Kaum Hadhur dan Kisah Ashab al-Rass: Jejak Bangsa Purba yang Terlupakan


Dalam lembaran sejarah Arab sebelum Islam, kita mengenal nama-nama kaum yang hanya tinggal sebagai cerita: tidak ada lagi sisa-sisa kekuasaan mereka, dan jejak fisiknya pun hampir lenyap. Di antara kaum-kaum itu, para ahli sejarah klasik menyebut Ḥaḍhur (atau Ḥaḍhurā’) dan Ashḥāb ar-Rass. Kisah mereka bercampur antara riwayat Arab, isyarat Al-Qur’an, dan pengaruh kuat cerita dari kitab-kitab Bani Israil.

Artikel ini berusaha menceritakan kembali kisah mereka dengan bahasa yang mengalir, sambil tetap menjaga isi pokok riwayat yang disebut para ulama.


Kaum Ḥaḍhur dan Negeri al-Rass

Para ahli berita (ahl al-akhbār) meriwayatkan kisah tentang kaum yang disebut Ḥaḍhur. Mereka diceritakan tinggal di suatu kawasan bernama al-Rass, hidup sebagai penyembah berhala dan jauh dari petunjuk tauhid.

Allah mengutus kepada mereka seorang nabi dari kalangan mereka sendiri, bernama Syu‘aib bin Dzi Mehr‘a. Namun, sebagaimana banyak kaum yang diceritakan dalam kisah para nabi, mereka mendustakan utusan tersebut. Ketika mereka menolak kebenaran, azab pun menimpa dan mereka binasa.

Nama al-Rass sendiri tidak tunggal. Para ahli geografi klasik menyebut ada beberapa tempat yang dinamakan al-Rass: ada yang terletak di kawasan al-Yamāmah, dan ada pula yang dahulu menjadi perkampungan sebagian kaum Ṯamūd.


Ashḥāb ar-Rass dalam Al-Qur’an

Istilah Ashḥāb ar-Rass (penduduk al-Rass) disebut secara jelas dalam Al-Qur’an, dan dikaitkan dengan kaum-kaum purba yang dibinasakan, seperti ‘Ād dan Ṯamūd.

Dalam Surah Al-Furqān ayat 38, Allah Ta‘ala berfirman:

وَعَادًا وَثَمُودَا وَأَصْحَابَ ٱلرَّسِّ وَقُرُونًاۢ بَيْنَ ذَٰلِكَ كَثِيرًا

Artinya:
“Dan (Kami binasakan pula) kaum ‘Ād, Ṯamūd, penduduk ar-Rass, dan banyak generasi di antara (umat-umat) itu.”
[Al-Furqān: 38]

Dalam Surah Qāf ayat 12, disebutkan lagi:

كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍۢ وَأَصْحَابُ ٱلرَّسِّ وَثَمُودُ

Artinya:
“Sebelum mereka, kaum Nūḥ, penduduk ar-Rass, dan (kaum) Ṯamūd telah mendustakan (rasul-rasul).”
[Qāf: 12]

Dari susunan ayat-ayat ini tampak bahwa Ashḥāb ar-Rass termasuk dalam jajaran bangsa purba yang hidup sezaman atau sekelas dengan ‘Ād dan Ṯamūd, dan mereka pun berakhir dengan kebinasaan karena kekufuran mereka.

Para mufasir kemudian berusaha menjelaskan siapa sebenarnya Ashḥāb ar-Rass ini. Sebagian menyebut bahwa mereka adalah kaum yang diutus seorang nabi bernama Ḥanẓalah, lalu mereka kafir dan melemparkan beliau ke dalam sebuah sumur (rass juga dipahami sebagai “sumur”).

Riwayat lain menyebut bahwa nabi mereka adalah Khālid bin Sinān, dan ada keterangan bahwa Rasulullah pernah menyebutnya dengan sabda:

«ذٰلِكَ نَبِيٌّ ضَيَّعَهُ قَوْمُهُ»

Artinya:
“Itu adalah seorang nabi yang disia-siakan oleh kaumnya.”

Riwayat-riwayat ini menunjukkan bahwa dalam tradisi Islam, Ashḥāb ar-Rass dipahami sebagai kaum yang benar-benar diutus seorang nabi, namun nasibnya mirip dengan kaumnya Nūḥ, ‘Ād, atau Ṯamūd: mendustakan, kemudian binasa.


