Ekspedisi Hamra' al-Asad: Mengembalikan Keperkasaan Umat Islam
Duka Uhud dan Sorak Kaum Munafik
Nabi Muhammad ﷺ kembali ke Madinah dengan hati yang berat. Di bukit Uhud, tujuh
puluh syuhada telah terbujur kaku, meninggalkan duka yang mendalam di hati kaum
Muslimin. Sementara itu, para sahabat yang selamat pulang dengan tubuh berlumur
luka, ada yang tertusuk pedang, ada pula yang patah tulang.
Namun di sudut-sudut Madinah, berbeda suasana yang terjadi.
Kaum munafik dan Yahudi tidak dapat menyembunyikan kegembiraan mereka. Kota
Madinah bagaikan mendidih oleh kebahagiaan palsu mereka yang melihat musibah
menimpa Rasulullah dan para pengikutnya.
Tidak puas hanya dengan kegembiraan dalam hati, mereka
melontarkan kata-kata yang menyakitkan. Kaum Yahudi berkata dengan nada
menghina, "Seandainya dia benar-benar seorang nabi, tentu mereka tidak
akan terkalahkan dan tidak akan menderita luka seperti ini. Ia hanyalah seorang
yang memperebutkan kekuasaan, kadang menang kadang kalah!"
Mereka lupa bahwa para nabi Bani Israel pun pernah dibunuh
dan diusir. Mereka lupa bahwa Nabi Musa pun pernah lari bersama pengikutnya
dari kejaran Fir'aun. Jika bukan karena pertolongan Allah, tentu mereka semua
akan binasa.
Sementara itu, kaum munafik dengan dipimpin Abdullah bin
Ubay bin Salul menambah luka dengan ucapan mereka, "Seandainya kalian
menuruti kami dan tidak ikut berperang, tentu kalian tidak akan menderita
kekalahan seperti ini."
Hikmah di Balik Musibah
Berita kekalahan kaum Muslimin di Uhud tidak hanya berhenti
di Madinah. Kabar ini menyebar dengan cepat ke pelosok-pelosok, didengar oleh
suku-suku Badui dan kabilah-kabilah yang masih setia kepada kaum musyrik. Nama
Islam yang sebelumnya berwibawa mulai terusik.
Rasulullah ﷺ
menyadari bahwa keadaan ini tidak boleh dibiarkan. Sudah saatnya mengembalikan
wibawa kaum Muslimin di mata kabilah-kabilah Arab. Semua orang harus tahu bahwa
meskipun kaum Muslimin menderita kekalahan di Uhud, mereka masih gagah perkasa
dan sanggup menghadapi musuh kapan saja.
Maka tibalah saatnya untuk berangkat menuju ekspedisi Hamra'
al-Asad.
Berangkat dengan Luka yang Belum Kering
Perang Uhud terjadi pada hari Sabtu, pertengahan bulan
Syawal. Keesokan harinya, hari Ahad, muazin Rasulullah mengumumkan kepada
seluruh kaum Muslimin bahwa mereka akan kembali mengejar pasukan Quraisy.
Rasulullah bersabda:
"Tidak boleh keluar bersama kami kecuali orang-orang
yang ikut serta dalam pertempuran kemarin."
Maka berangkatlah para sahabat yang sehari sebelumnya
bertempur di Uhud. Meski tubuh mereka masih lemah dan luka-luka belum sembuh,
semangat mereka berkobar-kobar.
Jabir bin Abdullah yang tidak ikut perang Uhud karena udzur,
meminta izin kepada Rasulullah untuk ikut serta dalam ekspedisi ini. Rasulullah
ﷺ
mengizinkannya. Sementara itu, Abdullah bin Ubay pemimpin kaum munafik berkata
dengan pongah, "Aku akan ikut berkendara bersamamu." Namun Rasulullah
ﷺ
menolaknya dengan tegas.
Sebelum berangkat, Rasulullah ﷺ menunjuk Ibnu Ummi Maktum untuk mengurus
kota Madinah. Bendera perang diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib. Maka
berjalanlah pasukan kecil namun penuh semangat ini menuju Hamra' al-Asad,
sebuah tempat yang berjarak sekitar delapan mil dari Madinah. Mereka tiba di
sana pada hari Senin.
Berita dari Kabilah Khuza'ah
Dalam perjalanan, Rasulullah ﷺ bertemu dengan Ma'bad bin Abu Ma'bad
al-Khuza'i. Saat itu Ma'bad masih musyrik, namun Khuza'ah—baik yang muslim
maupun yang musyrik—selalu menjadi tempat simpanan rahasia dan ketulusan cinta
kepada Rasulullah.
Ma'bad berkata, "Wahai Muhammad, demi Allah, sungguh
berat bagi kami melihat musibah yang menimpamu dan para sahabatmu. Kami
berharap semoga Allah menyelamatkanmu bersama mereka."
Sementara itu, pasukan musyrik Quraisy yang telah sampai di
Rauha' mulai saling menyalahkan. Mereka menyesal tidak menghabiskan kaum
Muslimin saat di Uhud. Di saat mereka sedang bergumul dengan penyesalan itu,
Ma'bad melewati perkemahan Abu Sufyan dan para pengikutnya.
