Rihlah Ibnu Bathutah #42 : Di Negeri Rum, Ramadan Bersama Sultan Akridur hingga Perjalanan ke Ladziq dan Milas

: Suasana masjid Seljuk di Anatolia pada bulan Ramadan, sultan duduk bersandar di dinding kiblat sementara para qari membacakan Al-Qur’an dari mimbar kayu

Jejak Ramadan di Negeri Rum: Dari Akridur sampai Milas

Di sebuah negeri bernama Akridur, yang juga dikenal sebagai Akşehir, berdirilah pemerintahan seorang sultan besar bernama Abu Ishaq Bek bin Dandar Bek. Orang-orang menyebutnya bukan hanya karena kekuasaannya, tetapi juga karena perangainya yang baik. Ia pernah tinggal di Mesir pada masa ayahnya, dan ia pun pernah menunaikan ibadah haji. Bekas perjalanan jauh itu seolah membuatnya semakin lembut dalam sikap dan dekat dengan ibadah.

Setiap hari, ia punya kebiasaan yang tak pernah ia tinggalkan. Menjelang sore, ia datang ke masjid jami’ untuk menunaikan shalat Ashar. Seusai shalat, ia tidak buru-buru pulang. Ia bersandar tenang di tembok arah kiblat, sementara di hadapannya para qari’ duduk di atas mimbar kayu yang tinggi. Mereka melantunkan Surah Al-Fath dan Surah Al-Mulk dengan suara yang indah, meresap ke dalam dada, membuat hati tunduk, bulu roma merinding, dan air mata jatuh tanpa terasa. Setelah suasana itu usai, barulah ia kembali ke rumahnya.

Aku dan rombonganku sempat tinggal di negerinya sepanjang bulan Ramadan. Malam-malam di istana sultan tidak dipenuhi gemerlap berlebihan. Ia duduk di atas permadani yang terbentang langsung di tanah, tanpa ranjang, bersandar pada sebuah bantal besar. Di sisinya duduk Syaikh Mushlihuddin, dan aku duduk di samping syaikh. Di hadapan kami berkumpul para pembesar negeri dan para amir istana.

Saat waktu berbuka tiba, hidangan pertama yang selalu disuguhkan bukanlah makanan mewah, melainkan tsarid: roti yang direndam dalam kuah, disajikan dalam piring kecil berisi lentil, disiram samin dan gula. Mereka menyuguhkan itu dengan niat mengambil berkah, sambil berkata bahwa Nabi ﷺ mengutamakannya di atas makanan lain, maka mereka pun memulai buka puasa dengannya. Setelah itu barulah hidangan-hidangan lain datang, dan kebiasaan itu terus berlangsung setiap malam Ramadan.

Tentang tsarid ini, ada hadits masyhur yang menyebut keutamaannya, yaitu:

فَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ

“Keutamaan ‘Aisyah atas para wanita seperti keutamaan tsarid atas seluruh makanan.”

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Namun, Ramadan juga membawa ujian. Pada salah satu hari di bulan itu, seorang anak sultan wafat. Istana tidak berubah menjadi lautan ratap yang berlebihan. Mereka menangis dengan belas kasihan yang wajar, sebagaimana biasa dilakukan penduduk Mesir dan Syam, tidak seperti sebagian negeri lain yang pernah kuceritakan sebelumnya.

Setelah pemakaman, sultan dan para penuntut ilmu berkumpul selama tiga hari. Setiap selesai shalat Subuh, mereka pergi ke kubur sang anak. Pada hari kedua, aku ikut berjalan bersama rombongan. Sultan melihatku berjalan kaki. Ia segera mengirimkan seekor kuda untukku, lalu meminta maaf karena aku berjalan tanpa tunggangan. Ketika aku sampai ke madrasah, aku mengembalikan kuda itu. Tetapi ia berkata bahwa kuda itu pemberian, bukan pinjaman. Tidak berhenti di situ, ia juga mengirimkan pakaian dan dirham untukku. Kebaikannya terasa tenang, tanpa banyak kata.

Tidak lama kemudian, kami melanjutkan perjalanan menuju Qul Hisar, sebuah kota kecil yang dikepung air dari segala arah. Di sekitarnya tumbuh alang-alang yang lebat. Jalan masuknya hanya satu, semacam jembatan sempit di antara air dan alang-alang, dan itu pun hanya cukup untuk dilewati satu penunggang kuda. Kota itu berdiri di atas bukit kecil di tengah air, kokoh, sulit ditaklukkan. Di sana kami singgah di sebuah zawiyah milik salah seorang akhī, anggota persaudaraan futuwwah yang dikenal memuliakan tamu.