Ḥanẓalah bin Ṣafwān dan Banjir Besar Saba’

Sejarawan Yaman terkenal, al-Hamdānī, menyebut bahwa Ḥanẓalah bin Ṣafwān adalah seorang nabi di Yaman. Ia diutus kepada kaum Saba’, dari kabilah al-Aqyun yang masuk ke dalam rumpun Ḥimyar.

Al-Hamdānī menceritakan bahwa di dekat makam Ḥanẓalah ditemukan sebuah tulisan kuno yang berbunyi:

“Aku adalah Ḥanẓalah bin Ṣafwān.
Aku adalah utusan Allah.
Allah mengutusku kepada (kaum) Ḥimyar, Hamdān, dan orang-orang Arab dari penduduk Yaman.
Mereka mendustakanku dan membunuhku.”

Ḥanẓalah memperingatkan kaum Saba’ dengan risalah yang dibawanya, namun mereka menolak. Ketika mereka mendustakannya, Allah mengirimkan kepada mereka Sail al-‘Arim, banjir besar yang menghancurkan bendungan Ma’rib dan meruntuhkan kejayaan Saba’. Peristiwa ini dikenal luas dalam literatur Arab dan isyaratnya juga terdapat dalam Al-Qur’an.

Al-Hamdānī, dengan mengutip Ibnu Hisyām, menambahkan bahwa Ḥanẓalah bin Ṣafwān bin al-Aqyun inilah yang menurut sebagian riwayat adalah nabi dari kalangan Ashḥāb ar-Rass. Ia diutus di kawasan yang disebut al-Rass, yang berada di daerah Ṣaihad, yaitu wilayah miring yang membentang antara BayḥānMa’ribal-Jauf, lalu ke Najrānal-‘Aqīqad-Dahna’, hingga kembali ke arah Ḥaḍramaut.

Kata ar-Rass di sini diartikan sebagai sumur yang airnya sedikit. Penduduk ar-Rass dikisahkan sebagai kumpulan kabilah dari keturunan AslamYāmin Abū Zar‘Ra‘wīl, dan Qadmān, yang semuanya kembali kepada garis keturunan Qaḥṭān. Mereka mendustakan nabi mereka, Ḥanẓalah, lalu membunuhnya dan melemparkan jasadnya ke dalam sebuah sumur kering di wilayah mereka. Dari sinilah, menurut riwayat, nama ar-Rass dilekatkan pada kaum tersebut.


Serangan Nebukadnezar terhadap Kaum Ḥaḍhur

Riwayat Arab klasik juga memuat kisah yang lebih keras dan penuh darah, yang menghubungkan kaum Ḥaḍhur di Yaman dengan raja Babilonia yang terkenal, Bukh­tanashshar atau Nabūkhaḏ Naṣr (Nebukadnezar).

Diceritakan bahwa Nebukadnezar menyerang penduduk Ḥaḍhur atau Ḥaḍhurā’, memerangi mereka dengan pedang, membunuh banyak orang, dan mengusir sebagian lainnya ke berbagai negeri. Penyebabnya, kata para perawi, adalah karena mereka mengingkari nabi yang diutus dari kalangan mereka sendiri: Syu‘aib bin Mahdam bin Dzi Mahdam bin al-Muqaddam bin Ḥaḍhur. Mereka adalah kaum yang terkenal kuat dan kasar. Setelah nabi itu dibunuh, azab pun turun.

Dalam riwayat ini, dikatakan bahwa Allah mewahyukan kepada seorang nabi Bani Israil pada masa itu, bernama Barkhiyā bin Akhbiyā bin Raznā’īl bin Syaltān, dari keturunan Yahudza bin Ya‘qub bin Isḥāq bin Ibrāhīm al-Khalīl, agar ia pergi menemui Nebukadnezar. Ia diperintah untuk memerintahkan raja Babilonia itu menyerang “orang Arab yang rumah-rumahnya tidak memiliki kunci dan pintu”, sebuah ungkapan yang menggambarkan bangsa Arab badui yang tinggal di tenda-tenda terbuka.

Barkhiyā diceritakan berangkat dari Najrān menuju Babilonia untuk menemui Nebukadnezar. Peristiwa ini disebut terjadi pada zaman Ma‘ad bin ‘Adnān. Nebukadnezar kemudian menyerang orang-orang Arab yang berada di wilayah kekuasaannya, mengumpulkan siapa saja yang tertangkap, lalu membangun sebuah perkampungan berpagar (ḥīr) di daerah an-Najaf, mengurung mereka di sana dengan penjagaan ketat.

