Kaum Tsamud: Dari Kisah Al-Qur’an hingga Jejak Arkeologi
Nama Tsamud (ثمود) hampir selalu muncul beriringan dengan ‘Ād dalam literatur Arab klasik. Keduanya menjadi lambang bangsa-bangsa purba yang dibinasakan, dan kisah mereka dihidupkan kembali oleh Al-Qur’an sebagai peringatan bagi manusia.
Dalam sumber-sumber Arab sebelum dan sesudah Islam, hampir
tidak ada sejarah rinci tentang kehidupan politik Tsamud. Yang justru banyak
kita temukan adalah cerita-cerita ibrah yang berkembang di
sekitar ayat-ayat Al-Qur’an. Jejak mereka juga tampak dalam syair
jahiliyyah, yang menunjukkan bahwa orang Arab sebelum Islam sudah mengenal
nama dan nasib kaum ini.
Tsamud dalam Al-Qur’an dan Tradisi Arab Jahiliah
Al-Qur’an menyebut Tsamud berkali-kali. Kadang nama mereka
berdiri sendiri, kadang digandengkan dengan kaum lain seperti Nuh, ‘Ād,
dan kaum Lūṭ. Dalam beberapa ayat, urutannya: Nuh, ‘Ād, lalu
Tsamud; di tempat lain Tsamud didahulukan.
Salah satu ayat penting yang menunjukkan bahwa orang Arab
mengenal baik bekas-bekas permukiman Tsamud adalah firman Allah:
﴿وَعَادًا
وَثَمُودَا وَقَدْ تَبَيَّنَ لَكُمْ مِنْ مَسَاكِنِهِمْ ۗ وَزَيَّنَ لَهُمُ
الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَكَانُوا
مُسْتَبْصِرِينَ﴾
(QS. العنكبوت [29]:
38)
“Dan (juga) ‘Ād dan Tsamud, sungguh telah nyata bagi kalian
(kehancuran mereka) dari (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Setan pun
menjadikan indah bagi mereka perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka
dari jalan (Allah), padahal mereka adalah orang-orang yang berakal.”
Ayat ini menegaskan bahwa pada masa Nabi Muhammad,
orang-orang Arab bisa melihat langsung reruntuhan tempat tinggal Tsamud
dan ‘Ād. Bukan hanya mendengar cerita, tetapi menyaksikan lokasi mereka di
jalur perjalanan.
Di ayat lain, Al-Qur’an menggambarkan ciri khas permukiman
Tsamud:
﴿وَثَمُودَ
ٱلَّذِينَ جَابُوا ٱلصَّخْرَ بِٱلْوَادِ﴾
(QS. الفجر [89]: 9)
“Dan (juga) Tsamud yang memahat batu-batu besar di lembah.”
Para mufasir menjelaskan, “jābū aṣ-ṣakhr” artinya
mereka memotong dan memahat batu-batu gunung untuk dijadikan
rumah. Kata “al-wād” dipahami banyak ulama sebagai Wādī
al-Qurā, sebuah lembah subur di antara Madinah dan Syam. Ini mengisyaratkan
bahwa negeri Tsamud berada di wilayah pergunungan berbatu, bukan di
padang pasir murni.
Al-Qur’an juga menyebut Tsamud bersama kaum lain yang
dibinasakan, misalnya:
﴿كَذَّبَتْ
ثَمُودُ وَعَادٌۢ بِٱلْقَارِعَةِ﴾
(QS. الحاقة [69]: 4)
“Tsamud dan ‘Ād telah mendustakan hari Kiamat yang
mengguncang (al-Qāri‘ah).”
Dan juga:
﴿وَثَمُودُ
وَقَوْمُ لُوطٍۢ وَأَصْحَابُ ٱلْأَيْكَةِ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلْأَحْزَابُ﴾
(QS. ص [38]: 13)
“Dan (juga) Tsamud, kaum Lūṭ, dan para penghuni al-Aykah;
mereka itulah golongan-golongan (pendusta) itu.”
Ayat-ayat seperti ini memberi pesan kuat: kisah
Tsamud adalah cermin nasib umat-umat yang durhaka, disejajarkan dengan kaum
Nuh, ‘Ād, Lūṭ, dan lainnya.
Sejarawan besar ath-Ṭabarī menegaskan
bahwa penyair-penyair jahiliyyah telah menyebut ‘Ād dan Tsamud
dalam syair mereka, dan urusan kedua kaum itu sangat terkenal di
kalangan Arab sebelum Islam. Karena itu, anggapan bahwa orang
jahiliyyah tidak mengenal Tsamud atau ‘Ād dianggap keliru.