Sultan Qul Hisar bernama Muhammad Jalabi, sebuah sebutan yang dalam bahasa Rum berarti “Tuanku”. Ia adalah saudara Sultan Abu Ishaq, penguasa Akridur. Ketika kami tiba, ia sedang tidak berada di tempat. Kami menunggu beberapa hari hingga ia datang. Begitu hadir, ia memuliakan kami, memberi tunggangan dan bekal, seakan ia ingin memastikan perjalanan kami setelah itu tetap aman dan ringan.

Kami lalu menempuh jalan melewati Qara Aghach, sebuah padang hijau yang dihuni orang-orang Turkmen. Namun padang itu juga menyimpan bahaya: ada kelompok perampok jalanan yang disebut Jaramaniyah. Karena itu, Sultan mengirim pasukan berkuda untuk mengawal kami sampai ke kota Ladziq. Dengan izin Allah, kami selamat dari gangguan mereka dan tiba di Ladziq.

Ladziq, yang juga disebut Dun Ghazlah, adalah salah satu kota paling indah dan megah yang kulihat. Di sana ada tujuh masjid tempat shalat Jumat. Kebun-kebunnya rimbun, sungai-sungainya mengalir, mata airnya memancar, pasar-pasarnya hidup dan ramai. Di kota itu dibuat pakaian katun berhias emas yang terkenal sangat kuat dan tahan lama. Sebagian besar pekerjanya adalah perempuan-perempuan Rum. Di sana juga banyak orang Rum yang hidup sebagai dzimmi, membayar jizyah dan kewajiban lain kepada sultan. Mereka memiliki tanda khas pada pakaian: topi-topi panjang merah atau putih, dan para perempuannya memakai sorban besar.

Namun di balik keindahan itu, aku juga menyaksikan sisi yang membuat hati miris. Banyak penduduknya tidak mengingkari kemungkaran. Budak-budak perempuan Rum yang cantik dibeli, lalu dibiarkan terjerumus dalam kerusakan. Bahkan aku mendengar kabar bahwa mereka masuk pemandian umum bersama laki-laki, dan kemungkaran dilakukan di sana tanpa ada yang mencegah. Disebutkan pula bahwa qadhi setempat memiliki budak-budak perempuan dengan keadaan semacam itu.

Ketika kami masuk kota dan melewati salah satu pasar, tiba-tiba beberapa laki-laki keluar dari kios mereka dan memegang tali kekang kuda kami. Kelompok lain segera berselisih dengan mereka, sampai ada yang menghunus pisau. Kami tidak memahami bahasa mereka. Kami ketakutan, mengira mereka perampok Jaramaniyah dan kota itu markas mereka.

Allah lalu mengutus seorang haji yang memahami bahasa Arab. Aku bertanya kepadanya, apa maksud orang-orang itu. Ia menjawab bahwa mereka adalah al-Fityan, para akhī dari persaudaraan futuwwah. Kelompok pertama adalah sahabat-sahabat Akhī Sinan, kelompok kedua sahabat-sahabat Akhī Thuman. Mereka bukan ingin merampok—mereka berebut kehormatan untuk menjadi tuan rumah kami.

Kami tercengang melihat kelapangan jiwa itu. Agar adil, mereka berdamai dengan cara mengundi. Undian jatuh kepada Akhī Sinan. Ia segera datang bersama sahabat-sahabatnya, memberi salam, lalu membawa kami ke zawiyah miliknya. Makanan dihidangkan beraneka ragam. Setelah itu mereka membawa kami ke pemandian umum, bahkan Akhī Sinan sendiri melayaniku, sedangkan sahabat-sahabatnya melayani teman-temanku; satu orang bisa melayani tiga atau empat tamu. Selesai mandi, hidangan kembali dibentangkan: makanan banyak, manisan, buah-buahan berlimpah. Setelah makan, para qari’ membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, lalu mereka melakukan sama’ dengan nyanyian dan tarian.

Kabar kedatangan kami disampaikan kepada sultan Ladziq. Keesokan hari, menjelang sore, sultan meminta kami datang. Setelah menghadap, kami kembali lagi. Tetapi ternyata Akhī Thuman dan sahabat-sahabatnya sudah menunggu. Mereka membawa kami ke zawiyah mereka, memuliakan kami dengan cara yang sama—bahkan setelah pemandian mereka menyiramkan air mawar dengan sangat banyak. Hidangan, manisan, buah, bacaan Al-Qur’an, sama’, dan tarian, semuanya mereka lakukan lagi dengan semangat memuliakan tamu. Beberapa hari kami tinggal di antara zawiyah-zawiyah itu, seakan menjadi saksi hidup betapa tradisi menghormati musafir telah menjadi bagian dari napas kota.

Sultan Ladziq sendiri bernama Yananj Bek, salah seorang sultan besar di negeri Rum. Saat kami singgah di zawiyah Akhī Sinan, ia mengutus seorang alim bernama ‘Ala’uddin al-Qasthamuni, sekaligus mengirim kuda-kuda sesuai jumlah rombonganku. Saat itu masih bulan Ramadan. Kami pun menghadap dan memberi salam.

