Wafatnya Abu Thalib

Seorang gadis muda Arab berjilbab duduk di lantai rumah sederhana berlantaikan tanah di Makkah, menangis sambil membersihkan debu dari serban dan jubah panjang yang diletakkan di pangkuannya, dengan cahaya sore gurun masuk dari pintu kayu dan menerangi ruangan bergaya abad ke-7.

Tahun Duka: Wafatnya Abu Thalib

Di antara fase paling berat dalam kehidupan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah ketika paman beliau, Abu Thalib, dan istri beliau yang tercinta, Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu 'anha, wafat pada tahun yang sama. Para ulama menyebutnya sebagai 'āmul huzn, “tahun kesedihan”.
Keduanya adalah dua penopang besar dakwah beliau:
Abu Thalib adalah pelindung lahir beliau di hadapan kaum Quraisy.
Khadijah adalah penenang batin, pendukung setia keimanan beliau di dalam rumah.
Peristiwa wafatnya dua penopang ini terjadi sekitar tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah. Sejak saat itu, bertubi tubi ujian menimpa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
________________________________________

Setelah Abu Thalib Wafat: Gangguan Quraisy Meningkat

Selama Abu Thalib hidup, Quraisy masih segan untuk menyakiti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam secara terang terangan. Namun ketika ia wafat, batas itu runtuh. Mereka berani melakukan hal hal yang sebelumnya tidak mereka berani lakukan.
Diriwayatkan bahwa suatu ketika seorang dungu dari Quraisy menghadang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di jalan, lalu menaburkan tanah ke atas kepala beliau. Rasulullah pulang ke rumah dengan kepala berdebu. Salah seorang putri beliau melihat keadaan itu, berdiri, membasuh tanah dari kepala ayahnya sambil menangis.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menenangkannya:
“Janganlah engkau menangis, wahai putriku. Sesungguhnya Allah akan melindungi ayahmu.”
Beliau juga berkata:
“Quraisy tidak pernah dapat menimpakan kepadaku sesuatu yang aku benci sampai Abu Thalib wafat.”
Gangguan tidak berhenti di situ. Kadang ada di antara mereka yang dengan sengaja melemparkan kotoran ke dalam periuk masakan beliau ketika sedang dipasang untuk beliau. Bila itu terjadi, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kotoran itu di ujung sebatang kayu, berdiri di depan pintu rumahnya, lalu berseru:
“Wahai Bani 'Abd Manaf, penjagaan macam apakah ini?”
Setelah itu beliau melemparkan kotoran itu ke jalan. Ini menunjukkan betapa beliau menanggung gangguan dengan sabar, namun tetap menegur kaumnya dengan cara yang halus tetapi tegas.
________________________________________

Saat Quraisy Mulai Takut: Pergi kepada Abu Thalib

Ketika Abu Thalib mulai sakit keras dan masa hidupnya terasa akan berakhir, Quraisy justru diliputi kegelisahan lain. Mereka melihat tanda tanda:
Hamzah telah masuk Islam.
Umar bin Al Khaththab telah masuk Islam.
Dakwah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menyebar ke berbagai kabilah Quraisy.
Mereka khawatir kekuasaan dan pengaruh mereka runtuh. Sehingga sebagian dari pemuka Quraisy berkata kepada sebagian yang lain:
“Sesungguhnya Hamzah dan Umar telah masuk Islam, dan urusan Muhammad telah menyebar di semua kabilah Quraisy. Mari kita pergi kepada Abu Thalib. Biarlah ia mengambil perjanjian untuk kita dari keponakannya, dan memberikan jaminan bagi keponakannya dari kita. Demi Allah, kita tidak merasa aman kalau-kalau mereka merampas urusan kita.”
Maka berangkatlah sejumlah pembesar Quraisy menemui Abu Thalib. Di antara mereka: 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Abu Jahl bin Hisyam, Umayyah bin Khalaf, dan Abu Sufyan bin Harb. Mereka adalah para tokoh dari suku mereka.
Mereka berkata:
“Wahai Abu Thalib, engkau tahu kedudukanmu di tengah kami, dan kini engkau telah didatangi oleh apa yang engkau lihat (yakni sakit mendekati kematian), dan kami khawatir terhadapmu. Engkau pun mengetahui apa yang terjadi antara kami dan keponakanmu. Maka panggillah dia, ambillah perjanjian untuk kami darinya dan ambillah untuknya jaminan dari kami: agar dia menahan diri dari kami, dan kami menahan diri darinya. Hendaklah dia membiarkan kami dengan agama kami dan kami pun membiarkannya dengan agamanya.”
Abu Thalib memanggil Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika beliau datang, Abu Thalib berkata:
“Wahai anak saudaraku, ini para pembesar kaummu telah berkumpul untukmu, untuk memberikan sesuatu kepadamu dan mengambil sesuatu darimu.”
________________________________________

