Fitnah Besar yang Berakhir dengan Kemuliaan: Kisah Al-Ifk
Di tengah perjalanan pulang dari Perang Bani Musthaliq, sebuah peristiwa besar dan sangat berat menimpa rumah tangga Rasulullah ﷺ. Peristiwa ini bukan hanya menguji keimanan kaum muslimin, tetapi juga menjadi bukti nyata bagaimana Allah langsung membela kehormatan keluarga Nabi-Nya. Inilah kisah al-ifk, berita bohong yang ditiupkan oleh kaum munafik, yang tujuan utamanya adalah menyerang kehormatan Nabi ﷺ melalui istri tercintanya, Aisyah radhiyallahu 'anha, wanita yang telah dibela kesuciannya oleh Allah dari atas langit yang tujuh.
Kebiasaan Nabi Sebelum Bepergian
Rasulullah ﷺ
memiliki kebiasaan sebelum bepergian, terutama dalam ekspedisi militer. Beliau
akan mengadakan undian di antara para istrinya untuk menentukan siapa yang akan
menemani beliau dalam perjalanan tersebut. Siapa pun yang namanya keluar,
dialah yang akan berangkat bersama Rasulullah ﷺ. Dalam ekspedisi kali ini, yaitu Perang
Bani Musthaliq, undian jatuh kepada Aisyah. Maka berangkatlah Aisyah bersama
Rasulullah ﷺ,
dan ini terjadi setelah turunnya ayat tentang hijab (jilbab) yang mewajibkan
para istri Nabi untuk berada di balik tabir.
Aisyah menceritakan sendiri kisah pilu ini, sebagaimana
diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam kitab sahih mereka. Ia berkata:
"Biasanya, jika Rasulullah ﷺ hendak bepergian, beliau mengadakan undian
di antara para istrinya. Siapa yang keluar undiannya, dialah yang akan
berangkat bersama beliau. Pada suatu peperangan yang beliau lakukan, undian
jatuh padaku. Maka aku pun berangkat bersama Rasulullah ﷺ setelah turunnya ayat
hijab. Aku dibawa dalam sebuah tandu yang diletakkan di atas unta, dan aku
turun di dalamnya saat berhenti."
Saat Tertinggal di Padang Pasir
Perjalanan berlangsung hingga Rasulullah ﷺ menyelesaikan
ekspedisinya dan pasukan mulai kembali menuju Madinah. Ketika mereka hampir
sampai, pada suatu malam pasukan diumumkan untuk segera berangkat kembali. Saat
itu, Aisyah keluar dari tandunya untuk suatu keperluan di belakang barisan.
Setelah selesai, ia kembali ke tempatnya dan baru menyadari bahwa kalungnya
yang terbuat dari manik-manik Yaman telah putus dan jatuh. Ia pun kembali
mencari kalung tersebut, dan karena itulah ia tertinggal.
Sementara itu, para sahabat yang biasa menyiapkan tandu
untuknya datang, mengangkat tandu itu, dan memasangnya di atas unta yang biasa
ditunggangi Aisyah. Mereka mengira Aisyah ada di dalamnya karena pada masa itu
tubuh para wanita masih ringan, belum banyak makan daging, dan Aisyah sendiri
masih muda. Tanpa curiga, mereka pun berangkat bersama pasukan.
Aisyah menemukan kalungnya setelah pasukan berlalu. Ia
kembali ke tempat perkemahan, namun mendapati tempat itu sudah kosong. Tidak
ada seorang pun di sana. Ia pun memutuskan untuk tetap di tempatnya, berharap
mereka akan menyadari ketidakhadirannya dan kembali menjemput. Karena lelah, ia
tertidur.
Pertemuan dengan Shafwan bin Mu'attal
Di barisan belakang pasukan, ada seorang sahabat bernama
Shafwan bin Mu'attal As-Sulami. Ia bertugas sebagai pengawal belakang yang
memastikan tidak ada yang tertinggal. Ia berjalan di akhir malam dan tiba di
tempat Aisyah saat subuh. Dari kejauhan, ia melihat sesosok hitam tertidur.
Ketika mendekat, ia mengenali bahwa itu adalah Aisyah, karena ia pernah
melihatnya sebelum turunnya ayat hijab.
Melihat Aisyah tertidur sendirian di padang pasir, Shafwan
terkejut dan spontan mengucapkan istirja':
«إِنَّا
لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ»
"Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali."