Setelah itu, ia meneruskan ekspedisinya ke pedalaman Jazirah Arab, berhadapan dengan ‘Adnān di daerah Dzat ‘Irq, dan mengalahkannya. Nebukadnezar lalu bergerak menuju Ḥaḍhur. Penduduk Ḥaḍhur tercerai-berai: satu kelompok melarikan diri ke Raysūb di bawah pimpinan ‘Akk, dan kelompok lain menuju daerah Wabar.

Mereka yang bertahan di Ḥaḍhur dan memberanikan diri melawan Nebukadnezar akhirnya tewas dibabat pedang. Raja Babilonia itu kemudian pulang dengan membawa banyak tawanan perang. Para tawanan ditempatkan di al-Anbār, dan di sana mereka kemudian bercampur dan bergaul dengan kaum Nabath.

Dalam riwayat itu disebutkan bahwa ‘Adnān wafat tidak lama setelah peristiwa ini. Setelah Nebukadnezar sendiri meninggal, Ma‘ad bin ‘Adnān keluar menuju Makkah, lalu menuju Raysūb untuk membebaskan penduduknya. Ia mencari siapa yang masih tersisa dari keturunan al-Ḥārith bin Muḍāḍ al-Jurhumī, tokoh yang dahulu memerangi Daws al-‘Atīq dan hampir memusnahkan kabilah Jurhum.

Dari penelusuran itu, diketahui bahwa yang tersisa hanyalah seorang bernama Jursyum bin Julhama. Ma‘ad kemudian menikahi putrinya yang bernama Mu‘ānah, dan dari pernikahan itu lahirlah Nizār, leluhur banyak kabilah besar di kemudian hari.


Ḥaḍhur di Yaman dan Masjid Nabi Syu‘aib

Para ahli riwayat bersepakat bahwa kaum Ḥaḍhur yang membunuh nabi mereka, lalu dibinasakan pasukan Nebukadnezar, adalah salah satu bangsa Yaman. Mereka bermukim di wilayah yang disebut al-Ḥuḍūr atau Ḥaḍhurā’.

Di Yaman, memang dikenal sebuah tempat bernama Ḥaḍhur, yang menurut para ahli nasab dinisbatkan kepada Ḥaḍhur bin ‘Adī bin Mālik bin Zaid bin Sadd bin Ḥimyar bin Saba’. Mereka menegaskan bahwa inilah tempat yang, menurut tradisi, diserbu Nebukadnezar dan penduduknya dibunuh.

Di lokasi itu berdiri sebuah masjid yang hingga hari ini masih diziarahi, dikenal dengan nama Masjid Syu‘aib, Nabi Ashḥāb ar-Rass. Tempat ini terletak di sebuah gunung yang dianggap suci di Yaman.

Al-Hamdānī menyebutkan: di antara gunung-gunung yang dianggap suci oleh penduduk Yaman adalah Jabal ḤaḍhurṢanīn, puncak Bayt Fā’isy dari puncak Jabal Takhallā, puncak Hanūm, puncak Ta‘kar, dan puncak Ṣabr. Di puncak-puncak gunung ini terdapat masjid-masjid kuno yang dianggap diberkahi dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Penulis modern seperti Jawwād ‘Alī berpendapat bahwa kesucian gunung-gunung ini sebenarnya berakar pada masa sebelum Islam, yaitu zaman penyembahan berhala. Masjid-masjid yang kini berdiri kemungkinan besar dibangun di atas reruntuhan kuil-kuil kuno tempat menyembah berhala. Fenomena serupa terjadi di banyak kawasan Jazirah Arab: tempat-tempat ibadah jahiliyah yang memiliki nilai sakral di mata masyarakat setempat, kemudian “diberi baju Islami” setelah datangnya Islam. Seiring waktu, ia berubah menjadi masjid dan tempat ziarah, namun jejak kesakralan lamanya masih samar-samar terasa.


Jejak Israiliyyat: Dari Hazor ke Ḥaḍhur

Jawwād ‘Alī menunjukkan bahwa para pencerita kisah penyerangan Nebukadnezar terhadap Ḥaḍhur banyak bergantung pada riwayat yang dibawakan tokoh-tokoh seperti Ibnu al-Kalbī dan Ibnu Isḥāq. Mereka dikenal sering meriwayatkan kisah-kisah yang bersumber dari tradisi Yahudi dan Nasrani, yang dalam literatur Islam disebut Isrā’īliyyāt.