Nama Tsamud muncul, misalnya, dalam syair yang dinisbatkan
kepada Umayyah bin Abī aṣ-Ṣalt, Salamah bin al-Ḥārith, Jarīr
bin Khuqā’ al-‘Ijlī, dan Labīd bin Rabī‘ah, yang menggabungkan
nama Tsamud dengan ‘Ād dan Iram sebagai lambang bangsa-bangsa purba yang
binasa.
Negeri Tsamud dan Jejak Fisiknya
Sumber-sumber tafsir dan sejarah Islam tidak secara
eksplisit menyebut koordinat peta, tetapi mereka menandai wilayah
Tsamud dengan beberapa nama:
Mereka banyak menyebut al-Ḥijr sebagai “Diyār
Tsamud”, sebuah desa di jalur Wādī al-Qurā antara Madinah
dan Syam. Para ahli geografi klasik yang mengunjunginya menceritakan
adanya sumur yang mereka sebut “Bi’r Tsamud” dan
rumah-rumah yang terukir di bebatuan.
Ketika Rasulullah berangkat dalam Perang Tabuk,
beliau melewati al-Ḥijr. Dalam riwayat yang dibawakan ahli sirah
dan hadis, Nabi:
- Melarang
para sahabat memasuki rumah-rumah bekas kaum Tsamud kecuali dalam
keadaan menangis, sebagai bentuk mengambil pelajaran, bukan untuk
berwisata.
- Melarang
mereka menggunakan air dari sumur Tsamud kecuali untuk keperluan tertentu,
dan bahkan memerintahkan membuang adonan roti yang dibuat dengan air itu.
- Menunjukkan
kepada mereka tempat di mana anak unta betina mukjizat (faṣīl
an-nāqah) pernah naik.
Semua ini menegaskan bahwa bekas-bekas bangsa Tsamud
masih jelas terlihat di jalur kafilah pada masa Rasulullah.
Sejarawan al-Mas‘ūdī menyebut bahwa
permukiman Tsamud membentang antara Syam dan Hijaz hingga ke pantai
Laut Merah, dengan rumah-rumah yang dipahat di pegunungan. Ia menulis
bahwa sisa-sisa bangunan dan reruntuhan tersebut masih tampak
pada zamannya, di jalur haji yang melalui dekat Wādī al-Qurā.
Dalam tradisi Arab, daerah itu juga dikenali dengan
sebutan “Fajj an-Nāqah” (Lembah Unta), merujuk pada kisah unta
betina Nabi Ṣāliḥ yang menjadi ujian bagi kaumnya.
Nasab Tsamud Menurut Ahli Nasab
Para ahli nasab klasik berusaha menghubungkan Tsamud dengan
silsilah keturunan Nuh melalui berbagai versi:
Ada yang menyebut Tsamud sebagai keturunan “Tsamū
bin Jāthir (atau Kāthir) bin Iram bin Sām bin Nūḥ.”
Sebagian lainnya memandang Tsamud sebagai “sisa dari
kaum ‘Ād”, sehingga dipandang satu rumpun dengan bangsa purba itu.
Riwayat lain mengaitkannya dengan ‘Ābir bin Iram bin
Sām bin Nūḥ, dan menyebut bahwa Tsamud adalah saudara Jadīs,
satu lagi bangsa kuno yang diyakini pernah tinggal di Jazirah Arab.
Semua ini adalah upaya para ahli nasab untuk memasukkan
Tsamud ke dalam pohon besar keturunan Sām, meskipun sumber utama yang
paling tegas justru adalah Al-Qur’an dan jejak
arkeologi, bukan silsilah lisan semata.
Tsamud dalam Sumber Asyur dan Yunani–Romawi
Para orientalis menemukan bahwa nama Tsamud bukan
hanya ada dalam literatur Arab dan Islam, tetapi juga muncul dalam:
- Prasasti
Asyur,
- Tulisan
geografer Yunani,
- Serta
sumber-sumber Latin.
Dalam salah satu prasasti Raja Asyur Sargon II,
disebut sebuah bangsa bernama “tamūdi / thamūdi”, bersama suku-suku
lain yang berperang melawan Asyur. Disebutkan bahwa Sargon mengalahkan mereka
dan memindahkan sebagian mereka ke Samaria (Samariah). Fakta ini
menunjukkan bahwa:
- Bangsa
Tsamud sudah eksis berabad-abad sebelum Masehi.