Satu Kalimat yang Ditolak Quraisy

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyambut tawaran itu dengan syarat yang sangat sederhana namun sangat besar maknanya. Beliau bersabda:
“Ya, (hanya) satu kalimat saja yang kalian berikan kepadaku. Dengan kalimat itu kalian akan menguasai orang-orang Arab dan bangsa bangsa 'ajam (non Arab) akan tunduk membayar jizyah kepada kalian.”
Para pemuka Quraisy yang ambisius terhadap kekuasaan tentu tertarik. Abu Jahl berkata:
“Ya, demi ayahmu, bahkan sepuluh kalimat.”
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu menjelaskan:
“(Kalimat itu adalah) kalian mengucapkan: Lā ilāha illallāh, dan kalian menanggalkan apa saja yang kalian sembah selain-Nya.”
Mendengar itu, seketika mereka menepukkan tangan mereka dengan kesal dan terkejut, lalu berkata:
“Wahai Muhammad, apakah engkau hendak menjadikan tuhan-tuhan itu hanya satu Tuhan saja? Sesungguhnya perkara engkau ini benar-benar mengherankan!”
Mereka pun saling berbisik: “Demi Allah, laki laki ini tidak akan memberikan kepada kalian sesuatu pun dari apa yang kalian inginkan. Pergilah, tetaplah pada agama nenek moyang kalian, sampai Allah memutuskan antara kalian dan dia.” Lalu mereka bubar.
Abu Thalib berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
“Demi Allah, wahai anak saudaraku, aku tidak melihat engkau meminta sesuatu yang berlebihan dari mereka.”
Ucapan ini membuat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kembali berharap bahwa pamannya mungkin akan menerima kalimat tauhid itu. Beliau pun memohon:
“Wahai Paman, maka engkau ucapkanlah kalimat itu. Aku akan menjadikannya alasan untuk mendapatkan syafaat bagimu pada hari Kiamat.”
Namun Abu Thalib, yang sangat kuat memegang tradisi kaumnya, menjawab dengan hati hati:
“Wahai anak saudaraku, demi Allah, kalau bukan karena aku takut celaan menimpamu dan Bani ayahmu setelahku, dan aku takut Quraisy mengira aku mengucapkannya karena takut mati, niscaya aku akan mengucapkannya. Aku tidak akan mengucapkannya kecuali untuk menyenangkanmu.”
Di sinilah tampak jelas, ia tahu kebenaran keponakannya, mencintainya, tetapi terhalang oleh gengsi, tradisi, dan takut celaan manusia.
Tentang para pembesar Quraisy yang menolak kalimat tauhid itu, Allah menurunkan firman Nya:
﴿ص وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ ۝ بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي عِزَّةٍ وَشِقَاقٍ﴾
“Shaad. Demi Al-Qur'an yang mempunyai peringatan. Bahkan orang-orang kafir itu berada dalam kesombongan dan perpecahan.”
(QS. Shad: 1–2)
________________________________________

