Sejarah Masjid Quba: Masjid Pertama dalam Islam
Kedatangan Rasulullah di Madinah
Ketika rombongan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di wilayah Madinah dalam peristiwa hijrah, tempat pertama yang beliau singgahi adalah daerah Qubā’, di rumah Bani ‘Amr bin ‘Auf. Qubā’ saat itu adalah sebuah perkampungan di pinggiran Madinah, yang kemudian menjadi bagian penting dari sejarah Islam.
Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang berapa lama Rasulullah tinggal di Qubā’.
Ada yang mengatakan 22 malam, ada yang mengatakan 18 malam, dan ada pula yang menyebut “belasan malam”. Musa bin ‘Uqbah bahkan meriwayatkan bahwa beliau hanya tinggal selama tiga malam.
Namun pendapat yang paling masyhur, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Ishaq dan para ulama lainnya, adalah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di Qubā’ sejak hari Senin hingga hari Jumat. Setelah itu barulah beliau memasuki pusat kota Madinah dan menetap di sana.
Pendirian Masjid Qubā’
Di masa singgah yang singkat namun penuh berkah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan dasar Masjid Qubā’. Inilah masjid pertama yang dibangun di lingkungan Madinah, bahkan masjid pertama yang diperuntukkan bagi umat Islam secara umum dalam agama ini.
Sebagian ulama, seperti as-Suhaili, berpendapat bahwa Rasulullah langsung meletakkan dasar Masjid Qubā’ pada hari pertama beliau tiba di sana. Pendapat itu dikaitkan dengan firman Allah Ta‘ala dalam Surah at-Taubah ayat 108:
لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ
“Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih berhak engkau shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang suka menyucikan diri, dan Allah menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. at-Taubah [9]: 108)
Sebagian ahli bahasa menafsirkan frasa “min awwali yaum” (sejak hari pertama) sebagai “sejak awal pendirian masjid tersebut secara umum”. Namun as-Suhaili memahami “hari pertama” itu sebagai hari pertama kedatangan Nabi ke Qubā’, dan dengan demikian ia menguatkan bahwa ayat ini turun tentang Masjid Qubā’.
Masjid yang Didirikan di Atas Takwa
Masjid Qubā’ adalah masjid yang mulia dan istimewa. Ayat di atas turun berkenaan dengan sebuah masjid yang “didirikan di atas dasar takwa”. Tentang masjid mana yang dimaksud, para ulama berbeda pendapat.
Sebagian riwayat dalam Shahih Muslim menyebutkan bahwa yang dimaksud “masjid yang didirikan atas dasar takwa” adalah Masjid Nabawi (Masjid Rasulullah di pusat Madinah). Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya telah menjelaskan dalil-dalil dan jawaban terhadap pendapat ini.
Di sisi lain, banyak ulama besar yang menegaskan bahwa masjid yang dimaksud adalah Masjid Qubā’. Di antara mereka adalah:
• ‘Urwah bin az-Zubair (dari jalur az-Zuhri dan Ma‘mar, diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq)
• Ibnu ‘Abbas (dari riwayat ‘Ali bin Abi Thalhah)
• asy-Sya‘bi
• al-Hasan al-Bashri
• Qatadah
• Sa‘id bin Jubair
• ‘Athiyyah al-‘Aufi
• ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan yang lainnya
Mereka berpendapat bahwa Masjid Qubā’ itulah yang dimaksud dalam firman Allah:
لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ
“Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama …”
Keutamaan Bersuci Penduduk Qubā’
Salah satu keistimewaan penduduk Qubā’ adalah perhatian mereka terhadap kebersihan dan kesucian. Dalam sebuah riwayat yang dibawakan oleh Imam Ahmad, diceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang ke Masjid Qubā’ dan bersabda kepada mereka:
“Sesungguhnya Allah telah memuji kalian dengan pujian yang baik dalam urusan bersuci, dalam kisah tentang masjid kalian. Maka apa bentuk bersuci yang kalian lakukan?”
Penduduk Qubā’ menjawab dengan penuh kejujuran:
“Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui sesuatu yang istimewa, kecuali bahwa kami dahulu memiliki tetangga dari kalangan Yahudi. Mereka biasa membasuh bagian belakang mereka setelah buang air besar, maka kamipun membasuh sebagaimana mereka membasuh.”
Kebiasaan mereka menggunakan air untuk istinja’ (membersihkan diri setelah buang hajat) inilah yang menjadi sebab turunnya lanjutan ayat tersebut:
فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ
“Di dalamnya ada orang-orang yang suka menyucikan diri, dan Allah menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. at-Taubah [9]: 108)
Dalam riwayat lain yang dibawakan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa ayat ini turun khusus tentang penduduk Qubā’, karena mereka biasa beristinja’ dengan air. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini “gharib” dari jalur tersebut, dan para ulama menilai salah satu perawinya, Yunus bin al-Harits, sebagai perawi yang lemah. Namun makna hadits ini dikuatkan oleh riwayat-riwayat lain yang semakna.
