Arab Ba'idah (Bangsa Arab yang Punah)
Kaum ‘Arab yang Punah dan Kisah Kaum ‘Ād
Dalam tradisi para ahli sejarah Arab klasik, bangsa Arab
sering dibagi menjadi tiga lapisan: Arab bā’idah (Arab yang
punah), Arab ‘āribah (Arab asli), dan Arab musta‘ribah (Arab
yang menjadi Arab). Mengikuti pembagian itu, pembahasan biasanya dimulai dari
lapisan pertama: Arab bā’idah, yakni suku-suku tua yang diyakini
pernah hidup, lalu lenyap dari panggung sejarah.
Dari “Bangsa Legenda” ke Temuan Nyata
Untuk waktu yang lama, banyak orientalis (sarjana Barat)
meragukan keberadaan nyata sebagian besar suku yang digolongkan sebagai Arab
bā’idah. Mereka menganggap nama-nama seperti ‘Ād dan Ṯamūd hanyalah hasil
imajinasi para perawi Arab, apalagi ketika tidak menemukan padanan nama yang
mirip dalam bahasa-bahasa kuno atau literatur klasik Yunani–Latin.
Namun penilaian ini kemudian terbukti tergesa-gesa. Seiring
berkembangnya kajian arkeologi dan epigrafi (ilmu prasasti), para peneliti
berhasil menemukan nama beberapa kaum tersebut dalam inskripsi kuno, dan bahkan
telah berhasil membaca sebagian tulisan mereka, seperti tulisan-tulisan
Ṯamūdī. Dari temuan itu tampak bahwa sebagian dari kaum ini hidup tidak
terlalu jauh dari masa Masehi, bahkan mungkin ada yang hidup relatif dekat
dengan masa lahirnya Islam. Inilah salah satu alasan mengapa nama-nama mereka
begitu kuat melekat dalam ingatan para ahli berita (ahl al-akhbār) Arab.
Di antara semua nama itu, kisah yang paling menonjol adalah
kisah kaum ‘Ād.
Kaum ‘Ād: Bangsa Purba dalam Ingatan Arab
Mengapa ‘Ād Selalu Ditaruh Paling Awal?
Jika mengikuti pola silsilah murni, seharusnya suku-suku
seperti Ṭasm, ‘Amālīq, Umaym dan sejenisnya lebih dahulu
disebut daripada ‘Ād dan Ṯamūd. Sebab dalam sebagian riwayat, mereka
dinisbatkan kepada Lāūdz bin Sām, saudara Iram bin Sām,
sedangkan ‘Ād dan Ṯamūd disebut sebagai keturunan Iram bin Sām.
Tetapi para ahli berita Arab klasik justru selalu memulai dengan
kisah ‘Ād, menjadikannya sebagai suku yang paling tua di
antara bangsa-bangsa Arab yang punah, dan menjadikan mereka perumpamaan untuk
“zaman yang sangat lampau”. Pola ini mirip dengan tradisi para penulis Yahudi
yang menempatkan ‘Amāliq (Amalekites) sebagai salah satu
bangsa paling awal.
Ada dua hal yang tampaknya kuat memengaruhi cara pandang
ini:
- Anggapan
sangat tuanya kaum ‘Ād dalam tradisi lisan Arab jahiliah.
- Penyebutan
‘Ād dalam Al-Qur’an, terutama di Surah Al-Fajr, yang kemudian diikuti
dengan menyebut Ṯamūd.
Al-Qur'an berfirman:
﴿أَلَمْ
تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ الَّتِي لَمْ
يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ
بِالْوَادِ﴾
(QS. Al-Fajr [89]: 6–9)
“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat
terhadap (kaum) ‘Ād, (yaitu) Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi,
yang belum pernah diciptakan (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain;
dan (juga terhadap) Ṯamūd yang memahat batu-batu besar di lembah?”
Sejak itu, dalam tradisi Islam dan dalam ingatan orang Arab
kemudian, nama ‘Ād dan Ṯamūd hampir selalu disebut beriringan.