Klaim Abu Thalib Masuk Islam dan Jawabannya

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa ketika ajal Abu Thalib semakin dekat, Al 'Abbas – saudara Abu Thalib – melihat bibirnya bergerak. Ia mendekatkan telinganya lalu berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
“Wahai anak saudaraku, demi Allah, sungguh saudaraku telah mengucapkan kalimat yang engkau perintahkan untuk mengucapkannya.”
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab singkat:
“Aku tidak mendengarnya.”
Sebagian kelompok kemudian menjadikan riwayat ini sebagai dalil bahwa Abu Thalib wafat dalam keadaan Muslim. Namun para ulama ahli hadits meneliti sanad riwayat tersebut dan menemukan di dalamnya perawi yang tidak jelas (majhul), sehingga tidak bisa dijadikan pegangan, terlebih ketika bertentangan dengan riwayat riwayat yang jauh lebih sahih.
Banyak riwayat sahih dari Al Bukhari, Muslim, dan imam imam lainnya yang menceritakan detik detik wafatnya Abu Thalib secara tegas, dan semuanya menunjukkan bahwa ia tidak mengucapkan syahadat hingga akhir hayatnya.
________________________________________

Detik Detik Terakhir: Ajakan Terakhir kepada Tauhid

Dalam riwayat sahih dari Sa'id bin Al Musayyab, dari ayahnya, disebutkan bahwa ketika Abu Thalib menjelang wafat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang menjenguknya. Di sisi tempat tidurnya ada Abu Jahl dan 'Abdullah bin Abi Umayyah.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dengan kasih sayang yang mendalam, memohon kepada pamannya:
“Wahai Paman, ucapkanlah Lā ilāha illallāh. Satu kalimat yang akan kugunakan untuk membelamu di hadapan Allah.”
Namun Abu Jahl dan 'Abdullah bin Abi Umayyah segera memotong, menekan jiwa Abu Thalib dengan kalimat tradisi:
“Wahai Abu Thalib, apakah engkau berpaling dari agama 'Abdul Muththalib?”
Mereka terus mengulang dan mengulang kalimat itu, sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga terus mengajak dengan lembut agar ia mengucapkan Lā ilāha illallāh. Sampai akhirnya ucapan terakhir Abu Thalib adalah:
“(Aku berada) di atas agama 'Abdul Muththalib.”
Ia enggan mengucapkan syahadat.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian bersabda:
“Sungguh aku akan memohonkan ampun untukmu selama aku tidak dilarang (oleh Allah) darimu.”
Tak lama kemudian, Allah menurunkan dua ayat yang sangat jelas hukumnya:
﴿مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوْا أَنْ يَسْتَغْفِرُوْا لِلْمُشْرِكِيْنَ وَلَوْ كَانُوْا أُوْلِيْ قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ﴾
“Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang itu adalah kerabat (mereka sendiri), setelah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahim.”
(QS. At Taubah: 113)
Dan Allah berfirman:
﴿إِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ أَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ﴾
“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki; dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”
(QS. Al Qashash: 56)
Ayat ini turun khusus berkenaan dengan Abu Thalib, sebagaimana diterangkan oleh Ibnu 'Abbas, Ibnu 'Umar, Mujahid, Asy Sya'bi, Qatadah, dan ulama ulama lainnya. Mereka menegaskan bahwa ayat ini turun ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajak pamannya mengucapkan Lā ilāha illallāh namun ia enggan dan tetap di atas agama nenek moyangnya.
Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Abu Thalib berkata:
“Kalau bukan karena Quraisy akan mencelaku dengan berkata, ‘Tidak ada yang membawanya mengucapkan kalimat itu selain takut mati,’ niscaya aku akan menyenangkan matamu dengannya. Aku tidak akan mengucapkannya kecuali untuk menyenangkanmu.”
Lalu Allah menurunkan ayat yang sama:
﴿إِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ أَحْبَبْتَ...﴾
(QS. Al Qashash: 56)
Ini semua menunjukkan betapa kuatnya tekanan tradisi dan gengsi pada diri Abu Thalib, meski ia sangat mencintai keponakannya.
________________________________________