Ucapan itulah yang membangunkan Aisyah. Ia segera menutup
wajahnya dengan jilbab. Shafwan tidak berkata apa pun selain ucapan tadi. Ia
segera mendekatkan untanya, lalu mundur memberikan tempat. Aisyah pun naik ke
atas unta, dan Shafwan menuntun unta itu berjalan. Mereka menyusul pasukan yang
sedang beristirahat di tengah terik matahari.
Saat itulah, mulailah tersebar bisikan-bisikan jahat. Yang
paling gencar menyebarkan berita bohong ini adalah Abdullah bin Ubay bin Salul,
pemimpin kaum munafik.
Kepulangan yang Penuh Fitnah
Sesampainya di Madinah, Aisyah jatuh sakit selama sebulan.
Selama itu, ia tidak mengetahui bahwa di tengah masyarakat sedang ramai
diperbincangkan fitnah keji tentang dirinya. Yang membuatnya heran, ia tidak
lagi merasakan perhatian lembut dari Rasulullah ﷺ seperti biasanya saat ia sakit. Beliau
hanya masuk, memberi salam, lalu bertanya, "Bagaimana keadaanmu?"
kemudian pergi. Aisyah merasa ada yang ganjil, namun ia tidak tahu apa yang
terjadi.
Setelah agak sembuh, suatu malam Aisyah keluar bersama Ummu
Misthah untuk buang hajat di sebuah tempat terbuka di luar Madinah. Di tengah
jalan, Ummu Misthah tersandung dan tanpa sadar mengumpat anaknya sendiri,
"Celaka engkau, Misthah!" Aisyah menegurnya, "Jangan kau katakan
itu! Dia ikut Perang Badar, engkau mencela orang seperti itu?" Ummu
Misthah balik bertanya, "Apakah engkau belum mendengar apa yang dikatakan
orang-orang?" Aisyah bertanya, "Apa yang mereka katakan?" Maka
Ummu Misthah menceritakan seluruh berita bohong yang tersebar tentang dirinya.
Aisyah terpukul. Penyakitnya semakin parah. Ia meminta izin
kepada Rasulullah ﷺ
untuk pulang ke rumah orang tuanya, dengan harapan dapat memastikan kebenaran
berita itu. Setelah diizinkan, ia pulang dan bertanya kepada ibunya. Sang ibu
berkata, "Nak, tenangkan hatimu. Demi Allah, jarang ada wanita cantik yang
dicintai suaminya dan memiliki madu, kecuali mereka akan
mempergunjingkannya." Aisyah menangis sepanjang malam.
Musyawarah Nabi dengan Para Sahabat
Sementara itu, Rasulullah ﷺ menunggu turunnya wahyu. Beliau memanggil
Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid untuk bermusyawarah. Usamah, yang
mengenal baik keluarga Nabi, berkata, "Wahai Rasulullah, mereka adalah
keluargamu. Kami tidak tahu kecuali kebaikan." Sedangkan Ali berkata,
"Allah tidak mempersempit urusanmu, wahai Rasulullah. Masih banyak wanita
selain dia. Tanyakan saja kepada budak perempuannya, niscaya ia akan berkata
jujur."
Rasulullah ﷺ
lalu memanggil Barirah, budak Aisyah. Beliau bertanya, "Wahai Barirah,
apakah engkau melihat sesuatu yang mencurigakan pada dirinya?" Barirah
menjawab dengan sumpah, "Demi Allah yang mengutus engkau dengan kebenaran,
aku tidak pernah melihat padanya sesuatu yang tercela, kecuali ia masih muda
dan kadang ketiduran saat menjaga adonan roti keluarganya hingga datang kambing
dan memakannya."
Pidato Nabi di Atas Mimbar
Rasulullah ﷺ
kemudian naik mimbar dan berpidato di hadapan kaum muslimin. Beliau bersabda:
«يَا
مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ مَنْ يَعْذِرُنِي مِنْ رَجُلٍ قَدْ بَلَغَنِي أَذَاهُ فِي
أَهْلِ بَيْتِي؟ فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ عَلَى أَهْلِي إِلَّا خَيْرًا، وَلَقَدْ
ذَكَرُوا رَجُلًا مَا عَلِمْتُ عَلَيْهِ إِلَّا خَيْرًا، وَمَا كَانَ يَدْخُلُ
عَلَى أَهْلِي إِلَّا مَعِي»
"Wahai kaum muslimin, siapakah di antara kalian yang akan membelaku
dari orang yang telah menyakiti keluargaku? Demi Allah, aku tidak tahu pada
keluargaku kecuali kebaikan. Mereka menyebut-nyebut seorang laki-laki yang aku
tidak tahu padanya kecuali kebaikan. Ia tidak pernah masuk ke rumah keluargaku
kecuali bersamaku."