‘Ād dalam Pandangan Ahli Kitab
Sejarawan besar al-Ṭabarī menyebut satu catatan penting. Ia
menulis bahwa orang-orang Yahudi mengatakan di dalam Taurat:
Tidak ada penyebutan tentang ‘Ād, Ṯamūd, Hūd, dan Ṣāliḥ.
Padahal, kata al-Ṭabarī, nama ‘Ād, Ṯamūd, Hūd dan Ṣāliḥ sangat
terkenal di kalangan Arab, baik di masa jahiliah maupun setelah Islam,
sampai-sampai kemasyhuran mereka di kalangan Arab itu disamakan dengan
kemasyhuran Nabi Ibrāhīm dan kaumnya.
Dari sini tampak bahwa:
- Ketika
kaum Muslim awal bertanya kepada orang Yahudi tentang ‘Ād dan sejenisnya,
memang tidak ada rujukan langsung dalam Taurat.
- Kisah-kisah
tentang ‘Ād, Ṯamūd, Hūd, dan Ṣāliḥ pada dasarnya
adalah kisah Arab, hidup dalam tradisi lisan suku-suku Arab
sebelum Islam, lalu ditegaskan dan diluruskan oleh wahyu Al-Qur’an.
- Para
ahli berita Arab kemudian berusaha menghubungkan kisah-kisah
ini dengan Taurat melalui rekayasa silsilah dan
keserupaan nama, meskipun bagi yang mengenal baik teks Taurat, hubungan
itu tampak dipaksakan.
Lebih jauh, sebagian kaum yang digolongkan sebagai Arab
bā’idah ini kemungkinan besar baru hidup setelah penulisan Taurat
selesai, bahkan kebanyakan setelah Masehi, mungkin ada yang
tidak jauh dari masa Nabi Muhammad. Taurat dan kitab-kitab Yahudi sendiri
memang bukan buku sejarah dunia, melainkan berfokus pada bani
Israil dan apa yang terkait langsung dengan mereka. Wajar jika suku-suku Arab
yang hidup kemudian tidak tercatat di dalamnya.
Namun di pihak Arab, karena kaum seperti ‘Ād hidup dekat
dengan masa permulaan Islam, kisah mereka masih kuat diingat. Sekalipun
demikian, kisah-kisah itu kemudian mendapatkan warna cerita dan legenda,
hingga bercampur antara fakta dan dongeng.
Apakah ‘Ād Itu “Hadoram” dalam Taurat?
Sebagian ahli berita mencoba mencari padanan nama ‘Ād dalam
Kitab Suci Yahudi. Ada yang mengatakan bahwa ‘Ād adalah sama
dengan “Hadoram” yang disebut dalam Taurat. Alasannya:
- Dalam
literatur Arab, sering disebut ungkapan “‘Ād Iram”, ada pula
qirā’ah yang membaca ayat:
﴿بِعَادٍ
إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ﴾
- Di
telinga orang Arab, “‘Ād Iram” terdengar mirip
dengan “Hadoram”.
Namun Taurat menegaskan bahwa Hadoram adalah
keturunan Yoqṭān (Joktan), yang dalam literatur Arab dikenal sebagai Qaḥṭān.
Ini tidak sesuai dengan sebagian riwayat Arab yang mengaitkan ‘Ād dengan
keturunan lain.
Sejarawan Jurjī Zaydān mencoba menjawab keberatan ini. Ia
berpendapat singkatnya sebagai berikut: sangat mungkin penulis Kitab Kejadian
melihat bahwa suku itu bermukim di wilayah Yaman dan sekitarnya, lalu menggolongkannya
ke rumpun Qaḥṭān semata-mata karena lokasinya di selatan Jazirah Arab.
Tempat tinggal ‘Ād yang disebut al-Aḥqāf memang berada di
kawasan antara Ḥaḍramaut dan Yaman, sehingga mudah dipahami jika
ada pengelompokan demikian.