Abu Sufyan bertanya, "Apa kabar di belakangmu, wahai
Ma'bad?"
Ma'bad menjawab, "Muhammad telah keluar bersama para
sahabatnya mencari kalian. Aku belum pernah melihat pasukan seperti itu. Mereka
membara karena amarah terhadap kalian. Bergabung pula bersama mereka
orang-orang yang sebelumnya tidak ikut perang. Aku sarankan jangan kembali ke
sana."
Abu Sufyan yang pengecut itu pun ciut nyalinya. Jika mereka
kembali, ia takut kekalahan akan menimpa mereka. Maka ia mempercepat perjalanan
pulang ke Makkah.
Tipu Daya Abu Sufyan
Namun sebelum pergi, Abu Sufyan melancarkan tipu daya.
Kebetulan lewat kafilah Bani Abdul Qais yang hendak menuju Madinah. Abu Sufyan
membujuk mereka untuk menyampaikan berita bohong kepada Nabi dan para
sahabatnya. Ia berkata, "Sampaikan kepada Muhammad dan pengikutnya bahwa
Quraisy telah mengumpulkan pasukan besar untuk menyerang mereka." Sebagai
imbalan, Abu Sufyan berjanji akan memuati unta-unta mereka dengan kismis jika
mereka menemuinya di pasar 'Ukazh nanti.
Maka sampailah kafilah itu kepada Rasulullah ﷺ
di Hamra' al-Asad. Mereka menyampaikan apa yang dikatakan Abu Sufyan. Mendengar
berita itu, Rasulullah ﷺ
justru mengucapkan kalimat yang penuh ketenangan dan tawakal:
"حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ"
"Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik
pelindung."
Kemuliaan di Balik Ketaatan
Rasulullah ﷺ
dan para sahabat tinggal di Hamra' al-Asad selama tiga hari. Pada hari Rabu,
mereka kembali ke Madinah. Meskipun tidak terjadi pertempuran, ekspedisi ini
berhasil mengembalikan wibawa kaum Muslimin yang sempat goyah akibat perang
Uhud.
Allah SWT mengabadikan kemuliaan sikap para sahabat yang
tetap taat meski dalam keadaan lemah ini dalam firman-Nya:
الَّذِينَ
اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِن بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ ۚ
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ
الَّذِينَ
قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ
فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
فَانقَلَبُوا
بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا
رِضْوَانَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ
"(Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan
Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam Perang Uhud). Bagi orang-orang
yang berbuat kebaikan di antara mereka dan bertakwa, ada pahala yang besar.
(Yaitu) orang-orang yang (ketika) ada orang-orang mengatakan kepadanya,
'Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena
itu takutlah kepada mereka,' ternyata (ucapan itu) menambah iman mereka, dan
mereka menjawab, 'Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Dia sebaik-baik pelindung.'
Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, mereka tidak ditimpa
suatu bencana dan mereka mengikuti keridaan Allah. Allah mempunyai karunia yang
besar." (QS. Ali Imran: 172-174)
Yang dimaksud dengan "orang-orang" pada ayat
pertama adalah kafilah Bani Abdul Qais yang membawa berita bohong dari Abu
Sufyan. Sedangkan "orang-orang" pada ayat kedua adalah Abu Sufyan dan
pasukannya.
Penghinaan untuk Pemimpin Munafik
Abdullah bin Ubay bin Salul memiliki kedudukan di kalangan
kaumnya. Setiap hari Jumat ia biasa berdiri ketika Rasulullah ﷺ duduk untuk
berkhutbah, lalu berkata, "Wahai manusia, ini adalah Rasulullah di
tengah-tengah kalian. Allah telah memuliakan dan menguatkan kalian dengannya.
Maka belalah ia, muliakan ia, dengarkan dan taati ia." Setelah itu barulah
ia duduk.
Namun setelah perang Uhud, ketika Rasulullah kembali,
Abdullah bin Ubay hendak melakukan hal yang sama seperti biasanya. Para sahabat
langsung menarik pakaiannya dari berbagai arah sambil berkata, "Duduklah,
wahai musuh Allah! Engkau bukanlah orang yang pantas melakukan itu setelah apa
yang telah kau perbuat!"
Abdullah bin Ubay keluar dengan perasaan kesal seraya
berkata, "Demi Allah, kalian seolah menganggap aku telah melakukan
kejahatan besar hanya karena aku berdiri untuk menguatkan urusannya."
Di pintu masjid, ia bertemu dengan seorang sahabat Anshar.
Sahabat itu berkata, "Ada apa denganmu?" Abdullah bin Ubay
menceritakan kejadian yang menimpanya.
Sahabat itu menasihati, "Kembalilah, mintalah
Rasulullah ﷺ
beristigfar untukmu."
Dengan sombong Abdullah bin Ubay menjawab, "Demi Allah,
aku tidak butuh ia memintakan ampun untukku."
Sumber:
As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau'i al-Qur'an wa as-Sunnah

Komentar
Posting Komentar