Keadaan Abu Thalib di Akhirat: Azab yang Paling Ringan

Meskipun Abu Thalib wafat dalam keadaan tidak beriman, jasa besarnya dalam melindungi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak dilupakan. Allah memberikan keringanan azab baginya berkat syafaat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Al 'Abbas bin 'Abdul Muththalib pernah berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
“Wahai Rasulullah, apa yang telah engkau lakukan untuk pamanmu? Ia dahulu melindungi dan membelamu.”
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:
“Ia berada di dalam selapis tipis neraka (dihdhāh min an nār). Seandainya bukan karena aku, niscaya ia berada di dasar neraka yang paling bawah.”
Dalam hadis lain yang diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim dari Abu Sa'id Al Khudri, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda saat menyebut pamannya:
“Barangkali syafaatku bermanfaat baginya pada hari Kiamat. Lalu ia ditempatkan pada selapis tipis neraka, yang mencapai kedua mata kakinya, dari situ otaknya mendidih.”
Dalam riwayat Muslim yang lain dari Ibnu 'Abbas, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Orang yang paling ringan azabnya di antara penghuni neraka adalah Abu Thalib. Ia memakai dua sandal dari api, lalu dari keduanya otaknya mendidih.”
Ini adalah azab yang “paling ringan” di neraka, namun tetaplah azab yang sangat dahsyat. Inilah balasan bagi orang yang memiliki kebaikan besar dalam membela Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi tidak masuk ke dalam iman.
________________________________________

Kisah Penguburan Abu Thalib

Setelah Abu Thalib wafat, Ali bin Abi Thalib datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata:
“Wahai Rasulullah, pamanmu telah wafat.”
Dalam satu riwayat, ia menyebutnya, “pamanmu yang tua lagi sesat.” Dalam riwayat lain, ia menyebutnya “ayahku,” dan maksudnya adalah paman yang mengasuhnya seperti ayah.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Pergilah, dan kuburkanlah dia. Janganlah engkau melakukan sesuatu (amalan lain) sampai engkau kembali kepadaku.”
Ali berkata bahwa ia sempat berkata:
“Sesungguhnya ia mati dalam keadaan musyrik.”
Namun Rasulullah tetap memerintahkannya:
“Pergilah dan kuburkanlah dia…”
Setelah menguburkan, Ali kembali kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau lalu memerintahkannya untuk mandi. Ali menceritakan, setelah itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendoakannya dengan doa doa yang bagi Ali lebih berharga daripada seluruh isi bumi.
Di sini tampak keseimbangan sikap Rasulullah: beliau menerima kenyataan bahwa pamannya mati sebagai musyrik, sehingga tidak menshalatkannya dan tidak memintakan ampun baginya. Namun beliau tetap menjaga hubungan kekeluargaan, memerintahkan agar dikuburkan secara layak, serta memuliakan Ali dengan doa doa yang besar.
Ada riwayat lemah yang menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berjalan di depan jenazah Abu Thalib dan berkata:
“Engkau telah menyambung silaturahim dan engkau mendapat balasan yang baik, wahai pamanku.”
Lalu disebutkan bahwa beliau tidak berdiri di atas kuburnya. Walau sanadnya diperdebatkan, maknanya sejalan dengan sikap umum beliau: menghargai jasa sosial Abu Thalib, namun tidak memperlakukannya sebagai seorang mukmin.
________________________________________