- Mereka
cukup penting untuk disebut dalam laporan militer kerajaan besar seperti
Asyur.
Daerah pertempuran itu disebut “Bari”, yang
diduga merupakan bentuk lain dari kata Arab “barr / barriyyah” (padang
gersang, gurun), yang dalam lidah Asyur berubah menjadi “Bari”.
Sebuah karya geografi kuno berbahasa Yunani, “Periplus
Laut Eritrea” (Periplus of the Erythraean Sea), menyebut sebuah bangsa yang
ia sebut “Thamudeni” di sebuah pantai batu yang panjang, tidak
bersahabat dengan kapal: tanpa teluk yang aman, tanpa pelabuhan, dan tanpa
pulau untuk berlindung. Gambaran ini cocok dengan pantai barat Jazirah
Arab di Laut Merah, daerah pesisir Hijaz.
Geografer seperti Diodorus Siculus, Plinius,
dan Ptolemaios juga menyebut bentuk nama Thamudeni,
Thamuditae, Thamyditai dan sejenisnya, dan menempatkan mereka di wilayah
barat laut Arabia, di antara suku-suku yang oleh Ptolemaios disebut “Sarakenoi
(suku Arab padang pasir)” dan kelompok lain. Ini semua menguatkan
gambaran bahwa negeri Tsamud berada di utara Hijaz, dekat jalur dagang
antara Syam, Mesir, Hijaz dan Yaman.
Dari sini tampak bahwa letak Tsamud yang disebut
sumber Arab – sekitar al-Ḥijr, Wādī al-Qurā, Dūmat al-Jandal,
dan sekitar Taymā’ – selaras dengan peta yang dibuat oleh
penulis Yunani–Romawi dan prasasti Asyur.
Beberapa peneliti berpendapat bahwa jejak terakhir
Tsamud dalam dokumen-dokumen kuno muncul sekitar abad ke-5 M,
ketika sebagian orang Tsamud disebut sebagai pasukan berkuda dalam
tentara Romawi.
Prasasti “Tsamudiyah” dan Jejak Tulisannya
Istilah “prasasti Tsamudiyah” (Thamudic
inscriptions) dipakai para sarjana modern untuk menyebut ratusan
tulisan pendek berbahasa Semit yang ditemukan di banyak tempat di
Jazirah Arab bagian utara.
Dalam karya “Mission archéologique en Arabie”,
dua peneliti, Jaussen dan Savignac,
mempublikasikan puluhan prasasti Tsamudiyah yang mereka temukan di al-‘Ulā dan
daerah-daerah lain yang kini masuk wilayah Yordania dan Hijaz
utara (Arab Saudi). Penjelajah dan arkeolog lain, sebelum dan sesudah
mereka, juga menyalin ratusan inskripsi semacam itu.
Mantan kepala dinas purbakala Yordania, Lancaster
Harding, berhasil memotret lebih dari lima ratus prasasti
Tsamudiyah dan mengirimkannya kepada orientalis Enno Littmann.
Sebagian prasasti ini diduga berasal sebelum Masehi, sebagian
lagi sesudah Masehi. Di antara temuan penting:
Sebuah prasasti yang bertanggal tahun 267 M,
menunjukkan adanya tradisi tulis Tsamud yang masih hidup di abad ke-3 M.
Sebuah inskripsi yang di dalamnya terdapat gambar
lingkaran dengan bentuk mirip salib, disertai tulisan yang oleh Littmann
dibaca sebagai “Yas̱hū‘a / Li-Yas̱hū‘a”, yang ditafsirkan sebagai
nama Yesus (Yasū‘). Ia mengusulkan bahwa ini mungkin salah
satu saksi paling awal masuknya pengaruh Kristen ke Arabia bagian utara.
Peneliti lain, seperti Van den Branden, membaca nama itu
sebagai “li-Ayyūb” (untuk Ayub) dan bukan Yesus. Perbedaan
bacaan ini menunjukkan bahwa pembacaan prasasti Tsamudiyah masih belum
final.
Prasasti-prasasti ini ditemukan di wilayah yang cukup luas:
Daerah Hā’il di Najd, kawasan Tabuk, Taymā’, Madā’in
Ṣāliḥ (di sekitar al-Ḥijr), dan rangkaian pegunungan antara Hijaz
utara dan pedalaman.
