Ujian Terberat Setelah Wafat Abu Thalib dan Doa Menyentuh di Tahun Kesedihan
Abu Thalib adalah paman yang sangat besar jasanya bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia bukan hanya paman, tetapi juga pelindung, pembela, dan perisai bagi beliau. Abu Thalib mengorbankan dirinya, hartanya, kedudukannya, dan seluruh kemampuannya untuk menjaga keponakannya dari gangguan Quraisy.
Selama Abu Thalib hidup, Quraisy segan. Mereka tidak berani menyentuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan gangguan yang berat. Namun ketika Abu Thalib wafat, segalanya berubah. Orang-orang bodoh di kalangan Quraisy mulai berani melampaui batas terhadap beliau. Mereka melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah sanggup mereka lakukan.
Air Mata Putri Nabi dan Penghiburan Sang Ayah
Diriwayatkan bahwa setelah Abu Thalib wafat, seorang dungu dari Quraisy berani menghadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menaburkan tanah ke atas kepala beliau. Beliau pulang ke rumah dalam keadaan penuh debu.
Salah satu putri beliau—dalam sebagian riwayat disebut Fathimah radhiyallahu ‘anha—datang mengusap tanah dari wajah ayahnya sambil menangis. Melihat itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menenangkan putrinya dengan kalimat yang lembut:
“Wahai putriku, janganlah engkau menangis. Sesungguhnya Allah akan menjaga dan melindungi ayahmu.”
Beliau juga mengungkapkan betapa besar peran Abu Thalib dengan bersabda:
“Quraisy tidak pernah berhasil menyentuh sesuatu pun yang aku benci sampai Abu Thalib wafat.”
Hilangnya Pelindung dan Munculnya Keberanian Quraisy
Sejak wafatnya Abu Thalib, gangguan Quraisy meningkat. Dalam beberapa riwayat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa Quraisy senantiasa menahan diri untuk tidak menyakiti beliau secara terang-terangan sampai Abu Thalib wafat. Setelah pelindung utama beliau tiada, rasa segan itu sirna, dan mereka mulai berani melecehkan dan menyakiti beliau dengan cara-cara yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya.
Dua Musibah Besar: Wafatnya Abu Thalib dan Khadijah
Tidak lama setelah Abu Thalib wafat, istri tercinta beliau, Khadijah radhiyallahu ‘anha, juga wafat. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa jarak wafat keduanya sekitar sebulan lima hari. Dua kehilangan besar ini menimpa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hampir bersamaan.
Para sahabat meriwayatkan bahwa dua musibah ini berkumpul atas diri Rasulullah. Beliau banyak tinggal di rumah dan jarang keluar, sementara Quraisy semakin berani menyakiti beliau dengan cara-cara yang sebelumnya tidak mereka sanggupi dan bahkan tidak mereka bayangkan.
Sekejap Dukungan dari Abu Lahab
Berita tentang meningkatnya gangguan Quraisy ini sampai kepada Abu Lahab, paman beliau yang kelak terkenal sebagai salah satu musuh terbesar Islam. Menariknya, pada awalnya Abu Lahab justru sempat berdiri di pihak beliau.
Abu Lahab datang dan berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Wahai Muhammad, lanjutkan apa yang engkau kehendaki. Apa pun yang dahulu engkau lakukan ketika Abu Thalib masih hidup, lakukanlah juga sekarang. Demi al-Lat, mereka tidak akan bisa menyentuhmu sampai aku mati.”
Suatu ketika, seorang lelaki bernama Ibnu al-Ghaythalah mencaci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Lahab langsung mendatanginya dan membalasnya hingga lelaki itu lari sambil berteriak kepada Quraisy, “Wahai kaum Quraisy, Abu ‘Utbah (Abu Lahab) telah murtad!”
Orang-orang Quraisy berdatangan dan mempertanyakan sikap Abu Lahab. Ia menjelaskan bahwa dia tidak meninggalkan agama Abdul Muththalib, tetapi hanya ingin mencegah agar keponakannya tidak dizalimi, sampai sang keponakan melaksanakan apa yang ia kehendaki. Mereka pun memuji sikap Abu Lahab dan menganggapnya sebagai tindakan mulia, indah, dan bentuk penyambung silaturahmi.