Menurut beliau, tidak sulit menelusuri asal-usulnya. Jika seseorang membuka Taurat (Perjanjian Lama), khususnya Kitab Yeremia, pasal 49, akan ditemukan nubuat tentang serangan Nebukadnezar terhadap Kedar dan kerajaan-kerajaan Hazor. Dalam teks itu, Tuhan memerintahkan:

Kurang lebih maknanya: serulah pasukan untuk bangkit menyerang Kedar dan kerajaan-kerajaan Hazor, binasakanlah “anak-anak Timur”, rampaslah tenda-tenda, kambing domba, unta-unta, dan perabot mereka. Penduduk Hazor diperingatkan untuk lari dan bersembunyi di tempat-tempat yang dalam, karena Nebukadnezar telah merancang bencana bagi mereka. Mereka digambarkan sebagai bangsa yang hidup tenang, tanpa pintu dan palang, tinggal sendirian, namun unta dan ternak mereka akan menjadi rampasan. Hazor disebut akan menjadi tempat tinggal binatang liar selamanya; tidak ada manusia yang lagi menetap di sana.

Di dalam tradisi Yahudi, tokoh yang disebut Barkhiyā dalam riwayat Arab sebenarnya adalah Barukh bin Neriya (Baruch ben Neriah), saudara Seraya. Ia adalah juru tulis yang setia mendampingi Nabi Yeremia (Irmiya). Dialah yang menuliskan wahyu-wahyu Yeremia dan ditugaskan membawa surat kepada Nebukadnezar di Babilonia. Kisah ini tercatat jelas dalam Kitab Yeremia.

Barukh pergi ke Babilonia membawa surat itu, bertemu sang raja, lalu kembali ke Yerusalem. Setelah itu, Nebukadnezar menyerang Yerusalem dan menaklukkannya. Dalam tradisi Yahudi, Barukh adalah orang Yerusalem, bukan penduduk Najrān sebagaimana digambarkan dalam sebagian riwayat Arab.

Dari sini, Jawwād ‘Alī menyimpulkan bahwa para pencerita Arab telah mengambil kisah penyerangan Nebukadnezar terhadap Hazor sebagaimana tercantum dalam Kitab Yeremia, lalu memindahkannya ke Yaman dengan nama Ḥaḍhur. Mereka mengganti lokasi, menambahkan tokoh-tokoh Arab seperti ‘Adnān dan Ma‘ad bin ‘Adnān, serta memasukkan sosok nabi Arab Selatan ke dalam alur cerita. Barkhiyā pun “dipindahkan” dari Yerusalem ke Najrān, lalu dikisahkan menempuh perjalanan jauh ke Babilonia hanya untuk memerintahkan Nebukadnezar menyerang bangsa Arab.

Nama Hazor yang disebut Taurat pun diubah pelafalannya menjadi Ḥuṣūr lalu dihubungkan dengan Ḥuḍūr dan Ḥaḍhurā’ di Yaman. Untuk melengkapi drama, para pencerita menambahkan alasan moral: yaitu bahwa kaum Ḥaḍhur telah membunuh nabi mereka sendiri.


Di Manakah Hazor Sebenarnya?

Hazor yang disebut dalam Taurat adalah sekumpulan wilayah di Arabia bagian utara, bukan di Yaman. Dalam Kitab Yeremia digunakan istilah “kerajaan-kerajaan Hazor”, yang menunjukkan adanya kerajaan-kerajaan kecil atau semacam negeri-negeri yang dipimpin para kepala suku. Wilayah ini berdampingan dengan Kedar (Qaidar) dan tampaknya berada di daerah padang pasir di selatan atau timur Palestina.

Para ahli kitab suci berpendapat bahwa penduduk Hazor termasuk golongan ahl al-madar, yaitu orang-orang yang tinggal di permukiman menetap dengan bangunan permanen, berbeda dari para pengembara padang pasir. Kata “Hazor” (ḥāzor / ḥasor) dan jamaknya “hazerim” (ḥāzerim / ḥaserim) dalam bahasa Ibrani memiliki makna yang mirip dengan kata “Ḥīrta” dalam bahasa Aram dan “al-Ḥīrah” dalam bahasa Arab: yaitu tempat yang dikelilingi, terlingkupi, semacam kamp berpagar atau kawasan yang dipagari; juga dapat bermakna “perkemahan besar” atau “kawasan lindung”.