Sebagian ditemukan di sekitar Ṭā’if, di pesisir
utara Hijaz di Laut Merah (sekitar al-Wajh), di Ṭūr Sīnā’,
di daerah aṣ-Ṣafā sebelah timur Damaskus, bahkan hingga
ke Mesir, serta di wilayah al-Ḥarrah dan ar-Raḥbah di
barat laut Palmyra.
Prasasti serupa juga ditemukan di Yaman, misalnya di Ḥajar
al-Mu‘qāb dekat Jabal Ḥalīl, tidak jauh dari Bayt Ḥamīd di
Wādī Shar‘ bil-Khārd. Temuan ini mengisyaratkan adanya hubungan antara
Yaman dan Tsamud, mungkin melalui jalur dagang atau bahkan pemukiman.
Sebagian sarjana, seperti Hubert Grimme,
meragukan bahwa semua inskripsi yang disebut “Tsamudiyah”
benar-benar milik satu suku historis Tsamud. Ia menilai label
“Tsamudiyah” kadang hanya dipakai secara umum untuk menyebut
jenis huruf tertentu, bukan identitas etnis yang pasti.
Secara garis besar, para ahli membedakan:
Tulisan Tsamudiyah tua, dengan bentuk huruf yang
lebih awal.
Tulisan Tsamudiyah “baru”, dengan bentuk huruf yang sudah
berkembang dan bahkan bercampur unsur Nabath (Nabataean).
Hubungan huruf Tsamudiyah ini dengan tulisan Sinai dan huruf
Musnad (Arab Selatan Kuno) sangat penting untuk melacak
perkembangan sistem tulisan di Jazirah Arab sebelum Islam.
Dari segi isi, kebanyakan prasasti ini sangat pendek
dan bersifat pribadi: pernyataan kehadiran seseorang di tempat itu,
doa singkat, nama pemahat, atau ungkapan religius sederhana. Bagi sejarawan
politik, informasi ini terbatas; tetapi bagi ahli bahasa dan filologi,
prasasti ini sangat berharga untuk memahami:
Nama-nama pribadi Tsamud.
Kosakata dan bentuk bahasa mereka.
Hubungan bahasa mereka dengan dialek Arab pra-Islam lain dan dengan rumpun
Semit secara umum.
Kehidupan dan Agama Tsamud: Sekilas dari Prasasti
Berdasarkan teks-teks yang berhasil dibaca, para peneliti
menyimpulkan bahwa kaum Tsamud:
Bukan murni bangsa pengembara tenda, tetapi lebih
dekat kepada kehidupan menetap. Mereka mempunyai lahan pertanian dan ternak,
dengan pemukiman tetap dan juga rumah-rumah ibadah (kuil) yang dibangun.
Sebagian dari mereka terlibat dalam perdagangan, memanfaatkan
posisi wilayah mereka di jalur dagang antara Syam, Hijaz, dan Arabia selatan.
Dalam prasasti-prasasti itu, muncul nama sejumlah tuhan
dan berhala yang mereka sembah. Di antaranya:
Wadd (وَدّ) – salah satu dewa tua yang juga dikenal di kalangan
Arab lainnya.
Dewa yang disebut “Jad-Had / Jad-Hadad”, dengan kuil dan penjaga
khusus (sādin) yang dalam tulisan Tsamudiyah disebut “qasu” (mirip
dengan kata Arab “qiss” – pendeta). Nama-nama seperti “‘Abd Jad” (hamba
Jad) masih mengisyaratkan memori terhadap dewa ini.
Berhala-berhala seperti Shams (الشمس), Manāf, Manāt, Kāhil/Kahl, Ba‘al/Ba‘lat, Riḍw
(Riḍā), Hubal, Salm, dan banyak nama lain, yang
sebagian akan dibahas secara khusus dalam kajian agama Arab pra-Islam.
Sebagian nama yang tampak seperti nama dewa, sejatinya
mungkin hanyalah sifat-sifat Tuhan, mirip konsep “al-Asmā’
al-Ḥusnā”. Misalnya, kata “Sama‘ / Seme‘ / Smi‘” dapat
berarti “Yang Mendengar” (As-Samī‘). Dalam doa, orang bisa berseru:
“Wahai Yang Mendengar (Ya Samī‘)”, dan ini lalu tertulis sebagai seolah-olah
nama khusus, padahal ia hanyalah sifat ilahi, bukan dewa
tersendiri.