Dengan kata lain, menurut Zaydān, ‘Ād bisa saja sama
dengan Hadoram, atau minimal penulis Kitab Kejadian hanya bermaksud
menyebut suku-suku yang tinggal di Yaman dan menisbatkannya
secara umum kepada Qaḥṭān.
Teori-Teori Barat tentang Asal-usul dan Lokasi ‘Ād
Beberapa peneliti Barat juga mencoba mencari jejak kaum ‘Ād
dalam sumber-sumber klasik.
Ada yang melihat hubungan antara nama “‘Ādah” (עָדָה), istri Lamekh dalam Kitab Kejadian, dengan ‘Ād dalam
tradisi Arab. ‘Ādah inilah, menurut Kejadian 4:20, ibu dari Yabal,
yang disebut sebagai bapak para penghuni kemah dan penggembala ternak —
sosok-sosok yang dalam imajinasi mudah dikaitkan dengan bangsa-bangsa
badui seperti kaum ‘Ād.
Peneliti lain menghubungkan kaum ‘Ād dengan sekelompok
manusia yang disebut Oaditae dalam karya geograf Ptolemaios.
Mereka dikatakan mendiami wilayah barat laut Jazirah Arab, mungkin
di sekitar sebuah sumur kuno yang dikenal sebagai Bi’r Iram di
daerah Ḥasmā, di utara Hijaz, antara Aylah (Aqaba) dan Tiih Banī
Isrā’īl. Wilayah ini juga tidak jauh dari daerah yang tradisinya dikaitkan
dengan kaum Ṯamūd.
Sejarawan seperti Sprenger dan beberapa
orientalis lain mendukung pendapat ini dan menganggapnya salah satu teori yang
paling mendekati kebenaran.
Dua Gelombang Kaum ‘Ād: ‘Ād Pertama dan ‘Ād Kedua
Para ahli berita Arab klasik kemudian berbicara
tentang dua lapisan kaum ‘Ād:
- ‘Ād
al-Ūlā (‘Ād pertama)
- ‘Ād
al-Ākhirah (atau ‘Ād kedua)
Dalam anggapan mereka, ‘Ād pertama adalah bangsa
yang sangat kuat dan perkasa, terdiri atas banyak kabilah, bahkan disebut
lebih dari seribu cabang. Disebut di antaranya suku-suku seperti Rafid,
Raml, Ṣud, al-‘Abūd, dan lainnya (nama-nama ini beraneka ragam dalam
manuskrip).
Gagasan tentang dua lapisan ‘Ād ini tampaknya lahir dari
ayat berikut:
﴿وَأَنَّهُ
أَهْلَكَ عَادًا الْأُولَىٰ وَثَمُودَ فَمَا أَبْقَىٰ﴾
(QS. An-Najm [53]: 50–51)
“Dan sesungguhnya Dia telah membinasakan kaum ‘Ād yang
pertama, dan (juga) Ṯamūd, maka tidak ada yang ditinggalkan-Nya (dari mereka).”
Melihat adanya istilah “‘Ād al-Ūlā”, para ahli
berita menyimpulkan secara logis bahwa pasti ada “‘Ād kedua” yang
datang kemudian.
Sebagian ulama klasik berpendapat bahwa:
- ‘Ād
pertama adalah kaum yang benar-benar dibinasakan Allah (kaum Nabi
Hūd), yang disebut sebagai keturunan ‘Ād bin ‘Adiyy bin Sām bin Nūḥ atau ‘Ād
bin ‘Aus bin Iram, tergantung riwayat.
- ‘Ād
terakhir dikaitkan oleh sebagian riwayat dengan suku-suku yang
terus hidup dan dianggap sebagai sisa-sisa ‘Ād, bahkan ada yang
mengaitkannya dengan Banū Tamīm yang tinggal di kawasan
pasir ‘Ālij.