Selama beberapa hari setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar-masuk Makkah tanpa ada yang berani mengganggu beliau, karena mereka segan terhadap Abu Lahab.
Ketika Abu Lahab Berbalik Menjadi Musuh
Namun sikap “perlindungan” Abu Lahab tidak berlangsung lama. Uqbah bin Abi Mu’ith dan Abu Jahl datang menghasutnya. Mereka bertanya kepada Abu Lahab apakah keponakannya telah memberitahukan di mana tempat akhir (masuk) ayahnya, Abdul Muththalib.
Abu Lahab lalu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Muhammad, di mana tempat Abdul Muththalib?” Beliau menjawab, “Bersama kaumnya.” Abu Jahl dan Uqbah kemudian menafsirkan jawaban itu di hadapan Abu Lahab sebagai pengakuan bahwa Abdul Muththalib termasuk penghuni neraka. Mereka berkata:
“Ia mengaku bahwa Abdul Muththalib berada di dalam neraka.”
Abu Lahab sangat marah. Ia kembali mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya:
“Apakah Abdul Muththalib akan masuk neraka?”
Beliau menjawab:
“Siapa pun yang mati di atas apa yang Abdul Muththalib mati di atasnya, ia akan masuk neraka.”
Jawaban yang benar, jujur, dan tegas ini membuat Abu Lahab tersulut amarah. Ia berkata:
“Demi Allah, mulai hari ini aku tidak akan berada di pihakmu kecuali sebagai musuh selamanya, sementara engkau mengaku bahwa Abdul Muththalib berada di neraka!”
Sejak saat itu, permusuhan Abu Lahab dan kaum Quraisy terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin keras.
Tetangga yang Menyiksa di Sekitar Rumah Nabi
Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa ada beberapa orang yang menjadi tetangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah dan terkenal sering menyakiti beliau di sekitar rumah. Mereka adalah Abu Lahab, al-Hakam bin Abi al-‘Ash bin Umayyah, Uqbah bin Abi Mu’ith, ‘Adi bin al-Hamra’, dan Ibnu al-Ashda’ al-Hudzali. Semuanya adalah tetangga dekat beliau, dan tidak ada yang masuk Islam kecuali al-Hakam bin Abi al-‘Ash.
Sebagian dari mereka, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat, melemparkan isi perut kambing ke atas punggung beliau. Ada yang melemparkan jeroan ke dalam panci masakan beliau ketika sedang dimasak. Gangguan ini dilakukan secara terus-menerus, hingga akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan sebuah batu sebagai penghalang untuk berlindung ketika beliau shalat.
Jika mereka melemparkan kotoran atau najis kepada beliau, beliau akan memungutnya dengan sebatang kayu, lalu berdiri di depan pintu rumahnya dan berseru:
“Wahai Bani ‘Abd Manaf, perlindungan seperti apakah ini?”
Setelah itu, beliau membuang kotoran tersebut ke tengah jalan.
Ibnu Katsir berpendapat bahwa peristiwa-peristiwa seperti diletakkannya isi perut unta di antara kedua pundak Nabi ketika beliau sujud, datangnya Fathimah radhiyallahu ‘anha menyingkirkannya lalu mencaci para pelaku, doa buruk beliau atas tujuh orang Quraisy, upaya mereka mencekik leher beliau hingga dicegah Abu Bakar dengan kalimat, “Apakah kalian hendak membunuh seorang lelaki hanya karena ia berkata, ‘Tuhanku adalah Allah’?”, serta rencana Abu Jahl menginjak leher beliau saat shalat—semua itu sangat mungkin terjadi setelah wafatnya Abu Thalib. Sebab, sejak saat itulah pelindung keluarga beliau tiada dan Quraisy semakin berani melampaui batas.
Perjalanan Pahit ke Thaif
Dalam kondisi tekanan yang berat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencari jalan lain untuk menyebarkan dakwah. Beliau berharap ada kabilah lain yang mau melindungi dan menolong agama Allah. Maka beliau memutuskan pergi ke Thaif, kota yang dihuni oleh kabilah Tsaqif.
