Rihlah Ibnu Bathutah #30 : Kisah Sultan Abu Sa‘id Bahadur Khan

Ilustrasi Sultan Abu Sa‘id Bahadur Khan menaiki perahu kerajaan di Sungai Tigris, Baghdad abad ke-14, dikelilingi perahu istana dan arsitektur kota kuno.

Penguasa Irak dan Khurasan dalam Riwayat Ibnu Batutah

Pada suatu masa dalam sejarah dunia Islam, berdirilah seorang penguasa besar yang memerintah wilayah Irak dan Khurasan. Ia dikenal dengan nama Sultan Abu Sa‘id Bahadur Khan. Di kalangan bangsa Turki dan Tatar, gelar khan bermakna raja, sedangkan Bahadur menunjukkan keberanian dan keperkasaan. Ia adalah putra Sultan Muhammad Khudābandah, seorang penguasa Mongol yang telah memeluk Islam.

Nama Khudābandah sendiri mengandung makna “Hamba Allah”, sebab dalam bahasa Persia Khudā berarti Allah, dan bandah berarti hamba atau budak. Namun dalam sejarah, muncul pula perbedaan pendapat mengenai nama ini. Sebagian orang menyebutnya Kharbandah, yang secara bahasa berarti “hamba keledai”. Perbedaan makna ini sangat tajam, dan meskipun penafsiran terakhir lebih masyhur di kalangan masyarakat, banyak yang meyakini bahwa penyebutan tersebut muncul dari kebiasaan dan tradisi bangsa Tatar, bukan dari maksud penghinaan.

Dikisahkan bahwa bangsa Tatar sering menamai seorang bayi berdasarkan siapa atau apa yang pertama kali masuk ke rumah saat kelahirannya. Ketika Sultan Muhammad Khudābandah dilahirkan, yang pertama masuk ke rumah adalah penjaga kuda, yang disebut kharbandah. Maka nama itu pun melekat padanya.

Sultan Muhammad Khudābandah kemudian memeluk Islam. Namun setelah masuk Islam, ia sempat berniat memaksa rakyatnya mengikuti paham Rafidhah. Peristiwa ini menimbulkan berbagai gejolak, termasuk kisah perdebatan dan ketegangan antara dirinya dengan Qadhi Majduddin, yang masyhur dalam catatan sejarah.

Ketika Sultan Muhammad wafat, kekuasaan beralih kepada putranya, Abu Sa‘id Bahadur Khan, yang saat itu masih sangat muda. Meski usianya belia, ia dikenal sebagai raja yang berbudi luhur, dermawan, dan berwajah sangat tampan. Ibnu Batutah sendiri menyaksikannya di Baghdad dan menggambarkannya sebagai sosok dengan rupa yang sangat elok, hingga seakan-akan ia termasuk manusia terbaik ciptaan Allah dari segi fisik.

Namun, di balik kemuliaan pribadinya, kekuasaan Abu Sa‘id tidak sepenuhnya berada di tangannya. Pemerintahan sesungguhnya dikuasai oleh Amirul Umara Chuban, seorang panglima besar yang membatasi ruang gerak sultan muda itu. Abu Sa‘id hanya menyandang gelar raja, sementara kendali pemerintahan berada di tangan Chuban. Bahkan diceritakan, pada suatu hari raya, sang sultan tidak memiliki dana untuk kebutuhan perayaan dan harus meminjam uang dari seorang pedagang.

Suatu hari, Dunia Khatun—istri ayah Abu Sa‘id—datang menemuinya dan menyampaikan kabar yang mengguncang. Ia mengungkapkan bahwa Damaskh Khawajah, putra Chuban, telah melampaui batas dan berniat mencemari kehormatan keluarga kerajaan. Bahkan ia bermalam di tempat wanita-wanita istana dan secara terang-terangan meminta izin untuk bermalam di kediaman Dunia Khatun sendiri.

Kata-kata itu membangkitkan keberanian Abu Sa‘id. Dengan dukungan para amir dan pasukan, ia menyusun rencana. Ketika Damaskh Khawajah memasuki benteng, pasukan segera mengepungnya. Ia mencoba melarikan diri, tetapi terhalang rantai di gerbang benteng. Rantai itu ditebas, namun pasukan sudah mengepung. Damaskh Khawajah akhirnya dibunuh, dan kepalanya dibawa ke hadapan Sultan Abu Sa‘id serta dilemparkan di hadapan kudanya, sesuai tradisi keras bangsa Tatar terhadap musuh besar.