Al-Ṭabarī memerinci bahwa yang dimaksud ‘Ād al-Ūlā adalah
keturunan ‘Aus bin Iram bin Sām bin Nūḥ, sedangkan ‘Ād
al-Ākhirah adalah sekelompok orang dari garis keturunan yang berbeda,
yang hidup di masa seorang tokoh bernama Bakr bin Mu‘āwiyah (atau
menurut riwayat lain Mu‘āwiyah bin Bakr), yang memiliki dua orang biduanita
terkenal yang disebut al-Jaradatān. Menurut riwayat tersebut, semua
kelompok ini akhirnya binasa kecuali satu cabang tertentu yang tinggal di
Makkah dan tidak ikut menetap di tanah kaum ‘Ād; merekalah yang disebut
sebagai sisa terakhir ‘Ād.
Ahli geografi dan sejarawan Yaman seperti al-Hamdānī bahkan
mencoba menyebut daftar nama-nama kabilah yang dianggap bagian
dari kaum ‘Ād, menyebut sekitar sebelas kabilah, di antaranya al-‘Abūd,
al-Khulūd (keluarga Nabi Hūd), Banū Khalid, Banū Ma‘bad, Rafid, Zamr, Zamil,
dan lain-lain. Ini menunjukkan betapa seriusnya para penulis klasik mencoba “merekonstruksi”
struktur sosial kaum ‘Ād berdasarkan tradisi lisan dan tafsir.
Di Mana Letak “Iram Dzat al-‘Imād”?
Di antara teka-teki terbesar dalam studi tentang kaum ‘Ād
adalah makna dan lokasi “Iram dzāt al-‘imād” yang disebut
dalam Surah Al-Fajr. Sebagaimana ayat tadi:
﴿أَلَمْ
تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ﴾
(QS. Al-Fajr [89]: 6–7)
“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat
terhadap (kaum) ‘Ād, (yaitu) Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang
tinggi.”
Para ulama dan sejarawan berbeda pendapat:
Ada yang mengatakan bahwa Iram dzāt al-‘imād adalah
sebuah kota di daerah Tih Abīn, di antara Aden dan Ḥaḍramaut, di
selatan Jazirah Arab.
Ada pula yang berpendapat bahwa Iram adalah Damaskus atau
bahkan Iskandariyah (Alexandria). Yang mendorong mereka kepada
pendapat ini adalah kenyataan bahwa kedua kota tersebut dikenal sejak lama
sebagai kota-kota tua dengan bangunan besar yang bertiang-tiang tinggi,
cocok dengan frasa “dzāt al-‘imād” (pemilik tiang-tiang besar).
Sebagian penulis Arab mengisahkan bahwa di balik salah satu
gerbang Damaskus yang terkenal, Bāb Jīrūn, terdapat cerita tentang
seorang raja bernama Jīrūn bin Sa‘d bin ‘Ād, yang konon membangun
kota Damaskus, mengumpulkan tiang-tiang marmer dan batu pualam, lalu
menamainya Iram. Cerita-cerita semacam ini tampaknya muncul
untuk mencocokkan gambaran Al-Qur’an dengan kota-kota yang
mereka kenal megah di zaman itu.
Ada pula teori lain: Damaskus sejak lama dikenal sebagai
pusat penting orang-orang Ārāmiyyīn (Arameans). Karena kemiripan
bunyi antara “Iram” dan “Aram”, sejumlah peneliti modern mengusulkan bahwa:
- “Iram”
dalam ayat tadi sebenarnya menunjuk kepada “Aram”, bangsa
Aramean.
- ‘Ād
mungkin adalah bagian dari rumpun Aramean.
- Ungkapan “‘Ād
Iram” boleh jadi semula berarti “‘Ād Aram”, lalu disangka
sebagai nama kota yang dibangun kaum ‘Ād dan dijuluki
“dhat al-‘imad”.
Namun, sejauh ini tidak ada bukti meyakinkan bahwa
kata “Iram” dalam ayat tersebut pasti berarti “Aram”.
Bisa jadi sebaliknya: karena adanya frasa “Iram dzāt al-‘imād”,
para ahli nasab lalu terdorong menisbatkan ‘Ād kepada “keturunan Iram”,
sehingga mereka membuat silsilah ‘Ād bin ‘Aus bin Iram, dan
seterusnya.