Beliau berangkat seorang diri. Tujuan beliau jelas: mencari pertolongan dan perlindungan, serta berharap penduduk Thaif menerima Islam dan membantu beliau menghadapi penentangan kaum Quraisy di Makkah.
Ditolak dengan Ucapan yang Menyayat Hati
Setiba di Thaif, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi para pemuka Tsaqif. Mereka adalah tiga bersaudara: ‘Abdu Yalail, Mas’ud, dan Habib bin ‘Amr bin ‘Umair. Di rumah salah satu dari mereka tinggal seorang wanita dari Quraisy, dari Bani Jumah.
Beliau duduk bersama mereka, menyeru mereka kepada Allah, menjelaskan Islam, dan mengajak mereka untuk menolong beliau dalam menyampaikan risalah serta membantu menghadapi kaum Quraisy yang memusuhi beliau. Namun jawaban mereka sangat kasar dan menyakitkan.
Salah seorang dari mereka mengejek dan berkata bahwa jika benar Allah mengutus beliau, seakan-akan Allah lebih pantas merobek kain-kain Ka’bah (sebuah ungkapan merendahkan dan menganggap mustahil). Yang lain berkata, “Apakah Allah tidak menemukan orang lain selain engkau untuk diutus?” Sementara yang ketiga berkata:
“Demi Allah, aku tidak akan berbicara denganmu selamanya. Jika engkau benar-benar seorang rasul dari Allah sebagaimana engkau katakan, maka engkau terlalu agung untuk aku bantah. Namun jika engkau berdusta atas nama Allah, maka tidak pantas aku berbicara denganmu.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bangkit meninggalkan mereka, dalam keadaan telah putus harapan dari kebaikan Tsaqif. Beliau hanya meminta satu hal kepada mereka, yaitu agar mereka tidak menyebarkan pertemuan itu kepada Quraisy. Beliau tidak ingin berita penolakan Tsaqif ini sampai ke Makkah dan semakin menambah keberanian kaum beliau untuk menyakiti dirinya. Namun, permintaan itu tidak mereka penuhi.
Dilempari Batu dan Diusir dari Thaif
Para pemuka Tsaqif justru menghasut para pemuda dan budak-budak mereka. Mereka mengejek, mencaci, dan mengusir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang pun berbaris di kanan-kiri jalan yang akan beliau lewati. Setiap kali beliau mengangkat kaki dan meletakkannya, mereka melempar kaki beliau dengan batu hingga terluka dan mengucurkan darah.
Beliau berjalan tertatih dalam keadaan sangat letih, hingga akhirnya beliau terdesak masuk ke dalam sebuah kebun anggur milik ‘Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah. Kedua tokoh Quraisy ini sedang berada di dalam kebun, dan mereka menyaksikan sendiri apa yang menimpa beliau.
Dalam keadaan sangat sedih, letih, dan terluka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk berteduh di bawah naungan sebatang pohon anggur. Di tengah kepedihan itu, beliau mengadukan seluruh penderitaannya hanya kepada Allah.
Doa Rasulullah di Thaif
Dalam riwayat disebutkan, ketika suasana telah sedikit tenang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menengadahkan hatinya kepada Allah dan berdoa dengan doa yang sangat menyentuh:
“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahan kekuatanku, sedikitnya daya upayaku, dan hinanya aku di hadapan manusia.
Wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara para pengasih, Engkaulah Rabb orang-orang yang lemah, dan Engkaulah Rabbku.
Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Kepada orang jauh yang bermuka masam kepadaku, atau kepada musuh yang Engkau berikan kekuasaan atas urusanku?
Jika Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli (dengan semua ini). Namun keselamatan (dan afiat) dari-Mu lebih luas bagiku.
Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menerangi segala kegelapan dan dengan-Nya menjadi baik urusan dunia dan akhirat,
dari turunnya kemurkaan-Mu kepadaku atau tibanya murka-Mu atasku.
