Rihlah Ibnu Bathutah #32 : Perjalanan ke Kota-Kota di Utara Irak dan Sekitarnya

Ilustrasi kota Mosul kuno di tepi Sungai Tigris, menampilkan benteng Al-Hadbā’, masjid jami’, pasar tertutup, dan rumah-rumah batu abad pertengahan.

Kota Mosul menyambutku sebagai sebuah kota kuno yang subur dan hidup. Dari kejauhan, yang paling pertama mencuri pandanganku adalah bentengnya yang terkenal, Al-Ḥadbā’—“Si Bungkuk”—yang masyhur karena kekuatannya. Benteng itu berdiri tegak, dikelilingi tembok kokoh dengan menara-menara menjulang yang seakan menjaga kota dari segala penjuru.

Istana-istana Sultan menyatu dengan benteng itu, namun antara benteng dan kota terbentang sebuah jalan lebar yang memanjang dari ujung atas hingga ujung bawah Mosul. Kota ini dilindungi oleh dua lapis tembok yang sama-sama kokoh, penuh menara yang saling berdekatan. Di dalam tebalnya tembok, dibangun rumah-rumah bertingkat yang mengikuti lengkung tembok, seolah kota lain yang tersembunyi di dalam dindingnya. Lebarnya tembok membuat rumah-rumah itu bisa dibuka ke arah dalam. Dalam seluruh pengembaraanku, aku hampir tidak pernah melihat tembok kota seperti itu, kecuali tembok kota Delhi, ibu kota raja India.

Di sekitar Mosul, pinggiran kotanya luas. Di sana ada masjid-masjid jami’, pemandian umum, penginapan-penginapan bagi musafir, dan pasar-pasar yang ramai. Salah satu pemandangan yang selalu kuingat adalah sebuah masjid jami’ di tepi Sungai Tigris. Masjid itu memiliki jendela-jendela besi yang mengelilinginya dan teras-teras yang memanjang menghadap ke sungai. Cara pembangunannya indah dan halus, menunjukkan keahlian tukang-tukangnya. Di hadapan masjid itu berdiri sebuah rumah sakit (maristān), tempat orang-orang sakit dirawat.

Di dalam kota sendiri ada dua masjid jami’: satu tua, satu lebih baru. Di halaman masjid yang baru, terdapat sebuah kubah. Di bawahnya berdiri sebuah pancuran marmer berbentuk segi delapan, tinggi, bertumpu di atas tiang marmer. Air memancar kuat dari puncaknya, naik setinggi kira-kira satu hasta, lalu jatuh kembali, memecah dalam percikan yang indah. Suara gemericiknya seperti zikir yang tak henti.

Pasar tertutup (qaysāriyyah) Mosul sama indahnya. Pintu-pintunya dari besi, kuat dan berat, sementara di sekelilingnya berderet toko-toko dan rumah bertingkat dengan bangunan yang kokoh. Di sini juga terdapat makam seorang nabi yang dimuliakan, yang dalam sebagian riwayat disebut Nabi Jirjis, namun di kalangan banyak orang dikenal sebagai makam Nabi Yunus ‘alaihis salām. Di atasnya dibangun sebuah masjid. Makam itu berada di sudut sebelah kanan orang yang masuk, di antara Masjid Jami’ yang baru dan Gerbang Jembatan. Aku berkesempatan menziarahinya dan shalat di masjid tersebut, alhamdulillāh.

Tidak jauh dari situ terdapat Bukit Yunus ‘alaihis salām. Di dekat bukit itu ada sebuah mata air yang dinisbatkan kepada beliau. Diceritakan bahwa beliau memerintahkan kaumnya untuk bersuci di sana, kemudian mereka naik ke atas bukit dan berdoa. Allah pun mengangkat azab yang hendak menimpa mereka. Dekat bukit itu juga ada sebuah desa besar, dan di dekat desa itu terbentang reruntuhan kota yang dikatakan sebagai bekas kota terkenal, Niniwe, kota Nabi Yunus ‘alaihis salām. Sisa-sisa tembok kotanya masih tampak mengelilingi area tersebut, dan posisi pintu-pintu gerbangnya masih bisa dikenali oleh mata yang teliti.