Ada kebiasaan menarik dari raja-raja negeri itu: mereka tawadhu’ kepada pendatang, lembut dalam berbicara, tetapi tidak berlebihan dalam pemberian. Kami shalat Maghrib bersama sultan, lalu berbuka di jamuannya. Setelah itu kami pamit, dan ia memberi kami beberapa dirham.

Tidak lama kemudian, ia mengutus putranya, Murad Bek, yang tinggal di sebuah kebun di luar kota. Saat itu musim buah-buahan, sehingga suasana kebun terasa hidup dan segar. Murad Bek juga mengirimkan kuda-kuda untuk kami, sama seperti ayahnya. Kami bermalam di kebunnya, dengan seorang faqih sebagai penerjemah di antara kami. Pagi harinya kami berpamitan.

Kami juga merasakan Idul Fitri di negeri itu. Kami pergi ke tanah lapang untuk shalat Id. Sultan keluar bersama pasukannya, dan para fityan akhīyah keluar membawa senjata. Setiap kelompok profesi membawa panji-panji, terompet, tambur, dan genderang. Sebagian mereka membanggakan kerapian dan keindahan perlengkapan. Mereka membawa sapi, kambing, dan muatan roti; mereka menyembelihnya di pemakaman, lalu bersedekah daging dan roti. Mereka memulai perjalanan Id dengan mendatangi pemakaman, lalu menuju tanah lapang.

Sesudah shalat Id, kami masuk bersama sultan ke rumahnya, dan makanan disuguhkan. Hidangan dipisahkan: untuk fuqaha, masyayikh, dan para akhī ada tempatnya sendiri; untuk fakir dan miskin pun disediakan hidangan tersendiri. Pada hari itu, tidak ada orang—baik fakir maupun kaya—yang ditolak di pintu sultan.

Karena khawatir kondisi jalan, kami tinggal lebih lama sampai ada kafilah yang siap. Lalu kami berangkat bersama mereka, berjalan sehari dan sebagian malam, hingga tiba di benteng Tawas. Benteng itu besar. Disebutkan bahwa sahabat Rasulullah ﷺ, Shuhaib radhiyallahu ‘anhu, berasal dari benteng ini.

Kami bermalam di luar benteng, lalu esoknya sampai di pintunya. Penduduk bertanya dari atas tembok tentang siapa kami. Di waktu yang sama, amir benteng, Minas Bek, keluar bersama pasukannya untuk memeriksa sekitar benteng dan jalan, karena khawatir ada perampok menyerang hewan ternak. Setelah mereka selesai berkeliling, barulah ternak-ternak dikeluarkan. Rupanya itu kebiasaan yang selalu mereka lakukan demi keamanan.

Kami singgah di sebuah tempat peristirahatan, tepatnya zawiyah seorang laki-laki fakir. Amir benteng mengirimkan jamuan dan bekal. Dari sana kami menuju Mughlah. Kami singgah di zawiyah seorang syaikh yang sangat mulia. Ia sering mengunjungi kami, dan setiap datang ia tidak pernah datang dengan tangan kosong: selalu membawa makanan, buah-buahan, atau manisan.

Di negeri itu kami bertemu Ibrahim Bek, putra Sultan kota Milas. Ia memuliakan kami dan memberi pakaian. Setelah itu kami berangkat menuju Milas, sebuah kota yang termasuk paling indah dan megah di negeri Rum, penuh buah-buahan, kebun-kebun, dan air yang melimpah.

Di Milas kami singgah di zawiyah milik seorang akhī. Ia memuliakan kami lebih besar lagi dari yang kami lihat sebelumnya: jamuan yang berlipat, menemani ke pemandian, dan beragam kebaikan lain yang terasa tulus.

Di kota Milas pula aku bertemu seorang laki-laki shalih berusia sangat tua bernama Abu asy-Syusytari. Orang-orang menyebut usianya lebih dari seratus lima puluh tahun. Namun ia masih kuat, geraknya mantap, akalnya jernih, dan ingatannya baik. Ia mendoakan kami, dan kami berharap memperoleh berkah dari doanya.

Perjalanan terus berjalan, tetapi rangkaian peristiwa ini menancap dalam ingatan: wajah-wajah penguasa yang lembut, tradisi futuwwah yang memuliakan musafir, kota-kota indah yang menyimpan ujian moral, serta jejak Ramadan dan Id yang dirayakan dengan ibadah sekaligus jamuan yang tidak menutup pintu bagi siapa pun.

Peta Perjalanan Ibnu Bathutah #42

Sumber kisah

Rihlah Ibnu Bathuthah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rihlah Ibnu Bathutah #39 : Kabar dari Oman hingga Hormuz

Kisah Kaum Munafik di Madinah yang Bersekutu dengan Yahudi

Tahun Kedua Hijriah : Sejarah Jihad dalam Islam