Ekspedisi Hamra' al-Asad: Mengembalikan Keperkasaan Umat Islam

"Panorama luas padang pasir berbatu dekat Madinah saat matahari terbit, satu barisan pejuang Arab dengan kuda dan unta membawa bendera putih. Para pejuang berpakaian tradisional dengan sorban, beberapa terlihat masih dalam kondisi terluka namun berpostur tegap. Seorang pemimpin dengan sorban putih di barisan depan digambarkan dari belakang. Debu beterbangan, langit biru jernih, suasana penuh determinasi."

Duka Uhud dan Sorak Kaum Munafik

Nabi Muhammad kembali ke Madinah dengan hati yang berat. Di bukit Uhud, tujuh puluh syuhada telah terbujur kaku, meninggalkan duka yang mendalam di hati kaum Muslimin. Sementara itu, para sahabat yang selamat pulang dengan tubuh berlumur luka, ada yang tertusuk pedang, ada pula yang patah tulang.

Namun di sudut-sudut Madinah, berbeda suasana yang terjadi. Kaum munafik dan Yahudi tidak dapat menyembunyikan kegembiraan mereka. Kota Madinah bagaikan mendidih oleh kebahagiaan palsu mereka yang melihat musibah menimpa Rasulullah dan para pengikutnya.

Tidak puas hanya dengan kegembiraan dalam hati, mereka melontarkan kata-kata yang menyakitkan. Kaum Yahudi berkata dengan nada menghina, "Seandainya dia benar-benar seorang nabi, tentu mereka tidak akan terkalahkan dan tidak akan menderita luka seperti ini. Ia hanyalah seorang yang memperebutkan kekuasaan, kadang menang kadang kalah!"

Mereka lupa bahwa para nabi Bani Israel pun pernah dibunuh dan diusir. Mereka lupa bahwa Nabi Musa pun pernah lari bersama pengikutnya dari kejaran Fir'aun. Jika bukan karena pertolongan Allah, tentu mereka semua akan binasa.

Sementara itu, kaum munafik dengan dipimpin Abdullah bin Ubay bin Salul menambah luka dengan ucapan mereka, "Seandainya kalian menuruti kami dan tidak ikut berperang, tentu kalian tidak akan menderita kekalahan seperti ini."

Hikmah di Balik Musibah

Berita kekalahan kaum Muslimin di Uhud tidak hanya berhenti di Madinah. Kabar ini menyebar dengan cepat ke pelosok-pelosok, didengar oleh suku-suku Badui dan kabilah-kabilah yang masih setia kepada kaum musyrik. Nama Islam yang sebelumnya berwibawa mulai terusik.

Rasulullah menyadari bahwa keadaan ini tidak boleh dibiarkan. Sudah saatnya mengembalikan wibawa kaum Muslimin di mata kabilah-kabilah Arab. Semua orang harus tahu bahwa meskipun kaum Muslimin menderita kekalahan di Uhud, mereka masih gagah perkasa dan sanggup menghadapi musuh kapan saja.

Maka tibalah saatnya untuk berangkat menuju ekspedisi Hamra' al-Asad.

Berangkat dengan Luka yang Belum Kering

Perang Uhud terjadi pada hari Sabtu, pertengahan bulan Syawal. Keesokan harinya, hari Ahad, muazin Rasulullah mengumumkan kepada seluruh kaum Muslimin bahwa mereka akan kembali mengejar pasukan Quraisy. Rasulullah bersabda:

"Tidak boleh keluar bersama kami kecuali orang-orang yang ikut serta dalam pertempuran kemarin."

Maka berangkatlah para sahabat yang sehari sebelumnya bertempur di Uhud. Meski tubuh mereka masih lemah dan luka-luka belum sembuh, semangat mereka berkobar-kobar.

Jabir bin Abdullah yang tidak ikut perang Uhud karena udzur, meminta izin kepada Rasulullah untuk ikut serta dalam ekspedisi ini. Rasulullah mengizinkannya. Sementara itu, Abdullah bin Ubay pemimpin kaum munafik berkata dengan pongah, "Aku akan ikut berkendara bersamamu." Namun Rasulullah menolaknya dengan tegas.

Sebelum berangkat, Rasulullah menunjuk Ibnu Ummi Maktum untuk mengurus kota Madinah. Bendera perang diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib. Maka berjalanlah pasukan kecil namun penuh semangat ini menuju Hamra' al-Asad, sebuah tempat yang berjarak sekitar delapan mil dari Madinah. Mereka tiba di sana pada hari Senin.

Berita dari Kabilah Khuza'ah

Dalam perjalanan, Rasulullah bertemu dengan Ma'bad bin Abu Ma'bad al-Khuza'i. Saat itu Ma'bad masih musyrik, namun Khuza'ah—baik yang muslim maupun yang musyrik—selalu menjadi tempat simpanan rahasia dan ketulusan cinta kepada Rasulullah.

Ma'bad berkata, "Wahai Muhammad, demi Allah, sungguh berat bagi kami melihat musibah yang menimpamu dan para sahabatmu. Kami berharap semoga Allah menyelamatkanmu bersama mereka."