Di atas bukit, dibangun sebuah rumah peristirahatan (ribāṭ) yang besar. Di dalamnya terdapat banyak kamar, ruang-ruang tertutup, tempat mandi, dan tempat minum, semuanya berada dalam satu kompleks dengan satu pintu utama. Di tengah ribāṭ itu ada sebuah kamar yang ditutupi kain sutra, dengan pintu yang dihias. Orang-orang mengatakan bahwa di situlah Nabi Yunus ‘alaihis salām pernah berhenti atau berdiri. Mihrab masjid di dalam ribāṭ itu juga disebut sebagai tempat ibadah beliau. Penduduk Mosul biasa mendatangi ribāṭ ini setiap malam Jumat, berkumpul untuk beribadah dan berdoa di dalamnya.

Penduduk Mosul memiliki akhlak yang halus. Mereka lembut dalam bertutur kata, menjunjung tinggi keutamaan, dan sangat menyayangi orang asing. Saat aku tiba, penguasa kota adalah seorang sayyid yang mulia, Al-Syarīf ‘Alā’ ad-Dīn bin Syams ad-Dīn Muḥammad, yang dijuluki Ḥaydar. Dia dikenal dermawan dan terhormat. Ia menempatkanku di rumahnya, menanggung nafkahku selama aku tinggal bersamanya. Dia masyhur karena kedermawanannya dan sifatnya yang selalu mengutamakan orang lain. Sultan Abū Sa’īd sangat memuliakannya dan menyerahkan urusan Mosul serta wilayah sekitarnya kepadanya.

Setiap kali ia keluar berkendara, ia diiringi barisan besar para mamluk, tentaranya, dan para tokoh serta pembesar kota yang datang memberi salam pagi dan sore. Ia pemberani dan disegani. Putranya, pada saat aku menulis catatan ini, tengah berada di istana Fez, kota yang menjadi tempat singgah orang-orang asing, perlindungan berbagai kelompok, dan tujuan para utusan dari berbagai negeri—semoga Allah menambahnya kebahagiaan, cahaya, dan kejayaan di bawah naungan hari-hari tuanku Amīrul Mu’minīn, serta menjaga wilayah dan daerahnya.

Setelah beberapa lama tinggal di Mosul, tibalah saatnya untuk melanjutkan perjalanan.

________________________________________

Dari Mosul ke Jazirat Ibn ‘Umar dan Gunung Judi

Kami meninggalkan Mosul dan singgah di sebuah desa bernama ‘Ain ar-Rashd. Desa ini berada di tepi sebuah sungai, di atasnya dibangun sebuah jembatan, dan di sana ada sebuah khān (penginapan) besar bagi para musafir. Setelah beristirahat, kami kembali berangkat dan singgah di desa Al-Muwailiḥah.

Perjalanan terus berlanjut hingga akhirnya kami tiba di Jazīrat Ibn ‘Umar, sebuah kota besar dan indah yang dikelilingi lembah. Karena letaknya yang demikian, ia disebut “jazīrah” (pulau). Sebagian besar kotanya kini berupa reruntuhan, namun ia masih memiliki pasar yang bagus dan sebuah masjid kuno yang dibangun dari batu dengan konstruksi sangat kokoh. Tembok kotanya pun dibuat dari batu-batu yang besar. Penduduknya adalah orang-orang terhormat yang mencintai dan memuliakan orang asing.

Pada hari kedatangan kami di sana, kami dapat melihat Gunung Judi, gunung yang disebut dalam Kitab Allah ‘Azza wa Jalla sebagai tempat berlabuhnya bahtera Nabi Nuh ‘alaihis salām. Gunung itu tinggi dan memanjang, seakan memahat langit dengan puncaknya. Saat memandangnya, aku teringat firman Allah Ta’ala:

﴿وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ ۖ وَقِيلَ بُعْدًا لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ﴾

“Dan difirmankan, ‘Wahai bumi! Telanlah airmu, dan wahai langit! (hujan) berhentilah.’ Dan air pun disurutkan, dan perintah pun diselesaikan, dan kapal itu berlabuh di atas (Gunung) Judi, dan dikatakan, ‘Binasalah orang-orang yang zalim.’”

(QS. Hūd: 44)

Melihat Gunung Judi dengan mata kepala sendiri membuat ayat itu terasa hidup dalam hatiku. Seakan-akan kisah banjir besar dan penyelamatan Nabi Nuh ‘alaihis salām serta para pengikutnya terlukis di depan mata.