Kebiasaan Rasulullah Mengunjungi Masjid Qubā’
Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetap di Madinah dan membangun Masjid Nabawi, beliau tetap menjaga hubungan dengan penduduk Qubā’ dan masjid mereka.
Dalam berbagai hadits disebutkan bahwa Rasulullah biasa mengunjungi Masjid Qubā’ setiap hari Sabtu. Kadang-kadang beliau pergi dengan berkendaraan, dan kadang-kadang berjalan kaki. Di sana beliau shalat dan berdoa.
Dalam sebuah hadits juga disebutkan:
“Satu kali shalat di Masjid Qubā’ (pahalanya) seperti satu kali umrah.”
Ini menunjukkan betapa besar keutamaan masjid ini, dan betapa besar pula cinta Rasulullah kepada tempat tersebut.
Jibril Menunjukkan Arah Kiblat Masjid Qubā’
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Malaikat Jibril ‘alaihis salam yang menunjukkan kepada Rasulullah letak arah kiblat Masjid Qubā’. Dengan bimbingan wahyu inilah masjid tersebut diarahkan ke kiblat yang benar.
Dengan demikian, Masjid Qubā’ bukan hanya masjid pertama yang dibangun untuk kaum muslimin di Madinah, tetapi juga masjid pertama yang dibangun untuk umum bagi seluruh umat dalam agama ini, dengan arah kiblat yang ditetapkan melalui wahyu.
Masjid Pertama untuk Umat – Bukan Masjid Pribadi
Sebelum Masjid Qubā’, memang pernah ada bangunan tempat shalat yang dibuat oleh Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu di Mekah, di depan rumahnya. Di sanalah beliau biasa shalat dan beribadah.
Namun masjid Abu Bakar itu bersifat pribadi, tidak dibangun sebagai masjid umum bagi seluruh kaum muslimin. Karena itu para ulama menjelaskan bahwa Masjid Qubā’-lah masjid pertama yang dibangun untuk umum dalam Islam.
Di Madinah sendiri, setelah Masjid Qubā’, barulah dibangun Masjid Nabawi yang kelak menjadi pusat ibadah, ilmu, dan pemerintahan umat Islam.
Allah Ta‘ala lebih mengetahui kebenaran yang hakiki.
Kisah Salman al-Farisi di Qubā’
Di Qubā’ pula terjadi sebuah kisah yang sangat menyentuh tentang seorang pencari kebenaran: Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu.
Sebelum masuk Islam, Salman adalah seorang pencari agama yang tulus. Ia berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri lain, dari satu guru ke guru lainnya, mencari agama yang benar. Hingga akhirnya ia sampai di Jazirah Arab dan mendengar kabar tentang seorang nabi terakhir yang akan berhijrah ke sebuah kota yang dipenuhi kebun-kebun kurma.
Ketika Salman mendengar bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah tiba di Madinah, ia segera mendatangi beliau yang saat itu masih berada di Qubā’.
Salman membawa sesuatu berupa makanan, lalu meletakkannya di hadapan Rasulullah dan berkata:
“Ini sedekah.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyentuh makanan itu. Beliau tidak memakannya, namun mempersilakan para sahabat untuk makan. Sikap ini diperhatikan betul oleh Salman, karena ia pernah diberitahu bahwa salah satu tanda Nabi terakhir adalah: ia tidak memakan sedekah, tetapi menerima hadiah.
Beberapa waktu kemudian, Salman datang lagi dengan membawa makanan. Kali ini ia berkata:
“Ini hadiah.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memakan makanan tersebut, dan memerintahkan para sahabatnya untuk ikut makan. Melihat hal ini, Salman semakin yakin bahwa inilah nabi yang selama ini ia cari.
Kisah ini, dalam riwayat yang panjang, menjadi salah satu bukti kuat yang mengokohkan keimanan Salman al-Farisi.
Penutup
Dari rangkaian kisah ini, tampak betapa Qubā’ memegang peran penting dalam sejarah awal Islam di Madinah:
• Di sanalah Rasulullah pertama kali singgah ketika hijrah.
• Di sanalah Masjid Qubā’ didirikan – masjid pertama untuk umat Islam.
• Di sanalah turun pujian Allah bagi orang-orang yang mencintai kesucian.
• Di sanalah Rasulullah sering kembali, setiap hari Sabtu, untuk shalat dan berdoa.
• Dan di sanalah juga salah satu momen penting keislaman Salman al-Farisi terjadi.
Masjid Qubā’ bukan hanya bangunan fisik, tetapi simbol ketakwaan, kesucian, dan kecintaan kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sumber Kisah
Al-Bidāyah wa an-Nihāyah
.jpg)
Komentar
Posting Komentar