Kematian Damaskh Khawajah mengguncang Chuban yang sedang berada di Khurasan. Ia bersama anak-anaknya dan pasukan Tatar berusaha melawan Sultan Abu Sa‘id. Namun saat pertempuran terjadi, pasukan Tatar justru meninggalkannya. Chuban terpaksa melarikan diri ke padang pasir Sijistan dan kemudian berniat mencari perlindungan kepada Raja Herat, Ghiyatsuddin.

Dua putranya, Hasan dan Talish, memperingatkannya bahwa Raja Herat terkenal suka mengkhianati orang yang berlindung kepadanya. Namun Chuban tetap bersikeras. Ia berangkat bersama putranya yang paling kecil, Julu Khan. Kekhawatiran itu terbukti. Raja Herat awalnya menyambut Chuban dengan penuh hormat dan jaminan keamanan, tetapi beberapa hari kemudian ia mengkhianatinya, membunuh Chuban dan putranya, lalu mengirim kepala mereka kepada Sultan Abu Sa‘id.

Anak-anak Chuban yang lain bernasib tak kalah tragis. Hasan dan Talish melarikan diri ke Khwarizm dan diterima dengan baik oleh Sultan Muhammad Uzbeg. Namun akhirnya keduanya juga dibunuh karena tindakan mereka sendiri. Seorang putra Chuban yang lain, Dimirtash, melarikan diri ke Mesir. Ia dimuliakan oleh Sultan an-Nashir, tetapi sikapnya yang sombong dan menantang kekuasaan membuatnya akhirnya dibunuh, dan kepalanya pun dikirim kepada Abu Sa‘id.

Meski demikian, Chuban dikenang memiliki jasa besar, salah satunya adalah mendatangkan air ke Makkah. Jenazahnya sempat hendak dimakamkan di dekat Masjid Nabi di Madinah, tetapi akhirnya dimakamkan di Baqi‘.

Setelah bebas dari bayang-bayang Chuban, Sultan Abu Sa‘id benar-benar memegang kendali kerajaan. Ia kemudian menikahi Baghdad Khatun, putri Chuban, yang dikenal sebagai wanita luar biasa cantik. Untuk menikahinya, Abu Sa‘id memerintahkan sepupunya sendiri, Syaikh Hasan, menceraikan Baghdad Khatun. Pernikahan itu menjadikan Baghdad Khatun wanita paling berpengaruh di istana.

Dalam tradisi Turki dan Tatar, para wanita bangsawan memiliki kedudukan tinggi. Mereka memiliki wilayah, pemasukan besar, dan peran resmi dalam keputusan politik. Baghdad Khatun pun menguasai hati Abu Sa‘id dan mendominasi istana.

Namun keadaan berubah ketika Abu Sa‘id menikahi seorang wanita lain bernama Dilshad. Sang sultan jatuh cinta dengan penuh gairah dan mulai menjauh dari Baghdad Khatun. Rasa cemburu berubah menjadi dendam. Dengan tipu daya, Baghdad Khatun meracuni Abu Sa‘id melalui sapu tangan yang digunakan setelah hubungan suami istri. Tak lama kemudian, Sultan Abu Sa‘id wafat, dan garis keturunannya pun terputus.

Para amir segera mengetahui bahwa Baghdad Khatun berada di balik kematian sultan. Mereka sepakat untuk membunuhnya. Seorang amir senior bernama Khawajah Lu’lu’ mendahului yang lain. Ia mendatanginya saat berada di pemandian, memukulnya dengan gada, dan membunuhnya. Mayatnya dibiarkan beberapa hari, ditutup seadanya.

Setelah itu, Syaikh Hasan menguasai wilayah Irak Arab dan bahkan menikahi Dilshad, istri mendiang Sultan Abu Sa‘id, sebagaimana dahulu Abu Sa‘id telah menikahi istri orang lain. Dengan demikian, berakhirlah kisah Sultan muda yang tampan, dermawan, tetapi hidup dan wafatnya dilingkupi intrik kekuasaan, pengkhianatan, dan darah.

________________________________________

Sumber Kisah

Ibnu Batutah, Rihlah Ibnu Batutah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Berhala yang Tak Berdaya

Rihlah Ibnu Bathutah #24 :Idaj dan Isfahan, Sultan Atabik & Negeri Lur

Keturunan Nabi Ibrahim عليه السلام