Bagi-Mu segala keridaan hingga Engkau ridha, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu.”
Doa ini menggambarkan kepasrahan total, cinta kepada keridaan Allah, serta pengakuan bahwa yang paling penting bukanlah ringan atau beratnya ujian, tetapi apakah Allah murka atau ridha kepada hamba-Nya.
Pertemuan dengan ‘Addas, Hamba Nasrani
Melihat keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat terluka dan letih, hati ‘Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah sedikit tersentuh. Mereka memanggil seorang budak Nasrani bernama ‘Addas dan memerintahkannya untuk mengambil setandan anggur, meletakkannya di dalam sebuah piring, lalu membawanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mempersilakan beliau makan.
‘Addas pun menjalankan perintah itu. Ia datang mendekat, meletakkan anggur di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berkata, “Silakan makan.” Ketika hendak makan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan, “Bismillāh,” lalu mulai memakannya.
‘Addas memandang wajah beliau heran lalu berkata:
“Demi Allah, ucapan seperti ini tidak pernah diucapkan oleh penduduk negeri ini!”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya:
“Wahai ‘Addas, engkau berasal dari negeri mana, dan apa agamamu?”
‘Addas menjawab:
“Aku seorang Nasrani, berasal dari Ninawa.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Dari negeri seorang lelaki saleh, Yunus bin Matta?”
‘Addas terbelalak heran:
“Apa yang membuat engkau mengetahui Yunus bin Matta?!”
Beliau menjawab:
“Ia adalah saudaraku. Ia seorang nabi, dan aku juga seorang nabi.”
Mendengar itu, ‘Addas seakan menemukan kebenaran yang selama ini ia cari. Ia langsung tersungkur, mencium kepala, kedua tangan, dan kedua kaki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ketika kembali kepada tuan-tuannya, ‘Utbah dan Syaibah, mereka bertanya keheranan:
“Celaka engkau, wahai ‘Addas! Mengapa engkau mencium kepala, tangan, dan kaki laki-laki itu?”
‘Addas menjawab dengan jujur:
“Wahai tuanku, tidak ada sesuatu pun di muka bumi yang lebih mulia daripada dia. Sungguh ia telah memberitahuku sesuatu yang tidak diketahui kecuali oleh seorang nabi.”
Namun, kedua tuannya justru memperingatkannya agar tidak meninggalkan agamanya, dan mengatakan bahwa agama ‘Addas lebih baik daripada agama Muhammad menurut penilaian mereka.
Rasulullah Membaca al-Qur’an di Hadapan Tsaqif
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa seorang lelaki bernama Khalid bin Abi Jabal al-‘Adwani pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bagian timur negeri Tsaqif. Saat itu, beliau berdiri bersandar pada sebuah busur atau tongkat, ketika datang kepada mereka untuk mencari pertolongan.
Lelaki itu mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surah Ath-Thariq hingga selesai dan langsung menghafalnya, meskipun saat itu ia masih dalam keadaan musyrik. Setelah masuk Islam, ia membaca kembali surah itu.
Allah berfirman di awal surah tersebut:
قَوْلُهُ تَعَالَى:
﴿وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ﴾
“Demi langit dan yang datang pada malam hari.”
(QS. Ath-Thāriq [86]: 1)
Penduduk Tsaqif kemudian memanggil lelaki itu dan menanyakan apa yang ia dengar dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia membacakan surah Ath-Thariq di hadapan mereka. Sebagian orang Quraisy yang hadir berkata:
“Kami lebih tahu tentang sahabat kami (Muhammad). Seandainya kami tahu apa yang ia ucapkan itu benar, niscaya kami akan mengikutinya.”
Hari Terberat dalam Hidup Rasulullah
Beberapa waktu kemudian, ketika beliau sudah di Madinah, Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Apakah pernah menimpamu suatu hari yang lebih berat daripada hari Perang Uhud?”
Beliau menjawab bahwa beliau telah mengalami berbagai gangguan yang sangat berat dari kaumnya. Namun hari yang paling berat adalah hari di Thaif, ketika beliau mendatangi Ibn ‘Abd Yalail bin ‘Abd Kullal, menawarkan Islam, tetapi ia menolak secara kasar dan tidak memberikan sedikit pun dukungan.