Sa'd bin Mu'adz Al-Anshari berdiri dan berkata, "Aku
akan membelamu, wahai Rasulullah. Jika dia dari kaum Aus, aku akan penggal
lehernya. Jika dari saudara kami Khazraj, perintahkan saja, kami akan
laksanakan." Namun Sa'd bin Ubadah, pemimpin Khazraj, yang terbawa
semangat kesukuan, berkata, "Dusta kau! Demi Allah, kau tidak akan bisa
membunuhnya." Maka terjadilah ketegangan antara Aus dan Khazraj, hampir
saja mereka bertikai. Rasulullah ﷺ terus menenangkan hingga mereka diam.
Aisyah Menghadapi Ujian
Selama dua hari dua malam, Aisyah terus menangis tanpa
henti. Air matanya tak kunjung kering, matanya tak bisa terpejam. Orang tuanya
setia menemaninya. Di tengah kesedihan itu, seorang wanita anshar masuk dan
ikut menangis bersamanya. Saat itulah Rasulullah ﷺ masuk, memberi salam, lalu duduk. Beliau
belum pernah duduk bersama Aisyah sejak berita itu tersebar.
Setelah duduk, beliau bersyahadat lalu berkata:
«أَمَّا
بَعْدُ، يَا عَائِشَةُ فَإِنَّهُ قَدْ بَلَغَنِي عَنْكِ كَذَا وَكَذَا، فَإِنْ
كُنْتِ بَرِيئَةً فَسَيُبَرِّئُكِ اللَّهُ، وَإِنْ كُنْتِ أَلْمَمْتِ بِذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرِي اللَّهَ وَتُوبِي إِلَيْهِ، فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا اعْتَرَفَ
بِذَنْبِهِ ثُمَّ تَابَ إِلَى اللَّهِ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ»
"Adapun setelah itu, wahai Aisyah, sungguh telah sampai kepadaku
tentang dirimu begini dan begitu. Jika engkau bersih, maka Allah akan
membersihkanmu. Jika engkau melakukan suatu dosa, mohonlah ampun kepada Allah
dan bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya seorang hamba jika mengakui dosanya
lalu bertaubat kepada Allah, niscaya Allah menerima taubatnya."
Setelah mendengar itu, air mata Aisyah surut hingga ia tidak
merasakan setetes pun. Ia meminta ayahnya, Abu Bakar, untuk menjawab, namun
ayahnya berkata, "Demi Allah, aku tidak tahu harus berkata apa."
Ibunya pun demikian. Maka Aisyah, yang saat itu masih muda dan belum banyak
hafal Al-Qur'an, berkata:
"Aku demi Allah tahu, kalian telah mendengar berita ini
hingga meresap dalam hati kalian dan membenarkannya. Jika aku katakan aku
bersih - padahal Allah tahu aku bersih - kalian tidak akan percaya. Jika aku
mengaku dengan sesuatu - padahal Allah tahu aku bersih - kalian akan
membenarkannya. Demi Allah, tidak ada perumpamaan bagiku dan kalian selain
seperti kata ayahnya Yusuf:
فَصَبْرٌ
جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ
'Maka kesabaran yang baiklah (yang aku lakukan). Dan Allah sajalah yang
dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.'" (QS.
Yusuf: 18)
Kemudian ia berpaling dan berbaring di tempat tidurnya.
Dalam hatinya, ia yakin Allah akan membersihkannya, meski ia tak menyangka akan
turun wahyu tentang dirinya. Ia hanya berharap Rasulullah ﷺ mendapat mimpi yang
membuktikan kebersihannya.
Wahyu Turun Membela Aisyah
Tiba-tiba, Rasulullah ﷺ yang masih duduk di sana diserang kondisi
seperti biasa saat menerima wahyu. Keringat membasahi tubuhnya meski hari
sedang dingin. Semua yang hadir diam menanti. Setelah selesai, Rasulullah ﷺ
tersenyum. Kata pertama yang beliau ucapkan adalah:
«يَا
عَائِشَةُ أَمَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَقَدْ بَرَّأَكِ»
"Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah telah membersihkanmu."
