Rihlah Ibnu Bathutah #34 : Menyingkap Kemegahan Sultan Yaman dan Kota Sana'a
Di Istana Sultan Yaman
Namanya panjang dan mulia: Sultan pejuang Nūruddīn ‘Alī bin Sultan Mu’ayyad Hazburuddīn Dāwud bin Sultan Muzhaffar Yūsuf bin ‘Alī bin Rasul. Kakek buyutnya dijuluki Rasul karena pernah diutus oleh salah satu khalifah Bani Abbas ke Yaman untuk memimpin negeri itu. Dari sanalah lahir dinasti yang kemudian merdeka dan berkuasa sendiri di Yaman.
Aku, Ibnu Batutah, tiba di salah satu kota kekuasaan Sultan ini bersama seorang fakir yang dikirim oleh Syaikh Abul Hasan az-Zaila’i untuk menemaniku. Fakir itu membawaku menghadap Qādhī al-Qudhāt, Hakim Agung negeri itu, seorang imam ahli hadis yang terkenal: Syafi’uddin ath-Thabari al-Makki.
Kami memberi salam. Sang Qadhi menyambut kami dengan sangat ramah dan memuliakan. Ia menempatkan kami di rumahnya sebagai tamu selama tiga hari penuh, dengan segala perhatian dan hidangan yang layak bagi seorang musafir.
Pada hari keempat, hari Kamis – hari di mana Sultan menerima masyarakat umum – Qadhi membawaku menghadap Sultan. Di hadapan pintu majelis, aku melihat tata cara yang asing bagiku. Cara memberi salam kepada Sultan adalah: telunjuk diletakkan ke tanah, lalu diangkat dan diletakkan di kepala sambil mengucapkan doa, “Semoga Allah melanggengkan kemuliaan Tuan.”
Aku mengikuti apa yang dilakukan Qadhi yang berdiri di sisi kanan Sultan. Setelah salam, Sultan memerintahkanku duduk. Aku pun duduk di hadapannya, merasa takjub pada tata cara dan wibawanya.
Sultan menanyaiku tentang negeriku di Maghrib, tentang junjungan kami, Amirul Muslimin yang dermawan Abu Sa’id – Sultan Abu Sa’id al-Marini penguasa Fes – semoga Allah meridhainya. Ia juga bertanya tentang penguasa Mesir, penguasa Irak, dan penguasa Lur. Aku menjawab satu per satu, menceritakan keadaan mereka sebagaimana yang aku ketahui dalam perjalananku.
Di hadapan Sultan saat itu duduk wazirnya. Setelah mendengar jawabanku, Sultan memerintahkan sang wazir untuk memuliakanku dan mengatur tempat tinggalku, sebagai tamu kehormatan di negerinya.
Adab Duduk, Salam, dan Hidangan di Istana Yaman
Tata cara duduk Sultan Yaman sangat tertib dan mengesankan. Ia duduk di atas sebuah podium yang dialasi dan dihiasi kain-kain sutra. Di kanan kirinya berdiri para pengawal bersenjata. Yang paling dekat dengannya adalah pemegang pedang dan perisai, kemudian pemegang busur.
Di depan mereka, di sisi kanan dan kiri, berdiri sang hājib (pelapor/pintu istana), para pembesar negara, para sekretaris rahasia, serta Amīr Jandār yang posisi dan kehormatannya tinggi sekali. Di belakang mereka berdiri para Syawisy, para pelayan dan pengawal dari pasukan Jandār, agak menjauh dari tempat Sultan.
Ada kebiasaan yang unik: ketika Sultan telah duduk, mereka semua berseru serentak, “Bismillah.” Ketika Sultan berdiri, mereka melakukan hal yang sama. Dengan begitu, semua orang yang berada di lapangan istana (al-Masywar) tahu kapan Sultan sedang duduk dan kapan beliau berdiri, meski tak melihatnya langsung.
Setelah Sultan duduk tenang, mulailah orang-orang yang biasa bersalam masuk satu per satu. Mereka memberi salam lalu berdiri di tempat yang telah ditentukan, di sisi kanan atau kiri. Tak satu pun melampaui tempatnya. Tidak ada seorang pun yang berani duduk, kecuali jika Sultan memerintahkannya.
Jika Sultan ingin memuliakan seseorang, ia berkata kepada Amir Jandār, “Suruh si Fulan duduk.” Orang itu lalu maju sedikit dari tempat berdirinya dan duduk di atas permadani yang tersedia di antara para pembesar yang berdiri di kanan dan kiri.
Kemudian dihidangkanlah makanan. Ada dua jenis makanan:
Yang pertama adalah makanan khusus, untuk Sultan sendiri, Qadhi al-Qudhat, para pembesar dari keluarga Syarif, para ahli fikih, dan tamu-tamu kehormatan. Yang kedua adalah makanan umum, untuk para syarif, ahli fikih lain, qadhi-qadhi, para syaikh, para amir, dan para pemuka pasukan. Tempat duduk makan mereka sudah ditentukan; tidak ada yang saling mendahului atau berebut tempat.
Semua berlangsung sangat teratur. Tata cara ini mengingatkanku pada kebiasaan istana raja-raja India. Aku tidak tahu apakah para sultan India menirunya dari Sultan Yaman, atau justru para sultan Yaman yang mengambilnya dari raja-raja India.
Aku tinggal sebagai tamu Sultan Yaman beberapa hari lamanya. Ia memperlakukanku dengan sangat baik dan memberiku kendaraan untuk melanjutkan perjalanan. Setelah itu aku pun berangkat menuju kota Shana’a.