Para pemimpin Hazor diduga tinggal di pinggiran padang pasir dalam kamp-kamp besar bersama pengikut mereka, menggembalakan kambing, domba, dan unta di wilayah yang biasa mereka tempati. Mereka tampaknya pernah bersinggungan dengan pasukan Nebukadnezar, mungkin karena menolak membantu dalam ekspedisinya ke Palestina. Karena itu raja Babilonia marah dan melancarkan serangan terhadap mereka. Jika diserang, mereka biasa melarikan diri ke gua-gua dan celah-celah pegunungan di tempat-tempat yang jauh dan sulit dijangkau pasukan, menjadikannya tempat aman sampai bahaya berlalu.

Jika memperhatikan keterangan ini, jelaslah bahwa Hazor tidak mungkin berada di Yaman. Taurat selalu menyebut Hazor bersama Kedar, yang wilayahnya terkenal berada di bagian utara Jazirah Arab. Sementara itu, Yaman letaknya sangat jauh dari pusat kekuasaan Babilonia, sehingga sulit dibayangkan pasukan Nebukadnezar bisa menembusnya dengan mudah.

Kitab-kitab Yahudi juga menggambarkan Hazor sebagai bagian dari Arabia Utara, sedangkan pengetahuan mereka tentang Yaman pada masa itu sangat terbatas. Barukh pun berasal dari Yerusalem, bukan dari Najrān.


Mungkin Ada Peristiwa Nyata di Ḥaḍhur

Jawwād ‘Alī mengajukan perkiraan yang menarik. Sangat mungkin bahwa di wilayah Ḥaḍhur di Yaman memang pernah terjadi sebuah perang besar yang menghancurkan atau bencana alam dahsyat seperti gempa bumi atau letusan gunung berapi. Peristiwa ini menyebabkan kerusakan berat bagi negeri tersebut dan meninggalkan bekas mendalam dalam ingatan penduduk. Kisah itu lalu diwariskan dari generasi ke generasi sebagai memori kolektif tentang “kehancuran Ḥaḍhur”.

Di sisi lain, para ahli sejarah Arab yang akrab dengan cerita-cerita Taurat, atau yang sering bergaul dengan Ahli Kitab, menemukan nama Hazor dalam Kitab Yeremia dan mendengar kisah Nebukadnezar yang menyerangnya. Mereka melihat kemiripan bunyi antara Hazor dan Ḥaḍhur, lalu – karena keterbatasan pengetahuan geografis dan teks – mengira bahwa Hazor yang dimaksud Taurat adalah Ḥaḍhur di Yaman. Dari sinilah kemudian terjadi “percampuran kisah”: unsur-unsur dari tradisi Yahudi dan tradisi lisan Arab bercampur, dihias dan dikembangkan, hingga menghasilkan cerita panjang seperti yang sampai kepada kita sekarang.


Penutup

Kisah tentang Ḥaḍhur dan Ashḥāb ar-Rass berada di persimpangan antara sejarah, legenda, dan tafsir kitab-kitab suci. Di satu sisi, Al-Qur’an dengan singkat dan padat mengingatkan kita akan adanya Ashḥāb ar-Rass sebagai salah satu kaum yang mendustakan nabi dan dibinasakan. Di sisi lain, riwayat-riwayat Arab klasik berusaha “mengisi kekosongan” dengan detail-detail yang banyak, sering kali dipengaruhi oleh tradisi Isrā’īliyyāt.

Sebagian riwayat itu mungkin mendekati kenyataan sejarah, sebagian lain tampak sebagai upaya menyambungkan nama-nama tempat dan tokoh di berbagai tradisi yang berbeda. Namun apa pun rincinya, pesan utamanya tetap sama: kaum yang menolak kebenaran dan menganiaya nabi mereka akhirnya akan hancur, sementara jejak mereka tinggal sebagai pelajaran bagi generasi setelahnya.

Wallāhu a‘lam – Allah-lah yang paling mengetahui hakikat sejarah bangsa-bangsa yang telah punah.


Sumber

Jawwād ‘Alī, al-Mufaṣṣal fī Tārīkh al-‘Arab qabl al-Islām

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurhum dan Kaum ‘Amaliq: Jejak Bangsa-Bangsa Arab Purba

Menelusuri Jejak Para Wali: Dari Makam Al-Ghazali hingga Gerbang India

Nabi Hūd, Kaum ‘Ād, dan Jejaknya dalam Sejarah Arab Pra Islam