Iram dan Jejak Arkeologi: Dari Al-Aḥqāf ke Wādī Rum
Dalam Al-Qur’an, tempat tinggal kaum ‘Ād disebut dengan
istilah al-Aḥqāf:
﴿وَاذْكُرْ
أَخَا عَادٍ إِذْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ بِالْأَحْقَافِ﴾
(QS. Al-Aḥqāf [46]: 21, bagian awal)
“Dan ingatlah (Hai Muhammad) saudara kaum ‘Ād (yaitu Nabi
Hūd) ketika ia memberi peringatan kepada kaumnya di al-Aḥqāf…”
Al-Aḥqāf dalam bahasa Arab adalah gundukan
pasir atau bukit-bukit pasir. Para mufasir klasik menjelaskannya sebagai:
- Rangkaian
pasir di antara Yaman dan ‘Umān sampai ke Ḥaḍramaut dan al-Shiḥr.
Riwayat-riwayat ahli berita menyebut bahwa negeri kaum ‘Ād
membentang di daerah-daerah pasir seperti ad-Daww, ad-Dahnā’, ‘Ālij,
Yabrīn, Ubar, hingga ke wilayah ‘Umān dan Yaman. Karena itu tidak
mengherankan jika para sejarawan awal berupaya keras mencari
bekas-bekas kaum ‘Ād di padang pasir, lalu lahirlah banyak kisah
petualangan mencari kota-kota yang hilang, makam-makam kaum ‘Ād, dan sebagainya
— sering dengan nuansa cerita petualangan yang dekat dengan dongeng.
Di sisi lain, sebagian peneliti modern, dengan merujuk pada
Ptolemaios, mengaitkan kaum ‘Ād dengan kelompok Oaditae yang
mendiami wilayah Ḥasmā di utara Hijaz, wilayah berbatu di
bagian barat laut Jazirah Arab. Argumen mereka diperkuat oleh lanjutan ayat
Surah Al-Fajr tadi yang menyebut Ṯamūd:
﴿وَثَمُودَ
الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ﴾
(QS. Al-Fajr [89]: 9)
“Dan (juga) Ṯamūd yang memahat batu-batu besar di
lembah.”
Karena Thamud dikenal dengan tradisi memahat batu di
pegunungan, daerah berbatu seperti Ḥasmā dipandang lebih cocok dengan
gambaran ini ketimbang sekadar padang pasir luas. Al-Qur’an sendiri tidak menentukan
secara tegas lokasi geografis al-Aḥqāf; penentuan tempat lebih banyak merupakan
hasil tafsiran para ulama kemudian.
Penelitian arkeologis modern memberi warna baru pada
perdebatan ini. Seorang peneliti bernama Moritz mengusulkan
bahwa sebuah tempat yang disebut “Aramaua” oleh Ptolemaios
adalah sama dengan “Iram”, dan bahwa tempat itu kini dikenal
sebagai Wādī Rum di Yordania.
Penelitian lanjutan oleh Musil, dan terutama
penggalian yang dilakukan “Lembaga Prancis” di Yerusalem, menemukan
prasasti-prasasti Nabath (Nabataean) di reruntuhan sebuah kuil
di Rum yang menyebut nama tempat itu sebagai “Iram”.
Ini mengisyaratkan bahwa:
- Tempat
ini pada mulanya bernama “Iram”, kemudian dalam perkembangan
lidah dan tulisan menjadi “Rum”.
- Nama Iram ternyata
masih bertahan di ingatan lokal dalam bentuk yang
berubah.