Sana’a: Kota Sejuk di Negeri Yaman
Shana’a adalah ibu kota pertama negeri Yaman. Kota ini besar, bangunannya indah, tersusun dari bata dan plester. Pohon-pohon tumbuh di mana-mana, buah-buahan melimpah, dan tanaman menghijau. Udara di sana sejuk dan airnya jernih lagi baik.
Ada satu hal yang mengherankanku: di negeri India, Yaman, dan Habasyah, hujan justru turun pada musim panas (qaidz). Biasanya setiap hari pada musim itu, setelah matahari tergelincir dari tengah (waktu zawal), hujan turun deras.
Para musafir sengaja berangkat setelah zawal agar tidak kehujanan di perjalanan. Penduduk kota pun bergegas pulang ke rumah masing-masing ketika awan menggelap, karena mereka tahu hujan akan turun lebat. Seluruh kota dialasi dengan batu, sehingga ketika hujan datang, air mengalir deras dan membersihkan semua lorong, membuat jalan-jalannya menjadi bersih dan mengkilap.
Masjid Shana’a adalah salah satu masjid terindah yang pernah kulihat. Di dalamnya terdapat makam seorang nabi dari para nabi – semoga keselamatan tercurah atas mereka semua. Setelah beberapa waktu, aku pun melanjutkan perjalanan ke kota Aden.
Aden: Gerbang Laut Yaman
Aden adalah pelabuhan utama negeri Yaman di tepi laut besar. Kota ini dikelilingi gunung-gunung, dan pintu masuknya hanya satu. Ia adalah kota besar, ramai oleh manusia dan perdagangan. Namun ada keanehan lain: di sana tidak ada tanaman, tidak ada pepohonan, dan tidak ada sumber air alami.
Air untuk keperluan penduduk dikumpulkan dalam penampungan besar (reservoir) ketika musim hujan. Air itu datang dari tempat-tempat jauh. Kadang-kadang suku-suku Arab Badui menghadang jalur air tersebut dan mencegah penduduk mengambilnya, hingga mereka harus berdamai dan membayar dengan harta dan pakaian.
Udara Aden sangat panas. Namun kota ini menjadi pelabuhan penting bagi orang-orang India. Kapal-kapal besar datang dari Kanbayat, Tanah, Kulam, Qaliqut, Fandaraina, Shaliyat, Manjarur, Faknur, Hanur, Sandabur, dan banyak lagi pelabuhan India lainnya. Para pedagang India menetap di sini, demikian pula para pedagang Mesir.
Penduduk Aden ada yang menjadi pedagang, ada yang bekerja sebagai kuli, ada pula yang menjadi nelayan penangkap ikan. Di antara para pedagang mereka, ada yang sangat kaya. Terkadang satu orang pedagang memiliki sebuah kapal besar beserta seluruh muatannya tanpa ada sekutu dalam kepemilikan, karena harta mereka luar biasa banyak. Mereka bahkan saling membanggakan dan menyombongkan diri dengan ukuran kekayaan dan besarnya kapal yang mereka miliki.
Diceritakan kepadaku sebuah kisah yang menunjukkan betapa besar harta mereka.
Suatu hari, seorang pedagang kaya mengutus pelayannya untuk membeli seekor domba jantan. Di waktu yang sama, pedagang kaya lain juga mengutus pelayannya dengan tujuan yang sama. Kebetulan, di pasar hari itu hanya ada satu ekor domba jantan.
Kedua pelayan itu pun tawar-menawar dengan sengit. Harga domba itu naik hingga mencapai empat ratus dinar. Akhirnya salah satu pelayan mengambil domba itu dan berkata, “Modalku adalah empat ratus dinar. Jika tuanku memberikan uang untuk membelinya, maka baik. Jika tidak, aku akan mengeluarkan modalku sendiri, membela kehormatanku, dan mengalahkan kawanku.”
Ia pun membawa domba itu pulang kepada tuannya. Sang tuan, ketika mengetahui kejadian itu, justru memujinya dan memberinya seribu dinar sebagai hadiah.
Sementara pelayan dari pedagang yang lain kembali dengan tangan kosong. Tuannya marah, memukulnya, mengambil hartanya, dan mengusirnya dari rumah. Begitulah kerasnya persaingan dan kebanggaan di kalangan para pedagang Aden.
Aku singgah di Aden di rumah seorang pedagang bernama Nāshiruddīn al-Fa’ri. Setiap malam, ia mengundang sekitar dua puluh pedagang untuk makan malam bersama. Pelayan dan pekerjanya jumlahnya bahkan lebih banyak dari para tamunya. Namun, meski mereka kaya dan kuat dalam bisnis, para pedagang ini ternyata orang-orang yang religius, rendah hati, saleh, dan berakhlak mulia. Mereka berbuat baik kepada orang asing, mendahulukan orang fakir, dan menunaikan zakat sesuai dengan ketentuan Allah.
Di kota ini, aku bertemu dengan qadhi yang saleh bernama Sālim bin ‘Abdullah al-Hindi. Ayahnya dulu hanyalah seorang budak yang bekerja sebagai kuli, tetapi anaknya menekuni ilmu dengan sungguh-sungguh hingga menjadi ulama besar dan pemimpin terhormat. Ia termasuk qadhi terbaik dan di antara orang-orang yang paling utama di kota itu. Aku pun tinggal sebagai tamunya beberapa hari.
Peta Perjalanan Ibnu Bathutah #34
Sumber kisah:
Ibnu Batutah, ar-Rihlah

Komentar
Posting Komentar