Ibunya berkata, "Bangkitlah menemuinya." Aisyah
menjawab, "Demi Allah, aku tidak akan bangkit kepadanya. Hanya kepada
Allah aku bersyukur."
Maka turunlah ayat-ayat dari Surat An-Nur yang membela
kesucian Aisyah. Allah berfirman:
إِنَّ
الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ
ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ
الْإِثْمِ ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari
golongan kamu juga. Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu,
bahkan ia adalah baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka mendapat balasan dari
dosa yang diperbuatnya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian
terbesar (dalam penyiaran berita bohong itu), baginya azab yang besar." (QS.
An-Nur: 11)
Dan sepuluh ayat berikutnya hingga ayat ke-20.
Kemuliaan Hati Abu Bakar
Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang selama ini memberi nafkah kepada
Misthah bin Atsatsah karena kerabat dan kefakirannya, bersumpah tidak akan lagi
memberi nafkah setelah apa yang dilakukan Misthah. Maka turunlah ayat:
وَلَا
يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ
وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا
وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ
غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di
antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum
kerabat(-nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan
Allah. Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak
ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS.
An-Nur: 22)
Mendengar ini, Abu Bakar berkata, "Demi Allah, sungguh
aku ingin Allah mengampuniku." Maka ia kembali memberi nafkah kepada
Misthah dan berjanji tidak akan menariknya lagi.
Sikap Zainab binti Jahsy
Rasulullah ﷺ
juga bertanya kepada Zainab binti Jahsy, istri beliau yang lain, "Wahai
Zainab, apa yang engkau ketahui atau lihat?" Zainab menjawab dengan
bijaksana, "Wahai Rasulullah, aku menjaga pendengaran dan penglihatanku.
Aku tidak tahu kecuali kebaikan." Padahal Zainab adalah istri yang biasa
bersaing dengan Aisyah dalam hal kedudukan di sisi Nabi. Namun Allah menjaganya
dengan ketakwaan. Adapun saudarinya, Hamnah, justru ikut menyebarkan fitnah dan
binasa bersama para penyebar berita bohong lainnya.
Yang Terlibat dalam Fitnah
Para perawi hadits menjelaskan bahwa orang-orang yang
terlibat dalam penyebaran berita bohong ini adalah Abdullah bin Ubay (pemimpin
munafik), Hamnah binti Jahsy, Misthah bin Atsatsah, dan Hassan bin Tsabit. Yang
paling besar perannya adalah Abdullah bin Ubay, disusul Hamnah. Setelah
turunnya ayat, mereka yang terlibat bertaubat, kecuali Abdullah bin Ubay.
Hassan bin Tsabit, misalnya, kemudian memuji Aisyah dengan syair yang indah:
Wanita suci lagi tenang, tak pernah dituduh buruk
Pagi harinya selalu lapar dari daging para wanita lalai
Wanita mulia dari keluarga Lu'ay bin Ghalib
Yang leluhurnya mulia, kemuliaan mereka tak pernah pudar
Wanita suci yang Allah murnikan tabiatnya
Dan disucikan dari segala keburukan dan kebatilan
Dan dalam riwayat lain ia berkata tentang Aisyah:
Istri sebaik-baik makhluk dalam agama dan kedudukan
Nabi petunjuk, yang memiliki kemuliaan agung
Aku melihatmu - semoga Allah mengampuniku - sebagai wanita merdeka
Dari wanita-wanita suci, tanpa keburukan
Aisyah sendiri, yang telah mewarisi akhlak suami dan
ayahnya, tetap memaafkan. Ketika Hassan bin Tsabit tua dan buta, ia tetap
mengizinkannya masuk ke rumahnya. Bahkan ia tidak suka jika Hassan dicela,
karena ia adalah pembela Rasulullah ﷺ dengan syairnya.
Hukuman bagi Para Penyebar Fitnah
Setelah turunnya ayat, Rasulullah ﷺ menjatuhkan hukuman had (dera) kepada
Misthah, Hassan, dan Hamnah. Ini berdasarkan riwayat para pemilik kitab sunan.
Adapun Abdullah bin Ubay, pemimpin munafik, ada perbedaan pendapat. Sebagian
ulama mengatakan ia tidak dihukum karena pertimbangan politik dan untuk menarik
simpati kaumnya. Namun Ibnu Hajar cenderung pada pendapat bahwa ia tetap
dihukum.