Pada tahun 1932, arkeolog Horsfield dari
Departemen Purbakala Kerajaan Yordania melakukan penggalian di sekitar Jabal
Rum, sekitar 25 mil sebelah timur Aqaba. Di dekat sebuah lembah dan mata
air, ia menemukan jejak-jejak permukiman kuno pra-Islam. Temuan
Horsfield, bersama temuan Savignac dan H. W. Glidden, mendorong sebagian
peneliti untuk mengusulkan bahwa inilah kota Iram yang disebut
dalam Al-Qur’an — sebuah tempat yang telah menjadi reruntuhan jauh
sebelum masa Nabi, menyisakan hanya sebuah mata air yang
disinggahi kafilah-kafilah yang melewati jalur Syam–Mesir–Hijaz.
Sementara itu, ahli kamus dan geografi Muslim seperti Yāqūt
al-Ḥamawī menyebut adanya sebuah tempat bernama “Jash Iram”,
sebuah gunung di dekat pegunungan Aja’ (wilayah suku Ṭayyi’),
dengan puncak yang rata, subur, dan di puncaknya terdapat rumah-rumah
lama yang dikaitkan dengan kaum ‘Ād dan Iram, lengkap
dengan patung-patung yang dipahat di batu. Dalam beberapa naskah,
disebutkan “‘Ād dan Iram” seakan dua kaum yang berbeda, meski
sangat mungkin itu sekadar masalah penyalinan teks.
Di berbagai buku Arab klasik, kita menemukan pula nama-nama
tempat tua lain yang dikaitkan dengan “rumah-rumah kaum ‘Ād”,
biasanya karena di sana terdapat reruntuhan bangunan dan pahatan batu yang
sangat tua, yang pemilik aslinya sudah tidak diketahui.
‘Ād dalam Syair Jahili dan Peribahasa Arab
Bukan hanya Al-Qur’an yang menyebut kaum ‘Ād. Nama mereka
juga hidup dalam syair jahili (puisi pra-Islam). Di antara
penyair yang menyebut ‘Ād adalah:
- Ṭarafah
bin al-‘Abd
- al-Nābighah
al-Dhubyānī
- Zuhayr
bin Abī Sulmā
- Para
penyair Hudhayl
- Ṭufayl
bin ‘Auf al-Ghanawī
- Mutammim
bin Nuwayrah (saudara Mālik bin Nuwayrah, seorang penyair
“mukhadram” yang hidup di penghujung jahiliah dan awal Islam)
- Umayyah
bin Abī aṣ-Ṣalt yang hidup sezaman dengan Rasulullah
- Serta
sejumlah penyair lain, baik jahili maupun mukhadram.
Dalam salah satu bait menggambarkan keburukan nasib
anak-anak yang lahir di tengah pertikaian, Zuhayr menggunakan
ungkapan:
“...seperti Aḥmar ‘Ād (Si Merah dari
‘Ād).”
Ungkapan “Aḥmar ‘Ād” lalu menjadi peribahasa untuk
orang yang sangat sial dan membawa petaka. Orang Arab berkata:
“Aš-ša’umu min Aḥmar ‘Ād” – “Lebih sial dari Si Merah kaum ‘Ād.”
Penyair Abū Khaddāsh al-Hudhali bahkan
menyamakan tokoh terkenal Kulayyib Wā’il — yang pembunuhannya
memicu perang besar antara Bakar dan Taghlib — dengan Aḥmar ‘Ād,
untuk menggambarkan betapa besar bencana yang muncul setelah kematiannya.
Ahli bahasa dan hadis Ibn Qutaybah ad-Dīnawarī menjelaskan
bahwa yang dimaksud “Aḥmar ‘Ād” dalam tradisi peribahasa bukan seseorang
dari ‘Ād sendiri, melainkan “Si Merah dari Ṯamūd”, orang yang
berani menyembelih unta betina mukjizat kaumnya Nabi Ṣāliḥ.
Namun, dalam peredaran tutur, sebutan itu terhubung dengan ‘Ād juga.
‘Ād sebagai Simbol “Sangat Kuno”
Yang lebih menarik, kisah ‘Ād begitu mengakar di benak orang
Arab sehingga:
- Mereka
memandang kaum ‘Ād sebagai generasi yang amat kuno.
- Mereka
sering menisbatkan segala sesuatu yang sangat tua kepada
‘Ād.