Nama-nama pribadi Tsamud juga banyak yang masih
akrab di telinga Arab modern: seperti Aws, Sa‘d, ‘Afīr (atau
‘Ufair), Wā’il, Mālik, As‘ad, ‘Iyāsh, Iyās, Qays, dan sebagainya. Ada juga
nama teoforis (mengandung unsur nama Tuhan) seperti Karb-’il,
‘Athar-’il (‘Ātharal), ‘Adhra-’il, yang mirip dengan pola nama di Arab
Selatan seperti Karb-’Il, ‘Abd-Shams, ‘Abd-Manāt.
Sebagian pola nama seperti “…-’il” atau “Karb-’il”, ‘Adhra-’il,
yang banyak muncul dalam prasasti kuno, hampir tidak lagi populer
menjelang masa Nabi Muhammad, tetapi dahulu sangat umum terutama di
wilayah Arabia bagian selatan.
Bagaimana Tsamud Dibinasakan?
Al-Qur’an menjelaskan bahwa Tsamud dibinasakan karena
mereka:
- Mendustakan
Nabi Ṣāliḥ,
- Mengingkari
ayat Allah berupa unta betina mukjizat,
- Terus-menerus melampaui
batas.
Tentang bentuk azab, Al-Qur’an menggunakan beberapa istilah,
di antaranya “ar-rajfah” (guncangan dahsyat) dan “ash-shayḥah”
(teriakan/petir hebat).
Di salah satu ayat, Allah berfirman:
﴿فَأَخَذَتْهُمُ
ٱلرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا۟ فِى دَارِهِمْ جَـٰثِمِينَ﴾
(QS. الأعراف [7]:
78)
“Maka mereka pun digoncang oleh gempa yang dahsyat, lalu di
pagi hari mereka mati bergelimpangan di rumah-rumah mereka.”
Dan di ayat lain:
﴿وَأَخَذَ
ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ ٱلصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا۟ فِى دِيَـٰرِهِمْ جَاثِمِينَ﴾
(QS. هود [11]: 67)
“Dan orang-orang yang zalim itu dibinasakan oleh suara keras
yang mengguntur, lalu di pagi hari mereka mati bergelimpangan di rumah-rumah
mereka.”
Sebagian peneliti modern, seperti Brau, melihat
penggunaan kata rajfah dan shayḥah sebagai
petunjuk kemungkinan terjadinya letusan gunung berapi atau gempa bumi
besar di daerah yang memang dikenal sebagai wilayah ḥarrah (daerah
berbatu vulkanik) di Hijaz.
Dengan demikian, kehancuran Tsamud bisa dipahami sekaligus
sebagai:
- Azab
Ilahi,
- Yang
diwujudkan melalui peristiwa alam dahsyat: guncangan bumi,
letusan, atau hempasan gelombang suara yang mematikan.
Mirip dengan Nasib Sodom dan Gomora
Jawād ‘Alī mencatat adanya kemiripan menarik antara
kisah ‘Ād dan Tsamud dengan kisah Sodom (سدوم) dan Gomora
(عمورة) dalam Kitab
Kejadian. Kota-kota itu, bersama tiga kota lain di sekitar “Dā’irat
al-Urdun” (Daerah lembah Yordan), digambarkan sebagai:
“Tuhan menurunkan hujan belerang dan api ke atas Sodom dan
Gomora dari langit, dan Ia menunggang-balikkan kota-kota itu beserta seluruh
lembah dan seluruh penduduk kota serta tumbuh-tumbuhan di tanah.”
(Kejadian pasal 19, ayat 24–25, parafrase)
Al-Qur’an juga menyebut kaum Lūṭ dan
menggabungkan mereka dengan Tsamud dan para penghuni al-Aykah dalam satu
kelompok yang disebut “al-Ahzāb”:
﴿وَثَمُودُ
وَقَوْمُ لُوطٍۢ وَأَصْحَابُ ٱلْأَيْكَةِ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلْأَحْزَابُ﴾
(QS. ص [38]: 13)
“Dan (juga) Tsamud, kaum Lūṭ, dan para penghuni al-Aykah;
mereka itulah golongan-golongan (yang menentang kebenaran).”
Sejarawan Muslim seperti ath-Ṭabarī meriwayatkan detail
tambahan tentang lima kota kaum Lūṭ yang ia sebut
sebagai “al-Mu’tafikāt”, mengambil istilah dari ayat:
﴿وَٱلْمُؤْتَفِكَةَ
أَهْوَىٰ﴾
(QS. النجم [53]: 53)
“Dan (Allah) telah menumbangkan kota-kota yang
dijungkirbalikkan itu.”