Sementara itu, pasukan musyrik Quraisy yang telah sampai di Rauha' mulai saling menyalahkan. Mereka menyesal tidak menghabiskan kaum Muslimin saat di Uhud. Di saat mereka sedang bergumul dengan penyesalan itu, Ma'bad melewati perkemahan Abu Sufyan dan para pengikutnya.

Abu Sufyan bertanya, "Apa kabar di belakangmu, wahai Ma'bad?"

Ma'bad menjawab, "Muhammad telah keluar bersama para sahabatnya mencari kalian. Aku belum pernah melihat pasukan seperti itu. Mereka membara karena amarah terhadap kalian. Bergabung pula bersama mereka orang-orang yang sebelumnya tidak ikut perang. Aku sarankan jangan kembali ke sana."

Abu Sufyan yang pengecut itu pun ciut nyalinya. Jika mereka kembali, ia takut kekalahan akan menimpa mereka. Maka ia mempercepat perjalanan pulang ke Makkah.

Tipu Daya Abu Sufyan

Namun sebelum pergi, Abu Sufyan melancarkan tipu daya. Kebetulan lewat kafilah Bani Abdul Qais yang hendak menuju Madinah. Abu Sufyan membujuk mereka untuk menyampaikan berita bohong kepada Nabi dan para sahabatnya. Ia berkata, "Sampaikan kepada Muhammad dan pengikutnya bahwa Quraisy telah mengumpulkan pasukan besar untuk menyerang mereka." Sebagai imbalan, Abu Sufyan berjanji akan memuati unta-unta mereka dengan kismis jika mereka menemuinya di pasar 'Ukazh nanti.

Maka sampailah kafilah itu kepada Rasulullah di Hamra' al-Asad. Mereka menyampaikan apa yang dikatakan Abu Sufyan. Mendengar berita itu, Rasulullah justru mengucapkan kalimat yang penuh ketenangan dan tawakal:

"حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ"

"Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik pelindung."

Kemuliaan di Balik Ketaatan

Rasulullah dan para sahabat tinggal di Hamra' al-Asad selama tiga hari. Pada hari Rabu, mereka kembali ke Madinah. Meskipun tidak terjadi pertempuran, ekspedisi ini berhasil mengembalikan wibawa kaum Muslimin yang sempat goyah akibat perang Uhud.

Allah SWT mengabadikan kemuliaan sikap para sahabat yang tetap taat meski dalam keadaan lemah ini dalam firman-Nya:

الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِن بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
فَانقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

"(Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam Perang Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan bertakwa, ada pahala yang besar. (Yaitu) orang-orang yang (ketika) ada orang-orang mengatakan kepadanya, 'Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,' ternyata (ucapan itu) menambah iman mereka, dan mereka menjawab, 'Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Dia sebaik-baik pelindung.' Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana dan mereka mengikuti keridaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar." (QS. Ali Imran: 172-174)

Yang dimaksud dengan "orang-orang" pada ayat pertama adalah kafilah Bani Abdul Qais yang membawa berita bohong dari Abu Sufyan. Sedangkan "orang-orang" pada ayat kedua adalah Abu Sufyan dan pasukannya.

Penghinaan untuk Pemimpin Munafik

Abdullah bin Ubay bin Salul memiliki kedudukan di kalangan kaumnya. Setiap hari Jumat ia biasa berdiri ketika Rasulullah duduk untuk berkhutbah, lalu berkata, "Wahai manusia, ini adalah Rasulullah di tengah-tengah kalian. Allah telah memuliakan dan menguatkan kalian dengannya. Maka belalah ia, muliakan ia, dengarkan dan taati ia." Setelah itu barulah ia duduk.

Namun setelah perang Uhud, ketika Rasulullah kembali, Abdullah bin Ubay hendak melakukan hal yang sama seperti biasanya. Para sahabat langsung menarik pakaiannya dari berbagai arah sambil berkata, "Duduklah, wahai musuh Allah! Engkau bukanlah orang yang pantas melakukan itu setelah apa yang telah kau perbuat!"

Abdullah bin Ubay keluar dengan perasaan kesal seraya berkata, "Demi Allah, kalian seolah menganggap aku telah melakukan kejahatan besar hanya karena aku berdiri untuk menguatkan urusannya."

Di pintu masjid, ia bertemu dengan seorang sahabat Anshar. Sahabat itu berkata, "Ada apa denganmu?" Abdullah bin Ubay menceritakan kejadian yang menimpanya.

Sahabat itu menasihati, "Kembalilah, mintalah Rasulullah beristigfar untukmu."

Dengan sombong Abdullah bin Ubay menjawab, "Demi Allah, aku tidak butuh ia memintakan ampun untukku."


Sumber:
As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau'i al-Qur'an wa as-Sunnah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menelusuri Jejak Para Wali: Dari Makam Al-Ghazali hingga Gerbang India

Jurhum dan Kaum ‘Amaliq: Jejak Bangsa-Bangsa Arab Purba

Kisah Keberanian Sahabat di Perang Uhud: Thalhah, Nusaibah, dan Para Pejuang Wanita