Abu Thalib: Mengetahui Kebenaran, Namun Tidak Beriman

Ibnu Katsir rahimahullah menegaskan bahwa telah banyak bukti dan syair syair Abu Thalib yang menunjukkan ia mengetahui kebenaran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, memuji beliau, dan mencela para penentang beliau. Syair syairnya sarat dengan pembelaan tingkat tinggi, bahasa Arab yang sangat fasih dan kuat, serta kebanggaan Bani Hasyim. Ia mengorbankan kedudukan, harta, dan kaumnya demi melindungi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Namun semua itu tidak otomatis menjadikannya seorang mukmin. Ia tahu, tetapi tidak membenarkan dengan hati dan tidak tunduk kepada perintah iman. Di sinilah perbedaan penting antara sekedar tahu dan beriman.
Allah Ta'ala berfirman tentang Ahli Kitab yang mengenal Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam:
﴿الَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَعْرِفُوْنَهُ كَمَا يَعْرِفُوْنَ أَبْنَاۤءَهُمْ ۗوَإِنَّ فَرِيْقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ﴾
“Orang-orang yang telah Kami beri Kitab (Taurat dan Injil) mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka benar-benar menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.”
(QS. Al Baqarah: 146)
Tentang kaum Fir’aun, Allah berfirman:
﴿وَجَحَدُوْا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚفَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِيْنَ﴾
“Dan mereka mengingkarinya (ayat-ayat Kami) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya, karena zalim dan sombong. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(QS. An Naml: 14)
Dan tentang percakapan Musa dengan Fir’aun, Allah berfirman:
﴿قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هٰٓؤُلَاۤءِ إِلَّا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ بَصَاۤئِرَ ۚوَإِنِّيْ لَأَظُنُّكَ يٰفِرْعَوْنُ مَثْبُوْرًا﴾
“Musa berkata, ‘Sungguh, engkau telah mengetahui bahwa tidak ada yang menurunkan (mukjizat-mukjizat) ini kecuali Tuhan (Rabb) langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku benar-benar menyangka engkau, wahai Fir'aun, akan binasa.’”
(QS. Al Isrā': 102)
Mereka tahu, tetapi tidak tunduk. Demikian pula Abu Thalib: ia mengenal kebenaran, tetapi tidak masuk ke dalam barisan orang-orang beriman.
________________________________________

Tafsir Ayat: “Mereka Melarang dan Mereka Menjauh”

