api
fitnah.
Peristiwa ini terjadi pada tahun 748 Hijriah,
setelah aku meninggalkan India.
Sebuah Gerakan Amar Makruf yang Berani
Di Herat, aku juga mendengar tentang seorang zahid besar
bernama Nizhamuddin Maulana. Ia sangat dicintai penduduk Herat.
Setiap kata-katanya didengar, setiap nasihatnya diikuti. Ia sering
memperingatkan mereka dan mengingatkan mereka kepada Allah.
Bersama dengannya, penduduk Herat—termasuk khatib kota
yang dikenal dengan julukan Malik Warna (sepupu Sultan Husain,
juga suami dari ibu tiri Sultan)—berkomitmen untuk mengubah setiap
kemungkaran. Mereka bersumpah akan melakukannya bersama-sama. Sultan
sendiri merasa takut kepada Malik Warna, karena ia sangat berani dan istrinya
(ibu tiri Sultan) adalah wanita tercantik dengan akhlak terbaik—namun itu
cerita lain.
Setiap kali mereka mengetahui adanya kemungkaran, bahkan
jika itu terjadi di istana Sultan, mereka akan mendatanginya dan mengubahnya.
Suatu hari, mereka mendengar bahwa di dalam istana Sultan
Husain terjadi sebuah kemungkaran. Enam ribu orang berkumpul di depan pintu
istana, siap masuk dan mengubahnya. Sultan ketakutan. Ia segera memanggil para
faqih dan tokoh kota.
Ternyata, Sultan telah meminum khamar (minuman
keras).
Maka, di dalam istananya sendiri, mereka menegakkan
hukuman had atas dirinya. Sultan dicambuk. Setelah itu, mereka pun
pergi.
Sebuah negeri yang luar biasa. Di mana rakyatnya berani
menegakkan kebenaran, bahkan di hadapan penguasa mereka sendiri.
Sumber Kisah:
Rihlah Ibnu Battutah

Komentar
Posting Komentar