Beliau kemudian meninggalkan Thaif dalam keadaan sangat sedih dan berjalan tanpa sadar arah hingga tiba-tiba beliau mendapati dirinya berada di sebuah tempat bernama Qarn ats-Tsa’alib. Beliau mengangkat kepala, dan saat itu melihat awan menaungi dirinya. Di dalam awan itu terdapat Jibril ‘alaihissalam.
Jibril memanggil dan berkata bahwa Allah telah mendengar ucapan kaumnya terhadap beliau dan penolakan mereka. Allah pun mengutus Malaikat penjaga gunung untuk menunggu perintah beliau mengenai apa yang harus dilakukan terhadap mereka.
Malaikat penjaga gunung kemudian memberi salam dan berkata:
“Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu. Aku adalah Malaikat penjaga gunung. Rabbmu mengutusku kepadamu agar engkau memerintahkanku sesuai kehendakmu. Jika engkau mau, aku akan timpakan atas mereka dua gunung besar (yang mengapit Makkah).”
Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan rahmat dan harapan yang besar, menjawab:
“Bahkan, aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”
Para Jin Mendengarkan al-Qur’an
Dalam perjalanan pulang dari Thaif menuju Makkah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam singgah dan bermalam di sebuah tempat bernama Nakhlah. Di sana, beliau mengimami para sahabat shalat Subuh dan membaca al-Qur’an.
Pada saat itulah, sekelompok jin—dalam beberapa riwayat disebut berjumlah tujuh—yang telah Allah arahkan ke tempat itu mendengarkan bacaan beliau. Peristiwa ini diabadikan dalam al-Qur’an:
قَوْلُهُ تَعَالَى:
﴿وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ ۖ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا ۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ﴾
“Dan (ingatlah) ketika Kami menghadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur’an; maka tatkala mereka menghadiri (pembacaan)nya, mereka berkata, ‘Diamlah kalian (dengarkanlah)!’ Maka ketika (pembacaan itu) telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya sebagai para pemberi peringatan.”
(QS. Al-Ahqāf [46]: 29)
Mereka lalu kembali kepada kaumnya dan menyampaikan peringatan tentang kebenaran yang mereka dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Mencari Pelindung untuk Kembali ke Makkah
Setelah peristiwa berat di Thaif dan singgah di Nakhlah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam harus kembali ke Makkah. Namun masuk ke Makkah tanpa perlindungan berarti mempertaruhkan keselamatan jiwa, karena permusuhan Quraisy tengah memuncak. Dalam tradisi Arab, seseorang dapat memasuki suatu kota dengan aman jika ia berada dalam “jīwār” (perlindungan resmi) seorang tokoh yang disegani.
Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Abdullah bin Uraiqith untuk mencari perlindungan dari beberapa tokoh Quraisy. Ia pertama kali mendatangi al-Akhnas bin Syuraiq, tetapi al-Akhnas menolak dengan alasan bahwa seorang sekutu Quraisy tidak bisa memberi perlindungan terhadap orang yang berseberangan dengan Quraisy asli. Kemudian Abdullah bin Uraiqith mendatangi Suhail bin ‘Amr. Suhail juga menolak, dengan alasan bahwa Bani ‘Amir bin Lu’ai tidak memberikan perlindungan terhadap Bani Ka’b bin Lu’ai.
Akhirnya, Abdullah bin Uraiqith mendatangi al-Muth’im bin ‘Adi. Kali ini jawabannya berbeda. Al-Muth’im berkata, “Ya, katakan kepadanya agar datang.”
Masuknya Nabi ke Makkah dalam Perlindungan al-Muth’im bin ‘Adi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun datang ke rumah al-Muth’im bin ‘Adi dan bermalam di sana. Pagi harinya, al-Muth’im keluar bersama putra-putranya—enam atau tujuh orang—masing-masing dengan pedang terhunus. Mereka membawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Masjidil Haram dalam bentuk pengawalan terbuka.