Sebagian ulama salaf menafsirkan ayat:
﴿وَهُمْ يَنْهَوْنَ عَنْهُ وَيَنْـَٔوْنَ عَنْهُ ۚوَإِنْ يُهْلِكُوْنَ إِلَّآ أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَ﴾
“Mereka melarang (orang lain) darinya dan mereka sendiri menjauh darinya; dan mereka tidak membinasakan (siapa pun) kecuali diri mereka sendiri, sedangkan mereka tidak menyadari.”
(QS. Al An'ām: 26)
bahwa ayat ini turun tentang Abu Thalib. Mereka mengatakan: ia melarang orang-orang untuk menyakiti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi ia sendiri menjauh dari agama yang dibawa beliau.
Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, Al Qasim bin Mukhaimirah, Habib bin Abi Tsabit, 'Atha' bin Dinar, Muhammad bin Ka'b, dan lainnya. Namun Ibnu Katsir menilai, pendapat ini masih perlu ditinjau. Menurut beliau, yang lebih kuat adalah riwayat lain dari Ibnu 'Abbas yang menyatakan makna ayat ini:
“Mereka melarang manusia dari (beriman kepada) Muhammad.”
Makna ini sejalan dengan konteks ayat sebelumnya, yang menggambarkan watak umum orang-orang musyrik Quraisy yang mendengar Al Qur'an tetapi menutup hati, mendustakan ayat ayat Allah, dan menghalangi orang lain dari beriman.
Allah berfirman:
﴿وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ ۚوَجَعَلْنَا عَلٰى قُلُوْبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوْهُ وَفِيْٓ أٰذَانِهِمْ وَقْرًا ۚوَإِنْ يَّرَوْا كُلَّ اٰيَةٍ لَا يُؤْمِنُوْا بِهَا ۗحَتّٰى إِذَا جَاۤءُوْكَ يُجَادِلُوْنَكَ يَقُوْلُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا إِنْ هٰذَآ إِلَّآ أَسَاطِيْرُ الْأَوَّلِيْنَ﴾
“Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkanmu, tetapi Kami jadikan tutupan di atas hati mereka (yang menutupi) sehingga mereka tidak memahaminya, dan pada telinga mereka ada sumbatan. Jika pun mereka melihat setiap tanda (kebesaran Kami), mereka tetap tidak beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu, mereka membantahmu; orang-orang kafir itu berkata, ‘Ini tidak lain hanyalah dongeng orang-orang terdahulu.’”
﴿وَهُمْ يَنْهَوْنَ عَنْهُ وَيَنْـَٔوْنَ عَنْهُ ۚوَإِنْ يُهْلِكُوْنَ إِلَّآ أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَ﴾
“Mereka melarang (orang lain) darinya dan mereka sendiri menjauh darinya; dan mereka tidak membinasakan (siapa pun) kecuali diri mereka sendiri, sedangkan mereka tidak menyadari.”
(QS. Al An'ām: 25–26)
Kata ganti jamak “mereka” menunjukkan bahwa ayat ini lebih tepat ditujukan kepada kelompok musyrikin secara umum, bukan hanya satu orang. Sementara Abu Thalib, meskipun tidak beriman, tidak termasuk di antara orang yang menghalangi manusia dari kebenaran dalam makna menyuruh orang kafir dan menentang dakwah; justru ia menghalangi mereka dari menyakiti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
________________________________________

Hikmah dan Penutup: Antara Kasih Sayang dan Ketentuan Allah

Kisah Abu Thalib adalah kisah yang sangat menyentuh. Di satu sisi:
Ia melindungi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan seluruh kekuatan dan wibawanya.
Ia menanggung pemboikotan di Syi'b Abu Thalib.
Ia menggubah syair syair yang membela Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan mencela para penentangnya.
Ia mencintai beliau melebihi cintanya kepada anak anaknya sendiri.
Namun di sisi lain, ia terhalang oleh gengsi, adat, tradisi nenek moyang, dan takut celaan, sehingga tidak mengucapkan kalimat yang dapat menyelamatkannya selama lamanya: Lā ilāha illallāh.
Dalam hal ini, tampak jelas hikmah besar dari firman Allah:
﴿إِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ أَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ﴾
“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki; dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”
(QS. Al Qashash: 56)
Ibnu Katsir rahimahullah menutup pembahasannya dengan kalimat yang sangat halus maknanya. Beliau mengatakan kira kira maknanya:
Seandainya Allah tidak melarang kita dari memintakan ampun untuk orang-orang musyrik, niscaya kita akan memintakan ampun dan mendoakan rahmat bagi Abu Thalib.
Namun karena Allah telah melarang secara tegas dalam ayat:
﴿مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوْا أَنْ يَسْتَغْفِرُوْا لِلْمُشْرِكِيْنَ...﴾
(QS. At Taubah: 113)
maka seorang mukmin berhenti di batas yang Allah tetapkan. Kita tidak memintakan ampun untuk Abu Thalib, tetapi kita tetap mengakui jasa besarnya terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan kita serahkan urusannya sepenuhnya kepada keadilan dan hikmah Allah Ta'ala.
________________________________________

Sumber kisah:

Al Bidāyah wa an Nihāyah


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rihlah Ibnu Bathutah #15: Ziarah ke Madinah al Munawwarah dan Makkah al Mukarramah

Mukjizat Terbelahnya Bulan

Kisah Masuk Islamnya Ath-Thufail bin Amr ad-Dausi: Dari Hasutan Quraisy hingga Syahid di Yamamah