Jika mereka melihat senjata tua, mereka
menyebutnya “‘ādiyy” (عاديّ), artinya “dari zaman ‘Ād”, atau
sangat kuno. Bila mereka melihat sisa bangunan atau pahatan batu yang
sudah sangat lama dan tidak diketahui siapa pembuatnya, mereka mengatakan:
“Itu ‘ādiyyah — peninggalan kaum ‘Ād.”
Begitu pula pepohonan tua yang umurnya
sangat panjang, ada yang menyebutnya sebagai “asyjār ‘ādiyyah” (pohon-pohon
‘Ad), maksudnya sangat kuno.
Sejarawan besar Julius Wellhausen menafsirkan
fenomena ini dengan cara menarik. Menurutnya:
- Nama “‘Ād” pada
awalnya mungkin bukan nama bangsa tertentu, melainkan
istilah yang berarti “zaman yang sangat lampau” atau
“masa sangat tua”.
- Kata
sifat “‘ādī” berarti “sejak masa yang amat tua
sekali”.
- Dari
sinilah kemudian tumbuh kisah-kisah tentang “zaman ‘Ād”, yang
lama-lama dipahami orang sebagai kisah tentang satu bangsa
tertentu bernama ‘Ād.
Apa pun penjelasannya, tak diragukan bahwa dalam sastrawan
Arab, “hari-hari ‘Ād” menjadi simbol “masa purba”.
‘Ād dalam Al-Qur’an: Contoh Kaum yang Sangat Lama Telah
Binasa
Al-Qur’an menjadikan kaum Nūḥ, ‘Ād, dan Ṯamūd sebagai
contoh umat-umat terdahulu yang dibinasakan karena kedurhakaan, dan disebut
sebagai kaum yang sangat lampau hingga detail kisah mereka sekarang tidak
diketahui kecuali oleh Allah.
Di antara ayat yang menggambarkan hal ini:
﴿أَلَمْ
يَأْتِكُمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ
وَالَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ لَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا اللَّهُ...﴾
(QS. Ibrāhīm [14]: 9, bagian awal)
“Belumkah datang kepada kalian berita orang-orang sebelum
kalian: kaum Nūḥ, ‘Ād, Ṯamūd, dan orang-orang setelah mereka? Tidak ada yang
mengetahui mereka (secara rinci) selain Allah...”
Ayat ini menunjukkan bahwa di zaman Rasulullah, orang-orang
telah mengakui betapa lamanya masa yang memisahkan mereka
dengan kaum Nūḥ, ‘Ād, dan Ṯamūd, sehingga informasi rinci tentang mereka telah
hilang kecuali yang diberitakan oleh wahyu.
Karena itu, Al-Qur’an berkali-kali menyebut kaum ‘Ād di
berbagai surah sebagai peringatan bagi kaum yang mendustakan
rasul-rasul Allah:
- Di
Surah Al-Ḥajj (22:42) dalam konteks menghibur Nabi Muhammad yang
didustakan kaumnya.
- Di
Surah Al-Ḥāqqah (69:4, 6) ketika menggambarkan kedahsyatan azab yang
menimpa mereka.
- Di
Surah Al-Furqān (25:38), Fussilat (41:13), Al-A‘rāf (7:65), dan Hūd
(11:50), ketika menceritakan dakwah Nabi Hūd kepada kaum ‘Ād.
Semua ini menguatkan kesan bahwa kaum ‘Ād bagi
orang Arab — dan kemudian bagi kaum Muslim — adalah lambang bangsa yang
kuat, sombong, sangat tua, lalu dibinasakan secara total.
Kisah-Kisah dan Peribahasa Lain seputar ‘Ād
Kisah ‘Ād tidak hanya hidup dalam Al-Qur’an dan puisi,
tetapi juga dalam anekdot, peribahasa, dan cerita peringatan.