Al-Muth’im menyuruh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertawaf. Ia dan putra-putranya duduk di sekitar Ka’bah sambil memegang gagang pedang mereka, menunjukkan bahwa Muhammad berada dalam perlindungan mereka.
Abu Sufyan kemudian mendatangi al-Muth’im dan bertanya:
“Apakah engkau melindungi (menjadi penjamin) atau menjadi pengikut (mengikutinya)?”
Al-Muth’im menjawab:
“Aku melindungi (memberi jaminan keamanan).”
Abu Sufyan menjawab singkat:
“Kalau begitu, jaminanmu tidak akan dikhianati (kami hormati).”
Dengan perlindungan resmi ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat menunaikan thawaf dengan aman dan kembali ke rumah tanpa ada yang berani menyentuhnya. Beberapa waktu kemudian, turunlah izin untuk hijrah ke Madinah. Tidak lama setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah, al-Muth’im bin ‘Adi wafat.
Syair untuk al-Muth’im dan Penghargaan Besar dari Nabi
Penyair sahabat, Hassan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, sangat menghargai jasa al-Muth‘im bin ‘Adi. Ia bersumpah akan meratapinya dalam bait-bait syair. Dalam maknanya, Hassan menggambarkan bahwa seandainya ada sebuah kemuliaan yang bisa mengabadikan seorang manusia selamanya, maka kemuliaan al-Muth‘im pada hari itu akan cukup untuk menyelamatkannya. Ia menyebut bahwa al-Muth‘im telah memberi perlindungan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari gangguan kaumnya, sehingga selama orang-orang masih bertalbiyah dalam ihram dan tahallul, mereka sesungguhnya menjadi hamba-hamba yang berhutang budi pada jasa perlindungannya.
Hassan juga menggambarkan, seandainya seluruh keturunan Ma’add, Qahtan, dan sisa-sisa keturunan Jurhum ditanya tentang al-Muth‘im, tentu mereka akan bersaksi bahwa dialah orang yang menunaikan penjagaan kehormatan tetangganya dan memegang janji dengan teguh ketika manusia saling berlomba memelihara kehormatan. Ia memuji bahwa matahari yang cerah tidak terbit di atas satu kaum yang di dalamnya ada sosok lebih mulia dan lebih terhormat daripada al-Muth‘im. Dalam syairnya, ia menggambarkan bahwa al-Muth‘im adalah sosok yang tegar ketika menolak kehinaan, lembut budi pekertinya, dan membuat tetangganya dapat tidur dengan tenang ketika malam gelap gulita.
Penghargaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada al-Muth‘im semakin tampak dalam sabda beliau setelah Perang Badar, ketika para tawanan Quraisy berada di tangan kaum Muslimin. Beliau bersabda:
“Seandainya al-Muth‘im bin ‘Adi masih hidup, lalu ia meminta kepadaku agar membebaskan orang-orang yang busuk ini (para tawanan Quraisy), niscaya aku akan membebaskan mereka untuknya.”
Ini menunjukkan betapa agungnya akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang sangat menghargai jasa orang yang pernah menolongnya, sekalipun orang itu tidak sempat masuk Islam.
Penutup
Demikian rangkaian kisah berat yang dialami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah: meningkatnya gangguan Quraisy, sekejap perlindungan lalu perubahan sikap Abu Lahab, gangguan para tetangga di Makkah, perjalanan pahit ke Thaif, lemparan batu dan pengusiran, doa yang penuh kepasrahan, pertemuan yang lembut dengan ‘Addas, hiburan dari Malaikat dan harapan kepada generasi penerus, didengarnya bacaan al-Qur’an oleh para jin, hingga kembalinya beliau ke Makkah dalam perlindungan al-Muth‘im bin ‘Adi.
Kisah ini menggambarkan bahwa dakwah Islam dibangun di atas kesabaran yang luar biasa, kelapangan dada, keteguhan harapan, dan keyakinan penuh bahwa pertolongan Allah pasti datang.
________________________________________
Sumber kisah:
al-Bidāyah wan-Nihāyah

Komentar
Posting Komentar