________________________________________

Kota Nusaybin yang Dikelilingi Air

Dari Jazīrat Ibn ‘Umar, kami melanjutkan perjalanan dua marhalah (dua etape perjalanan). Akhirnya kami sampai di kota Nusaybin. Kota ini besar dan kuno, berukuran sedang, namun sebagian bangunannya telah runtuh dimakan zaman. Letaknya di sebuah dataran luas yang terbuka, dikelilingi air yang mengalir, kebun-kebun yang rindang, dan deretan pohon yang tertata rapi. Buah-buahan di sini melimpah dan beraneka rupa.

Di Nusaybin dibuat air mawar yang sangat harum, hingga dikatakan tidak ada tandingannya dalam hal wewangian. Sebuah sungai mengelilingi kota ini seperti cincin yang melingkari jari. Sumbernya berasal dari mata air di gunung yang tak jauh dari sana. Sungai itu kemudian bercabang, menyusupi kebun-kebun di sekitar kota, dan sebagian alirannya masuk ke dalam kota. Airnya mengalir di antara jalan-jalan dan rumah-rumah, melintasi halaman masjid jami’ utamanya, lalu tertampung di dua kolam: satu di tengah halaman, dan satu lagi di dekat pintu timur.

Kota ini juga memiliki sebuah rumah sakit (maristān) dan sebuah madrasah. Penduduknya dikenal sebagai orang-orang shaleh, beragama, jujur, dan dapat dipercaya. Keindahan kota ini membuat seorang penyair besar, Abū Nuwās, pernah berkata:

Nusaybin terasa indah bagiku suatu hari, dan aku pun terasa indah baginya…

Andai saja bagianku dari dunia adalah Nusaybin.

Namun guruku, Ibn Juzayy, menambahkan sebuah catatan yang menarik. Ia berkata, “Orang-orang menggambarkan kota Nusaybin dengan airnya yang buruk dan udaranya yang tidak sehat.” Seorang penyair lain bahkan mencela Nusaybin dengan bait:

Aku heran pada Nusaybin, padahal tiada di negerinya…

Penyeru yang mengajakku pada penyakit

Mawar pun kehilangan warna merah di puncaknya…

Karena penyakit, bahkan dari pipi sekalipun.

Begitulah manusia: sebagian jatuh cinta pada sebuah kota, sebagian lagi justru merasa tidak nyaman. Namun bagiku, Nusaybin tetap tercatat sebagai kota yang unik, dengan sungai yang melingkarinya bak gelang dan air mawarnya yang terkenal.

________________________________________

Kota Sinjar dan Seorang Wali yang Zuhud

Dari Nusaybin kami berangkat menuju kota Sinjar. Kota ini besar, kaya dengan buah-buahan dan pepohonan. Mata airnya mengalir tanpa henti, sungai-sungainya membelah lembah-lembah dan kebun-kebun. Sinjar dibangun di lereng sebuah gunung dan, dalam banyak hal, mengingatkanku pada Damaskus, terutama karena banyaknya sungai kecil dan kebun hijau di sekitarnya.

Masjid Jami’ di Sinjar terkenal akan keberkahannya. Orang-orang mengatakan bahwa doa yang dipanjatkan di dalamnya mustajab. Sebuah sungai mengalir melingkari kota, menambah keindahan pemandangan. Penduduk Sinjar kebanyakan adalah orang-orang Kurdi. Mereka dikenal berani dan dermawan.

Di antara orang yang aku temui di sana, ada seorang syaikh yang sangat shaleh, ahli ibadah, dan zuhud: Syaikh ‘Abdullah al-Kurdī. Dia termasuk di antara para syaikh besar yang dikenal memiliki karamah. Orang-orang bercerita bahwa beliau tidak berbuka puasa kecuali setelah empat puluh hari, dan ketika berbuka pun hanya dengan setengah potong roti dari gandum kasar.

Aku mendatanginya di sebuah rumah peristirahatan (ribāṭ) yang berada di puncak Gunung Sinjar. Angin di ketinggian itu sejuk, dan suasananya tenang. Di sana, beliau mendoakanku dengan doa-doa baik dan memberiku beberapa dirham. Dirham itu tetap bersamaku untuk waktu yang lama, hingga akhirnya hilang ketika aku dirampok oleh orang-orang kafir India dalam perjalanan yang lain.