Shafwan bin Mu'attal: Sahabat yang Terjaga
Shafwan bin Mu'attal adalah sahabat yang mulia, tidak ada
cacat dalam agama dan akhlaknya. Ketika mendengar berita bohong itu, ia
berkata, "Subhanallah, demi Allah, aku tidak pernah membuka kain seorang
wanita pun." Ia bukanlah seorang yang mandul (tidak punya syahwat) seperti
dituduhkan sebagian riwayat. Buktinya, dalam riwayat sahih, ia menikah. Ia
gugur sebagai syahid di jalan Allah, ada yang mengatakan di Armenia pada masa
Umar bin Khattab, ada pula yang mengatakan di bumi Romawi pada masa Muawiyah.
Pelajaran Berharga dari Kisah Al-Ifk
Ada banyak pelajaran yang dapat kita petik dari peristiwa
besar ini:
Pertama, Allah menjaga para Nabi-Nya dari kehinaan
melalui istri-istri mereka. Tidak pernah terjadi seorang istri Nabi berzina,
karena hal itu akan mencoreng kehormatan suami yang merupakan utusan Allah.
Adapun istri yang kafir, seperti istri Nuh dan Luth, itu tidak menodai
kehormatan suami karena kekafiran adalah urusan pribadi dengan Allah. Firman
Allah tentang mereka:
ضَرَبَ
اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ ۖ
كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ
يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا
"Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri
Luth. Keduanya berada di bawah pengawasan dua hamba yang saleh di antara
hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka
keduanya tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah." (QS.
At-Tahrim: 10)
Para mufasir sepakat bahwa "khianat" di sini bukan
zina, tetapi khianat dalam agama. Istri Nuh menyebarkan rahasia bahwa suaminya
gila, istri Luth menunjukkan tamu-tamu suaminya kepada kaumnya yang jahat.
Kedua, kisah ini menjadi penghibur bagi wanita-wanita
suci yang difitnah. Aisyah, wanita yang paling mulia, istri Nabi, yang dibela
langsung oleh Allah, pun difitnah. Maka tidak heran jika wanita salehah lainnya
juga mengalami hal serupa. Ini menjadi ujian kesabaran dan bukti kemuliaan
mereka.
Ketiga, adab para sahabat dalam bergaul dengan
wanita, terutama istri Nabi. Shafwan tidak berkata apa pun selain istirja',
tidak berbicara dengan Aisyah, bahkan saat membawanya pulang ia menuntun unta
dari depan, tidak berjalan di belakangnya. Ini mengikuti teladan Nabi Musa
ketika bersama putri Syuaib. Sikap inilah yang membuat putri Syuaib berkata,
"Wahai ayahku, pekerjakanlah dia. Sesungguhnya sebaik-baik orang yang
engkau pekerjakan adalah orang yang kuat lagi terpercaya."
Keempat, akhlak mulia Nabi dalam menghadapi ujian
berat. Meski hatinya terluka, beliau tetap bersikap lembut, tidak gegabah, dan
memberikan kesempatan bagi yang bersalah untuk bertaubat. Ini adalah bukti
nyata bahwa beliau benar-benar memiliki akhlak yang agung, sebagaimana firman
Allah:
وَإِنَّكَ
لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang
agung." (QS. Al-Qalam: 4)
Kelima, kemuliaan keluarga Abu Bakar di sisi Allah.
Allah memilih untuk membela kehormatan putrinya dengan wahyu yang akan dibaca
hingga hari kiamat. Abu Bakar, yang sejak awal masuk Islam dengan penuh
keyakinan, tetap tegar meski fitnah menerpa keluarganya. Ia hanya berkata,
"Demi Allah, hal seperti ini tidak pernah dikatakan kepada kami di masa
jahiliah, apalagi setelah Allah memuliakan kami dengan Islam." Dan Aisyah,
putrinya, ketika ditimpa musibah, hanya berkata seperti perkataan Nabi Ya'qub:
فَصَبْرٌ
جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ
"Maka kesabaran yang baiklah (yang aku lakukan). Dan Allah sajalah yang
dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan." (QS.
Yusuf: 18)
Demikianlah kisah al-ifk, fitnah besar yang berakhir dengan
kemuliaan. Allah membela hamba-Nya yang saleh, dan menjadikan peristiwa ini
sebagai pelajaran bagi umat manusia hingga akhir zaman.
As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau'i al-Qur'an wa as-Sunnah

Komentar
Posting Komentar