Dalam sebuah surat yang dinisbatkan kepada Yazīd bin
Mu‘āwiyah kepada penduduk Madinah ketika mereka hendak memberontak, ia
mengancam akan menimpakan kepada mereka hukuman berat sehingga nasib mereka
akan menjadi seperti kaum ‘Ād dan Ṯamūd. Ia menulis bahwa ia akan menjadikan
mereka sebuah kisah yang menyaingi kisah kejatuhan ‘Ād dan Ṯamūd,
seakan-akan berkata, “Aku akan meninggalkan kalian sebagai cerita yang
menghapus berita kalian, sebagaimana berita kalian terhapus oleh kisah ‘Ād dan Ṯamūd.”
Seorang tokoh bernama Sabi‘ disebut pernah
menghardik orang-orang Banū Ḥanīfah di Yamāmah dengan
kata-kata:
“Wahai Banū Ḥanīfah, binasalah kalian sebagaimana
binasanya ‘Ād dan Ṯamūd.”
Ada pula peribahasa tentang seorang lelaki dari ‘Ād
bernama Ibn Bayḍ, dikisahkan sebagai saudagar kaya raya. Ia
dikatakan menyembelih seekor unta di sebuah tanjakan sehingga menghalangi
jalan para musafir, lalu dijadikan perumpamaan bagi sesuatu yang
menghalangi jalan orang lain. Seorang penyair menggambarkan pakaian yang
terlalu menghalangi seperti “jubah Ibn Bayḍ” yang menghalangi para pelintas
jalan.
Dalam riwayat lain, diceritakan seorang lelaki kaya dari
sisa keturunan ‘Ād bernama Ḥimār. Ia pada awalnya bertauhid, tetapi
ketika anak-anaknya mati disambar petir, ia berbalik kafir dan
menyekutukan Allah. Akibatnya, menurut cerita para ahli berita, Allah
memusnahkan seluruh harta dan lembah tempat ia tinggal, hingga lembah itu
menjadi kering dan tidak lagi ditumbuhi tanaman. Tempat tersebut kemudian
dikenal dengan nama “Jawf Ḥimār”, dinisbatkan kepada namanya. Ada
yang mengatakan bahwa penyair besar Imru’ al-Qays menyebut
lembah kering itu dalam salah satu bait syairnya untuk melukiskan tempat yang
sunyi dan menakutkan.
Kisah-kisah seperti ini, meskipun mengandung unsur legenda,
menunjukkan satu hal penting: nama ‘Ād menjadi kerangka
rujukan budaya bagi orang Arab untuk berbicara tentang:
- Kekayaan
yang tidak membawa keselamatan
- Kesombongan
yang mengundang azab
- Kepunahan
total yang meninggalkan tempat dan nama, namun menghapus
pemiliknya.
Penutup: ‘Ād sebagai Cermin Lupa dan Ingatan
Dari perjalanan kisah kaum ‘Ād — mulai dari keraguan
orientalis, penemuan prasasti kuno, perdebatan tentang “Iram dzāt al-‘imād”,
hingga kuatnya nama ‘Ād dalam syair dan peribahasa Arab — kita melihat
bagaimana sejarah, mitos, agama, dan identitas berkelindan.
Bagi orang Arab pra-Islam, ‘Ād adalah simbol masa
purba, bangsa yang sangat kuat tetapi akhirnya hancur. Bagi Al-Qur’an,
kisah kaum ‘Ād adalah peringatan moral: sekuat apa pun sebuah
peradaban, jika tenggelam dalam kesombongan dan menolak kebenaran, ia
bisa sirna tanpa bekas, tinggal nama dan reruntuhan.
Dan bagi kita hari ini, jejak-jejak nama ‘Ād dan
Iram yang terserak dalam teks kuno, puisi, dan situs arkeologis
seperti Wādī Rum, menghadirkan tantangan yang menarik: mencoba
mengenali kembali sebuah bangsa yang bagi Al-Qur’an sendiri dikatakan, detail
mereka “tidak diketahui kecuali oleh Allah”.
Sumber
Juwād ‘Alī, المفصل في تاريخ العرب قبل الإسلام

Komentar
Posting Komentar