Meski harta dapat hilang, doa seorang hamba shaleh tetap melekat di hati. Pertemuan singkat dengan Syaikh ‘Abdullah al-Kurdī menjadi salah satu kenangan paling berharga dari perjalananku melewati Sinjar.

________________________________________

Kota Tua Dara yang Sunyi

Perjalanan kami kemudian berlanjut ke kota Dara. Ini adalah sebuah kota kuno yang dulunya memiliki pemandangan megah. Di sana ada sebuah benteng tinggi menjulang yang dahulu kokoh dan perkasa. Namun ketika aku sampai, benteng itu telah runtuh dan kota di dalamnya kosong, tak berpenghuni. Yang tersisa hanyalah sisa-sisa dinding yang bercerita tentang kejayaan masa lalu.

Di luar benteng, masih ada sebuah desa yang dihuni penduduk. Di sanalah kami singgah dan bermalam. Rasanya seperti bertamu di depan pintu sejarah: di satu sisi ada sisa kebesaran masa lampau yang telah runtuh, di sisi lain, kehidupan baru terus berjalan dalam bentuk desa yang sederhana.

________________________________________

Mardin: Kota di Puncak Gunung

Setelah meninggalkan Dara, kami tiba di kota Mardin. Kota ini besar dan indah, terletak di permukaan sebuah gunung. Mardin termasuk salah satu kota Islam terindah, paling unik, paling kokoh bangunannya, dan terbaik pasarnya.

Di kota ini dibuat pakaian dari wol yang dinisbatkan kepadanya, dikenal dengan nama al-mar’az. Kain ini terkenal di berbagai negeri karena kualitasnya yang baik. Di atas kota, di puncak gunungnya, berdiri sebuah benteng yang sangat kuat dan termasyhur. Benteng ini disebut Asy-Syahbā’ (“Yang abu-abu keperakan”).

Guruku, Ibn Juzayy, menyebutkan bahwa benteng Mardin inilah yang dimaksud oleh penyair Irak terkenal, Shāfī al-Dīn ‘Abdul ‘Azīz ibn Surai’ al-Ḥillī, dalam syair muzammath-nya. Dalam memuji Sultan Mardin, ia menulis bait-bait indah, di antaranya:

Tinggalkanlah rerumputan Al-Ḥillah yang lapang…

Dan belokkanlah unta tunggangan dari Az-Zaura’

Jangan berhenti di Mosul Al-Ḥadbā’…

Sesungguhnya kilatan benteng Asy-Syahbā’

Pembakar setannya kesempatan (pukulan) zaman.

Benteng Aleppo juga dikenal dengan nama Asy-Syahbā’, namun dalam syair ini yang dimaksud adalah benteng Mardin. Syair tersebut disusun untuk memuji Al-Malik al-Manṣūr, Sultan Mardin saat itu. Ia adalah seorang raja yang dermawan dan sangat masyhur reputasinya.

Al-Malik al-Manṣūr memerintah di Mardin kurang lebih lima puluh tahun. Dalam masa pemerintahannya, ia melewati zaman kekuasaan Ghāzān, raja bangsa Tatar, dan bahkan menjadi menantu Sultan Khudābandah dengan menikahi putrinya, Dunyā Khātun. Di bawah pemerintahannya, Mardin bertahan sebagai kota kuat di punggung gunung, dengan benteng yang berkilau dan pasar-pasar yang ramai.

Di Mardin, seperti halnya di kota-kota lain yang kulalui—Mosul, Jazīrat Ibn ‘Umar, Nusaybin, Sinjar, dan Dara—aku menyaksikan bagaimana sejarah, kekuasaan, keimanan, dan kehidupan sehari-hari bertemu dalam satu hamparan. Setiap kota mempunyai keindahannya, kelebihan dan kekurangannya, manusia-manusia biasa dan tokoh-tokoh besar, serta jejak para nabi dan orang-orang shaleh yang tetap hidup dalam ingatan umat.

Peta perjalanan Ibnu Bathutah #32

Sumber  :

Rihlah Ibnu Bathutah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rihlah Ibnu Bathutah #24 :Idaj dan Isfahan, Sultan Atabik & Negeri Lur

Rihlah Ibnu Bathutah #28 : Kisah Kufah, Hillah, dan Karbala

Rihlah Ibnu Bathutah #29 : Baghdad, Kota Damai yang Menyimpan Luka Zaman