Ini menunjukkan bahwa bagi para mufasir dan ahli sejarah
Muslim, kisah Tsamud tidak berdiri sendiri, tetapi dilihat sebagai
bagian dari pola besar sejarah umat-umat yang mendustakan rasul.
Peringatan untuk Quraisy dan Figur “Ashqā Tsamud”
Al-Qur’an menjadikan kisah Tsamud sebagai peringatan
langsung kepada Quraisy. Mereka diingatkan agar tidak mengulangi sikap kaum
Tsamud yang:
- Mendustakan
Nabi Ṣāliḥ,
- Menentang
peringatan Allah,
- Kemudian menyembelih
unta betina mukjizat yang menjadi tanda keimanan.
Ketika mereka tetap membangkang, Allah mengirimkan “ash-shayḥah” dan “ar-rajfah”,
sehingga mereka binasa seketika. Dalam sebagian riwayat, dikatakan tidak
tersisa seorang pun dari kafir Tsamud, kecuali Abū Righāl, yang
saat azab turun sedang berada di Tanah Haram (Mekah) sehingga
terlindungi oleh kehormatan wilayah itu. Ketika ia keluar dari Haram, kemudian
ia juga ditimpa azab.
Penyair Anshar, Ḥassān bin Tsābit, menyebut
dalam salah satu baitnya istilah “ashqā Tsamūd” (orang paling celaka
dari Tsamud), yang oleh para syarḥ disebut sebagai Qidār bin Sālif,
lelaki yang berani menyembelih unta Nabi Ṣāliḥ. Dengan demikian, Tsamud pun
memiliki figur “si merah sial” (Aḥmar Tsamūd), sebagaimana ‘Ād
memiliki Aḥmar ‘Ād dalam peribahasa.
Nabi juga memperingatkan kaum Muslim agar tidak
sekadar berwisata ke tempat-tempat kaum yang dibinasakan, tetapi
memasukinya dengan rasa takut dan mengambil pelajaran. Kisah larangan memasuki
al-Ḥijr dalam ekspedisi Tabuk adalah contoh praktis dari cara Nabi mendidik
sahabat memandang sejarah.
Sekilas tentang Silsilah Riwayat
Jawād ‘Alī menutup bahasannya dengan menyinggung rantai-rantai
periwayatan (isnād) yang dipakai ath-Ṭabarī ketika menceritakan kisah
Tsamud. Nama-nama seperti:
- al-Ḥasan
bin Yaḥyā,
- Abū
ath-Ṭufayl,
- al-Qāsim,
- ‘Amr
bin Khārijah,
- Ibn
Jurayj dari Jābir bin ‘Abdillāh,
- Ismā‘īl
bin al-Mutawakkil al-Asyja‘ī,
- ‘Abdullāh
bin ‘Utsmān bin Khaththam,
muncul sebagai mata rantai yang menghubungkan kisah Tsamud
hingga para perawi awal. Menelusuri isnād-isnād semacam ini, menurut Jawād
‘Alī, sangat berguna untuk mengetahui dari mana para ahli
sejarah dan ahli tafsir mengambil bahan cerita mereka tentang
bangsa-bangsa purba seperti Tsamud.
Penutup
Kisah Tsamud bergerak di persimpangan
antara wahyu, tradisi lisan Arab, dan temuan arkeologi modern.
Al-Qur’an menampilkan mereka sebagai umat yang kuat
dan maju dalam teknik memahat gunung, tetapi jatuh karena kesombongan
dan penolakan terhadap risalah Nabi Ṣāliḥ. Tradisi Arab jahiliyyah
menyimpan nama mereka dalam syair dan peribahasa. Sumber-sumber Asyur dan
Yunani–Romawi mengenal mereka sebagai suku kuat di barat laut Arabia.
Prasasti-prasasti Tsamudiyah yang tersebar dari Hijaz hingga Yaman memberi kita sekilas
pandang tentang bahasa, agama, dan kehidupan sehari-hari mereka.
Namun detail sejarah politik dan social Tsamud masih
banyak tertutup. Yang paling jelas justru adalah pelajaran moral:
bahwa sebesar apa pun sebuah peradaban, bila berpaling dari kebenaran dan larut
dalam kezaliman, ia dapat lenyap, tinggal nama dan bekas-bekas rumah di
batu-batu sunyi.
Sumber
Juwād ‘Alī, المفصل في تاريخ العرب قبل الإسلام

Komentar
Posting Komentar